Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Penulisan


Akuntansi merupakan bahasa bisnis dan sistem informasi. Akuntansi tidak

hanya berfokus pada informasi keuangan (tradisional), namun manajer perlu


informasi lain yaitu informasi ekonomi tambahan non-financial yang diperoleh dari
area

akuntansi

keprilakuan

yang

merupakan

sub bagian

akuntansi

yang

mengintegrasikan dengan dimensi perilaku manusia dalam akuntansi tradisional.


Dalam setiap organisasi pasti memiliki sumber daya manusia yang terdiri dari
individu- individu manusia dengan karakteristik yang berbeda. Tidak dapat dipungkiri
keberagaman sifat serta latar belakang yang dimiliki setiap individu membawa pola
perilaku yang berbeda pada tiap individu masing-masing. Perilaku yang diberikan
oleh individu dalam sebuah organisasi atau perusahaan akan mempengaruhi setiap
aktivitas perusahaan hingga pada laporan keuangan yang dihasilkan perusahaan.
Akuntansi Keperilakuan (Behavioral Accounting) mempelajari tentang
hubungan antara perilaku manusia dan sistem akuntansi, serta dimensi sosial dari
organisasi dimana manusia dan sistem akuntansi tersebut berada. Jadi, terdapat tiga
pilar utama Akuntansi Keperilakuan yaitu: perilaku manusia, akuntansi, dan
organisasi. Untuk itulah maka sering dikatakan pula bahwa Akuntansi Keperilakuan
merupakan bidang studi yang mempelajari aspek manusia dari akuntansi (human
factors of accounting).

Penelitian tentang akuntansi keprilakuan, telah mengalami kemajuan yang


sangat pesat. Pada awal perkembangannya, desain riset dalam bidang akuntansi
manajemen masih sangat sederhana, yaitu hanya memfokuskan pada masalahmasalah perhitungan harga pokok produk. Seiring dengan perkembangan teknologi
produksi, permasalahan riset diperluas dengan diangkatnya topic mengenai
penyusunan anggaran, akuntansi pertanggungjawaban, dan masalah harga transfer.
Meskipun demikian, berbagai riset tersebut masih bersifat normatif. Pada tahun 1952
C. Argyris menerbitkan risetnya pada tahun 1952, desain riset akuntansi manajemen
mengalami perkembangan yang signifikan dengan dimulainya usaha untuk
menghubungkan desain system pengendalian manajemen suatu organisasi dengan
perilaku manusia. Sejak saat itu, desain riset lebih bersifat deskriptif dan

bisa

menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi oleh para pelaku organisasi.


Perkembangan yang pesat dalam riset akuntansi keperilakuan lebih disebabkan
karena akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu sosial secara
menyeluruh hingga pada perkembangannya akuntansi keprilakuan menyediakan
berbagai literatur penelitian yang berhubungan dengan perpajakan. Umumnya
persyaratan pelaporan akuntansi perpajakan dipandang rumit dan sulit bagi banyak
pembayar pajak. Beberapa persyaratan telah dikenakan tidak hanya kepada pembayar
pajak, tetapi juga pada pihak lain seperti karyawan dengan maksud untuk membuat
hukum pajak lebih dipatuhi. Suatu keharusan catatan yang rinci atas pengurangan
beban bisnis merupakan contoh yang paling baru dan kontraversial mengenai dampak
perilaku dari persyaratan pelaporan pajak. Yang dalam faktanya, catatan rinci tersebut
tidak perlu dilaporkan tetapi pembayar pajak dan penyusun pajak diharuskan untuk
2

melaporkan bahwa catatan itu disimpan dan tersedia untuk diperiksa. Atas dampak
keprilakuan akuntansi terhadap perpajakan maka peneliti akan membahas lebih lanjut
tentang aspek keprilakuan dalam perpajakan dalam makalah yang berjudul
AKUNTANSI KEPRILAKUAN DALAM PAJAK.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, maka
perumusan masalah makalah ini adalah:
1. Apa itu Akuntansi Keprilakuan?
2. Apa itu akuntansi Perpajakan?
3. Apa Hubungan akuntansi keprilakuan dengan perpajakan?
1.2.

Tujuan Penulisan Makalah


Adapun tujuan penulisan makalah yang dilakukan adalah untuk :

1. Untuk mengetahui Akuntansi Keprilakuan


2. Untuk mengetahuiAkuntansi Perpajakan.
3. Untuk mengetahui Hubungan Akuntansi Keprilakuan dengan Perpajakan.
1.3.

Manfaat Penulisan Makalah


Adapun manfaat dari penulisan makalah yang dilakukan adalah :
1. Sebagai nilai tambah dari tugas kelompok Akuntansi Keprilakuan.
2. Sebagai sarana menuangkan ilmu pengetahuan penulis yang didapat dari
Akuntansi, Manajemen 1 dan Akuntansi Manajemen 2, Teori Akuntansi dan
pajak.
3. Menambah kahasanah ilmu bagi penulis dan pembaca mengenai Akuntansi

1.4.

Keprilakuan
Sistematika Penulisan
3

Agar lebih terarahnya penulisan makalah ini maka penulis menuangkan materi
makalah ke dalam 3 (tiga) bab, dimana masing-masing babnya secara garis besar
dapat dilihat sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan diuraikan secara singkat tentang latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : PEMBAHASAN
Bab ini dijelaskan Pembahasan makalah yang terdiri dari definisi Akuntansi
Keprilakuan, Akuntansi Perpajakan, dan Hubungan Akuntansi Keprilakuan dengan
Pajak.

BAB III : KESIMPULAN DAN SARAN


Merupakan bab akhir dari penulisan makalah ini yang berisi tentang kesimpulan
dari

pembahasan, serta berisikan saran yang mungkin dapat mebantu dalam

penerapan metode perhitungan biaya Activity Based Costing.

DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Akuntansi Keprilakuan
Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan
yang digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis.
Tujuan informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang

paling baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan
ekonomi. Motivasi dan perilaku dari pelaksana sistem informasi akuntansi menjadi
aspek penting dari suatu sistem informasi akuntansi. Pihak pemakai laporan keuangan
dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu pemakai internal (internal user) dan
pemakai eksternal (external user). Pemakaian oleh pihak internal dimaksudkan untuk
melakukan serangkaian evaluasi kinerja. Pihak eksternal juga memiliki suatu
rangkaian perilaku yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan organisasi.
Pihak eksternal sama dengan pihak internal, tetapi mereka labih berfokus pada jumlah
investasi yang mereka lakukan dalam organisasi tersebut.
Akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari disiplin ilmu akuntansi yang
mengkaji hubungan antara perilaku manusia dan sistem akuntansi, serta dimensi
keperilakuan dari organisasi di mana manusia dan sistem akuntansi itu berada dan
diakui keberadaannya. Dengan demikian, definisi akuntansi keperilakuan adalah
suatu studi tentang perilaku akuntan atau non-akuntan yang dipengaruhi oleh fungsifungsi akuntansi dan pelaporan. Akuntansi keperilakuan menekankan pada
pertimbangan dan pengambilan keputusan akuntan dan auditor, pengaruh dari fungsi
akuntansi (misalnya partisipasi penganggaran, keketatan anggaran, dan karakter
sistem informasi) dan fungsi auditing terhadap perilaku, misalnya pertimbangan
(judgment) dan pengambilan keputusan auditor dan kualitas pertimbangan dan
keputusan auditor, dan pengaruh dari keluaran dari fungsi-fungsi akuntansi berupa
laporan keuangan terhadap pertimbangan pemakai dan pengambilan keputusan.
Binberg dan Shields (1989) mengklasifikasikan riset akuntansi keperilakuan
dalam lima aliran (school) , yaitu :
6

1. Pengendalian manajemen (management control)


2. Pemrosesan informasi akuntansi (accounting information processing)
3. Desain sistem informasi (information system design)
4. Riset audit (audit research)
5. Sosiologi organisasional (organizational sociology)
Informasi akuntansi dirancang untuk suatu dasar bagi pengambilan banyak
keputusan penting di dalam maupun diluar perusahaan. Sistem informasi
dimanfaatkan untuk membantu dalam proses perencanaan, pengkoordinasian dan
pengendalian yang kompleks, serta aktivitas yang saling berhubunga untuk
memotivasi orang-orang

pada semua

tingkatan didalam perusahaan Awal

perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek akuntansi


manajemen khususnya penganggaran (budgeting), namun yang dominan dalam hal
ini terus berkembang dan bergeser searah akuntansi keuangan, sistem informasi
akuntansi, dan audit. Banyak volume riset atas akuntansi keperilakuan dan
meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi secara periodik, akan
memberikan manfaat untuk beberapa tujuan berikut ini :
1. Memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru
yang ingin diperkenankan
2. Membantu dalam mengindentifikasikan kesenjangan riset
3. Untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui
sebidang akuntansi, seperti audit, akuntansi manajemen dan perpajakan
Perkembangan yang pesat dalam akuntansi keperilakuan lebih disebabkan
karena akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu social secara
7

menyeluruh. Akuntansi keperilakuan menggunakan metodelogi ilmu pengetahuan


perilaku untuk melengkapi gambaran informasi dengan mengukur dan melaporkan
faktor manusia yang mempengaruhi keputusan bisnis dan hasil mereka. Akuntansi
keperilakuan menyediakan suatu kerangka yang disusun berdasarkan teknik berikut
ini :
1. Untuk memahami dan mengukur dampak proses bisnis terhadap orang-orang dan
kinerja perusahaan.
2. Untuk mengukur dan melaporkan perilaku serta pendapat yang relevan terhadap
perencanaan strategis.
3. Untuk mempengaruhi pendapat dan perilaku guna memastikan keberhasilan
implementasi kebijakan perusahaan.

2.2. Akuntansi Perpajakan


Akuntansi Perpajakan atau akuntansi pajak (tax accounting) merupakan bidang
akuntansi yang bertujuan untuk menetapkan besar kecilnya jumlah pajak.
Sederhananya, akuntansi pajak bertugas menangani, mencatat, meng-kalkulasi dan
menganalisa serta membuat strategi pajak berkaitan dengan kejadian/transaksi
ekonomi perusahaan. Laporan Akuntansi Pajak disusun serta disajikan dengan
berdasar pada peraturan perpajakan yang berlaku walaupun ada ketidak cocokan
aturan antara akuntansi pajak dengan pedoman laporan keuangan.
Namun, pada perkembangannya, akuntansi pajak belum disadari betul oleh
perusahaan

khususnya

perusahaan

berskala

menengah-kebawah.

bahkan

kecenderungannnya akuntansi pajak diabaikan, tidak tertarik karena terlalu ribet


untuk mengurusinya hingga pada akhirnya mereka menyerahkannya pada konsultan,
dimana konsultan pajak ini tidak tahu betul operasional perusahaan yang ditangani
dengan detail, bahkan bisa menjerumuskannya. Namun pada perusahaan berskala
menengah besar, akuntansi pajak sudah dirasa sangat penting dan penerapannya
sudah sacara masiv dan serius. Umunya Penghasilan sering dibebankan pajaknya
berdasar pertimbangan-pertimbangan yang mayoritas tidak berhubungan dengan asas
penentuan rugi lama ataupun dalam penetapan pendapatan dan beban. ada beberapa
prinsip yang mendasari Akuntansi Pajak. berikut diantaranya:

Kesatuan Entitas Akuntansi

Suatu Entitas ekonomi/perusahaan adalah satu kesatuan ekonomi dan terpisah


dengan pihak yang berkepentingann dengan sumber daya entitas/perusahaan.

Prinsip Kesinambungan

Prinsip ini berasumsi suatu perusahaan tidak akan dibubarkan, akan


melanjurkan/meneruskan kegiatan ekonominya secara terus menerus tidak berhenti.

Konsisten

Dalam prinsip ini, metode pembukuan akuntansi yang digunakan oleh entitas
tidak boleh diubah ubah dalam rentang waktu yang singkat, jikapun terjadi perubahan
metode, harus disertai juga alasan alasannya, misalnya dalam penentuan metode

penyusutan, penentuan tahun buku, dalam mengakui nilai valuta, metode perhitungan
persediaan barang dan lain lain.

Harga Pertukaran Objektif

Aktifitas transaksi ekonomi dinyatakan dgan satuan mata uang. Bisa diuji
pihak independen, tidak terpengaruh hubungan istimewa, tidak ada tranfer pricing,
tidak ada markup harga dan yang lainnya.
2.2.1. Sifat Akuntansi Perpajakan
Adapun sifat akuntansi perpajakan adalah sebagai berikut :
1. Pajak merupakan iuran masyarakat terhadap pemerintah yang bersifat
dipaksakan dalam pembayarannya. Namun karena dipaksakan inilah sering
terjadi saat petugas pajak berlaku semaunya atau tidak berlaku adil dalam
menjalankan tugasnya. Hal ini dapat dipicu dengan banyaknya wajib pajak
yang tidak mematuhi kewajiban dalam membayar pajak sebagaimana
mestinya serta adanya kekeliruan ketika mencatat transaksi, utamanya yang
berhubungan pada perpajakan.
2. Pajak merupakan alat yang digunakan untuk membiayai beban atau
pengeluaran pemerintah, yang di mana pemerintah menggunakan pajak
sebagai sumber kegiatan operasional pemerintahan.
3. Wajib pajak tidak mendapat imbalan jasa secara langsung, namun wajib pajak
mendapat suatu perlindungan dari negaranya yaitu mendapatkan pelayanan
sesuai dengan haknya.

10

4. Pajak memilikii fungsi untuk mengatur segala aspek ekonomi,sosial dan


budaya.
Setiap kejadian ekonomi (transaksi) perusahaan, yang dicatat dalam laporan
komersial, berkonsekwensi dan berimplikasi terhadap kewajiban pajak, baik secara
langsung maupun tidak langsung.Mau tidak mau, semua pembayaran maupun
penerimaan kredit pajak tersebut harus di jurnal (diakui), dinyatakan dalam laporan
komersial yang berbasis akuntansi keuangan sebagai pengurangan terhadap laba
perusahaan.
2.2.2. Peranan Akuntansi Pajak
Ada beberapa peran akuntansi pajak diperusahaan yang ternyata cukup
signifikan yaitu sebagai berikut :
1. Merencanakan strategi perpajakan bagi perusahaan (strategi yang positif,
bukan mencurangi)
2. Menganalisa serta memprediksi potensi pajak yang akan ditanggung
perusahaan di waktu mendatang
3. Meimplementasikan perlakuan akuntansi atas peristiwa aktivitas perpajakan
serta menyajikan didalam laporan keuangan fiskal maupun laporan keuangan
komersial

11

4.

Mendokumentasikan dan mengarsipkan perpajakan dengan sangat baik serta


dijadikan

bahan

pemeriksaan/penilaian kembali dan

evaluasi.
2.2.3. Perbedaan Akuntansi Pajak dengan

Akuntansi Komersil

Purba dalam Izzudin (tanpa tahun penerbitan) menyebutkan terdapat beberapa


perbedaan mendasar antara akuntansi komersial dan akuntansi pajak, diantaranya:
1. Pengguna Laporan Keuangan
Akuntansi komersial : pemegang saham, kreditur, karyawan, fiskus, manajemen,
regulator, dan masyarakat
Akuntansi pajak: fiskus
2. Sifat informasi
Akuntansi komersial: dapat digunakan oleh umum
Akuntansi pajak: rahasia
3. Pedoman Penyusunan dan Penyajian
Akuntansi komersial: PSAK dan interpretasinya
Akuntansi pajak: Undang-undang perpajakan

12

4. Mata Uang dalam Penyajian Laporan


Akuntansi komersial: dapat disusun dengan mata uang selain rupiah
Akuntansi pajak: wajib disampaikan dengan mata uang rupiah, atau mata uang lain
yang diizinkan
5. Dasar Pencatatan Transaksi
Akuntansi komersial: transaksi dicatat dengan asas substance over form, yaitu
pencatatan dan pelaporan dilakukan dengan mengutamakan substansi ekonomi
daripada hakikat formal dan hukum
Akuntansi pajak: transaksi dicatat dan dilaporkan apabila memenuhi syarat dan
ketentuan perpajakan, yaitu dengan mengutamakan hakikat formal atau hukum
daripada substansi ekonominya
6. Batas Waktu Penyampaian
Akuntansi komersial: 6 bulan setelah tahun buku berakhir (UU No 40/2007 ttg PT)
Akuntansi pajak: 4 bulan setelah akhir tahun pajak dan dapat diperpanjang paling
lama dua bulan (UU KUP)
2.3. Akuntansi Keprilakuan dalam pajak
Intisari dari proses akuntansi adalah komunikasi atas informasi yang memiliki
implikasi keuangan atau manajemen. Karena pengumpulan dan pelaporan informasi

13

mengonsumsi sumber daya, biasanya hal tersebut tidak dilakukan secara sukarela
kecuali pelapor yakin bahwa hal ini akan mempengaruhi si penerima untuk
berperilaku sebagaimana yang diinginkan oleh pelapor.
Informasi yang dilaporkan adalah bagian yang penting dari proses
pengelolaan dan pengendalian organisasi. Tanpa informasi, manajer, kreditor, dan
pemilik tidak dapat mengatakan apakah segala sesuatu berjalan sesuai dengan
rencana atau apakah tindakan korektif diperlukan. Persyaratan pelaporan dikenakan
dan dipaksakan oleh beraneka ragam orang dan organisasi dengan cara yang beraneka
rupa.
Persyaratan pelaporan dapat mempengaruhi perilaku pelapor dalam beberapa
cara. Bentuk lain dari pengukuran yang digunakan dalam organisasi, seperti audit dan
pengamatan langsung, juga memiliki banyak dampak yang sama terhadap persyaratan
pelaporan, selain dampak spesifiknya sendiri.
1.

Antisipasi Penggunaan Informasi


Pengirim menggunakan persyaratan pelaporan itu sendiri, bersama-sama

dengan informasi lainnya, untuk mengantisipasi bagaimana penerima akan bereaksi


terhadap informasi yang dilaporkan. Karena orang pada umumnya bereaksi dengan
cara-cara yang mereka yakin akan mengarah pada hasil yang mereka inginkan,
pengirim informasi tersebut mencoba untuk menyimpulkan bagaimana penerima
informasi akan menggunakan dan bereaksi terhadap informasi yang disediakan.
Dalam konteks manajemen, pengirim seringkali dianggap bertanggung jawab untuk
mengendalikan hal-hal yang juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain yang tidak
dapat dikendalikan oleh sipengirim.
2.
Prediksi Si Pengirim Mengenai Penggunaan si Pemakai
14

Kadang kala, seseorang merasa pasti mengenai bagaimana penerima akan


menggunakan informasi, sementara pada waktu-waktu lain seseorang tidak merasa
mengenai bagaimana informasi tersebut digunakan. Jika setiap orang selalu jelas dan
jujur mengenai bagaimana mereka akan menggunakan informasi yang dilaporkan,
maka akan terdapat lebih sedikit masalah, tetapi masi tetap ada kemungkinan bahwa
informasi tersebut akan kemudian digunakan dalam cara-cara yang tidak
dimaksudkan ketika pertama kali informasi tersebut diminta. Dalam kasus-kasus lain
adalah jelas dari respon penerima, atau kurangnya respon penerima, bahwa mereka
tidak menggunakan informasi yang dilaporkan seperti yang mereka katakan.
3.
Insentif/Sanksi
Kekuatan dan sifat dari kekuasaan penerima terhadap pengirim adalah
penentu yang penting mengenai seberapa besar kemungkinan bahwa sipengirim akan
mengubah perilakunya. Semakin besar potensi yang ada bagi sipenerima, untuk
memberikan penghargaan atau sanksi kepada sipengirim, semakin hati-hati
sipengirim akan bertindak dalam memastikan bahwa informasi yang dilaporkan dapat
diterima oleh si penerima.
4.
Penentuan Waktu
Waktu adalah faktor penting dalam menetukan apakah persyaratan pelaporan
akan menyebabkan perubahan dalam perilakupengirim atau tidak. Supaya persyaratan
pelaporan dapat menyebabkan pengirim mengubah perilakunya, ia harus mengetahui
persyaratan pelaporan tersebut sebelum ia bertindak. Jika persyaratan pelaporan
hanya terjadi setelah pengirim telah bertindak, maka tidak ada peluang untuk
mengubah perilaku masa lalu. Tetapi, kebanyakan persyaratan pelaporan bersifat
repetitive dalam konteks manajemen, sehingga bahkan jika persyaratan pelaporan

15

yang pertama dikenakan setelah perilaku yang dilaporkan terjadi, pelapor akan
mengetahui didepan bahwa laporan berikutnya harus dibuat.
5.
Strategi Respons iterative
Ketika suatu persyaratan pelaporan baru dikenakan, strategi yang paling
murah adalah untuk terus berperilaku seperti biasa, melaporkan sejujurnya perilaku
tersebut, dan menunggu reson dari penerima. Jika tidak ada respon, maka strategi
tersebut dapat diteruskan. Umpan balik negative dari penerima yang mengindikasikan
bahwa perilaku yang dilaporkan tidak diinginkan, memperbaiki estimasi pengirim
mengenai perilaku apa yang diinginkan oleh penerima dan bagaimana ia akan
merespon.
6.
Pengaruh Perhatian
Dampak mengarahkan perhatian dapat dianggap sebagai dampak dari
pencatatandan bukannya dampak dari pelaporan informasikarena dampak tersebut
timbul dari kepentingan pengirim itu sendiri dan tidak bergantung pada informassi
yang dilaporkan kepada siapapun. Tetapi, dampak tersebut dipertimbangkan karena
dapat terjadi sebagai respon terhadap persyaratan pelaporan dari luar, meskipun hal
tersebut juga dapat terjadi tanpa adanya persyaratan tersebut.
Dalam Akuntansi perpajakan keperilakuan merupakan bidang yang relative
masi belum di eksplorasi. Tetapi, bidang tersebut tentu saja merupakan bidang yang
sensitive dalam kaitannya dengan persyaratan pelaporan. Beberapa orang bahkan
percaya bahwa persyaratan pelaporan pajak yang sekarang melanggar hak
konstitusional.
Umumnya persyaratan pelaporan akuntansi perpajakan dipandang rumit dan
sulit bagi banyak pembayar pajak. Beberapa persyaratan telah dikenakan tidak hanya
kepada pembayar pajak, tetapi juga pada pihak lain seperti karyawan dengan maksud

16

untuk membuat hukum pajak lebih dipatuhi. Suatu keharusan catatan yang rinci atas
pengurangan beban bisnis merupakan contoh yang paling baru dan kontraversial
mengenai dampak perilaku dari persyaratan pelaporan pajak. Yang dalam faktanya,
catatan rinci tersebut tidak perlu dilaporkan tetapi pembayar pajak dan penyusun
pajak diharuskan untuk melaporkan bahwa catatan itu disimpan dan tersedia untuk
diperiksa.
Tax decision dibuat secara individual. Bagaimanapun, di dalam lingkungan
perusahaan, individu yang membuat keputusan terkadang menghambat pembuatan
keputusan individu lain yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Sebagai contoh,
ketetapan pajak yang baik mungkin tidak digunakan karena dampak yang tidak baik
terhadap income yang dilaporkan kepada shareholder atau pemangku kepentingan. Di
beberapa kasus, jika ketetapan digunakan untuk tujuan pajak, hal ini harus juga
digunakan untuk tujuan laporan keuangan.
Begitu banyak ketetapan dalam hukum pajak yang diharapkan untuk
mempengaruhi keperilakuan. Kesuksesan dari ketetapan ini tergantung dari derajat
kekutan motivasional yang ada pada pembayar pajak. Secara seungguh-sungguh,
kongres harus memperhatikan faktor yang mempengaruhi kekuatan motivasional jika
hukum/peraturan pajak sesuai dengan tujuannya. Dalam lingkungan perusahaan, hal
ini juga sangat penting untung memahami bagaimana hukum/peraturan pajak
mempengaruhi kekuatan motivasional dari mereka yang membuat keputusan bisnis
dengan implikasi pajak. Sebagai contoh, suatu tax penalty mungkin tidak dibuat di
level yang sama terkait dengan kekuatan motivasional untuk para karyawan.

17

Atkinson memiliki teori mengenai kekuatan motivasional untuk menunjukkan


beberapa tugas yang menghasilkan tiga faktor di antaranya: motif, pengharapan, dan
insentif. Individu yang membuat tax decision mungkin harus memilih alternatif yang
berbeda karena motif mereka yang berbeda pula. Sebagai contoh, beberapa individu
memerlukan prestasi yang lebih besar dibandingkan dengan ketakutan mereka akan
suatu kegagalan. Individu ini akan lebih memilih alternatif yang menyertakan level
menengah terkait hal perpajakan dan risiko yang menengah pula. Secara alternatif,
individu yang memiliki ketakutan akan kegagalan akan memilih posisi yang aman
dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk berprestasi.
Kongres membatasi jenis dari insentif ekstrinsik yang dapat ditawarkan untuk
meningkatkan kekuatan motivasional pembayar pajak. Kongres harus memutuskan
biaya yang diinginkan untuk membuat suatu prestasi terkait dengan keinginan
perilaku pembayar pajak. Dalam kasus ini insentif ekstrinsik yang dapat diambil
contoh bentuk penalty atau kewajiban pajak tambahan, hal ini tidak terdapat biaya
financial kepada pemerintah terkait tax revenues, tetapi secara normal terdapat biaya
asosiasi dengan mengesankan hal tersebut merupakan penalti. Contoh Riset
Akuntansi keprilakuan dalam pajak kami sediakan dalam lampiran 1.1.

18

BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan yang
digunakan oleh para pemakainya dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Tujuan
informasi tersebut adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang paling
baik untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan

19

ekonomi. Akuntansi keprilakuan menjelaskan bagaimana perilaku manusia


mempengaruhi data akuntansi dan keputusan bisnis serta bagaimana mempengaruhi
keputusan bisnis dan perilaku manusia.
Akuntansi Perpajakan atau akuntansi pajak (tax accounting) merupakan bidang
akuntansi yang bertujuan untuk menetapkan besar kecilnya jumlah pajak.
Sederhananya, akuntansi pajak bertugas menangani, mencatat, meng-kalkulasi dan
menganalisa serta membuat strategi pajak berkaitan dengan kejadian/transaksi
ekonomi perusahaan.
Begitu banyak ketetapan dalam hukum pajak yang diharapkan untuk
mempengaruhi keperilakuan. Kesuksesan dari ketetapan ini tergantung dari derajat
kekutan motivasional yang ada pada pembayar pajak. Secara seungguh-sungguh,
kongres harus memperhatikan faktor yang mempengaruhi kekuatan motivasional jika
hukum/peraturan pajak sesuai dengan tujuannya.motivasi yang diberkan diharapkan
dapat mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi. Selain itu, membuat
perusahaan memiliki tingkat kepatuhan yang lebih terhadap hukum pajak yang
ditetapkan.
3.2.Saran
Penulisan makalah ini belum mewakili bagaimana sebenarnya hubungan antara
akuntansi keprilakuan dan pajak secara khusus, sehingga untuk peneliti selanjutnya
dapat melakukan penulisan uyang menggambarkan hubungan akuntansi keprilakuan
dan pajak secara lebih khusus dalam praktek sehari-hari.

20

Daftar Pustaka
Nadya Meivira Amran.2010.Akuntansi Keprilakuan. http:
//nadyazahirsyah.blogspot.com/2010/11/filosofi-riset-dalam-bidang-akuntansi.html,di
akses pada tanggal 04 maret 2015
Maharani dan Suardana.2014.Pengaruh Corporate Governance, Profitabilitas,
Dan Karakteristik Eksekutif Pada Tax Avoidance Perusahaan Manufaktur. E-jurnal
Akuntansi Universitas Udayana.Bali

21

Sukirno Sadono.2005. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan


Keuangan.BPFE:Yogyakarta
Siegel, Gary, dan Marcony H.R, 1989. Behavioral Accounting, SouthWestern Publishing co, Cincinnatim Ohio
_._.Akuntansi Keprilakuan dan Pajak.www.scribd.com. diakses pada tanggal
04 maret 2015

22