Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PLASENTA PREVIA (PLASENTA LETAK RENDAH)


DI RUMAH SAKIT ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG

Disusun Oleh
Sri Agustin Tabara

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
TAHUN AJAR 2015/2016

A. Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta ada didepan jalan lahir (prae =didepan ; vias:
jalan ). Jadi yang di maksud adalah plasenta yang implantasinya tidak normal ialah
rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebaian ostium internum. Implantasi
plasenta yang normal adalah pada dinding depan atau dinding belakang rahim
didaerah fundus uteri. (winknjosastro, 1999).
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostrium uteri interernum.
Plasenta previa adalah keadaan plasenta berimplantasi rendah pada segmen bawah
rahim, meutupi atau tidak menutupi ostium uteri internum pada usia kehamilan lebih
dari 20 minggu dan janin mampu hidup diluar rahim (Sumapraja dan Rachimhadi,
2007). Plasenta previa adalah komplikasi obstetri yang terjadi pada trimester kedua
dan ketiga kehamilan. Hal itu dapat menyebabkan kematian yang serius baik bagi
janin dan ibu. Ini adalah salah satu penyebab utama perdarahan vagina pada trimester
kedua dan ketiga (Patrcik, 2009).
Sejalan dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah
rahim ke arah proksimal memumngkinkan plasenta yang berimplamentasi pada
segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah
plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik mendatar dan meluas
dalam persalinan kala satu bisa menubah luas permukaan serviks yang tertutup oleh
plasenta. Fenomena ini berpengaruh pada derajat atau klasifikasi dari plasenta previa
ketika pemeriksaan dilakukan baik dalam massa antenatal maupun dalam massa
intranatal, baik dengan ultrasonografi maupun pemeriksaan digital. Oleh karena itu,
pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang secara berkala dalam asuhan antenatal
ataupun intranatal ( ilmu kebidanan hal ; 495 )
B. Penyebab
Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya
plasenta dari dinding uterus, atau robekan sinus

marginalis dari plasenta.

Perdarahannya tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen


bawah uteus untuk berkontraksi menghentikan prdarahan itu tidak sebagaimana
serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang
letaknya normal. Makin rendah letak plasenta , makin dini perdarahan terjadi, oleh
karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada
plasenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setelah persalinan dimulai.
(Sarwono,2005).

Penyebab blastokista berimplementasi pada segmen bawah rahim belumlah


diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua
di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin. Teori lain
mengemukakakan sebagai salah satu penyebabnya adalah vaskularisasi desidua yang
tidak menandai, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi,
usia lanjut, cacat rahim misalnya bekas bedah sesar, kerokan, miomektomi, dan
sebagainnya berperen dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium
yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor resiko bagi terjadinya plasenta previa.
Cacat bekas bedah

sesar berperan menaikan

insiden dua sampai tiga kali.

Hipoksemia akibat karbon mono oksida hasil pembakaran rokok menyebabkan


plasenta menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar
seperti pada kehamilan ganda dan eritroblastosis fetalis bisa menyebabkan
pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian
atau seluruh ostium uteri internum. ( ilmu kebidanan hal ; 496 )
C. Klasifikasi
1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi seluruh
ostium uteri internum.
2. Plasenta previa parialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri
internum.
3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berbeda pada pinggir
ostium uteri internum.
4. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplementasi pada segmen
bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berbeda pada jarak lebih
kurang 2 cm dari ostium uteri inernum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap
plasenta letak normal.
( ilmu kebidanan hal ;495 - 496 )
D. Tanda dan Gejala
Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar
melalui vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir
trismester kedua keatas. Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti
sendiri. Perdarahan kembali terjadi tanpa sesuatu sebab yang jelas setelah beberapa
waktu kemudian, jadi berulang. Pada tiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih
banyak bahkan seperti mengalir. Pada plasenta letak rendah perdarahan baru terjadi
pada waktu mulai persalinan; perdarahan bisa sedikit sampai banyak mirip pada
solusio plasenta. Perdarahan diperhebat berhubung segmen bawah rahim tidak mampu

berkontraksi sekuat segmen atas rahim. Dengan demikian, perdarahan bisa


berlangsung sampai pascapersalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan
serviks dan segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mudah
mengalami robekan. Robekan lebih mudah terjadi pada upaya pengeluaran plasenta
dengan tangan misalnya pada retensio plasenta sebagai komplikasi plasenta akreta.
Berhubung plasenta terletak pada bagian bawah, maka pada palpasi abdomen
sering ditemui bagian terbawah janin masih tinggi diatas simfisis dengan letak janin
tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak membuat ibu hamil merasa
nyeri dan perut tidak tegang.
E. Patofisiologi
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trisemester ke 3 dan
mungkin juga lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim,
tampak plasenta akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tampak plasenta
terbentuk dari jaringan maternal yaitu bagian desidua blasis yang bertumbuh menjadi
bagian dari uri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim,
maka plasenta yang berimplementasi di situ sedikit banyak akan mengalami laserasi
akibat pelepasan pada desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu
serviks mendatar ( effacement ) dan membuka ( dilatation ) ada bagian tampak
plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi ini akan terjadi perdarahan yang berasal
darisirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta. Oleh karena
fenomena pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahn pada plasenta previa
betapun pasti akan terjadi ( unavoidable bleeding ). Perdarahan di tempat itu relatif
dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan serviks tidak
mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang dimilikinya sangat
minimal, dengan akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan
sempurna. Perdarahan akan berhentikarena terjadi pembekuan kecuali jika ada
laserasi mengenai sinus yang besar dari plaasenta pada mana pendarahan akan
berlangsung lebih lama. Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim itu akan
berlangsung progresif dan bertahap, maka laserasi baru akan mengulang kejadian
perdarahan. Demikianlah perdarahan akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (
causeess ). Darah yang keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri ( painless ).
Pada plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum perdarahan terjadi pada
bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum. Sebaliknya, pada plasenta previa
parsialis atau letak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati atau

pendarahan berikutnya. Untuk berjaga jaga mencegah syok hal tersebut perlu
dipertimbangkan. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan di bawah 30
minggu tatapi lebih separuh kejadiannya pada umur kehamilan 34 minggu ke atras.
Berhubungan tempat pendarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum, maka
perdarahan lebih mudah mengalir ke luar rahim dan tidak membentuk hematoma
retroplsenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin
ke dalam sirkulasi maternal. Dengan demikian, sangat jarang terjadi kogulopati pada
plasenta previa.
Hal ini yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang tipis
mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat lebih
kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan inkreta lebih sering
terjadi pada uterus yang sebelumnya bedah sesar, segmen bawah rahim dan serviks
yang rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang terdapat disana.
Kedua kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian perdarahan pascapersalinan pada
plasenta previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta sukar melepas dengan
sempurna ( retentio placentae ), atau setelah uri lepas karena segmen bawah rahim
tidak mampu berkontraksi dengan baik ( ilmu kebidanan hal ; 496 497 )

F. Pathways
Etiologi, kehamilan lanjut dan persalinan

Segmen bawah melebar dan menipis

Pembukaan serviks

Plasenta menempel di segmen bawah/plasenta lepas dari dinding uterus

Sinus uterus robek

Perdarahan
G. Penatalaksanaan
1. Terapi ekspektatifTujuan terapi ekspektatif adalah supaya janin tidak terlahir
prematur, pasien dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melaui kanalis
servisis. Upaya diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis
dilaksanakan secara ketat dan baik.
Syarat pemberian terapi ekspektatif :

a. Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.


b. Belum ada tanda-tanda in partum.
c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal).
d. Janin masih hidup.
- Rawat inap, tirah baring, dan berikan antibiotik profilaksis.
- Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi placenta,

usia

kehamilan, profil biofisik, letak, dan presentasi janin.

Berikan tokolitik bila ada kontriksi :

MgSO 4 gr IV dosis awal dilanjutkan 4 gr tiap 6 jam.


Nifedipin 3 x 20 mg/hari.
Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru janin
4

Uji pematangan paru janin dengan Tes Kocok (Bubble Test) dari test
amniosentesis.

Bila setelah usia kehamilan di atas 34 minggu placenta masih berada di


sekitar ostinum uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas
sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi
kemungkinan keadaan gawat darurat.

Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 mingu masih


lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila rumah
pasien di luar kota dan jarak untuk mencapai RS lebih dari 2 jam) dengan
pesan segera kembali ke RS apabila terjadi perdarahan ulang.

2. Terapi aktif (tindakan segera)

Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif


dan banyak harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang

maturitas janin.
Untuk diagnosis placenta previa dan menentukan cara menyelesaikan

persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDOM jika :


Infus / tranfusi telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap.
Kehamilan 37 minggu (BB 2500 gram) dan in partum.
Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misal :
anensefali).
Perdarahan dengan bagian terbawah jsnin telah jauh melewati PAP (2/5
atau 3/5 pada palpasi luar).

3. Fokus Pengkajian Keperawatan


1. Pemeriksaan Fisik
1) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil :
a) Rambut dan kulit.
Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. Laju
pertumbuhan rambut berkurang.
b) Wajah
Mata : pucat, anemis, Hidung, Gigi dan mulut.
c) Leher
d) Buah dada / payudara.
Peningkatan pigmentasi areola putting susu.
Bertambahnya ukuran dan noduler.
e) Jantung dan paru
Volume darah meningkat, Peningkatan frekuensi nadi, Penurunan
resistensi pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah pulmonal,
Terjadi hiperventilasi selama kehamilan, Peningkatan volume tidal,
penurunan resistensi jalan nafas, Diafragma meningkat, Perubahan
pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
f) Abdomen
Menentukan letak janin, Menentukan tinggi fundus uteri
g) Vagina
Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda
Chandwick), Hipertropi epithelium
h) Sistem musculoskeletal

Persendian tulang pinggul yang mengendur, Gaya berjalan yang


canggung, Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan
dengan diastasis rectal
2) Khusus
a) Tinggi fundus uteri
b) Posisi dan persentasi janin
c) Panggul dan janin lahir
d) Denyut jantung janin
4. Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi
2) Defisit volume cairan b.d kehilangan volume cairan secara aktif
3) Kecemasan b.d perubahan status kesehatan.
5. Rencana Tindakan Keperawatan

No

Diagnosa

Tujuan / NOC

NIC

Keperawatan
1

Gangguan

pertukaran

b.d ketidakseimbangan
perfusi ventilasi

NOC :

NIC :

Respiratory status : Gas


excange

memaksimalkan

Keseimbangan

asam

basa, elektrolit

Respiratory

status

ventilasi

dan oksigenasi yang

adekuat
TTV dalam rentang

normal
AGD dalam
normal

batas

adanya

suara

tambahan
Monitor respirasi dan

status O2
Monitor TTV,

AGD,

elektrolit

status

Mendemonstrasikan
peningkatan

ventilasi
Auskultasi suara nafas,
catat

Vital sign status

KH :

ventilation

Posisikan pasien untuk

dan

mental
Observasi

sianosis,

khusunya

membran

mukosa

2
Defisit volume cairan NOC :

NIC :

b.d kehilangan volume


cairan secara aktif

Fluid balance

Pertahankan intake dan


output yang akurat

Hydration

Nutritional

status

(kelembaban membran

food and fluid intake

mukosa, nadi adekuat,


tekanan darah ortostati)

KH :

TTV

jika diperlukan
dalam

batas

normal

elastisitas
kulit

baik,

membran
lembab,

mukosa
tidak

ada

rasahaus

yang

berlebihan
Orientasi

terhadap

waktu dan tempat baik


Jumlah

dan

irama

nafaas

dalam

batas

normal

Elektolit,

hb

dalam

batas normal

Intake

Monitor vital sign in


1 jam

Tidak ada tanda-tanda


turgor

setiap 15 menit sampai

dehidrasi,

Monitor status hidrasi

oral

intravena adekuat

dan

Kolaborasi
cairan IV

pemberian

NIC :
Kecemasan
perubahan
kesehatan

b.d NOC :

status

Gunakan

pendekatan

yang menyenangkan

Kontrol kecemasan

Jelaskan

semua

prosedur dan apa yang

Koping

dirasakan
KH :

prosedur

Klien

mampu

mengidentifikasi

dan

mengungkapkan gejala

mengungkapkan

dan

menunjukkkan tekhnik

untuk

mengontrol

Identifikasi

tingkat

Bantu pasien mengenal


situasi

yang

menimbulkan
kecemasan

Vital sign in dalam


batas normal

menggunakan

kecemasan

kecemasan

Instruksikan pada pasien


teknik relaksasi

Mengidentifikasi

untuk

Libatkan keluarga untuk


mendampingi klien

cemas

selama

dan tingkat aktivitas


menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

pasien

untuk

mengungkapkan
perasaan,

Postur tubuh, ekspresi


wajah, bahasa tubuh,

Dorong

ketakuta,

persepsi

Kelola pemberian obat


anti cemas : ...

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono,2010,ilmu kebidanan, Edisi IX, Jakarta: PT Bina Pustaka.


NANDA. (2012). Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi. 2012-2014. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Rukiyah,yeyeh ai. 2010,Asuhan kebidanan 4 patologi kebidanan, jakarta : katalog dalam
terbitan.