Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

UJI GLUKOSA DALAM URINE DAN DARAH

Disusun untuk memenuhi


tugas mata kuliah Praktikum Biologi
Yang dibina oleh Agung Witjoro, S.Pd, M.Kes
Oleh Kelompok 2 Offering G-G:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ika Rubaisih
M. Ali Makki
M.Baqir Zaini
Abdini Nur I
Yuli Ika Indriani
Rifko Harny D.C

(120322402577)
(120322402582)
(120322402580)
(120322420489)
(120322420492)
(120322420502)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN FISIKA
April 2013
A. Topik
Uji glukosa dalam urine dan darah
B. Tujuan
1. Menentukan adanya glukosa dalam urine.
2. Menentukan adanya glukosa dalam darah.
C. Dasar Teori
Urine terbentuk setelah melalui proses penyaringan darah di ginjal. Darah
masuk ginjal melalui pembuluh nadi ginjal. Ketika berada di dalam membran

glomerulus, zat-zat yang terdapat dalam darah (air, gula, asam amino dan urea)
merembes keluar dari pembuluh darah kemudian masuk kedalam simpai/kapsul
bowman dan menjadi urine primer. Proses ini disebut filtrasi. (Campbell, 2002).
Urine primer dari kapsul bowman mengalir melalui saluran-saluran halus
(tubulus kontortokus proksimal). Di saluran-saluran ini zat-zat yang masih
berguna, misalnya gula, akan diserap kembali oleh darah melalui pembuluh darah
yang mengelilingi saluran tersebut sehingga terbentuk urine sekunder. Proses ini
disebut reabsorpsi. (Campbell, 2002).
Urine sekunder yang terbentuk kemudian masuk tubulus kotortokus distal dan
mengalami penambahan zat sisa metabolism maupun zat yang tidak mampu
disimpan dan akhirnya terbentuklah urnine sesungguhnya yang dialirkan ke
kandung kemih melalui ureter. Proses ini disebut augmentasi. Apabila kandung
kemih telah penuh dengan urne, tekanan urine pada dinding kandung kamih akan
menimbulkan rasa ingin buang air kecil atau kencing. (Campbell, 2002).
Urine mengandung zat padat sebesar 4 persen dan 96 persen air. Zat-zat padat
yang ada dalam urine adalah sebagai berikut :
a. Urea, air dan ammonia sebagai sisa perombakan protein
b. Zat warna empedu yang member warna kuning pada urine
c. Zat-zat yang berlebihan dalam darah misalnya vitamin, sisa obatan,
d.Garam-garaman khususnya garam dapur.
Banyaknya urine yang dikeluarkan dari dalam tubuh seseorang yang normal
sekitar 5 liter setiap hari. Faktor yang mempengaruhi pengeluaran urine dari
dalam tubuh tergantung dari banyaknya air yang diminum dan keadaan suhu
apabila suhu udara dingin, pembentukan urine meningkat sedangkan jika suhu
panas, pembentukan urine sedikit.
Pada saat kita minum banyak air, kelebihan air akan dibuang melalui ginjal.
Oleh karena itu jika banyak minum akan banyak mengeluarkan urine. Warna urine
setiap orang berbeda-beda. Warna urine biasanya dipengaruhi oleh jenis makanan
yang dimakan, jenis kegiatan atau dapat pula disebabkan oleh penyakit. Namun
biasanya warna urine normal berkisar dari warna bening sampai warna kuning
pucat.
Glukosa adalah gula yang terpenting bagi metabolisme tubuh, dikenal juga
sebagai gula fisiologis. Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang
mengacu kepada tingkat glukosa di dalam darah (Anoymous, 2008).

Sedangkan dalam tumbuhan Glukosa 6-fosfat yang dihasilkan selama


fotosintesis adalah precursor dari tiga jenis karbohidrat tumbuhan , yaitu sukrosa,
pati dan selulosa (Lehninger, 1982).
Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di
dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi
untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang
sempit sepanjang hari: 4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah
makan dan biasanya berada pada level terendah pada pagi hari, sebelum orang
makan. Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling menonjol yang disebabkan
oleh gagalnya pengaturan gula darah (Anoymous, 2008).
Meskipun disebut gula darah, selain glukosa, kita juga menemukan jenisjenis gula lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya
tingkatan glukosa yang diatur melalui insulin dan leptin (Anoymous, 2005).
D. Alat dan Bahan
a. Alat
Tabung reaksi beseta rak
Pemanas spirtus
Pipet
Penjepit tabung reaksi
Beaker glass
Alat pendeteksi gula darah
Alat penusuk jari
kapas
b. Bahan
Larutan benedict
Larutan fehling A dan B
Urine
Air
Darah
Alkohol
E. Cara Kerja
1. Penentuan Adanya Glukosa Dalam Urine
mengambil 2 ml urin atau setara dengan 40 tetes dan
memasukkannya ke dalam tabung reaksi

menetesi urine tersebut dengan 3 tetes larutan benediect kemudian


memanaskannya

mengamati perubahan warna yang terjadi

2.Pengukuran Kadar Glukosa Dalam Darah


Mensterilka jari tengah dengan menggunakan tissu steril

Menusuk permukaan bagian ujung jari dengan mengguakan alat


nesco

Mengambil sampel darah untuk dimasukkan kedalam stick nesco


yang telah terhubung dengan alat pegukur kadar glukosa

Mencatat kadar glukosa yang muncul

F. Hasil Pengamatan dan Analisis Data


Hasil Pengamatan
1. Warna Urin setelah ditambah Benedict dan dipanaskan
No
1.
2.

Kelompok
I
II

Warna
Hijau Kekuningan
Kuning Kecoklatan

Keterangan
++
+++

3.
4.
5.
6.

III
IV
V
VI

Kuning Kecoklatan
Kuning Kehijauan dan Kuning Kecoklatan
Hijau Kekuningan
Kuning Kehijauan

+++
+ dan +++
++
+

Keterangan:
Biru
Kuning Kehijauan
Hijau Kekuningan
Kuning Kecoklatan
Coklat Kekuningan
Merah Bata

0
+
++
+++
++++
+++++

2. Uji Kandungan glukosa dalam darah


Praktikan
Praktikan 1
Praktikan 2
Praktikan 3
Praktikan 4
Praktikan 5
Praktikan 6

Hasil (mg/dl)
80
83
99
71
94
80

Keterangan
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Keterangan:
< 40
: amat rendah
40-59
: rendah
60-125
: normal
126.145: gejala diabetes
146.199: diabetes
>200
: amat tinggi
Analisis Data
1. Penentuan adanya glukosa dalam urin
Dalam melakukan percobaan ini setiap kelompok memilih salah satu urin
dari anggota kelompok. Pada percobaan diawali dengan mengambil 2 ml urin
dan dimasukkan dalam tabung reaksi kemudian ditetesi larutan benedict atau
larutan fehling A dan B dan juga dipanaskan. Dari hasil pengamatan kelompok
I menghasilkan warna hijau kekuningan sehingga itu artinya ada gula (++)
dalam urin tersebut. Kelompok II menghasilkan warna kuning kecoklatan
sehingga itu artinya ada gula (+++) dalam urin tersebut. Kelompok III
menghasilkan warna kuning kecoklatan sehingga itu artinya ada gula (+++)
dalam urin tersebut. Kelompok IV praktikan 1 menghasilkan warna kuning
kehijauan sehingga itu artinya ada gula (+) dalam urin dan praktikan 2

menghasilkan kuning kecoklatan sehinga itu artinya ada gula (+++) .


Kelompok V menghasilkan warna hijau kekuningan sehingga itu artinya ada
gula (++) dalam urin tersebut. Kelompok VI menghasilkan warna kuning
kehijauan sehingga itu artinya ada gula (+) dalam urin tersebut.
2. Penentuan adanya glukosa dalam darah
Pada percobaan ini dilakukan oleh enam praktikan. Setiap praktikan
masing-masing diambil darahnya. Dan setiap praktikan pun menghasilkan
kandungan glukosa yang berbeda-beda. Dalam hal ini pengujian dilakukan
dengan menggunakan stik glukosa. Pada percobaan ini praktikan 1 memiliki
kandungan glukosa dalam darah 80 sehingga itu artinya normal , praktikan 2
memiliki kandungan glukosa dalam darah 83 sehingga itu artinya normal,
praktikan 3 memiliki kandungan glukosa dalam darah 99 sehingga itu artinya
normal, praktikan 4 memiliki kandungan glukosa dalam darah 71 sehingga itu
artinya normal, praktikan 5 memiliki kandungan glukosa dalam darah 94
sehingga itu artinya normal, praktikan 6 memiliki kandungan glukosa dalam
darah 80 sehingga itu artinya normal.
G. Pembahasan
1. Penentuan adanya glukosa dalam urine
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang
diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh
melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekulmolekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga
homeostasis cairan tubuh (http://wikipediaindonesia.com). Urinalisasi adalah
tes yang dilakukan pada sampel urine pasien untuk tujuan diagnosis infeksi
saluran kemih, batu ginjal, skrining, dan evaluasi berbagai jenis penyakit
ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan
darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum (Edy,
2010).
Pemeriksaan secara kimia dilakukan untuk mengetahui kandungan
glukosa yang terkandung dalam urine. Pada uji glukosa dalam urine
menggunakan larutan Benedict. Larutan Benedict biasanya digunakan untuk
melihat gula reduksi dalam urine. Larutan Fehling A dan B juga digunakan
untuk menguji kandungan glukosa dalam urine. Warna yang dihasilkan dalam
percobaan tersebut mempunyai beberapa jenis warna yaitu warna biru artinya

kandungan glukosa negatif, warna kuning kehijauan artinya terdapat


kandungan gula dengan level +1, warna hijau kekuningan artinya terdapat
kandungan gula dengan level +2, warna kuning kecoklatan artinya terdapat
kandungan gula dengan level +3, warna coklat kekuningan artinya terdapat
kandungan gula dengan level +4, warna merah bata artinya terdapat
kandungan gula dengan level +5 yaitu cukup banyak kandungan gula dalam
urine tersebut.
Berdasarkan analisis data, diketahui sampel urine menghasilkan warna
yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya
adalah jenis makanan. Sehingga percobaan ini sesuai dengan dasar teori yang
ada.
2. Penentuan adanya glukosa dalam darah
Gula darah adalah istilah yang mengacu kepada tingkat glukosa di
dalam darah. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur
dengan ketat di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah
sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Glukosa diperlukan sebagai sumber
energi terutama bagi sistem syaraf dan eritrosit. Glukose juga dibutuhkan di
dalam jaringan adipose sebagai sumber gliserida-glisero, dan mungkin juga
berperan dalam mempertahankan kadar senyawa antara pada siklus asam sitrat
di dalam banyak jaringan tubuh. (Zaif, 2009).
Glukosa sebagian besar diperoleh dari manusia, kemudian dibentuk
dari berbagai senyawa glukogenik yang mengalami glukogenesis lalu juga
dapat dibentuk dari glikogen hati melalui glikogenolsis. Proses
mempertahankan kadar glukosa yang stabil didalam darah merupakan salah
satu mekanisme homeostasis yang diatur paling halus dan juga menjadi salah
satu mekanisme di hepar, jaringan ekstrahepatik serta beberapa hormon.
Hormon yang mengatur kadar glukosa darah adalah insulin dan glukagon.
Insulin adalah suatu hormon anabolik, merangsang sintesis komponen
makromolekuler sel dan mengakibatkan penyimpanan glukosa. (Risaluvita,
2012).
Glukagon adalah suatu katabolik, membatasi sintesis makromolekuler
dan menyebabkan pengeluaran glukosa yang disimpan. Peningkatan glukosa
dalam sirkulasi mengakibatkan peningkatan kosentrasi glukosa dalam sirkulasi

mengakibatkan peningkatan sekresi insulin dan pengurangan glukagon,


demikian sebaliknya. (Purnomo, 2008)
Diabetes mellitus adalah penyakit yang paling menonjol yang
disebabkan oleh gagalnya pengaturan gula darah. Meskipun disebut gula
darah, selain glukosa, kita juga menemukan jenis-jenis gula lainnya, seperti
fruktosa dan galaktosa. Namun demikian, hanya tingkatan glukosa yang diatur
melalui insulin dan leptin. (Purnomo, 2008)
Berdasarkan analisis data, dalam kelompok kami semua memiliki
kandungan gula dalam darah yang tergolong normal. Sehingga tidak ada
gejala penyakit diabetes melitus karena kandungan gula darahnya tidak
melebihi batas normal.
H. Kesimpulan
1. Analisis kimiawi kandungan glukosa dalam urin indikatornya terletak pada
terjadinya perubahan warna pada benedict setelah ditetesi urin. Apabila pada
urin kita terdapat glukosa maka hal ini menandakan bahwa terdapat kerusakan
ginjal pada tubuh kita.
2. Kandungan glukosa dalam darah, apabila melebihi batas normal kemungkinan
memiliki gelaja penyakit diabetes melitus dan batas normal tersebut yaitu
selang antara 60-125 mg/dl.
I. Daftar Pustaka
Anonym. 2010. Ginjal. (http://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama),
(online). Diakses 14 April 2013.
Anoymous. 2008. Gula Darah. (www.wikipedia.org), (Online). Diakses 14
April 2013.
Anoymous. 2008. Penolakan Insulin. (www.wikipedia.org), (Online). Diakses
14 April 2013.
Campbell, Neil A., dkk. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta : Erlangga.
Edy.2010. Glukosa Dalam Urin. (http://kliniksehat.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=409&Itemid=19), (Online).
Diakses 11 April 2013.

Purnomo, Yudi. 2008. Biologi umum. Surakarta: Tiga Serangkai.


Risaluvita. 2012. Kadar Gula Darah.
(http://risaluvita.wordpress.com/2012/09/29/laporan-praktikumpatologi-klinik-pemeriksaan-kadar-gula-darah/), (online). Diakses 16
April 2013.
Zaif. 2009. Glukosa Darah.(http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/glukosadarah/),(online).Diakses tanggal 16 April 2013.