Anda di halaman 1dari 10

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

RIAU]

HEMODIALISA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS


Kahila Delfia2, W.R Butar Butar2
1
Fakultas Kedokteran Universitas Riau
2
Bagian Penyakit Dalam RSUD Arifin Achmad

ABSTRAK
Hemodialisa merupakan terapi pengganti pada pasien
dengan Gagal Ginjal Kronis tahap akhir atau Gagal Ginjal
Terminal (GGT). Gagal Ginjal Terminal (GGT) merupakan suatu
keadaan dimana faal ginjal yang masih tersisa sudah minimal
sehingga pengobatan konservatif berupa diet, pembatasan
minum, obat-obatan dan lain-lain tidak dapat lagi memberikan
pertolongan.

Pada

mengalirkan

darah

GGT,
ke

hemodialisa

dalam

suatu

dilakukan

tabung

ginjal

dengan
buatan

(dialiser).
Pada laporan kasus didapatkan pasien seorang laki-laki
berusia 55 tahun dengan diagnosa gagal ginjal kronis sejak 2
tahun yang lalu, berdasarkan keluhan klinis dan dari hasil
pemeriksaan labor didapatkan laju filtrasi glomerulus (LFG) 2,99
ml/mnt/1,73m2. Hal ini memenuhi kriteria diagnosis penyakit
ginjal kronik derajat 5, yaitu gagal ginjal yang memerlukan terapi
ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal.

Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

ABSTRACT
Hemodialysis is a replacement theraphy in patients with
end stage chronic renal failure or terminal renal failure. Terminal
renal failure is a cndition in which the remaining renal physiology
has been minimal so that cnservative treatment such as diet,
restriction of drinking, drugs etc cant help anymore. In GGT,
hemodialysis is done by draining the blood into a tube artificial
kidney (dialiser).
In one case report found 55 year old man with a diagnosis
of chronic renal failure since 2 years ago. Based on clinical
complaints

and

laboratory

test

result

obtained

from

the

glomerular filtration rate of 2,99ml/mnt/1,73m 2. It meets the


criteria for a diagnosis of chronic kidney disease stage 5, that is
renal failure requiring renal theraphy remains a dialysis or kidney
transplants.

Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

PENDAHULUAN
Gagal

ginjal

kronik

merupakan

sindrom

klinis

yang

disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun,


berlangsung progresif dan ireversibel. Hal ini terjadi apabila laju
filtrasi glomerulus (LFG) kurang dari 50ml/menit. Penyakit ginjal
kronik sesuai dengan tahapannya dapat menjadi berkurang,
ringan, sedang atau berat. Gagal ginjal tahap akhir (end stage
renal failure) atau gagal ginjal termina, merupakan stadium
gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian kecuali jika
dilakukan terapi pengganti.1
Menurut data epidemiologi di Amerika Serikat, di dapatkan
tahun 1995-1999 menyatakan insidens penyakit ginjal kronik
diperkirakan 100 kasus perjuta penduduk pertahun, dan angka
ini meningkat sekitar 8% setiap tahunnya. Di Malaysia, dengan
populasi 18 juta, diperkirakan terdapat 1800 kasus baru gagal
ginjal pertahunnya. Di Negara-negara berkembang lainnya,

Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

insiden ini diperkirakan sekitar 40-60 kasus perjuta penduduk


pertahun.
Diagnosis
berdasarkan

Gagal

Kriteria

ginjal

Penyakit

kronik
Ginjal

dapat

Kronik

dan

ditegakkan
Klasifikasi

Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Derajat Penyakit sebagaimana


tabel di bawah ini :
Tabel 1. Kriteria Penyakit Ginjal Kronik
1
Kerusakan ginjal (renal damage) yang terjadi lebih dari 3
bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional, dengan
atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG), dengan
manifestasi :
Kelainan patologis
Terdapat tanda kelainan ginjal, termasuk kelainan
dalam komposisi darah atau urin, atau kelainan dalam
tes pencitraan (imaging tests)
2

Laju
filtrasi
glomerulus
(LFG),
kurang
dari
60ml/menit/1,73m2 selama 3 bulan, dengan atau tanpa
kerusakan ginjal.

Tabel. 2 Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar


Derajat Penyakit
Deraj

Penjelasan

LFG

at
1

Kerusakan ginjal dengan LFG normal

(ml/mn/1,73m2)
90

atau
Kerusakan ginjal dengan LFG

60-89

ringan
Kerusakan ginjal dengan LFG

30-59

4
5

sedang
Kerusakan ginjal dengan LFG
Gagal ginjal

Laporan Kasus

berat

15-29
< 15 atau dialisis

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

Selain itu juga, keluhan pada pasien dengan gagal ginjal


kronis ini sesuai dengan:
1. Penyakit yang mendasarinya seperti diabetes melitus,
infeksi traktus urinarius, batu traktus urinarius, hipertensi,
hiperurikemia,

lupus

eritomatosus

sistemik

dan

lain

sebagainya.
2. Sindrom uremia, yang terdiri dari lemah, letargi, anoreksia,
mual-muntah, nokturia, kelebihan volume cairan, neuropati
perifer, pruritus, uremic frost, perikarditis, kejang-kejang
sampai koma.
3. Gejala komplikasi seperti hipertensi, anemia, osteodistrofi
renal, payah jantung, asidosis metabolik dan gangguan
keseimbangan elektrolit.

Penatalaksanaan pada penyakit ginjal kronik meliputi:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya


Pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid
Memperlambat perburukan fungsi ginjal
Pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular
Pencegahan dan terapi terhadap komplikasi
Terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi
ginjal

ILUSTRASI KASUS
Tn. S, seorang laki-laki berusia 55 tahun datang ke bangsal
penyakit

dalam

RSUD

AA

Provinsi

Riau

untuk

dilakukan

hemodialisa. Pasien mengaku hemodialisa yang dijalani pasien 2


kali dalam seminggu, yaitu pada hari senin dan rabu. Dua tahun

Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluhkan nyeri pinggang


dan kaki bengkak yang hilang timbul. Sejak satu tahun sebelum
masuk rumah sakit Pasien juga mengeluh sering terbangun pada
malam hari untuk buang air kecil dan sering haus. 2 minggu
sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluhkan sesak nafas
yang tidak bisa hilang dalam posisi apapun, sesak nafas
dirasakan terus menerus. Pasien juga mengeluh nyeri pada ulu
hati dan susah berjalan dikarenakan kedua kaki pasien bengkak.
Selain itu pasien juga mengeluhkan tidak bisa kencing dan
kencing yang keluar sedikit. Dan pasien juga mengeluh mual dan
muntah

3-4

kali/hari.

Pasien

dijadwalkan

untuk

dilakukan

hemodialisa pada hari senin dan rabu.


Pasien memiliki riwayat hipertensi, pasien jarang kontrol
dan tidak ada minum obat anti hipertensi. Pasien juga memiliki
riwayat penyakit diabetes melitus. Di dalam keluarga orang tua
pasien memiliki penyakit hipertensi. Pasien sudah tidak bekerja
lagi, pasien juga mengaku jarang berolahraga dan suka makanan
berlemak. Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak umur 15
tahun dan sudah berhenti sejak 1 tahun.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit
sedang, komposmetis, TD : 160/100mmhg, nadi 90, nafas 35x/i
suhu

36,50C,

3,89ml/menit/1,73m2,

BB

65kg
Pada

dan

TB

pemeriksaan

165cm,
fisik

LFG:

didapatkan

konjuntiva anemis, sklera ikterik tidak ada, edema palpebra tidak

Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

ada dan tidak terjadi peningkatan JVP. Pada pemeriksaan jantung


dan paru dalam batas normal. Pada pemeriksaan abdomen di
dapatkan ascites. Pada pemeriksaaan ekstremitas didapatkan
capillary time 3 detik, akral hangat edema kedua tungkai. Pada
pemeriksaan penunjang didapatkan leukosit 10.500, eritrosit
2,37x106,

HB : 6,4g/dl, HCT 19,2%, PLT 203000, glukosa 65,

ureum 321,8, kreatinin : 19,7mg/dl, HST 8,3 ALT : 17.


Pasien pada saat ini diberikan terapi non farmakologi dan
farmakologi. Terapi non farmakologi diberikan edukasi untuk
menghentikan merokok, menurunkan berat badan berlebih,
latihan fisik, menurunkan asupan garam dan meningkatkan
konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak,
pembatasan
0,8/kg/BB/hari

asupan
dan

protein,
jumlah

protein
kalori

diberikan

0,6

30-35kkal/kg/bb/hari,

pembatasan cairan dan elektrolit, dimana air yang masuk


dianjurkan 500-800 ml ditambah jumlah urin serta pembatasan
elektrolit yaitu kalium dan natrium. Terapi farmakologi yang
diberikan terutama golongan penghambat enzim converting (ACE
inhibitor) berupa captopril 25mg 2x1, amlodipin 10mg 1x1,
furosemid ,transfuilsi PRC 5 labu dan rencana hemodialisa.

Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan pasien masuk ke
rumah sakit dengan keluhan sesak nafas. Sesak nafas yang
dirasakan terus menerus, tidak berkurang dengan posisi apapun..
Pasien telah didiagnosa gagal ginjal kronis oleh dokter dan terapi
satu

satunya

untuk

hemodialisa.
hemodialisa

Pasien
2x

menyelamatkan
telah

dalam

pasien

direncanakan

seminggu.

ini

untuk

Hemodialisa

adalah

dilakukan
merupakan

prosedur untuk membuang racun atau sisa metabolisme dari


dalam darah dengan mengalirkan darah ke suatu tabung ginjal
buatan (dialiser) yang terdiri dari 2 kompartemen yang terpisah.
Darah pasien dipompa dan dialirkan ke kompartemen darah yang
dibatasi

oleh

selaput

semi

permiabel

buatan

dengan

kompartemen dialisat. Keputusan untuk indikasi hemodialisis


terutama berdasarkan parameter laboratorium yaitu LFG antara
5-8ml/menit/1,73m2.
pemeriksaan

LFG

Namun
saja

untuk

tidak

hanya

menentukan

berdasarkan

pasien

bisa

di

hemodilaisa atau tidak. Ada beberapa hal yang di anggap perlu


untuk di pertimbangkan dalam melakukan hemodilaisa, yaitu:

Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata

Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

K serum > 6 meq/l


Ureum darah >200mg/dl
Ph darah < 7,1
Anuria berkepanjangan > 5 hari.
Fluid overloaded
Pada pasien ini didapatkan LFG 3,89ml/menit/1,73m 2.

Dengan keadaan umum yang sangat buruk, yaitu sesak nafas


yang tidak berkurang walaupun sudah diberikan oksigen, pasien
masih terasa sesak. Pasien juga mengeluh kencing BAK sedikit,
mual muntah 3 kali/hari dan terdapat ascites serta pitting edema
pada kedua kaki pasien dan pada pasien ini didapatkan kadar
ureum: 321,8, kreatinin : 19,7mg/dl. Dengan manifestasi seperti
ini pasien harus dilakukan hemodialisa untuk meningkatkan
kualitas

hidupnya.

Hemodialisa

bertujuan

sebagai

terapi

pengganti untuk pasien yng sudah mencapai gagal ginjal


terminal. Adapun prinsip dari hemodialisa ialah menggantikan
fungsi ginjal dalam mensekresikan akumulasi toksin uremia di
darah yang dapat membahayakan kehidupan pasien.
Hemodialis dilakukan dengan mengalirkan darah ke dalam
suatu tabung ginjal buatan (dialiser) yang terdiri dari dua
kompartemen yang terpisah. Darah pasien dipompa dan dialirkan
ke kompartemen darah yang dibatasi oleh selaput semipermiabel
buatan (artifisial) dengan kompartemen dialisat. Kompartemen
dialisat dialiri cairan dialisis yang bebas pirogen, berisi larutan
dengan komposisi elektrolit mirip serum normal dan tidak
mengandung sisa metabolisme nitrogen.
Laporan Kasus

[FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS


RIAU]

Cairan dialisis dan darah yang terpisah akan mengalami


perubahan

konsentrasi

karena

zat

terlarut

berpindah

dari

konsentrasi yang tinggi ke arah konsentrasi yang rendah sampai


konsentrasi zat terlarut sama di kedua kompartemen (difusi).
Pada proses dialisis, air juga dapat berpindah dari kompartemen
darah ke kompartemen cairan dialisat dengan cara menaikkan
tekanan hidrostatik negatif pada kompartemen cairan dialisat
(ultrafiltrasi).
Menurut

konsensus

Perhimpunan

Nefrologi

Indonesia

(PERNEFRI) (2003) secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi


Glomerulus (LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang dari 10
mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG kurang dari 5
mL/menit walaupun tanpa gejala dapat menjalani dialisis. Selain
indikasi tersebut juga disebutkan adanya indikasi khusus yaitu
apabila

terdapat

hiperkalemia,

komplikasi

asidosis

akut

metabolik

seperti

berulang,

oedem
dan

paru,

nefropatik

diabetik.
Hemodialis di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dan
sampai sekarang banyak dilaksanakan di rumah sakit rujukan.
Umumnya digunakan ginjal buatan yang kompartemen darahnya
adalah kapiler selaput (semipermeabel hollow fibre kidney).
Kualitas hidup yang diperoleh cukup baik dan panjang umur yang
tertinggi sekarang 14 tahun. Kendala yang ada adalah biaya
yang mahal.

Laporan Kasus

10