Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam mencapai tujuan nasional Bangsa Indonesia sesuai Pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu melindungi
segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan keadilan sosial, maka pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar
peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi - tingginya dapat
terwujud.
Pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan masih menghadapi
berbagai masalah yang belum sepenuhnya dapat diatasi sehingga diperlukan
pemantapan dan percepatan melalui SKN sebagai pengelolaan kesehatan yang
disertai berbagai terobosan penting, antara lain program pengembangan Desa
Siaga, Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas), Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K),
upaya pelayanan kesehatan tradisional, alternatif dan komplementer sebagai
terobosan pemantapan dan percepatan peningkatan pemeliharaan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, Jaminan Kesehatan Semesta, dan
program lainnya.
Pembangunan di Bidang Kesehatan merupakan salah satu prioritas utama
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang. Semakin kompleksnya permasalahan kesehatan seiring dengan
perkembangan globalisasi yang berpengaruh pada semua sektor menjadikan
tantangan

pembangunan

kesehatan

semakinmeningkat.

Untuk

itu

guna

mendukung program-program pembangunan kesehatan tersebut diperlukan


sumberdaya dan sumberdana yang memadai agar permasalahan-permasalahan
kesehatan dapat ditangani.

SISTEM KESEHATAN

BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Kesehatan
Sistem adalah suatu keterkaitan diantara elemen-elemen pembentuknya
dalam pola tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Prinsip dasar suatu sistem,
yakni: Elemen, komponen atau bagian pembentuk system dan interkoneksi, yaitu
saling keterkaitan antar komponen dalam pola tertentu. Keberadaan sekumpulan
elemen, komponen, bagian, orang atau organisasi sekalipun, jika tidak mempunyai
saling keterkaitan dalam tata-hubungan tertentu untuk mencapi tujuan maka
belum memenuhi kriteria sebagai anggota suatu sistem.
Sistem Kesehatan adalah suatu jaringan penyedia pelayanan kesehatan (supply
side) dan orang-orang yang menggunakan pelayanan tersebut (demand side) di setiap
wilayah, serta negara dan organisasi yang melahirkan sumber daya tersebut, dalam
bentuk manusia maupun dalam bentuk material. Dalam definisi yang lebih luas lagi,
sistem kesehatan mencakup sektor-sektor lain seperti pertanian dan lainnya. (WHO;
1996). WHO mendefinisikan sistem kesehatan sebagai berikut:
Sistem kesehatan tidak terbatas pada seperangkat institusi yang mengatur,
membiayai, atau memberikan pelayanan, namun juga termasuk kelompok aneka
organisasi yang memberikan input pada pelayanan kesehatan, utamanya sumberdaya
manusia, sumber daya fisik (fasilitas dan alat), serta pengetahuan/teknologi (WHO
SEARO, 2000). Organisasi ini termasuk universitas dan lembaga pendidikan lain,
pusat penelitian, perusahaan kontruksi, serta serangkaian organisasi yang
memproduksi teknologi spesifik seperti produk farmasi, alat dan suku cadang.
WHO mendefinisikan sistem kesehatan sebagai seluruh kegiatan yang mana
mempunyai maksud utama untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan.
Mengingat maksud tersebut di atas, maka termasuk dalam hal ini tidak saja pelayanan
kesehatan formal, tapi juga tidak formal, seperti halnya pengobat tradisional. Selain
aktivitas kesehatan masyarakat radisional seperti promosi kesehatan dan pencegahan
penyakit, peningkatan keamanan lingkungan dan jalan raya, pendidikan yang
berhubungan dengan kesehatan merupakan bagian dari sistem.
SISTEM KESEHATAN

Sistem kesehatan paling tidak mempunyai 4 fungsi pokok yaitu: Pelayanan


kesehatan,

pembiayaan

kesehatan,

penyediaan

sumberdaya

dan

stewardship/regulator. Fungsi- fungsi tersebut akan direpresentasikan dalam bentuk


sub-subsistem dalam sistem kesehatan, dikembangkan sesuai kebutuhan. Masingmasing fungsi/subsistem akan dibahas tersendiri. Di bawah ini digambarkan
bagaimana keterkaitan antara fungsi-fungsi tersebut dan juga keterkaitannya dengan
tujuan utama Sistem Kesehatan.
Dalam batas-batas yang telah disepakati, tujuan sistem kesehatan adalah:
1. Meningkatkan status kesehatan masyarakat. Indikatornya banyak, antara lain
Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, Angka kejadian penyakit dan
berbagai indikator lainnya.
2 Meningkatkan responsiveness terhadap harapan masyarakat. Dalam hal ini
masyarakat puas terhadap pelayanan kesehatan.
3. Menjamin keadilan dalam kontribusi pembiayaan. Sistem kesehatan diharapkan
memberikan proteksi dalam bentuk jaminan pembiayaan kesehatan bagi yang
membutuhkan.

2.2 Sistem Kesehatan Nasional (SKN)


A. Definisi
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah pengelolaan kesehatan yang
diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan
saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi- tingginya (Peraturan Presiden Republik IndonesiaNomor 72 Tahun 2012
tentangSistem Kesehatan Nasional).
B. Tujuan
Tujuan Sistem Kesehatan Nasional adalah terselenggaranya pembangunan
kesehatan oleh semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta, maupun
pemerintah secara sinergis, berhasil guna dan berdaya guna, hingga terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Sistem Kesehatan Nasional akan berfungsi baik untuk mencapai tujuannya

SISTEM KESEHATAN

apabila terjadi Koordinasi, Integrasi, Sinkronisasi, dan Sinergisme (KISS), baik


antar pelaku maupun antar subsistem SKN. Dengan tatanan ini, maka sistem atau
seluruh sektor terkait, seperti pembangunan prasarana, keuangan dan pendidikan
perlu berperan bersama dengan sektor kesehatan untuk mencapai tujuan nasional.
C. Landasan SKN :
Landasan idil, yaitu Pancasila.
Landasan Konstitusional, yaitu UUD 1945, khususnya Pasal : 28A, setiap
orang

berhak

untuk

hidup

serta

berhak

mempertahankan

hidup

dan

kehidupannya ; Pasal 28B ayat (2), setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi ; Pasal 28C ayat (1), setiap orang berhak mengembangkan diri
melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan
memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi
meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia ; Pasal 28H
ayat (1), setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal,
dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan ; Pasal 28H ayat (3), setiap orang berhak atas jaminan sosial
yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang
bermartabat ; Pasal 34 ayat (2), negara mengembangkan sistem jaminan social
bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak
mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan Pasal 34 ayat (3), Negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak.
Landasan Operasional, meliputi Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang
berkaitan dengan penyelenggaraan SKN dan pembangunan kesehatan.
D. Subsistem SKN 2012:
Pendekatan pengelolaan kesehatan dewasa ini dan kecenderungannya di
masadepanadalahkombinasidaripendekatansistem,kontingensi,dansinergi
yang dinamis. Mengacu pada perkembangan komponen pengelolaan kesehatan
SISTEM KESEHATAN

dewasa ini serta pendekatan pengelolaan kesehatan tersebut di atas, maka


subsistemSKNdikelompokkansebagaiberikut:
a. Subsistemupayakesehatan:
Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi
tingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan
menghimpun seluruh potensi bangsa Indonesia sebagai ketahanan
nasional.
UpayakesehatandiselenggarakanolehPemerintah(termasukTNIdan
POLRI), pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, dan/atau
masyarakat/swasta melalui upaya peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, pengobatan, dan pemulihan kesehatan, difasilitas pelayanan
kesehatandanfasilitaskesehatan.
b. Subsistempenelitiandanpengembangankesehatan:
Untuk mendapatkan dan mengisi kekosongan data kesehatan dasar
dan/atau data kesehatan yang berbasis bukti perlu diselenggarakan
kegiatanpenelitiandanpengembangankesehatandenganmenghimpun
seluruhpotensidansumberdayayangdimilikioleh bangsaIndonesia.
Pengelolaan penelitian dan pengembangan kesehatan terbagi atas
penelitian dan pengembangan biomedis dan teknologi dasarkesehatan,
teknologiterapankesehatandanepidemiologiklinik,teknologiintervensi
kesehatan masyarakat, dan humaniora, kebijakan kesehatan, dan
pemberdayaan masyarakat. Penelitian dan pengembangan kesehatan
dikoordinasikanpenyelenggaraannyaolehPemerintah
c. Subsistempembiayaankesehatan;
Pembiayaan kesehatan bersumber dari berbagai sumber, yakni:
Pemerintah, Pemerintah Daerah, swasta, organisasi masyarakat, dan
masyarakatitusendiri.Pembiayaankesehatanyangadekuat,terintegrasi,
stabil, dan berkesinambungan memegang peran yang vital untuk
penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai tujuan
SISTEM KESEHATAN

pembangunankesehatan.
Pembiayaanpelayanankesehatanmasyarakatmerupakanbarangpublik
(public good)yang menjadi tanggung jawab pemerintah, sedangkan
untuk pelayanan kesehatan perorangan pembiayaannya bersifat privat,
kecualipembiayaanuntukmasyarakatmiskindantidakmampumenjadi
tanggungjawabpemerintah.
Pembiayaanpelayanankesehatanperorangandiselenggarakanmelalui
jaminanpemeliharaankesehatandenganmekanismeasuransisocialyang
pada waktunya diharapkan akan mencapaiuniversal health
coveragesesuaidenganUndangUndangNomor40Tahun2004tentang
SistemJaminanSosialNasional(SJSN)danUndangUndangNomor24
Tahun2011tentangBadanPenyelenggaraJaminanSosial.
d. Subsistemsumberdayamanusiakesehatan;
Sebagai pelaksana upaya kesehatan, diperlukan sumber daya manusia
kesehatan yang mencukupi dalam jumlah, jenis, dan kualitasnya, serta
terdistribusi secara adil dan merata, sesuai tuntutan kebutuhan
pembangunankesehatan.
Sumber daya manusia kesehatan yang termasuk kelompok tenaga
kesehatan,sesuaidengankeahliandankualifikasiyangdimilikiterdiridari
tenaga medis, tenaga kefarmasian, tenaga keperawatan dan kebidanan,
tenagakesehatanmasyarakat,tenagakesehatanlingkungan,tenagagizi,
tenagaketerapianfisik,tenagaketeknisianmedis,dantenagakesehatan
lainnya,diantaranyatermasukpenelitikesehatan.
SKNmemberikanfokuspentingpadapengembangandanPemberdayaan
sumber daya manusia kesehatan guna menjamin ketersediaan,
pendistribusian,danpeningkatankualitassumberdayamanusiakesehatan.
Pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan
meliputiperencanaankebutuhandanprogramsumberdayamanusiayang
diperlukan, pengadaan yang meliputi pendidikan tenaga kesehatan dan
pelatihansumberdayamanusiakesehatan,pendayagunaansumberdaya
SISTEM KESEHATAN

manusia kesehatan, termasuk peningkatan kesejahteraannya, dan


pembinaansertapengawasanmutusumberdayamanusiakesehatan.

e. Subsistemsediaanfarmasi,alatkesehatan,danmakanan;
Subsistem ini meliputi berbagai kegiatan untuk menjamin: aspek
keamanan,khasiat/kemanfaatandanmutusediaanfarmasi,alatkesehatan,
danmakananyangberedar;ketersediaan,pemerataan,danketerjangkauan
obat, terutama obat esensial; perlindungan masyarakat dari penggunaan
yangsalahdanpenyalahgunaanobat;penggunaanobatyangrasional;serta
upaya kemandirian di bidang kefarmasian melalui pemanfaatan sumber
dayadalamnegeri.
f. Subsistemmanajemen,informasi,danregulasikesehatan;
Subsistem ini meliputi kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan,
hukum kesehatan, dan informasi kesehatan. Untuk menggerakkan
pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna,
diperlukanmanajemenkesehatan.Perananmanajemenkesehatanadalah
koordinasi, integrasi, regulasi, sinkronisasi, dan harmonisasi berbagai
subsistem SKN agar efektif, efisien, dan transparansi dalam
penyelenggaraanSKNtersebut.
Dalamkaitaniniperananinformasikesehatansangatpenting.Darisegi
pengadaan data, informasi, dan teknologi komunikasi untuk
penyelenggaraanupayakesehatan,pengembangansumberdayamanusia,
dan kegiatan lainnya, yang kegiatannya dapat dikelompokkan, antara
lain:

pengelolaansisteminformasi;

pelaksanaansisteminformasi;

dukungansumberdaya;dan

pengembangandanpeningkatansisteminformasikesehatan

SISTEM KESEHATAN

g. Subsistempemberdayaanmasyarakat
SKN akan berfungsi optimal apabila ditunjang oleh pemberdayaan
perorangan, keluarga dan masyarakat. Masyarakat termasuk swasta
bukansematamatasebagaisasaranpembangunankesehatan,melainkan
juga sebagai subjek atau penyelenggara dan pelaku pembangunan
kesehatan. Oleh karenanya pemberdayaan masyarakat menjadi sangat
penting, agar masyarakat termasuk swasta dapat mampu dan mau
berperansebagaipelakupembangunankesehatan.
Dalampemberdayaanperorangan,keluargadanmasyarakatmeliputipula
upayapeningkatanlingkungansehatolehmasyarakatsendiridanupaya
peningkatankepeduliansosialdanlingkungansekitar.
Upayapemberdayaanperorangan,keluargadanmasyarakatakanberhasil
padahakekatnyaapabilakebutuhandasarmasyarakatsudahterpenuhi.
Pemberdayaan masyarakat dan upaya kesehatan pada hakekatnya
merupakanfokusdaripembangunankesehatan
2.3 Sistem Kesehatan Daerah ( SKD )
A. Definisi
Sistem Kesehatan Nasional (SKD) adalah tatanan penyelenggaraan
pembangunan kesehatan di suatu daerah yang terdiri dari komponen upaya
kesehatan, pembiayaan kesehatan, Sumber Daya Manusia kesehatan, obat dan
perbekalan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan manajemen kesehatan
(perda No.9 SKD , hal 1).
B. Tujuan
Terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi, baik
masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil guna, sehingga
tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
C. Ladasan SKD:
SKD merupakan bagian dari pembangunan nasional, dengan demikian
landasan SKD adalah sama dengan landasan pembangunan nasional. Secara lebih
SISTEM KESEHATAN

spesifik, landasan tersebut adalah sebagai berikut :


1. Landasan idiil yaitu pancasila
2. Landasan konstitusional yaitu UUD 1945
a. Pasal 28 A : setiap orang berhak untuk hidup serta berhak
mempertahankan hidup dan kehidupannya
b. Pasal 28 B ayat (2) : setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh dan berkembang
c. Pasal 28 C ayat (1) : setiap orang berhak mengembangkan diri
melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat
pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan
teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya
dan demi kesejahteraan umat manusia.
d. Pasal 28 H ayat (1) : setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan
batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang
baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan
ayat (3) : setiap orang berhak atas jaminan sosial yang
memungkinkan pengembangan

dirinya secara utuh sebagai

manusia yang bermartabat


e. Pasal 34 ayat (2) : negara mengembangkan sistem jaminan sosial
bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah
dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan dan ayat (3)
: negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan
kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak
3. Landasan operasioanal :
a. Undang undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
b. Undang undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN)
c. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2005 tentang Praktik Kedokteran
Dokter dan Dokter Gigi
d. Peraturan Daerah Nomor 37 Tahun 2000 tentang Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Timur
e. Peraturan Daerah nomor 23 Tahun 2002 tentang Rumah sakit

SISTEM KESEHATAN

Propinsi
f. Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pelayanan Publik

BAB III
PEMBAHASAN

Skenario
Undang-undang RI No.36 th 2009 tentang Kesehatan pada BAB II Pasal 2
menetapkan bahwa pembangunan kesehatan diselenggaarakan berasaskan
perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, perlindungan, penghormatan terhadap
hak dan kewajiban, keadilan gender dan nondiskriminatif dan norma-norma
agama
Tujuan diatas seharusnya telah tertuang dalam SISTEM KESEHATAN
NASIONAL yang telah ada sejak tahun 1982. Lingkungan strategis yang selalu
berubah baik global maupun regional, menyebabkan SKN juga mengalami
perubahan (tahun 2004, 2009, 2012)
Otonomi daerah yang berkembang secara dinamis juga memerlukan
pengembangan Sistem Kesehatan Daerah (SKD) tetapi tetap merupakan bagian
internal dari SKN.
SKD seharusnya menguraikan secara spesifik permasalahn kesehatan di
daerah, misalnya masalah gizi kurang, AKB, dan AKI, UHHo, pembiayaan
kesehatan,

SDM

kesehatan,

dll

yang

kemudian

dituangkan

strategis

penanganannya dalam SKD.

3.1 Terminologi
1. SKN (Sistem Kesehatan Nasional)
Pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh semua komponen
bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin
tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya (Peraturan
Presiden Republik IndonesiaNomor 72 Tahun 2012 tentangSistem Kesehatan
SISTEM KESEHATAN

1
0

Nasional).
2. SKD (Sistem Kesehatan Daerah)
Tatanan penyelenggaraan pembangunan kesehatan di suatu daerah yang
terdiri dari komponen upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, Sumber Daya
Manusia kesehatan, obat dan perbekalan kesehatan, pemberdayaan masyarakat
dan manajemen kesehatan (perda No.9 SKD , hal 1).

3.2 Permasalahan
1. Jelaskan tentang SKN, SKD dan lingkungan strategis yang berpengaruh
Sistem Kesehatan Nasional (SKN)
-

Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah pengelolaan kesehatan yang


diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu
dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi- tingginya (Peraturan Presiden Republik

SKN adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa


Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan
umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945 (Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 131/Menkes/Sk/II/2004
tentang Sistem Kesehatan Nasional).

Sistem Kesehatan Daerah (SKD)


-

Sistem kesehatan daerah adalah tatanan penyelenggaraan pembangunan


kesehatan di suatu daerah yang terdiri dari komponen upaya kesehatan,
pembiayaan kesehatan, Sumber Daya Manusia kesehatan, obat dan
perbekalan

kesehatan,

pemberdayaan

masyarakat

dan

manajemen

kesehatan (perda No.9 SKD , hal 1).


Lingkungan strategis yang berpengaruh
Faktor lingkungan strategis dapat dibedakan atas tatanan global, regional,
nasional, dan lokal, serta dapat dijadikan peluang atau kendala bagi sistem
SISTEM KESEHATAN

1
1

kesehatan di Indonesia.
-

Tingkat Global dan Regional


Globalisasi merupakan suatu perubahan interaksi manusia secara luas,
yang mencakup ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, dan
lingkungan. Proses ini dipicu dan dipercepat dengan berkembangnya
teknologi, informasi, dan transportasi yang mempunyai konsekuensi pada
fungsi suatu negara dalam sistem pengelolaannya.
Era globalisasi dapat menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan
kesehatan, yang sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan persiapan
dan langkah-langkah yang menjadikan peluang dan mengurangi dampak
yang merugikan, sehingga mengharuskan adanya suatu sistem kesehatan
yang responsif.

Tingkat Nasional dan Lokal


Pada tingkat nasional terjadi proses politik, seperti desentralisasi,
demokratisasi, dan politik kesehatan yang berdampak pada pembangunan
kesehatan, sebagai contoh: banyaknya peserta pemilihan kepala daerah
(Pilkada) yang menggunakan isu kesehatan sebagai janji politik.
Proses desentralisasi yang semula diharapkan mampu memberdayakan
daerah dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, namun dalam
kenyataannya belum sepenuhnya berjalan dan bahkan memunculkan
euforia di daerah yang mengakibatkan pembangunan kesehatan terkendala.
Secara geografis, sebagian besar wilayah Indonesia rawan bencana, di sisi
lain situasi sosial politik yang berkembang sering menimbulkan konflik
sosial yang pada akhirnya memunculkan berbagai masalah kesehatan,
termasuk akibat pembangunan yang tidak berwawasan kesehatan yang
memerlukan

upaya

pemecahan

melalui

berbagai

terobosan

dan

pendekatan.
Perangkat regulasi dan hukum yang terkait dengan kesehatan masih belum
memadai, sementara itu kemampuan pimpinan tenaga kesehatan dan
profesi dalam pemahaman etikolegal dan pembuatan regulasi kesehatan
spesifik serta kesadaran hukum masyarakat masih rendah, dan masih
lemahnya penegakan hukum menyebabkan berbagai hambatan dalam
SISTEM KESEHATAN

1
2

penyelenggaraan pembangunan kesehatan.


Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai terobosan/pendekatan terutama
pemberdayaan

masyarakat

dalam

pembangunan

kesehatan

yang

memberikan penguatan kapasitas dan surveilans berbasis masyarakat,


diantaranya melalui pengembangan Desa Siaga. Di bidang lingkungan,
mekanisme mitigasi serta adaptasi dan pengenalan resiko akan perubahan
iklim menuntut kegiatan kerja sama antara pihak lingkungan dengan pihak
kesehatan dan seluruh sektor terkait.
2. Jelaskan hubungan SKN dan SKD dengan penyelenggaraan upaya pelayanan
kesehatan di puskesmas serta pencapaian target standar pelayanan minimum
(SPM).
SKN/SKD merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat ke derajat yang setinggi-tingginya. Untuk itu SKN/SKD
mengamanatkan untuk ditetapkan standar pelayanan minimum kepada daerah
yang dalam hal inis adalah puskesmas.
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota
yang bertanggung jawab menyelenggarakan pengembangan kesehatan di suatu
wilayah kerja (Departemen Kesehatan RI, 2004)
Profil kesehatan masyarakat dapat di liat dari data hasil pencapaian
puskesmas tahun 2010 yang terdiri dari upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan
upaya kesehatan perseporangan (UKP). Upaya Kesehatan Wajib yang dilakukan
oleh Puskesmas sesuai dengan Permenkes 128 tahun 2004 adalah :

Upaya Kesehatan Ibu dan Anak

Upaya Kesehatan Perbaikan Gizi Masyarakat

Upaya Kesehatan Lingkungan

Upaya Promosi Kesehatan

Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

Upaya Kesehatan Pengobatan


Sedang Upaya Kesehatan Pengembangan yang telah ditetapkan oleh Dinas

Kesehatan Kota Mataram yaitu :


SISTEM KESEHATAN

1
3

Upaya kesehatan Lansia

Pelayanan Rawat Inap

Pelayanan PONED (kegawatdaruratan ibu dan bayi)


3. Hubungan SKN/SKD dengan pembiayaan pelayanan kesehatan, khususnya
bagi kelompok miskin.
Subsistem pembiayaan kesehatan adalah tatanan yang menghimpun
berbagai upaya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan sumber daya
keuangan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Salah satu sumber pembiayaan yakni
BPJS.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS merupakan lembaga yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia menurut
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 24 Tahun
2011. Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011, BPJS akan
menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di Indonesia yaitu
lembaga

asuransi

Kesehatan dan

jaminan

lembaga

kesehatan PT.
jaminan

sosial

Askes

Indonesia menjadi BPJS

ketenaga

kerjaan PT.

PT.

Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan.


Setiap warga negara Indonesia dan warga asing yang sudah berdiam di
Indonesia selama minimal enam bulan wajib menjadi anggota BPJS. Ini sesuai
pasal 14 UU BPJS. Setiap perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya sebagai
anggota BPJS. Sedangkan orang atau keluarga yang tidak bekerja pada
perusahaan wajib mendaftarkan diri dan anggota keluarganya pada BPJS. Setiap
peserta BPJS akan ditarik iuran yang besarnya ditentukan kemudian. Sedangkan
bagi warga miskin, iuran BPJS ditanggung pemerintah melalui program Bantuan
Iuran. Menjadi peserta BPJS tidak hanya wajib bagi pekerja di sektor formal,
namun juga pekerja informal. Pekerja informal juga wajib menjadi anggota BPJS
Kesehatan. Para pekerja wajib mendaftarkan dirinya dan membayar iuran sesuai
dengan tingkatan manfaat yang diinginkan.

SISTEM KESEHATAN

1
4

Di tahap awal program BPJS kesehatan, pemerintah akan menggelontorkan


dana Rp 15,9 triliun dari APBN untuk menyubsidi asuransi kesehatan 86 juta
warga miskin. Pada September 2012, pemerintah menyebutkan besaran iuran
BPJS Kesehatan sebesar Rp22 ribu per orang per bulan. Setiap peserta BPJS nanti
harus membayar iuran tersebut, kecuali warga miskin yang akan ditanggung oleh
pemerintah. Namun pada Maret 2013, Kementerian Keuangan dikabarkan
memotong

besaran

iuran

BPJS

menjadi

Rp15,500,

dengan

alasan

mempertimbangkan kondisi fiskal negara.

BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
System kesehatan nasional adalah bentuk dan cara penyeenggaraan
pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya bangsa Indonesia
dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan
kesehatan dalam rangka mwujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud
dalam UUD tahun 1945. Sedangkan Sistem kesehatan daerah yakni suatu tatanan
yang menghimpun berbagai upaya pemerintah masyarakat dan swasta
yangterpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. SKN merupakan suprasistem dari SKD yang
mana SKD ini digunakan sebagai dasar dan acuan dalam penyusunan dalam
kebijakan, pedoman dan arahan penyelenggaraan pembangunan kesehatan serta
pembangunan berwawasan kesehatan.

SISTEM KESEHATAN

1
5

DAFTAR PUSTAKA
BKKBN, 1997.

Panduan Pembangunan Keluarga Sejahtera Dalam Rangka

Penanggulangan

Kemiskinan.

Kantor

Menteri

Negara

Kependudukan/BKKBN. Jakarta.
WHO, 2006.

Schistosomiasis and soil transmitted helminth infections-

preliminary estimates of the number of children treated with albendazol or


mebendazole. http://www.who.int/weekly epidemiological record.
Soekidjo Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Wijono, D. 1999. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Vol.1. Surabaya : Air
Langga University Press

SISTEM KESEHATAN

1
6