Anda di halaman 1dari 16

1

LAPORAN PRAKTIKUM
PESTISIDA DAN APLIKASINYA

OLEH :

GIYANTO
05071181320017

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2015
Universitas Sriwijaya

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dalam membangun usaha terutama dalam bidang pertanian kita di tuntut juga

harus paham terhadap apa saja yang di kemudian hari akan menjadi kendala di dalam
pengelolaannya. Karena ketika berkecimpung di dunia pertanian maka kita harus
paham bagaimana juga dalam mengatasi permasalahan yang ada dan seriing kita
temukan yang pada dasarnya permasalahan dalam bidang pertanian ini bukanlah hal
yang menjadi rahasia umum namun setiap para petani sudah tau apa saja yang
menjadi kendalanya, baiklah kita akan gambarkan secara umum permasalahn yang
ada terkait pengelolaan dalam bidang pertanian yaitu hama dan penyakit tumbuhan
serta gulma. Dalam melakukan pengelolaan dapat dilakukan secara kimia, fisika dan
kimia. Namun tidak semua hama yang menyerang tanaman dapat di lakukan dengan
melakukannya atas membasminya secara fisik, atau bilogis, namun juga terkadang
kita butuh yang namanya secara kimia.
Masyarakat dewasa ini tidak sedikit yang menggunakan yang namanya
pestisida berbahan kimia, yang pada umumnya banyak sekali infek yang terjadi jika
kita menggunakannya secara berlebihan, maka harapannya adalah bagaimana kita
dapat menciptakan bahan pestisida nabati yang pada esensinya sama dengan bahan
kimia nammun efek bagi kesehatan dan pada tanamannya tidak berdampak seperti
halnya menggunakan bahan kimia yang berlebihan.
Kita paham mengapa petani dewasa ini banyak yang menggunakan pestisida
kimiawi yang berlebihan serta berkelanjutan tanpa mempertimbangkan efek dari yang
ia lakukan, kita juga tidak bisa menyalahkan apa yang mereka lakukan namun yang
menjadi tugas dan peran kita adalah bagaimana cara kita untuk mencerdaskan
masyarakat agar kiranya mampu menggunakan bahan pestisida nabati yang
sebenarnya baik dan juga mampu membasmi hama dan penyakit tanaman secara
sistematis.
Maka besar harapan kita untuk Indonesia ini sekiranya menjadi sarjana
pertanian yang mampu menaungi dan membimbing para petani-petani kita yang
Universitas Sriwijaya

sebagian besar latar belakang pengetahuannya yang tidak sebesar apa yang di
harapkan. Maka kitalah sebagai generasi penerus bangsa ini yang akan
memperbaikinya jika mereka sudah paham dan mematuhi bagaimana cara
menggunakan produk pestisida nabati ini maka besar keuntungan yang akan kita raih
untuk Indonesia. Disamping dapat meningkatkan hasil produk pertanian, pestisida
mempunyai dampak negatif seperti berkurangnya keanekaragaman hayati, pestisida
berspektrum luas dapat membunuh hama sasaran, parasitoid, predator, hiperparasit
serta makhluk bukan sasaran seperti lebah, serangga penyerbuk, cacing dan serangga
bangkai.
Sebagian besar para petani Indonesia menggunakan bahas pestisida tanpa
menghiraukan anjuran pemakaian yang sudah tertera pada aturannya, inilah yang
akan berbahaya sebenarnya jika ini di lakukan secara terus menerus. Seperti banyak
yang di lakukan di era sekarang ini.
Pestisida dalam bentuk teknis sebelum digunakan perlu diformulasikan dahulu.
Formulasi pestisida merupakan pengolahan yang ditujukan untuk meningkatkan sifatsifat yang berhubungan dengan, keamanan, penyimpanan, penanganan, penggunaan,
dan keefektifan pestisida. Pada dasarnya setiap bahan kpestisida yang di jual di
pasaran sudah jelas cara penggunaannya namun tinggal masyarakatnnya mau atau
tidak dalam menggunakannya dengan baik. penggunaannya pemakai tinggal
mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan secara manual. Penggunaan di luar batas
yang di anjurkan maka akan besar dampak baik bagi kesehatan pada tubuh manusia.

1.2

Tujuan
Adapun tujuan yang di lakukan kali ini adalah bertujuan untuk mengtahui

formulasi pada bahan pestisida.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Universitas Sriwijaya

2.1

Kerugian yang Ditimbulkan OPT


Jika kita bicara mengenai budidaya dalam bidang pertanian maka tidak akan

pernah terlepas dari yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT),.


Dibutuhkan pengendalian penyakit agar tidak menimbulkan kerugian bagi para
pelaku usaha tani. Penyakit tumbuhan merupakan salah satu penyebab utama
kerugian tersebut, diantaranya disebabkan oleh nematoda, bakteri, virus, dan lain
lain. Selain itu penyakit, juga dapat disebabkan oleh hama (Herlinda dan Chandra,
2011).
Setiap gangguan yang menyerang tanaman baik yang disebabkan oleh hama,
gulma ataupun penyakit tanaman (patogen) harus dikendalikan karena apabila tidak,
akan sangat merugikan secara ekonomi terhadap kehidupan kita, terutama bagi petani
karena dapat menurunkan produktivitas suatu tanaman, baik secara kuantitas maupun
kualitas.
Penyakit tanaman menjadi kendala utama dalam upaya peningkatan produksi
pertanian karena dapat merusak tanaman mulai dari masa penanaman, panen hingga
masa penyimpanan produksi (Karyadi, 2008).
Di Indonesia penyakit tanaman merupakan musuh bagi petani, karena dapat
merugikan secara ekonomi dan lingkungan. Produksi tanaman menurun akibat
serangan penyakit dan rusak atau layu permanen, sehingga tanaman tersebut mati dan
tidak dapat berproduksi kembali. Penyakit dalam tanaman dapat disebabkan oleh
beberapa masalah. Terdapat dua faktor yang bisa menimbulkan penyakit. Faktor
pertama oleh penyebab abiotik dapat berupa defisiensi hara, kelebihan unsur hara,
keracunan pestisida, keracunan akibat gigitan atau tusukan serangga , polusi udara,
dan lain lain. Faktor kedua di sebabkan oleh penyebab biotik, berupa serangan
patogen yang menyerang tanaman. (Herlinda dan Chandra, 2011).
Usaha dibidang pertanian sejalan dengan bertambahnya waktu muncul
permasalahan yang cukup berarti yaitu serangan organisme pengganggu tanaman
(OPT). Pada awalnya petani telah melakukan upaya pengendalian OPT secara fisik
dan mekanik, namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,

Universitas Sriwijaya

dikembangkanlah

pengendalian

hama

yang

dipandang

lebih

efektif yaitu dengan menggunakan pestisida (Maspary, 2010).


Pestisida banyak
panen dan

proses pertanian, dari pembibitan sampai

juga melindungi tanaman. Pestisida diterapkan untuk

hama, gulma dan


pestisida juga

digunakan dalam

penyakit dan

dapat

juga merangsang pertumbuhan

menyebabkan pencemaran terhadap

mengendalikan
tanaman. Namun,

lingkungan, kerusakan

keseimbangan ekosistem, dan penurunan kualitas hidup manusia. Untuk alasan ini,
pestisida harus digunakan

secara

bijak dan

aman, maka dampak

negatif dapat

diminimalkan (Adriyani, 2006)


Bahan teknis pada umumnya tidak digunakan secara langsung untuk
pengendalian OPT karena relative sulit mengaplikasikanya, cenderung menimbulkan
peracunan dan harganya sangat mahal. Senyawa yang relatif murni ini pada
umumnya tidak dapat melekat dengan baik atau menyebar merata pada permukaan
sasaran, serta dapat menimbulkan kerusakan dalam penyimpanan baik dari segi
keamanan maupun ketahanannya. Untuk membatasi hal-hal seperti disebutkan diatas,
maka pestisida digunakan dalam bentuk campuran atau senyawa pestisida dengan
bahan lain (formulan) yang dikemudian dikenal sebagai formulasi pestisida. Jadi
formulasi pestisida adalah campuran antara bahan aktif, pengotor dan formulan. Pada
umumnya pestisida yang diperdagangkan dan dipergunakan oleh masyarakat pemakai
pestisida adalah dalam bentuk formulasi pestisida yang dapat digunakan secara
langsung atau setelah diencerkan (Zulkarnaen, 2010).

2.2

Formulasi Pestisida
Bahan yang berperan sebagai pembasmi pada hama ataupun penyakit dan

berefek keras bagi kesehatan di sebut juga sebagai bahan aktif.. Dalam pembuatan
pestisida di pabrik, bahan aktif tersebut tidak dibuat secara murni (100%) tetapi
bercampur sedikit dengan bahan-bahan pembawa

lainnya. Produk jadi yang

merupakan campuran fisik antara bahan aktif dan bahan tambahan yang tidak aktif
dinamakan formulasi. Formulasi sangat menentukan bagaimana pestisida dengan
bentuk dan komposisi tertentu harus digunakan, berapa dosis atau takaran yang harus

Universitas Sriwijaya

digunakan, berapa frekuensi dan interval penggunaan, serta terhadap jasad sasaran
apa pestisida dengan formulasi tersebut dapat digunakan
secara efektif (Badan Standarisasi Nasional, 2008).
Formulasi pestisida juga menggambarkan yang harus kita buat agar tidak
berdampak bagi kesehatan, sebagai berikut :
2.2.1 Formulasi Padat
a. Wettable Powder (WP), merupakan sediaan bentuk tepung (ukuran partikel
beberapa mikron) dengan kadar bahan aktif relatif tinggi (50 80%), yang
jika dicampur dengan air akan membentuk suspensi. Pengaplikasian WP
dengan cara disemprotkan.
b. Soluble Powder (SP), merupakan formulasi berbentuk tepung yang jika
dicampur air akan membentuk larutan homogen. Digunakan dengan cara
disemprotkan.
c. Butiran atau Granule (G), umumnya merupakan sediaan siap pakai dengan
konsentrasi bahan aktif rendah (sekitar 2%). Ukuran butiran bervariasi antara
0,7 1 mm. Pestisida butiran umumnya digunakan dengan cara ditaburkan di
lapangan (baik secara manual maupun dengan mesin penabur).
d. Water Dispersible Granule (WG atau WDG), berbentuk butiran tetapi
penggunaannya sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan terlebih
dahulu dengan air dan digunakan dengan cara disemprotkan.
e. Soluble Granule (SG), mirip dengan WDG yang juga harus diencerkan dalam
air dan digunakan dengan cara disemprotkan. Bedanya, jika dicampur dengan
air, SG akan membentuk larutan sempurna.
f. Tepung Hembus, merupakan sediaan siap pakai (tidak perlu dicampur dengan
air) berbentuk tepung (ukuran partikel 10 30 mikron) dengan konsentrasi
bahan aktif rendah (2%) digunakan dengan cara dihembuskan (dusting)
(Djojosumarto, Panut, 2008).
2.2.2

Formulasi Cair

1. Emulsifiable Concentrate atau Emulsible Concentrate (EC)


Merupakan

sediaan

berbentuk

pekatan

(konsentrat)

cair

dengan

kandungan bahan aktif yang cukup tinggi. Oleh karena menggunakan solvent
berbasis minyak, konsentrat ini jika dicampur dengan air akan membentuk
Universitas Sriwijaya

emulsi (butiran benda cair yang melayang dalam media cair lainnya). Bersama
formulasi WP, formulasi EC merupakan formulasi klasik yang paling banyak
digunakan saat ini.
2. Water Soluble Concentrate (WCS)
Merupakan formulasi yang mirip dengan EC, tetapi karena menggunakan
sistem solvent berbasis air maka konsentrat ini jika dicampur air tidak
membentuk emulsi, melainkan akan membentuk larutan homogen. Umumnya
formulasi ini digunakan dengan cara disemprotkan.
3. Aquaeous Solution (AS)
Merupakan pekatan yang bisa dilarutkan dalam air. Pestisida yang
diformulasi dalam bentuk AS umumnya berupa pestisida yang memiliki
kelarutan tinggi dalam air. Pestisida yang diformulasi dalam bentuk ini
digunakan dengan cara disemprotkan.
4. Soluble Liquid (SL)
Merupakan pekatan cair. Jika dicampur air, pekatan cair ini akan
membentuk larutan. Pestisida ini juga digunakan dengan cara disemprotkan.
5. Ultra Low Volume (ULV)
Merupakan sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra
rendah, yaitu volume semprot antara 1 5 liter/hektar. Formulasi ULV
umumnya berbasis minyak karena untuk penyemprotan dengan volume ultra
rendah digunakan butiran semprot yang sangat halus (Djojosumarto, Panut,
2008).

BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1

Waktu dan Tempat

Universitas Sriwijaya

Adapun Praktikum Pengenalan Formulasi Pestisida dilaksanakan pada hari


Selasa, 10 Februari 2015, pukul 15.00 WIB s/d selesai.
Praktikum Pengenalan Formulasi Pestisida dilaksanakan di Laboratorium
Insektarium, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas
Sriwijaya dan dilakukan survey lapangan di Kelurahan Timbangan Lingkungan 2 RT
03 Kec. Indralaya Utara, Kab. Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
3.2

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain: 1) Alat Tulis, 2) Kamera,

3) Kuisioner.
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain: 1) Sampel
pestisida yang didapatkan.
3.3

Parameter
Adapun parameter yang digunakan yaitu sebagai berikut:
1.

Cari minimal 10 pestisida yang digunakan petani (merk dagang, bahan

2.

aktif, dan formulasi).


Spesifikasi sasaran OPT apa yang dituju dari penggunaan pestisida

3.
4.

tersebut?
Bagaimana intensitas penyemprotan dari pestisida tersebut?
Bagaimana gejala penyemprotan atau efek terhadap hama, penyakit, dan

5.
6.

penggunanya?
Apakah dampak kerugian jika OPT tersebut tidak dikendalikan?
Apakah dosis yang digunakan sesuai dengan aturan pada kemasan

pestisida?
7. Bagaimana cara pengaplikasian pestisida tersebut dilakukan oleh petani
(safety)?

Universitas Sriwijaya

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil
Adapun hasil yang didapat setelah penyurveian dilakukan di Kelurahan Griya

berdasarkan parameter yang telah ditentukan yaitu sebagai berikut:


Terdapat beberapa pestisida yang digunakan oleh petani diantaranya;
No

Merk Dagang

Bahan Aktif

Formulasi

OPT sasaran

Ziflo 90 WP

Ziram 90 %

Wettable Powder

Fungisida

Bion M 1/48 WP

Asibensolar-S-meti

Wettable Powder

Fungisida

Wettable Powder

Insektisida

1% dan mankozeb
48%
3

Furadan 3GR

Karbofuran 3 %

Proclaim 5 SG

Emamektin benzoate Soluble Granule

Insektisida

5%
5

Regent 50SC

Fipronil 50 g/l

Emulsifiable

Insektisida

Cocentrate
6

Primaton 400 EC

Nonilfenol

etoxilat Emulsifiable

Insektisida

Universitas Sriwijaya

10

400g/l
4.2

Cocentrate

Pembahasan
Dapat kita lihat bahwa dari beberapa hasil yang telah kita lakukan untuk survey

kepada penduduk yang notabanenya sebagai petani mereka menggunakan bahan


herbisida dan fungisida. Karena mereka keanyakan budidaya hortikultura sehingga
kebanyakan bahan tersebutlah yang di gunakannya.
Berdasarkan petani yang kami survei mereka menggunakanny sesuai dengan
dosis yang di anjurkan, namun juga tidak sedikit para petani yang menggunakannya
tidak sesuai dengan dosis yang seharusnya di gunakan, ada petani yang
menggunakannya dengan jumlah yang banyak dengan harapan dari apa yang di
lakukannya mampu dengan reaksi cepat membasmi Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT). Namun tidak banyak pertimbangannya yang di lakukan ini yang menjadi
tugas besar kita sebagai kaum intelektual (sarjana pertanian)..
Tidak sedikit para pengguna pestisida berbahan aktif kimia ini menjadikan
perut mual, muntah-muntah dan sering menjadi berbagai macam gejala akibat dari
penggunaan yang tidak sesuai dengan aturan pakai, risiko bagi keselamatan pengguna
adalah kontaminasi pestisida secara langsung, yang dapat mengakibatkan keracunan,
baik akut maupun kronis. Keracunan akut dapat menimbulkan gejala sakit kepala,
pusing, , dan sebagainya. Beberapa pestisida dapat menimbulkan iritasi kulit, bahkan
dapat mengakibatkan kebutaan. Sedangkan dampak yang timbulkan terhadap hama
dan penyakit atau efek yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida tersebut antara
lain: Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak
tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian, Memberantas atau
mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan atau ternak, Memberantas atau
mencegah hama-hama air, Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasadjasad renik dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan.
Dampak kerugian jika OPT tidak dikendalikan, tentunya akan merugikan para
pelaku usaha tani terutama pada hasil produksi. Dampak serangan penyakit tanaman
tidak separah dampak yang ditimbulkan akibat serangan oleh hama. Namun, dampak
yang timbul juga tidak kalah hebatnya dengan serangan hama. Serangan penyakit pada
tanaman budidaya lebih banyak mengarah pada proses fisiologinya. Karena menyerang

Universitas Sriwijaya

11

sel

dan

jaringan

tanaman.

Adapun

dampak

kerugian

yang

ditimbulkan

yaitu: terganggunya proses fotosintesis tanaman, terganggunya proses absorbsi unsur hara
dan mineral tanah, kegagalan panen, penurunan nilai ekonomis.
Hama adalah sekelompok organisme pengganggu tanaman yang dapat merusak
tanaman budidaya baik secara fisik maupun fisiologisnya. Dampak kerugian akibat
serangan hama tersebut adalah : gagal panen, menurunnya jumlah produksi tanaman,
pertumbuhan tanaman yang terganggu, menurunkan nilai ekonomis hasil produksi,
kerugian bagi para petani, terjadinya alih fungsi lahan, degradasi agroekosistem,
munculnya resistensi dan returgensi hama.
Pada proses pengaplikasian pestisida atau penyemprotan pestisida, petani

melakukannya sesuai dengan aturan (safety) yang telah dianjurkan, karena jika tidak
sesuai dapat membahayakan pengguna. Sedangkan menurut Wudianto (2005), dalam
melakukan penyemprotan perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.
Pilih volume alat semprot sesuai dengan luas areal yang akan disemprot.
Alat semprot bervolume kecil untuk areal yang luas, tentu kurang cocok
2.

karena pekerja harus sering mengisinya.


Gunakan alat pengaman, berupa masker penutup hidung dan mulut, kaos

3.

tangan, sepatu boot, dan jaket atau baju berlengan panjang.


Penyemprotan yang tepat untuk golongan serangga sebaiknya saat
stadium dan nimfa, atau saat masih berupa telur. Serangga dalam stadium

4.

pupa dan imago umumnya kurang peka terhadap racun insektisida.


Waktu paling baik untuk penyemprotan adalah pada saat waktu terjadi
aliran udara naik (thermik) yaitu antara pukul 08.00-11.00 WIB atau sore
hari pukul 15.00-18.00 WIB. Penyemprotan terlalu pagi atau terlalu sore
akan mengakibatkan pestisida yang menempel pada bagian tanaman akan
terlalu lama mengering dan mengakibatkan tanaman yang disemprot
keracunan. Sedangkan penyemprotan yang dilakukan saat matahari terik
akan menyebabkan pestisida mudah menguap dan mengurai oleh sinar

5.

ultraviolet.
Jangan melakukan penyemprotan di saat angin kencang karena banyak
pestisida yang tidak mengena sasaran. Juga jangan menyemprot dengan
melawan arah angin, karena cairan semprot bisa mengenai orang yang
menyemprot.
Universitas Sriwijaya

12

6.

Penyemprotan yang dilakukan saat hujan turun akan membuang tenaga


dan biaya sia-sia. Jangan makan dan minum atau merokok pada saat

7.

melakukan penyemprotan.
Alat penyemprot segera dibersihkan setelah selesai digunakan. Air bekas

8.

cucian sebaiknya dibuang ke lokasi yang jauh dari sumber air dan sungai.
Penyemprot segera mandi dengan bersih menggunakan sabun dan pakaian

yang digunakan segera dicuci.


Dalam mempelajari formulasi pestisida ini di ajarkan bagaimana cara kita
memperlakukannya dengan baik, sehingga kita dalam menggunakannya dapat
terhindar dari berbagai dampak yang merugikan (processing) yang ditujukan untuk
meningkatkan sifat sifat yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan,
penanganan (handling), penggunaan, dan keefektifan pestisidan. Bentuk pestisida
yang merupakan formulasi ini ada berbagai macam. Formulasi ini perlu
dipertimbangkan oleh calon konsumen sebelum membeli untuk disesuaikan dengan
kesediaan alat yang ada, kemudahan aplikasi, serta efektifitasnya.
Pada formulasi ini kita dapat mengetahuinya dari kode yang tertera di belakang
nama dagangnya. Sebagai contoh Dithane 80 WP yang artinya dalam 1 Kg dithane
terkandung 8 00 gr (80 %) mankozeb dan bentuk pestisida tersebut adalah WP
(Wettable Powder), atau tepung yang akan tersuspensi jika dicampur air. Dibawah ini
akan disebutkan beberapa kode formulasi pestisida yang sering digunakan di pasaran.
Jika kita tahu bahwa ada berbagai formulasi berikut ini beberapa formulasi
yang umum adanya di masyarakat, Formulasi Padat; Wettable Powder (WP), Soluble
Powder (SP), Butiran atau Granule (G), Water Dispersible Granule (WG atau WDG),
Soluble Granule (SG), Tepung Hembus, dan untuk Formulasi Cair ; Emulsifiable
Concentrate atau Emulsible Concentrate (EC), Water Soluble Concentrate (WCS),
Aquaeous Solution (AS), Soluble Liquid (SL), Ultra Low Volume (ULV).

Universitas Sriwijaya

13

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil praktikum tersebut
anatara lain sebagai berikut:
1.

Formulasi adalah mengajarkan cara kita untuk memperlakukannya sesuai


dengan dosis yang di tetapkan, kemudian cara penyimpanan, penanganan

2.

(handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida.


Pestisida yang banyak digunakan petani adalah jenis pestisida dengan
spesifikasi fungisida dan insektisida karena usaha yang mereka lakukan

3.

sebagian besar dalam bidang hortikultura..


Formulasi yang sering kita temukan adalah formula pestisida yaitu

4.
5.

formulasi cair dan formulasi padat.


Pada formulasi terdapat tiga bahan aktif, adjuvant dan carier.
Huruf akhir pada nama dagang (merk) menunjukkan bentuk formulasi
suatu pestisida, contoh Proclaim 5 (SG) artinya Soluble Granular, dalam
pestisida tersebut harus diencerkan dalam air dan digunakan dengan cara

6.

disemprotkan.
Angka pada merk pertisida menunjukkan bahwa itu merupakan bahan
aktif. Misalnya, Masoil 800 EC berarti dalam pestisida tersebut terdapat
bahan aktif Bined petroleum dioxalate 800 gr/liter.

5.2

Saran
Saran saya terhadap praktikum kali ini adalah yang pertama kita harus

luruskan niat kita bahwa mempelajari ini bukanlah semata-mata mencari nilai yang
kemudian tertera pada ijazah, namun kita juga haruslah bertujuan untuk menggali
ilmunya, karena dengan ilmu yang kita dapat maka akan mempermudah kita dalam
memcerdaskan diri kita dan masyarakat yang nantinya menjadi tugas kita dalam
memperbaikinya.

Universitas Sriwijaya

14

Dan yang kedua janganlah merasa puas atas apa yang telah kita dapatkan
namun berusahalah tetap menggali ilmu dari sumbermanapun. Terkait formulasi ini
penting karena jika kita tidak paham dalam penggunaannya akan besar dampak yang
akan kita rasaka.

Universitas Sriwijaya

15

DAFTAR PUSTAKA

Adriyani,R. 2006. Usaha Pengendalian Pencemaran Lingkungan Akibat Penggunaan


Pestisida Pertanian.
Djojosumarto, Panut. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian.Yogyakarta;
Kanisius.
Herlinda, Siti dan Irsan Chandra. 2011. Penuntun Praktikum Dasar dasar
Perlindungan Tanaman. Penerbit Universitas Sriwijaya. Palembang.
Karyadi, 2008. Dampak penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebihan terhadap
kandungan residu tanah pertanian bawang merah di Kecamatan Gemuh
Kabupaten Kendal.Agromedia, volume 26 No.1;pp 10-19.
Taliudin, 2010. Formulasi yang Terkandung Pada Pestisida. Balai Penyuluhan
Kecamatan (BPK) Lenteng Kabupaten Sumenep.

Universitas Sriwijaya

16

LAMPIRAN

Universitas Sriwijaya