Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN

PROSES DEGUMMING PADA


KAIN SUTERA

Disusun oleh kelompok 1 :


Nama

: Indri Arfiyani

14050003

Beni Kurniawan

14050008

Fitria Nurul Putri

14050014

Grup

: 1B1

Tanggal Paktikum

: 12 April 2015

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2015

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud

:
Mempelajari bagaimana mekanisme proses degumming pada
kain sutera yang terbuat dari serat protein.

Tujuan

:
Memahami tujuan dan mekanisme pemasakan (degumming)
pada kain sutera.
Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses
pemasakan (degumming) pada kain sutera.
Menguasai cara proses pemasakan (degumming) pada kain
sutera dalam berbagai metode.
Menghilangkan kandungan serisin dan sedikit lemak pada
serat sutera
Menganalisa dan mengevaluasi hasil degumming kain sutera
yang meliputi persen pengurangan berat, daya serap, persen
penambahan berat dan kehalusan kain.

II.

TEORI DASAR
Proses pemasakan merupakan proses persiapan yang memegang peranan
penting bagi bahan tekstil karena dengan pemasakan akan memudahkan bahan untuk
menyerap zat-zat yang ada pada proses basah berikutnya. Proses pemasakan sutera
atau degumming sutera bertujuan untuk menghilangkan kandungan serisin dan sedikit
lemakpada serat, dimana kandungan serisin dapat mencapai 25% dari berat bahan.
Proses degumming biasanya dilakukan pada serat filament atau kain sutera. Pada kain,
serisin yang adapada benang lusi dapat melindungi filament sutera dari gesekan saat
ditenun. Berdasarkan hasil penghilangan serisin, maka filament sutera dibagi atas tiga
yaitu :
1. Ecru Silk, mengalami penghilangan serisin 2-5% karena akan dipakai
sebagai benang lusi.
2. Souple Silk, mengalami penghilangan serisin sebagian, kira-kira 8-15%
digunakan untuk benang pakan.
3. Boil Off Silk, mengalami penghilangan serisin sempurna beratnya berkurang
20-30%.
Pada proses degumming ini pH larutan merupakan factor yang paling penting,
karena sutera akan rusak pada pH tinggi maka proses degumming berlangsung pada
pH 9-10. Pemasakan merupakan proses persiapan yang memegang peranan penting
bagi bahan tekstil karena dengan pemasakan akan memudahkan bahan untuk

menyerap zat-zat yang ada pada proses basah berikutnya. Tujuan pemasakan adalah
untuk memperoleh bahan tekstil yang bersih atau untuk menghilangkan kotoran alami
baik berupa lemak, minyak, pektin, serisin, gum,kulit biji kapas (pada serat selulosa dan
protein) dan kotoran dari luar seperti oli, debu, spinning oil (pada serat sintetik) sehingga
meningkatkan daya serap pada seluruh permukaan bahan secara merata.
Mekanisme proses pemasakan adalah menyabunkan kotoran berupa lemak, oli,
serisin, gum sehingga dapat larut dalam air serta melepaskan kotoran akibat efek
detergensi dari larutan pemasakan dan gerakan mekanik yang diberikan pada bahan.
III.

PERCOBAAN

Diagram Alir

Resep

1. Degumming dengan sabun netral


Sabun netral

: 20 g/L

Suhu

: 100C

Waktu

: 30 menit

Vlot

: 1:30

2. Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3


Sabun netral

: 20 g/L

Na2CO3

:2

Suhu

: 100C

Waktu

: 30 menit

Vlot

: 1:30

g/L

3. Degumming dengan sabun detergen


Detergen netral : 2 ml/L
Suhu

: 100C

Waktu

: 30 menit

Vlot

: 1:30

Skema Proses

Zat Sesuai resep

100c

30C

30

C
10

20

50

60

Menit

Perhitungan Zat

1. Degumming dengan sabun netral


Berat bahan

: 1,11 gr

Vlot

: 1:30 = 1,11 x 30 =33,3 ml

Sabun netral

: 20 g/L = 1000 33,3 = 0,666

Air

: 33,3 ml

20

2. Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3


Berat bahan

: 1,13 gr

Vlot

: 1:30 = 1,13 x 30 =33,9 ml

Sabun netral

: 20 g/L = 1000 33,9 = 0,678

Na2CO3

: 2 g/L = 1000 33,9 = 0,0678

Air

: 33,9 ml

20
2

3. Degumming dengan sabun detergen


Berat bahan

: 1,51 gr

Vlot

: 1:30 = 1,51 x 30 =45,3 ml

Detergen netral : 2 ml/L =


Air

2
1000

45,3 = 0,0906

: 33,3 ml

Prosedur Kerja
1. menyiapkan alat dan kain grey sutera
2. Menimbang kain dan zat sesuai resep
3. Membuat larutan degumming, kemudian masukan kain ke dalam larutan
4. Panaskan larutan selama 30 menit dengan suhu 100C sambil di aduk
5. Cuci kain dengan air panas dan air dingin
6. Kemudian keringkan kain dan timbang kain
7. Lakukan evaluasi

Data Hasil Percobaan


No

Evaluasi

Resep 1

Resep 2

Resep 3

4 . 15

4 . 15

4 . 15

30

<15

30

Agak halus

Halus

kasar

Daya serap

awal
Daya serap
awal

Handling
kain

W =

%W

100%

1,110,87
1,11

100%

= 21,62%

W =
=

100%

1,130,83
1,13

100%

= 26,54%

W =
=

1,510,34
1,51

(nilai tinggi ke

rendah 3-1)

Sample
kain awal
No

Derajat

Nilai

Kekilauan

(nilai tinggi ke rendah 3-1)

Fitria Nurul
1

Putri

(Resep 2)

Indri Arfiyani
(Resep 2)

Beni
3

kurniawan
(Resep 3)

Rata-Rata

100%

= 11,25%

Kekilauan
kain

100%

IV.

DISKUSI
Serat sutera diambil dari larva ulat sutera Bombyx Mori atau Tusah. Bentuk

serat sutera adalah filamen protein dengan komposisi penting adalah 76% fibroin sebagai
serat dan 22% serisin. Sutera merupakan serat filamen yang halus, berkilau dan bening.
Secara umum mutu sutera ditentukan oleh kahalusan, kerataan, kebersihan dan kekuatan.
Pemanasan serat sutera diatas suhu 140 oC dalam waktu yang lama akan menyebabkan
kerusakan serat dan kekuatannya turun. Sedangkan pendidihan dalam air akan
menurunkan kilau dan kekuatannya. Serat sutera tidak tahan terhadap alkali seperti
pencucian dengan alkali makan akan menyebabkan kekuatan seratnya turun.
Terdapat tiga variasi resep untuk degumming sutera, yaitu :
1. Degumming dengan sabun netral
2. Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3
3. Degumming dengan detergen netral

Dari ketiga variasi resep ini masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Resep yang paling aman digunakan adalah dengan sabun netral, meskipun hasilnya tidak
terlalu baik tetapi resep dengan sabun netral ini tidak akan menyebabkan kerusakan serat.
Lain halnya dengan resep menggunakan detergen yang dapat menyebabkan kerusakan
serat yang paling besar sehingga kekuatan seratnya akan menurun.
Sedangkan degumming dengan sabun netral dan Na2CO3 atau alkali lemah akan
memberikan hasil degumming yang lebih baik daripada degumming dengan sabun netral
saja. Hal ini karena fungsi Na2CO3 sendiri selain memberikan suasana alkali pada proses
degumming, Na2CO3 juga berfungsi untuk mengaktifkan kerja sabun. Karena serat sutera
tidak tahan alkali maka pada proses ini digunakan alkali lemah agar tidak terjadi kerusakan
serat (kerusakan serat kecil). Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3 akan
memberikan hasil yang lebih baik dan lebih optimal daripada degumming dengan sabun
netral saja karena selain biaya yang juga murah, Na2CO3 juga akan membantu sabun untuk
menghilangkan serisin pada serat sutera sehingga hasil degummingnya lebih bersih.
Variasi resep yang terakhir adalah degumming dengan detergen netral. Kelebihan
detergen netral ini adalah akan menghasilkan degumming yang baik. Namun penggunaan
detergen netral ini mempunyai kekurangan yaitu akan merusak serat / kerusakan serat
besar. sehinnga kekuatan kainnya akan turun. Karena alasan-alasan itulah, dalam ujian
praktikum penyempurnaan kain sutera ini praktikan memilih resep degumming dengan
sabun netral dan Na2CO3 karena akan memberikan hasil yang lebih baik daripada

penggunaan dengan sabun netral saja dan kerusakan seratnya tidak sebesar seperti yang
ditimbulkan oleh detergen netral.
Dilihat dari data hasil percobaan dengan perlakuan yang berbeda maka
dapat diambil suatu perbandingan pengurangan serat dan daya serap pada kain sutera,
yaitu dilihat dari zat yang digunakan saat proses degumming, hasil percobaan
menunjukan bahwa hasil yang lebih baik terdapat pada percobaan resep 2 yaitu proses
Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3. Semakin banyak zat pembantu semakin
baik hasilnya. Hal ini disebabkan karena kadar Na2CO3 yang ditambahkan pada resep 2
memberikan suasana pH alkalis dan membantu melarutkan serisin sehingga reaksi
berlangsung lebih sempurna daripada reaksi pada proses percobaan menggunakan
sabun netral/detergen saja.
V.

KESIMPULAN

1. Degumming pada kain sutera bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran


sehingga pada saat dicelup akan memberikan hasil celupan yang rata dan baik.
2. Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3 memberikan hasil yang lebih baik
daripada degumming dengan sabun netral saja.
3. Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3 tidak akan merusak serat seperti
halnya degumming dengan detergen.
4. Dari percobaan yang telah kami lakukan pada proses degumming pada kain
sutera dengan menggunakan :
- Degumming dengan sabun netral (resep 1) memperlihatkan banyaknya
serisin dan zat lemak yang hilang sebesar 21,62%
- Degumming dengan sabun netral dan Na2CO3 (resep 2) memperlihatkan
banyaknya serisin dan zat lemak yang hilang sebesar 26,54%
- Degumming dengan detergen netral (resep 3) memperlihatkan
banyaknya serisin dan zat lemak yang hilang sebesar 11,25%
5. Hasil uji degumming pada kain sutera dengan variasi resep yang berbeda yaitu:
%pengurangan berat

RESEP 1 : 21,62%
RESEP 2 : 26,54%
RESEP 3 : 11,25%

6. Hasil tes daya serap

RESEP 1 : 30 detik
RESEP 2 : <15 detik
RESEP 3 : 30 detik

DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Ichwan, dkk. 2004. Pedoman Praktikum Teknologi Persiapan
Penyempurnaan. Bandung : Politeknik STT Tekstil Bandung.