Anda di halaman 1dari 51

3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Telinga Tengah


2.1.1 Anatomi Telinga Tengah

Gambar 2.1 Anatomi Telinga


Telinga tengah berbentuk kubus dengan:
Batas luar

: membran timpani

Batas depan

: tuba eustakhius

Batas bawah

: vena jugular (bulbus jugularis)

Batas belakang

: aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

Batas atas

: tegmen timpani (meningen/ otak)

Batas dalam

: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis


horizontal, kanalis

fasialis, tingkap lonjong (oval

window),

tingkap

bundar

(round

window)

dan

promontorium.

Gambar 2.2 Anatomi Telinga

Gambar 2.3 Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah terdiri atas: membran timpani, kavum timpani, prosesus
mastoideus, dan tuba eustakhius.
1. Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran ini memiliki
panjang vertikal rata-rata 9-10 mm, diameter antero-posterior kira-kira 8-9 mm,
dan ketebalannya rata-rata 0,1 mm .Letak membran timpani tidak tegak lurus

terhadap liang telinga akan tetapi miring yang arahnya dari belakang luar ke muka
dalam dan membuat sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal. Membran
timpani berbentuk kerucut, dimana bagian puncak dari kerucut menonjol ke arah
kavum timpani yang dinamakan umbo. Dari umbo ke muka bawah tampak refleks
cahaya (cone of ligt).
Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :
a. Stratum kutaneum (lapisan epitel) berasal dari liang telinga.
b. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.
c. Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratum kutaneum
dan mukosum.
Secara Anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian :
a.

Pars tensa
Bagian terbesar dari membran timpani yang merupakan permukaan
yang tegang dan bergetar, sekelilingnya menebal dan melekat pada anulus
fibrosus pada sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang temporal.

b.

Pars flaksida atau membran Shrapnell.


Letaknya di bagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars
flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :

Plika maleolaris anterior (lipatan muka).


Plika maleolaris posterior (lipatan belakang).

Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang dinamakan
sulkus timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak terdapat sulkus ini dan
bagian ini disebut insisura timpanika (rivini). Permukaan luar dari membran
timpani disarafi oleh cabang nervus aurikulo temporalis dari nervus mandibula

dan nervus vagus. Permukaan dalam disarafi oleh nervus timpani cabang dari
nervus glossofaringeal.
Aliran darah membran timpani berasal dari permukaan luar dan dalam.
Pembuluh-pembuluh epidermal berasal dari aurikula yang merupakan cabang dari
arteri maksilaris interna. Permukaan mukosa telinga tengah didarahi oleh arteri
timpani anterior cabang dari arteri maksilaris interna dan oleh stilomastoid cabang
dari arteri aurikula posterior.

Gambar 2.4 Telinga kanan. Membran Timpani Normal


2. Kavum Timpani
Kavum timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya
bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter antero-posterior atau vertikal 15
mm, sedangkan diameter transversal 2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6
dinding yaitu : bagian atap, lantai, dinding lateral, medial, anterior, dan posterior.
Kavum timpani terdiri dari :
a.

Tulang-tulang pendengaran, terbagi atas: malleus (hammer/martil),

b.

inkus (anvil/landasan), stapes (stirrup/pelana)


Otot, terdiri atas: otot tensor timpani (muskulus tensor timpani) dan

c.
d.

otot stapedius (muskulus stapedius).


Saraf korda timpani.
Saraf pleksus timpanikus.

3. Prosesus mastoideus

Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah ke


kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah dinding
lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak di bawah duramater pada
daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum.
4. Tuba eustakhius.
Menghubungkan rongga timpani dgn nasofaring,panjang 3,5 cm. Bagian 1/3
posterior terdapat dinding tulang dan bagian 2/3 anterior terdapat dinding tulang
rawan. Dilapisi oleh epitel silindris bertingkat bersilia dan epitel selapis silindris
bersilia degan sel goblet dekat farings. Dinding tuba biasanya kolaps,tetapi selama
proses menelan dinding tuba akan terpisah dan udara masuk ke rongga telinga
tengah sehingga tekanan udara pada kedua sisi membran timpani seimbang
dengan tekanan atmosfer. Tuba auditiva meluas dari dinding anterior cavum
timpani ke bawah,depan,dan medial sampai ke nasophaynx. Sepertiga
posteriornya adalah tulang,dan dua pertiga anteriornya dalah tulang rawan.
Berhubungan dengan nasopharinx setelah berjalan diatas tepi atas m. constrictor
pharynges superior. Tuba auditiva berfungsi untuk membuat seimbang tekanan
udara dalam cavum timpani dengan nasopharing.

Gambar 2.5 Tuba Eustachius


Tuba

terdiri dari
2 bagian yaitu :
a.

Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan

pendek

(1/3 bagian).
b.

Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3
bagian).
Fungsi Tuba Eustakhius adalah ventilasi, drenase sekret dan menghalangi
masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah.Ventilasi berguna untuk
menjaga agar tekanan di telinga tengah selalu sama dengan tekanan udara luar.
Adanya fungsi ventilasi tuba dapat dibuktikan dengan melakukan perasat
Valsava dan perasat Toynbee.
Perasat Valsava meniupkan dengan keras dari hidung sambil mulut dipencet
serta mulut ditutup. Bila Tuba terbuka maka akan terasa ada udara yang masuk
ke telinga tengah yang menekan membran timpani ke arah lateral. Perasat ini
tidak boleh dilakukan kalau ada infeksi pada jalur nafas atas.
Perasat Toynbee dilakukan dengan cara menelan ludah sampai hidung
dipencet serta mulut ditutup. Bila tuba terbuka maka akan terasa membran
timpani tertarik ke medial. Perasat ini lebih fisiologis.

2.1.2 Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun


telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang
koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga
tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi
getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan
luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah
diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap
lonjong sehingga cairan perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran
diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong cairan endolimfe
sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan
membran tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang
menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion
terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan

proses

depolarisasi

sel

rambut,

sehingga

melepaskan

neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi


pada saraf auditorius lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius lalu dilanjutkan ke
nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus
temporalis.
2.2 Otitis Media Akut
2.2.1 Definisi
Otitis Media adalah peradangan pada sebagian atau seluruh mukosa dari
selaput permukaan telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel
mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan non-supuratif,
dimana masing-masing memiliki bentuk akut dan kronis. Otitis media akut
termasuk kedalam jenis otitis media supuratif. Selain itu, terdapat juga jenis

10

otitis media spesifik, yaitu otitis media tuberkulosa, otitis media sifilitik, dan
otitis media adhesiva.
Otitis Media Akut adalah peradangan telinga tengah yang mengenai
sebagian atau seluruh periosteum dan terjadi dalam waktu kurang dari 3
minggu. Telinga tengah adalah organ yang memiliki penghalang yang
biasanya dalam keadaan steril. Tetapi pada suatu keadaan jika terdapat infeksi
bakteri pada nasofariong dan faring, secara alamiah teradapat mekanisme
pencegahan penjalaran bakteri memasuki telinga tengah oleh ezim pelindung
dan bulu-bulu halus yang dimiliki oleh tuba eustachii.
2.2.2 Etiologi
Otitis media akut terjadi akibat tidak berfungsingnya sistem pelindung, hal
ini karena sumbatan atau peradangan pada tuba eustachii yang merupakan
faktor utama terjadinya otitis media. Pada anak-anak semakin seringnya
terserang infeksi saluran pernafasan atas, kemungkinan terjadi otitis media
akut juga semakin sering. Pada anak-anak, OMA dipermudah karena tuba
eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal.
Kuman penyebab OMA adalah bakteri piogenik:
Streptococcus Pneumoniae (38%)
Haemophilus Influenzae (27%)
Moraxella catarrhalis (11%)
Staphylococcus aureus (2%)

2.2.3 Epidemiologi

11

Otitis media pada anak-anak sering kali disertai dengan infeksi pada
saluran pernapasan atas. Pada penelitian terhadap 112 pasien ISPA (6-35
bulan), didapatkan 30% mengalami otitis media akut dan 8% sinusitis.
Epidemiologi seluruh dunia terjadinya otitis media berusia 1 thn sekitar 62%,
sedangkan anak-anak berusia 3 thn sekitar 83%. Di Amerika Serikat,
diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media sebelum
usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau
lebih. Di Inggris setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode
sebelum usia sepuluh tahun.
Resiko kekambuhan otitis media terjadi pada beberapa faktor, antara lain
usia <5 tahun, otitis prone (pasien yang mengalami otitis pertama kali pada
usia <6 bulan, 3 kali dalam 6 bulan terakhir), infeksi pernapasan, perokok, dan
laki-laki.
2.2.4 Patogenesis
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti
radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran
Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat
menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di
sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk
melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan
mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam
telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius
menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di
belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak,

12

pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil


penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak
dapat bergerak bebas.
Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 25 desibel
(bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan
gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal).
Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang
terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena
tekanannya. OMA dapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis
apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini berkaitan dengan
beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat, pengobatan yang
tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik.

Gambar 2.6 Patofisiologi otitis media

13

Penyebab anak-anak mudah terserang otitis media akut adalah:

14

a. Pada bayi atau anak-anak tuba lebih pendek, lebih lebar, dan
kedudukannya lebih horizontal dari tuba orang dewasa sehingga ISPA
lebih mudah menyebar ke telinga tengah (gambar 4).
b. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak-anak di bawah
umur 9 bulan adalah 17,5 mm (gambar 4). Ini meningkatkan peluang
refluks dari nasofaring yang mengganggu drainase melalui tuba
Eustachius.
c. Insidens terjadinya otitis media pada anak yang berumur lebih tua
lebih berkurang. Hal ini terjadi karena tuba telah berkembang
sempurna dan diameter tuba Eustachius meningkat sehingga jarang
terjadi obstruksi dan disfungsi tuba.
d. Sistem pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga mudah terkena
ISPA lalu terinfeksi ke telinga tengah
e. Adenoid merupakan salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang
berperan dalam kekebalan tubuh. Pada anak, adenoid relatif lebih besar
dibanding orang dewasa. Posisi adenoid yang berdekatan dengan
muara tuba Eustachius menyebabkan adenoid yang besar mengganggu
terbukanya tuba Eustachius. Selain itu, adenoid dapat terinfeksi akibat
ISPA dan dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius.

Gambar 2.7 Perbedaan tuba Eustachius anak-anak dengan orang dewasa

15

2.2.5 Stadium Klinis OMA


OMA memiliki beberapa stadium klinis antara lain:
1. Stadium oklusi tuba eustachius
a. Terdapat gambaran retraksi membran timpani.
b. Membran timpani berwarna normal atau keruh pucat.
c. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa virus.
2. Stadium hiperemis
a. Pembuluh darah tampak lebar dan edema pada membran
timpani.
b. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat
yang serosa sehingga sukar terlihat.
3. Stadium supurasi
a. Membran timpani menonjol ke arah luar.
b. Sel epitel superfisila hancur.
c. Terbentuk eksudat purulen di kavum timpani.
d. Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta
nyeri di telinga tambah hebat.
4. Stadium perforasi
a. Membran timpani ruptur.
b. Keluar nanah dari telinga tengah.
c. Pasien lebih tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak.
5. Stadium resolusi

16

a. Bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan


normal kembali.
b. Bila terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan
mengering.
c. Resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan bila virulensi rendah
2.2.6

dan daya tahan tubuh baik.


Diagnosis

Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien.
Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh
tinggi serta ada riwayat batuk pilek sebelumnya. Anak juga gelisah, sulit tidur,
tiba-tiba menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang, dan kadang-kadang anak
memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka
sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun, dan anak tertidur tenang.
Pada anak yang lebih besar atau dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula
gangguan pendengaran dan rasa penuh dalam telinga.
Diagnosis terhadap OMA tidak sulit, dengan melihat gejala klinis dan
keadaan membran timpani biasanya diagnosis sudah dapat ditegakkan.
Penilaian membran timpani dapat dilihat melalui pemeriksaan lampu kepala
dan otoskopi. Perforasi yang terdapat pada membran timpani bermacammacam, antara lain perforasi sentral, marginal, atik, subtotal, dan total.
2.2.7

Penatalaksanaan
Terapi OMA tergantung pada stadiumnya. Pada stadium oklusi, tujuan

terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Diberikan obat


tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <12 thn
dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur >12

17

thn atau dewasa.. selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan
memberikan antibiotik.
Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan
analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan
miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin. Jika
terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau
sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya
adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada
anak

diberikan

ampisilin

4x50-100

mg/KgBB,

amoksisilin

4x40

mg/KgBB/hari, atau eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari.


Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk
dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Selain itu, analgesik
juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.
Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H 2O2 3% selama 3-5
hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu.
Stadium resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir keluar. Pada
keadaan ini dapat dilanjutkan antibiotik sampai 3 minggu, namun bila masih
keluar sekret diduga telah terjadi mastoiditis.
2.2.8

Komplikasi

Sebelum ada antibiotik, komplikasi paling sering pada OMA ialah abses
subperiosteal sampai komplikasi yang berat seperti meningitis dan abses otak.
Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan kehilangan
pendengaran permanen.
2.2.9

Pencegahan

18

Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah:


1. Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak.
2. Pemberian ASI minimal selama 6 bulan.
3. Penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring.
4. Penghindaran pajanan terhadap asap rokok.
2.3 Otitis Media Non Supuratif
2.3.1 Definisi
Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba Eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Secara mudah, otitis
media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (=otitis
media serosa, otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media
efusi/OME, otitis media mucoid).
Adanya cairan di telinga tengah tanpa dengan membran timpani utuh tanpa
tanda-tanda infeksi disebut juga sebagai otitis media dengan efusi. Apabila
efusi tersebut encer disebut otitis media serosa dan apabila efusi tersebut
kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue ear).
Pada dasarnya otitis media serosa dapat dibagi atas dua jenis yaitu otitis
media serosa akut dan otitis media serosa kronis. Otitis media serosa akut
adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah secara tiba-tiba yang
disebabkan oleh gangguan fungsi tuba. Batasan antara otitis media serosa akut
dan kronis hanya pada cara terbentuknya sekret.

19

Pada otitis media serosa akut sekret terjadi secara tiba-tiba di telinga tengah
dengan disertai rasa nyeri pada telinga, sedangkan pada keadaan kronik sekret
terbentuknya secara bertahap tanpa rasa nyeri dengan gejala-gejala pada
telinga yang berlangsung lama (Blakleyp).
2.3.2

Epidemiologi
Infeksi telinga tengah merupakan diagnosa utama yang paling sering

dijumpai pada anak-anak usia kurang dari 15 tahun yang diperiksa di tempat
praktek dokter. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami
setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir
setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih.
Di Inggris, setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum
usia 10 tahun. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 36 tahun. Pada tahun 1990, 12,8 juta kejadian otitis media terjadi pada anakanak usia di bawah 5 tahun. Anak-anak dengan usia di bawah 2 tahun, 17%
memiliki peluang untuk kambuh kembali. 30-45% anak-anak dengan OMA
dapat menjadi OME setelah 30 hari dan 10% lainnya menjadi OME setelah 90
hari, sedikitnya 3,84 juta kasus OME terjadi pada tahun tersebut; 1,28 juta
kasus menetap setelah 3 bulan. Statistik menunjukkan 80-90% anak
prasekolah pernah menderita OME. Kasus OME berulang (OME rekuren) pun
menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi terutama pada anak usia
prasekolah, sekitar 28-38%.
2.3.3

Etiologi

Otitis media serosa dapat terjadi akibat kondisi-kondisi yang berhubungan


dengan pembukaan dan penutupan tuba eustachius yang sifatnya periodik.

20

Penyebabnya dapat berupa kelainan kongenital, akibat infeksi atau alergi, atau
dapat dapat juga disebabkan akibat blokade tuba (misalnya pada adenoid dan
barotrauma).
Tuba eustachia immature merupakan kelainan kongenital yang dapat
menyebabkan terjadinya timbunan cairan di telinga tengah. Ukuran tuba
eustachius pada anak dan dewasa berlainan dalam hal ukuran. Beberapa anak
mewarisi tuba eustachius yang kecil dari kedua orang tuanya, hal inilah yang
dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya tendensi atau kecenderungan
infeksi telinga tengah dalam keluarga. Selain itu, otitis media serosa juga lebih
sering terjadi pada anak dengan cleft palatal (terdapatnya celah pada daerah
palatum). Hal ini desebabkan karena otot-otot ini tumbuh tidak sempurna pada
anak dengan cleft palate.
Membrana mukosa dari telinga tengah dan tuba eustachius berhubungan
dengan membran mukosa pada hidung, sinus, dan tenggorokan. Infeksi pada
area-area ini menyebabkan pembengkakan membrana mukosa yang mana
dapat mengakibatkan blokade dari tuba eustachius. Sedangkan reaksi alergi
pada hidung dan tenggorokan juga menyebabkan pembengkakan membrana
mukosa dan memblokir tuba eustachius. Reaksi alergi ini sifatnya bisa akut,
seperti pada hay fever tipe reaksi ataupun bersifat kronis seperti pada berbagai
jenis sinusitis kronis. Adenoid dapat menyebabkan otitis media serosa apabila
adenoid ini terletak di daerah nasofaring, yaitu area disekeliling dan diantara
pintu tuba eustachius. Ketika membesar, adenoid dapat memblokir pembukaan
tuba eustachius. Kegagalan fungsi tuba eustachi dapat pula disebabkan oleh
rinitis kronik, sinusitis, tonsilitis kronik, dan tumor nasofaring.

21

Selain itu, otitis media serosa kronis dapat juga terjadi sebagai gejala sisa
dari otitis media akut (OMA) yang tidak sembuh sempurna.Terapi antibiotik
yang tidak adekuat pada OMA dapat menonaktifkan infeksi tetapi tidak dapat
menyebuhkan secara sempurna sehingga akan menyisakan infeksi dengan
grade rendah. Proses ini dapat merangsang mukosa untuk menghasilkan cairan
dalam jumlah banyak. Jumlah sel goblet dan mukus juga bertambah.
2.3.4

Klasifikasi

Pada dasarnya otitis media serosa dapat dibagi atas 2 jenis:


1. Otitis media serosa akut
Angka kejadian otitis media serosa akut lebih sering terjadi pada
dewasa. Otitis media serosa akut terjadi akibat terbentuknya sekret di
telinga tengah secara tiba-tiba yang disebabkan gangguan fungsi tuba yang
disebabkan antara lain:
-

Sumbatan tuba yang menyebabkan terbentuknya cairan di telinga

tengah karena tersumbatnya tuba secara tiba-tiba


Terjadinya infeksi virus pada saluran nafas atas sehingga

menyebabkan terbentuknya cairan


Reaksi alergi menyebabkan terbentuknya cairan pada saluran nafas

atas.
- Idiopatik
2. Otitis media serosa kronis (glue ear)
Sekret pada otitis media serosa kronis terbentuk secara bertahap tanpa
rasa nyeri dan lebih sering terjadi pada anak-anak. Sekret tersebut kental
seperti lem sehingga disebut sebagai glue ear.
2.3.5

Patofisiologi

22

Dalam kondisi normal, mukosa telinga bagian dalam secara konstan


mengeluarkan sekret, yang akan dipindahkan oleh sistem mukosilier ke
nasofaring melalui tuba eustachius. Sebagai konsekuensi, faktor yang
mempengaruhi produksi sekret yang berlebihan, klirens sekret yang optimal,
atau kedua-duanya dapat mengakibatkan pembentukan suatu cairan di telinga
tengah.
Ada 2 mekanisme utama yang menyebabkan OME :
a. Kegagalan fungsi tuba eustachius
Kegagalan fungsi tuba eustachi untuk pertukaran udara pada telinga
tengah dan juga tidak dapat mengalirkan cairan.
b. Peningkatan produksi sekret dalam telinga tengah
Dari hasil biopsi mukosa telinga tengah pada kasus OME didapatkan
peningkatan jumlah sel yang menghasilkan mukus atau serosa.

Gambar 2.8 Patofisiologi Otitis Media Efusi

23

Otitis media serosa terjadi terutama akibat adanya transudat atau plasma
yang mengalir dari pembuluh darah ke telinga tengah yang sebagian besar
terjadi akibat adanya perbadaan tekanan hidrostatik, sedangkan pada otitis
media mukoid, cairan yang ada di telinga tengah timbul akibat sekresi aktif
dari kelenjar dan kista yang terdapat di dalam mukosa telinga tengah, tuba
eustachius, dan rongga mastoid. Faktor utama yang berperan disini adalah
terganggunya fungsi tuba eustachius.
Otitis media serosa sering timbul setelah otitis media akut. Cairan yang
telah terakumulasi dibelakang gendang telinga selama infeksi akut dapat tetap
menetap walau infeksi mulai mengalami penyembuhan. Selain itu, otitis
media serosa dapat pula terjadi tanpa didahului oleh infeksi, dan dapat terjadi
akibat penyakit gastroesophagal reflux atau hambatan tuba eustachius oleh
karena infeksi atau adenoid yang membesar. Otitis media serosa sering sekali
terjadi pada anak-anak dengan usia antara 3 bulan sampai 3 tahun.
Seringkali mengikuti infeksi traktus respiratorius bagian atas adalah otitis
media serosa. Sekresi dan inflamasi menyebabkan suatu oklusi relatif dari
tuba eustachius. Normalnya, mukosa telinga tengah mengabsorbpsi udara di
dalam telinga tengah. Apabila udara dalam telinga tengah tidak diganti akibat
obstruksi relatif dari tuba eustachius, maka akibatnya terjadi tekanan negatif
dalam telinga tengah dan menyebabkan suatu efusi yang serius. Efusi pada
telinga tengah ini menjadi suatu media pertumbuhan mikroba dan dengan
adanya ISPA dapat terjadi penyebaran virus-virus dan atau bakteria dari
saluran nafas bagian atas ke telinga bagian tengah.

24

Barotrauma adalah keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang


tiba-tiba di luar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau penyelam,
yang menyebabkan tuba gagal untuk membuka. Apabila perbedaan tekanan
melebihi 90 mmHg, maka otot yang normal aktivitasnya tidak mampu
membuka tuba. Pada keadaan ini terjadi tekanan negatif di rongga telinga
tengah, sehingga cairan keuar dari pembuluh kapiler mukosa dan kadangkadang disertai ruptur pembuluh darah sehingga cairan di telinga tengah dan
rongga mastoid tercampur darah.
2.3.6

Manifestasi Klinis
Otitis Media Serosa Akut
Gejala yang menonjol pada otitis media serosa akut biasanya pendengaran

berkurang. Selain itu pasien juga dapat mengeluh rasa tersumbat pada telinga
atau suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda, pada telinga yang
sakit (diplacusis binauralis). Kadang-kadang terasa seperti ada cairan yang
bergerak dalam telinga pada saat posisi kepala berubah. Rasa sedikit nyeri di
dalam telinga dapat terjadi pada saat awal tuba terganggu, yang menyebabkan
timbul tekanan negatif pada telinga tengah. Tapi setelah sekret terbentuk,
tekanan negatif ini perlahan-lahan menghilang. Rasa nyeri dalam telinga tidak
pernah ada bila penyebab timbulnya sekret ada virus atau alergi. Tinitus,
vertigo, atau pusing kadang-kadang ada dalam bentuk yang ringan. Pada
otoskopi tampak membrana timpani retraksi. Kadang-kadang tampak
gelembung udara atau permukaan cairan dalam cavum timpani. Tuli konduktif
dapat dibuktikan dengan garpu tala.

25

Meskipun otitis media serosa seringkali muncul tanpa nyeri, cairan yang
terkumpul dalam telinga tengah dapat mengurangi pendengaran, pemahaman
pembicaraan, gangguan perkembangan bahasa, belajar serta gangguan tingkah
laku. Apalagi bila otitis media serosa sering kali terjadi pada anak-anak. Pada
kebanyakan anak, otitis media serosa terjadi secara asimptimatis terutama
pada anak-anak dibawah 2 tahun. Karena anak-anak memerlukan pendengaran
untuk belajar berbicara, maka hilangnya pendengaran akibat cairan di telinga
tengah dapat menyebabkan keterlambatan bicara. Anak-anak mulai belajar
mengucapkan kata pada usia 18 bulan. Apabila kejadian ini berulang selama
berbulan-bulan

pada

tahun-tahun

belajar

bicara,

maka

terjadi

misspronounciation atau kesalahan pelafalan yang berat yang akan


membutuhkan terapi bicara.
Masalah cairan dalam telinga tengah ini paling sering ditemukan pada anak
dan biasanya bermanifestasi sebagai tuli konduktif. Merupakan penyebab
tersering gangguan pendengaran pada usia sekolah. Keterlambatan berbahasa
dapat terjadi jika keadaan ini berlangsung lama. Anak-anak jarang
mengemukakan bahwa mereka mempunya kesulitan dalam pendengaran. Guru
dapat mengatakan bahwa anak-anak ini kurang perhatiannya terhadap
pelajaran. Umumnya orang dewasa dapat menjelaskan gejala-gejala yang
dialaminya secara lebih dramatis, dapat berupa perasaan tersumbat dalam
telinganya dan menurunnya ketajaman pendengaran. Mereka dapat merasakan
adanya perbaikan pendengaran dengan perubahan posisi kepala. Akibat
gerakan cairan dalam telinga tengah dapat terjadi tinitus, tapi pusing jarang
menjadi masalah.

26

Pada pemeriksaan fisik memperlihatkan imobilitas gendang telinga`pada


penilaian dengan otoskop pneumatik. Setelah otoskop ditempelkan rapat-rapat
di liang telinga, diberikan tekanan positif dan negatif. Jika terdapat udara
dalam timpanum, maka udara itu akan tertekan sehingga membrana timpani
akan terdorong kedalam pada pemberian tekanan positif, dan keluar pada
tekanan negatif. Gerakan menjadi lambat atau tidak terjadi pada otitis media
serosa atau mukoid. Pada otitis media serosa, membrana timpani tampak
berwarna kekuningan, sedangkan pada otitis media mukoid terlihat lebih
kusam dan keruh. Maleus tampak pendek, retraksi dan berwarna kapur.
Kadang-kadang tinggi cairan atau gelembung otitis media serosa dapat tampak
lewat membrana timpani yang semitransparan.
Otitis Media Serosa Kronik
Perasaan tuli pada otitis media serosa kronik lebih menonjol (40-45 dB),
oleh karena adanya sekret kental atau glue ear. Pada anak-anak yang berumur
5-8 tahun keadaan ini sering diketahui secara kebetulan waktu dilakukan
pemeriksaan THT atau dilakukan uji pendengaran.
Pada otoskopi terlihat membran timpani utuh, retraksi, suram, kuning
kemerahan atau keabu-abuan.
2.3.7 Diagnosis
Otitis media efusi dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis, hasil
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
Beberapa gejala otitis media efusi berdasarkan keluhan pasien yaitu
berkurang sampai hilangnya pendengaran, rasa penuh atau tersumbat di
telinga. Gejala otitis media efusi yang terjadi pada anak biasanya jarang
dikeluhkan, tetapi patut dicurigai jika pada anak tersebut terdapat

27

keterlambatan bicara. Pada otitis media serosa akut juga terjadi diplacusis
binauralis yaitu suara sendiri terdengar lebih nyaring pada telinga yang sakit.
Pasien mengeluhkan terdapat cairan yang terasa bergerak di dalam telinga saat
posisi kepala berubah. Dapat terjadi nyeri telinga pada barotraumas, tetapi jika
penyebabnya virus atau bakteri biasanya pasien tidak merasakan nyeri. Pada
beberapa pasien terdapat vertigo dan tinnitus.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu otoskopi dan tes penala. Pada
pemeriksaan otoskopi dapat terlihat membran timpani yang kelabu atau
menguning yang telah kekurangan pergerakan. Jika membran timpani
translusen, maka dapat terlihat air-fluid level atau gelembung udara kecil pada
telinga tengah.

Gambar 2.9 Gambaran membran timpani dengan: a. air-fluid level, b.


bubble appearance
Pada otitis media efusi yang sudah lama, membran timpani yang terlihat
pada otoskopi masih utuh tetapi suram, berwarna kuning kemerahan atau
keabu-abuan.

28

Gambar

2.10 Gambaran

membran

timpani pada otitis

media efusi kronis


3. Pemeriksaan penunjang
Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu
sebagai berikut.

29

Timpanometri : dengan mengukur kompliens dari mekanisme


transformer telinga tengah, timpanometri menyediakan pemeriksaan
objektif

untuk

status

telinga

tengah.

Timpanometri

akan

memperlihatkan sebuah puncak (misalnya pada kompliens maksimal)


ketika tekanan di kanalis akustik eksternal sama dengan di telinga
tengah. Dengan membedakan tekanan di telinga luar, apabila terdapat
efusi maka kompliensnya tidak akan bervariasi dengan perubahan
tekanan telinga luar atau bisa terbentuk flat timpanogram (tipe B). Jika
tekanan telinga tengah sama atau mendekati tekanan atmosfer,

terbentuk timpanogram normal (tipe A). Jika tekanannya negative


maka akan terbentuk puncak kompliens yang berada dibawah -99daPa
(tipe C).
Gambar 2.11 Timpanogram

Audiometri : pasien dengan otitis media efusi biasanya memiliki tuli


konduktif yang moderate. Audiometri menyediakan pemeriksaan
keparahan kehilangan pendengaran dan meskipun begitu sangat
penting pada monitoring progress dari kondisinya dan menyediakan

30

informasi

yang

berguna

pada

pengambilan

keputusan

untuk

manajemen terapi.

Tes Pendengaran dengan Garpu Tala


Pemeriksaan dilakukan sebagai salah satu langkah skrining ada
tidaknya penurunan pendengaran yang biasa timbul pada otitis media
efusi. Pada tes penala dapat ditemukan tuli konduktif pada pasien
dengan otitis media efusi, dengan tes Rinne negatif, tes Weber
lateralisasi ke telinga yang sakit, dan tes Schwabach memanjang pada
telinga yang sakit.

Pure tone Audiometry


Selain dengan Garpu Tala, penilaian gangguan pendengaran bisa

dilakukana dengan Audiometri Nada Murni. Tuli konduktif umumnya


berkisar antara derajat ringan hingga sedang.

Gambar 2.12 Gambaran Audiometri Tuli Konduktif

31

2.3.8

Diagnosa Banding

2.3.9

Penatalaksanaan

Pengobatan otitisGambar
media efusi
tergantungOMA
kepada
penyebab
2.13 Perbedaan
dan
OME yang mendasari
penyakit tersebut.
1. Otitis media serosa akut
Pengobatan dapat secara medikamentosa dan pembedahan. Pada
pengobatan medical diberikan obat vasokonstriktor lokal (tetes
hidung), antihistamin, perasat Valsava, bila tidak ada tanda-tanda
infeksi saluran nafas atas.
Setelah satu atau dua minggu, bila gejala-gejala masih menetap,
dilakukan miringotomi dan bila masih belum sembuh maka dapat
dilakukan miringotomi serta pemasangan pipa ventilasi (Grommet).
Grommet atau ventilation tube merupakan tube kecil yang terbuat dari
plastik yang diinsersikan melalui sebuah lubang kecil pada membran
timpani. Grommet akan membantu drainase cairan yang terkumpul
pada telinga tengah dan ventilasi pada telinga tengah.
Gambar 2.14 Pemasangan pipa Grommet

32

2.

Otitis media serosa kronik (glue ear)


Pengobatan yang harus dilakukan adalah mengeluarkan sekret dengan
miringotomi dan pemasangan pipa ventilasi (Grommet). Pada kasus yang
masih baru pemberian dekongestan tetes hidung serta kombinasi anti
histamin dan dekongestan per oral seringkali bisa berhasil. Sebagian ahli
menganjurkan pengobatan medikamentosa selama 3 bulan, bila tidak
berhasil baru dilakukan tindakan operasi.
Di samping itu harus pula dinilai serta diobati faktor-faktor penyebab
seperti alergi, pembesaran adenoid atau tonsil, dan infeksi hidung dan
sinus.
Gambar 2.15 Tindakan Miringotomi dan Pemasangan pipa Grommet

33

Tindakan miringitomi dan aspirasi efusi tanpa pemasangan tuba


timpanostomi dibuktikan hanya berguna untuk efek jangka pendek.
Berdasarkan studi oleh Gates, tindakan miringitomi diikuti pemasangan
tuba

timpanostomi,

dapat

mempercepat

perbaikan

pendengaran,

mempersingkat durasi penyakit, mengurangi angka rekurens. Luka insisi


setelah miringitomi biasanya sembuh dalam 1minggu, namun, biasanya
disfungsi tuba eustachius membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh
(biasanya 6minggu). Oleh karena ini, tindakan miringitomi saja, akan
meningkatkan angka rekurens.
2.3.10 Komplikasi
Terdapat dua komplikasi akibat otitis media efusi yaitu :
1.

Gangguan pendengaran atau kehilangan pendengaran yang bersifat


sementara. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan bahasa dan

2.

prilaku jika dialami oleh anak-anak.


Kerusakan kronis pada anatomi

membran

timpani

seperti

timpanosklerosis. Hal ini tergantung pada berapa lama seseorang


2.3.11

menderita otitis media efusi dan tekanan negatif pada telinga tengah.
Prognosis

Anak-anak dengan otitis media efusi memiliki prognosis yang baik untuk
mencapai tahap resolusi sekitar 60% dalam 1 bulan dan 75% setelah 3 bulan.
Namun otitis media efusi memiliki 30-40% kemungkinan rekurensi kembali
setelah diobservasi beberapa tahun menurut sebuah penelitian.

2.4 Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)


2.4.1 Definisi

34

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga


tengah, tuba eustakhius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Otitis Media
Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah radang
kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada gendang telinga
(membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otore)
lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin
serous, mukous, atau purulen.
Otitis Media Akut (OMA) dengan perforasi membran timpani dapat
menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2
bulan. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK, antara lain:
terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman
yang tinggi, daya tahan tubuh pasien yang rendah (gizi kurang), dan higiene
yang buruk.
2.4.2

Epidemiologi
Otitis media supuratif kronik merupakan penyakit THT yang paling

banyak ditemukan di negara sedang berkembang. Secara umum insiden


OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih
sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin
Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. Walaupun demikian, lebih
dari 90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia
Tenggara, daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di
Pasifik.

Kehidupan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh, dan

status kesehatan serta gizi yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar
untuk meningkatnya prevalensi OMSK pada negara yang sedang berkembang.

35

Survei prevalensi di seluruh dunia menunjukkan bahwa beban dunia akibat


OMSK melibatkan 65330 juta orang dengan telinga berair, dimana 60% di
antaranya (39200 juta) menderita kurangnya pendengaran yang signifikan.
Secara umum, prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,8% dan termasuk
dalam klasifikasi tinggi dalam tingkatan klasifikasi insidensi. Pasien OMSK
meliputi 25% dari pasien-pasien yang berobat di poliklinik THT rumah sakit
di Indonesia. Berdasarkan Survei Nasional Kesehatan Indera Penglihatan dan
Pendengaran oleh Departemen Kesehatan R.I tahun 1994-1996, angka
kesakitan (morbiditas) Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) di Indonesia
sebesar 38,6% dengan prevalensi morbiditas tertinggi pada kasus telinga dan
gangguan pendengaran yaitu sebesar 38,6% dan prevalensi otitis media
supuratif kronis antara 2,1-5,2%. Data poliklinik THT RSUP H. Adam Malik
Medan tahun 2006 menunjukkan pasien OMSK merupakan 26% dari seluruh
kunjungan pasien.
2.4.3

Klasifikasi

OMSK dapat dibagi atas 2 tipe, yaitu :


a. Tipe tubotimpani (tipe jinak/tipe aman/tipe rinogen)
Proses peradangan pada OMSK tipe tubotimpani hanya terbatas pada
mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang. Tipe tubotimpani ditandai
oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi
dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi
keadaan ini terutama patensi tuba eustakhius, infeksi saluran nafas atas,
pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya
tahan tubuh yang rendah. Disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob,

36

luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel
skuamosa juga berperan dalam perkembangan tipe ini. Sekret mukoid kronis
berhubungan dengan hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga
tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek.
b. Tipe atikoantral (tipe ganas/tipe tidak aman/tipe tulang)
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Perforasi tipe
ini letaknya marginal atau di atik yang lebih sering mengenai pars flaksida.
Karakteristik utama dari tipe ini adalah terbentuknya kantong retraksi yang
berisi tumpukan keratin sampai menghasilkan kolesteatom.
Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega,
berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah mengalami
nekrotik. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan
kuman, yang paling sering adalah proteus dan pseudomonas. Hal ini akan
memicu respon imun lokal sehingga akan mencetuskan pelepasan mediator
inflamasi dan sitokin. Sitokin yang dapat ditemui dalam matrik kolesteatom
adalah interleukin-1, interleukin-6, tumor necrosis factor-, dan transforming
growth factor. Zat-zat ini dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks
kolesteatom

yang

bersifat

hiperproliferatif,

destruktif,

dan

mampu

berangiogenesis. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ


sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Terjadinya proses
nekrosis

terhadap tulang diperhebat oleh reaksi asam oleh pembusukan

bakteri.
Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:
1. Kongenital

37

Kolestatom kongenital terbentuk pada masa embrionik. Patogenesis


kolesteatom kongenital tidak sepenuhnya dimengerti. Namun ada beberapa
teori diantaranya Teed menyatakan bahwa penebalan epitel ektodermal
berkembang bersama-sama dengan ganglion genikulatum , dari medial sampai
ke bagian leher dari tulang malleus. Kumpulan epitel ini nantinya akan
mengalmi involusi menjadi lapisan lapisan epitel telinga tengah. Jika involusi
ini gagal terjadi maka kumpulan epitel tersebut akan menjadi kolesteatom
kongenital.
Pada kolesteatom kongenital ditemukan membran timpani utuh tanpa
tanda-tanda infeksi, lokasi kolesteatom biasanya di kavum timpani, daerah
petrosus mastoid atau di serebelopontin angle.

Gambar 2.16 Kolesteatom kongenital


2.

Didapat (Akuisital)
Kolesteatom yang terbentuk setelah anak lahir, dapat dibagi atas:

Primary acquired cholesteatoma.


Kolesteatom yang terjadi tanpa didahului oleh perforasi membran

timpani pada daerah atik atau pars flasida, timbul akibat adanya proses
invaginasi dari membrane timpani pars flaksida karena adanya tekanan
negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba.

38

Gambar 2.17 Kolesteatom didapat


Secondary acquired cholesteatoma.

Kolesteatom yang terbentuk setelah terjadi perforasi membran timpani.


Kolesteatom terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang
telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah
(teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasia mukosa kavum timpani
karena iritasi infeksi yang berlansung lama (teori metaplasia).
Teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat implantasi
epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah sewaktu operasi,
setelah blust injury, pemasangan pipa ventilasi, atau setelah miringotomi.
Kolesteatom merupakan media yang baik untuk tempat pertumbuhan
kuman (infeksi), yang paling sering adalah Proteus dan Pseudomonas
aeruginosa. Sebaliknya infeksi dapat memicu respon imun local yang
mengakibatkan produksi berbagai mediator inflamasi dan berbagai sitokin.
Sitokin yang diidentifikasi terdapat pada matrix kolesteatom adalah
interleukin-1 ( IL-1), interleukin-6, tumor necrosis factor alpha, dan
transforming growth factor. Zat- zat ini dapat menstimulasi sel-sel
kolesteatom

bersifat

berangiogenesis.

hiperproliferatif,

destruktif

dan

mampu

39

2.4.4 Faktor Risiko


Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari
nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis) dan mencapai telinga
tengah melalui tuba eustakhius. Fungsi tuba eustakhius yang abnormal
merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan palatoskisis
dan sindrom down. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring
yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Faktor
host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah
defisiensi imun sistemik. Kelainan humoral, seperti hipogammaglobulinemia
dan cell-mediated (infeksi HIV) dapat timbul sebagai infeksi telinga kronis.
Faktor-faktor risiko OMSK antara lain :
1. Lingkungan
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas,
tetapi terdapat hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosio
ekonomi, dimana kelompok sosio ekonomi rendah memiliki insiden yang
lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan, bahwa hal ini berhubungan
dengan kesehatan secara umum, diet, dan tempat tinggal yang padat.
2. Genetik
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah
insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan
sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada
penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau
sekunder.

40

3. Otitis media sebelumnya


Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari
otitis media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui
faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan berkembangnya penyakit ke
arah keadaan kronis.
4. Infeksi
Proses infeksi pada otitis media supuratif kronis sering disebabkan
oleh campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten
terhadap standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering dijumpai
pada OMSK ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus sp. 20%
dan Staphylococcus aureus 25%.
Jenis bakteri yang ditemukan pada OMSK agak sedikit berbeda dengan
kebanyakan infeksi telinga lain, karena bakteri yang ditemukan pada
OMSK pada umumnya berasal dari luar yang masuk ke lubang perforasi
tadi.
5. Infeksi saluran nafas atas
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi infeksi
saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga
tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme
yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan
pertumbuhan bakteri.
6. Autoimun
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insidens lebih besar
terhadap otitis media kronis.

41

7. Alergi
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih
tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya
sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri
atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti kebenarannya.
8. Gangguan fungsi tuba eustakhius
Hal ini terjadi pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustakhius sering
tersumbat oleh edema. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan
perforasi membran timpani menetap pada OMSK :
a)

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang


mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.

b)

Berlanjutnya

obstruksi

tuba

eustakhius

yang

mengurangi

penutupan spontan pada perforasi.


c)

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan


melalui mekanisme migrasi epitel.

Pada pinggir perforasi, epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan


yang cepat di atas sisi medial dari membran timpani yang hal ini juga
mencegah penutupan spontan dari perforasi.

2.4.5

Patogenesis
OMSK dimulai dari episode infeksi akut terlebih dahulu. Patofisiologi dari

OMSK dimulai dari adanya iritasi dan inflamasi dari mukosa telinga tengah
yang disebabkan oleh multifaktorial, diantaranya infeksi yang dapat
disebabkan oleh virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan

42

tubuh turun, lingkungan dan sosial ekonomi. Kemungkinan penyebab


terpenting mudahnya anak mendapat infeksi telinga tengah adalah struktur
tuba pada anak yang berbeda dengan dewasa dan kekebalan tubuh yang belum
berkembang sempurna sehingga bila terjadi infeksi jalan napas atas, maka
lebih mudah terjadi infeksi telinga tengah berupa Otitis Media Akut (OMA).
Respon inflamasi yang timbul adalah berupa udem mukosa. Jika proses
inflamasi ini tetap berjalan, pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya
ulkus dan merusak epitel. Mekanisme pertahanan tubuh penderita dalam
menghentikan infeksi biasanya menyebabkan terdapatnya jaringan granulasi
yang pada akhirnya dapat berkembang menjadi polip di ruang telinga tengah.
Jika lingkaran antara proses inflamasi, ulserasi, infeksi dan terbentuknya
jaringan granulasi ini berlanjut terus akan merusak jaringan sekitarnya.
2.4.6
1.

Manifestasi Klinis
Telinga berair (otore)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer)

tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas


kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe ganas unsur
mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya
lapisan mukosa secara luas. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri
mengarah kemungkinan tuberkulosis.
2.

Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya

dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan


pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena

43

daerah yang sakit ataupun kolesteatom dapat menghantar bunyi dengan efektif
ke fenestra ovalis. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif
berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga
kolesteatom

bertindak

sebagai

penghantar

suara

sehingga

ambang

pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati.


Penurunan fungsi koklea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen
rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila
terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat. Hantaran tulang
dapat menggambarkan sisa fungsi koklea.
3.

Otalgia (nyeri telinga)


Adanya nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK dan bila ada

merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena
terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi
akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus
lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada
tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda
berkembang komplikasi OMSK seperti petrositis, subperiosteal abses, atau
trombosis sinus lateralis.
4.

Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.

Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin


akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Pada penderita yang sensitif,
keluhan vertigo dapat terjadi karena perforasi besar membran timpani yang

44

akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu.


Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan keluhan vertigo.
Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan
temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga
tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana
mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus
OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif
dan negatif pada membran timpani.
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :
a.

Adanya abses atau fistel retroaurikular

b.

Jaringan granulasi atau polip di liang telinga yang berasal dari


kavum timpani.

c.

Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)

d.

Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

2.4.7

Diagnosis

Diagnosis OMSK ditegakan dengan cara:


1.

Anamnesis (history-taking)
Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita

seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap. Gejala


yang paling sering dijumpai adalah telinga berair. Pada tipe tubotimpani
sekretnya lebih banyak dan seperti benang, tidak berbau bususk, dan
intermiten. Sedangkan pada tipe atikoantral sekretnya lebih sedikit, berbau
busuk, kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, dan

45

sekret yang keluar dapat bercampur darah. Ada kalanya penderita datang
dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah.
2.

Pemeriksaan otoskopi
Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari

perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah.


3.

Pemeriksaan audiologi
Evaluasi audiometri dan pembuatan audiogram nada murni untuk menilai

hantaran tulang dan udara penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan


pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang. Audiometri tutur
berguna untuk menilai speech reception threshold pada kasus dengan tujuan
untuk memperbaiki pendengaran.
4.

Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis

memiliki nilai diagnostik yang terbatas bila dibandingkan dengan manfaat


otoskopi dan audiometri. Pemeriksaan radiologi biasanya memperlihatkan
mastoid yang tampak sklerotik dibandingkan mastoid yang satunya atau yang
normal. Erosi tulang yang berada di daerah atik memberi kesan adanya
kolesteatom. Proyeksi radiografi tyang sekarang biasa digunakan adalah
proyeksi schuller dimana pada proyeksi ini akan memperlihatkan luasnya
pnematisasi mastoid dari arah lateral dan atas.
Pada CT scan akan terlihat gambaran kerusakan tulang oleh kolesteatom,
ada atau tidaknya tulangtulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat
fistula pada kanalis semisirkularis horizontal.
5.

Pemeriksaan bakteriologi

46

Walaupun perkembangan dari OMSK merupakan kelanjuan dari mulainya


infeksi akut, bakteri yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan
yang ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang sering dijumpai
pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan
Proteus sp. Sedangkan bakteri pada otitis media supuratif akut adalah
Streptococcus pneumonie dan H. influenza.
Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus
paranasal, adenoid, atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah
pneumokokus, streptokokus atau H. influenza. Akan tetapi, pada OMSK
keadaan ini agak berbeda karena adanya perforasi membran timpani maka
infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi.
2.4.8

Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luas infeksi, yang

dapat dibagi atas: konservatif dan operasi


1.

Otitis media supuratif kronik benigna


a. Otitis media supuratif kronik benigna tenang
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk
jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi,
dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas
atas.

Bila

fasilitas

memungkinkan

sebaiknya

dilakukan

operasi

rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi


berulang serta gangguan pendengaran.
b. Otitis media supuratif kronik benigna aktif
Prinsip pengobatan OMSK adalah :

47

1.

Membersihkan liang telinga dan kavum timpani (toilet telinga)


Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai
untuk perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga
merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme.

2. Pemberian antibiotika :
a) Antibiotik topikal
Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret
yang banyak tanpa dibersihkan dulu adalah tidak efektif. Bila
sekret berkurang atau tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang
mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Irigasi dianjurkan
dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam yang merupakan
media yang buruk untuk tumbuhnya kuman.
Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik
adalah :
1. Polimiksin B atau polimiksin E
Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.
2. Neomisin
Obat bakterisid pada kuman gram positif dan negatif. Toksik
terhadap ginjal dan telinga.
3.

Kloramfenikol
Obat ini bersifat bakterisid terhadap basil gram positif dan
negatif kecuali Pseudomonas aeruginosa.
b) Antibiotik sistemik.

48

Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya


berdasarkan kultur kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak
lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.
Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor
penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut.
Untuk bakteri aerob dapat digunakan golongan kuinolon
(siprofloksasin dan ofloksasin) atau golongan sefalosforin generasi
III (sefotaksim, seftazidin, dan seftriakson) yang juga efektif untuk
Pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral.
Untuk bakteri anaerob dapat digunakan metronidazol yang
bersifat bakterisid. Pada OMSK aktif dapat diberikan dengan dosis
400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama
2-4 minggu.
2.

Otitis media supuratif kronik maligna.


Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi.

Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan


terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses
subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
kemudian dilakukan mastoidektomi. Ada beberapa jenis pembedahan atau
teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis
kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain :
1.

Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)


Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan

pengobatan konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini

49

dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya


adalah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada operasi ini
fungsi pendengaran tidak diperbaiki.
2.

Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe bahaya dengan infeksi atau

kolesteatom yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan
kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patolgik. Dinding batas
antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid
diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu
ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan
patologik dan mencegah komplikasi intrakranial, sementara fungsi
pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak boleh
berenang seumur hidupnya dan harus kontrol teraut ke dokter.
3.

Mastoidektomi radikal dengan modifikasi


Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik,

tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan


dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ini adalah
untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan
mempertahankan pendengaran yang masih ada.
4.

Miringoplasti
Operasi ini merupakan operasi timpanoplasti yang paling ringan,

dikenal juga dengan timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan di


membran timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya
infeksi telinga tengah pada OMSK tipe aman dengan perforasi yang

50

menetap. Operasi ini dilakukan pada AMSK tipe aman fase tenang dengan
ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani.
5.

Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang

lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenagkan dengan
pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan
penyakit serta memperbaiki pendengaran.
Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali
harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan
bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal
istilah timpanoplasti tipe II, III, IV, dan V. Sebelum rekonstruksi
dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan atau
tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak
jarang operasi ini harus dilakukan 2 tahap dengan jarak waktu 6 s/d 12
bulan.
2.4.9

Komplikasi

Komplikasi OMSK antara lain :


1. Komplikasi di telinga tengah
Akibat infeksi telingan tengah hampir selalu berupa tuli konduktif. Pada
membran timpani yang masih utuh, tetapi rangkaian tulang pendengaran
terputus, akan menyebabkan tuli konduktif yang berat.
2. Komplikasi di telinga dalam
Fistula labirin

51

Otitis media supuratif kronis terutama yang dengan kolesteatom dapat


menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin,
sehingga terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk, sehingga
terjadi labirinitis dan akhirnya akan terjadi komplikasi tuli total atau
meningitis.
Labirinitis
Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut labirinitis
umum (general), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat,
sedangkan labirinitis terbatas (labirinitis sirkumskripta) menyebabkan
vertigo saja atau tuli saraf saja.
Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi di ruang perilimfa.
Terdapat dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan supuratif.
Labirinitis serosa dapat berbentu labirinitis serosa difus dan sirkumskripta.
Labirinitis supuratif dibagi atas labirinitis supuratif akut difus dan kronik
difus.
3. Komplikasi ke Ekstradural
Petrositis
Penyebaran infeksi telinga tengah ke apeks os petrosum yang langsung
ke sel-sel udara. Keluhannya antara lain diplopia (n.VI), nyeri daerah
parietal, temporal, dan oksipital (n.V), otore persisten. Dikenal dengan
sindrom Gradenigo. Keluhan lain keluarnya nanah yang terus menerus dan
nyeri yang menetap paska mastoidektomi. Pengobatannya operasi
(ekspolorasi sel-sel udara os petrosum dan jaringan pathogen) serta
antibiotika.

52

Tromboflebitis Sinus Lateralis


Akibat infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati os mastoid. Hal ini
jarang terjadi. Gejalanya berupa demam yang awalnya naik turun lalu
menjadi berat yang disertai menggigil (sepsis). Nyerinya tidak jelas
kecuali terjadi abses perisinus. Kultur darah positif terutama saat demam.
Abses Ekstradural
Terkumpulnya nanah antara duramater dan tulang. Hal ini berhubungan
dengan jaringan granulasi dan kolesteatom yang menyebabkan erosi
tegmen timpani atau mastoid. Gejala berupa nyeri telinga hebat dan nyeri
kepala. Rontgen mastoid posisi Schuller, tampak kerusakan tembusnya
lempeng tegmen. Sering terlihat waktu operasi mastoidektomi.
Abses Subdural
Biasanya tromboflebitis melalui vena. Gejala berupa demam, nyeri
kepala dan penurunan kesadaran sampai koma, gejala SSP berupa kejang,
hemiplegia dan tanda kernig positif.
4. Komplikasi ke SSP
Meningitis
Gambaran klinik berupa kaku kuduk, demam, mual muntah, serta
nyeri kepala hebat. Pada kasus berat kesadaran menurun. Analisa LCS
kadar gula menurun dan protein meninggi. Meningitis diobati terlebih
dahulu kemudian dilakukan mastoidektomi.
Abses Otak
Ditemukan di serebelum, fossa kranial posterior/lobus temporal, atau
fossa kranial media. Berhubungan dengan tromboflebitis sinus lateralis,

53

petrositis atau meningitis. Biasanya merupakan perluasan langsung dari


infeksi telinga dan mastoid atau tromboflebitis. Umumnya didahului abses
ekstradural.
Hidrosefalus Otitis
Hal ini disebabkan tertekannya sinus lateralis sehingga lapisan
arakhnoid gagal mengabsorbsi LCS. Ditandai dengan peninggian tekanan
LCS yang hebat tanpa kelainan kimiawi. Pada pemeriksaan terdapat
edema papil. Gejala berupa nyeri kepala menetap, diplopia, pandangan
kabur, mual dan muntah.
2.4.10 Prognosis
Pasien dengan OMSK memiliki prognosis yang baik apabila dilakukan
kontrol yang baik terhadap proses infeksinya. Pemulihan dari fungsi
pendengaran bervariasi dan tergantung dari penyebab. Hilangnya fungsi
pendengaran oleh gangguan konduksi dapat dipulihkan melalui prosedur
pembedahan, walaupun hasilnya tidak sempurna.
Keterlambatan dalam penanganan karena sifat tidak acuh dari pasien dapat
menimbulkan kematian yang merupakan komplikasi lanjut OMSK yang tidak
ditangani dengan segera. Kematian akibat OMSK terjadi pada 18,6% pasien
karena telah mengalami komplikasi intrakranial yaitu meningitis.