Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

ARTERITIS TEMPORALIS
Oleh :
1. I Gusti Ayu Putu Eka K. D.
2. Yunri Steviani Saudale
3. Monica Threstia

PENDAHULUAN
Pertama kali dijelaskan oleh Hutchinson

pada tahun 1890, dan ahli histopatologis


Horton pada tahun 1932.
Kebutaan terkait dengan arteritis
temporalis pertama kali dilaporkan oleh
Jennings pada tahun 1938.
Di Amerika Serikat pada tahun 1975 : 133
kasus per 100.000 pada orang yang
berusia 50 tahun atau lebih.
Skandinavia insiden 23,3-33,6 per
100.000 pada orang yang berusia 50
tahun atau lebih.

DEFINISI
adalah keradangan kronik vaskuler

yang merupakan suatu kondisi


dimana arteri temporalis yang
berfungsi mengalirkan darah ke
kepala
dan
otak
mengalami
inflamasi atau kerusakan.

ANATOMI

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi lebih banyak pada

individu yang berusia >50 tahun


lebih

sering
menyerang
perempuan
dengan
resiko
perempuan dan laki-laki kira-kira
3,7:1

ETIOLOGI
Belum diketahui
Multifaktorial dan ditentukan oleh

faktor lingkungan dan genetik


Autoimun
Paparan antigen eksogen

PATOFISIOLOGI
Kerusakan vaskulitis dimediasi oleh

CD4+ yang diaktifkan sel T helper


dalam menanggapi antigen yang
disajikan oleh makrofag
Respon
inflamasi
primer
mempengaruhi
lamina
elastis
internal
Sebagian besar respon inflamasi
ini juga menyerang arteri temporal
superfisial yang mencerminkan
predileksi untuk lamina elastis

PATOFISIOLOGI
Arteritis temporalis biasanya mempengaruhi
arteri dalam pola berikut :
Arteri karotis eksterna dan interna ekstrakranial
dan segmen proksimal intrakranial.
Cabang intraorbital, terutama siliari posterior
dan arteri oftalmik.
Arteri vertebralis.
Arteri subklavia, arteri axilla, dan arteri
brachialis proksimal
Keterlibatan aorta ascending pada arteritis
temporalis dapat menyebabkan pecahnya
aorta, dan arteritis koroner dapat menyebabkan
infark miokard.

GEJALA KLINIS
Nyeri kepala
Nyeri tekan kulit kepala
Nyeri saat mengunyah
amaurosis

fugax yang dapat beresiko


menyebabkan
terjadinya
kebutaan
monookular permanen.
Diplopia
Demam yang tidak terlalu tinggi, keringat
pada malam hari, nyeri pada otot bahu /
panggul,
malaise,
anoreksia,
dan
penurunan berat badan.

PEMERIKSAAN
LED (meningkat >100 mm/jam
Pemeriksaan

darah
menunjuk
gambaran anemia normokromik
normositik
dan
tes
fungsi,
peningkatan alkali fosfatase

Biopsi arteri temporalis

DIAGNOSA
Kriteria diagnosis menurut American
College of Rhematology :
Pasien usia 50
Nyeri kepala yang baru dirasakan
nyeri arteri temporalis pada palpasi
atau penurunan denyut arteri
temporalis
Peningkatan LED (>50 mm/jam
dengan metode Westergreen)
Biopsi abnormal

DIAGNOSA BANDING
Cluster headache
Confusional states and acute

memory disorder
Migraine variants
Multi-infarct dementia
Persistent idiopathic facial pain
Polyarteritis nodosa
Postherpetic neuralgia
Trigeminal neuralgia

PENATALAKSANAAN
Prednisolon PO dosis 40-60mg per hari
Pasien dengan gejala visual : natrium

suksinat methylprednisolone (Solumedrol) 250mg diberikan secara


intravena setiap enam jam,3-5 hari,
kemudian berlanjut dengan terapi
kotikosteroid oral
Aspirin dosis rendah

KOMPLIKASI
Komplikasi tanpa pengobatan antara

lain:
Kehilangan
penglihatan,
keterlibatan
pembuluh
jantung,
stroke, berkurangnya sirkulasi darah
di lengan dan kaki
Komplikasi

dengan
terapi
kortikosteroid adalah osteoporosis,
patah tulang dan infeksi.

Kematian

PROGNOSIS
Sebelum

kortikosteroid
dipakai
sebagai pilihan terapi, kebanyakan
penderita
arteritis
temporalis
kehilangan penglihatan mereka
Terapi yang memadai dan diagnosis
yang cepat, kejadian kebutaan dapat
diturunkan menjadi 9-25%
Terapi
kortikosteroid
yang
berkelanjutan
berkaitan
dengan
angka morbiditas pasien

TERIMA KASIH