Anda di halaman 1dari 19

PENGUKURAN TAHANAN SECARA TIDAK LANGSUNG

I.

TUJUAN
- Mengenal dua macam rangkaian untuk mengukur
-

arus dan tegangan


Mengena pengaruh tahanan dalma alat ukur serta
ikut memperhitungkan pengaruh itu ke dalam hasil

ukur
Mengerti cara menggambar dan menulis sistim

koordinat
Mengerti

cara-cara

fungsional

dalam

menunjukkan

tabel

maupun

hubungan

dalam

grafik

lengkungan.
II.

TEORI DASAR
II.1
Penentuan Tahanan Secara Tidak Langsung
Tahanan (dan daya) dari hambatan yang hanya
terdiri

atas

hambatan

murni

dapat

dihitung

berdasarkan hasil pengukuran tegangan dan arus


yang dipasang atau mengalir dalam hambatan itu.
II.1.1 Pengaruh tahanan dalam alat ukur atas hasil ukur
Bila tegangan yang dipasang pada suatu
hambatan

dan

didalamnya

harus

arus

yang

diukur,

mengalir

ada

(dua)

macam rangkaian pengukuran.


Rangkaian a

Rangkaian b

IR

IV

V
V

VR

Rangkaian ini ditinjau terhadap


Hambar R akan mengukur
Tegangan

Arus

Dengan tepat dan teliti


Dalam rangkaian ini
Amperemeter

Tegangan yang

Dalam hambatan

dipasang pada
Rangkaian

Akan tetapi juga


Arus yang mengalir

Jatuh tegangan

Pada Voltmeter

pada

Amperemeter
Kesalahan pengukuran yang disebabkan oleh hal-hal diatas
dalam praktek dapat diabaikan bila
IV IR/100

VA

VR/100
Atau
Tahanan dalam

Tahanan dalam

voltmeter
amperemeter
Rdv 100 R

Rda R/100

Biasanya persyaratan ini dapat dipenuhi dengan pemilihan alat


ukur dan rangkaian penukuran yang tepat. Bila persyaratan
diatas tidak dapat dipenuhi, maka hasil ukur yang dipengaruhi
oleh tahanan dalam alat ukur tadi dapat dikoreksi dengan
bantuan hubungan-hubungan berikut:
Harga
Arus yang sebenarnya

tegangan yang

sebenarnya
Mengalir dalam

terpasang pada

Hambatan adalah :
IR = I V

VR = V VA

IV = V/R IV

VA = RIA I

IR = I V/RDV

VR = V RDA I

II.2 Sistim Salib Sumbu


Untuk dapar menggambarkan hubungan antara dua
buah besaran dengan betul dan tepat diperlukan
salib sumbu tegak. Sumbu horizontal disebut obsis
atau sumbu x dan tegak disebut ordinat atau sumbu
y.
Titik potong kedua sumbu adalah titik nol atau titik
awal sumbu. Pada kedua sumbu ditulis dan diukurkan
angka dari besaran-besaran yang saling
berhubungan. Setiap titik dalam sistim salib sumbu
ini selalu mempunyai dua harga, harga x dan y.
Daerah diantara kedua sumbu disebut kuadran (I IV). Tidak selamanya keempat kuadran ini

dibutuhkan. Pada umumnya, untuk dapat


menunjukkan hubungan-hubungan secara grafis
diperlukan hanya 1 atau 2 kuadran.

Pemilihan Skala
Setiap sumbu dalam sistem salib sumbu masingmasing dimaksudkan untuk dapat menggambarkan
besaran-besaran fisis. Untuk dapat memenuhi tujuan
ini perlu ditentukan terlebih dahulu skala yang tepat.
Dalam memilih skala ini, perlu diperhatikan agar
hatga-harga antara dua harga yang tercantum dapat
dibaca atau ditaksi dengan baik.
Contoh :

10

20

30

40 V (V)

20

30

40
Besar
satuan
Tugas : tabel berikut ini menunjukkan suatu contoh.
Pilih dan tentukanlah hal yang tepat.

Pemilihan Skala
Tepa Kurang

Penulisan
Lengka Kurang

tepat

lengkap

V
0

2V
0

9V
II.3 Lengkung, karakteristik dan fungsi-fungsi
Bila harga atau nlai suatu besaran fisis tergantung
pada besaran lain maka secara matematis hal ini
didefinisikan sebagai besaran tadi merupakan
fungsional tergantung satu sama lain.
Hubungan dan ketergantungan fungsional ini dapat
ditunjukkan atau digambarkan melalui persamaan,
tabel angka atau diagram lengkung.
Contoh : Luas permukaan lingkaran tergantung
pada besar
diameter lingkaran itu.

Persamaan :

Tabel
d (mm)
1
2
3
4

A = d2
1/4 A 2
A (mm2)
0,7854
3,142
7,069
12,569

(mm )

A=
(t)d

10
5
0

d (mm2)

Untuk dapar menggambarkan suatu lengkung, harus


terlebih dahulu diketahui beberapa titik dalam
lengkung itu. Titik ini diperoleh dari hasil pengukuran
dan perhitungan. Besaran yang tergantung (dalam
contoh diatas luas lingkaran) ditempatkan disumbu Y,
sedang besaran lain yang tidak tergantung (dikenal
juga dengan sebutan variabel) ditempatkan disumbu
X.
Dalam satu sistem sumbu salib dapat digambarkan
beberapa besaran yang masing-masing tergantung
pada satu besaran variabel yang sama.
Sesudah beberapa harga besaran yang tergantung
pada suatu besaran variabel dihitung atau diukur,
maka perlu ditentukan harga-harga lain dari besaran
itu untuk berbagai harga fisis dari variabel itu. Hargaharga yang didapat, disusun dalam satu tabel.
Sesudah itu baru dapat digambarkan dalam satu
sistem salib itu sebagai beberapa titik yang tertentu.

Karena suatu garis itu merupakan susunan titik-titik


yang tak terhingga jumlahnya maka harga besaran
diantara dua titik yang dihitung atau diukur tadi
harus dicari dengan cara interpolasi. Jadi bila suatu
fingsi Y = t (x), maka lengkung yang digambar
haruslah menjadi suatu lengkung yang kontiniu.
Contoh :
V

III.

ALAT DAN BAHAN


- Amperemeter DC analog
1 buah
- Voltmeter DC analog
1 buah
- Sumber tegangan searah, 12 V, 3 A
1 buah
- Tahanan geser 6, 8 ohm, 3 A
1 buah
- Tahanan 2k2 ohm, 1 w
1 buah
- Saklar pindah
1 buah
- Transformator, belitan untuk 3 A
1 buah
- Tahanan 22k ohm
1 buah
- Papan percobaan
1 buah
- Kabel penghubung
10 buah

IV.

LANGKAH KERJA
IV.1
Arus pada voltmeter
Ukurlah tegangan V dari sumber tegangan searah
12 volt. hitung berapa besar arus yang mengalir
dalam voltmeter.
A
+
-

12 V

Arus Iv akan makin


V

besar dengan
membesar
menunjukkan jarum
voltmeter.

Catatan : perhatikan bahwa arus Iv juga dapat


dihitung dari besarnya tegangan pada voltmeter
dan tahanan dalam voltmeter pada skala
maksimum tertentu. Tahanan ini ditulis pada alat
ukur besarnya ditulis untuk masing-masing sakala
maksimum atau harga yang disebut konstanta
voltmeter (= ohm per volt untuk skala maksimum)
V
Iv=
Rdv
IV.2

Penurunan tegangan pada

Amperemeter
Buatlah rangkaian berikut.
V
A
12V

VA

Makin besar

R
penunkukkan jarum
=2K2
makin besar
jatuh
Catatan : jatuh tegangan VA
pada amperemeter
dapat

pula dihitung dengan arus I dan tahanantegangan


dalam pada
amperemeter
amperemeter RA.
V A =R dA I
Biasanya jatuh tegangan pda setiap skala maksimum
pada alat-alat ukur selalu diberikan.

V.

HASIL DAN ANALISA


V.1
HASIL
V.1.1 Arus pada Voltmeter

No
1
2
3
4
5
6
7

Tegangan

Arus I

Tegangan

Sumber (Volt)

(mA)

(Volt)

0
2
4
6
8
10
12

0
4,5
9,2
13,9
18,7
4,5
7,5

0
1,95
3,8
5,8
7,75
9,8
12

Batas Ukur
Tegang
Arus
an
2,5
10
2,5
10
2,5
10
2,5
10
2,5
10
2,5
50
2,5
50

V.1.2 Penurunan Tegangan pada Amperemeter

No
1
2
3
4
5
6
7

Tegangan

Tahana

Arus I

Tegangan

Sumber (Volt)

n 2k2

(mA)

(Volt)

0
2
4
6
8
10
12

2k2
2k2
2k2
2k2
2k2
2k2
2k2

0
8,8
17,5
9,5
84,5
45
55

0
2
4
5,9
7,75
10
12

Batas Ukur
Tegang
Arus
an
2,5
10
25
10
25
10
25
10
25
10
25
50
25
50

V.1.3 Penurunan Tegangan pada Amperemeter

No
1
2
3
4
5
6
7

Tegangan

Tahana

Arus I

Tegangan

Sumber (Volt)

n 2k2

(mA)

(Volt)

0
2
4
6
8
10
12

22k
22k
22k
22k
22k
22k
22k

0
1
1,8
3,2
3,5
4,8
5,5

0
2
3,85
5,7
7,5
10,1
12

Batas Ukur
Tegang
Arus
an
2,5
10
2,5
10
2,5
10
2,5
10
2,5
10
2,5
50
2,5
50

V.2
ANALISA
V.2.1 Analisa Arus pada Voltmeter
Dari hasil percobaan pada tabel 5.1.1 dapat kita
cari nilai arus I dengan cara perhitungn dengan
menggunakan rumus :
V
Rdv
Sebelum mencari nilai arus Iv dicari terlebih
Iv=

dahulu niai Rdv nya dengan cara membagikan


nilai tegangan terukur dengan arus pada

voltmeter yang terukur.


Perhitungannya yaitu sebagai berikut :
V
Iv=
Rdv
1,95
4,5=
Rdv
1,95
Rdv=
=0,43 ohm
4,5
Vs
Iv=
Rdv
2

=4,6 ampere
0,43
V
Rdv
3,8
9,2=
Rdv
3,8
Rdv= =0,41ohm
9,2
Vs
Iv=
Rdv
4

=9,75 ampere
0,41
V
Iv=
Rdv
5,8
13,9=
Rdv
5,8
Rdv=
=0,417 ohm
13,9
Vs
Iv=
Rdv
Iv=

6
=14,3 ampere
0,417
V
- Iv=
Rdv
7,75
18,7=
Rdv
7,75
Rdv=
=0,414 ohm
18,7
Vs
Iv=
Rdv
8

=19,32 ampere
0,414
V
- Iv=
Rdv
9,8
4,5=
Rdv
9,8
Rdv=
=2,17 ohm
4,5
Vs
Iv=
Rdv
10

=4,6 ampere
2,17
V
- Iv=
Rdv
12
7,5=
Rdv
12
Rdv= =1,6 ohm
7,5
Vs
Iv=
Rdv
12

=7,5 ampere
1,6
Dari hasil perhitungan diatas terlihat adanya perbedaan

antara Iv hasil pengukuran dengan Iv hasil perhitungan


yang dapat disebabkan adanya faktor kesalahan pada alat
ukur atau juga dapat dikarenakan kesalahan pada
praktikan pada saat membaca hasil pengukuran pada alat
ukur.
V.2.2 Analisa penurunan tegangan dengan
amperemeter

V
RdA
2
8,8=
RdA
2
RdA=
=0,227 ohm
8,8
V A =R dA I
0,227 8,8=1,9 volt
V
I A=
RdA
4
17,5=
RdA
4
RdA=
=0,228 ohm
17,5
V A =R dA I
0,228 17,5=3,99 volt
V
I A=
RdA
5,9
9,5=
RdA
5,9
RdA=
=0,62ohm
9,5
V A =R dA I
0,62 9,5=5,89 volt
V
I A=
RdA
7,75
84,5=
RdA
7,75
RdA=
=0,09 ohm
84,5
V A =R dA I
0,09 84,5=7,605 volt
V
I A=
RdA
10
45=
RdA
10
RdA= =0,22 ohm
45
V A =R dA I
0,22 45=9,9 volt
V
I A=
RdA
12
55=
RdA
I A=

12
=0,218 ohm
55
V A =R dA I
0,218 55=11,99 volt
RdA=

Perhitungan diatas merupakan perhitungan jatuh


tegangan (VA) berdasarkan hasil tabel 5.1.2 dengan
tahanan 2k2 ohm.
V.2.3 Analisa penurunan tegangan dengan
-

amperemeter
V
I A=
RdA
2
1=
RdA
2
RdA= =2 ohm
1
V A =R dA I
2 1=2 volt
V
I A=
RdA
3,85
1,8=
RdA
3,85
RdA=
=2,13 ohm
1,8
V A =R dA I
2,13 1,8=3,8 volt
V
I A=
RdA
5,7
3,2=
RdA
5,,7
RdA=
=1,78 ohm
3,2
V A =R dA I
1,78 3,2=5,69 volt
V
I A=
RdA
7,5
3,5=
RdA
7,5
RdA=
=2,14 ohm
3,5
V A =R dA I
2,14 3,5=7,49 volt

V
RdA
10,1
4,8=
RdA
10,1
RdA=
=2,10 ohm
4,8
V A =R dA I
2,10 4,8=10,08 volt
V
I A=
RdA
12
5,5=
RdA
12
RdA=
=2,18 ohm
5,5
V A =R dA I
2,18 5,5=11,99 volt
Dari hasil perhitungan diatas merupakan perhitungan
I A=

jatuh tegangan (VA) dengan mencari nilai tahanan


dalam (RdA) nya terlebih dahulu.
Berikut ini merupakan grafik dari hasil tabel 1, 2, dan
3 dengan menggunakan I terukur dan tegangan
sumber. Grafik di bawah ini merupakan grafik fungsi
tegangan sumber terhadap arus yang terukur.
I
(mA)

1.Arus pada voltmeter

VI.

TUGAS DAN PERTANYAAN


VI.1Ukurlah tegangan V dari sumber tegangan searah
12 volt. berapa besar arus yang mengalir dalam
voltmeter. Arus Iv ini diukur dengan rangkaian :

Jawab :
Diketahui : Vs = 12 volt
Ditanya : Iv dari rangkaian ?
Penyelesaian :
Arus Iv diukur berdasarkan rangkaian dengan diberi
tegangan sumber sebesar 12 volt adalah 7,5 mA.
VI.2 Dengan rangkaian berikut amperemeter dipakai
untuk mengukur arus I yang mengalir dari hambatan
R. Berapa besar jatuh tegangan VA pada
amperemeter A ? (ukurlah VA)

Jawab :
Diketahui : Vs = 12 volt
R = 2k2 ohm
Ditanya : VA (jatuh tegangan) ?
Penyelesaian :
V
I A=
RdA
12
5,5=
RdA

12
=2,18 ohm
5,5
V A =R dA I
2,18 5,5=11,99 volt
RdA=

6.3 Tahanan murni dari belitan suatu transformator harus dihitung


dengan mangukur arus dan tegangan dalam rangkaian berikut.
Saklar pemindah dipasang dalam rangkaian voltmeter sedemikian
sehingga tegangan dapat diukur sebelum atau sesudah ampermeter.
Rangkaian percobaan :

IR

VR
12V DC

R
R1

Data dan pengamatan yang harus dilakukan :


Untuk setiap posisi scalar pemindah ukurlah 5 macam harga arus
dan tegangan. Gambarkanlah tegangan sebagai fungsi dari arus
Berapa besar tahanan yang dihasilkan dari kedua macam
pengukuran (kemiringan garis lurus) ?
Yang mana yang lebih tepat ?
Sesuai butir 2.1.1 hitunglah harga sebenarnya dari :
1. Arus IR pada posisi saklar kanan (1)
2. Tegangan VR pada posisi saklar kiri (2)

VI.4 Tahanan beban R harus dicari dengan bantuan pengukuran arus


dan tegangan pada rangkaian berikut. Suatu saklar pemindah pada
rangkaian voltmeter akan memungkinkan pengukuran tegangan
sesudah atau sebelum ampermeter (1) atau (2).
Rangkaian percobaan ;
IR
V

12V DC

10k R
1

VR

Data dan pengamatan yang harus dilakukan untuk setiap posisi


saklar pemindah, ukurlah arus untuk 5 (lima) macam tegangan.
Gambarkanlah arus sebagai fungsi tegangan dalam system salip
sumbu.
Berapa besar tahanan yang diberikan oleh kedua garis fungsi tadi
(= kemiringan garis lurus)? Pengukuran mana yang lebih teliti?
Hitung berdasarkan butir 2.1.1 harga
a. Arus pada saklar pemindah posisi satu
b. Tegangan VR pada saklar pemindah posisi dua
Yang sebenarnya.
VII.

KESIMPULAN
Selesaikan praktikan melakukan percobaan dapat
disimpulkan bahwa :
- Arus pada voltmeter Iv dapat dihitung dari besarnya
tegangan pada voltmeter dan tahanan dalam

voltmeter pada skala maksimum tertentu dengan

rumus :
V
Iv=
Rdv
Penurunan tegangan pada amperemeter (jatuh
tegangan VA) dapat dihitung dengan rumus :
VA=RdA I
Dengan mencari terlebih dahulu harga tahanan
dalam amperemeter.

Anda mungkin juga menyukai