Anda di halaman 1dari 14

A.

B.

PENGERTIAN
Kanker lambung adalah sejenis kanker saluran cerna dengan insidensi paling tinggi. akhir tahun 1997 telah dibuktikan bahwa Helicobacter pylori juga
memegang peranan kausal pada semua tumor ini. banyak pengidap kanker lambung semula melalui gastritis kronis dan atrofia sel diduga berangsur-angsur
menyebabkan berkembangnya tumor ganas. pembedahan dan radiasi kini tidak diperlukan lagi karena kuman dapat dibasmi dengan antibiotika. (Tjay, Tan Joan :
2002)
Kanker lambung adalah adenokarsinoma yang muncul paling sering sebagai massa ireguler dengan penonjolan ulserasi sentral yang dalam ke lumen dan
menyerang lumen dinding lambung. (Harnawatiah : 2008)
ETIOLOGI
Penyebab dari kanker lambung masih belum diketahui, akan tetapi, sejumlah faktor dihubungkan dengan penyakit tersebut juga dipercaya bahwa faktor eksogen
dalam lingkungan seperti bahan kimia karsinogen, virus onkogenik mungkin mengambil bagian penting dalam karsinoma lambung. Karena lambung mempunyai
kontak lama dengan makanan. Ada yang timbul sebagai hubungan dengan konsumsi gram yang meningkat. Ingesti nitrat dan nitrit dalam diet tinggi protein telah
memberikan perkembangan dalam teori bahwa senyawa karsinogen seperti nitrosamine dan nitrosamide dapat dibentuk oleh gerak pencernaan.

D.

MANIFESTASI KLINIK
Gejala awal dari kanker lambung sering tidak nyata karena kebanyakan tumor ini dikurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan ggn fungsi lambung.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yg hilang dgn antasida dapat menyerupai gejala pd pasien ulkus benigna. Gejala penyakit
progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia, dyspepsia, penurunan BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual serta muntah ( Harnawati,2008 ).
a. Bercak darah dalam tinja merupakan salah satu tanda-tanda menderita kanker perut Adanya darah saat membagikan feses juga disebabkan oleh kondisi lain,. Tapi
untuk kanker perut itu adalah salah satu gejala yang paling indikatif. Juga, itu adalah gejala yang dihubungkan ke beberapa jenis kanker. Ketika ada tumor hadir di
perut, mungkin menyebabkan darah mengalir keluar melalui tinja.
b. Penderitaan dari rasa sakit konstan dalam perut merupakan gejala dari kanker lambung. Hal ini bisa apa saja dari rasa sakit ringan sampai nyeri kram parah. Jenis
rasa sakit biasanya ada di daerah atas perut.
c. Konstan dengan mual muntah, terutama setelah Anda makan adalah tanda kanker lambung. mual mungkin gigih dan hadir untuk jangka waktu yang panjang. Hal
ini pernah berhubungan dengan demam atau sakit kepala. Jenis mual sering menunjukkan masalah kesehatan serius.
d. Kehilangan nafsu makan tanpa alasan adalah tanda lain yang cukup sering terlihat pada orang yang menderita dari kanker terdiagnosis dalam lambung. Beberapa
orang mungkin mengalami kembung di daerah perut bahkan jika mereka tidak makan apa-apa. Kebiasaan usus dapat berubah drastis.
Pada stadium awal kanker lambung, gejalanya tidak jelas dan sering tidak dihiraukan. Jika gejalanya berkembang, bisa membantu menentukan dimana lokasi kanker
lambung tersebut. Sebagai contoh, perasaan penuh atau tidak nyaman setelah makan bisa menunjukkan adanya kanker pada bagian bawah lambung.
Penurunan berat badan atau kelelahan biasanya disebabkan oleh kesulitan makan atau ketidakmampuan menyerap beberapa vitamin dan mineral. Anemia bisa
diakibatkan oleh perdarahan bertahap yang tidak menyebabkan gejala lainnya. Kadang penderita juga bisa mengalami muntah darah yang banyak (hematemesis) atau
mengeluarkan tinja kehitaman (melena).
Bila kanker lambung bertambah besar, mungkin akan teraba adanya massa pada dinding perut. Pada stadium awal, tumor lambung yang kecil bisa menyebar
(metastasis) ke tempat yang jauh.
Penyebaran tumor bisa menyebabkan pembesaran hati, sakit kuning (jaundice), pengumpulan cairan di perut (asites) dan nodul kulit yang bersifat ganas. Penyebaran
kanker juga bisa menyebabkan pengeroposan tulang, sehingga terjadi patah tulang ( Admin,2010 ).

C.

PATOFISIOLOGI
Beberapa faktor dipercaya menjadi precursor kanker yang mungkin, yaitu polip, anemia pernisiosa, prostgastrektomi, gastritis artofi kronis dan ulkus lambung
tidak mempengaruhi individu menderita kanker lambung, tetapi kanker lambung mungkin ada bersamaan dengan ulkus lambung dan tidak ditemukan pada
pemeriksaan diagnostik awal.
Tumor mungkin menginfiltrasi dan menyebabkan penyempitan lumen yang paling sering di antrum. Infiltrsi dapat melebar ke seluruh lambung, menyebabkan
kantong tidak dapat meregang dengan hilangnya lipatan normal dan lumen yang sempit, tetapi hal ini tidak lazim. Desi polipoid juga mungkin timbul dan
menyebabkan sukar untuk membedakan dari polip benigna dengan X-ray.
Kanker lambung mungkin timbul dari penyebaran tumor superficial yang hanya melibatkan permukaan mukosa dan menimbulkan keadaan granuler walaupun
hal ini jarang. Kira-kira 75% dari karsinoma ditemukan 1/3 distal lambung, selain itu menginvasi struktur lokal seperti bagian bawah dari esofagus, pankreas, kolon
transversum dan peritonium. Metastase timbul pada paru, pleura, hati, otak dan lambung.
FAKTOR-FAKTOR RESIKO
Masalah lingkungan dan nutrisi dapat mempengaruhi perkembangan dari kanker lambung. Makan makanan tinggi nitrat dan nitrit makanan yang telah diasinkan,
tidak adanya makanan segar dan jumlah vit. C, A dan E yang kurang dalam diet, tampaknya meningkatkan insiden tumor lambung. Perokok dan pengguna alkohol
berhubungan dengan perkembangan dari penyakit ini. Pekerja dalam industri tertentu juga mengalami kejadian kanker lambung yang tinggi. Pekerjaan ini meliputi
pabrik nikel, penambangan batu bara, pengolahan tambaga dan karet, asbestos. Status ekonomi yang rendah merupakan faktor resiko yang nyata dan mungkin dapat
menjelaskan pengaruh pekerjaan dan makanan. Ras dan usia juga merupakan faktor resiko.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Kesembuhan empiema adalah proses yang panjang. Perawat menolong pasien untuk mengatasi kondisi dan menginstruksikan latihan bernapas (pernapasan
dengan bibir dirapatkan dan difragmatik), yang membantu untuk memulihkan fungsi pernapasan normal. Perawat juga memberikan asuhan spesifik terhadap metode
drainase cairan pleura seperti aspirasi jarum, drainase dada tertutup, atau seksi iga dan drainase.
EVALUASI DIAGNOSTIK
Pemeriksaan fisik biasanya tidak membantu, kebanyakan tumor lambung tidak dapat diraba, asites mungkin muncul bila terdapat metastasis pada hepar.
Endoskopi untuk biopsi dan pencucian sitologis adalah pemeriksaan diagnostik umum. Pemeriksaan sinar-x terhadap saluran GI atas dengan barium juga dilakukan.
Karena metastase sering terjadi sebelum tanda peringatan ada, pemindai tomografi komputer, pemindai tulang, dan peminda hepar dilakukan dalam menentukan
luasnya metastasis. Tidak dapat makan (dispepsia) lebih dari 4 minggu pada individu berusia lebih dari 40 tahun memerlukan pemeriksaan sinar-x lengkap terhadap
saluran GI.
PENATALAKSANAAN MEDIS UMUM
Kemoterapi
Terapi radiasi
Pembedahan:
Esofagogastrektomi subtotal-untuk tumor yang dapat dioperasi pada lambung proksimal bagian bawah dari esofagus dianastomosiskan ke duodenum atau jejenum.
Pasien sering dipasang selang dada menyertai prosedur ini karena rongga dada dimasuki.
Gastrektomi total-untuk lesi di bagian bawah tengah lambung. Seluruh lambung diangkat, dan esofagus dianastomosiskan ke jejenum.
Gastrektomi subtotal-untuk lesi di antrum lambung bila pasien lansia atau cacat. Ini adalah operasi Billroth I di mana duodenum, lambung distal, pilorus, dan vaskuler
dan struktur penyokong diangkat, dan bagian lambung yang tersisa dijahit ke sisa duodenum.
Gastrektomi subtotal- operasi Billroth II, di mana prosedur lebih radikal daripada operasi Billroth I. Operasi meliputi pengangkatan antrum, pilorus, duodenum atas,
struktur vaskuler penyokong, dan semua limfatik di sekitarnya. Sisa lambung dijahit dalam bentuk side-to-side ke jejenum. Puntung duodenum dijahit tutup.
Komplikasi mayor dihubungkan dengan prosedur pembedahan gastrik adalah esofagitis (disebabkan oleh refluks aspirasi), kebocoran anastomotik, defisiensi
vitamin B12, penurunan berat badan, dan pneumonia. Komplikasi tambahan berkenaan dengan gastrektomi subtotal adalah sindrom dumping dan steatorea. (Lorenz,
1991)

D.

E.

F.

G.

a.
b.
c.
d.

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER LAMBUNG
A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
1.Riwayat atau adanya faktor resiko

Aklorhidria atau anemia pernisiosa

Riwayat ulkus gastrik


2.Pemeriksaan fisik berdasarkan survei umum (Apendiks F) dapat menunjukkan:

Keluhan awal dari perasaan tak enak karena rasa penuh dan ketidaknyamanan setelah makan. Pasien sering menginterpretasikan gejala ini sebagai kacau
lambung dan menggunakan obat dan antasida, yang memberi penghilangan sementara.
Bila tumor membesar, pasien mengalami:

Penurunan berat badan yang disebabkan oleh anoreksia, mual dan muntah.

Kelelahan dan kelemahan akibat anemia defisiensi nutrisi.

Disfagia bila tumor terletak di lambung proksimal.

Nyeri epigastrik yang disebabkan oleh distensi gastrik karena pembesaran tumor.

Massa epigastrik yang dapat teraba.


3.Pemeriksaan Diagnostik

Seri GI atas menunjukkan massa padat

Acan CT abdomen menunjukkan massa padat

Pemeriksaan endoskopi memberi visualisasi langsung terhadap lesi dan memungkinkan pengambilan spesimen untuk biopsi dan pemeriksaan sitologi

JDL menunjukkan anemia.


4.Kaji perasaan dan masalah pasien dan orang terdekat tentang penyakit.
5.Kaji pemahaman pasien dan orang terdekat tentang penyakit, pemeriksaan diagnostik, dan tindakan.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Berdasarkan pada semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama pasien dapat mencakup yang berikut ini :
1. Nyeri berhubungan dengan adanya sel epitel abnormal
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan syok atau hemoragi.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
4. Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.
5. Berduka diantisipasi dengan diagnosis kanker.

C.

RENCANA KEPERAWATAN

1. D.P 1 : Nyeri berhubungan dengan adanya sel epitel abnormal


Data Penunjang
Tujuan
Tidak mengalami atau mengurangi nyeri yang ada.
Subyektif :
Menyatakan nyeri
Kriteria :
Melaporkan nyeri berkurang, tak ada merintih, ekspresi wajah
Objektif :
Merintih dan meringis.
relaks.
INTERVENSI
1. Anjurkan periode istirahat.
2. Tenangkan pasien bahwa anda mengetahui nyeri yang dirasakan adalah nyata dan bahwa anda akan membantu pasien mengurangi nyeri tersebut.
3. Ajarkan pasien strategi baru untuk meredakan nyeri.
4. Melakukan tindakan kolaboratif untuk mengubah penatalaksanaan nyeri jika diperlukan.
5. Berikan analgesik untuk meningkatkan peredaran nyeri optimal dalam batas resep dokter.
2. D.P 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan syok atau hemoragi.
Data Penunjang
Tujuan
Tidak mengalami kekurangan volume cairan.
Subyektif :
Haus
Kriteria :
Tidak mengalami hemoragi, tanda vital dalam batas normal,
Objektif :
Penurunan tekanan darah, penurunan tekanan nadi, penurunan memberi tahu perawat tentang adanya tanda perdarahan, dan
turgor kulit, penurunan keluaran urine, kulit membran mukosa memberi tahu perawat tentang adanya pusing, peningkatan
mengering, hematokrit meningkat, suhu tubuh meningkat, frekuensi jantung, kekacauan mental, kelelahan yang berlebihan,
frekuensi nadi meningkat.
dan kulit lembab.
INTERVENSI
1. Pantau terhadap tanda-tanda hemoragi.
2. Observasi aspirasi lambung terhadap bukti adanya darah.
3. Berikan produk darah sesuai program.
4. Kaji klien terhadap tanda-tanda syok.
5. Evaluasi drainase dari balutan dan penampung drainase
6. Evaluasi TD, nadi, dan frekuensi pernapasan.
3. D.P 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Data Penunjang
Tujuan
Mendapatkan dan mempertahankan status nutrisi yang optimal.
Subyektif :
Keluhan kelelahan menetap
Kriteria :
Penurunan berat badan tidak berlanjut, pemeriksaan kimia
Objektif :
serum dalam rentang normal, keluhan kelelahan berkurang.
Penurunan berat badan progresif
Kemungkinan disfagia
Kelemahan dan anemia

INTERVENSI
1. Pantau :
Jumlah makanan yang dikonsumsi dalam setiap makan.
Timbang berat badans setiap dua hari atau setiap minggu.
Hasil pemeriksaan kimia darah.
2. Berikan diet sering tinggi kalori, protein, vitamin dan mineral.
3. Jamin lingkungan yang nyaman dan bebas bau saat makan.
4. Berikan antiemetik yang diberikan sedikitnya 30 menit sebelum makan bila mual.
5. Berikan sedikitnya 250 mL cairan setiap hari
4. D. P 4 : Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.
Data Penunjang
Tujuan
Menurunkan ansietas.
Subyektif :
Insomnia, takut, berkemih tidak lampias, khawatir, marah, dan Kriteria :
mengekspresikan keluhan karena perubahan kejadian kehidupan.
Pasien dapat mengekspresikan rasa takut, masalah, dan
kemungkinan rasa marah akibat diagnosis dan prognosis dan
Objektif :
Gelisah, kesulitan untuk berkonsentrasi, mudah lupa, memfasilitasi. Tampak rileks dan mende-monstrasikan
peningkatan berkeringat, ketegangan wajah, muka merah, dilatasi penggunaan mekanis- me koping efektif dan partisipasi aktif
pupil, excitation kardiovaskular.
dalam aturan pengobatan.
INTERVENSI
1. Dorong psien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
2. Berikan lingkungan terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk bicara.
3. Pertahankan kontak sering dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien bila tepat.
4. Sadari efek-efek isolasi pada pasien bila diperlukan untuk imunosupresi dan impian radiasi.
5. Bantu pasien/orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut untuk memulai mengembangkan strategi koping unuk menghadapi rasa takut
ini.
6. Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis.
7. Izinkan ekspresi marah tanpa konfrontasi dan diekpresikan secara tepat.
8. Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan tenang.

5. D.P 5 : Antisipasi berduka berhubungan dengan penerimaan kemungkinan kematian pasien, perubahan fungsi tubuh.
Data Penunjang
Tujuan
Dapat melewati proses berduka dengan baik.
Subyektif :
Kriteria :
Menyangkal tentang potensial kematian
Mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan dengan tepat,
Menyangkal perasaan tersedak dan perasaan marah.
melanjutkan aktivitas kehidupan normal, dan mengungkapkan
Objektif :
pemahaman tentang proses mejelang ajal dan perasaan
Perubahan pada kebiasaan makan, pola tidur, tingkat didukung dalam melalui berduka.
aktivitas, dan pola komunikasi.
INTERVENSI
1. Dorong mengungkapkan ketakutan, kekhawatiran, pertanyaan mengenai penyakit, pengobatan, dan implikasinya dimasa mendatang.
2. Berikan dorongan partisipasi aktif dari pasien dan keluarga dalam keputusan perawatan dan pengobatan.
3. Sisihkanw aktu untuk periode menangis dan mengekspresikan kesedihan.
4. Identifikasi aspek positif dari situasi.
5. Sadari perasaan sendiri tentang kanker, ancaman kematian. Terima metode apapun yang dipilih pasien/orang terdekat untuk saling membantu selama
proses.
6. Rujuk pada konselor yang tepat sesuai kebutuhan.
7. Rujuk pada program komunitas, bila perlu.

8.

DAFTAR PUSTAKA

Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.


Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Kerperawatan Medikal Bedah Vol.1.Jakarta : EGC
Harnawataj. Kanker Lambung. Available from : http://harnawatiaj.wordpress.com. Akses pada 03 September 2008
Mansjoer, Arief, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Ed.3, Cet. 1. Jakarta : Media
Aesculapius
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8
Vol.3. EGC : Jakarta.
Tjay, tan Joan dan Kirana Rahardja. 2003. Obat-obat Penting, Khasiat, Penggunaan,
dan Efek Sampingnya. Jakarta : Elex Media Komputindo
PROGNOSIS
Dengan dikenalnya kanker gaster dini dengan pemeriksaan gastroskopi , prognosisnya lebih baik dari keadaan lanjut. Factor yang menentukan prognosis adalah
derajat invasi dinding gaster, adanya penyebaran ke kelenjar limfe, metastasis di peritoneum dan tempat lain. Prognosis yang baik berhubungan dengan bentuk
polipoid kemudian yang berbentuk ulserasi dan yang paling jelek bentuk schirrhous. Penyebaran karsinoma gaster sering ke hati dan kemudian melalui kelenjar di
sekitar gaster, arteri hepatica dan celiac, pancreas dan hilus sekitar limpa. Dapat juga mengenai tulang, paru, otak dan bagian lain saluran cerna. Hanya 10% kanker
gaster yang terbatas pada lambung pada saat dibuat diagnosis: (Sudoyo, 2007).
80% disertai pembesaran kelenjar limfe
40% telah terjadi penyebaran pada peritoneum
33% telah terjadi metastasis pada hati pada waktu dibuat diagnosis
Prognosis di Amerika Serikat sangat jelek, angka harapan hidup 5 tahun antara 5 15% dan kebanyakan waktu dibuat diagnosis sudah dalam keadaan yang lanjut,
sedangkan di Jepang prognosis lebih baik karena tindakan diagnostic yang lebih dini (90%) (Sudoyo, 2007).

1. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi
Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat di bawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung-J, dan bila penuh,
berbentuk seperti buah alpukat raksasa. Kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter. Secara otomatis lambung terbagi atas fundus, korpus, dan antrum pilorikum atau
pilorus. Sebelah kanan atas lambung terdapat cekungan kurvatura minor, dan bagian kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor. Sfingter pada kedua ujung
lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan masuk ke dalam lambung dan mencegah rufluks
isi lambung memasuki esofagus kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia. Di saat sfingter pilorikum
berelaksasi makanan masuk ke dalam duodenum dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjasinya aliran balik isi usus halus ke dalam lambung.
Sfingter pilorus memiliki arti klinis yang penting karena dapat mengalami stenosis (penyempitan pilorus yang menyumbat) sebagai komplikasi dari penyakit tukak
lambung. Abnormalitas sfingter pilorus dapat pula terjadi pada bayi. Stenosis pilorus atau pilorospasme terjadi bila serat-serat otot di sekelilingnya mengalami
hipertrofi atau spasme sehingga sfingter gagal berelaksasi untuk mengalirkan makanan dari lambung ke dalam duodenum. Bayi akan memuntahkan makanan tersebut
dan tidak mencerna serta menyerapnya. Keadaan ini mungkin dapat diperbaiki melalui operasi atau pemberian obat-obatan adrenerfik yang menyebabkan relaksasi
serat-serat otot.
Lambung terdiri dari empat lapisan. Tunika serosa atau lapisan luar merupakan bagian dari peritonium viseralis. Dua lapisan peritonium viseralis menyatu pada
kurvatura minor lambung dan duodenum dan terus memanjang ke arah hati, membentuk omentum minus. Lipatan peritonium yang keluar dari satu organ menuju ke
organ lain disebut sebagai ligamentum. Jadi omentum minor (dikenal juga dengan nama ligamentum
hepatogastrikum atau hepatoduodenalis) menyokong lambung sepanjang kurvatura minor sampai ke hati. Pada kurvatura mayor, peritonium terus ke bawah
membentuk omentum mayus, yang menutupi usus halus dari depan seperti apron besar. Sakus omentum minus adalah tempat yang sering terjadi penimbunan cairan
(pseudokista pancreatikum) akibat komplikasi pancreatitis akut.
Tidak seperti daerah saluran cerna lain, bagian muskularis tersusun dari tiga lapis dan bukan dua lapis otot polos: lapisan longitudinal di bagian luar, lapisan sirkuler di
tengah, dan lapisan oblik di bagian dalam. Susunan serat otot yang unik ini memungkin berbagai macam kombinasi kontraksi yang diperlukan untuk memecahkan
makanan menjadi partikel-partikel yang kecil, mengaduk dan mencampur makanan tersebut dengan cairan lambung, dan mendorongnya ke arah duodenum.
Submukosa terdiri dari jaringan areolar jarang yang menghubungkan lapisan mukosa dan lapisan muskularis. Jaringan ini memungkinkan mukosa bergerak bersama
gerakan
peristaltik.
Lapisan
ini
juga
mengandung
pleksus
saraf,
pembuluh
darah,
dan
saluran
limfe.
Mukosa, lapisan dalam lambung, tersusun dari lipatan-lipatan longitudinal yang disebut rugae. Dengan adanya lipatan-lipatan ini lambung dapat berdistensi sewaktu
diisi makanan. Ada beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini dan dikategorikan menurut bagian anatomi lambung yang ditempatinya. Kelenjar kardia berada dekat
orifisium kardia. Kelenjar ini mensekresikan mukus. Kelenjar mukus atau gastrik terletak di fundus dan hampir pada seluruh korpus lambung. Kelenjar gastrik
memiliki tiga tipe utama sel. Sel-sel zimogenik atau chief cells mensekresikan pepsinogen. Pepsinogen diubah menjadi pepsin dalam suasana asam. Sel-sel parietal
mensekresikan asam hidroklorida dan faktor intrinsik. Faktor intrinsk diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 di dalam usus halus. Kekurangan faktor intrinsik akan
mengakibatkan pernisiosa. Sel-sel mukus (leher) di temukan di leher fundus atau kelenjar-kelenjar gastrik. Sel-sel ini mensekresikan mukus. Hormon gastrik
diproduksi oleh sel G yang terletak pada daerah pilorus lambung. Gastrin merangsang kelenjar gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen.
Substansi lain yang disekresikan oleh lambung adalah enzim dan berbagai elektrolit, terutama ion-ion natrium, kalium dan klorida.
Persarafan lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum dihantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus
vagus mencabang ramus gastrik, pilorik, hepatik dan seliaka. Pengetahuan tentang anatomi ini sangat penting, karena vagotomi selektif merupakan tindakan primer
yang penting dalam mengobati tukak duodenum.
Persarafan simpatis adalah melalui saraf splangnikus major dan ganglia seliakum. Serabut-serabut aferen mengantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh
peregangan, kontraksi otot dan peradangan, dan dirasakan di daerah epigastrium. Serabut-serabut eferen simpatis menghambat pergerakan dan sekresi lambung.
Pleksus saraf mesenterikus (Auerbach) dan submukosa (Meissner) membentuk persarafan intrinsik dinding lambung dan mengkoordinasi aktifitas motorik dan sekresi
mukosa lambung.
Seluruh suplai di lambung dan pancreas (serta hati, empedu, dan limpa) terutama berasal dari arteri seliaka atau trunkus seliakus, yang mempercabangkan cabangcabang yang mensuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang penting dalam klinis adalah arteria gastroduodenalis dan arteria pancreatikoduodenalis
(retroduodenalis) yang berjalan sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding posterior duodenum dapat mengerosi arteri ini dan menyebabkan perdarahan.
Darah vena dari lambung dan duodenum, serta yang berasal dari pancreas, limpa, dan bagian lain saluran cerna, berjalan ke hati melalui vena porta.
b. Fisiologi
Fungsi motorik dan pencernaan lambung meliputi:
1. Fungsi motorik
a) Fungsi reservoir
Menyimpan makanan sampai makanan tersebut sedikit demi sedikit dicernakan dan bergerak pada saluran cerna. Menyesuaikan peningkatan volume tanpa menambah
tekanan dengan relaksasi reseptif otot polos; diperantarai oleh saraf saraf vagus dan dirangsang oleh gastrin.
b) Fungsi mencampur
Memecahkan makanan menjadi partikel-partikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui kotraksi otot yang mengelilingi lambung. Kontraksi
peristaltik diatur oleh suatu irama listrik intrinsik dasar.
c) Fungsi pengosongan lambung
Diatur oleh pembukaan sfingter pilorus dipengaruhi oleh viskositas, volume, keasaman, aktifitas osmotik, keadaan fisik, serta oleh emosi, obat-obatan, dan kerja.
Pengosongan lambung diatur oleh faktor saraf dan hormonal.
2. Fungsi pencernaan dan fungsi sekresi
a) Pencernaan protein
Pencernaan protein oleh pepsin dan HCI dimulai di sini; pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amilase dan lipase dalam lambung kecil peranannya.
b) Sintesis dan pelepasan gastrin
Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan, peregangan antrum, alkalinisasi antrum, dan rangsangan vagus.
c) Sekresi faktor intrinsik
Sekresi faktor intrinsik memungkinkan absorbsi vitamin B12 dari usus halus bagian distal.
d) Sekresi mukus
Membentuk selubung yang melindungi lambung serta berfungsi sebagai pelumas sehingga makanan lebih mudah diangkut.
Fungsi motorik terdiri atas penyimpanan, pencampuran, dan pengosongan kimus (makanan yang bercampur dengan sekret lambung) ke dalam duodenum. Pengertian
tentang regulasi dan pengawasan sekresi lambung penting untuk mengetahui patogenesis dan pengobatan tukak lambung secara rasional.
Pengaturan Sekresi Lambung
Pengaturan sekresi lambung dapat dibagi menjadi fase sefalik, gastrik dan intestinal. Fase sefalik sudah dimulai bahkan sebelum makanan masuk lambung, yaitu
sebagai akibat melihat, mencium, memikir, atau mengecap makanan. Fase ini diperantarai seluruhnya oleh saraf vagus dan dihilangkan vagotomi. Sinyal neurogenik
yang menyebabkan fase sefalik berasal dari korteks serebri atau pusat nafsu makan. Impuls eferen kemudian dihantarkan melalui saraf vagus ke lambung. Hasilnya,

kelenjar gastrik dirangsang mengeluarkan asam HCI, pepsinogen dan menambah mukus.Fase sefalik menghasilkan sekitar 10 % dari sekresi lambung normal yang
berhubungan
dengan
makanan.
Fase gastrik dimulai saat makanan mencapai antrum pilorus. Distensi yang terjadi pada antrum menyebabkan terjadinya rangsangan mekanis dari reseptor-reseptor
pada dinding lambung. Impuls tersebut berjalan menuju medula melalui aferen vagus dan kembali ke lambung melalui eferen vagus; impuls-impuls ini merangsang
pelepasan hormon gastrin dan secara langsung juga merangsang kelenjar-kelenjar lambung. Gastrin dilepas dari antrum dan kemudian dibawa oleh aliran darah
menuju kelenjar lambung, untuk merangsang sekresi. Pelepasan gastrin juga dirangsang oleh PH alkali, garam empedu di antrum, dan terutama oleh protein makanan
dan alkohol. Gastrin adalah stimulus utama sekresi asam hidroklorida.
Fase sekresi gastrik menghasilkan lebih dari dua pertiga sekresi lambung total setelah makan, sehingga merupakan bagian terbesar dari total sekresi lambung harian
yang berjumlah sekitar 2.000 ml. Fase gastrik dapat terpengaruh pada reseksi bedah antrum pilorus, sebab di tempat inilah gastrin diproduksi.
Fase intestinal dimulai oleh gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Fase sekresi lambung ini diduga sebagian besar bersifat hormonal. Adanya protein yang telah
dicerna sebagian dalam duodenum tampaknya merangsang pelepasan gastrin usus, suatu hormon yang menyebabkan hormon terus-menerus mensekresikan cairan
lambung.
Tetapi,
peranan
usus
kecil
sebagai
penghambat
sekresi
lambung
jauh
lebih
besar.
Distensi usus halus menimbulkan ferleks entrogastrik, diperantarai oleh pleksus mienterikus, saraf simpatis dan vagus, yang menghambat sekresi dan pengosongan
lambung. Adanya asam (pH kurang dari 2,5), lemak dan hasil-hasil pemecahan protein menyebabkan pengeluaran beberapa hormon usus. Sekretin, klesitokinin (CCK,
cholecytokinin), dan peptida penghambat gastrik (GIP), semuanya memiliki efek inhibisi terhadap sekresi lambung.
Selama periode interdigestif (antar dua waktu pencernaan) sewaktu pencernaan tidak terjadi dalam usus, sekresi asam klorida terus berlangsung dengan kecepatan
lambat yaitu 1 sampai 5 mEq/jam. Ini disebut pengeluaran asam basal (BAO, basal acid output) dan dapat diukur dengan pemeriksaan sekresi cairan lambung selama
puasa 12 jam sekresi lambung normal selama periode ini terutama terdiri mukus dan hanya sedikit pepsin dan asam. Tetapi, rangsang emosional kuat, dapat
meningkatkan BAO melalui saraf parasimpatis (vagus) dan diduga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tukak lambung.
2. Definisi
a. Karsinoma gaster merupakan tumor ganas lambung yang paling banyak tergolong adenokarsinoma. (Soeparman & Sarwono Waspadji, 1990)
b. Karsinoma gaster merupakan bentuk neoplasma gastrointestinal yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,4 % kematian akibat kanker. (Price & Wilson,
1995)
c. Karsinoma gaster adalah gangguan sel gaster yang dalam waktu lama terjadi mutasi sel gaster. (Sjamsuhidajat & Wim De Jong, 1997)
d. Karsinoma gaster merupakan mutasi sel gaster yang kebanyakan menyerang antrum gaster dan merupakan kanker adenokarsinoma. (Baughmen & JoAnn, 2000)
3. Etiologi
Penyebab karsinoma gaster(kanker lambung) tidak diketahui secara pasti, tetapi dikenal faktor-faktor predisposisi tertentu. Faktor genetik berperan penting, sebagai
contoh kanker lambung lebih sering pada orang dengan golongan darah A. Faktor yang tak kalah berperan penting pula adalah faktor geografis dan lingkungan,
dibuktikan kanker lambung sangat sering terdapat di Jepang, Chili, dan Islandia. Faktor lain yang turut mempengaruhi antara lain seperti makanan, alkohol,
aklorhidria,
dan
merokok.
4. Patofisiologi
Karsinoma gaster merupakan bentuk neoplasma lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6 % dari semua kematian akibat kanker. Laki-laki
lebih sering terserang dan sebagian besar kasus timbul setelah usia 40 tahun.
Penyebab kanker lambung tidak diketahui tetapi dikenal faktor-faktor predisposisi tertentu. Faktor genetik memegang peranan penting, dibuktikan karsinoma lambung
lebih sering terjadi pada orang dengan golongan darah A. Selain itu faktor ulkus gastrikum adalah salah satu faktor pencetus terjadinya karsinoma gaster.
Pada stadium awal, karsinoma gaster sering tanpa gejala karena lambung masih dapat berfungsi normal. Gejala biasanya timbul setelah massa tumor cukup membesar
sehingga bisa menimbulkan gangguan anoreksia, dan gangguan penyerapan nutrisi di usus sehingga berpengaruh pada penurunan berat badan yang akhirnya
menyebabkan kelemahan dan gangguan nutrisi. Bila kerja usus dalam menyerap nutrisi makanan terganggu maka akan berpengaruh pada zat besi yang akan
mengalami penurunan yang akhirnya menimbulkan anemia dan hal inilah yang menyebabkan gangguan pada perfusi jaringan penurunan pemenuhan kebutuhan
oksigen di otak sehingga efek pusing sering terjadi. Pada stadium lanjut bila sudah metastase ke hepar bisa mengakibatkan hepatomegali. Tumor yang sudah
membesar akan menghimpit atau menekan saraf sekitar gaster sehingga impuls saraf akan terganggu, hal ini lah yang menyebabkan nyeri tekan epigastrik. Adanya
nyeri perut, hepatomegali, asites, teraba massa pada rektum, dan kelenjar limfe supraklavikuler kiri (Limfonodi Virchow) yang membesar menunjukkan penyakit yang
lanjut dan sudah menyebar. Bila terdapat ikterus obstruktiva harus dicurigai adanya penyebaran di porta hepatik.
Kasus stadium awal yang masih dapat dibedah untk tujuan kuratif memberikan angka ketahanan hidup 5 tahun sampai 50 %. Bila telah ada metastasis ke kelenjar
limfe angka tersebut menurun menjadi 10 %. Kemoterapi diberikan untuk kasus yang tidak dapat direseksi atau dioperasi tidak radikal. Kombinai sitostatik
memberikan perbaikan 30-40% untuk 2-4 bulan.
Pembedahan dilakukan dengan maksud kuratif dan paliatif. Untuk tujuan kuratif dilakukan operasi radikal yaitu gastrektomi (subtotal atau total) dengan mengangkat
kelejar limf regional dan organ lain yang terkena. Sedangkan untuk tujuan paliatif hanya dilakukan pengangkatan tumor yang perforasi atau berdarah. (Sjamsuhidajat
& Wim de Jong, 1997).
5. Manifestasi Klinis
Pada stadium awal, karsinoma lambung sering tanpa gejala sebab lambung masih dapat berfungsi normal. Gejala biasanya timbul setelah massa tumor cukup besar
sehingga untuk menimbulkan gangguan aktivitas motorik pada suatu segmen lambung, gangguan pasase, infiltrasi tumor di alat sekitar lambung atau terjadi
metastatis.
Kalau massa tumor sudah besar, keluhan epigastrium biasanya samar-samar seperti rasa berat dan kembung. Akhirnya terjadinya anoreksia, cepat kenyang dan
penurunan berat badan. Kelemahan ada kaitannya dengan anoreksia dan penurunan berat badan. Anemia terjadi karena kehilangan darah kronik, tetapi perdarahan
masif jarang ditemukan. Adanya disfagia harus dicurigai disebabkan oleh tumor di kardia atau fundus. Karsinoma di dekat pilorus dapat memberikan tanda obstruksi.
Adanya nyeri perut, hepatomegalia, asites, teraba massa pada colok dubur, dan kelenjar limfe supraklavikuler kiri (limfonodi Virchow) yang membesar menunjukkan
penyakit yang lanjut dan sudah menyebar. Bila terdapat ikterus obstruktiva harus dicurigai adanya penyebaran di porta hepatik.
a. Anemia, perdarahan samar saluran pencernaan dan mengakibakan defisiensi Fe mungkin merupakan keluhan utama karsinoma gaster yang paling umum.
b. Penurunan berat badan, sering dijumpai dan menggambarkan penyakit metastasis lanjut.
c. Muntah, merupakan indikasi akan terjadinya (impending) obstruksi aliran keluar lambung.
d. Disfagia
e. Nausea
f. Kelemahan
g. Hematemesis
h. Regurgitasi
i. Mudah kenyang
j. Asites perut membesar
k. Kram abdomen
l. Darah yang nyata atau samar dalam tinja
m. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan

6. Pemeriksaan Diagnostik
Foto kontras ganda lambung memberikan kepekaan diagnostik sampai 90 %. Dicurigai adanya keganasan bila ditemukan deformitas, tukak, atau tonjolan di lumen.
Gastroskopi dengan biopsi multipel dan pemeriksaan sitologi terhadap bahan sikatan tukak diperlukan untuk kepastian diagnostis. Untuk menilai stadium penyakit, di
samping pemeriksaan jasmani dengan teliti diperlukan foto paru, uji fungsi hati, pemayaran hati dan limpa, serta pemeriksaan tulang.
Diagnosis dini dapat ditegakkan dengan pemeriksaan tahunan pada kelompok resiko tinggi umpamanya penderita tukak lambung yang punya riwayat keluarga yang
menderita keganasan. Dengan cara tersebut dapat ditemukan kasus-kasus pada stadium awal sehingga kesembuhan mencapai 90 %.

7. Penatalaksanaan
Pembedahan dilakukan dengan maksud kuratif dan paliatif. Untuk tujuan kuratif dilakukan operasi radikal yaitu gastrektomi (subtotal atau total) dengan mengangkat
kelejar limf regional dan organ lain yang terkena. Sedangkan untuk tujuan paliatif hanya dilakukan pengangkatan tumor yang perforasi atau berdarah atau mungkin
hanya sekedar membuat jalan pintas lambung.
Kemoterapi diberikan untuk kasus yang tidak dapat direseksi atau dioperasi tidak radikal. Kombinai sitostatik memberikan perbaikan 30-40% untuk 2-4 bulan (5 FU,
adriamisin dan mitromisin).
8. Komplikasi
a. Hepatomegali
Hepatomegali terjadi sebagai akibat dari metastase sel gaster ke hepar sehingga menyebabkan terjadinya hepatomegali.
b. Limfonodi Virchow
Limfonodi Virchow atau kelenjar limfe supraklavikuler kiri yang membesar menunjukkan penyakit yang lanjut dan sudah menyebar/metastase ke kelenjar limfe.
c. Ikterus Obstruktiva
Ikterus obstruktiva terjadi sebagai akibat dari metastase sel gaster ke porta hepatik.
(Sjamsuhidajat & Wim De Jong, 1997).

B.

Konsep Dasar Keperawatan


Pada tahap ini, penulis menguraikan secara teoritis tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan karsinoma gaster menggunakan metode proses keperawatan yang
terdiri dari lima langkah, yakni : pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Namun selanjutnya, penulis merevisi implementasi dan
evaluasi, menggantinya dengan perencanaan pulang karena implementasi dan evaluasi pada tinjauan teoritis kurang tepat untuk penatalaksanaan selanjutnya di rumah.
Konsep dasar keperawatan adalah suatu metode yang sistematis respon manusia terhadap masalah-masalah kesehatan berhubungan dengan pasien, keluarga, orang
terdekat, atau masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan distribusi perawat dalam mengurangi atau mengatasi masalah-masalah pasien (Allen, VC, 1998).

1.

Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan upaya untuk mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis mulai dari pengumpulan data,
identifikasi, dan evaluasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Rencana asuhan keperawatan pedoman dan perencanaan dan pendokumentasian tujuan perawatan pasien (Doenges, 1999), dasar data pengkajian pasien adalah :
a. Aktifitas/istirahat
Gejala : Kelemahan dan/atau keletihan.
Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya, nyeri, ansietas, berkeringat malam.
Keterbatasan partisipasi dalam hobi, latihan.
Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan , tingkat stres tinggi.

2.

b. Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja.
Kebiasaan: Perubahan pada TD.
c. Integritas ego
Gejala : Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara
mengatasi stres (misalnya, merokok, minum alkhol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/spritual).
Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya, alo- pesia, lasi cacat, pembedahan. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu,
tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, pen depresi.
Tanda : Menyangkal, menarik diri, marah.
d. Eliminasi
Gejala : Perubahan pada pola defekasi misalnya, darah pada feses, nyeri pada defekasi.
Perubahan eliminasi urinarius misalnya, nyeri atau rasa terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih.
Tanda : Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
e. Makanan/cairan
Gejala : Kebiasaan diet buruk (misalnya, rendah serat, tinggi lemak, a- ditif, bahan pengawet).
Anoreksia, mual muntah, Intoleransi makanan,Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan hebat, ka- keksia, berkurangnya massa otot.
Tanda : Perubahan pada keelembaban/turgor kulit; edema.
f. Neurosensori
Gejala : Pusing; sinkope.
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misalnya, ketidaknya- manan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit).
h. Pernapasan
Gejala : Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok).
Pemajanan abses.
i.
Keamanan
Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen.
Pemajanan matahari lama/berlebihan.
Tanda : Demam, Ruam kulit, ulserasi.
j. Seksualitas
Gejala : Masalah seksual misalnya, dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan. Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun. Multigravida, pasangan seks
multiple, aktivitas seksual dini. Herpes genital.
k. Interaksi social
Gejala : Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung. Riwayat perkawinan berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau bantuan). Masalah tentang
fungsi/tanggung jawab peran.
Diagnosa Keperawatan

a.
b.
c.
d.
e.
3.

a.

1)
2)

b.

1)
2)
1)

2)

3)

4)

5)

6)

c.

1)
2)
1)

2)

3)

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap komunitas kesehatan/proses kehidupan yang aktual/potensial
(Allen, VC., 1998).
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai kewenangan
memberikan tindakan keperawatan. (Nursalam, 2001).
Menurut Doenges (1999), diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan karsinoma gaster adalah sebagai berikut :
Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrisi ke sel. (Doenges, 1999)
Ketakutan/ansietas b.d krisis situasi (kanker). (Doenges, 1999)
Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d iritasi gaster. (Doenges, 1999)
Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, iritasi lambung. (Doenges, 1999)
Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
Intervensi Keperawatan
Perencanaan meliputi perkembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, dan mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan
dan menyimpulkan rencana dokumentasi. (Nursalam, 2001)
Perencanaan keperawatan menurut Doenges (1999) adalah :
Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrisi ke sel
Tujuan : Menunjukkan perfusi adekuat
Kriteria hasil:
1) TTV stabil
2) Membran mukosa berwarna merah muda
3) Pengisian kapiler baik
Intervensi :
Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membran mukosa, dasar kuku.
Seliki keluhan nyeri dada, palpitasi.
Rasional:
Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko infark. (Doenges, 1999)
3) Awasi upaya pernapasan: auskultasi bunyi napas.
Rasional:
Dispnea, gemericik menunjukkan GJK karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung. (Doenges, 1999)
4) Observasi adanya keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi.
Rasional:
Vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien/kebutuhan rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas
berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan perfusi organ). (Doenges, 1999)
5) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi, bila pasien sesak napas.
Rasional:
Memaksimalkan transport oksigen ke jaringan. (Doenges, 1999)
Ketakutan/ansietas b.d krisis situasi (kanker).
Tujuan : Berkurang sampai hilangnya rasa takut.
Kriteria hasil:
Pasien tampak rileks.
Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif.
Intervensi :
Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.
Rasional :
Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep tentang diagnostik. (Doenges, 1999)
Pertahankan kontak sering dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien bila tepat.
Rasional :
Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak; berikan respek dan penerimaan individu, mengembangkan kepercayaan. (Doenges, 1999)
Tingkatkan rasa tenang dan lingkungan tenang.
Rasional :
Memudahkan istirahat, menghemat energi, dan meningkatkan kemampuan koping. (Doenges, 1999)
Dorong dan kembangkan interaksi pasien dengan sistem pendukung.
Rasional :
Mengurangi perasaan isolasi. Bila sistem pendukung keluarga tidak tersedia, sumber luar mungkin diperlukan dengan segera, kelompok pendukung kanker lokal.
(Doenges, 1999)
Berikan informasi yang dapat dipercaya dan konsisten dan dukungan untuk orang terdekat.
Rasional :
Memungkinkan untuk interaksi interpersonal lebih baik dan menurunkan ansietas dan rasa takut. (Doenges, 1999)
Libatkan orang terdekat sesuai indikasi bila keputusan mayor akan dibuat.
Rasional :
Menjamin sistem pendukung untuk pasien dan memungkinkan orang terdekat terlibat dengan tepat. (Doenges, 1999)
Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d iritasi gaster
Tujuan : Nyeri terkontrol
Kriteria hasil :
Ekspresi wajah rileks.
Mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi dan aktifitas hiburan.
Intervensi :
Tentukan riwayat nyeri, misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas (skala 0-10), tindakan penghilangan yang digunakan.
Rasional :
Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi
kebutuhan/keefektifan intervensi. Catatan : Pengalaman nyeri adalah individual yang digabungkan dengan baik respons fisik dan emosional. (Doenges, 1999).
Evaluasi/sadari terapi tertentu misalnya pembedahan, radiasi, kemoterapi, bioterapi. Anjarkan pasien/orang terdekat apa yang diharapkan.
Rasional :
Ketidaknyaman rentang luas adalah umum (misalnya nyeri insisi, kulit terbakar, nyeri punggung bawah, sakit kepala) tergantung pada prosedur/agen yang digunakan.
(Doenges, 1999)
Berikan tindakan kenyamanan dasar (misalnya reposisi) dan aktifitas hiburan (misalnya menonton televisi).
Rasional :
Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian. (Doenges, 1999).

4)

5)

d.

1)

2)

3)

4)

5)

1)
2)
1)

2)

3)

4)

5)

Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (misalnya teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi), tertawa, musik, dan sentuhan terapeutik.
Rasional :
Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol. (Doenges, 1999)
Evaluasi penghilangan nyeri/kontrol. Nilai aturan pengobatan bila perlu.
Rasional :
Tujuannya adalah kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum. (Doenges, 1999)
Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, iritasi lambung.
Tujuan : Kebutuhan tubuh akan nutrisi adekuat terpenuhi.
Kriteria hasil:
1) Berat badan mengalami peningkatan.
2) Tidak adanya mual
Intervensi :
Pantau masukan makanan setiap hari.
Rasional :
Mengidentifikasi kekuatan/defisiensi nutrisi. (Doenges, 1999)
Dorong pasien untuk makan diet tinggi kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makan sering/lebih sedikit yang dibagi-bagi
selama sehari.
Rasional :
Kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan (untuk menghilangkan produk sisa). Suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan
masukan kalori dan protein adekuat. (Doenges, 1999)
Kontrol faktor lingkungan (misalnya bau kuat/tidak sedap atau kebisingan. Hindari terlalu manis, berlemak atau makanan pedas.
Rasional :
Dapat mengidentifikasi respons mual/muntah. (Doenges, 1999)
Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi latihan sedang sebelum makan.
Rasional :
Dapat mencegah awitan atau menurunkan beratnya mual, penurunan anoreksia, dan memungkinkan pasien meningkatkan masukan oral. (Doenges, 1999).
Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia
Rasional :
Sering sebagai sumber distress emosi, khususnya untuk orang terdekat yang menginginkan untuk memberi makan pasien dengan sering. Bila pasien menolak, orang
terdekat dapat merasakan ditolak/frustasi. (Doenges, 1999)
e. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
Tujuan : Pasien melaporkan peningkatan toleransi aktifitas.
Kriteria hasil:
TTV dalam batas normal
Saturasi dalam batas norma
Intervensi :
Kaji gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot.
Rasional:
Menunjukkan perubahan neuroloi karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/resiko cedera. (Doenges, 1999)
Awasi TTV selama dan sesudah aktivitas. Catat respons terhadap aktivitas (misalnya peningkatan denyut jantung/TD, disritmia, pusing, dispnea, takipnea, dan
sebagainya)
Rasional:
Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa pulang jumlah oksigen adekuat ke jaringan. (Doenges, 1999)
Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.
Rasional:
Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut, dan peningkatan resiko cedera. (Doenges, 1999)
Berikan bantuan dalam aktivitas/ambulasi bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukan sebanyak mungkin.
Rasional:
Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan sesuatu sendiri. (Doenges, 1999)
Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi.
Rasional:
Regangan/stress kardiopulmonal berlebihan/stress dapat menimbulkan dekompensasi/kegagalan. (Doenges, 1999)

4.

Implementasi Keperawata
Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. (Nursalam, 2001)
Dalam tahap pelaksanaan ini, perawat berperan sebagai pelaksana keperawatan, memberi support, pendidik, advokasi, konselor dan penghimpunan data. (Carpenito,
1999)

5.

Evaluasi
Tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil
dicapai (Nursalam, 2001).

BAB III
PENUTUP
Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan
sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. (Patologi, dr. Achmad Tjarta,2002). Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada Gaster. (R.
Simadibrata,2000).
Penyebab kanker Lambung Adanya kerusakan selaput lendir lambung akibat infeksi basil Helikobakter pilori memacu terbentuknya sel-sel kanker
dilambung. Kanker lambung jarang bersifat menurun. Namun, perlu dicurigai adanya faktor keturunan pada penderita kanker lambung yang berusia sangat muda,
factor itu menjadi salah satu penyebab kanker lambung.

Pathway https://www.scribd.com/doc/140919892/WOC#download
Merokok &
alkohol

Faktor
genetik

Kontak agen
karsinogenik
Mutasi gen
E-cadherin

Konsums
i OAINS

Kondisi
sosioekonomi
rendah

Polip
lambung
berulang

Anemia
pernisiosa

Infeksi
Helicobacter pylori

Konsumsi makanan yang


diasinkan, diasap, atau yang
diawetkan

Limfoma
MALT

Cacinogenic nitrosamines
didalam lambung

Perubahan metaplasia pada epitelium


dinding lambung
Kanker lambung
Invasi jaringan dan efek
kompresi oleh tumor
Kompresi saraf
lokal
Nyeri retrosternal
Nyeri

Disfagia
Anoreksia
Asupan nutrisi
tidak adekuat
Aktual/risiko
ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan

Respons
serabut lokal

Intervensi radiasi
dan kemoterapi

Kerusakan jaringan
lunak pascabedah

Perubahan
intake nutrisi

Risiko tinggi injuri

Respons
psikologi

Intervensi bedah
gastrektomi

Kecemasan
pemenuhan
informasi

preoperatif

pascabedah
Luka pascabedah

Penurunan kemampuan batuk efektif


Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan
nafas

Port de entre
pascabedah
Risiko infeksi

TERAPI

Pembedahan untuk mengangkat tumor sangat penting untuk penyembuhan. Pada tahap awal penyakit ini, operasi memiliki tingkat keberhasilan yang baik.
Sayangnya, kebanyakan tumor didiagnosis sudah stadium lanjut dan tidak dapat sepenuhnya diangkat. Dalam beberapa kasus, sebagian perut akan diangkat
(gastrektomi parsial). Di kasus lain, seluruh perut harus diangkat (gastrektomi). Lainnya, organ terdekat juga harus diangkat.
Kemoterapi atau radiasi dapat digunakan pada pasien dengan gejala berat, tetapi hal itu tidak akan menyembuhkan penyakit.

PROGNOSIS
Dengan dikenalnya kanker gaster dini dengan pemeriksaan gastroskopi , prognosisnya lebih baik dari keadaan lanjut. Factor yang menentukan prognosis adalah
derajat invasi dinding gaster, adanya penyebaran ke kelenjar limfe, metastasis di peritoneum dan tempat lain. Prognosis yang baik berhubungan dengan bentuk
polipoid kemudian yang berbentuk ulserasi dan yang paling jelek bentuk schirrhous. Penyebaran karsinoma gaster sering ke hati dan kemudian melalui kelenjar di
sekitar gaster, arteri hepatica dan celiac, pancreas dan hilus sekitar limpa. Dapat juga mengenai tulang, paru, otak dan bagian lain saluran cerna. Hanya 10% kanker
gaster yang terbatas pada lambung pada saat dibuat diagnosis: (Sudoyo, 2007).
80% disertai pembesaran kelenjar limfe
40% telah terjadi penyebaran pada peritoneum
33% telah terjadi metastasis pada hati pada waktu dibuat diagnosis
Prognosis di Amerika Serikat sangat jelek, angka harapan hidup 5 tahun antara 5 15% dan kebanyakan waktu dibuat diagnosis sudah dalam keadaan yang lanjut,
sedangkan di Jepang prognosis lebih baik karena tindakan diagnostic yang lebih dini (90%) (Sudoyo, 2007).
Prognosisnya buruk, kebanyakan pasien telah mengalami metastase pada waktu
didiagnosis.
Faktor-faktor yang memperburuk penyakit ini antara lain:
1. Keterlibatan lesser curvature dari lambung
2. Ukuran tumor yang besar
3. Stadium lanjut (advanced stage)
Sudoyo, Aru W. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Pusat
E. PENATALAKSANAAN
1. Pencegahan
Kanker lambung dapat dicegah dengan cara-cara di bawah ini, untuk mengurangi risiko kanker perut dengan membuat perubahan kecil kehidupan sehari-hari Anda.
Sebagai contoh, cobalah untuk:
a. Makan lebih banyak buah dan sayuran. Cobalah untuk memasukkan lebih banyak buah dan sayuran ke dalam makanan setiap hari. Memilih berbagai jenis buah-buahan
dan sayuran berwarna.
b. Mengurangi jumlah makanan diasap dan asin yang anda makan. Lindungi perut Anda dengan membatasi makanan ini. Coba dengan bumbu dan cara lain untuk
penyedap makanan yang tidak menambahkan natrium.
c. Berhenti merokok. Jika Anda merokok, berhenti. Jika Anda tidak merokok, jangan mulai. Merokok meningkatkan risiko kanker perut, dan juga banyak jenis kanker
lainnya. Berhenti merokok bisa sangat sulit, sehingga mintalah bantuan dokter.
d. Tanyakan kepada dokter Anda tentang risiko kanker perut. Beberapa kondisi medis yang meningkatkan risiko kanker perut, seperti anemia, maag dan perut polip. Jika
Anda telah didiagnosa dengan salah satu kondisi tersebut, tanyakan kepada dokter bagaimana ini mempengaruhi risiko kanker perut. Bersama Anda dapat
mempertimbangkan periodik endoskopi untuk mencari tanda-tanda kanker perut. Tidak ada pedoman untuk menentukan siapa yang harus menjalani skrining untuk
kanker lambung di Amerika Serikat. Tetapi dalam beberapa kasus, Anda dan dokter Anda dapat memutuskan risiko Anda cukup tinggi bahwa manfaat dari skrining
lebih besar daripada potensi resiko.
2. Pengobatan
a. Kemoterapi dan terapi radiasi
Bila karsinoma telah menyebar ke luar dari lambung, tujuan pengobatannya adalah untuk mengurangi gejala dan memperpanjang harapan hidup. Kemoterapi dan
terapi penyinaran bisa meringankan gejala.
Hasil kemoterapi dan terapi penyinaran pada limfoma lebih baik daripada karsinoma. Mungkin penderita akan bertahan hidup lebih lama bahkan bisa sembuh total.
b. Reseksi bedah.
Jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran, pilihan terbaik adalah pembedahan. Walaupun telah terdapat daerah sebar, pembedahab sudah dapat dilakukan
sebagai tindakan paliatif. Reaksi kuratif akan berhsil bila tidak ada tanda metastasis di tempat lain, tidak ada sisa Ca pada irisan lambung, reseksi cairan sekitar yang
terkena, dari pengambilan kelenjar limfa secukupnya.
c. Obat multiple (fluorosil, mitomisin C dan doksorubisin)
Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU, trimetrexote, fluorosil, mitomisin C, doksorubisin, hidrourea, epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 30 %.
d. Hiperalimentasi (nutrisi intravena).
Nutrisi intravena yag disuntikan melalui intravena yang berfunsi untuk menggantikan nutrisi karena kanker lambung ini. Karena kanker lmbung ini proses penyerapan
nutrisi yang terjadi di lambung terganggu dan mengakibatkan kekurangan nutrisi dari kebutuhan yang diperlukan. Maka diberikan hiperalimentasi ini.
3. Perawatan
a. Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai beberapa hari setelah tanda dan gejala terjadi, dan 7 hari
setelah dilakukan operasi untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.
b. Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.
4. Diet
a. Pada mulanya klien diberikan makanan diet cair atau bubur saring kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.
b. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat
diberikan dengan aman kepada klien.
Komplikasi Kanker Lambung
a. Perforasi
Dapat terjadi perforasi akuta dan perforasi kronika
1. Perforasi akut
AIRD 1935 menjumpai 35 penderita demean perforasi akut yang terbuka dari karsinoma ventrikuli. Yang sering terjadi perfirasi yaitu: tipe ulserasi dari kanker yang
letaknya di kurvatura minor, diantrium dekat pylorus. Biasanya mempunyai gejala-gejala yang mirip demean perforasi dari ulkus peptikum. Perforasi ini sering
dijumpai pada pria (Hadi, 2002).
2. Perforasi kronika
Perforasi yang terjadi sering tertutup oleh jaringan didekatnya, misalnya oleh omentum atau bersifat penetrasi.Biasanya lebih jarang dijumpai jika dibandingkan
dengan komplikasi dari ulkus benigna.Penetrasi mungkin dijumpai antara lapisan omentun gastrohepatik atau dilapisan bawah dari hati.Yang sering terjadi yaitu

perforasi dan tertutup oleh pancreas. Dengan terjadinya penetrasi maka akan terbentuk suatu fistul, misalnya gastrohepatik, gastroenterik dan gastrokolik fistula (Hadi,
2002).
b. Hematemesis
Hematemesis yang masif dan melena terjadi 5 % dari karsinoma ventrikuli yang gejala-gejalanya mirip seperti pada perdarahan massif maka banyak darah yang
hilang sehingga timbullah anemia hipokromik(Hadi, 2002).
c. Obstruksi
Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan muntah-muntah (Hadi, 2002).
d. Adhesi
Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut (Hadi, 2002)
7. Penatalaksanaan Kanker Lambung
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya.Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di lambung,
pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang tidak dapat dieksisi secara bedah penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien
ini, paliasi efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi, dapat diperoleh dengan reseksi tumor.
Bila gastrektomi subtotal radikal dilakukan, punting ambung dianastomosisikan pada jejunum, seperti pada gastrektomi ulkus. Bila gastrektomi total dilakukan
kontinuitas gastrointestinal diperbaiki dengan anastomosis diantara ujung esophagus dan jejunum. Bila ada metastasis pada organ vital lain, seperti hepar, pembedahan
dilakukan terutama untuk tujuan paliatif dan bukan radikal.Pembedahan paliatif dilakukan untuk menghilangkan gejala obstruksi dan disfagia.
Untuk pasien yang menjalani pembedahan namun tidak menunjukkan perbaikan, pengobatan dengan kemoterapi dapat memberikan control lanjut terhadap penyakit
atau paliasi.Obat kemoterapi yang sering digunakan mencakup kombinasi 5-fluorourasil (5FU), Adriamycin, dan mitomycin-C.Radiasi dapat digunakan untuk paliasi
pada kanker lambung.( brunner& suddart, 2001)
5. Evaluasi
Tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil
dicapai (Nursalam, 2001).
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali mengangkat tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di lambung,
pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan pasien ini,
paliasi efektif untuk mencegah gejala seperti obstruksi, dapat diperoleh dengan reseksi tumor.

Sudoyo, Aru W. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Pusat