Anda di halaman 1dari 8

PORTOFOLIO KASUS

Nama Peserta : dr. Adisyari Puri Handini


Nama Wahana: RSUD Asembagus
Topik: Asma Bronkiale
Tanggal (kasus) : 3 Agustus 2015
Tanggal Presentasi : 10 Agustus 2015
Pendamping : dr. Sindiana
Tempat Persentasi : Ruang Pertemuan RSUD Asembagus
Obyek presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus Bayi
Anak
Remaja Dewasa
Lansia Bumil
Deskripsi: Pasien laki-laki 40 tahun datang dengan keluhan sesak nafas disertai mengi yang
dialami kurang lebih 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien sudah sering merasakan sesak
nafas sebelumnya, biasanya memberat apabila terkena debu atau telah melakukan aktifitas yang
berat. Batuk Berdahak (+) darah (-). Mual (-) Muntah (-) Demam (-).
Tujuan: Mengetahui Gejala Asma Bronkial sekaligus Penanganan awalnya di Instalasi
Gawat Darurat
Bahan Bahasan:
Tinjauan pustaka
Cara Membahas: Diskusi
Data Pasien: Nama: Tn. R
Nama klinik
IGD RSUD Asembagus
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Gambaran Klinis

Riset
Kasus
Presentasi dan diskusi E-mail
No.Registrasi: XXXX

Audit
Pos

Pasien datang ke IGD RSUD Asembagus dengan keluhan sesak nafas dan mengi berulang
disertai batuk berdahak sejak 1 jam SMRS
2. Riwayat pengobatan: Pasien pernah berobat di dokter ahli penyakit dalam dengan
keluhan yang sama, namun obat-obatannya tidak dikonsumsi secara teratur.
3. Riwayat kesehatan/penyakit: Pasien sering merasakan sesak nafas sejak kecil biasanya

dipengaruhi oleh aktifitas. Riwayat DM (-), riwayat hipertensi (-), riwayat penyakit jantung
(-)
4. Riwayat keluarga: Pasien merupakan kepala keluarga. Tidak ada keluarga pasien yang
memiliki keluhan yang sama seperti pasien. Ibu pasien (+)
5. Riwayat pekerjaan : Wiraswasta.
6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik: Pasien tinggal bersama istri dan anak-anak nya.
Riwayat merokok (+) Rumah pasien terletak di pinggir jalan raya dan di dekat rumah pasien

terdapat kandang ternak.


7. Lain - Lain
Pemeriksaan fisik dilakukan di IGD RSUD Asembagus pada tanggal 3 Agustus 2015.
PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Nadi

: 88 x/menit

Suhu

: 36.8 0C

Tekanan darah

: 110/70 mmhg

Respirasi

: 28x/menit

STATUS GENERALIS

Kepala

: Nyeri tekan kepala (-), rambut tidak mudah dicabut, alopecia -.

Wajah

: Nyeri tekan sinus -.

Mata

: Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, RCL +/+, RCTL +/+, diameter pupil

3mm/3mm.

Telinga

: Nyeri tekan tragus -/-, nyeri tekan mastoid -/-, serumen +/+, sekret -/-,

Membran timpani intak/intak.

Hidung : Sekret -/-, deviasi septum (-), mukosa hiperemis -.

Mulut

: sianosis (-)

Leher

: pembesaran KGB (-)

Dada

1. Paru
I: Pergerakan dinding dada simetris kanan=kiri, retraksi (-), tertinggal (-), pectus excavatum (-),
pectus carinatum(-), spider nevi (-), sikatriks (-).
P: Krepitasi (-), massa (-), Vokal fremitus lapang paru kiri=kanan.
P: Sonor pada seluruh lapang paru.
A: Sp vesikuler +/+, Rh-/-, Wh+/+
2. Jantung:
I: Ictus cordis tidak terlihat
P: Ictus cordis teraba di SIC 5 2jari medial linea midklavikula kiri
P: Batas jantung kiri di SIC 5 2jari medial linea midklavikula kiri, batas jantung
kanan di ICS 5 linea sternalis kanan.
A: S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-).

Abdomen :
I

: Abdomen datar, caput medusa (-), sikatriks (-), venektasi -.

A : Bising usus +, 4 kali per menit.


P : Timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
P : Dinding abdomen supel, nyeri tekan regio epigastrium (-), nyeri tekan suprapubik (-),
hepar dan lien tidak teraba, H/L: tidak teraba besar
Ekstremitas: CRT <2", Tidak ada edema, akral hangat
Daftar Pustaka:
1. Alsagaff H, Mukty A. Dasar - Dasar Ilmu Penyakit Paru. Edisi ke 2.Surabaya :
Airlangga University Press. 2002. h 263 300.
2. Direktorat Jenderal PPM & PLP, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman
Pengendalian Penyakit Asma. Departemen Kesehatan RI ;2009; 5-11.
3. GINA (Global Initiative for Asthma); Pocket Guide for Asthma Management and
Prevension In Children. www. Ginaasthma.org.2010.
4. Konsensus PDPI. 2004. Asma Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia
.Jakarta : PDPI
5. Morris MJ. Asthma. (updated 2012 September 20) Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/296301-overview#showall
6. Price, Sylvia,dkk. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6.
EGC. Jakarta
7. Sundaru H, Sukamto, Asma Bronkial, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakulas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, juni 2006 ; 247.
8. Suyono. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: FKUI
Hasil Pembelajaran
1. Menegakkan diagnosis Asma Bronkiale
2. Memberikan penatalaksanaan awal yang tepat terhadap kasus Asma Bronkiale
3. Dapat memberikan edukasi baik terhadap pasien maupun keluarga tentang Asma
Bronkiale
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO
SUBJEKTIF
Pasien laki laki, 40 tahun dengan keluhan sesak nafas di sertai mengi dan batuk berdahak
dialami 1 jam sebelum masuk RS. Riwayat keluhan yang sama sebelumnya, biasanya
memberat apabila terkena debu atau telah melakukan aktifitas yang berat. Batuk Berdahak (+)
darah (-). Mual (-) Muntah (-) Demam (-).
OBJEKTIF

1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Nadi

: 88 x/menit

Suhu

: 36.8 0C

Tekanan darah

: 110/70 mmhg

Respirasi

: 28x/menit

2. Status Generalis
Paru : Auskultasi Vesikuler +/+ Rhonki -/- Wheezing +/+
ASSESMENT
Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran nafas yang ditandai adanya mengi
episodik, batuk dan rasa sesak di dada akibat penyumbatan saluran nafas, termasuk dalam
kelompok penyakit saluran pernafasan kronik. World Health Organization (WHO)
memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia menderita asma. Bahkan jumlah ini
diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai 180.000 orang setiap tahun. Sumber lain
menyebutkan bahwa pasien asma sudah mencapai 300 juta orang di seluruh dunia dan terus
meningkat selama 20 tahun belakangan ini. Apabila tidak dicegah dan ditangani dengan baik,
maka diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi yang lebih tinggi lagi pada masa akan
datang serta mengganggu proses tumbuh-kembang anak dan kualitas hidup pasien.
Asma memberi dampak negatif bagi pengidapnya selain itu, mortalitas asma relatif
tinggi. WHO memperkirakan terdapat 250.000 kematian akibat asma.
Asma dapat diderita seumur hidup sebagaimana penyakit alergi lainnya, dan tidak dapat
disembuhkan secara total. Upaya terbaik yang dapat dilakukan untuk menanggulangi
permasalahan asma hingga saat ini masih berupa upaya penurunan frekuensi dan derajat
serangan, sedangkan penatalaksanaan utama adalah menghindari faktor penyebab.

Diagnosis Banding :
PPOK
Riwayat Klinis

Onset biasanya pada usia


tua
Riwayat paparan rokok.
Tidak ada riwayat atopik
pada keluarga
Variasi diurnal tidak
begitu jelas.

Asma
Onset biasanya
pada umur yang
lebih mudah
Paparan allergen
Riwayat atopi
atau asma pada
keluarga.
Berkaitan
dengan pola

nocturnal dan
memberat pada
pagi hari.
Tes Diagnostik
Spirometri

Kapasitas
Radiology

Pathology

Inflamasi

Obstruksi tidak reversible


sepenuhnya
Berkurang(dengan
emphysema)
Hiperinflasi
cenderung
lebih persisten. Penyakit
bullous dapat ditemukan

Metaplasia
kelenjar
mucus
Kerusakan
jaringan
alveolar (emphysema)
Makrofag dan neutrofil
mendominasi
Limfosit CD8+

Obstruksi dapat
reversible
sepenuhnya
Biasanya normal
Hiperinflasi
hanya
pada
eksaserbasi,
namun normal di
luar serangan
Hyperplasia
kelenjar mucus
Struktur
alveolar utuh
Sel Mast dan
eosinophils
mendominasi
Limfosit CD4+

Penatalaksanaan
Kortikosteroid Inhalasi
Leukotriene modifier
Anticholinergic inhalasi

Untuk kasus sedang


hingga berat
Tidak direkomendasikan
Digunakan untuk
maintenance dan selama
eksaserbasi

PLAN :
Diagnosis
: Asma Bronkiale
Penatalaksanaan :
Penanganan Awal pada pasien ini adalah:

CEK ABC
Oksigen 1-3 LPM
Salbutamol + Ipratropium bromida (nebulizer)
Observasi

Untuk
kasus
ringan hingga
berat persisten
Digunakan
sebagai
medikasi
pengontrol
Hanya
digunakan pada
eksaserbasi.
Tidak
maintanance

Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah meningkatkan dan mempertahankan kualitas


hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktiviti
sehari-hari.
Perlu diperlukan pemeriksaan tambahan yaitu:
- Spirometri : untuk menegakkan diagnosis, menilai beratnya obstruksi dan efek
-

pengobatan.
Uji Provokasi Bronkus : untuk menunjukkan adanya hiperaktivitas bronkus.
Pemeriksaan Sputum : Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma.
Pemeriksaan Eosinofil Total : Jumlah eosinofil dalam darah sering meningkat.
Uji Kulit
: untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik dalam tubuh.
Pemeriksaan Kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum : dilakukan apabila uji

kulit tidak dapat dilakukan atau hasilnya dapat kurang dipercaya.


- Foto Dada : untuk menyingkirkan penyebab lain obstruksi saluran napas.
- Analisis Gas Darah : Hanya dilakukan untuk asma yang berat.
Pengobatan: Strategi pengobatan asma dapat ditinjau dari berbagai pendekatan. Seperti
mengurangi respon saluran napas, mencegah ikatan alergen dengan IgE, mencegah
penglepasan mediator kimia, dan merelaksasi otot otot polos bronkus.
Pengobatan asma akut (pasien RS)

Prinsip pengobatan asma akut :


Penanganan pada pasien ini bertujuan untuk:
1. Beri Oksigen 1-3 LPM untuk memelihara saturasi oksigen yang cukup dan
meningkatkan suplai oksigen.
2. Agonis beta 2 (salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol) merupakan obat obat
terpilih untuk mengatasi serangan asma akut. Dapat diberikan secara inhalasi
melalui MDI (Metere Dosed inhaler) atau nebulizer. Untuk melebarkan saluran
napas.
3. Ipratropium bromide (antikolinergik) sebagai suplemen bronkodilator agonis beta
2.
Komplikasi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pneumothoraks
Pneumodiastinum dan emfisema subkutis
Atelektasis
Aspegilosis bronkopulmoner alergik
Gagal napas
Bronkitis

Stabilkan Hemodinamik
Penderita di jauhkan dari bahan alergen. Penderita juga diharuskan istrahat.

Edukasi:
Dilakukan kepada pasien dan keluarganya agar membantu proses penyembuhan dan tetap
tenang. Kita menjelaskan prognosis dari pasien, serta komplikasi yang mungkin terjadi.
Konsultasi:
Dijelaskan adanya indikasi rawat inap dan konsultasi dengan spesialis Penyakit Dalam
untuk penanganan lebih lanjut.
Rujukan:
Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit dengan
sarana dan prasarana yang lebih memadai.

Asembagus, 10 Agustus 2015

Peserta

Pendamping

( dr. Adisyari Puri H )

( dr. Sindiana )