Anda di halaman 1dari 5

Psikologi Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan, SIP, Msi

1
KULIAH 8

Kemampuan Jiwa Yang Berhubungan Dengan Perasaan


(Emosi)
Perasaan Dan Emosi
Perasaan dan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan (state) dari diri
organisme atau individu pada suatu waktu. Misalnya orang merasa sedih, senang,
-terharu dan sebagainya bila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau dan
sebagainya. Perasaan termasuk gejala jiwa yang dimiliki oleh semua orang hanya
corak dan tingkatannya yang tidak sama. Perasaan tidak termasuk gejala mengenal
walaupun perasaan sering berhubungan dengan gejala pengenalan.
Lalu apa yang dimaksud dengan perasaan itu ? Perasaan ialah keadaan
kerokhanian atau peristiwa kejiwaan senang atau tidak senang dalam hubungan
dengan peristiwa mengenal dan bersifat subjektif. Dengan perkataan lain perasaan
disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang
pada umumnya datang dari luar; dan peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya
menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada individu yang bersangkutan.
Reaksi dari masing-masing orang terhadap keadaan itu tidak sama benar satu
dengan yang lain. Karena itu dalam perasaan adanya beberapa sifat yang tertentu
yaitu:
1. Bersangkut paut dengan gejala pengenalan. Perasaan yang berhubungan
dengan peristiwa persepsi, merupakan reaksi kejiwaan terhadap stimulus
yang mengenainya. Ada yang mengalami keadaan sangat menyenangkan,
tetapi sebaliknya juga ada yang biasa saja, dan bahkan mungkin ada yang
mengalami perasaan yang kurang senang. Dengan demikian, sekalipun
stimulusnya sama, tetapi perasaan yang ditimbulkan oleh stimulus
tersebut dapat berlain-lainan.
2. Perasaan bersifat subjektif, lebih subjektif bila dibandingkan dengan
peristiwa-peristiwa kejiwaan yang lain. Sekalipun stimulusnya sama,
perasaan yang ditimbulkan dapat bermacam-macam sifatnya sesuai
dengan keadaan masing-masing individu.
3. Perasaan dialami sebagai rasa senang atau tidak senang yang tingkatannya
tidak sama. Walaupun demikian ada sementara ahli yang mengemukakan
bahwa perasaan senang dan tidak senang hanyalah merupakan salah satu
demensi saja dari perasaan.
Seperti telah dikemukakan di atas perasaan itu timbul sebagai akibat atau reaksi
terhadap stimulusyang mengenai individu, tetapi ini tidak berarti bahwa keadaan
perasaan itu semata-mata hanya bergantung kepada stimulus dari luar, sebab ada
kalanya sesuatu keadaan tidak menimbulkan perasaan sama sekali. Karena itu
perasaan selain tergantung kepada stimulus yang datang dari luar, juga bergantung
kepada:
a. keadaan jasmani individu. Kalau keadaan jasmani kurang sehat dapat
mempengaruhi soal perasaan yang ada pada individu. Pada umumnya
orang yang dalam keadaan sakit, sifatnya lebih perasa bila dibandingkan
dengan keadaan jasmani yang sehat.
b. Pembawaan (keadaan dasar individu). Hal ini erat hubungannya dengan
struktur pribadi individu. Misalnya ada orang yang mudah marah,
sebaliknya ada orang yang sukar. Sehingga dengan demikian struktur
pribadi individu akan turut menentukan mudah tidaknya seseorang
mengalami sesuatu perasaan.
c. Keadaan individu pada sesuatu waktu, atau keadaan yang temporer
seseorang. Misalnya orang yang pada suatu waktu sedang kalut pikirannya,
http://edwi/.dosen.upnyk.ac.id
edwias@yahoo.com

Psikologi Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan, SIP, Msi


KULIAH 8
akan mudah sekali terkena perasaan bila dibandingkan individu itu dalam
keadaan normal.

Tiga Demensi Perasaan Menurut Wundt


Seperti telah diketahui bahwa perasaan itu dialami oleh individu sebagai
perasaan senang atau tidak senang. Namun demikian ada yang memandang bahwa
soal senang atau tidak senang bukannya satu-satunya demensi dari perasaan. Menurut
W. Wundt perasaan tidak hanya dapat dialami oleh individu sebagai perasaan senang
atau tidak senang, tetapi masih dapat dilihat dari demensi lain. Perasaan yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan dinyatakan oleh Wundt sebagai demensi
yang pertama. Disamping itu masih terdapat demensi lain yaitu excited atau innert
feeling; hal ini oleh Wundt digunakan sebagai demensi yang kedua. Sesuatu perasaan
yang dialami oleh individu itu dapat disertai tingkah laku perbuatan yang menampak,
misalnya orang menari-nari karena gembira sekali sehabis menerima uang banyak
atau lulus ujian, tetapi ada pula sekalipun ia menerima uang banyak atau lulus ujian
dan mengalami sesuatu perasaan, tetapi ia tetap tenang saja tanpa adanya
perbuatan-perbuatan atau tingkah laku yang menampak seperti pada orang yang
pertama. Demensi lain yang digunakan sebagai demensi yang ketiga yaitu expectancy
dan release feeling. Sesuatu perasaan dapat dialami oleh individu sebagai sesuatu
yang masih dalam pengharapan, tetapi ada pula perasaan yang dialami individu
karena peristiwa atau keadaan itu telah nyata terjadi atau telah release.
(Woodworth & Marquis, 1957).
Dengan demikian dapat diketahui bagaimana pendapat dari Wundt mengenai
perasaan. Menurut Woodworth dan Marquis apa yang diajukan Wundt itu memang
berharga, tetapi tidak adanya suatu alasan mengapa hanya tiga demensi saja, tidak
lebih dan tidak kurang. Sehubungan soal waktu dan perasaan, stern juga
membedakan perasaan dalam tiga golongan yaitu:
1) Perasaan-perasaan presens, yaitu yang bersangkutan dengan keadaankeadaan sekarang yang dihadapi. Hal ini berhubungan dengan situasi yang
aktual.
2) Perasaan-perasaan yang menjangkau maju, merupakan jangkauan ke
depan dalam kejadian-kejadian yang akan datang, jadi masih dalam
pengharapan.
3) Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan waktu-waktu yang telah
lalu, atau melihat kebelakang yang telah terjadi. Misalnya orang merasa
sedih, karena teringat pada waktu jaman ke-emasannya beberapa tahun
yang lampau.(Bigot dkk., 1950).

Perasaan dan gejala kejasmanian


Perasaan juga berkaitan erat dengan keadaan tubuh atau gejala jasmani
seperti misalnya kala ada orang bercakap-cakap umumnya disertai dengan
gerakan mimik muka, gerakan tangan dan gerakan lain untuk memperjelas
apa yang dikatakan. Contoh lain gerakan orang yang sedang memeberikan
penghormatan akan berbeda dengan geraklan orang yang sedang marah.
Dengan demikian ada hubungan timbal balik antara keadaan tubuh dengan
perasaan. Keadaan tubuh akan mempengaruhi perasaan namun perasaan akan
mempengaruhi gerakan tubuh. Tanggapan-tanggapan tubuh terhadap perasaan
dapat berwujud :
a. mimik muka
b. pantomimik ; gerakan-grakan anggota badan
http://edwi/.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Psikologi Komunikasi

KULIAH 8
c. Gejala pada tubuh seperti denyut nadi, wajah yang berubah menjadi pucat
Edwi Arief Sosiawan, SIP, Msi

Macam-Macam Perasaan
Dalam kehidupan sehari-hari sering didengar adanya perasaan yang tinggi dan
perasaan yang rendah. Keadaan ini menunjukan adanya suatu klasifikasi dari
perasaan.
Max Scheler mengajukan pendapat bahwa ada 4 macam tingkatan dalam
perasaan, yaitu:
1) Perasaan tingkat sensoris
Perasaan ini merupakan perasaan yang berdasarkan atas kesadaran yang
berhubungan dengan stimulus pada kejasmanian, misalnya rasa sakit,
panas, dingin.
2) Perasaan kehidupan vital
Perasaan ini bergantung kepada jasmani seluruhnya, misalnya rasa segar,
lelah dan sebagainya.
3) Perasaan kejiwaan
Perasaan ini merupakan perasaan seperti rasa gembira, susah, takut.
4) Perasaan kepribadian
Perasaan ini merupakan perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan
pribadi, misalnya perasaan harga diri, perasaan putus asa, perasaan puas.
(Bigot, dkk., 1950)
Disamping itu Kohnstamm memberikan klasifikasi perasaan sebagai berikut:
1) Perasaan keindraan
Perasaan ini adalah perasaan yang berhubungan dengan alat-alat indera,
misalnya perasaan yang berhubungan dengan pencecapan, umpamanya
asam, asin, pahit, manis; yang berhubungan dengan bau dan sebagainya.
Juga termasuk dalam hal ini perasaan-perasaan lapar, haus, sakit, lelah
dan sebagainya.
2) perasaan kejiwaan
Dalam golongan ini perasaan masih dibedakan lagi atas:
a. Perasaan Intelektual
Perasaan ini merupakan jenis perasaan yang timbul atau
menyertai perasaan intelektual, yaitu perasaan yang timbul bila orang
dapat memecahkan suatu soal, atau mendapatkan hal-hal yang baru
sebagai hasil kerja dari segi intelektualnya.Perasaan ini juga dapat
merupakan suatu pendorong atau dapat memotivikasi individu dalam
berbuat; dan perasaan ini juga dapat merupakan motivasi dalam
lapangan ilmu. Orang akan merasa senang dan puas bila dapat
mendapatkan suatu pendapat atau teori yang baru dalam lapangan
ilmu. Anak juga akan merasa senang dan puas, misalnya bila ia dapat
memecahkan soal hitungan yang menurut ukurannya merupakan suatu
soal yang cukup berat. Perasaan yang timbul ini adalah yang
berhubungan dengan segi intelektualnya.

b. Perasaan Kesusilaan
Perasaan ini timbul kalau orang mengalami hal-hal yang baik
atau buruk menurut norma kesusilaan. Hal-hal yang baik akan
http://edwi/.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Psikologi Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan, SIP, Msi


KULIAH 8
menimbulkan perasaan yang positif, sedangkan hal-hal yang buruk
akan menimbulkan perasaan yang negatif. Jadi orang akan mengalami
perasaan yang positif kalau ia berbuat baik, demikian sebaliknya ia
akan mengalami perasaan yang negatif kalau berbuat jelek.
c. Perasaan Keindahan
Perasaan ini timbul kalau orang mengamati sesuatu yang indah
atau jelek. Yang indah menimbulkan perasaan positif, yang jelek
menimbulkan perasaan negatif.
d. Perasaan Kemasyarakatan
Perasaan ini timbul dengan hubungan dengan orang lain. Kalau
orang mengikuti keadaan orang lain, adanya perasaan yang
menyertainya. Perasaan dapat bermacam-macam coraknya, misalnya
benci atau antipati, senang atau simpati. Perasaan senang adalah
merupakan perasaan yang positif, kebencian merupakan perasaan yang
negatif. Perasaan kebangsaan merupakan perasaan kemasyarakatan
juga.
e. Perasaan Harga Diri
Perasaan ini merupakan perasaan yang menyertai harga diri
seseorang. Perasaan ini dapat positif, yaitu timbul kalau orang
mendapatkan penghargaan terhadap dirinya. Perasaan ini dapat
meningkat kepada perasaan harga diri lebih. Tetapi perasaan ini juga
dapat bersifat negatif yaitu bila orang mendapatkan kekecewaan. Ini
dapat menimbulkan rasa harga diri kurang. Perasaan harga diri lebih
jauh dikupas oleh Alfred Adler, sebagai seorang tokoh dalam psikologi
individual.
f. Perasaan Ke Tuhanan.
Perasaan ini menyertai kepercayaan kepada Tuhan yang
mempunyai sifat-sifat yang serba sempurna. Perasaan percaya ini
akan membawa seseorang untuk berbuat baik, berbuat soleh. Perasaan
ke Tuhanan merupakan perasaan yang tertinggi atau terdalam.
Perbuatan manusia yang luhur dan suci adalah berpusat pada perasaan
ke Tuhanan ini. Dalam dan tingginya perasaan ke Tuhanan tidak
bergantung kepada kepandaian atau kecakapan seseorang. Dengan
perasaan ke Tuhanan segala sesuatu akan tertuju kepada-Nya.

Affek dan Steming (suasana hati)


Affek merupakan peristiwa psikis yang dapat diartikan sebagai rasa
ketegangan yang hebat dan kuat yang timbul dengan tiba-tiba dalam waktu singkat,
tidak disadari dan disertai dengan gejala-gejala jasmaniah yang hebat pula. Sebagai
akibatnya pribadi yang dihinggapi affek tadi tidak mengenal atau tidak menyadari
lagi sesuatu yang diperbuatnya, misalnya : ketakutan, kemurkaan, kemuakan,
ledakan dendam kesumat, cinta birahi dan sebagainya
Sedangkan stemming adalah suasana hati yang berlangsung agak lama, lebih
tenag, lebih berkesinambungan dan ditandai dengan perasaan senang atau tidak
senang dan diterima sebagai keadaan sadar.

Simpati dan empati


Adalah merupakan suasana hati yang berhubungan dengan orang lain. Simpati
adalah perasaan ketertarikan terhadap orang lain yaitu kecenderungan untuk ikut
http://edwi/.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com

Psikologi Komunikasi

Edwi Arief Sosiawan, SIP, Msi


KULIAH 8
serta merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain karena adanya daya
tarik terhadap orang lain tersebut (feeling with another person). Simpati dapat
timbul karena persamaan cita-cita, penderitaan yang sama dan sebagainya.
Sedangkan perasaan kebendcian terhadap orang lain adalah disebut sebagai antipati
dan gejalanya sama dengan simpati berupa tindakan yang tidak berdasar sesuatu
yang logis.
Empati adalah kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan oarng
lain andaikata dia dalam situasi orang lain. Faktor yang menyebabkannya karena
didorong oleh emosi yang seolah-olah ikut mengambil bagian dari apa yang dirasakan
orang lain (feeling into a person thing)
Beberapa Teori Emosi
Bagaimanakah hubungan antara emosi dengan gejala-gejala kejasmanian,
yaitu apakah emosi yang menimbulkan gejala-gejala kejasmanian yang menimbulakan
emosi. Mengenai hal ini adanya pendapat yang satu bertentangan dengan pendapat
yang lain. Pendapat-pendapat ini sering dikenal dengan teori-teori dalam emosi,
yaitu:
1. Teori sentral
Menurut teori atau pendapat ini gejala kejasmanian merupakan akibat dari
emosi yang dialami oleh individu; jadi individu mengalami emosi terlebih dahulu
baru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam kejasmaniannya. Karena
itu teori atau pendapat ini dikenal dengan teori sentral, yang dikemukakan oleh
Cannon. Jadi berdasarkan atas teori ini dapat dikemukakan bahwa gejala-gejala
kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu.
2. Teori perifir
Menurut pendapat atau teori ini justru sebaliknya. Gejala-gejala kejasmanian
bukanlah merupakan akkibat dari emosi yang dialami oleh individu, tetapi
malahan emosi yang dialami oleh individu merupakan akibat dari gejala-gejala
kejasmanian. Menurut teori ini orang tidak menangis karena susah, tetapi
sebaliknya ia susah karena menangis. Teori ini dikemukakan oleh James, yang
bersamaan waktunya juga dikemukakan oleh Lange. Oleh karena itu teori ini
sering dikenal dengan teori James-Lange dalam emosi, yang sering pula disebut
paradoks dari James. Sementara ahli mengadakan eksperimen-eksperimen untuk
menguji sejauh mana kebenaran teori James-Lange ini, antara lain Sherrington
dan Cannon, yang pada umumnya menunjukkan bahwa apa yang dikemukakan
oleh James tidak tepat. Teori James-Lange ini lebih menitik beratkan pada halhal yang bersifat perifir daripada yang bersifat sentral. (Woodworth & Marquis,
1957)
3. Teori kepribadian
menurut pendapat atau teori ini ialah bahwa emosi merupakan suatu aktivitas
pribadi, dimana pribadi ini tidak dapat di pisah-pisahkan dalam jasmanai dan
psikis sebagai substansi yang terpisah. Karena itu maka emosi meliputi pula
perubahan-perubahan kejasmanian misalnya apa yang dikemukakan oleh J.
Linchoten.

http://edwi/.dosen.upnyk.ac.id

edwias@yahoo.com