Anda di halaman 1dari 47

TAMBANG TERBUKA

TKP 291114

K01-PENDAHULUAN
DOSEN PENGASUH,

Dr. Ir. H Marwan Asof, SEA


Ir. A Rahman, MS
Ir. Mukiat, MS

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA


JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2015

BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Peradaban dan pembangunan manusia sekarang ini tak dapat lepas
dari peranan input-input hasil sumber daya alam terutama
pertambangan, dan aktivitas ini terkait erat dengan peningkatan
kesejahteraan manusia. Tambang dan sumber daya mineral tidak dapat
dilepaskan dari lingkungan pembentukannya di bumi. Daerah dengan
tatanan geologis tertentu akan menghasilkan cadangan mineral yang
ekonomis, dan bagi daerah tertentu, kehadiran cadangan ini dapat
menjadi tulang punggung pendapatan daerah.
Pertambangan berpotensi untuk menjadi agen perubahan
(development agent) di suatu daerah karena umumnya tambang
berlokasi di daerah remote yang akhirnya dapat membuka akses dan
meningkatkan infrastruktur di sekitar lokasi tersebut. Aktivitas
pertambangan haruslah dijalankan secara berkelanjutan karena sifatnya
yang temporari dan mengambil sumber daya yang tak pulih (non
renewable resources). Oleh karenanya pemulihan lahan yang terganggu
akibat aktivitas pertambangan harus dioptimalkan sehingga menjadi lahan
yang produktif.
Selain itu, manfaat dari aktivitas pertambangan perlu di konversi ke
dalam bentuk lain (transformasi manfaat) agar pembangunan tetap dapat
berlanjut dan tetap memberikan kesejahteraan di daerah sekitarnya.
Lantas apa maksud dari keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam
pertambangan?, dimana, pemanfaatan yang berkelanjutan adalah
memanfaatkan seefisien mungkin sumber daya mineral (yang sifatnya
non renewable resources) melalui peningkatan dan konversi nilal
tambah dengan mengedepanpan nilai lingkungan, keadilan sosial dan
tetap memberikan kesempatan pada generasi mendatang untuk
menikmati sumber daya mineral tersebut.
Pertambangan sumber daya mineral telah dimulai sejak peradaban
manusia dimulai. Hasil pertambangan tersebut dimanfaatkan demi
ksejahteraan manusia. Oleh karena pertambangan diyakini sebagai ikhtiar
kedua yang dilakukan manusia setelah pertanian/agrikultur.
Pertambangan adalah suatu bentuk usaha atau pekerjaan dalam
pengambilan endapan berharga atau yang mempunyai nilai dari bumi dan
diangkut ke tempat pengolahan atau pemakai. Tujuan industri
pertambangan adalah untuk memanfaatkan sumber daya mineral yang
terdapat di dalam kulit bumi demi kesejahteraan manusia.

Penemuan dan pemanfaatan mineral sering kali diasosiasikan


dengan era budaya (cultural ages of man), antara lain, zaman batu (4000
SM), zaman tembaga (4000-1500 SM), zaman besi (1500 SM - 1780),
zaman baja (1780 - 1945), dan zaman nuklir (sejak 1945).

Pertambangan di Indonesia sudah dimulai berabad-abad yang lalu


(bahan untuk keris, batu untuk Borobudur, dll) namun secara modern baru
mulai pada abad ke-19 (tambang batubara Ombilin mulai produksi tahun
1892), dan telah mengalami pasang surut, seperti,
Pasang pertama terjadi pada tahun 1941,
Lalu surut pada jaman penjajahan Jepang dan berlanjut sampai tahun
1967,
Kebangkitan kembali pada tahun 1967 dengan masuknya beberapa
perusahan tambang internasional.

Perkembangan yang signifikan terjadi pada tahun 90-an, seperti


yang pada tahun 2005, dimana,

Peringkat 2 dunia untuk timah


Peringkat 3 dunia untuk tembaga
Peringkat 4 dunia untuk nikel
Peringkat 8 dunia untuk emas
Peringkat 2 dunia ekspor batubara

Endapan bahan galian merupakan salah satu jenis sumber daya


mineral. Endapan bahan galian pada umumnya tersebar secara tidak
merata di dalam kulit bumi baik jenis, jumlah maupun kadarnya. Kemudian
konsep pemanfaatan mineral berkelanjutan ini akan berlandaskan pada
isu demokrasi, keadilan dan pemerataan yang sifatnya lintas generasi.
Suatu konsep yang perlu melibatkan seluruh stake holders. Ini juga adalah
suatu konsep yang menekankan pentingnya pengelolaan keteknikan,
wawasan sosial kemasyarakatan, pendekatan lingkungan yang terpadu
dan kesemua hal ini dapat dilebur untuk diterapkan dalam praktek
pengelolaan tambang yang benar (Good Mining Practice). Good Mining
Practice dapat dijelaskan secara gamblang sebagai aktivitas
pertambangan yang memenuhi kriteria, kaidah maupun norma-norma
menambang yang tepat sehingga pemanfaatan mineral memberikan
hasil optimal dan mengurangi dampak negatip yang terjadi. Beberapa
ciri Good Mining Practice antara lain, yaitu,
1. Penerapan Prinsip Konservasi dan nilai lindung lingkungan,
2. Kepedulian terhadap K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) terutama

bagi pekerjanya,
3. Meciptakan nilai tambah bagi pengembangan wilayah dan masyarakat

sekitar,
4. Kepatuhan terhadap hukum dan perundangan yang berlaku,

5. Menggunakan standarisasi keteknikan dan teknologi pertambangan

yang tepat dalam aktivitasnya,


6. Pengembangan potensi dan kesejahteraan masyarakat setempat
terutama dari optimalisasi dan konversi pemanfaatan mineral,
7. Menjamin keberlanjutan kegiatan pembangunan setelah periode pasca
tambang (mine closure),
8. Memberikan benefit yang memadai bagi investor.
Kemudian siapa yang harus melaksanakan Good Mining Practice
ini..? Seharusnya seluruh perusahaan tambang wajib melakukan Good
Mining Practice sebagai inisiatif global. Karena ini akan menjadi parameter
kepatuhan dan integritas perusahaan sebagai operator pertambangan.
Implementasi Good Mining Practice ini juga merupakan repectivitas
tehadap lingkungan, masyarakat serta Negara.
Sumber daya mineral (endapan bahan galian) memiliki sifat khusus
dibandingkan dengan sumber daya yang lain, yaitu yang disebut
wasting assets atau non renewable resource yang artinya bila
endapan bahan galian tersebut ditambang di suatu tempat, maka
bahan galian tersebut tidak akan tumbuh atau tidak dapat
diperbaharui kembali. Atau dengan kata lain industri pertambangan
merupakan industri dasar tanpa daur ulang, oleh karena itu di dalam
mengusahakan industri pertambangan selalu berhadapan dengan sesuatu
yang serba terbatas, baik lokasi, jenis, jumlah maupun mutu materialnya.
Keterbatasan ini ditambah lagi dengan usaha meningkatkan keselamatan
kerja serta menjaga kelestarian lingkungan hidup. Jadi di dalam
mengelola sumber daya mineral diperlukan penerapan sistem
penambangan yang sesuai dan tepat, baik ditinjau dari segi teknis
maupun ekonomis, agar perolehannya dapat optimal. Ciri Utama Industri
Pertambangan, yaitu,
1. Penyebaran mineral yang tidak merata pada kulit bumi,
2. Kadar mineral berharga jauh lebih kecil dibanding dengan
material keseluruhan yang perlu digali,
3. Penggalian/eksploitasi yang dilakukan, merusak bentang alam,
4. Padat modal dan perlu pekerja khusus.
Maksud dan tujuan industri pertambangan adalah untuk
memanfaatkan sumber daya mineral yang terdapat di dalam kulit bumi
demi kesejahteraan umat manusia. Dalam pelaksanaannya, kegiatan
pertambangan di suatu daerah akan memberikan dampak terhadap
lingkungannya, baik dampak positif maupun negatif.
1. Dampak Positif yang ditimbulkannya adalah,
a Menambah pendapatan negara,
b Ikut meningkatkan perkembangan sosial, ekonomi, budaya dan
kesehatan masyarakat daerah setempat,
c Memberi kesempatan kerja yang lebih besar,
d Memberi kesempatan alih teknologi,

e Memantapkan keamanan dan kelestarian lingkungan,


f Berperan sebagai pusat pengembangan wilayah (community and
regional development).
2. Dampak negatif yang ditimbulkannya adalah,
a
Mengubah morfologi dan fisiologi tanah (tata guna lahan),
b
Merusak lingkungan, karena,

Kesuburan tanah dapat berkurang/hilang,

Mengurangi vegetasi, sehingga dapat menimbulkan kegundulan


hutan, longsor dan erosi,

Flora dan fauna rusak sehingga ekosistemnya juga rusak,

Mencemari badan air (sungai, danau dan laut),

Terjadinya polusi suara dan udara (debu dan kebisingan).


c Dapat menimbulkan kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya di
sekitar daerah tersebut.
II. METODE PENAMBANGAN
Metode Penambangan secara umum dapat digolongkan menjadi
tiga, yaitu,
1. TAMBANG TERBUKA (SURFACE MINING), adalah metode
penambangan yang segala kegiatan atau aktivitas penambangannya
dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan
tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar.
2. Tambang Bawah Tanah (Tambang Dalam/Underground Mining),
adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktivitas
penambangannya dilakukan di bawah permukaan bumi, dan tempat
kerjanya tidak berhubungan langsung dengan udara luar.
3. Tambang Bawah Air (Underwater Mining) adalah metode
penambangan yang kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah
permukaan air atau endapan mineral berharganya terletak di bawah
permukaan air.
Metode penambangan itu dipilih berdasarkan pada metode yang
dapat memberikan keuntungan yang terbesar dan bukan pada dangkal
atau dalamnya letak endapan bahan galian itu, serta mempunyai
perolehan tambang (mining recovery) yang terbaik. Hal itu harus
dilakukan karena usaha (industri) pertambangan dikenal sebagai wasting
assets dengan risiko tinggi, sedangkan endapan bahan galian tersebut
tak dapat diperbaharui (non renewable resources).

III. CARA MEMILIH METODE PENAMBANGAN

Penambangan dengan metoda tambang terbuka adalah suatu


kegiatan penggalian bahan galian seperti batubara, ore (bijih), batu dan
sebagainya, di mana para pekerja berhubungan langsung dengan udara
luar dan iklim.
Menurut Morrison & Russel (1973) dan Boshkov & Wright (1973),
Tambang terbuka adalah, suatu metoda penambangan yang paling sesuai
dengan karakteristit unik (alam, geologi, lingkungan) dari endapan mineral
yang ditambang, di dalam batas keamanan, teknologi dan ekonomi, untuk
mencapai ongkos yang rendah dan keuntungan maksimum.
Tambang Terbuka (surface mining) didefinisikan sebagai segala
kegiatan/aktivitas penambangan yang dilakukan di atas atau relatif dekat
permukaan bumi dan tempat kerja berhubungan langsung dengan udara
luar. Bagaimana cara memilih salah satu metode penambangan yang
sesuai ?, ada 2 (dua) hal yang harus diperhatikan, yaitu,
1.

KEDALAMAN ENDAPAN, ini merupakan konsep yang telah lama,


dan sekarang ini sudah tidak cocok lagi. Sebagai contoh, di Cikotok
dipakai sistem Tambang Bawah Tanah, dimana kedalaman endapan
bahan galiannya hanya kurang dari 435 meter. Sedangkan Tambang
Tembaga di Bingham (Utah, USA) pada tahun 1962 sudah mencapai
kedalaman 435 meter (1300 ft) ditambang dengan sistem Tambang
Terbuka.

2.

KEKONOMISAN, Pertimbangan ekonomis ini tujuannya untuk


memperoleh keuntungan yang semaksimal mungkin dengan mining
recovery yang semaksimal mungkin juga, dan relatif aman bagi para
pekerja.

Agar usaha pertambangan tersebut lebih Bernilai Ekonomis,


diperlukan dua jenis data awal (data managemen), yaitu,
1.

METODE PENAMBANGAN yang sesuai dengan kondisi lapangan


(Mining Recovery), ada beberapa hal pula yang harus diperhatikan,
yaitu,
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Data mineralogis
Sifat fisik dan kimia dari Ore dan Country Rock,
seperti kekerasan, inpermeability dan sebagainya
Keadaan geologi, seperti strukturnya apakah adanya
patahan atau lipatan dan sebagainya
Ukuran, bentuk dan letak endapan
Kadarnya, yaitu kadar rata-rata dan penyebarannya
Modal yang tersedia
Ada atau tidaknya bahan pembantu di daerah tersebut
(tergantung kepada sistem apa yang dipakai).

Dengan adanya sistem penambangan yang baik, akan meningkatkan


Mining Recovery. Pengertian Mining Recovery adalah
perbandingan antara endapan yang berhasil ditambang dengan
endapan yang diperkirakan ada menurut perhitungan berdasarkan data
hasil eksplorasi.
2.

EFISIENSI KERJA yang tinggi, dapat dilakukan dengan beberapa


cara, yaitu,

Memilih alat, maksudnya jumlah dan tipe alat yang sesuai,


Koordinasi yang baik terhadap alat-alat,
Organisasi yang sesuai/cocok untuk kondisi tersebut,
d.
Buruh yang terlatih untuk tugasnya masing-masing.
Ada kriteria yang dapat digunakan sebagai dasar untuk penentuan
pemilihan apakah suatu cadangan (bijih atau batubara) akan ditambang
dengan metoda tambang terbuka atau tambang dalam yaitu dengan
membandingkan banyaknya jumlah tanah penutup (waste) yang harus
digali dengan volume atau tonase ore atau batubara yang dapat
ditambang. Perbandingan ini dikenal dengan istilah Stripping Ratio.
Apabila nilai perbandingan ini (stripping ratio) masih dalam batas-batas
keuntungan, maka metoda tambang terbuka dianggap masih ekonomis.
Sebaliknya apabila nilainya di luar batas keuntungan, maka metoda
penambangan dalam (underground) yang dipilih.
a.
b.
c.

Data yang diperlukan untuk menentukan Metode Penambangan


yang baik dan benar, yaitu,
1. Karakteristik spasial endapan bijih (Ore body)
a Ukuran (dimensi, terutama tinggi atau ketebalan),
b Bentuk (tabular, lenesis, massive, tidak beraturan),
c Kedudukan atau attitude (kemiringan atau dip),
d Kedalaman (nilai rata-rata, nisbah pengupasan),
e Kadar dan jumlah cadangan.
2. Kondisi geologi dan hidrologi
a. Mineralogi dan petrografi (sulfida, oksida dsb.),
b. Komposisi kimia (unsur utama atau hasil sampingan),
c. Struktur endapan bijih (lipatan, patahan, intrusi),
d. Bidang lemah (kekar, rekahan, belahan, cleat pada batubara),
e. Keseragaman, ubahan, pelapukan,
f. Kondisi air tanah dan hidrologi (kejadian, laju aliran, muka air tanah).
g. Kondisi batuan sekitar (country rock), seperti ketebalan, jenis dan
sifat fisiknya.
3. Keadaan Topografi
a. Posisi endapan dari permukaan tanah,

b. Sudut kemiringannya,
c. Kondisi lapisan tanah penutup/over burden (sifat fisik, ketebalan),
d. Keadaan iklim, hujan dan cuaca yang lazim di daerah tambang.
4. Sifat-sifat Geoteknik (mekanika tanah dan batuan)
a. Sifat elastis (kekuatan, modulus elastisitas, poison ratio).
b. Perilaku plastis atau viscoelastis (aliran, rayapan),
c. Kondisi tegangan (asli atau modifikasi oleh penambangan),
d. Konsolidasi, kompaksi, dan kompetensi,
e. Sifat fisik lainnya (berat jenis, porositas, permiabilitas).
5. Pertimbangan Ekonomi (faktor ini akan mempengaruhi hasil
investasi, cash flow, pay back period & keuntungan),
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Cadangan (tonase dan kadar),


Nilai dari endapan bijih per unit berat,
Pekerjaan dan biaya Development,
Penentuan target produksi awal
Jadwal produksi dan stripping over burden,
Rencana penggalian dan pembuangan waste,
Produktivitas dan tingkat produksi (output per unit waktu),
Rincian peralatan dan kebutuhan tenaga kerja (termasuk tenaga ahli)
Perhitungan ongkos,
Biaya penambangan relatif secara Tambang terbuka VS Tambang
bawah tanah,
k. Perbandingan biaya penambangan dengan tingkat produksi yang
diinginkan,
l. Modal yang tersedia,
m.Harga pasaran produk yang akan ditambang,
n. Laba yang diinginkan,
o. Effisiensi.
p. Ongkos produksi,
q. Ongkos Stripping of overburden,
r. Cut Off Grade (COG).
6. Faktor Teknologi
a. Perolehan penambangan (mining recovery),
b. Cut off grade berapa yang boleh diambil,
c. Economic stripping ratio,
d. Dilusi penambangan (mining dilution),
e. Pengotoran & Kehilangan mineral (Tambang Terbuka VS Tambang
bawah tanah),
f. Fleksibilitas metode terhadap perubahan situasi,
g. Selektifitas metode untuk membedakan bijih & limbah/waste,
h. Konsentrasi atau dispersi pekerjaan,
i. Kontinuitas operasi tambang,
j. Macam-macam alat yang diperlukan.

k. Fasilitas teknis lainnya yang layak dalam melakukan kegiatan


penambangan,
l. Ultimate and operational pit slope (tata letak dan rencana bukaan
tambang),
7. Pasca Penambangan,
a. Dalamnya dan ukuran tambang pada akhir operasi,
b. Lamanya tambang beroperasi akan berapa lama (Umur tambang),,
c. Kemiringan tambang (pit slope) yang diperbolehkan,

8. Peralatan Tambang,
a. Umur pemilikan,
b. Rencana dan jadwal penggantian alat-alat utama sepanjang umur
tambang.
c. Produksi harian yang diinginkan,
d. Alokasi modal yang tersedia untuk peralatan,
e. Jarak pengangkutan,
f. Tinggi bench,
g. Luas daerah kerja yang tersedia,
h. Lebar jalan yang tersedia,
i. Kondisi iklim.
9. Masalah Lingkungan (mencakup lingkungan fisik, sosial, politik
dan ekonomi)
a Kontrol lahan untuk menjaga integritas bukaan,
b Subsidence (penurunan permukaan tanah),
c Kontrol udara (ventilasi, panas dan kelembaban),
d Ketenaga Kerjaan (rekruitmen, training, kesehatan dan keselamatan,
pemukiman dan masyarakat sekitar).
e Perlindungan dan perawatan permukaan dan pencegahan polusi air
dan udara.
f Kemudahan mendapatkan fasilitas teknik untuk pelbagai pekerjaan
tambang (macam energi dan peralatan) misal drilling, alat muat dan
alat transport,
Untuk dapat menentukan metoda penambangan apa yang cocok
untuk diterapkan maka yang perlu diperhatikan adalah,
a. Semua data tersebut di atas hendaknya dimiliki secara lengkap agar
diperoleh maximum recovery,
b. Perlu membandingkan efisiensi ekonomi dari open mining dan
underground mining, terkecuali keuntungan dari salah satu metode
sudah terlihat jelas.

c. Karakteristik dasar yang digunakan dalam evaluasi ekonomi dari


tambang terbuka adalah stripping ratio, yaitu besarnya volume dari
over burden yang digali per unit ore yang diperoleh.
d. Dalam penambangan open pit, perlu dihitung ongkos untuk
pembuangan waste over burden dan waste dari country rock.
e. Perbandingan antara waste dan ore merupakan faktor kontrol dalam
membandingkan ongkos penambangan ore berdasarkan open pit atau
metode underground. Agar diperoleh hasil yang diharapkan maka
sebelum membuka suatu tambang perlu dipahami terlebih dahulu
konsep penambangan beserta prosedur rencana penambangan yang
benar.

1 = Overburden cover;
2 = Waste (country rock),
3 = Ore body

Sejumlah kriteria untuk mendesain tambang harus ditentukan melalui


data (informasi) yang diperoleh dari penyelidikan eksplorasi (drill core
specimens). Saat ini isu tentang lingkungan perlu diterapkan diberbagai
bentuk usaha termasuk usaha pertambangan yang cukup dikenal sangat
merusak lingkungan. Upaya untuk menerapkan teknologi penambangan
yang berwawasan lingkungan harus diperhitungkan pada tahap kegiatan
feasibility study (studi kelayakan) untuk pembukaan suatu tambang.
Reklamasi tambang (pendayagunaan kembali lahan yang rusak
akibat penambangan) haruslah direncanakan pada awal sebelum kegiatan
tambang dimulai.

IV. KEUNTUNGAN & KERUGIAN METODE TAMBANG TERBUKA


Mengapa harus diambil suatu keuntungan yang besar dalam usaha
pertambangan? Pertumbuhan suatu endapan (regeneration of the deposit)
sangatlah lama, jika dibandingkan dengan kecepatan pengambilannya.
Oleh sebab itu dalam ilmu ekonomi dikatakan Wasting Assets atau
Unrenewable, yaitu penghamburan modal. Sehingga harus diusahakan
untuk mengambil ore nya sebanyak mungkin. Dan pada umumnya, kalau
ada ore yang tertinggal sukar untuk mengambilnya kembali. Karena itu,
bagian-bagian yang ditinggalkan hanyalah terbatas kepada bagian-bagian
yang tersukar untuk diambil saja. Bagian-bagian yang tersukar ini akan
membutuhkan biaya yang lebih mahal/besar apabila ditambang. Sebagai
contoh Tambang Tembaga di Tembaga Pura yang diusahakan oleh
Freeport, diperkirakan cadangannya 30 juta ton, dan yang tidak mungkin
diambil bijihnya hanya 4 juta ton.
Dengan demikian pada usaha pertambangan ada hal-hal yang
kontradiktif di dalam memilih sistem penambangannya, yaitu,
1.

Dengan aman, biaya maksimal, tetapi tidak didapatkan keuntungan


yang besar
2.
Tidak/kurang aman, biaya tidak begitu besar, dan mendapatkan
keuntungan yang besar.
Di sinilah letak perbedaan antara ilmu-ilmu rekayasa dengan ilmuilmu matematik. Kalau pada ilmu rekayasa disebut open long solution,
jawabannya tidak hanya satu, banyak alternatif. Sedangkan pada ilmu
matematik disebut one answer solution, yaitu hanya terdapat satu
jawaban atau alternatif saja.
KEUNTUNGAN TAMBANG TERBUKA
Ongkos operasi penambangan per m 3 atau ton, rata-rata lebih
rendah (per unit ore) karena tidak perlu adanya penyanggaan, ventilasi
dan penerangan (illumination)
2.
Pengamatan dan pengawasannya relatif lebih mudah. Faktor ini
sekarang tidak terlihat begitu menyolok, dengan adanya kemajuan
teknologi di bidang komunikasi. Pengawasan dapat diawasi dengan
menggunakan kamera-kamera televisi.
3.
Kondisi kerja yang lebih baik, karena langsung berhubungan
dengan udara luar dan sinar matahari.
4.
Penggunaan alat-alat mekanis yang ukurannya besar dapat lebih
leluasa bergerak, sehingga dengan demikian produksinya lebih besar.
Sebagai bahan perbandingan adalah Tambang Terbuka yang terbesar
dewasa ini (di Chuqui Canata, Chili, USA) 150.000 ton/hari, sedangkan
Tambang Bawah Tanah terbesar dewasa ini hanya 5.000 ton/hari
1.

5.
6.

7.

8.
9.
10.
11.

Mining Recovery rata-rata lebih besar karena batas-batas endapan


lebih mudah dilihat/diketahui dan dapat dimanfaatkan secara
keseluruhan.
Pemakaian bahan peledak dapat lebih efisien, leluasa dan hasilnya
lebih baik. Di samping karena bahan peledak lebih mudah/cepat
diencerkan oleh udara, sehingga gas-gas beracunnya kurang
berbahaya, dan biasanya pada permukaan bumi selalu dijumpai
sekurang-kurangnya dua freeface (bidang bebas).
Relatif lebih aman, karena bahaya yang mungkin akan timbul
hanyalah sebagai akibat kelongsoran. Sedangkan pada Tambang
Bawah Tanah disamping kelongsoran, juga disebabkan gas-gas
beracun, kebakaran, keruntuhan dan sebagainya.
Produksi tinggi,
Konsentrasi operasi (kegiatan) tinggi,
Kegiatan eksplorasi dan keadaan geologi lebih mudah,
Perencanaan lebih sederhana,

KERUGIAN TAMBANG TERBUKA


1.

2.

3.

4.
5.

Karena pengaruh langsung dari cuaca/udara, maka karyawan lebih


mudah dipengaruhi oleh keadaan cuaca tersebut. Kalau sangat panas
efisiensi berkurang, demikian pula kalau hari hujan, mungkin tak dapat
bekerja sama sekali, sehingga hasil kerja menurun.
Dalamnya penggalian terbatas, terutama tergantung kepada bentuk
endapannya. Dan dalamnya endapan ini dipengaruhi pula oleh
Stripping Ratio nya, yaitu perbandingan antara pembuangan
overburden dengan penggalian ore-nya yang sangat menyolok sekali.
Karena seringnya melakukan mixing/blending/percampuran, maka
alat-alat akan tersebar, sehingga menyulirkan pengaturan alat-alat
angkut maupun gali. Maka pengawasan akan lebih sulit pada masalah
pengangkutannya.
Adanya kesukaran pembuangan tanah penutup (overburden).
Pencemaran lingkungan biasannya relatif lebih tinggi.

V. JENIS-JENIS ENDAPAN
Berdasarkan cara penambangan yang dilakukan, terutama cara
pembuangan overburden nya, maka ada beberapa jenis endapan yang
cocok untuk Tambang Terbuka, yaitu,
1.

Endapan Elluvial (Eluvial Deposits), yaitu endapan yang terjadi


karena adanya proses konsentrasi oleh alam terhadap hasil pelapukan
batuan sumber yang telah terangkut pada jarak yang kurang dari 100
meter atau endapan sekunder yang terkumpul masih dekat dengan
batuan induknya, misalnya urat bijihnya (vein), dan belum sempat

mencapai sungai. Umumnya diketemukan dekat permukaan bumi


(cadangan sedikit)
2.

Endapan Alluvial (alluvial or placer or beach deposits) yaitu proses


terjadinya sama dengan endapan elluvial, tetapi telah terangkut lebih
dari 100 meter atau endapan sekunder yang terkumpul dalam jumlah
dan kadar yang tinggi melalui suatu proses konsentrasi alam yang
letaknya sudah jauh dari batuan induknya, dan sudah sempat diangkut
oleh air sungai atau ombak laut dan diendapkan dekat permukaan bumi
bersifat lepas (loose) contoh pasir (cadangan banyak).

3.

Urat bijih (Vein) yang tebalnya lebih dari 5 meter dan telah
tersingkap atau dekat permukaan bumi. dan tersingkap dengan
overburden yang tipis (1-2m).
4.
Endapan Horisontal yang luas, seperti batuan batubara, garamgaram dan ilmenite. (sedikit miring dengan kemiringan (1-5%) disebut
horizontal deposit (bedded/ tabular) contoh endapan batubara, KCl,
NaCl, KNO3. terbentuk secara sedimenter, luas letaknya kedalamannya
tidak tentu.
Keadaan daerah penambangan, terutama kondisi endapan dan
batuan sekitarnya sangat perlu diketahui secara rinci dan cermat (dengan
melalui kajian geologi dan geoteknik) sebelum membuka suatu tambang.
Desain penambangan yang cermat dan brsifat menyeluruh (yang
menyangkut segi teknik, ekonomi, dan lingkungan) merupakan syarat
utama yang harus dipahami dengan baik dalam merencanakan
pembukaan suatu tambang.
Ultimate pit slope design (desain bukaan tambang akhir) yang baik
(ekonomis , memiliki recovery tinggi, aman) sangat dipengaruhi oleh
kondisi geologi dan geoteknik daerah penambangan. Kemiringan bukaan
tambang (pit slope) hendaklah berdasarkan analisis kemantapan lereng
yang cermat (slope stability analysis).
VI. KLASSIFIKASI TAMBANG TERBUKA
Berdasarkan jenis material yang akan di tambang, maka Tambang
Terbuka secara umum (PROF. PARTANTO PRODJOSUMARTO) dapat
digolongkan ke dalam empat golongan, yaitu,
1.

OPEN PIT/OPEN MINE/OPEN CUT/OPEN CAST


Adalah Tambang Terbuka yang diterapkan atau dipakai pada
penambangan ore atau endapan bijih logam.
Perbedaan Open cut/Open mine dengan Open Pit/Open cast.

Open Pit atau Open Cast adalah metoda penambangan yang dipakai
untuk menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang
berada atau dekat dengan permukaan. Metoda ini cocok dipakai
untuk ore bodies yang berbentuk horizontal yang memungkinkan
produksi tinggi dengan ongkos rendah.
Strip Mining dan Quarry termasuk ke dalam Open Pit mining, namun
Strip mining biasanya dipakai untuk penambangan batubara dan
Quarry mining yang berhubungan dengan produksi non-metallic
minerals seperti dimension stone, rock aggregates, dll.
Kegiatan penambangan ini terkadang berada di bawah permukaan
tanah, bahkan kedalamannya dapat mencapai ratusan meter seperti
pada tambang terbuka tembaga (copper mine) di Bingham Canyon
Utah (USA).
Apabila diyakini keberadaan endapan mineral dekat dengan
permukaan,
hingga
dapat
dipastikan
pemilihan
metoda
penambangannya adalah tambang terbuka (open pit), yang perlu
dipertanyakan tentang economic cut off limitnya, hingga
dimungkinkan adanya perubahan metoda penambangan ke arah
underground (tambang bawah tanah) bila penyebaran endapan
mineral dapat menjamin.
Contoh Open Pit,
Tambang Nikel (garnierite) di Pomalaa, Soroako dan Gebe,
Tambang Bauxite di Pulau Bintan,
Tambang Tembaga di Sumbawa,
Tambang Emas di Gorontalo, Pongkor dan Gn. Muro,

OPEN PIT/OPEN CAST DAN OPEN CUT/OPEN MINE


2.

STRIP MINE
Adalah Tambang Terbuka yang khusus diterapkan untuk endapanendapan yang letaknya relatip horisontal atau mendatar, terutama
untuk batubara; dapat juga pada endapan garam yang mendatar.
Kebanyakan tambang batubara di Indonesia menggunakan metoda
tambang terbuka, oleh karena sebagian besar cadangan batubara
terdapat pada dataran rendah atau pada daerah pegunungan
dengan topografi yang landai dengan kemiringan lapisan batubara
yang kecil (<30). Untuk cebakan yang berada di bawah permukaan
tetapi relatif masih dangkal, maka metoda penambangan terbuka
umumnya akan lebih ekonomis dibandingkan dengan tambang
dalam (bawah permukaan). Dan bila cebakan itu berada jauh di
bawah permukaan dengan bentuk yang tidak beraturan, maka

mungkin penambangan dengan cara tambang bawah tanah yang


masih dianggap ekonomis.
Contoh, Tambang Batubara di Tanjung Enim.

STRIP MINE

3.

QUARRY
Adalah Tambang Terbuka yang diterapkan pada endapan mineral
industri (industrial minerals) atau bahan bangunan.
Contoh,
a. Tambang Granit di Pulau Karimun, Riau
b. Tambang Marmer/Batugamping di Maros dan Pangkep,
c. Tambang Batu Kapur untuk semen di Maros dan Tonasa,
Pangkep,
d. Quartz-Quarry, Sand-Quarry, Sulphur-Quarry, Marble-Quarry,
Andesite-Quarry di Bantul-Purwokerto,

4.

ALLUVIAL MINING
Dapat dikatakan sebagai Placer Mining ataupun di Australia disebut
Beach-mine, yaitu cara penambangan untuk endapan placer atau
alluvial.
Contoh,
a. Tambang Cassiterite di Pulau Bangka, Belitung dan sekitarnya;
b. Tambang Ilmenite di Cilacap,
c. Tambang Intan di Kalimantan Selatan.

Beberapa para ahli mengklasifikasi tambang terbuka atas beberapa


kelompok, diantaranya,
1. K. SWEET
a Placer mining/ Alluvial
mining
Panning & Sluicing
Hydraulicking (Tambang
Semprot)
Dredging (Kapal Keruk)
b Open Pit
Single Bench
Multiple Bench

Strip Mining
Quarry
c Glory Hole.
2. LEWIS
a Placer Mining
Pan. Rocker long term
Sluicing
Hydraulicking
Dredging.
b Open Cut Mining
Pemuatan secara manual
Pemuatan secara mekanis
Glory Hole.
3. HOWARD L. HARTMAN
a Open Pit Mining
b Quarrying
c Open Cast Mining
d Auger mining.
VII. PERTAMBANGAN DI INDONESIA
Pengertian Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam
rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan,
pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi,
migas). Paradigma baru kegiatan industri pertambangan ialah mengacu
pada konsep Pertambangan yang berwawasan Lingkungan dan
berkelanjutan, yang meliputi,
1.
2.
3.

Penyelidikan Umum (prospecting),


Eksplorasi (eksplorasi pendahuluan & eksplorasi rinci),
Studi kelayakan (teknik, ekonomik, lingkungan (termasuk studi
amdal),
4.
Persiapan produksi (development, construction),
5.
Penambangan
(Pembongkaran,
Pemuatan,
Pengangkutan,
Penimbunan),
6.
Reklamasi dan Pengelolaan Lingkungan,
7.
Pengolahan (mineral dressing),
8.
Pemurnian / metalurgi ekstraksi,
9.
Pemasaran,
10. Corporate Social Responsibility (CSR),
11.

Pengakhiran Tambang (Mine Closure).

Ilmu Pertambangan ialah ilmu yang mempelajari secara teori dan


praktik hal-hal yang berkaitan dengan industri pertambangan berdasarkan
prinsip praktik pertambangan yang baik dan benar (good mining
practice)
Menurut UU No.11 Tahun 1967, Bahan tambang tergolong menjadi
3 jenis, yakni,
1. Golongan A (yang disebut sebagai bahan strategis), Bahan Golongan A
merupakan barang yang penting bagi pertahanan, keamanan dan
strategis untuk menjamin perekonomian negara dan sebagian besar
hanya diizinkan untuk dimiliki oleh pihak pemerintah, contohnya
minyak, uranium dan plutonium.
2. Golongan B (bahan vital), Sementara, Bahan Golongan B dapat
menjamin hayat hidup orang banyak, contohnya emas, perak, besi dan
tembaga.
3. Golongan C (bahan tidak strategis dan tidak vital). Bahan Golongan C
adalah bahan yang tidak dianggap langsung mempengaruhi hayat
hidup orang banyak, contohnya garam, pasir, marmer, batu kapur dan
asbes.
UU Minerba No.4 Tahun 2009 (Pasal 1), dalam Undang-Undang ini
yang dimaksud dengan,
1.

Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan


dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau
batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.

2.

Mineral
adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki
sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau
gabungannya yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas
atau padu (UU Minerba).
Benda padat anorganik dan homogen yang terbentuk secara
alamiah,mempunyai sifat-sifat fisik dan kimia tertentu,dapat
berunsur tunggal (Au,Cu,Ag) atu persenyawaan (NaCl, CaCO 3).

3.

Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang


terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan.

4.

Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral


yang berupa bijih atau batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas
bumi, serta air tanah.

5.

Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon


yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan
batuan aspal.

6.

Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan


mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan
umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
pascatambang.

7.

Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah


izin untuk melaksanakan usaha pertambangan.

8.

IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan


tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi
kelayakan.

9.

IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah


selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan
kegiatan operasi produksi.

10. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah


izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah
pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi terbatas.
11.

Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut


dengan IUPK, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan
di wilayah izin usaha pertambangan khusus.

12. IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan
tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi
kelayakan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
13. IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah
selesai pelaksanaan IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan
kegiatan operasi produksi di wilayah izin usaha pertambangan
khusus.
14. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk
mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya
mineralisasi.
15. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk
memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi,
bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya terukur dari
bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan
lingkungan hidup.

16. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan


untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang
berkaitan untuk menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha
pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan
serta perencanaan pasca tambang.
17. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan
yang meliputi konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian,
termasuk pengangkutan dan penjualan, serta sarana pengendalian
dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan.
18. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan
pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk
pengendalian dampak lingkungan.
19. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk
memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.
20. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan
untuk meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk
memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan.
21. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk
memindahkan mineral dan/atau batubara dari daerah tambang dan
atau tempat pengolahan dan pemurnian sampai tempat penyerahan.
22. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil
pertambangan mineral atau batubara.
23. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang selanjutnya disebut
amdal, adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup
yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
24. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan
usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki
kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali
sesuai peruntukannya.
25. Kegiatan pascatambang, yang selanjutnya disebut pascatambang,
adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir
sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk
memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut
kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.

26. Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan


kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif,
agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya.
27. Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP, adalah
wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak
terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan
bagian dari tata ruang nasional.

PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS


Pasal 1 angka 11 UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara (UU Minerba) mengatur bahwa Izin Usaha
Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut dengan IUPK, adalah
izin untuk melaksanakan usaha pertambangan di Wilayah Izin Usaha
Pertambangan Khusus (WIUPK).
Dalam bab XI mengenai Persyaratan Perizinan Usaha
Pertambangan Khusus, Pasal 86 UU Minerba mengatur bahwa Badan
usaha yang melakukan kegiatan dalam WIUPK wajib memenuhi
persyaratan
administratif,
persyaratan
teknis,
persyaratan
lingkungan dan persyaratan finansial, yang sama dengan persyaratanpersyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan tipe-tipe Izin Usaha
Pertambangan yang lain.
Pemerintah berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha
pertambangan di suatu WIUPK, serta memberikan IUPK Eksplorasi dan
IUPK Operasi Produksi kepada masyarakat secara terbuka.
Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara sebagaimana
diubah dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2012 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba), mengatur
lebih lanjut mengenai persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh
IUPK. Dalam pasal 62 PP Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan
Minerba, IUPK terdiri atas IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi
Produksi.
Pasal 64 PP Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba
mengatur bahwa untuk memperoleh IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi
Produksi harus memenuhi persyaratan,

1.

Persyaratan Administratif

Untuk IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi mineral logam


dan batubara yang diajukan BUMN atau BUMN yang diberikan
berdasarkan prioritas,
surat permohonan;
profil badan usaha;
akta pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha
pertambangan yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang;
nomor pokok wajib pajak;
susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
surat keterangan domisili.

Untuk IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi mineral logam


dan batu bara bagi pemenang lelang WIUPK,
surat permohonan,
susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
surat keterangan domisili.

2.

Persyaratan Teknis
pengalaman BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta bidang
pertambangan mineral atau batu bara paling sedikit 3 (tiga) tahun;
mempunyai paling sedikit 1 (satu) orang tenaga ahli dalam bidang
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit 3
(tiga) tahun; dan

rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 1 (satu) tahun

3. Persyaratan Lingkungan,
untuk IUPK Eksplorasi meliputi pernyataan untuk mematuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup.
Untuk IUP Operasi Produksi meliputi,

pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan


perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup; dan
persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
4. Persyaratan Finansial,

untuk IUPK Eksplorasi, meliputi,


bukti penempatan jaminan kesungguhan pelaksanaan kegiatan
eksplorasi; dan
bukti pembayaran harga nilai kompensasi data informasi atau
sesuai dengan surat penawaran.

untuk IUP Operasi Produksi, meliputi,


laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik; dan
bukti pembayaran iuran tetap 3 (tiga) tahun terakhir;

PEMBERIAN WIUPK
Pemberian WIUPK terdiri atas WIUPK mineral logam dan/atau
batubara. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 51 ayat (3) PP
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba, WIUPK ditawarkan
kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) oleh Menteri dengan cara prioritas. Dalam hal terdapat
hanya satu BUMN atau BUMD, WIUPK diberikan kepada BUMN atau
BUMD dengan membayar biaya kompensasi data informasi. Namun jika
terdapat lebih dari satu BUMN atau BUMD, akan diadakan proses lelang
untuk menentukan kepada siapa WIUPK harus diberikan. Pemenang
lelang lalu akan dikenai kewajiban membayar biaya kompensasi data
informasi sesuai dengan nilai lelang. Pasal 52 PP Pelaksanaan Kegiatan
Usaha Pertambangan Minerba mengatur bahwa badan usaha swasta,
yang bergerak dalam bidang pertambangan, dapat ditawarkan sebuah
WIUPK jika tidak ada BUMN atau BUMD yang berminat. Badan usaha
swasta tersebut lalu akan dikenai kewajiban membayar biaya kompensasi
data informasi sesuai dengan nilai lelang.
PERBEDAAN PERATURAN PERTAMBANGAN LAMA DAN BARU
No
UU NO. 11 Thn 1967
UU NO. 4 Thn 2009
1

Kekayaan Tambang disebut bahan


galian,
Penguasaan bahan galian
diselenggarakan pemerintah (pasal 1)

Penggolongan Bahan Galian


Strategis (golongan A)
Vital (golongan B)
Non Strategis dan Non Vital

Kekayaan tambang disebut Mineral dan Batubara


Dikuasai negara, diselenggarakan oleh
pemerintah dan/atau pemerintah daerah (pasal 4)
Pemerintah dan DPR menetapkan kebijakan
pengutamaan mineral dan Batubara untuk
kepentingan nasional
Pemerintah berwenang menetapkan produksi
setiap pro-vinsi untuk mengendalikan produksi
dan ekspor (pasal 5)

Penggolongan Usaha Pertambangan


Pertambangan Mineral & Pertambangan
Batubara
Penggolongan komoditas tambang terdiri

(golongan C)

dari,
Mineral radio aktif,
Mineral logam,
Mineral bukan logam
Batuan,
Batubara.

Kewenangan Pengelolaan,
Kewenangan Pengelolaan,
Bahan galian strategis dan
Kebijakan dan pengelolaan skup
vital oleh Menteri,
nasional oleh Pemerintah, ada 21
Bahan galian non strategis
kewenangan (pasal 6),
dan vital oleh Pemerintah
Kebijakan dan pengelolaan skup
Daerah Tingkat I
wilayah oleh Pemerintah Provinsi, ada
14 kewenangan (pasal 7),
Kebijakan dan pengelolaan skup
kabupaten/kota oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota, ada 12 kewenangan
(pasal 8)

Wilayah Pertambangan :Tidak Wilayah Pertambangan,


diatur terperinci yang penting
Wilayah Pertambangan (WP) adalah
tidak meliputi kuburan, tempat
bagian dari tata ruang nasional,
suci, kepentingan umum,
ditetapkan Pemerintah setelah
pertambangan lain, tempat
berkoordinasi dengan pemda dan
tinggal atau pabrik,
DPR RI (pasal 10),
Wilayah Pertambangan terdiri atas
wilayah usaha pertambangan (WUP),
wilayah pertambangan rakyat (WPR),
dan wilayah pencadangan nasional
(WPN), pasal 13.
WUP, WPR dan WPN diatur
terperinci (pasal 14-33)

Bentuk
Izin
Usaha Bentuk Izin Usaha Pertambangan,
Pertambangan,
Izin Usaha Pertambangan (IUP),
Kontrak Karya (pasal 10),
Izin Pertambangan Rakyat (IPR),
Kuasa
Pertambangan
Izin Usaha Pertambangan Khusus
(pasal 15),
(IUPK)
Surat Izin Pertambangan
Daerah,
Surat
Izin
Usaha
Pertambangan Rakyat

Tahapan
Pertambangan,

Usaha Tahapan Usaha Pertambangan,


Eksplorasi meliputi,

Penyelidikan umum,
Eksplorasi,
Eksploitasi,
Pengolahan dan pemurnian,
Pengangkutan,
Penjualan

- Penyelidikan umum,
- Eksplorasi,
- Studi kelayakan (pasal 36),
Operasi Produksi,
- Konstruksi,
- Penambangan,
- pengolahan dan pemurnian,
- pengangkutan & penjualan (psl 36)

Pelaku Usaha,
Pelaku Usaha,
Investor
domestik (KP,
IUP diberikan pada badan usaha,
SIPD, PKP2B),
koperasi dan perseorangan (pasal
Investor asing (KK, PKP2B),
38),
Luas usaha pertambangan
IPR diberikan pada penduduk
setempat baik perseorangan maupun
tidak dirinci
kelompok masyarakat, dan atau
koperasi (pasal 67), dengan luas yang
terperinci (pasal 68),
IUPK diberikan pada badan usaha
berbadan hukum Indonesia, baik
BUMN, BUMD, maupun swasta.
BUMN dan BUMD mendapat
prioritas (pasal 75)

Prosedur Pemberian Izin,


Prosedur Pemberian Izin,
WilayahKP/KK/PKP2B/SIPD
Wilayah Izin Usaha Pertambangan
/ SIUPR diberikan kepada
(WIUP) mineral logam diberikan
penusaha tambang dengan
kepada pengusaha tambang dengan
cara pengajuan
cara lelang (pasal 51),
permohonan kepada
Wilayah Izin Usaha Pertambangan
pemberi izin
(WIUP) batubara diberikan kepada
pengusaha tambang dengan cara
lelang (pasal 60),
Wilayah Izin Usaha Pertambangan
(WIUP) mineral non logam dan
batuan diberikan kepada pengusaha
tambang dengan cara pengajuan
permohonan kepada pemberi izin
(pasal 54 dan 57)

Hak dan Kewajiban Pelaku Hak dan Kewajiban Pelaku UsahaUsaha- Keuangan,
Keuangan,
KP,
sesuai
peraturan Membayar pendapatan negara dan
perundang-undangan yang
daerah : Pajak, PNBP, iuran (pasal 128
berlaku,
133).
KK/PKP2B, tetap pada saat
Lingkungan,

kontrak ditandatangani.
- Lingkungan (sedikit
diatur),
- Nilai tambah (hanya diatur
kontrak),
- Pemanfaatan tenaga kerja
setempat (tidak diatur),
- Program pengembangan
dan pemberdayaan
masyarakat (tidak diatur)

Good mining practices (pasal 95),


Reklamasi, pasca tambang dan
konservasi yang telah direncanakan,
beserta dana yang disediakan (pasal
96 100),
Nilai tambah. Pemegang IUP Operasi
Produksi wajib melakukan
pengolahan dan pemurnian hasil
tambang di dalam negeri(pasal 103
104),
Mengutamakan pemanfaatan tenaga
kerja setempat (pasal 106),
Saat tahap operasi produksi, wajib
mengikutsertakan pengusaha
lokal (pasal 107),
Menyusun program pengembangan
dan pemberdayaan
masyarakat (pasal 108),
Wajib menggunakan perusahaan jasa
pertambangan lokal dan/atau nasional
seperti konsultasi dan
perencanaan (pasal 124)

10

Divestasi :Tidak diatur

Divestasi :Setelah 5 tahun beroperasi,


badan usaha pemegang IUP dan IUPK
yang sahamnya dimiliki asing, wajib
melakukan divestasi pada Pemerintah,
pemda, BUMN, BUMD, atau badan
usaha swasta nasional (pasal 112)

11

Pembinaan dan PengawasanTerpusat (khususnya KP, KK


dan PKP2B)

Pembinaan dan Pengawasan- IUP


(Menteri, Bupati/Walikota sesuai
kewenangan) pasal 139-142. Bentuk
pengawasan sangat terinci.- IPR
(Bupati/Walikota) - pasal 143

12

Perlindungan MasyarakatMasyarakat
yang terkena dampak negatif langsung
berhak mendapat ganti rugi yang layak,
atau mengajukan gugatan (pasal 145)

Penyidikan (pasal 149)- Penyidik PolriPenyidik PPNS

13

Perlindungan
MasyarakatPemegang KP
wajib mengembalikan tanah
sedemikian rupa. Sehingga
tidak menimbulkan penyakit
atau bahaya lain bagi
masyarakat(pasal 30)
PenyidikanTidak diatur

14

Ketentuan Pidana- Diatur,


tetapi sudah tidak sesuai lagi
dengan situasi dan kondisi saat
ini. Misalnya : penjara selamalamanya 6 tahun dan/atau
denda setinggi-tingginya Rp.
500.000,- bagi yang tidak
mempunyai KP tetapi
melakukan usaha
pertambangan (pasal 31)Tidak ada sangsi pidana
terhadap pemberi/penerbit izin
- Tidak ada sangsi pidana
terhadap pemberi/penerbit izin

Ketentuan Pidana- Menteri, Gubernur,


Bupati/Walikota sesuai
kewenangannya berhak memberi sanksi
administratif pada pemegang IUP, IPR
dan IUPK. Sanksi mulai dari peringatan
hingga pencabutan ijin (pasal 151).Sanksi cukup keras. Misalnya, setiap
orang yang melakukan usaha
pertambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK
dihukum maksimal 10 tahun dan denda
maksimal Rp. 10 Miliar - Setiap orang
yang mengeluarkan IUP, IPR, atau IUPK
yang bertentangan dengan UndangUndang ini dan menyalahgunakan
kewenangannya diberi sanksi pidana
paling lama 2 (dua) tahun penjara dan
denda paling banyak Rp200.000.000,00
(dua ratus juta rupiah). (pasal 165)

VIII. GOOD MINING PRACTICE


Dalam rangka pengelolaan Pertambangan yang baik dan benar ini,
maka terdapat dua unsur utama yang melaksanakannya, yaitu Pelaku
Bisnis dan Pembuat Kebijakan.
1. Pelaku bisnis dalam mengelola pertambangan harus melaksanakannya
dengan baik dengan selalu memperhatikan beberapa hal antara lain,
a. Efisiensi,
b. Keuntungan yang wajar,
c. Resiko yang rendah,
d. Kepedulian terhadap lingkungan dan kepedulian terhadap
masyarakat.
2. Pembuat kebijakan beberapa hal yang wajib menjadi perhatiannya
antara lain adalah,
a. Pembangunan masyarakat dan daerah dapat berjalan baik,
b. Pembangunan dapat berkelanjutan,
c. Menekan agar pelaku bisnis taat terhadap aturan,
d. Melaksanakan kegiatan berpedoman pada azas konservasi bahan
galian agar dapat meningkatkan nilai tambah,
e. Menekan terjadinya kecelakaan serta pentingnya melaksanakan
perlindungan terhadap lingkungan.

Di era Globalisasi dan Reformasi saat ini, beberapa


perubahan tuntutan sudah menjadi kewajiban kita untuk
diperhatikan dalam melaksanakan aktifitas pembangunan.
Beberapa perubahan tuntutan tersebut antara lain adalah dengan
adanya tuntutan,
Pembangunan
yang
harus
berkelanjutan
(sustainable
development).
Mengikuti perkembangan teknologi.
Mengikuti era globalisasi yang semakin terbuka dan semakin
majunya teknologi informasi.
Efisiensi
Hak Azasi Manusia dan Jaminan Keamanan.
Peran serta (partisipasi) masyarakat.
Tuntutan-tuntutan tersebut tidak terkecuali wajib diperhatikan
dalam melaksanakan aktifitas/kegiatan di dunia pertambangan,
dimana dalam melaksanakan aktifitas pertambangan harus
dilaksanakan secara baik dan benar.
Secara
umum
yang
dimaksud
dengan
Praktek
Pertambangan Yang Baik dan Benar (Good Mining Practice)
adalah suatu kegiatan pertambangan yang mentaati aturan,
terencana dengan baik, menerapkan teknologi yang sesuai yang
berlandaskan pada efektifitas dan efisiensi, melaksanakan
konservasi bahan galian, mengendalikan dan memelihara fungsi
lingkungan,
menjamin
keselamatan
kerja,
mengakomodir
keinginan dan partisipasi masyarakat, menghasilkan nilai
tambah,
meningkatkan
kemampuan
dan
kesejahteraan
masyarakat sekitar serta menciptakan pembangunan yang
berlanjutan.
Dalam dunia ilmiah, kebaikan & kebenaran adalah mutlak, namun
selalu diperlukan untuk bertanya tentang materi atau obyek yang ingin
diketahui, dikaji, didalami, diselami. Pertanyaan yang bersifat filsafat
adalah pertanyaan yang teliti, dan didasarkan pada pemikiran tertentu.
Sedangkan jawabannya harus ditemukan melalui pola berpikir tertentu
dalam menemukan suatu kebaikan, kebenaran dari berbagai pengalaman.
Pengetahuan adalah fakta dan pengalaman hidup. Pengetahuan menjadi
ilmu pengetahuan setelah memiliki karakteristik tertentu. Pengetahuan
apapun dapat dikategorikan dalam,
1. Etika, pengetahuan tentang apa yang baik dan yang buruk;
2. Estetika, pengetahuan tentang apa yang indah dan apa yang jelek;
3. Logika, pengetahuan tentang hal apa yang benar dan apa yang
salah.

Melalui tiga hal yang mencirikan pengetahuan, yaitu apa (ontology),


bagaimana (epistemology), dan untuk apa, maka pengetahuan manusia
itu disusun serta dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Kegiatan berpikir
ilmiah meliputi runtutan berpikir logik, dari kajian sesuatu yang umum
menghasilkan sesuatu yang khusus, dan bergerak dari yang khusus ke
generalisasi yang umum. Ilmu harus operasional, karena bukan hanya
sarana berpikir belaka; fakta ialah pengalaman hidup yang menjadi ilmu
pengetahuan oleh eksplanasinya dengan logika tertentu, yang juga harus
dijalani melalui analisis prosedur dan logika eksplanasi sebagaimana
prosedur filsafat ilmu.
Adapun Kebudayaan ialah pencapaian sesuatu yang semakin
bertambah dari generasi ke generasi dan melalui pendidikan diturunkan
kepada generasi berikutnya. Dengan demikian kebudayaan atau budaya
itu adalah keperluan yang hakiki dalam membentuk kehendak mendasar,
yaitu agar manusia dapat dan mampu terus hidup, menyesuaikan dan
menata lingkungan alam serta memanfaatkannya, termasuk melanjutkan
generasinya.
Peradaban merupakan bagian yang tinggi dari kebudayaan. Seperti
kebudayaan, peradaban meliputi segala aspek kehidupan, segala hasil
karya manusia. Membangun peradaban berarti membangun masyarakat
beradab. Tujuan peradaban sendiri harus terbayang pada dasar-dasar
filsafat dan agama yang merupakan roh peradaban tersebut.
Pembangunan peradaban (yang berkelanjutan) harus memenuhi
beberapa prinsip penting dalam masyarakat beradab, yaitu keadilan,
kejujuran,
kebenaran, Penerapan
kebaikan,
keindahan
dan
kedamaian.
Teknik Pertambangan yang Tepat
Pembangunan (peradaban) berkelanjutan sendiri dapat didefinisikan
Penetapan cadangan
sebagai suatu konsep pembangunan
yang bertujuan untuk memenuhi
Kajian kelayakan
kesejahteraan generasi
masa
Konstruksi
kini tanpa harus mengabaikanS kemampuan
P
Penambangan, pengolahan, pengangkutan
generasi mendatang
untuk
memenuhi
E
Penutupan tambang kebutuhannya.
T
R

Paska tambang/pembangunan berkelanjutan

A
Konsep pada
industri pertambangan umum, yaitu
industri
A
T
pertambangan mineral
yang
menghasilkan
logam,
bahan
galian
industri
U
N
(non logam) danRAenergi (batubara) serta panas bumi mempunyai titik berat
PEDULI
PEDULI K3
D melibatkan
pada isu demokrasi,
keadilan
LINGKUNGAN dan pemerataan yang harus
N
antar dan inter generasi.
A
P
U
R
U
N
D
A
N
G
A
N

ROI

PENGELOLAAN
PERTAMBANGAN
YANG BAIK

R
I

DAN BENAR
S

PENERAPAN
PRINSIP
KONSERVASI

PUNYA NILAI
TAMBAH
PENGEMBANGAN
WILAYAH/
MASYARAKAT

A
S
I

OPTIMALISASI PEMANFAATAN
LOGAM DAN MINERAL BAGI
MASYARAKAT

KEMANDIRIAN MASYARAKAT
PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

NILAI TAMBAH DENGAN PENGGERAK EKONOMI

PARADIGMA PENGELOLAAN PERTAMBANGAN YANG BAIK DAN


BENAR (GOOD MINING PRACTICE)
Konsep ini hanya dapat terlaksana dengan baik jika melibatkan para
Pemangku kepentingan (stakeholder) secara optimal dalam bentuk
kemitraan. Sementara pola pikir yang mendasari adalah: social justice
and equity, pendekatan holistik, komprehensif, terpadu, menghargai
keanekaragaman atau pluralisme serta berwawasan jangka panjang.
Dari uraian di atas, dapat didefinisikan paradigma praktek
pengelolaan kegiatan usaha pertambangan yang baik dan benar (good
mining practice) seperti pada gambar yang membangun peradaban
sebagai suatu kegiatan usaha pertambangan yang memenuhi ketentuanketentuan, kriteria, kaidah dan norma-norma yang tepat sehingga
pemanfaatan sumber daya mineral memberikan hasil yang optimal dan
dampak buruk yang minimal. Hal ini meliputi perizinan, teknis
pertambangan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), lingkungan,
keterkaitan hulu-hilir, konservasi, nilai tambah dan pengembangan
masyarakat/wilayah di sekitar lokasi kegiatan, dan mempersiapkan
penutupan dan pasca tambang, dalam bingkai kaidah peraturan
perundangan dan standar yang berlaku, sesuai tahap-tahap kegiatan
pertambangan.

LINGKUP PERTAMBANGAN UMUM

1.

MINERAL DAN BATUBARA


Mineral dan batubara serta panas bumi merupakan obyek utama
kegiatan pertambangan umum. Sehubungan dengan hal tersebut maka
segala kegiatan yang yang terkait dengan pertambangan umum harus
senantiasa melakukan optimalisasi baik hasil kegiatan maupun
pemanfaatannya.
Hakikat kegiatan pertambangan umum adalah untuk mencari dan
mempelajari kelayakannya sampai dengan pemanfaatan mineral dan
batubara, baik untuk kepentingan perusahaan, masyarakat sekitar,
maupun bagi pemerintah (daerah dan pusat).
Proses kegiatan pencarian sampai dengan pemanfaatan mineral
dan batubara ini dibagi dalam tujuh tahapan:

Penyelidikan umum
Eksplorasi
Studi kelayakan
Konstruksi
Eksploitasi/produksi
Penutupan tambang

Pasca tambang.
2.

MANUSIA DAN PERALATAN


Manusia dan peralatan merupakan subyek dan sekaligus obyek
kegiatan pertambangan, di mana dalam rangka melakukan segala
kegiatan tersebut sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas
manusia serta dibantu dengan segala peralatan yang diperlukan. Oleh
karena itu pemeliharaan K3 dari suatu kegiatan pertambangan harus
selalu menjadi perhatian yang sangat penting, baik oleh pihak
manajemen perusahaan maupun instansi yang terkait dengan kegiatan
pertambangan.

3.

LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Kegiatan pertambangan ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat,
baik masa kini maupun masa mendatang, maka kegiatan tersebut
harus memenuhi kaidah pertambangan yang baik dan benar antara lain
harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
Lingkungan fisik dan kimia;
Lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar;
Lingkungan pasca tambang.

PENGELOLAAN PERTAMBANGAN YANG BAIK DAN BENAR

Pengelolaan pertambangan yang baik dan benar (good mining


practice) perlu terus dikaji dan dikembangkan pada kegiatan usaha
pertambangan masa kini. Melalui penerapan tata cara pertambangan
yang baik ini maka dapat dihindari terjadinya pemborosan sumber daya
mineral dan batubara, tercapainya optimalisasi sumber daya,
terlindunginya fungsi-fungsi lingkungan serta terlindunginya keselamatan
dan kesehatan para pekerja.
1.

PENERAPAN TEKNIK PERTAMBANGAN YANG BAIK &


BENAR
a. Penetapan Cadangan Mineral dan Batubara yang Akan
Ditambang.
Adapun beberapa hal yang harus dilakukan pada tahap kegiatan
ini antara lain,
Melaksanakan kegiatan sesuai dengan tahapan dan metode
yang benar,
Memanfaatkan seoptimal mungkin informasi yang telah
tersedia,
Mengoptimalkan pengambilan dan penggunaan data lapangan
untuk keperluan eksplorasi maupun persiapan pertambangan
(geoteknik, geohidrologi dan informasi air asam tambang),
Perhitungan
nilai
cadangan
bahan
galian
dengan
mempertimbangkan seluruh nilai mineral ikutan yang mungkin
juga akan tertambang.

Pada prinsipnya, Teknis Pertambangan yang baik & benar dapat


dilakukan apabila didalam aktifitas pertambangan tersebut
dilakukan hal-hal sebagai berikut,
Eksplorasi harus dilaksanakan secara baik, benar dan
memadai.
Perhitungan cadangan layak tambang harus ditetapkan dengan
baik (tingkat akurasi tinggi).
Studi Geohidrologi, Geoteknik dan Metalurgi harus dilakukan
secara baik dan benar.
Studi Kelayakan (Feasibility Study) yang komprehensif dengan
didukung data yang cukup, perlu disusun dengan baik,
termasuk studi lingkungannya (AMDAL atau UKL/UPL).
Teknik dan sistim tambang serta proses pengolahan dan
pemurnian harus direncanakan dan dilaksanakan secara baik
(sistim tambang pada material lepas dan padu sangat berbeda,
demikian pula proses pengolahannya),
Teknis konstruksi dan Pemilihan peralatan harus tepat guna.
Sistim pengangkutan bahan tambang harus terencana baik,
termasuk pemilihan alat angkut dan alat berat lainnya.

Produksi hendaknya disesuaikan dengan jumlah ketersediaan


cadangan dan spesifikasi.
Program pasca tambang harus terencana dengan baik sebelum
seluruh aktifitas dihentikan.

Pada pasca tambang harus segera dilakukan kegiatan penataan


dan reklamasi pada lahan ex tambang yang disesuaikan dengan
perencanaannya. Pelaksanaan penataan dan reklamasi
sebaiknya mengacu pada rencana tata ruang daerah yang
bersangkutan dan disesuaikan dengan kondisi lahan.

Jika Teknis Pertambangan tidak dilakukan dengan baik dan benar,


maka akan berakibat pada :
Kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan.
Hasil tambang tidak akan efisien dan ekonomis.
Produksi akan tersendat / tidak lancar.
Kemungkinan terjadinya kecelakaan tambang akan tinggi.
Pengrusakan dan gangguan terhadap lingkungan akan timbul.
Terjadinya pemborosan bahan galian.
Pasca tambang
penanganannya.

akan

mengalami

kesulitan

dan

sulit

Semua pihak akan mendapat rugi (Pemerintah, perusahaan


dan masyarakat).
Kegiatan pertambangan akan dituding sebagai suatu kegiatan
yang merusak lingkungan.
b.

Studi Kelayakan

Tahap kegiatan ini merupakan tahap evaluasi atas hasil kegiatan


penyelidikan umum dan eksplorasi dalam kegiatan ini
diperhitungkan
nilai-nilai
ekonomisnya
dengan
mempertimbangkan
aspek-aspek
teknis
pertambangan,
lingkungan, K3, nilai tambah, konservasi bahan galian dan aspek
pengembangan wilayah dan masyarakat serta perencanaan awal
penutupan dan pasca tambang.

Dokumen studi kelayakan ini merupakan rencana kegiatan


pertambangan secara keseluruhan dan berfungsi sebagai
panduan bagi perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya dan
sekaligus bagi pemerintah dalam melakukan pembinaan dan
pengawasan kegiatan perusahaan.

c.

Konstruksi
Suatu tahapan pertambangan
penyediaan/penyiapan
sarana
pertambangan, antara lain meliputi,

yang
dan

kegiatannya
prasarana

meliputi
kegiatan

Pembebasan lahan,
Konstruksi jalan tambang, pelabuhan, kantor, gudang,
bengkel, base camp, areal pengolahan, stockyard, initial dumping
area, saluran irigasi, settling pond dan pengupasan lapisan
penutup,

Pengadaan dan pemasangan peralatan komunikasi,


penambangan, pengolahan, pengangkutan, lingkungan dan K3,

Pengadaan tenaga kerja, baik untuk kegiatan konstruksi


maupun untuk kegiatan produksi nantinya.

d.

Penambangan, pengolahan dan pengangkutan


Setiap tahun perusahaan harus menyampaikan Rencana Kerja dan
Anggaran Biaya (RKAB) yang merupakan rencana rinci dari masingmasing komponen kegiatan tersebut yang dilengkapi dengan petapeta sekaligus rencana biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan
kegiatannya.
RKAB yang disampaikan perusahaan tersebut kemudian dibahas
secara intensif, terutama yang berkaitan dengan aspek teknis
pertambangan, lingkungan, K3, nilai tambah, konservasi, masterlist,
keuangan dan pendapatan negara baik yang berupa pajak maupun
non pajak, community development dan rencana penutupan dan
pasca tambang.
Hasil pembahasan tersebut merupakan rekomendasi ataupun
persetujuan dari pemerintah terhadap rencana kegiatan
pertambangan untuk tahun yang bersangkutan. Apabila tidak
diperoleh kesepakatan dalam pembahasan tersebut maka
perusahaan harus melakukan kegiatan seperti RKAB tahun
sebelumnya.

e.

Penutupan Tambang dan Pasca Tambang


Setiap kegiatan pertambangan selalu akan berakhir. Karena kegiatan
ini mengakibatkan perubahan bentang alam dan sekaligus nilai-nilai
sosial budaya dan ekonomi terutama kepada masyarakat sekitar
pertambangan, maka perencanaan penutupan dan perencanaan
kondisi pasca tambang perlu disusun, sehingga tidak menimbulkan
gejolak yang berdampak negatif terhadap lingkungan dan
masyarakat sekitar.
Dokumen Rencana Penutupan Tambang dan Pasca Tambang harus
dibahas bersama/ mendapatkan persetujuan dari semua

stakeholder, mencakup perusahaan, pemerintah pusat dan daerah,


pemuka masyarakat dan ornop yang terkait.
Beberapa prinsip dalam Perencanaan dan Pelaksanaan Pasca
Tambang yang harus menjadi perhatian antara lain :
Perlu adanya transparansi, komunikasi yang terbuka, komitmen,
dukungan dan partisipasi yang berasal dari seluruh stake holders
(pemerintah, masyarakat dan pelaku bisnis).
Perencanaan dan pelaksanaannya harus sejalan dengan
ketentuan dan standard yang berlaku.

Rencana pasca tambang harus dapat diterima oleh seluruh stake


holders dan sesuai dengan keinginan publik.

Pelaksanaan harus mempunyai target terjaminnya keselamatan


lahan ex tambang, terpeliharanya lingkungan dan lahan ex
tambang dapat pergunakan kembali untuk kegiatan lainnya yang
lebih bermanfaat.

Pelaku kegiatan harus dapat mempertanggung-jawabkan dari


aspek teknik dan sosio-ekonomi.

Pelaksanaan kegiatan pasca tambang harus disesuaikan dengan


rencana pembangunan daerah.

Secara teknis dan ekonomis, pelaksanaan pasca tambang dapat


dilaksanakan.

Ditangani oleh sumber daya manusia yang profesional dan


paham.

Program pasca tambang harus dipantau secara kontinyu dan


segera direvisi jika terjadi perubahan.

Program hendaknya
perubahan kondisi.

Harus ada kriteria yang jelas terhadap tingkat keberhasilan secara


kuantitatif.

Jaminan pasca tambang perlu ada dalam jumlah yang memadai.

bersifat

adaptatif

terhadap

adanya

2. PEDULI LINGKUNGAN
Salah satu tujuan adanya kegiatan pertambangan adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sehubungan dengan hal itu
maka segala kegiatan yang dapat menyebabkan keresahan
masyarakat, termasuk kerusakan lingkungan sudah selayaknya
dicegah atau paling tidak ditanggulangi.

Masalah lingkungan ini telah diantisipasi dengan baik melalui kewajiban


perusahaan membuat dokumen AMDAL yang terdiri dari dokumen Studi
Andal, Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) yang harus mendapat persetujuan
pemerintah.
Di samping itu, perusahaan juga wajib membuat Rencana Tahunan
tentang Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (RTPKL) yang
harus mendapat persetujuan pemerintah dan menyerahkan Jaminan
Reklamasi kepada pemerintah memberikan kepastian bahwa segala
perubahan bentang alam yang terjadi akan direklamasi sehingga tidak
merugikan masyarakat sekitar. Bahkan kalau mungkin dapat
meningkatkan kualitas lingkungan sebelumnya. Dengan demikian,
perusahaan punya komitmen yang pasti akan kepedulian terhadap
lingkungan.
Dalam
pelaksanaan
kegiatan
pertambangan,
permasalahan
Lingkungan Hidup wajib untuk menjadi perhatian dari para pelaku
kegiatan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

Semua ketentuan, peraturan dan standar lingkungan yang berlaku.


Setiap kegiatan wajib dilengkapi dengan dokumen kajian
lingkungan (AMDAL atau UKL/UPL).

Perlu adanya suatu jaminan dalam rangka pelaksanaan reklamasi.

Kepedulian harus dimulai sejak tahap eksplorasi sampai tahap


pasca tambang.

3. PEDULI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


Kegiatan usaha pertambangan mempunyai sifat dan karakteristik
tersendiri, yaitu, padat investasi, padat teknologi dan memiliki tingkat
risiko kecelakaan yang cukup tinggi. Tingkat kekerapan kecelakaan
pada kegiatan usaha pertambangan saat ini relatif tinggi. Hal ini dapat
terjadi oleh karena tingkat kesadaran dari karyawan terhadap aspekaspek K3 masih relatif rendah. Sehingga diperlukan ekstra perhatian
perusahaan dalam bidang K3 bagi karyawannya.
Dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktivitas kegiatan usaha
pertambangan, diperlukan suatu jaminan/kondisi keselamatan dan
kesehatan tenaga kerja dan peralatan, di mana jaminan tersebut dapat
dicapai dengan melaksanakan program K3, melakukan pengawasan
yang baik dan rutin dibidang K3 serta mentaati peraturan perundangan
K3.
Untuk mencapai kondisi tersebut di atas pengawasan yang optimal oleh
aparat pengawasan sangat diperlukan. Di sinilah peran Inspektur

Tambang (IT) yang tugas dan fungsinya melaksanakan pengawasan


menjadi sangat penting.
Kemampuan IT dan peraturan-perundangan yang mendasarinya
menjadi modal utama untuk mencapai suatu hasil pengawasan yang
optimal.
Elemen pengawasan K3 terdiri dari,

Kepala Inspektur Tambang (KAIT),


Inspektur Tambang (IT),
Kepala Teknik Tambang (KTT),
Buku Tambang,
Organisasi K3,
Program K3,
Pengawas Teknis dan Pengawas Operasional ,
Komite K3.

Adapun bentuk pengawasannya terdiri dari dua macam:

Pengawasan administratif struktural K3,

Pengawasan operasional fungsional K3.


Di samping itu juga terdapat program pembinaan yang berupa
pemberian Safety Award bagi perusahaan yang dapat dikategorikan
sukses melaksanakan seluruh program K3. Setiap usaha
penanggulangan K3 diarahkan menuju kecelakaan minimal dan bahkan
nihil kecelakaan (zero accident).
Peraturan yang menyangkut tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Pertambangan Umum telah diatur dalam Keputusan Menteri
Pertambangan dan Energi Nomor : 555.K/26/M.PE/1995, tanggal 22
Mei 1995. Segala aspek menyangkut K-3 Pertambangan Umum telah
diatur didalamnya, antara lain tentang,

Pihak-pihak penanggung jawab,


Program dan manajemen K-3,

Kewajiban melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi pekerja


tambang.

Tatacara inspeksi tambang oleh Pelaksana Inspeksi Tambang dan


Kepala Teknik Tambang.

Kondisi
kerja,
peringatan.

peralatan

kerja,

rambu-rambu/tanda-tanda

Kewajiban menyusun Standard Operation Procedure (SOP).

Tatacara pencegahan dan penanggulangan


terjadinya bahaya dan kecelakaan.

kemungkinan

Tatacara penanganan, penggunaan dan penyimpanan bahan


peledak.

Dimensi tambang.

Kewajiban pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja tambang.

Aturan-aturan penggunaan alat angkut.

Pengamanan alat-alat berputar.

Pembiayaan-pembiayaan pelaksanaan program K-3

Beberapa hal lainnya


kecelakaan tambang.

dalam upaya

pencegahan terjadinya

Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi ini berlaku untuk


kegiatan pertambangan terbuka /diatas permukaan tanah dan
pertambangan bawah tanah.
4. PENERAPAN PRINSIP KONSERVASI
Sumber daya mineral dan batubara adalah sumber daya alam yang tak
terbarukan, maka pengelolaan, pengusahaan dan pemanfaatannya
mutlak harus optimal, baik bagi perusahaan, masyarakat, pemerintah
maupun lingkungannya.
Sehubungan dengan hal tersebut maka segala bentuk pemborosan
sumber daya mineral dan batubara harus dicegah dan dihindari.
Beberapa contoh penerapan prinsip konservasi adalah sebagai berikut.
a. Mengoptimalkan produksi penambangan dengan cara antara
lain,
Menerapkan teknik pertambangan dan peralatan yang tepat,
Memaksimalkan cut off grade (untuk bijih) dan cut off
thickness (untuk batubara),

Mencegah ceceran dalam penggalian dan pengangkutan,

Menghindari dilution,

Mengoptimalkan recovery.

b. Mengoptimalkan pengolahan

Menerapkan teknik pengolahan dan peralatan yang tepat


Memaksimalkan head grade antara lain dengan cara
blending

Memproduksi beberapa macam jenis dan kualitas produk


Memaksimalkan recovery baik mineral utama maupun
mineral ikutan

Menempatkan dan mendata jumlah dan kualitas tailing


dengan baik

c. Memperlakukan mineral dan batubara kadar marjinal dengan baik


Menempatkan dan mendata jumlah dan kualitasnya dengan

baik

Tidak mencampurnya dengan waste

Mengupayakan agar mudah untuk dapat dimanfaatkan


apabila diperlukan

d. Mengoptimalkan pemanfaatan mineral lain yang mungkin ikut tergali.


Pada prinsipnya penerapan azas konservasi pada pemanfaatan
bahan galian tambang adalah cara bagaimana pemanfaatan bahan
galian tersebut dilakukan secara optimal dengan memperhatikan halhal,
Memperhitungkan kebutuhan akan bahan galian tersebut
(pengusahaan/pemanfaatan tepat waktu).
Pengambilan bahan galian (penambangan) harus tepat teknologi
pada saat kegiatan berjalan.

Adanya upaya untuk menghindari terjadinya kehilangan bahan


galian dalam penambangannya.

Adanya upaya melakukan pemilahan dalam pengambilan antara


bahan galian berkadar tinggi dan rendah, dimana bahan galian
berkadar tinggi diambil terlebih dahulu dan bahan galian
berkadar rendah tetap disimpan sebagai cadangan masa depan
dan diambil jika teknologi telah mampu mengolah bahan galian
tersebut.

Adanya upaya untuk memanfaatkan mineral-mineral ikutan secara


optimal.

Mengingat umumnya bahan galian tambang bersifat unrenewable


resources (tidak terbaharukan), maka jika hal-hal tersebut diatas
dapat dilakukan dengan baik dan benar, maka ketersediaan suatu
bahan galian akan dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang
lama dan dapat berlanjut sesuai dengan kemajuan teknologi
manusia nantinya.
5.

PUNYA NILAI TAMBAH

Keberadaan suatu usaha pertambangan diharapkan tidak hanya


memberikan manfaat dari mineral dan batubaranya saja, namun juga
dari segala kegiatan yang dilakukan serta kebutuhan yang diperlukan
oleh perusahaan dalam melaksanakan kegiatan pertambangannya.
Adapun strategi peningkatan nilai tambah antara lain sebagai berikut.
a. Pengembangan teknologi dan inovasi
Hasil dari kegiatan studi yang dilakukan oleh pihak perusahaan
diharapkan tidak hanya dapat dipakai oleh perusahaan, namun juga
berguna bagi pengembangan teknologi terapan yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan.
Selain itu, diharapkan agar studi tersebut dilakukan bersama dengan
Perguruan Tinggi di dalam negeri.
b. Peningkatan hubungan kerja sama dengan pihak luar negeri
Dengan
beroperasinya
suatu
perusahaan
yang
bertaraf
internasional, memungkinkan adanya hubungan kerja sama yang
lebih luas, baik khusus untuk bidang pertambangannya sendiri
maupun bidang-bidang lain yang berpotensi untuk ditingkatkan,
seperti kerja sama pemasaran, penelitian, teknologi maupun
investasi.
c. Peningkatan pemakaian produk dalam negeri
Setiap usaha pertambangan selalu membutuhkan bahan dan
peralatan lain yang akan dipakai dalam kegiatan tersebut. Kebutuhan
tersebut diharapkan dapat dipenuhi dengan menggunakan produk
dalam negeri agar sekaligus dapat berperan dalam peningkatan
industri dalam negeri.
d. Upaya melakukan pengolahan di dalam negeri
Pengolahan di dalam negeri mempunyai efek ganda (multiplier
effect) yang besar, antara lain penciptaan lapangan kerja, alih
teknologi dan perolehan unsur-unsur lain yang mungkin terdapat
dalam bijih serta tumbuhnya sektor ekonomi di sekitar lokasi
pengolahan.
6. Optimalisasi Manfaat Bagi Masyarakat
Peningkatan efek ganda dari keberadaan usaha pertambangan yang
mengeksploitasi sumber daya alam yang tak terbarukan adalah mutlak
harus diupayakan. Hal ini menjadi lebih penting lagi terutama bagi
masyarakat sekitar tambang.

Program optimalisasi manfaat bagi masyarakat direalisasikan dalam


program pengembangan masyarakat yang dapat dilaksanakan antara
lain adalah sebagai berikut.
a. Pengembangan sumber daya manusia
Pendidikan terhadap masyarakat sekitar tambang perlu diberikan
melalui berbagai cara antara lain pelatihan ketrampilan, pemagangan
atau bahkan melalui pengiriman pemuda berbakat ke berbagai
perguruan tinggi.
Adapun bidang pendidikannya dapat sangat bervariasi, baik yang
berhubungan dengan kegiatan pertambangan maupun yang
berhubungan dengan pengembangan ekonomi daerah setempat,
terutama yang berguna pada saat pasca tambang.
b.

Pengembangan pertumbuhan ekonomi


Program ini sangat bervariasi bentuknya, antara lain dapat berupa
bantuan dana, kemitraan dan fasilitas untuk menumbuhkan industri,
perdagangan, pariwisata, pertanian, perkebunan dan perikanan.
Di samping itu program ini juga dapat berupa pembangunan sarana
dan prasarana yang diperlukan, seperti pembangunan jalan,
jembatan, waduk, saluran irigasi dan lain-lain.

c. Pengembangan sosial budaya dan kesehatan masyarakat


Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam program ini antara lain
pembangunan tempat-tempat ibadah, poliklinik, balai pertemuan,
sarana olah raga serta penciptaan hubungan yang harmonis antara
karyawan beserta keluarganya dengan masyarakat asli di sekitar
lokasi tambang.
7. STANDARDISASI PERTAMBANGAN
Memasuki era perdagangan global, pelaku usaha dituntut untuk
memiliki daya kompetitif tinggi (kinerja, harga, mutu dan jaminan
produk), dengan mengikuti standar dan aturan negara tujuan
ekspor/impor. Kecenderungan dunia menuju satu pasar, satu standar,
satu sistem penilaian kesesuaian serta transparansi dalam
pemberlakuan peraturan teknis akan mewujudkan persaingan yang
sehat dan tidak ada diskriminatif terhadap produk yang beredar di
pasar.
Permasalahan yang dihadapi adalah, bahwa kondisi nasional dan
beberapa daerah masih dirasa kurang tanggap untuk menerapkan
standar/pedoman/ kriteria teknis di bidang mineral dan batubara. Hal
tersebut antara lain dipicu dengan masih rendahnya kemampuan daya
saing industri serta belum meratanya kesadaran masyarakat terhadap
standar dan budaya mutu menjadi bagian dari kehidupan.

Tujuan standardisasi pertambangan antara lain dalam rangka


meningkatkan efisiensi, perlindungan konsumen, tenaga kerja dan
masyarakat lain baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan
maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup. Untuk merealisasi
kebutuhan tersebut, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral c.q.
Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral membentuk
Panitia Teknis Perumusan SNI bidang Pertambangan yang terdiri dari:
sub Panitia Teknis Penambangan dan Pengolahan; Komoditas
Tambang dan Uji Mineral/Logam, Standar Istilah Pertambangan dan
Standar
Keselamatan
Kesehatan
Kerja
dan
Lingkungan
Hidup/Tambang.
Tersedianya SNI Pertambangan yang dibutuhkan pasar dan selaras
dengan standar international harus didukung dengan penyediaan
sistem penilaian kesesuaian yang dapat memberikan jaminan mutu dan
keberterimaan pasar produk nasional, memfasilitasi produk unggulan
berpotensi ekspor serta mewujudkan persaingan usaha yang sehat
dalam pengusahaan mineral dan batubara dengan sasaran utama
untuk menjadikan SNI Pertambangan sebagai sarana kompetisi
nasional dalam perdagangan global.

HUBUNGAN ANTARA 1. LAHAN TAMBANG, 2. PERTAMBANGAN


DAN 3, LINGKUNGAN
Dalam rangka penerapan Praktek Pertambangan Yang Baik dan Benar,
maka perlu dipikirkan hubungan antara Lahan Tambang dengan
Kegiatan Pertambangan itu sendiri dan Lingkungan. Hubungan ketiga
komponen tersebut pada hakekatnya saling berinteraksi dan dapat
disinergikan antara satu sama lainnya yang dapat digambarkan dalam
hubungan segitiga interaksi. Hubungan ketiga komponen tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut.
Lahan Tambang yang mengandung bahan galian tambang
tertentu, dapat dimanfaatkan guna menunjang segala aktifitas
dan kehidupan manusia serta merupakan peluang usaha bagi
pelaku bisnis (12). Didalam aktifitas Pertambangan,
eksploitasi harus dilakukan sesuai aturan, terencana secara
teknis, efisien, menerapkan azas konservasi, menghasilkan
nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
(21).
Untuk
mencegah
timbulnya
pengrusakan
terhadap
Lingkungan, maka dalam melakukan aktifitas Pertambangan,
pelaku kegiatan harus mampu mengendalikan dan memelihara

lingkungan, menjamin keselamatan kerja, merencanakan dan


melaksanakan upaya rehabilitasi atau reklamasi serta
mengakomodir kemauan dan partisipasi masyarakat (23),
sehingga jika hal tersebut terlaksana dengan baik maka
Lingkungan (kondisi alam dan masyarakat) akan memberikan
feed-back terhadap keberlanjutan, keamanan, kelancaran dan
ketenangan bagi pelaku kegiatan dalam melaksaanakan
kegiatan pertambangan tersebut (32).
Dilain sisi dengan baiknya Lingkungan merespons kegiatan
pertambangan, maka pada pasca tambang, Lingkungan
tersebut akan mampu menciptakan suatu kondisi lingkungan
baru yang dapat bermanfaat serta berdaya guna kembali (31),
dan pada Lahan Tambang yang telah dieksploitasi, secara
berangsur akan terpulihkan kembali dengan kondisi baru
dengan peruntukan lainnya yang lebih bermanfaat di masa
mendatang ( 1 3 ).
Jika hubungan ketiga komponen ini berjalan baik, saling
berinteraksi dan bersinergi, maka dari hubungan tersebut dapat
tercapai sasaran sebagai berikut,
Bekas LAHAN TAMBANG dalam kondisi Aman, Layak
dimanfaatkan, Indah, Harmonis, bersifat Fasilitatif jika
dipergunakan, mendatangkan Untung jika dimanfaatkan,
bersifat Natural, dibentuk secara Geometris, sebagai lahan
yang Strategis dalam pemanfaatannya dan dapat dimanfaatkan
secara Integratif ( ALIH FUNGSI ).
Selanjutnya dalam aktifitas PERTAMBANGAN dilakukan secara
Profesional, Realistis, Objektif, Fair, Inovatif dan Transparan
dalam pengeksploitasian dan pengelolaannya (PROFIT).
Sedangkan kondisi LINGKUNGAN diharapkan akan Sehat,
bersifat Ekologis, Ramah, Adaptatif, Sinergik dan mampu untuk
saling melakukan Interaksi terhadap aktifitas Pertambangan
dan kondisi pada bekas Lahan Tambang (SERASI).

Dalam Praktek Pertambangan Yang Baik dan Benar ini,


Peranan Birokrat adalah,
Membuat kebijakan yang bersifat kondusif, menjamin kepastian
hukum, menjamin keamanan, menyusun pedoman dan menjadi
fasilitator serta melakukan tugas pemantauan, pengawasan

bimbingan dan pembinaan serta melakukan evaluasi terhadap


aktifitas pertambangan.
Bimbingan dan Pengawasan yang dilakukan oleh Birokrat
sudah wajib dilakukan sejak tahap perencanaan sampai
dengan tahap pasca tambang.
Sedangkan peran masyarakat terhadap aktifitas pertambangan
juga dapat dilakukan, terutama pada tahap pelaksanaan
kegiatan sampai dengan tahapan pasca tambang (tidak
tertutup kemungkinan peran mereka juga bisa dari sejak tahap
perencanaan).
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari uraian diatas
adalah,
Aktifitas pertambangan tidak akan dinyatakan sebagai suatu
kegiatan pengrusak lingkungan jika Praktek Pertambangan
Yang Baik dan Benar (Good Mining Practice) dapat
diimplementasikan, dengan penuh kesadaran, terutama dari
pelaku kegiatan / pelaku bisnis.
Dalam Implementasi Praktek Pertambangan Yang Baik dan
Benar ini, semua pihak (Pemerintah, Pelaku Bisnis dan
Masyarakat) harus berperan aktif dan saling melakukan
kontrol.
Bimbingan dan Pengawasan terutama dari unsur Birokrat,
harus
sudah
mulai
dilaksanakan
sejak
pada tahap perencanaan sampai dengan tahap pasca
tambang. Sedangkan masyarakat dapat turut membantu
melakukan pengawasan pada tahap kegiatan dilaksanakan sampai dengan tahap pasca tambang.
Dengan sistim kontrol demikian, diharapkan suatu kegiatan
pertambangan
dapat
terlaksana
dengan
baik dan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak (seluruh
stake holders).

TUGAS I (kumpul minggu ke-2)


Berikan contoh aktivitas penambangan di Indonesia
menerapkan sistem tambang terbuka dengan metode,
Open pit/open cut,
Strip mine,
Quarry,

yang

Alluvial mine.
Buatlah dalam bentuk laporan seluruh tahapan penambangannya.