Anda di halaman 1dari 8

Atresia ani/anus imperforata adalah suatu keadaan dimana pada perineum tidak

terdapat apertura anal yang disebabkan karena terhambatnya perkembangan janin pada bulan
ketujuh dan kedelapan.
Tanda dan gejalanya meliputi; tidak dapat dilakukan colok dubur, mekonium tidak
keluar pada 24-48 jam pertama sejak kelahiran atau keluar melalui saluran abnormal,
muntah-muntah dan peru kembung.
Penyakit ini dalam perjalanannya, bayi akan dibuatkan anus buatan tetapi tidak dalam
sekali tahap langsung selesai. Namun akan melalui beberapa tahap yaitu:
1. pada bayi akan dilakuan kolostomi. Kolostomi akan berjalan sampai kurang lebih 3 bulan
dan dalam 3 bulan tersebut anak akan mendapat perawatan kolostomi agar kolostomi dapt
berfungsi dengan baik dan tidak mengakibatkan komplikasi yang lain misalnya seperti
infeksi. Oleh karena itu perlu diperhatikan cara perawatan kolostomi yang benar. Juga perlu
diperhatikan nutrisi yang diberikan pada anak, agar anak tetap sehat hingga dilakukan operasi
kedua.
2. Bayi akan dilakukan anoplasti. Dimana akan dubuatkan lubang pada anus. Dan lubang ini
akan dirawat hingga berfungsi dengan baik. Setelah berfungsi dengan baik baru akan
dilakukan operasi tahap ketiga.
3. Akan disambungkan kembali antara anus buatan dengan stoma atau kolon yang dipotong.
Stoma dimasukkan kembali dan kulit ditutup kembali. Hal ini dilakukan perawatan hingga
anus dapat berfungsi optimal.
Yang perlu diperhatikan adalah selama itu harus rajin kontrol ke poli bedah rumah sakit. Dan
dijaga keadaan luka operasi tetap bersih dan sehat.

1.
PENGERTIAN.
Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus
Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus,
rectum atau keduanya
Menurut Ladd dan Gross anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1.
Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus
2.
Membran anus yang menetap
3.
Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada
bermacam-macam jarak dari peritoneum
4.
Lubang anus yang terpisah dengan ujung
Jadi menurut kesimpulannya atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak
mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka
yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir,
tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan
perineum.
2.
KLASIFIKASI
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu :
1. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai
melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini terutma melibatkan bayi perempuan dengan
fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan
bantuan dilatasi. maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu.

2. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalam keluar tinja.
Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan
kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Pasien bisa diklasifikasikan
lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu :
a. Anomali rendah
Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis, terdapat sfingter
internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat
hubungan dengan saluran genitourinarius.
b. Anomali intermediet
Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung anal dan sfingter
eksternal berada pada posisi yang normal.
c. Anomali tinggi
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya
berhungan dengan fistuls genitourinarius retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan).
Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih daai1 cm.
Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread atresia ani dibagi 2 golongan yang
dikelompokkan menurut jenis kelamin. Pada laki laki golongan I dibagi menjadi 4 kelainan
yaitu kelainan fistel urin, atresia rectum, perineum datar dan fistel tidak ada. Jika ada fistel
urin, tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke
uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan letak fistel adalah dengan
memasang kateter urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra
karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin mengandung mekonuim maka fistel ke
vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita memerlukan kolostomi segera.
Pada atresia rectum tindakannya sama pada perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel
tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakukan
kolostomi.
Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan kloaka,
fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rectum dan fistel tidak ada. Pada fistel vagina,
mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar sehingga
sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat divulva.
Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai
etrhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat direncanakan bila
penderita dalam keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara
traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna
sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.Pada atresia rectum, anus tampak normal tetapi
pada pemerikasaan colok dubur, jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi
mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada fistel, dibuat
invertogram. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi.
Golongan II pada laki laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum, membran anal,
stenosis anus, fistel tidak ada. Fistel perineum sama dengan pada wanita ; lubangnya terdapat
anterior dari letak anus normal. Pada membran anal biasanya tampak bayangan mekonium di
bawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definit secepat
mungkin. Pada stenosis anus, sama dengan perempuan, tindakan definitive harus dilakukan.
Bila tidak ada fistel dan udara Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan
yaitu kelainan fistel perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada. Lubang fistel perineum
biasanya terdapat diantara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang
buntu menimbulkan obstipasi. Pada stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang

seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus segera
dilakukan terapi definitive. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara
Melbourne membagi berdasarkan garis pubocoxigeus dan garis yang melewati ischii kelainan
disebut :
a.
Letak tinggi, rectum berakhir di atas M.Levator ani ( m.pubo coxigeus)
b.
Letak intermediet, akhiran rectum terletak di M.Levator ani
c.
Letak rendah, akhiran rectum berakhir di bawah M.Levator ani
3.
ETIOLOGI
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan kelainan
bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan anus dari
tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaananus umumnya tidak ada kelainan rectum,
sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter internal
mungkin tidak memadai. Menurut peneletian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen
autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang mempunyai gen carrier
penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada anaknya saat kehamilan.
30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan kromosom atau kelainan congenital
lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan bawaan rectum terjadi
karena gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus urogenital sehingga biasanya
disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal yang memisahkannya
Penyebab atresia ani belum diketahui secara pasti tetap ini merupakan penyakit anomaly
kongenital
Akan tetapi atresia juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
a.
Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir
tanpa lubang dubur.
b.
Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan.
c.
Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus,
rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai
keenam usia kehamilan.
faktor predisposisi Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat
lahir seperti :
a. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung,
trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe).
b. Kelainan sistem pencernaan.
c. Kelainan sistem pekemihan.
d. Kelainan tulang belakang
4.
PATOFISIOLOGI
Malformasi anorektal terjadi akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada kehidupan
embrional.Anus dan rektum berkembang dari embrionik bagian belakang. Ujung ekor dari
bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakaal genitoury dan struktur
anorektal. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. Terjadi
atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7
dan 10 minggu dalam perkembangan fekal. Kegagalan migarasi dapat juga karena kegagalan
dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretraa dan vagina. Tidak ada pembukaan usus
besar yang keluar anus menyebabkan fekal tidak dapat dikeluarkan sehingga intestinal
mengalami obstruksi. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan,
muntah dengan segala akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka
urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperchloremia, sebaliknya feses mengalir
kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya akan
terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya.

Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena :


a.
Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara
komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan embrionik
b.
Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir
tanpa lubang dubur
c.
Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada
kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan
d.
Berkaitan dengan sindrom down
e.
Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan
f.
Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sakral dan
abnormalitas pada uretra dan vagina.
g.
Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan fecal tidak dapat
dikeluarkan sehingga intenstinal menyebabkan obstruksi.
Terdapat tiga macam letak :
a.
Tinggi (supralevator) rektum berakhir di atas M.Levator ani (m.puborektalis)
dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum >1 cm. Letak upralevator
biasanya disertai dengan fistel ke saluran kencing atau saluran genital.
b.
Intermediate rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak menembusnya.
c.
Rendah rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara kulit dan
ujung rectum paling jauh 1 cm. Pada wanita 90% dengan fistula ke vagina/perineum. Pada
laki-laki umumnya letak tinggi, bila ada fistula ke traktus urinarius.
5.
TANDA DAN GEJALA
Secara klinik pada bayi ditemukan tidak adanya mekonium yang keluar dalam waktu 24-48
jam setelah kelahiran atau tidak tampak adanya lubang anus. Untuk mengetahui kelainan ini
secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan pemasukan thermometer melalui
anus.
Tindakan ini tidak hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tetapi juga untuk mengetahui apakah
terdapat anus imperforata atau tidak. Bila anus terlihat normal dan terdapat penyumbatan
yang lebih tinggi dari perineum maka gejala akan timbul dalam 24-48 jam , berupa perut
kembung, muntah, tidak bisa buang air besar dan ada yang mengeluarkan tinja dari vagina
atau ureter.
gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani atau anus .imperforata terjadi dalam waktu 2448 jam. Gejala itu dapat berupa:
1.
Perut kembung.
2.
Muntah.
3.
Tidak bisa buang air besar
4.
Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat dilihat sampai
dimana terdapat penyumbatan.
5.
Tidak dapat atau mengalami kesulitan mengeluarkan mekonium (mengeluarkan
tinja yang menyerupai pita).
6.
Perut membuncit.
Tanda dan gejala Menurut Betz, dkk. 2002 :
1.
Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.
2.
Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.
3.
Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya.
4.
Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak ada
fistula).
5.
Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.
6.
Pada pemeriksaan rectal touch terdapat adanya membran anal.
7.
Perut kembung.

6.
PENATALAKSANAAN
a.
Pembedahan
Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan.
Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan
kolostomi beberapa lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen (prosedur
penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan. Pembedahan ini
dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk
membesar dan pada otot-otot untuk berkembang.
Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik
status nutrisnya. Gangguan ringan diatas dengan menarik kantong rectal melalui afingter
sampai lubang pada kulit anal fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa hanya
memerlukan tindakan pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi degan
hemostratau skapel.
b.
Pengobatan.
1.
Aksisi membran anal (membuat anus buatan)
2.
Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan
dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen)
Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien dengan penyakit maformasi anorektal ada dua
macam yaitu dengan tindakan sementara dan tindakan definitive, sebagai berikut:
1.Tindakan Sementara
a.Tindakan spontan tergantung tinggi rendahnya atresia. Anak segera dipuasakan untuk
pembedahan. Bila diduga ada malformasi rektum, bayi harus segera dikirim ke ahli bedah
yaitu dilakukan kolostomi transversum akut. Ada 2 tempat yang kolostomi yang dianjurkan
dipakai pada neonatus dan bayi yaitu transversokolostomi dan sigmoidkolostomi. Khusus
untuk defek tipe kloaka pada perempuan selain kolostomi juga dilakukan vaginostomi dan
diversi urine jika perlu (setelah anak lebih besar 1 1,5 tahun).
b.Pada malformasi anus laki-laki tipe covered anal dilakukan insisi/ diiris hanya pada garis
hitam di kulitnya, kemudian diperlebar perlahan-lahan dan apabila ada lubang dilanjutkan
dengan kelingkin yang dilapisi vaselin didorong masuk sampai teraba/ menonjol ujung
rektum kemudian ujung rektum di insisi tanpa dijahit. Pada defek letak rendah langsung
dilakukan terapi definitif yaitu anorektoplasti posterior sagital (PSARP), sisanya dilakukan
kolostomi sementara.
2.Tindakan Definitif
a.Pembedahan definitif ini dimaksudkan untuk menghilangkan obstruksi dan
mempertahankan kontak kontinensi. Untuk malformasi rectum setelah bayi berumur 6 bulan
dilakukan ano-rekto-vagina-uretroplasti posterior sagital (PSAVURP).
b.Pada malformasi anus tindakan koreksi lebih lanjut tergantung pada defek ;
1) Pada malformasi anus yang tidak ada fistel tetapi tampak ada anal dimple dilakukan insisi
dianal dimple melalui tengah sfingter ani eksternus.
2) Jika fistel ano uretralis terapi anal dimple tidak boleh langsung ditembus tapi lebih dulu
fistel ano uretralis tersbeut diikat. Bila tidak bisa kasus dianggap dan diperlakukan sebagai
kasus malformasi rektum.

c.Pada agenesis anorektal pada kelainana tinggi setelah bayi berat badan mencapai 10 kg
tersebut harus diperbaiki dengan operasi sakroperineal atau abdomino perineal dimana kolon
distal ditarik ke aneterior ke muskulus puborektalis dan dijahitkan ke perinuem. Pada anomali
ini, sfingter ani eksternus tidak memadai dan tidak ada sfingter internus, sehingga kontinensi
fekal tergantung pada fungsi muskulus pubo rektalis. Sebagai hasil dari anak dengan kelainan
tinggi tanpa muskulatur atau muskolatur yang buruk, kontinensia mungkin didapat secara
lambat tetapi dengan pelatihan intensif dengan menggunakan otot yang ada, pengencangan
otot kemudian dengan levator plasti, nasihat tentang diet dan memelihara neorektum tetap
kosong, kemajuan dapat dicapai.
7.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.
Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang umum
dilakukan pada gangguan ini. Pemeriksaan fisik rectum kepatenan rectal dapat dilakukan
colok dubur dengan menggunakan selang atau jari.
b.
Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel
mekonium.
c.
Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice) dapat menunjukkan
adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada mekonium yang mencegah
udara sampai keujung kantong rectal.
d.
Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong. Ultrasound
terhadap abdomen Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.
e.
Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut
sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm
Derek tersebut dianggap defek tingkat tinggi.
f.
Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan
Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah tersebut.
Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian baru lahir dan gambaran ini
harus dipikirkan kemungkinan atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus
impoefartus. Udara berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid, kolon/rectum.
Dibuat foto anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah dan kaki
diatas pada anus benda bang radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda radio-opak
dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur.
g.
Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak
pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
h.
Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan
mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.
i.
CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
j.
Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
k.
Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari.
l.
Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus
urinarius.
8.
PROGNOSIS

Sebagian besar prognosis dari atresia ani biasanya baik bila didukung perawatan yang tepat
dan juga tergantung kelainan letak anatomi saat lahir.
Untuk anak-anak yang memiliki hasil yang buruk untuk kontinensia dan sembelit dari operasi
awal, operasi lebih lanjut untuk lebih membentuk sudut antara anus dan rektum dapat
meningkatkan penahanan dan, bagi mereka dengan rektum besar, operasi untuk mengangkat
bahwa segmen membesar secara signifikan dapat meningkatkan kontrol usus untuk pasien.
Mekanisme enema antegrade dapat dibentuk dengan bergabung lampiran ke kulit (Malone
stoma), namun, mendirikan anatomi lebih normal adalah prioritas.
Biasanya dokter dapat membuat diagnosis visual yang jelas atesia dubur setelah lahir.
Kadang-kadang, bagaimanapun, atresia anus yang tidak terjawab sampai bayi makan dan
tanda-tanda obstruksi usus muncul. Pada akhir hari pertama atau kedua, perut membengkak
dan ada muntah feces. Untuk menentukan jenis atresia anal dan posisi yang tepat, sinar x
akan diambil yang meliputi menyuntikkan pewarna ke dalam pembukaan buram. Magnetic
Resonance Imaging (MRI) atau computed tomography scan (CT), serta USG, adalah teknik
pencitraan yang digunakan untuk menentukan jenis dan ukuran atresia anus. USG
menggunakan gelombang suara, CT scan sinar x lulus melalui tubuh pada sudut yang
berbeda, dan MRI menggunakan medan magnet dan gelombang radio.
9.
KOMPLIKASI
1. Atresia ani tipe rendah
Karena pengelolaan atresia ani tipe rendah tidak begitu kompleks. Adapun komplikasi yang
mungkin muncul pada pengelolaan atresia ani tipe rendah :
a. Pembentukan abses.
b. Striktur anal.
2. Atresia ani tipe tinggi
a. Striktur anal
Dapat berkembang anoplasti/rektoplasti anus yang baru harus dilatasi secara teratur selama
beberapa bulan.
b. Pengelupasan rektum
Hal ini terjadi akibat ischemia.
c. Komplikasi dari colostomy
Prolaps kolon / obstruksi intestinal.
d. Komplikasi urinarius
Inkontinensia dari infeksi traktus urinarius.
Komplikasi yang sering muncul antara lain :
1. Asidosis hiperkloremia
2. Infeksi saluran kemih yang berkepanjangan.
3. Kerusakan uretra ( akibat prosedur bedah )
4. Komplikasi yang panjang ;
a. Eversi mukosa anal.
b. Stenosis ( akibat kontraksi jarina perut akibat anastomosis )
c. Impasi dan konstipasi.
d. Masalah aau elambatan yang berhubungan dwengan toilet training
e. Inkontinensia akibat stenosis anal atau impaksi
f. Prolaps mukosa anorektal ( menyebabkan inkontinensia dan rembes dan pesisten ).
g. Fistula kambuhan ( karena tegangan di area pembedahsn dan infeksi )
Semua pasien yang mempunyai malformasi anorectal dengan komorbiditas yang tidak jelas
mengancam hidup akan bertahan. Pada lesi letak tinggi, banyak anak mempunyai masalah
pengontrolan fungsi usus dan juga paling banyak menjadi konstipasi. Pada lesi letak rendah,
anak pada umumnya mempunyai control usus yang baik, tetapi masih dapat menjadi
konstipasi.

Komplikasi operasi yang buruk berkesempatan menjadi kontinensia primer, walaupun akibat
ini sulit diukur. Reoperasi penting untuk mengurangi terjadinya kontinensia. Kira-kira 90%
anak perempuan dengan fistula vestibulum, 80% anak laki-laki dengan fistula ureterobulbar,
66% anak laki-laki dengan fistula ureteroprostatic, dan hanya 15% anak laki-laki dengan
fistula bladder-neck mempunyai pergerakan usus yang baik. 76% anak dengan anus
imperforata tanpa fistula mempunyai pergerakan usus yang baik.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
a.
Asidosis hiperkioremia.
b.
Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan.
c.
Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah).
d.
Komplikasi jangka panjang.
- Eversi mukosa anal
- Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis)
e.
Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training.
f.
Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi)
g.
Prolaps mukosa anorektal.
h.
Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi).