Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Indonesia sebagai salah satu negara yang senantiasa melakukan

pembangunan ekonomi demi mencapai kesejahteraan masyarakat. Pembangunan


Indonesia membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Ditambah
luas wilayah Indonesia yang begitu luas dan jumlah penduduk yang padat di mana
Indonesia berada di peringkat ke-4 dunia. Dalam rangka mewujudkan
pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 diperlukan ketersediaan dana
yang besar.
Dana-dana yang diperlukan untuk melakukan pembangunan nasional salah
satunya bersumber dari pajak. Pajak adalah iuran rakyat kepada negara
berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa
imbal (kontraprestasi) secara langsung yang dipungut baik oleh pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah dan diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran
pemerintah. Berdasarkan wewenang pemungutannya, pajak terbagi menjadi dua
yaitu pajak pusat atau pajak negara dan pajak daerah.
Pajak daerah adalah pajak yang wewenang pemungutannya ada pada
Pemerintah Daerah yang pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas Pendapatan
Daerah.1 Pemerintah sebagai pengatur dan pembuat kebijakan telah memberikan
kewenangan setiap daerah untuk mengatur dan menciptakan perekonomiannya
sendiri sehingga diharapkan setiap daerah baik provinsi, kota, maupun kabupaten
dapat dengan mandiri menghidupi dan menyediakan dana guna membiayai
kegiatan ekonominya masing-masing.
Indonesia adalah negara hukum.2 Setiap kebijakan yang ada tentu harus
ada dasar hukumnya. Pajak Daerah sebagai salah satu sumber pendapatan daerah
1 Erly Suandy, 2011, Hukum Pajak Edisi 5. Jakarta : Salemba Empat.

untuk pembangunan di daerah telah diatur dalam UU No. 34 Tahun 2004 tentang
perubahan atas UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi.
Berdasarkan UU No. 34 Tahun 2004 Sumber keuangan daerah yang berasal dari
pajak daerah terbagi menjadi 2 yaitu pajak darah provinsi dan pajak daerah
kabupaten. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) merupakan salah satu komponen
pajak daerah provinsi yang memiliki penerimaan besar bagi Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD).
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah pajak atas kepemilikan atau
penguasaan kendaraan bermotor (kendaraan beroda dua atau lebih beserta
gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh
peralatan teknik berupa motor atau peraltan lainnya yang berfungsi untuk
mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan
bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat besar yang bergerak). Peranan
Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) terhadap daerah begitu penting terkait dengan
pembanguna daerah akan tetapi dalam prakteknya masih ada hambatan-hambatan.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis mengambil judul Pajak
Kendaraan Bermotor (PKB) Sebagai Salah Satu Sumber Keuangan Daerah

1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana tata cara pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
sebagai salah satu sumber keuangan daerah?
2. Bagaimana hambatan-hambatan yang timbul dalam pemungutan Pajak
Kendaraan Bermotor (PKB) sebagai salah satu sumber keuangan daerah?
3. Bagaimana solusi dalam mengatasi hambatan yang timbul dalam
pemungutan Pajak Kendaraan bermotor (PKB) sebagai salah satu sumber
keuangan daerah?

BAB II
2 Lihat dan Baca Pasal 1 ayat 3 UUD 1945.

DASAR HUKUM

Indonesia sebagai negara hukum mengatur setiap aktivitas atau kegiatan


negara dalam suatu peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Pajak, sebagai
salah satu komponen dalam pembangunan nasional mempunyai andil yang cukup
besar karena sumber pendapatan negara terbesar berasal dari pajak. Terkait hal ini
pemerintah telah mengatur dalam suatu aturan. Berdasarkan Pasal 23 A UUD
1945 menyatakan bahwa Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
keperluan negara diatur dalam undang-undang.
Berdasarkan pembagiannya pajak dibagi menjadi 3, yaitu pajak
berdasarkan golongan, pajak berdasarkan wewenang pemungut, dan pajak
berdasarkan sifat. Pajak berdasarkan wewenang pemungut terbagi menjadi pajak
pusat dan pajak daerah. Pajak daerah diatur dalam UU No. 28 Tahun 2009 tentang
perubahan atas UU No. 34 Tahun 2000 Tentang Pajak Dearah dan Retribusi
Daerah.
Pajak daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang,
dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.3 Jenis pajak daerah
terbagi menjadi 2, yaitu4 :
1. Pajak Daerah Provinsi
a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Air Permukaan; dan
e. Pajak Rokok
2. Pajak Daerah Kabupaten/Kota
a. Pajak Hotel;
3 Lihat dan Baca Pasal 1 ayat 10 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
4 Lihat dan Baca Pasal 2 ayat 1 dan 2 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Dearah dan
Retribusi Daerah.

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Pajak Restoran;
Pajak Hiburan;
Pajak Reklame;
Pajak Penerangan Jalan;
Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
Pajak Parkir;
Pajak Air Tanah;
Pajak Sarang Burung Walet;
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan;
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau


penguasaan kendaraan bermotor.5 Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan
beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan
digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang
berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga
gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alatalat berat dan alatalat
besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat
secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.6
Bagian-bagian Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), yaitu :

1. Subjek Pajak
Subjek Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang
memiliki dan/atau menguasai Kendaraan Bermotor.7
2. Wajib Pajak
5 Lihat dan Baca Pasal 1 ayat 12 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
6 Lihat dan Baca Pasal 1 ayat 13 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Dearah.
7 Lihat dan Baca Pasal 4 ayat 1 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.

Wajib Pajak Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau Badan yang
memiliki Kendaraan Bermotor.8 Bagi Wajib Pajak yang berupa suatu badan maka
kewajiban perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa dari badan tersebut.
3. Objek Pajak
Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan
kendaraan bermotor.9 Termasuk dalam pengertian kendaraan bermotor adalah
kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya, yang dioperasikan di semua
jenis jalan darat dan kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran
isi kotor GT 5 (lima Gross Tonnage) sampai dengan GT 7 (tujuh Gross Tonnage).
4. Pengecualian Obyek Pajak
Hal-hal yang dikecualikan dari objek pajak, antara lain10:
a. Kereta api;
b. Kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan
pertahanan dan keamanan negara;
c. Kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsulat,
perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan lembaga-lembaga
internasional

yang

memperoleh

fasilitas

pembebasan

pajak

dari

pemerintah;
d. Objek Pajak lainnya yang ditetapkan dalam peraturan daerah.
5. Rumus Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
a. Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor adalah hasil perkalian dari 2
(dua) unsur pokok:
i.

Nilai Jual Kendaraan Bermotor; dan

8 Lihat dan Baca Pasal 4 ayat 2 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
9 Lihat dan Baca Pasal 3UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah.
10 Lihat dan Baca Pasal 3ayat 3 UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah.

ii.

Bobot yang mencerminkan secara relatif tingkat kerusakan jalan dan/atau


pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan Bermotor.
Khusus untuk kendaraan bermotor yang digunakan di luar jalan umum,

termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar serta kendaraan di air, dasar pengenaan
Pajak Kendaraan Bermotor adalah hanya Nilai Jual Kendaraan Bermotor.
b. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor
1) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor pribadi ditetapkan sebagai berikut:
untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor pertama paling rendah sebesar

1% (satu persen) dan paling tinggi sebesar 2% (dua persen);


untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tarif
dapat ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua

persen) dan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).


2) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam
kebakaran,

sosial

keagamaan,

lembaga

sosial

dan

keagamaan,

Pemerintah/TNI/POLRI, Pemerintah Daerah, dan kendaraan lain yang


ditetapkan dengan Peraturan Daerah, ditetapkan paling rendah sebesar
0,5% (nol koma lima persen) dan paling tinggi sebesar 1% (satu persen).
3) Tarif Pajak Kendaraan Bermotor alatalat berat dan alat alat besar
ditetapkan paling rendah sebesar 0,1% (nol koma satu persen) dan paling
tinggi sebesar 0,2% (nol koma dua persen).
Kepastian penetapan tarif tersebut diatur berdasarkan peraturan daerah pada
masing-masing provinsi.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1Bagaimana tata cara pemungutan pajak kendaraan bermotor sebagai


salah satu sumber keuangan daerah?
Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan UndangUndang,

dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk


keperluan Daerah bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat.
Sistem pemungutan pajak daerah dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Sistem official assessment (official assessment system)
Pemungutan

pajak

berdasarkan

penetapan

Kepala

Daerah

dengan

menggunakan Surat Ketetapan Pajak Dearah (SKPD) atau dokumen lainnya yang
dipersamakan. Wajib pajak setelah menerima SKPD atau dokumen lain yang
dipersamakan tinggal melakukan pembayaran menggunakan Surat Setoran Pajak
Daerah (SSPD) pada kantor pos atau bank persepsi. Jika Wajib Pajak tidak atau
kurang membayar akan ditagih menggunakan Surat Tagihan Pajak Daerah.
2. Sistem self assessment (self assessment system).
Wajib Pajak menghitung, membayar, dan melaporkan sendiri pajak daerah
yang terutang. Dokumen yang digunakan adalah Surat Pemberitahuan Terutang
Pajak

Daerah

(SPTPD).

SPTPD

adalah

formulir

untuk

menghitung,

memperhitungkan, membayar, dan melaporkan pajak yang terutang. Jika Wajib


Pajak tidak atau kurang membayar atau terdapat salah hitung atau salah tulis
dalam SPTPD maka akan ditagih menggunakan Surat Tagihan Pajak Daerah
(STPD).
Apabila dalam jangka waktu lima tahun berdasarkan pemeriksaan ditemukan
adanya pajak daerah yang tidak atau kurang dibayar maka akan ditagih dengan
menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB), setelah
diterbitkan SKPDKB berdasarkan data baru (novum) ternyata masih ada pajak
daerah yang kurang dibayar maka akan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT).
Jumalah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Bayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% sebulan
dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling
lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.
Sedangkan jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak

Daerah Kurang Bayar Tambahan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan


sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut.
Jumlah pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang
Bayar dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh
lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar
untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat
terutangnya pajak.
Kepala Daerah dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah apabila :
1) Pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar;
2) Dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan Pajak Daerah terdapat
kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau slaah hitung;
3) Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.
Dalam penghitungannya jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat
Tagihan Pajak Daerah ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15(lima belas) bulan sejak saat
terutangnya pajak. Untuk Surat Ketetapan Pajak Daerah yang tidak atau kurang
dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administrasi berupa
bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan diatgih melaui Surat Tagihan Pajak
Daerah.
Kriteria Pajak Daerah tidak jauh berbeda dengan kriteria pajak secara umum,
yang membedakan antara keduanya adalah pihak pemungutnya. Kalau Pajak
Umum atau biasa disebut Pajak Pusat, yang memungut adalah Pemerintah Pusat,
sedangkan Pajak Daerah yang memungut adalah Pemerintah Daerah, baik
Pemerintah Daerah Provinsi maupun Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota.
Secara spesifik Kriteria Pajak Daerah diuraikan oleh K.J. Davey (1988) dalam
bukunya Financing Regional Government, terdiri dari 4 (empat) hal yaitu :
a. Pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah berdasarkan pengaturan dari
daerah sendiri.

b. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan Pemerintah Pusat tetapi


penetapan tarifnya dilakukan oleh Pemerintah Daerah.
c. Pajak yang ditetapkan dan atau dipungut oleh Pemerintah Daerah.
d. Pajak yang dipungut dan di administrasikan oleh Pemerintah Pusat tetapi
hasil pungutannya diberikan kepada Pemerintah Daerah.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat penting sebagai modal dasar
pelaksanaan pemerintah dan pembangunan, oleh karena itu perlu untuk
dimobilisasi dengan cermat agar dapat ditingkat mantapkan melaluiintensifikasi
dan ekstensifikasi. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004
Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 125
Tahun 2004), Sumber-sumber Pendapatan Daerah terdiri atas :
1) Pendapatan Asli Daerah
Hasil Pajak Daerah;
Hasil Retribusi Daerah;
Hasil Perusahaan milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang dipisahkan;
Lain lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.
2) Dana Perimbangan;
3) Pinjaman Daerah, dan Lain Lain Pendapatan Daerah yang sah.

Pajak Kendaraan Bermotor adalah salah satu jenis pajak daerah Provinsi
sehingga setiap daerah dapat berbeda sistem pemungutannya. Pajak kendaraan
bermotor itu sendiri dibayar setiap tahun sekali sedangkan STNK berlaku untuk 5
(lima) tahun tetapi setiap tahun dilakukan pengesahan dibarengkan dengan saat
pembayaran PKB. Persyaratan yang harus dibawa pada saat Pembayaran PKB
yang dibarengkan dengan Pengesahan STNK di UP3AD/Samsat adalah, STNK
Asli, Identitas Pemilik dan Foto Copy BPKB. Setelah persyaratan lengkap, wajib
pajak menyerahkan berkas tersebut pada bagian pendaftaran untuk kemudian
dilakukan penetapan atas besarnya pajak terhutang.
Adapaun Tata cara pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor:
1) Pendaftaran

untuk dapat melaksanakan penghitungan besarnya PKB harus dilakukan


pendaftaran terhadap obyek Pajak, yaitu dengan cara sebagai berikut :
a. Setiap Wajib Pajak harus mengisi Surat Pendaftaran dan Pendataan
Kendaraan Bermotor (SPPKB) dengan jelas, lengkap dan benar sesuai
dengan identitas kendaraan bermotor dan wajib pajak yang bersangkutan
serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau Kusanya.
b. SPPKB disampaikan selambat-lambatnya 14 hari sejak saat kepemilikan
dan atau penguasaan, untuk kendaraan bermotor baru; Sampai dengan
tanggal berakhirnya masa pajak bagi kendaraan bermotor lama; 30 hari
sejak tanggal surat keterangan fiskal antar daerah, bagi kendaraan
bermotor pindah dari luar daerah (Mutasi masuk).
c. Apabila terjadi perubahan atas kendaraan bermotor dalam masa paja, baik
perubahan bentuk, fungsi maupun penggantian mesin suatu kendaraan
bermotor; wajib dilaporkan dengan menggunakan SPPKB.
2) Penetapan Pajak Kendaraan Bermotor
Setelah diketahui dengan jelas dan pasti obyek dan subyek PKB berdasar
SPPKB, kemudian diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) yang
merupakan pemberitahuan ketetapan besarnya pajak yang terhutang.
a.
b.

3) Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor


Pembayaran atas PKB harus dilunasi sekaligus dimuka untuk 12 bulan.
Pajak dilunasi selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak diterbitkanna

c.

SKPD.
Kapada Wajib Pajak yang telah membayar lunas pajaknya diberi tanda
pelunasan pajak
4) Penagihan Pajak Kendaraan Bermotor
Pada lazimnya jika Wajib Pajak telah melakukan kewajiban mebayar PKB

sesuai dengan jangka waktu jatuh tempo pembayaran, maka tidak akan terjadi
penagihan. Penagihan baru dapat dilakukan apabila Wajib Pajak tidak melunasi
kewajibannya sesuai dengan jangka waktu pembayaran PKB. Pelaksanaan
Penagihan PKB sebagai berikut :
a. Dengan menerbitkan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat
lainnya yang sejenis sebagai awal tindakkan pelaksanaan penagihan Pajak,
dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran pajak.

10

b. Dalam jangka waktu 7 hari setelah tanggal Surat Teguran atau Surat
Peringatan atau surat lainnya yang sejenis, Wajib Pajak harus melunasi
pajak terhutang.
5) Sanksi Administrasi PKB
a. Keterlambatan mengisi dan menyampaikan SPPKB dikenakan Sanksi
Administrasi berupa Kenaikan sebesar 2% dari Pokok Pajak setiap
bulan keterlambatan paling lama 24 bulan dihitung sejak saat
terhutangnya Pajak.
b. Apabila kewajiban mengisi dan menyampaikan pengisian SPPKB
tidak dilakukan lebih dari 12 (dua belas) bulan, dikenakan Sanksi
Administrasi berupa kenaikan sebesar 25% dari Pokok Pajak
Terhutang ditambah Sanksi Administrasi berupa bunga sebesar 2%
sebulan dihitung dari Pajak terhutang untuk jangka waktu paling lama
24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak terhutangnya pajak.
c. Apabila berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain dibidang
perpajakan, tidak atau kurang dibayar, dikenakan sanksi administrasi
berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak tersebut.
d. Sanksi administrasi berupa kenaikan tersebut tidak diberlakukan
apabila Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan
pemeriksaan.

6) Sanksi Pidana
Sanksi Pidana sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pajak Kendaraan Bermotor adalah
sebagai berikut :
a. Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPPKB
atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan
keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daera,
dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan
atau denda paling banyak dua kali jumlah pajak terhutang.
b. Wajib Pajak yang karena sengaja tidak menyampaikan SPPKB atau
mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan
keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah,

11

dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan
atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terhutang.
7) Sistim Pengenaan Tarif PKB
Tarip Pajak adalah merupakan ketentuan Hukum Pajak Materiil yang
sangat penting. Untuk tarip PKB dikenakan atas dasar Nilai Jual Kendaraan
Bermotor serta faktor-faktor penyesuaian yang mencerminkan biaya ekonomis
yang diakibatkan oleh penggunaan Kendaraan Bermotor.
Tarip PKB :
Tarip Pajak Kendaraan Bermotor ditetapkan sebesar 1,5%. Besarnya PKB
yang terhutang dihitung dengan cara mengalikan antara tarif dengan dasar
pengenaan PKB. Dasar pengenaan PKB dihitung dari perkalian 2 unsur yaitu
Nilai Jual Kendaraan Bermotor dan Bobot yang menmcerminkan secara relatif
kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan
bermotor. Sehingga Penetapan PKB adalah sebagai berikut :
1,5% X Bobot X Nilai Jual Kendaraan Bermotor
Keterangan : Bobot dan NJKB ditetapkan oleh Gubernur berdasarkan hasil rapa
koordinasi Mendagri; Menkeu dan Menhu.
8) Azas Keadilan
Sebagaimana penjelasan tarif tersebut diatas, maka besarnya pengenaan pajak
terhutang bagi kendaraan bermotor terjadi kenaikan dan penurunan. Kenaikan dan
penurunan pengenaan pajak terhutang dimaksud dipertimbangkan dari azas
keadilan; yaitu bagi kendaraan bermotor yang harganya semakin mahal, maka
pengenaan pajak terutang semakin tinggi. Sebaliknya bagi kendaraan bermotor
yang harganya murah, maka pengenaan pajak terhutang juga semakin murah.
3.2

Bagaiamana hambatan-hambatan yang timbul dalam pemungutan Pajak


Kedaraan Bermotor (PKB) sebagai slaah satu sumber keuangan daerah?
Hambatan-hambatan yang timbul pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor

terbagi menjadi dua, yaitu :


a) Hambatan Internal

12

Hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam yaitu berasal dari
Unit Pelaksanaan Teknis Daerah yang berupa :
1. Kesenjangan teknis dalam pelayanan pada Wajib Pajak
Pelaksanaan pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dikaitkan dengan
pengurusan STNK dan pembayaran SPTPD. Pada saat ini segala sesuatu yang
berkaitan dengan pembayaran PKB dilakukan dengan komputer, dari mulai input
data,

editing,

penetapan,

pembayaran

dan

pendistribusian

dan

juga

pengarsipannya sebagian besar telah menggunakan komputer. Akan tetapi partner


kerja dari Kepolisian dalam beberapa hal masih dilakukan secara manual, sebagai
contoh penulisan BPKB, Cek Phisik KBM, Pengesahan STNK, Registrasi Buku
Induk KBM. Padahal hal tersebut berkaitan dengan keakuratan data

dan

percepatan serta penyederhanaan prosedure pelayanan pada masyarakat wajib


pajak kendaraan bermotor.
2. Pembayaran melalui Bank
Disamping pembayaran PKB secara online di UPTD/Samsat seluruh Jawa
Timur, pembayaran PKB dan BBNKB juga dapat dilakukan melalui Bank yang
ditunjuk/Banking System, dalam hal ini Bank Jatim. Namun demikian untuk
proses administrasinya tetap harus dilakukan melalui UPTD/Samsat setempat
dimana Wajib Pajak berdomisili.
3. Pembayaran PKB dengan sistim online
Pembayaran PKB dengan sistim on line dimana wajib pajak dapat membayar
PKB di UPTD/Samsat di seluruh Jawa Timur, merupakan suatu langkah maju
dalam pelayanan kepada masyarakat wajib pajak. Akan tetapi kebijakan tersebut
dirasa masih kurang effisien karena pembayaran PKB sistim On Line hanya
diperuntukkan bagi pelayanan Pembayaran PKB dan Pengesahan STNK saja,
sedangkan pembayaran PKB yang berkaitan dengan perubahan STNK seperti
penggantian STNK; Ganti Pemilik dan sebagainya tidak dapat dilayani secara On
Line
4. Data SPKPKB yang kurang akurat
SPKPKB adalah surat pemberitahuan yang dikirimkan via Pos kepada para
wajib pajak kendaraan bermotor yang berisi tentang besaran jumlah pembayaran
pajak yang harus dipenuhi sesuai dengan tanggal jatuh tempo. Terkadang data

13

yang tertera dalam SPKPKB kurang akurat karena program komputer data base
Samsat yang kurang sempurna, sehingga pada saat pengurusan pembayaran pajak
sering terjadi jumlah penetapan pajak tidak sama dengan jumlah yang tertera di
SPKPKB.
5. Gedung UP3AD / Samsat yang kurang memadai.
Perkembangan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat dari tahun
ketahun belum diimbangi dengan penyediaan tempat pelayanan kepada wajib
pajak yang memadai, sehingga mengurangi kenyamanan wajib pajak dalam
memenuhi kewajibannya membayar pajak kendaraan bermotor.

b) Hambatan Eksternal
Selain faktor internal sebagai penghambat bagi UPTD/Samsat Malang Kota
dalam melakukan pelaksanaan pemungutan pajak kendaraan bermotor, ada juga
faktor eksternal sebagai penghambat dalam melakukan pelaksanaan pemungutan
pajak kendaraan bermotor yang dialami oleh UPTD/Samsat Malang Kota, yaitu:
1. Penyertaan Identitas Pemilik ( KTP; SIM ) sesuai Nota Pajak/STNK
Kewajiban untuk menyertakan identitas asli pemilik kendaraan dalam
pembayaran pajak kendaraan bermotor seringkali menimbulkan kendala
karena pada saat ini banyak kendaraan yang masih dalam masa kredit
sudah diperjual belikan atau banyak kendaraan yang diperjual belikan
tetapi belum dibaliknama sesuai identitas pemilik yang baru
2. Banyaknya obyek tunggakan pajak kendaraan bermotor baik yang
disebabkan oleh kelalaian wajib pajak dalam memenuhi kewajibanya
membayar pajak maupun disebabkan oleh faktor-faktor yang lainnya
seperti misalnya kendaraan dalam kondisi rusak berat/sudah tidak
dipergunakan

tetapi

wajib

pajak

tidak

melaporkan

ke

Kantor

UPTD/Samsat.
3. Kesadaran masyarakat dalam membayar pajak. Kesadaran masyarakat
merupakan hal yang paling dibutuhkan dalam terlaksananya pembayaran
pajak kendaraan bermotor, pada saat ini masih banyak masyarakat yang
enggan bahkan tidak segera membayarkan pajak kendaraan bermotor

14

mereka meski telah melewati masa jatuh tempo pembayaran pajak


kendaraan bermotor mereka.
3.3 Bagaimana solusi mengatasi hambatan-hambatan dalam pemungutan
Pajak Kendaraan Bermotor sebagai salah satu sumber keuangan daerah?
a) Hambatan Internal
1. Mengatasi kesenjangan teknis pelayanan di UPTD/Samsat
Idealnya dalam pelayanan kepada masyarakat wajib pajak kendaraan
bermotor di UPTD/Samsat, segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan
kepada wajib pajak kendaraan dilakukan secara terpadu dalam satu paket sistim
baik dari Pemerintah Provinsi, Kepolisian maupun Jasa Raharja. Akan tetapi
karena adanya tugas dan batasan kewenangan yang berbeda, terkadang muncul
ego sektoral yang tidak dapat dihindarkan.
Untuk mengatasi hal tersebut sehingga pelayanan terbaik tetap diberikan
kepada wajib pajak, maka untuk proses administrasi secara manual hanya
diperuntukkan untuk kendaraan kendaraan selain proses penelitian ulang /
pengesahan stnk. Misalnya kendaraan balik nama, proses mutasi masuk,
pendaftaran KBM baru, dan sebagainya. Dengan demikian wajib pajak yang
hanya melaksanakan pembayaran PKB dan Pengesahan stnk dapat terlayani
dengan mudah, cepat dan akurat.
2. Mengatasi pembayaran PKB / BBNKB via Bank
Pembayaran lewat bank memang merupakan langkah maju yang dilakukan
oleh UPTD/Samsat dalam upaya memberikan pelayanan terbaik pada Wajib Pajak
Kendaraan Bermotor. Berkaitan dengan hal tersebut koordinasi yang baik dan
jaringan sistem pelayanan antara UPTD/Samsat dengan pihak bank dalam hal ini
Bank Jatim, akan sangat membantu percepatan penyelesaian administrasi dalam
pembayaran PKB, BBNKB dan penyelesaian STNK.
3. Mengatasi kelemahan sistim online
Adanya pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor sistim on line
memang dirasa sangat memudahkan wajib pajak, dimana wajib pajak pada saat
15

berada diluar kota akan dapat membayar PKB dan pengesahan stnk di
UPTD/Samsat manapun di Jawa Timur. Kelemahan dalam sistim on line dimana
wajib pajak yang dilayani dengan sistim On Line hanya yang berkaitan dengan
Pembayaran PKB dan Pengesahan STNK, disikapi dengan memberikan sosialisasi
kepada masyarakat tentang pelayanan sistim On Line yang memang belum
memungkinan melayani semua jenis permohonan berkaitan dengan pembayaran
PKB.
4. Mengatasi data SPKPKB yang kurang akurat
Untuk mengatasi terjadinya perbedaan data jumlah nominal pajak yang harus
dibayar oleh wajib pajak antara data SPKPKB dengan data hasil penetapan pajak
oleh petugas di Samsat. Upaya yang dilakukan oleh UPTD Malang Kota adalah
dengan melakukan kontrol ulang pada saat pendaftaran pembayaran pajak
kendaraan bermotor dan juga melakukan edit data pada back up data di komputer
Samsat sehingga mengurangi tingkat kesalahan yang terjadi.

5. Mengatasi tempat pelayanan yang kurang memadai


Perkembangan jumlah kendaraan bermotor yang cukup pesat memang
kurang diimbangi dengan penyediaan tempat pelayanan bagi wajib pajak
kendaraan bermotor khususnya di UP3AD / Samsat Pemalang. Yang dilakukan
selama ini hanya pergeseran dan penataan ruang dan pemasangan penyejuk udara
(AC). Meski demikian berdasar informasi yang kami dapatkan, Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah dalam hal ini Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset
Daerah sudah merencanakan merenovasi gedung kantor UP3AD / Samsat
Kabupaten Pemalang secara total, dengan cara menghancurkan gedung lama
untuk kemudian dibangun gedung baru yang lebih besar dan modern dengan
segala fasilitas yang dibutuhkan. Pembangunan gedung baru itu sendiri menurut
rencana akan dimulai pada awal atau pertengahan tahun anggaran 2009.
b) Hambatan Eksternal

16

1. Mengatasi hambatan penyertaan Identitas pemilik kendaraan.


Logika berfikir yang dipergunakan oleh UPTD/Samsat sebagai perangkat
daerah Provinsi Jawa Timur yang bertugas dalam pemungutan pajak kendaraan
bermotor, adalah bagaimana memberikan pelayanan sebaik baiknya pada wajib
pajak dengan mudah, cepat dan akurat sehingga penerimaan pajak tetap diperoleh
secara maksimal. Oleh karena itu bagi kendaraan bermotor yang masih dalam
masa kredit atau BPKB masih menjadi agunan bank, cukup menyertakan Surat
Keterangan dari Bank Kreditur. Demikian juga dengan kendaran yang masih
dalam masa kredit tapi sudah diperjual belikan sehingga tidak dapat menunjukkan
identitas pemilik sesuai dengan Nota Pajak/STNK, diberi kesempatan menunda
proses balik nama selama 1 (satu) tahun atau bisa proses balik nama tetapi proses
penyelesaian BPKB menyusul setelah kreditnya lunas, dengan disertai surat
pernyataan bersedia balik nama sesuai kepemilikan dan tentunya surat keterangan
dari pihak bank kreditur.
2. Mengatasi banyaknya tunggakan pajak kendaraan bermotor
Untuk mengatasi banyaknya obyek tunggakkan pajak kendaraan bermotor,
yang dilakukan oleh UPTD/Samsat Malang Kota adalah dengan mengirimkan
blanko/surat teguran dan penagihan atas tunggakan pajak kendaraan bermotor.
Disamping dengan cara pengiriman surat/blanko teguran atau penagihan kepada
wajib pajak, UPTD juga bekerjasama dengan Polri melakukan operasi/razia
dijalan raya, guna menjaring kendaraan-kendaraan yang menunggak pajak.
3. Mengatasi Kurangnya Kesadaran Masyarakat dalam Membayar
Pajak Kendaraan Bermotor.
Dalam hal ini pihak UPTD/Samsat bekerjasama dengan pihak Pemerintah
Daerah dalam mensosialisasikan pentingnya membayar pajak, dengan memasang
spanduk spanduk serta membuat iklan iklan tentang pentingnya membayar
pajak di stasiun stasiun televisi yang ada di Daerah.

17

18