Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Semakin maju budaya masyarakat akan diiringi dengan bertambah dan
berkembangnya tuntutan-tuntutan hidup. Perdagangan dan jasa merupakan
dua faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lain sebagai dampak
dari pesatnya pertumbuhan perekonomian masyarakat.
Perdagangan dan jasa tersebut memerlukan suatu wadah sebagai
penampung aktifitas di dalamnya. Akan timbul permasalahan apabila
terdapat ketidakseimbangan antara aktifitas dengan tempat sebagai
wadahnya.
Pasar merupakan titik pertumbuhan suatu kota yang mewadahi aktifitas
perdagangan dan jasa masyarakat di kota tersebut. Untuk mewujudkan
tatanan kota yang teratur perlu ada nya upaya bersama untuk membenahi
titik-titik pertumbuhan di kota tersebut agar tercipta keadaan yang
kondusif, bukan untuk perdagangan dan jasa namun juga sektor lain nya.
Salah satu kota kecil yang mengalami permasalahan perkembangan
tersebut adalah Gunung Pati. Kota ini membutuhkan wadah untuk
perdagangan dan jasa yang berupa pasar yang selama ini belum terwujud
secara maksimal.
Permasalahan pada kota ini adalah ketidakmampuan pasar krempyeng
untuk menampung jumlah pedagang, kemacetan yang disebabkan oleh
pasar ini karena penataan parkir yang tidak teratur, dan juga kumuhnya
lingkungan yang berada disekitar pasar.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa perlu penataan kembali
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

pasar krempyeng sebagai wadah perdagangan dan jasa dalam upaya


menciptakan iklim yang kondusif.
1.2.

Permasalahan
1.2.1. Permasalahan Umum
Rancangan Pasar Krempyeng yang belum memasukkan aspek
aspek arsitektural dan memperhatikan factor kenyamanan untuk
menunjang aktivitas perdagangan.
1.2.2. Permasalahan Khusus
Pembagian zoning tidak tertata dengan efisien sehingga dalam
beraktivitas kurang nyaman
Ketidakmampuan Pasar Krempyeng untuk menampung jumlah
pedagang dan pembeli.
Lahan parkir kurang memadai dan masih banyak kendaraan
parkir dipinggir jalan, padahal lokasi Pasar Krempyeng terletak
di daerah kampus Unnes yang dilalui oleh banyak kendaraan
umum maupun pribadi sehingga akan menimbulkan kepadatan
lalu lintas.
Bangunan tidak menunjukkan bahwa bangunan terebut adalah
bangunan Pasar.

1.3.

Tujuan dan Sasaran


1.3.1. Tujuan
Untuk mendesain Pasar Krempyeng yang lebih nyaman dan
memiliki fasad yang menarik/modern tanpa meninggalkan nilai
nilai

tradisionalnya.

Sehingga

akan

berpengaruh

dengan

banyaknya pembeli yang datang dan kondisi pasar yang lebih


tertib.
1.3.2. Sasaran
Menghasilkan sebuah landasan konsep perencanaan dan
perancangan untuk Pasar Krempyeng dengan mempertimbangkan
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

masalah masalah yang ada.


1.4.

Metode Pembahasan
Metode yang digunakan dalam pembahasan adalah deskriptif analisis
yaitu dengan mengumpulkan, menganalisis dan menyimpulkan data yang
diperlukan dan berkaitan dengan masalah. Pengumpulan data yang
dilakukan meliputi data primer dan sekunder dengan cara :
1. Data Primer
Wawancara dengan narasumber yang terkait untuk menghasilkan
informasi yang solid.
Observasi lapangan
Studi banding yaitu mempelajarai kasus lain sejenis sebagai
masukan dalam merancang
2. Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mempelajari
buku buku yang berkaitan dengan teori, konsep, standar
perencanaan dan perancangan fasilitas perdagangan, juga berkaitan
dengan arah pengembangan dari lokasi yang akan digunakan.

1.5.

Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan yang akan digunakan dalam Landasan
Konsep Perencanaan dan Perancangan Pasar Krempyeng dalam
Tugas Metode Perencanaan. Sistematika pembahasannya terdiri dari lima
bab, yaitu :
BAB 1

PENDAHULUAN

Dalam bab ini menjelaskan latar belakang, permasalahan, tujuan dan


sasaran, metode pembahasan dan sistematika pembahasan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini membahas pengertian, pola sirkulasi ruang, fungsi ruang,
tujuan, pelaku kegiatan, aktivitas dan studi banding ruang
BAB III

GAMBARAN WILAYAH PERENCANAAN

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

Dalam bab ini membahas tentang tinjauan mengenai wilayah yang akan
dijadikan site desain, potensi potensi yang berkenaan dengan
perdagangan dan juga membahasa tentang segala sesuatu yang berkenaan
dengan pasar yang akan di redesain serta berisi mengenai beberapa pasar
modern yang kita jadikan studi kasus untuk mengetahui perbandingan
antara satu dengan yang lainnya.
BAB IV

PROGRAM RUANG

Dalam bab ini membahas progam ruang yang akan ada diredesain pasar
krempyeng
BAB V

KONSEP DAN TEMA RANCANGAN

Dalam bab ini membahas titik tolak pendekatan, pendekatan fungsional,


pendekatan kinerja, pendekatan aspek teknik bangunan dan pendekatan
arsitektural.

BAB II
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Tinjauan Umum
2.1.1.

Pengertian Pasar
Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun 2007
mendefinisikan pasar sebagai area tempat jual beli barang dengan
jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat
perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plaza, pusat
perdagangan maupun sebutan lainnya.
Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Pasar dalam
pengertian teori ekonomi adalah suatu situasi seseorang atau lebih
pembeli (konsumen) dan penjual (produsen dan pedagang)
melakukan transaksi setelah kedua pihak telah mengambil kata
sepakat tentang harga, terhadap sejumlah (kuantitas) barang
dengan kuantitas tertentu yang menjadi objek transaksi. Kedua
pihak, pembeli dan penjual, mendapatkan manfaat dari adanya
transaksi atau pasar. Pihak pembeli mendapatkan barang yang
diinginkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhannya
sedangkan penjual mendapatkan imbalan pendapatan untuk
selanjutnya digunakan untuk membiayai aktivitasnya sebagai
pelaku ekonomi produksi atau pedagang.
Peraturan Daerah Kota Semarang No.9 Tahun 2013 Tentang
Pasar, mendifinisikan pasar pasar menjadi tempat yang mampu
menggerakkan roda perekonomian demi pemenuhan kebutuhan
masyarakat melalui kegiatan jual beli.
Dalam kajian sosiologi, pasar dibedakan antar pasar sebagai
tempat pasar (market place) dan pasar (market). Pasar sebagai
tempat pasar (market place) merupakan bentuk fisik dimana barang
dan jasa dibawa untuk dijual dan dimana pembeli bersedia
membeli barang dan jasa tersebut. Sedangkan pasar (market)
dilihat oleh sosiolog sebagai suatu institusi social, yaitu suatu

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

struktur social yang memberikan tatanan siap pakai bagi


pemecahan persoalan kebutuhan dasar kemanusiaan, khususnya
kebutuhan dasar ekonomi dalam distribusi barang dan jasa. Pasar
oleh sebab itu, dapat dipandang sebagai serangkaian hubungan
social yang terorganisasi di seputar proses jual beli sesuatu yang
berharga. (Damsar, 2009)
2.1.2.

Jenis jenis Pasar


Menurut Lilananda (1997), pasar sebagai perusahaan daerah
digolongkan

menurut

beberapa

hal,

yakni

menurut

jenis

kegiatannya, menurut lokasi dan kemampuan pelayanannya,


menurut waktu kegiatannya dan menurut status kepemilikannya.
1. Menurut jenis kegiatannya, pasar digolongkan menjadi tiga
jenis :
Pasar eceran yaitu pasar dimana terdapat permintaan dan
penawaran barang secara eceran.
Pasar grosir yaitu pasar dimana terdapat permintaan dan
penawaran dalam jumlah besar.
Pasar induk, pasar ini lebh besar dari pasar grosir,
merupakan pusat pengumpulan dan penyimpanan bahan
bahan pangan untuk disalurkan ke grosir grosir dan pusat
pembelian.
2. Menurut

lokasi

dan

kemampuan

pelayanannya,

pasar

digolongkan menjadi lima jenis :


Pasar regional yaitu pasar yang terletak di lokasi yang
strategis dan luas, bangunan permanen dan mempunyai
kemampuan pelayanan meliputi seluruh wilayah kota
bahkan sampai luar kota, serta barang yang diperjual
belikan

lengkap

dan

dapat

memenuhi

kebutuhan

masyarakatnya.

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

Pasar kota yaitu pasar yang terletak dilokasi yang strategis


dan luas, bangunan permanen dan mempunyai kemampuan
pelayanan meliputi seluruh wilayah kota, serta barang yang
diperjual belikan lengkap. Melayani 200.000 -220.000
penduduk. Yang termasuk pasar ini adalah pasar induk dan
pasar grosir.
Pasar wilayah (distrik) yaitu pasar yang terletak di lokasi
yang cukup strategis dan luas, bangunan permanen dan
mempunyai

kemampuan

pelayanan

meliputi

seluruh

wilayah kota, serta barang yang diperjual belikan cukup


lengkap. Melayani sekitar 50.000 -60.000 penduduk. Yang
termasuk pasar ini adalah pasar eceran, pasar khusus dan
pasar induk.
Pasar lingkungan yaitu pasar yang terletak di lokasi yang
strategis, bangunan permanen/semi permanen, dan mem
mempunyai pelayanan meliputi lingkungan pemukiman
saja, serta barang yang diperjual belikan kurang lengkap.
Melayani 10.00015.000 penduduk. Yang termasuk pasar
ini adalah pasar eceran.
Pasar khusus yaitu pasar yang terletak di lokasi yang
strategis,

bangunan

permanen/semi

permanen,

dan

mempunyai kemampuan pelayanan meliputi wilayah


kota, serta barang yang diperjual belikan terdiri dari satu
macam barang khusus, seperti pasar bunga, pasar
burung, atau pasar hewan.
3. Menurut waktu kegiatannya, pasar digolongkan menjadi
empat jenis:
Pasar siang hari, yang beroperasi dari pukul
04.0016.00
Pasar malam hari, yang beroperasi dari pukul 16.00
04.00
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

Pasar siang malam, yang beroperasi 24 jam nonstop.


Pasar darurat, yaitu pasar yang menggunakan jalanan
umum atau tempat umum tertentu atas penetapan Kepala
Daerah dan ditiadakan pada saat peringatan harihari
tertentu. Contohnya: Pasar

Maulud, Pasar Murah

Idulfitri, dan sebagainya.


4. Menurut status kepemilikannya, pasar digolongkan menjadi
tiga jenis :
Pasar pemerintah, yaitu pasar yang dimiliki dan
dikuasai oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Pasar swasta, yaitu pasar yang dimiliki dan dikuasai
oleh badan hukum yang diijinkan oleh pemerintah
daerah.
Pasar liar, yaitu pasar yang aktivitasnya diluar
pemerintah daerah, yang kehadirannya disebabkan
karena kurangnya fasilitas perpasaran yang ada dan
letak pasar yang tidak merata, biasanya dikelola oleh
perorangan/ketua RW. Pasar liar ini dibagi tiga
berdasarkan

penanggungjawabannya,

yakni

pasar

perorangan, pasar RW dan pasar desa.


2.2.

Tinjauan Khusus
2.2.1.

Pengertian Pasar Tradisional


Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun
2007 mendefinisikan pasar tradisional sebagai pasar yang
dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik
Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat
usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola
oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau
koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.


Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, pasar
tradisional merupakan wadah utama penjualan produkproduk
kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh para pelaku ekonomi
berskala menengah kecil serta mikro. Salah satu pelaku di
pasar tradisional adalah para petani, nelayan, pengrajin dan
home industri (industri rakyat).
Menurut Geertz (1992), ekonomi pasar adalah tradisional
dalam arti bahwa fungsinya diatur oleh adat kebiasaan dagang
yang dianggap keramat karena terus menerus dipergunakan
selama berabadabad, tetapi tidak dalam pengertian bahwa
ekonomi pasar ini menggambarkan suatu sistem dimana
tingkah laku ekonomis tidak dibedakan secukupnya dari
macam macam tingkah laku sosial lain. Dari sudut pandang
yang berbeda, Geertz berpendapat bahwa pasar tradisional
menunjukkan suatu tempat yang diperuntukkan bagi kegiatan
yang bersifat indigenous market trade, sebagaimana telah
dipraktikkan sejak lama (mentradisi). Pasar
lebih

bercirikan

bazar

type

economic

tradisional
skala

kecil.

Karenanya pasar tradisional secara langsung melibatkan lebih


banyak pedagang yang saling berkompetisi satu sama lain di
tempat tersebut. Selain itu, pasar ini menarik pengunjung yang
lebih beragam dari berbagai wilayah. Tidak kalah pentingnya,
pasar tradisional terbukti memberikan kesempatan bagi sektor
informal untuk terlibat di dalamnya. (Geertz, 1963)
2.2.2. Sejarah Pasar Tradisional
Makalah dalam Forum Musyawarah Daerah, IAI cabang
Sumatera Selatan tahun 1995, Adhi Moersid mengemukakan
bahwa

dalam

lingkungan

komunitas

masyarakat

yang

bermukim secara tetap, dikenal adanya pasar. Pada umumnya


Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

pasar menggambil tempat di suatu ruang atau lapangan


terbuka,
salah

dibawah

pohon

besar

yang

telah

ada,

di

satu sudut perempatan jalan atau tempat -tempat lain

yang strategis dilihat dari jarak capai dan aksesibilitas dari


dalam dan dari luar lingkungan yang bersangkutan. Pasar
dimulai dari semacam happening pada waktuwaktu
tertentu saja, dengan prasarana serba sementara. Sifatnya yang
hadir pada waktuwaktu tertentu inilah kemudian dikenal
adanya Pasar Minggu, Pasar Senin, Pasar Rabu, Pasar Jumat,
Pasar Kliwon, Pasar Legi, Pasar Pon, dan sebagainya.
Pada dasarnya, kegiatan pasar sebagai tempat jual beli
barang dan jasa di antara para petani yang membawa hasil
bumi, produsen/pedagang eceran barangbarang kebutuhan
seharihari, dan penduduk lingkungan setempat. Kegiatan
pertukaran barang dan jasa, dengan tutur sapa yang akrab,
tawar menawar barang, pemilihan tempat dan suasana akrab
menjadi tradisi tersendiri, sehingga pasar seperti ini bisa
disebut pasar tradisional pusat perbelanjaan.
Di

kotakota

Indonesia,

selanjutnya

dikenal

pusat

perbelanjaan peninggalan zaman Belanda, dengan empat


bentuk, yaitu:
Pasar (area terbuka, bangsal dan los beratap atau
kombinasi keduannya) dengan toko dan warung di
sekitarnya (retail)
Daerah pertokoan khusus (elite), di beberapa jalan
tertentu

bersambung

dengan

pusat

perdagangan

(business center)
Toko kecil/warung, tersebar dibeberapa lokasi/daerah
pemukiman penduduk.

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

10

Gambar 1. Awal Mula Terbentuknya Pasar


Sumber : Makalah dalam forum musyawarah
daerah,
IAI cabang Sumatera Selatan 1995, Adhi
Berikut merupakan contoh
gambaran pola pusat perdagangan di
Moersid

Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta :

Gambar 2. Awal Mula Terbentuknya Pasar


Sumber
: Makalah
dalamKonsep
forumPerencanaan
musyawarah
Metode Perencanaan|
Landasan
dan
Perancangan
daerah,
IAI cabang Sumatera Selatan 1995, Adhi
Moersid

11

2.2.3. Fungsi dan Tipologi Pasar Tradisional


Keberadaan pasar mempunyai fungsi yang sangat penting.
Bagi konsumen adanya pasar akan mempermudah memperoleh
barang dan jasa kebutuhan sehari hari. Adapun bagi produsen,
pasar menjadi tempat untuk mempermudah proses penyaluran
barang hasil produksi. Secara umum, pasar mempunyai tiga fungsi
utama yaitu sebagai sarana distribusi, pembentukan harga dan
sebagai tempat promosi.
1. Pasar sebagai Sarana Distribusi
Pasar sebagai sarana distribusi, berfungsi memperlancar
proses penyaluran, barang atau jasa dari produsen ke
konsumen. Dengan adanya pasar, produsen dapat berhubungan
baik

secara

langsung

maupun

tidak

langsung

untuk

menawarkan hasil produksinya kepada konsumen. Pasar


dikatakan berfungsi baik jika kegiatan distribusi barang dan
jasa dari produsen ke konsumen berjalan lancar. Sebaliknya,
pasar dikatakan tidak berfungsi baik jika kegiatan distribusi
seringkali macet.
Pedagang eceran
diluar pasar
Pasar Tradisional
Pedagang
besar
Produsen

Distributor

Pedagang
eceran
konsumen

Supermarket
Gambar 3. Pola aliran barang dari produsen sampai ke
konsumen
Metode Perencanaan| Landasan
Konsep Perencanaan dan 12
Sumber : Perancangan
www.menlh.go.id/pasarberseri/pasarberseri.pdf

2. Pasar sebagai Pembentuk Harga


Pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan
pembeli. Di pasar tersebut penjual menawarkan barang
barang

atau

jasa

kepada

pembeli.

Pembeli

yang

membutuhkan barang atau jasa akan berusaha menawar


harga dari barang atau jasa tersebut, sehingga terjadilah
tawar menawar antara kedua belah pihak. Setelah terjadi
kesepakatan, terbentuklah harga. Dengan demikian, pasar
berfungsi sebagai pembentuk harga. Harga yang telah
menjadi kesepakatan tersebut, tentunya telah diperhitungkan
oleh

penjual

dan

pembeli.

Penjual

tentu

telah

memperhitungkan laba yang diinginkannya, sedangkan


pembeli telah memperhitungkan manfaat barang atau jasa
serta keadaan keuangannya.
3. Pasar sebagai Sarana Promosi
Pasar sebagai sarana promosi artinya pasar menjadi tempat
memperkenalkan dan menginformasikan suatu barang/jasa
tentang manfaat, keunggulan, dan kekhasannya pada
konsumen. Promosi dilakukan untuk menarik minat
pembeli terhadap barang atau jasa yang diperkenalkan.
Promosi dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain,
memasang spanduk, menyebarkan brosur, pameran, dan
sebagainya. Banyaknya cara promosi yang dilakukan oleh
produsen, membuat konsumen lebih selektif dalam memilih
barang

yang

akan

dibeli.

Biasanya

produsen

yang

menawarkan barang dengan harga murah dan kualitasnya


bagus akan menjadi pilihan konsumen.
2.2.3.1.

Unsur Pasar Tradisional

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

13

Damsar (1997) meletakkan unsurunsur pasar


dengan melihat pembagian kerja yang membedakan
pedagang berdasarkan penggunaan dan pengelolaan
pendapatan yang dihasilkan dari perdagangan dan
hubungannya dengan ekonomi keluarga. Pedagang
dibedakan menjadi empat: (1) pedagang profesional,
yaitu

pedagang

perdagangan

yang

merupakan

menganggap
pendapatan

aktivitas
dari

hasil

perdagangan merupakan sumber utama dan satu


satunya bagi ekonomi keluarga. (2) pedagang semi
profesional,
aktivititasnya
pendapatan

yaitu

pedagang

untuk
dari

yang

memperoleh

hasil

uang,

perdagangan

sumber tambahan bagi ekonomi

mengakui
tetapi

merupakan

keluarga.

(3)

pedagang subsistensi, yaitu pedagang yang menjual


produk

atau

barang

dari

hasil

aktivitas

atau

subsistensi untuk memenuhi ekonomi rumah tangga.


(4) pedagang semu, yaitu pedagang yang melakukan
perdagangan karena hobi atau untuk mendapatkan
suasana baru atau mengisi waktu luang. Menurut
damsar, pedagang juga didefinisikan sebagai orang
atau institusi yang memperjual-belikan produk atau
barang kepada konsumen, baik secara langsung
maupun tidak langsung
Dalam kegiatan ekonomi, pedagang dibedakan
menurut jalur distribusi yang dilakukan: (1) pedagang
distributor (tunggal) yaitu pedagang yang memegang
hak distribusi satu produk dari perusahaan tertentu.
(2) pedagang partai besar yaitu pedagang yang
membeli produk dalam jumlah besar yang dimaksud
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

14

untuk dijual kepada pedagang lain. (3) pedagang


eceran yaitu pedagang yang menjual produk, langsung
ke konsumen.
2.2.3.2. Ciri Pasar Tradisional
Ciri ciri tradisional adalah sebagai berikut :
1. Adanya system tawar menawar antara penjual dan
pembeli. Tawar menawar mampu memberikan dampak
psikologis yang penting bagi masyarakat.
2. Pedagang dipasar tradisional berjumlah lebih dari satu
dan pedagang tersebut memiliki hak atas stan yang
telah dimiliki dan memiliki hak penuh atas barang
dagangan pada stan masing masing, sehingga tidak
terdapat satu manajemen seperti yang ada dipasar
modern.
3. Ciri pasar berdasarkan pengelompokkan dan jenis
barang pasar, yaitu : Lilananda (1997), Jenis barang di
pasar umumnya dibagi dalam empat kategori :
-

Kelompok

bersih

(kelompok

jasa,

kelompok

warung, toko)
-

Kelompok kotor yang tidak bau (kelompok hasil


bumi dan buah buahan)

Kelompok kotor yang baud an basah (kelompok


sayur dan bumbu)

Kelompok bau, basah, kotor, dan busuk (kelompok


ikan basah dan daging)

4. Ciri pasar berdasarkan tipe tempat berjualan


Lilananda (1997) Tempat berjualan atau lebih sering
disebut stan, dipilih dengan cara undian (stan yang ada
adalah stan milik sendiri dengan membayar biaya

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

15

retribusi per m2/hari sesuai dengan biaya yang


telah ditetapkan.
Tempat tempat yang strategis selalu diminati
oleh pedagang karena, terlebih dahulu terlihat atau
dikunjungi pembeli. Tempat strategis yang dimaksud
adalah sirkulasi utama, dekat pintu masuk, dekat
tangga atau dekat hall.
2.3.

Peningkatan Mutu da Pembenahan Sarana Fisik Pasar


Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, yang harus
diperhatikan dalam peningkatan mutu dan pembenahan sarana fisik
pasar adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan Tata Ruang
Pola perletakan berbagai prasarana dan sarana yang ada telah
mempertimbangkan beberapa pendekatan antara lain :
Memiliki pengaturan yang baik terhadap pola sirkulasi barang
dan pengunjung di dalam pasar dan memiliki tempat parkir
kendaraan yang mencukupi. Keluar masuknya kendaraan tidak
macet.
Dari tempat parkir terdapat akses langsung menuju kios di
pasar.
Distribusi pedagang merata atau tidak menumpuk di satu
tempat.
Sistem zoning sangat rapi dan efektif sehingga mempermudah
konsumen dalam menemukan jenis barang yang dibutuhkan.
Penerapan zoning mixedused, menggabungkan peletakan los
dan kios dalam satu,area yang saling menunjang.
Fasilitas bongkar muat (loadingunloading) yang mudah dan
meringankan material handling
Jalan keliling pasar, mencerminkan pemerataan distribusi
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

16

aktifitas perdagangan.
Memiliki tempat penimbunan sampah sementara (TPS) yang
mencukupi.
Terdapat berbagai fasilitas umum : ATM Centre, Pos Jaga
kesehatan, Mushola, toilet, dll.
Tempat pemotongan ayam yang terpisah dari bangunan utama
Memiliki bangunan kantor untuk pengelola pasar, keamanan,
organisasi pedagang.
2. Arsitektur Bangunan
Dibutuhkan lahan atau ruang yang besar dengan rencana
bangunan sebagai berikut:
Bangunan pasar yang ideal terdiri dari 1 lantai namun dapat
dibuat maksimal 2 (dua) lantai. Diupayakan lantai dasarnya
bersifat semi basement sehingga untuk naik tangga ke lantai
atas (lantai 2) tidak terasa tinggi.
Tersedia banyak akses keluar masuk sehingga sirkulasi
pembeli/pengunjung menjadi lancar dan semua areal dapat
mudah terjangkau.
Sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik sehingga dapat
meningkatkan kenyamanan bagi para pengunjung dan dapat
menghemat energi karena tidak diperlukan penerangan
tambahan.
3. Pengaturan Lalu lintas
Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bagi para pengunjung
pasar maka pengaturan lalu lintas dilakukan sebagai berikut :
Kendaraan pengunjung harus dapat parkir di dalam area pasar.
Terdapat jalan yang mengelilingi pasar dan mencukupi untuk
keperluan bongkar muat dan memiliki 2 lajur guna menghindari
penumpukan/antrian.
4. Kualitas Konstruksi
Prasarana jalan menggunakan konstruksi rigid
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

17

Konstruksi bangunan menggunakan bahan yang tahan lama dan


mudah dalam maintenancenya.
Lantai pasar keramik
Rolling door untuk kios dan dinding plester aci dengan
finishing cat.
Drainase dalam menggunakan buis beton sedangkan di luar
dengan saluran tertutup.
5. Air bersih dan Limbah
Pengadaan air bersih menggunakan sumur dalam dan di
tampung direservoir.
Memiliki sumur resapan di berbagai tempat sebagai antisipasi
terhadap melimpahnya buangan air hujan.
Pembuangan limbah terdiri dari:
- Buangan air kotor dapat disalurkan menuju drainase biasa.
- Buangan limbah kotoran oleh karena pertimbangan higienis
harus ditampung dalam septic tank, baru kemudian cairannya
dialirkan pada resapan.
- Pembuatan saluran pembuangan air rembesan dengan desain
khusus pada kios/los yang menjual dagangan yang harus
selalu segar/basah (ikan dan daging)
6. Sistem Elektrikal
Sumber daya listrik menggunakan daya d, ari PLN

dengan

demikian seluruh sistem mengikuti standar (PUTL). Untuk


mempermudah pengontrolan saat darurat, dibuat system sub
sentralisasi fase dan panel utama listrik dimana panel utama
ditempatkan di dekat kantor pengelola. Hal ini dimaksudkan
agar

daya

listrik

untuk

peralatan

perdagangan

maupun

pencahayaan ruangan dalam kondisi yang memadai.


7. Pencegahan Kebakaran
Pencegahan dan perangkat penanggulangan kebakaran dilakukan
dengan penyediaan tabung pemadam pada setiap grup kios.
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

18

Hidran untuk armada pemadam kebakaran harus tersedia di tempat


yang mudah dijangkau.
8. Penanggulangan Sampah
Pada

setiap

kelompok

mata

dagangan

disediakan

bak

penampungan sampah sementara. Petugas kebersihan secara


periodik mengumpulkan sampah dari setiap blok untuk diangkut
menuju tempat penampungan utama. Dari tempat penampungan
utama ini, pengangkutan sampah keluar pasar dilakukan oleh
pihak terkait dengan menggunakan truk/container.
2.4.

Standar standar Sarana Prasarana Pasar Tradisional


Berisi standar perabot dan dimensi manusia yang menunjang keberadaan
pasar tradisional sebagai ruang publik.

Gambar 4. Standar Dimensi Tubuh Fungsional


Sumber : Panero, 2009
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

19

Gambar 4. Standar Ruang Untuk Pengguna Kursi Roda


Sumber : Panero, 2003

Gambar 4. Standar Ruang Untuk Pengguna Alat Bantu


Jalan
Metode Perencanaan|
Landasan
Konsep2003
Perencanaan dan 20
Sumber : Panero,
Perancangan

Dari standar standar dimensi manusia diatas, maka dapat diambil standar
yang tepat untuk ruang pedestrian di pasar tradisional, sebagai berikut :

Gambar 4. Standar Prabot dan Sirkulasi pada Display


kios
Sumber : Panero, 2003

2.5.

Perencanaan Tapak
Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Perencanaan tapak
yang baik adalah sebagai berikut :
1. Setiap kios adalah tempat strategis, sehingga setiap blok hanya
terdiri dari 2 (dua) deret yang menjadikan kios memiliki 2 (dua)
muka. Kios paling luar menghadap keluar, sehingga fungsi etalase
menjadi maksimal. Pola pembagian kios diatas (hanya 2 deret kios)
terkadang terkendala oleh keterbatasan lahan dan harga bangunan
menjadi tinggi. Solusinya adalah dapat dibuat 4 (empat) deret yang
Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan
Perancangan

21

memungkinkan agi pemilik kios yang lebih dari 1 (satu) kios dapat
bersebelahan

IN

OUT

Gambar 5. Pola pembagian los/kios

2. Koridor
Koridor utama merupakan akses utama dari luar pasar. Lebar ideal
2 3 meter. Sedangkan koridor penghubung antar kios lebar
minimalnya adalah 180 cm.
3. Jalan
Tersedia jalan yang mengelilingi pasar. Sehingga semua tempat
memberikan kesan bagian depan/dapat diakses dari segala arah.
Lebar jalan minimal 5 (lima) meter. Sehingga dapat dihindari
penumpukan antrian kendaraan. Disamping itu kendaraan dapat
melakukan bongkar muat pada tempat yang tersebar sehingga
makin dekat dengan kios yang dimaksud. Tujuan dari adanya
jalan yang mengelilingi pasar adalah meningkatkan nilai strategis
kios,

mempermudah

penanggulangan

bahaya

kebakaran,

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

22

memperlancar arus kendaraan di dalam pasar, mempermudah


bongkar muat.
4. Selasar Luar
Untuk mengoptimalkan strategisnya kios, terdapat selasar yang
dapat juga sebagai koridor antar kios.
5. Bungkar Muat
Pola bongkar muat yang tersebar, sehingga dapat menekan biaya
dan mempermudah material handling. Akan tetapi harus
ditetapkan

ketentuan bongkar

muat.

Antara

lain,

setelah

bongkar muat kendaraan tidak boleh parkir ditempat.


6. TPS
Tempat penampungan sampah sebelum diangkut keluar pasar
terletak di belakang dan terpisah dari bangunan pasar.

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

23

Metode Perencanaan| Landasan Konsep Perencanaan dan


Perancangan

24