Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN

Praktikum Pencelupan III


PENCELUPAN KAIN T/C DENGAN ZAT WARNA DISPERSI REAKTIF
METODE 2 BATH 2 STAGE

Disusun Oleh :
Kelompok

:2

Group

: K-4

Nama

: Rika Dewi P
Bunga Dhita P
Yoga Firmansyah
Ayu Rahmawati

Dosen

: Muhammad Ichwan, AT., M. S. Eng.

Asisten

: Priatna

(12020080)
(12020095)
(12020098)
(12020101)

Mia E., S.ST.

POLITEKNIK - STT TEKSTIL


BANDUNG
2015

I MAKSUD DAN TUJUAN


1

Maksud
Melakukan pencelupan kain T/C dengan zat warna dispersi - reaktif
metoda two bath two stage dengan variasi skema proses.

Tujuan
-

Membandingkan hasil pencelupan meliputi ketuaan warna, kerataan warna


dan ketahanan luntur warna dari beberapa variasi yang digunakan pada

proses pencelupan.
Mengetahui hal-hal yang berpengaruh pada pencelupan serat campuran
poliester kapas dengan zat warna dispersi-reaktif metoda two bath two stage
dengan variasi metoda.

II TEORI DASAR
Pencelupan adalah suatu proses pemberian warna pada bahan tekstil secara
merata dan baik, sesuai dengan warna yang diinginkan. Sebelum pencelupan
dilakukan maka harus dipilih zat warna yang sesuai dengan serat. Pencelupan dapat
dilakukan dengan berbagai macam teknik dengan menggunakan alat alat tertentu
pula.
Pencelupan pada umumnya terdiri dari melarutkan atau mendispersikan zat
warna dalam air atau medium lain, kemudian memasukkan bahan tekstil kedalam
larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat. Penyerapan
zat

warna

kedalam

serat

merupakan

suatu

reaksi

eksotermik

dan

reaksi

kesetimbangan. Beberapa zat pembantu misalnya garam, asam, alkali atau lainnya
ditambahkan kedalam larutan celup dan kemudian pencelupan diteruskan hingga
diperoleh warna yang dikehendaki.
Vickerstaf menyimpulkan bahwa dalam pencelupan terjadi tiga tahap, yaitu :
-

Tahap pertama merupakan molekul zat warna dalam larutan yang selalu bergerak,
pada suhu tinggi gerakan molekul cepat. Kemudian bahan tekstil dimasukkan
kedalam larutan celup. Serat tekstil dalam larutan bersifat negatif pada
permukaannya sehingga dalam tahap ini terdapat dua kemungkinan yakni molekul
zat warna akan tertarik oleh serat atau tertolak menjauhi serat. Oleh karena itu
perlu penambahan zat zat pembantu untuk mendorong zat warna lebih mudah
mendekati permukaan serat. Peristiwa tahap pertama tersebut sering disebut difusi
zat warna dalam larutan.

Tahap kedua molekul zat warna yang mempunyai tenaga cukup besar dapat

mengatasi gaya gaya tolak dari permukaan serat, sehingga molekul zat warna
tersebut dapat terserap menempel pada permukaan serat. Peristiwa ini disebut
adsorpsi.
Tahap ketiga yang merupakan bagian yang terpenting dalam pencelupan adalah

penetrasi atau difusi zat warna dari permukaan serat kepusat. Tahap ketiga
merupakan proses yang paling lambat sehingga dipergunakan sebagai ukuran
menentukan kecepatan celup.
Dalam pencelupan kain T/C dengan zat warna dispersi dan zat warna reaktif,
bahan diwarnai dengan zat warna tersebut, sehingga diperoleh hasil celup dengan
warna tertentu yang merata dan mempunyai ketahanan luntur optimal.
Dalam proses ini diperlukan pemilihan zat warna dan zat pembantu tekstil yang
sesuai dengan bahan yang akan dicelup, penentuan skema proses dan resep yang
tepat, perhitungan kebutuhan zat yang tepat, pelaksanaan proses pencelupan yang
baik sesuai skema proses, sehingga proses dan hasil celupnya sesuai dengan target
yang diinginkan.
1

Serat Kapas
Serat kapas merupakan serat alam yang berasal dari serat tumbuhtumbuhan yang tergolong kedalam serat selulosa alam yang diambil dari
buahnya.
Serat kapas mempunyai bentuk panampang melintang yang sangat
bervariasi dari elips sampai bulat dan dibagi menjadi empat bagian yaitu kutikula,
dinding primer, dinding sekunder dan lumen. Tetapi pada umumnya berbentuk
seperti ginjal. Bentuk pandangan membujurnya adalah pipih seperti pita yang
terpuntir.

Penampang Membujur

Penampang Melintang

Sumber : W. Kauser and W. V. Bergen., Textile Fiber Atlas, 1994.

Serat kapas mempunyai komposisi :

Selulosa 80-90 %

Protein dan zat yang mengandung nitrogen 5%

Lemak, minyak dan malam 0,5-1%

Pektat 0,5-1%

Mineral dan warna alam 1%

Air 8%
Analisa serat kapas menunjukkan bahwa struktur kimia penyusun serat
kapas yang terbesar adalah selulosa sekitar 90 %, sedangkan sisanya berupa
lemak, lilin, minyak, asam-asam organik, mineral dan pigmen alam. Selulosa
merupakan suatu rantai polimer linier yang tersusun dari kondesat molekulmolekul glukosa (C6H10O5) yang dihubungkan oleh jembatan oksigen pada
posisi atom karbon nomor satu dan empat. Struktur kimia selulosa dapat dilihat
pada gambar di bawah ini :

Setiap satuan glukosa mengandung tiga gugus hidroksil (-OH). Gugus


hidroksil pada atom karbon nomor lima merupakan alkohol primer (-CH 2OH),
sedangkan pada posisi 2 dan 3 merupakan alkohol sekunder (HCOH). Kedua
jenis alkohol tersebut mempunyai tingkat kereaktifan yang berbeda. Gugus
hidroksil primer lebih reaktif daripada gugus hidroksil sekunder. Gugus hidroksil
merupakan gugus fungsional yang sangat menentukan sifat kimia serat kapas,
sehingga dalam penulisan mekanisme reaksi, serat selulosa dinotasikan sebagai
sel-OH.
Struktur selulosa merupakan rantai dari anhidro glukosa yang panjang dan
membentuk cincin yang dihubungkan oleh atom-atom oksigen. Pada ujung rantai
yang mengandung aldehida yang mempunyai gugus pereduksi, sedangkan pada
rantai bagian tengah mempunyai hidroksil. Bila rantai tersebut dipecah menjadi
dua atau lebih dengan suatu proses kimia maka ujung-ujung rantai akan
terhapus membentuk gugusan aldehida atau karboksilat.

Sifat fisika Serat Kapas


1. Warna
Warna kapas tidak betul betul putih, biasanya sedikit cream. Warna
kapas akan makin tua setelah penyimpaan selama 2 5 tahun. Karena
pengaruh cuaca yang lama, debu, dan kotoran akan menyebabkan warna
keabu abuan.
2. Kekuatan
Kekuatan serat kapas dipengaruhi oleh kadar selulosa dalam serat,
panjang rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kapas per bundel rata
rata adalah 96.000 pound per inchi2 dengan minimum 70000 dan maksimum
116000 pound per inchi2. kekuatan serat kapas dalam basah makin tinggi
dibanding dengan kekuatan kapas kering. Pada kapas kering distribusi
tegangan dalam serat tidak merata karena bentuk serat kapas yang terpuntir
dan tidak teratur. Dalam keadaan basah serat menggelembung berbentuk
silinder, diikuti dengan kenaikan derajat orientasi sehingga distribusi
tegangan lebih merata dan kekuatan seratnya naik.
3. Mulur
Mulur serat kapas erkisar antara 4 13 % bergantung pada jenisnya,
dengan mulur rata rata 7 %.
4. Moisture regain
Kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air. MR kapas
bervariasi dengan perubahan kelembaban atmosfer sekelilingnya. MR serat
kapas pad kondisi standar berkisar 7 8.5 %.
5. Berat jenis
Berat jenis kapas adalah 1.5 sampai 1.58.
Sifat kimia Serat Kapas
Serat kapas tidak tahan terhadap asam yang akan menghidrolisa rantai
selulosa mmembentuk hidroselulosa. Asam kuat menyebabkan degradasi cepat
dan asam encer mengakibatkan menurunnya kekuatan. Alkali mempunyai sedikit
pengaruh terhadap kapasm, kecuali alkali kuat dengan konsentrasi tinggi
menyebabkan penggelembungan serat besar seperti pada meserisasi. Pelarut
yang digunakan untuk kapas adalah kupramonium hidroksida dan kuprietilen
diamina.

Sifat biologi Serat Kapas


Serat kapas mudah diserang oleh jamur dan bakteri terutama pada
keadaan lembab dan pada suhu yang hangat.
Morfologi
Bentuk memanjang serat kapas pipih seperti pita terpuntir. Bentuk
melintang serat kapas seperti ginjal.
Secara umum serat kapas berwarna purtih sedikit cream, memiliki
kekuatan tarik sekitar 3 5 g/l dengan mulur 7 %. Moisture regain serat kapas
pada kondisi standar (27 0C, RH 65 %) adalah 7-8,5 %. Sifat Kimia Serat Kapas,
antara lain :

Tidak tahan terhadap asam, terutama asam an-organik misal, H2SO4, HCl

Tahan terhadap alkali dengan syarat tidak ada udara, karena adanya udara
(oksigen pada udara) akan menyebabkan oksiselulosa.

Dalam keadaan kering,tahan terhadap jamur, bakteri dan serangga.

Mempunyai daya adsorpsi yang tinggi terhadap air,asam, gram,alkali dan zat
lain.

Tahan dalam penyimpanan

Serat Poliester
Serat poliester adalah suatu serat sintetik yang terdiri dari polimer-polimer
linier. Serat tersebut pada umumnya dikenal dengan nama dagang dacron,
teteron, terylene. Poliester dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol. Dacron
dibuat dari asamnya dan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut :
nHOOC

COOH + nHO(CH2)2OH

Asam tereftalat

etilena glikol

HO

CO

COO(CH2)2O H + (2n-1)H2O
n
Dacron

Serat poliester memiliki kekuatan tarik sekitar 4,5-7,5 gram/denier,


sedangkan mulurnya berkisar antara 25% sampai 75%. Pada kondisi standar
yaitu RH 65 2% dan suhu 20oC 1% moisture regain serat poliester hanya
0,4% sedangkan pada RH 100% moisture regain mencapai 0,6-0,8%.
Serat poliester jika direndam dalam air mendidih akan mengkeret sampai
7%. Beberapa zat organik seperti aseton, kloroform, trikloretilen pada titik
didihnya akan mengakibatkan serat poliester mengkeret.

Penampang melintang serat poliester berbentuk bulat dan di dalamnya


terdapat bintik-bintik, sedangkan penampang membujurnya berbentuk silinder
dinding kulit yang tebal.
Sifat Poliester :
Sifat
Kekuatan tarik
Mulur
Elastisitas
Moisture regain (RH) 65%
Modulus

Parameter
4,0 6,9 gram/denier
11% - 40%
Baik (tahan kusut)
0,4%
Tinggi (pembebanan 1,7 g/d menyebabkan

Berat jenis
Titik leleh
Morfologi
Sifat kimia

mulur 2%
1,38
250oC
Berbentuk silinder dengan penampang bulat
Tahan asam lemah mendidih dan asam kuat
dingin,

tidak

tahan

alkali

kuat.

Tahan

oksidator, pelarut untuk dry cleaning. Larut


dalam metakresol panas. Tahan jamur.
3

Zat Warna Dispersi


Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang terbuat secara sintetik.
Kelarutannnya dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan dispersi
atau partikel-partikel yang hanya melayang dalam air.
Zat warna dispersi mula-mula digunakan untuk mewarnai serat selulosa.
Kemudian dikembangkan lagi, sehingga dapat digunakan untuk mewarnai serat
buatan lainnya yang lebih hidrofob dari serat selulosa asetat, seperti serat
poliester, poliamida, dan poliakrilat.
Zat warna dispersi merupakan zat warna yang terdispersi dalam air dengan
bantuan zat pendispersi. Adapun sifat-sifat umum zat warna dispersi adalah
sebagai berikut :
1

Zat warna dispersi mempunyai berat molekul yang relatif kecil (partikel 0,52).

Bersifat non-ionik terdapat gugus-gugus fungsional seperti NH2, -NHR, danOH. Gugus-gugus tersebut bersifat agak polar sehingga menyebabkan zat
warna sedikit larut dalam air.

Kelarutan zat warna dispersi sangat kecil, yaitu 0,1 mg/l pada suhu 800C.

Tidak megalami perubahan kimia selama proses pencelupan berlangsung.

Berdasarkan struktur kimianya, zat warna dispersi dibagi menjadi


beberapa golongan, yaitu :

Kromogen golongan azo


Zat warna golongan azo umumnya menghasilkan warna kuning, oranye, merah,
dan beberapa warna ungu, biru, dan hitam.

Kromogen golongan antrakuinon


Zat warna golongan antrakuinon umumnya menghasilkan warna pink, merah,
ungu, dan biru. Kelebihan zat warna antrakuinon adalah warnanya cerah, tahan
sinar sangat baik, mudah rata, sedangkan kekurangannya adalah perlu banyak
zat warna untuk memperoleh warna tua (color build up jelek), tahan luntur
terhadap pencucian kurang baik, harganya mahal.

Kromogen golongan thiopene


Zat warna ini mulai dikembangkan pada tahun 1970 untuk mensubstitusi zat
warna golongan antrakuinon, zat warna ini memiliki kelebihan dibanding zat
warna antrakuinon dalam hal color build up, warna biru yang brilian dan tahan
luntur warna terhadap pencuciannya lebih baik. Warna yang dihasilkan adalah
warna biru dan biru kehijauan.
Jenis ikatan yang terjadi antara gugus fungsional zat warna dispersi dengan

serat poliester ada 2 macam yaitu :


1

Ikatan Van der Waals


Zat warna dispersi dan serat merupakan senyawa hidrofob dan bersifat non
polar. Ikatan yang terjadi pada senyawa hidrofob dan bersifat non polar ini
ikatan fisika, yang berperan dalam terbentuknya ikatan fisika adalah ikatan van
der walls, yang terjadi berdasarkan interaksi antara kedua molekul yang
berbeda. Ikatan yang besar terjadi pada ikatan van der walls pada zat warna
dispersi dan serat poliester adalah dispersi London.

Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan gaya dipol yang melibatkan atom hidrogen dengan
atom lain yang bersifat elektronegatif. Kebanyakan zat warna dispersi tidak
mengadakan ikatan hidrogen dengan serat poliester karena zat warna dispersi
dan serat poliester bersifat nonpolar, hanya sebagian zat warna dispersi yang
mengadakan ikatan hidrogen dengan serat poliester yaitu zat warna dispersi
yang mempunyai donor proton seperti OH atau NH2.

Berdasarkan ukuran molekul dan sifat sublimasinya, zat warna dispersi


digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu :
1

Tipe A : zat warna dispersi yang mempunyai sifat kerataan pencelupan sangat
baik karena ukuran molekulnya paling kecil, akan tetapi mudah bersublimasi

pada suhu 130oC, biasanya digunakan untuk mencelup selulosa asetat dan
poliakrilat.
2

Tipe B (tipe E) : zat warna dispersi dengan ukuran molekulnya sedang, sifat
kerataan pencelupannya baik dan menyublim pada suhu 190 oC, biasanya
digunakan untuk pencelupan poliester metoda carrier atau pencapan alih
panas (transfer printing).

Tipe C (tipe SE) : zat warna dispersi yang mempunyai sifat kerataan
pencelupan cukup baik, menyublim pada suhu 200oC, biasanya digunakan
untuk pencelupan cara carrier, HT/HP dan Thermosol.

Tipe D (tipe S) : zat warna dispersi yang mempunyai sifat kerataan


pencelupan kurang baik, menyublim pada suhu 210oC, biasanya digunakan
untuk pencelupan poliester metoda HT/HP dan Thermosol.

Dalam penggunaannya, pemilihan golongan zat warna tersebut harus tepat karena
sangat menentukan sifat-sifat hasil pencelupannya.
4

Zat Warna Reaktif


Zat warna reaktif panas merupakan zat warna yang larut dalam air dan
berikatan dengan serat selulosa melalui ikatan kovalen sehingga tahan luntur
warna hasil pencelupanya baik. Contoh strukturnya adalah jenis Mono Cloro
Triazin (MCT), sebagai berikut:

OH
HO
O2N

N=N

NH
N

N=N

HO3S

Cl

R
SO3H

Struktur zat warna reaktif panas (MCT)

Beberapa contoh zat warna reaktif panas antara lain Procion H, Drimarene
X, Sumifik, Remazol, Sumifik supra dan Drimarene Cl.
Selama proses pencelupan zat warna reaktif dapat terjadi reaksi hidrolisis
sehingga zat warna menjadi rusak dan tidak dapat berfiksasi dengan serat
D-Cl + H-O-H

D-O-H

Reaksi hidrolisis ini sangat dipengaruhi pH, suhu dan konsentrasi air,
artinya bila ph, suhu dan konsentrasi air meningkat maka reaksi hidrolisis juga
akan semakin besar.
Namun reaksi hidrolisis ini lebih kecil dari reaksi fiksasi, karena
kenukleofilan OH-lebih lemah dari Sell-O-, akan tetapi dalam proses pencelupan
perlu diusahakan agar reksi hidrolisis yang terjadi dapat sekecil mungkin antara
lain dengan cara memodifikasi skema proses.
Kelemahan lain dari zat warna reaktif, selain mudah rusak terhidrolisis, juga
hasil

celupnya

kurang

tahan

terhadap

pengerjaan

asam,

yang

akan

menyebabkan ketuaan warnanya akan turun.


Salah satu kelompok zat warna reaktif panas yang lain adalah jenis Sumifik
dan Remazol yang merupakan jenis zat warna reaktif yang bereaksi dengan
serat melalui mekanisme adisi nukleofilik.
D-SO2-CH2-CH2-O-sell
Sel-OH
D-SO2-CH2-CH2-OSO3H NaOH D-SO2-CH=CH2
vinil sulfon
sulfatoetilsulfon
OH2
D-SO2-CH2-CH2-OH
Reaksi fiksasi dan hidrolisis zat warna reaktif jenis vinil sulfon

Zat warna tersebut dijual dalam bentuk sulfatoetilsulfon yang tidak reaktif
dan baru berubah menjadi vinil sulfon yang reaktif setelah ada penambahan
alkali, vinil sulfon bersifat reversible. Kelebihan zat warna vinil sulfon adalah
relatif lebih tahan alkali, tetapi kelemahanya adalah hasil celupanya mudah rusak
oleh pengerjaan dalam suasana alkali, contoh bila terhadap hasil pencelupan
dilakukan proses pencucian dengan sabun dalam suasana alkali dengan suhu
yang terlalu panas, maka ketuaan warnanya akan sedikit turun lagi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pada proses pencelupan dengan zat
warna reaktif panas adalah sebagai berikut:
1

Alkali
Untuk dapat bereaksi, zat warna memerlukan penambahan alkali yang
berguna untuk mengatur suasana yang cocok untuk bereaksi, mendorong ion
selulosa, serta untuk menetralkan asam-asam hasil reaksi.

Suhu

Suhu dapat berpengaruh dalam pencelupan, yaitu dapat mempercepat


pencelupan. Mempercepat migrasi, yaitu perataan zat warna dari bagianbagian yang tercelup tua ke bagian-bagian yang tercelup muda sehingga
menjadi rata. Mendorong terjadinya reaksi antara serat dengan zat warna
pada pencelupan dengan menggunakan zat warna reaktif panas, akan tetapi
kenaikan suhu pada proses pencelupan mempengaruhi reaksi hidrolisa.
3

Ukuran dan bentuk dari molekul zat warna


Molekul zat warna yang datar memberikan daya tembus pada serat, tetapi
setiap penambahan gugus kimianya yang merusak sifat datar tersebut akan
mengakibatkan daya tembus zat warna berkurang.
Besar kecilnya atau penambahan suatu zat warna akan mempengaruhi
kecepatan celupnya, molekul zat warna yang memanjang mempunyai daya
untuk melewati pori-pori dalam serat lebih baik dari pada molekul-molekul
yang melebar. Molekul zat warna yang besar akan mempunyai ketahanan
cuci yang lebih baik

pH
pH dalam pencelupan zat warna reaktif panas sangat berpengaruh karena
zat warna reaktif panas memerlukan suasana pH yang sangat cocok untuk
bereaksi, apabila pHnya alkali maka zat warna akan cepat terhidrolisa

Vlot
Perbandingan larutan adalah perbandingan besarnya larutan terhadap
berat bahan yang akan diproses, kenaikan konsentrasi zat warna dalam
larutan akan menambah daya serap.

Elektrolit
Penambahan

elektrolit

kedalam

larutan

celup

digunakan

untuk

memperbesar jumlah zat warna yang terserap oleh serat selulosa, meskipun
setiap zat warna memiliki kepekaan yang berbeda-beda. Elektrolit yang
ditambahkan berfungsi untuk menghilangkan muatan negative yang terdapat
pada permukaan zat warna dan bahan.
Faktor faktor yang mempengaruhi reaksi hidrolisa :
1

Kereaktifan zat warna. Apabila zat warna reaktifnya tinggi maka zat warna
akan mudah rusak terhidrolisis.

Kondisi celup.
a

Temperatur.
Telah disebutkan diatas bahwa dengan adanya penaikan temperatur maka
reaksi hidrolisa bertambah cepat.

PH.

Dengan pH yang tinggi maka akan terjadi reaksi hidrolisa yang tinggi.
c

H2O.
Reaksi hidrolisa juga akan tinggi jika pemakaian air banyak pula.
Untuk mengurangi terjadinya reaksi hidrolisis maka digunakan metode

penambahan alkali secara bertahap. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan


HO - Sel

hasil yang rata dan tua.

ZW

Reaksi fiksasi yang terjadi :

OH
Rusak

HOH

Reaksi hidrolisa yang terjadi :

HCl

Zat Pendispersi
Zat pendispersi memegang peranan penting dalam pencelupan dengan
zat warna dispersi karena dalam pemakaiannya memerlukan zat pendispersi
untuk membentuk larutan dispersi zat warna yang dikehendaki. Zat pendispersi
mempunyai fungsi ganda di dalam pembuatan dan pemakaian zat warna
dispersi, yaitu memecah partikel zat warna yangberagresi dan menstabilkan
larutan dispersi zt warna tersebut. Zat pendispersi yang pertama kali dipakai
ialah asam resin oleat yang disulfonkan atau asam sulforisinolat, sehingga seri
pertama zat warna dispersi dinamakan juga sulforisinolat colours, zat
pendispersi umumnya terdiri dari senyawa-senyawa dengan berat molekul tinggi
atau senyawa polimer. Gugus polar atau gugus ion dan gugus non polar atau
non-ion terletak bergantian sepanjang rantai molekul. Kadang-kadang dalam
bentuk rantai pendukung dan gugus non polar dengan gugus polar pada sisinya
sepanjang rantai molekul. Hasil penelitian Bird dkk. tentang pengaruh
penambahan zat pendispersi ke dalam larutan celup, hasilnya ternyata
rnenunjukkan bahwa zat warna dispersi dapat dibuat larut dalam medium air.
Namun demikian perlu diperhatikan bahwa sampai titik tertentu tingkat
pencelupan dapat ditingkatkan dengan. penambahan zat pendispersi, tetapi bila

penambahan berlebihan maka kelarutan zat warna menjadi besar dan tingkat
penyerapan zat warna menjadi rendah.

Pencelupan HT/HP
Pencelupan dengan suhu tinggi selalu disertai dengan tekanan tinggi.
Tekanan berfungsi untuk menaikkan suhu proses dan membantu difusi zat
warna ke dalam serat. Pencelupan dilakukan pada mesin tertutup tanpa
bantuan zat pengemban. Pencelupan metoda ini banyak dilakukan pada
serat poliester karena dianggap efektif akibat :

Perpindahan atau pergerakan rantai molekul serat poliester mulai aktif


pada suhu tinggi (120-130oC) sehingga memberi ruang bagi molekulmolekul zat warna untuk meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam
serat.

Kecepatan difusi zat warna dispersi mulai meningkat pada suhu tinggi (120130oC) dan kecepatan penyerapan serta migrasi zat warna menjadi lebih
besar sehingga akan mempercepat proses.

Pencelupan mulai lebih cepat karena kelarutan zat warna dispersi pada
suhu tinggi (120-130oC) mulai meningkat.
Beberapa keuntungan penggunaan metoda ini adalah dapat mencelup

warna tua, hemat bahan, waktu dan biaya proses, adsorbsi lebih cepat,
kerataan lebih baik, ketahanan luntur baik, penetrasi lebih baik, dan dapat
menggunakan zat warna dispersi dengan ketahanan sinar yang lebih baik dan
sukar menguap tetapi hanya terserap sedikit pada pencelupan di bawah
temperatur 100oC.
5

Mekanisme Pencelupan zat warna disperse reaktif


Mekanisme pencelupan zat warna dispersi adalah solid solution dimana
suatu zat padat akan larut dalam zat padat lain. Dalam hal ini, zat warna merupakan
zat padat yang larut dalam serat.
Mekanisme lain menjelaskan demikian : zat warna dispersi berpindah dari
keadaan agregat dalam larutan celup masuk kedalam serat sebagai bentuk
molekuler. Pigmen zat warna dispersi larut dalam jumlah yang kecil sekali, tetapi
bagian zat warna yang terlarut tersebut sangat mudah terserap oleh bahan.
Sedangkan bagian yang tidak larut merupakan timbunan zat warna yang sewaktuwaktu akan larut mempertahankan kesetimbangan.
Bagian zat warna dalam bentuk agregat, pada suatu saat akan terpecah
menjadi terdispersi monomolekuler. Zat warna dispersi dalam bentuk ini akan masuk

Partikel zat warna dispersi


(<1)

Agregasi

Agregat zat warna


(10)

Zat warna terdispersi monomolekuler

Serat

ke dalam serat melalui pori-pori serat. Untuk lebih jelasnya, sifat zat warna dispersi
dalam larutan celup dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Error: Reference source not foundPencelupan dimulai dengan adsorpsi zat
warna pada permukaan serat, selanjutnya terjadi difusi zat warna dari permukaan ke
dalam serat. Adsorpsi dan difusi zat warna ke dalam serat dapat dipercepat dengan
menaikkan temperatur proses.
Dalam air, serat poliester akan memiliki gaya dipol antar serat dimana
ikatannya digambarkan sebagai berikut:
O
HO

OC

O
HO

OC

O
CO(CH2)2O n H
O

Gaya Dipol

CO(CH2)2O n H

Gaya ini terjadi karena atom karbon bermuatan parsial positif (+)dan atom
oksigen bermuatan parsial negatif (-). Gaya dipol akan renggang pada saat
pemanasan di atas 80oC sehingga zat warna bisa masuk ke dalam serat.
Pada suhu tinggi, rantai-rantai molekul serat pada daerah amorf
mempunyai mobilitas tinggi dan pori-pori serat mengembang. Kenaikan suhu
menyebabkan adsorpsi dan difusi zat warna bertambah. Energi rantai molekul serat
bertambah sehingga mudah bergeser satu sama lain dan molekul zat warna dapat
masuk ke dalam serat dengan cepat. Masuknya zat warna ke dalam serat dibantu
pula dengan adanya tekanan tinggi.
Rantai molekul serat poliester tersusun dengan pola zigzag yang rapi dan
celah-celah yang akan dimasuki zat warna sangat sempit. Rantai molekul sangat
sulit untuk mengubah posisinya. Akibatnya molekul zat warna sulit menembus serat

dan pencelupan akan berjalan sangat lambat bila dilakukan tanpa pemanasan
dengan suhu tinggi. Zat warna akan menempati bagian amorf dan terorientasi dari
serat poliester. Pada saat pencelupan berlangsung, kedua bagian tersebut masih
bergerak sehingga zat warna dapat masuk di antara celah-celah rantai molekul
dengan adanya ikatan antara zat warna dengan serat. Ikatan yang terjadi antara
serat dengan zat warna mungkin merupakan ikatan fisika, tetapi dapat pula
merupakan ikatan hidrogen yang terbentuk dari gugusan amina primer pada zat
warna dengan gugusan asetil pada molekul serat.
O2N

N=N

NH
I
H

O=C O C
I
CH3

ikatan hydrogen
zat warna dispersi

gugus ester

Demikian pula gaya-gaya Dispersi London (Van der Waals) yang dapat
terjadi dalam pencelupan tersebut, seperti diilustrasikan dalam gambar di bawah ini :
I

+
A

Tolakan
Tarikan
Tolakan
Tarikan

II

+
B

ikatan
III

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan:
1

Gelas Ukur 100 ml

Gelas Piala 500 ml

Gelas Piala 100 ml

Pengaduk

Pipet Volume 10 ml

Timbangan Analitik

Stenter

Tabung Rapid

Mesin Celup (HT-dyeing)

Bahan yang digunakan :


1

Kain T/C

Zat Warna Dispersi biru

Zat Warna Reaktif Evercion yellow HE4R

Zat Pendispersi

Asam asetat 30 %

Reduktor (Na2S2O4)

Na2CO3

NaCl

Teefol

10 Air

IV

RESEP
1

Resep Pencelupan
Variasi Resep
I

II

III

IV

Pencelupan T/C dengan zat warna disperse-reaktif metoda 2B2S


Zat Warna Dispersi

(g/L)
Zat Warna Reaktif

(g/L)
Pendispersi

anionik(ml/L)
CH3COOH (pH)

Na2CO3 (g/L)

20

Urea (g/L)
Metoda
Waktu (menit)

Batchin

Batchin

8 jam

10 jam

Resep cuci reduksi


Na2S2O4

: 2 g/L

NaOH

: 1 g/L

Vlot

: 1 : 20

Waktu

: 10 menit

Resep pencucian
Teefol
Waktu
Suhu
Vlot

:
:
:
:

1 cc/l
10 menit
60 o C
1 : 20

Baking

Steaming

meni
t

5 menit

V FUNGSI ZAT
Zat warna dispersi

untuk

mencelup

pada

serat

polyester secara merata dan permanen.


Zat warna reaktif

untuk

mencelup

serat

kapas

secara merata dan permanen.


CH3COOH

untuk membuat suasana larutan proses

menjadi sedikit asam agar serat poliester tidak rusak.


Zat pendispersi

untuk mendispersikan zat warna

dispersi secara monomolekuler.


Natrium karbonat

menambah kelarutan zat warna

reaktif dan untuk proses fiksasi zat warna reaktif


Na2S2O4 dan NaOH

untuk

menghilangkan

zat

warna

dispersi yang menempel di permukaan serat


Teepol :

menghilangkan sisa zat warna yang menenpel

pada permukaan kain.

VI

PERHITUNGAN RESEP
Berat bahan
Vlot

= 6,2 g

= 6,2 x 20

Zw. Disperse

Zw. Direk

1
100

= 124 mL

1
100
x 6,2

x 6,2

= 0,062 x 100= 6,2 mL

= 0,062 x 100= 6,2 mL

Pendispersi=

1
1000

x 124

= 0,124 g/l atau ml/l

NaCl

40
1000

x 124

= 4,96 g/l

Na2CO3

15
1000

x 124

= 1,86 g/l

Teepol

20
1000
1
1000

x 124

x 124

= 2,48 g/l

= 0,124 ml/l

VII

DIAGRAM ALIR DAN SKEMA PROSES

7.1.

Pad dispersi
Pad Lar. Zat
Warna

7.2.

Dryin
g

Bakin
g

Pad
reaktif

Metoda Rendam Peras- Pemeraman 1 tahap (pad-

batch) untuk zw reaktif


Pad Lar. Zat
Warna
Evalua
si
7.3.

Dryin
g
Dryin
g

Pad
Alkali
Pencuci
an

Dryin
g
Pemeraman
(Batching)

Metoda Pad Bake 2 tahap (pad-dry-pad chemical-dry-

bake) untuk zw reaktif


Pad Lar. Zat
Warna

7.4.

Dryin
g

Pad
Alkali

Dryin
g

Dryin
Evalua
Pencuci
Baking
g
si
an
Metoda Rendam Peras Pengeringan Pengukusan 1

tahap (pad-dry-steam) untuk zw reaktif


Pad Lar. Zat
Warna
Evalua
si

Dryin
g
Dryin
g

Pad
Alkali
Pencuci
an

Dryin
g
Steaming

1
VIII

Skema Proses

CARA KERJA
Pad Zat Warna Dispersi
1

Timbang zat warna dispersi dan zat pembantu sesuai kebutuhan

Masukkan pada nampan/baki lalu tambahkan zat pendispersi.

Tambahkan air pH 5 sesuai kebutuhan.

Masukkan kain pada larutan pad.

Lewatkan pada mesin padder sebanyak 2 kali.

Lakukan pengeringan.

Lakukan proses baking.

Lakukan cuci reduksi dan pembilasan.

Evaluasi

Pada Zat Warna Reaktif


1.

Timbang zat warna reaktif dan zat pembantu sesuai kebutuhan

Masukkan zat warna reaktif pada nampan/baki.

Tambahkan air sesuai kebutuhan.

Masukkan kain pada larutan pad zat warna.

Lewatkan pada mesin padder sebanyak 2 kali.

Masukkan alkali pada nampan/baki.

Tambahkan air sesuai kebutuhan.

Masukkan kain pada larutan pad zat warna.

Lewatkan pada mesin padder sebanyak 2 kali.

10 Lakukan pengeringan.
11 Lakukan proses fiksasi ( batching, baking atau steaming)
12 Lakukan penyabunan dan pembilasan.
13 Evaluasi
Uji Gosok :

Potong kain 10 x 5 cm.

Letakkan dibawah alat gosok manual.

Rekatkan kain penggosok dengan cincin lingkaran agar kain penggosok tidak
lepas.

Lakukan penilaian dengan stainning scale.

Uji Ketahanan Cuci

Timbang kebutuhan zat sesuai resep.

Panaskan air untuk pencucian panas (60oC).

Masukkan zat dan kain pada tabung untuk pencucian panas.

Masukkan tabung kedalam mesin.

Untuk pencucian dingin lakukan pada suhu kamar.

IX

DATA HASIL PENCELUPAN


Nilai

Nilai

Ketuaan

Kerataa

Warna

n Warna

1.

2.

3.

10

4.

10

10

Rese
p

Bahan setelah Dicelup

Penilaian sesuai skema dan banyaknya zat warna reaktif, karena untuk zat warna disperse semua rata.
Nilai : makin besar angka makin bagus (berdasarkan metoda ranking).

Keterangan :
2
3

Jelek sekali
Jelek

Kurang sekali

Kurang

Cukup

Cukup baik

Baik

Baik sekali

10

Paling baik

Uji tahan luntur Pencucian suhu kamar (28-300C)


Resep

Nilai
Kain sampel

Nilai : makin besar angka makin bagus (berdasarkan stainning scale)..

Kain kapas

Uji tahan luntur Pencucian suhu 600C


Resep

Nilai
Kain sampel

Nilai : makin besar angka makin bagus (berdasarkan stainning scale).

Kain kapas

Nilai
Kapas

Resep 1
5

Tahan luntur gosok basah


Resep 2
Resep 3
5
5

Resep 4
5

Kain
sampel

Nilai : makin besar angka makin bagus (berdasarkan stainning scale).

Nilai

Resep 1
5

Tahan luntur gosok kering


Resep 2
Resep 3
5
5

Resep 4
5

Kapas

Kain
sampel

Nilai : makin besar angka makin bagus (berdasarkan stainning scale).


X DISKUSI
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, hasil pencelupan kain T/C
menggunakan zat warna disperse-reaktif tercelup dengan baik. Efek yang dihasiljkan
dari pencelupan ini adalah efek kontras dimana bagian poliester dicelupa dengan zat

warna dispersi kuning dan bagian kapas dicelup dengan zat warna breaktif merah.
Berikut ini diperoleh hasil berdasarkan evaluasi yang dilakukan, hasil tersebut sebagai
berikut:

Ketuaan
Ketuaan warna hasil pencelupan sangat dipengaruhi oleh pencelupan bagian
kapas oleh zat warna reaktif karena pencelupan bagian poliester dengan zat warna
dispersi pada semua resep sama.
Dari hasil pencelupan, ketuaan warna yang paling baik didapat pada resep 4
yang menggunakan metoda fiksasi pad-steam.

Kerataan
Kerataan pada setiap resep relatif sama. Perbedaan warna pada tiap resep
tidak begitu terlihat. Hal ini lebih dipengaruhi oleh pencelupan komponen poliester
dengan zat warna dispersi karena kain campuran T/C ini sebagian besarnya terdiri
dari serat poliester. Karena pencelupan dengan cara pada pada setiap resep sama
maka kerataan hasil pencelupan pada setiap resep sama. Selain itu, hal lain yang
mempengaruhi kerataan adalah pada proses pad. Pada saat proses pada di setiap
resep sama menggunakan WPU 70% sehingga zat warna yang masuk pada
seluruh permukaan kain cenderung sama dalam proses pad ini.

Tahan luntur pencucian


Ketahanan luntur pada setiap resep sama, baik pada suhu kamar maupun
suhu panas. Nilai stanning scalenya sangat baik yaitu 5. Tahan luntur pencucian ini
sangat dipengaruhi oleh ikatan dari kedua zat warna dengan serat. Ikatan zat
warna dispersi dengan serat poliester adalah hidrofobik karena baik zat warna
dispersi maupun

Tahan luntur gosok basah dan kering


Tahan luntur warna terhadap gosokan basah dan kering sama halnya dengan
tahan luntur warna terhadap pencucian yang dipengaruhi oleh karakteristik zat
warna, dan ikatan yang terbentuk antara zat warna dan serat. Selain itu dipengaruhi
oleh letak zat warna. Zat warna ada yang menempel di permukaan dan ada juga
yang terfiksasi dengan baik. Dengan nilai ketahanan luntur gosokan yang sangat
baik maka proses penyabunan (pencucian) berjalan dengan lancar sehingga tidak
ada zat warna yang hanya menempel dipermukaan serat.

XI

KESIMPULAN

Ketuaan warna yang paling baik didapat pada resep 2 dan 4

Kerataan warna yang paling baik adalah pencelupan dengan skema II pada resep 3
dan 4

Ketahanan luntur gosok basah dan kering semua resep sangat baik.

Ketahanan luntur cuci pada suhu kamar (28-30 oC ) dan suhu 60oC semua resep
sangat baik.

XII

DAFTAR PUSTAKA
-

Karyana, Dede. S.Teks, M.Si., dkk. Bahan Ajar Praktek Pencelupan 1. Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil. Bandung : 2005

Djufri, Rasyid. Ir., dkk. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan, dan Pencapan.


Institut Teknologi Tekstil. Bandung : 1976

Isminingsih, S.Teks, M.Sc.dkk. Pengantar Kimia Zat Warna. Institut Teknologi


Tekstil. Bandung : 1982

P. Soeprijono, dkk, Serat-Serat Tekstil,Institut Teknologi Tekstil, Bandung, 1974.

Diktat praktikum pencelupan II, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung,

http://smk3ae.wordpress.com/2008/05/26/pencelupan-serat-poliester-dengan-zatwarna-dispersi-2/pdf uii

Anda mungkin juga menyukai