Anda di halaman 1dari 12

PELANGGARAN KODE ETIK INSINYUR

Etika dalam Engineering adalah sekumpulan standar yang menetukan kewajiban


engineer terhadap publik, klien, atasan dan kepada profesinya itu sendiri. Etika akan
menjadi pemandu untuk seorang engineer agar dapat meningkatkan kualitas pekerjaannya
sekaligus bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehjateraan publik. Etika dalam
Engineering adalah konsep yang sangat luas. Di dalamnya, terdapat poin-poin yang
bersifat teknik hingga nilai-nilai kemanusiaan yang harus selalu dijunjung oleh setiap
engineer.
A. Kode Etik Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
Kode Etik Insinyur itu adalah norma dan asas yang diterima oleh para insinyur
sebagai landasan ukuran tingkah laku. Kode etik ini tidak hanya melindungi masyarakat,
tetapi juga membangun dan memelihara integritas dan reputasi dari profesi kita yaitu
profesi sebagai insinyur. Kode Etik Insinyur dari PII (Persatuan Insinyur Indonesia) yaitu:
I.

Catur Karsa, Prinsip-Prinsip Dasar


1. Mengutamakan keluhuran budi.
2. Menggunakan pengetahuan dan

kemampuannya

untuk

kepentingan

kesejahteraan umat manusia.


3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai
dengan tugas dan tanggung jawabnya.
4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional
II.

keinsinyuran.
Sapta Dharma, Tujuh Tuntunan Sikap
1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan
kesejahteraan Masyarakat.
2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kempetensinya.
3. Insinyur
Indonesia
hanya
menyatakan
pendapat
yang
dipertanggungjawabkan.
4. Insinyur Indonesia senantiasa

menghindari

terjadinya

dapat

pertentangan

kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya.


5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan
kemampuan masing-masing.
6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan
martabat profesi.
7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.
B. Kasus-Kasus Pelanggaran Kode Etik
I.
Kasus Meluapnya Lumpur Lapindo

Semburan lumpur panas yang mengeluarkan lumpur setiap harinya serta volume
lumpur yang semakin hari semakin banyak, sehingga lumpur meluber kemana-mana
menyebabkan kerugian besar.
Kasus lumpur lapindo, yang menguras uang negara hingga triliunan rupiah adalah
salah satu pelanggaran etika dalam engineer. Etika engineer yang dilanggar adalah kode
etik nomor 1, yaitu Hold Paramount the safety, health, and welfare of the public. PT.
Lapindo Brantas di Sidoarjo tidak mempedulikan keselamatan warga yang terkena lumpur
yang meluap.

Gambar: Tampak atas semburan lumpur lapindo di Kabupaten Sidoarjo


Sumber : http://img1.beritasatu.com/data/media/images/medium/1379313866.jpg

1) Studi Kelayakan
Apakah Lapindo Brantas mendapatkan izin sesuai dengan prosedur hukum?
Apakah Lapindo Brantas telah melakukan studi kelayakan (feasibility study)
tentang potensi bencana? Jika tidak melakukan studi kelayakan atau proses
pembuatan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) secara

benar,

apakah itu bukan tindakan melawan hukum? Sampai saat ini, masyarakat tidak tahu
siapa dan kapan pembuatan amdal Lapindo Brantas.
2) Perencanaan
Perencanaan

dan

pengimplementasian

proyek

pengembangan

dan

pemanfaatan sumber daya yang kurang matang menimbulkan rentetan masalah


yang panjang. Pihak PT Lapindo Brantas dalam hal menekan biaya dengan
mengurangi aspek safety yang seharusnya dipasang sangatlah salah dan pada
akhirnya merugikan banyak pihak.
3) Konstruksi atau Pelaksanaan

Berdasarkan laporan kronologi kejadian, pada tanggal 27 Mei, pengeboran


dilakukan dari kedalaman 9.277 kaki ke 9.283 kaki. Pukul 07.00 hingga 13.00
pengeboran dilanjutkan ke kedalaman 9.297 kaki. Pada kedalaman ini, sirkulasi
lumpur berat masuk ke dalam lapisan tanah. Peristiwa ini disebut loss. Lumpur
berat ini digunakan sebagai semacam pelumas untuk melindungi mata bor sekaligus
untuk menjaga tekanan hidrostatis dalam sumur agar stabil. Setelah terjadi loss,
sebagai

langkah

standar

disuntikkan

loss

circulating

material

(LCM) atau material penyumbat ke dalam sumur. Tujuannya untuk menghentikan


loss agar sirkulasi kembali normal.
Peristiwa loss yang lazim dalam pengeboran pada umumnya diikuti
munculnya tekanan tinggi dari dalam sumur ke atas atau disebut kick. Untuk
mengantisipasi kick, pipa ditarik ke atas untuk memasukkan casing sebagai
pengamanan sumur. Sebagai catatan, casing terakhir terpasang di kedalaman 3.580
kaki. Saat proses penarikan pipa hingga 4.241 kaki pada 28 Mei pukul 08.00-12.00,
terjadilah kick. Kekuatannya 350 psi. Kemudian disuntikkanlah lumpur berat ke
dalam sumur. Ketika hendak ditarik lebih ke atas, bor macet atau stuck di 3.580
kaki. Upaya menggerakkan pipa ke atas, ke bawah, maupun merotasikannya gagal.
Bahkan pipa tetap bergeming saat dilakukan penarikan sampai dengan kekuatan
200 ton. Upaya ini berlangsung mulai pukul 12.00 hingga 20.00. Selanjutnya untuk
mengamankan sumur, disuntikan semen di area macetnya bor. Akibat macet,
akhirnya diputuskan bor atau fish diputus dari rangkaian pipa dengan cara
diledakkan. Pada 29 Mei pukul 05.00, terjadilah semburan gas berikut lumpur ke
permukaan.
4) Pemakaian atau Perawatan
Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak
Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk BPMIGAS untuk melakukan proses
pengeboran minyak dan gas bumi di Indonesia. Jadi, dalam kasus ini tidak sama hal
nya dengan proyek-proyek lainya yang bergerak misalnya dlm pembangunan
gedung, jembatan, dll. Sebab kesalahan terjadi ketika proses pelaksanaan.
5) Ganti Rugi
Sesuai data perusahaan juru bayar PT Lapindo Brantas, yakni PT Minarak
Lapindo Jaya, tunggakan pembayaran terhadap warga korban lumpur di peta area
terdampak yang menjadi tanggung jawab PT Lapindo Brantas mencapai 3.337
berkas tanah dan bangunan. Total nilai tunggakan Rp 781 miliar. Total luas lahan

yang harus dibayar PT Lapindo seluas 640 hektar. Dari jumlah ini, Lapindo baru
mampu membayar sekitar 80 persen. Sedangkan 20 persen sisanya hingga kini tak
kunjung bisa dilunasi. Sisa 20 persen inilah yang nantinya akan dibeli oleh
pemerintah.
II.

Kasus Runtuhnya Jembatan Kukar


Jembatan Kutai Kartanegara adalah jembatan yang melintas di atas sungai

Mahakam dan merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Panjang jembatan


secara keseluruhan mencapai 710 meter, dengan bentang bebas, atau area yang tergantung
tanpa penyangga, mencapai 270 meter. Jembatan ini merupakan sarana penghubung antara
kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang yang menuju ke Kota
Samarinda. Dan Pada tanggal 26 November 2011 pukul 16.20 waktu setempat, Jembatan
Kutai Kartanegara ambruk dan roboh. Puluhan kendaraan yang berada di atas jalan
jembatan tercebur ke Sungai Mahakam. 18 orang tewas dan puluhan luka-luka akibat
peristiwa ini.

Gambar: Jembatan Kukar yang runtuh


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:The_pillar_after_collapsed.jpg

1) Studi kelayakan
Dari kasus ini, menurut penelitian hingga saat ini,proyek pembangunan
jembatan ini telah mendapat ijin atau telah dilakukan studi kelayakan sebelum
pembangunan jembatan ini, sehingga bias dipastikan kesalahannya bukan pada
masa studi kelayakannya.
2) Perencanaan
Ketua Tim Investigasi dari kementrian Pekerjaan Umum (PU), Iswandi
Imran, menjelaskan ketidaksempurnaan sudah mulai ada sejak tahun 1995, dimana

jembatan direncanakan. Bentuk jembatan didesain tidak streamline, artinya banyak


perubahan geometri yang mendadak untuk setiap sambungan. Dalam bentuk seperti
itu berarti terdapat banyak patahan pada jembatan.
3) Konstruksi/pelaksanaan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Investigasi

dari PU

kesalahan atau ketidaksempurnaan lain terdapat pada pemilihan konstruksi.


Konstruksi besi cor jembatan menggunakan Ductile Cast Iron FCD 60, Padahal
Idealnya menggunakan baja cor. Akibatnya Materialnya sangat getas. Bisa pecah
seketika (patah getas) dan tidak memperlihatkan gejala atau tanda akan pecah.
Berbeda halnya jika menggunakan baja. Sebab baja akan mengalami proses ulur
sehingga terlihat gejala pecahnya. Pelaksanaan jembatan ini dilakukan oleh PT
Hutama Karya
4) Pemakaian / Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakuka oleh PT Bukaka. Dalam hal ini terdapat juga
kesalahan dalam pemeliharaan menurut Tim peneliti dari Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi (BPPT) dimana disaat chamber jembatan turun pihak PT
Bukaka memutuskan menaikkannya. Namun, tim pemeliharaan tidak mengerjakan
secara cermat yakni chambernya langsung diangkat sementara belum diketahui
penyebab turunnya chamber jembatan tersebut. Ditambah lagi pengangkatan hanya
dilakukan pada satu per satu titik hanger (penggantung kabel penyangga) secara
bergantian, padahal beban jembatan sangat besar. Pengangkatan chamber harusnya
dilakukan dengan mengangkat hanger bersama-sama. Dengan satu hanger diangkat
itu, kemudian dikencangkan, akhirnya semua tumpuan beban tertumpu di hanger
yang diangkat.

Adanya pemusatan beban pada bagian tengah jembatan, serta

adanya titik lemah di sambungan, menyebabkan terjadi konsentrasi tegangan yang


melampaui kekuatan hanger, sehingga putus.
5) Ganti Rugi
Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi (UU No.18
Tahun 1999) lahir pada saat sedang dilakukannya pembangunan Jembatan Kutai
Kartanegara, sehingga terkait konstruksi jembatan, maka PT Hutama Karya sebagai
penyedia jasa konstruksi terikat dengan ketentuan UU No. 18 Tahun 1999.
Berdasarkan Pasal 25 UU No. 18 Tahun 1999, pengguna dan penyedia jasa
konstruksi wajib bertanggung jawab atas kegagalan bangunan. Bagi penyedia jasa
konstruksi Pasal 25 ayat (2) UU No. 18 Tahun 1999 membatasi tanggung jawab
hanya untuk jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun. Dengan demikian,

jangka waktu pertanggungjawaban telah terlewati oleh PT Hutama Karya sebagai


penyedia jasa, sehingga yang tertinggal hanyalah tanggung jawab pengguna jasa
konstruksi. Berdasarkan Pasal 14 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, masalah perencanaan dan pengendalian pembangunan
menjadi urusan wajib pemerintah kabupaten/kota. Jembatan Kutai Kartanegara
berada dalam wilayah Kabupaten Kukar, oleh sebab itu pengendalian terhadap
jembatan ini menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kukar. Apabila
dihubungkan dengan UU No. 18 Tahun 1999, Pemerintah Kabupaten Kukar
merupakan pengguna jasa konstruksi dari Jembatan Kutai Kartanegara.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Kukar sebagai bagian dari organisasi
pemerintahan menurut Alinea IV Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 berperan sebagai organ yang menjalankan tujuan Negara
sehingga memiliki tanggung jawab untuk melindungi seluruh bangsa Indonesia.
Dalam hal ini sudah sewajarnya Pemerintah kabupaten Kukar ikut bertanggung
jawab apabila gagal melindungi warga negaranya seperti yang terjadi pada
peristiwa runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara ini. Masyarakat yang menjadi
korban pada dasarnya dapat mengajukan gugatan ganti rugi dan prosedur gugatan
telah diatur dalam UU No. 18 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun
2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (PP No. 29 Tahun 2000).
Saat ini Polres Kukar sedang melakukan penyidikan terkait adanya
kelalaian dalam proses perbaikan/perawatan hingga jembatan runtuh. Untuk tindak
pidana umum ini dapat dikenakan Pasal 359 dan Pasal 360 KUHP tentang kelalaian
membuat orang luka dan meninggal dunia. Penyidikan juga sedang dilakukan oleh
Polda Kaltim terkait dugaan adanya penyimpangan anggaran dalam proses
pembangunan hingga mutunya di bawah standar. Penyimpangan anggaran ini
termasuk dalam tindak pidana korupsi yang dapat dikenakan pasal-pasal dalam UU
No. 31 Tahun 1999 Jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.
Runtuhnya jembatan terjadi ketika sedang dilakukan perawatan oleh PT
Bukaka Teknik Utama. Tanggung jawab PT Bukaka Teknik Utama tergantung
kontrak dengan Pemerintah Kabupaten Kukar dan hasil investigasi dari tim ahli
jasa konstruksi. Namun, Polri telah memanggil beberapa pihak dari PT Bukaka
Teknik Utama, bahkan Direktur PT Bukaka Teknik Utama sampai dipanggil paksa
untuk dapat hadir sebagai saksi.

III.

Kasus Rutuhnya Bangunan Tanah Abang


Runtuhnya sebuah bangunan di kawasan perbelanjaan Tanah Abang, Jakarta Pusat,

Rabu (23/12/2009) mengakibatkan dua orang tewas seketika dan 12 orang lainnya lukaluka karena tertimbun reruntuhan. Selain korban yang tertimbun, di lokasi setidaknya
terlihat dua kendaraan pribadi hancur tertimpa reruntuhan. Sementara itu, arus lalu lintas di
kawasan Tanah Abang ditutup dan dialihkan ke jalur lain. Bangunan yang runtuh adalah
bagian yang akan dijadikan toilet di lantai tiga gedung tersebut. Saat ini puluhan petugas
melakukan proses evakuasi dengan peralatan las dan pemotong besi. Bangunan yang
runtuh adalah bagian yang akan dijadikan toilet di lantai tiga gedung tersebut. Saat ini
puluhan petugas melakukan proses evakuasi dengan peralatan las dan pemotong besi.

Gambar: Kejadian disaat runtuhnya bangunan tambahan pada Metro Tanah Abang
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2009/12/23/082215323/Baja-Bangunan-Runtuh-diTanah-Abang-Hanya-Dikaitkan-ke-Tembok

1) Studi Kelayakan
DPPB (Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan) Pemerintah DKI
menegaskan tidak pernah memberikan izin mendirikan bangunan tambahan di
pasar Tanah Abang yang saat itu runtuh dan menewaskan dua orang dan melukai
beberapa orang lainnya.
DPPB (Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan) mendapat pengakuan
dari pemilik, tambahan bangunan itu dibangun atas permintaan para penyewa kios.
Permintaan itu dipenuhi tanpa mengajukan IMB sehingga kualitas bakal bangunan
tidak terkontrol dan akhirnya runtuh.
2) Perencanaan
Dalam kasus Tanah Abang, konsultan perencana dan pengawas tidak
melaporkan proses konstruksi tambahan bangunan toilet ke DPPB.
3) Pelaksanaan

spesifikasi teknis yang direncanakan dan dilaksanakan tidak sesuai dengan


yang seharusnya. Beban terlalu berat sehingga struktur penampang tidak kuat dan
akibatnya bangunan tambahan pada metro tanah abang ini runtuh.
4) Pemakaian / Perawatan
Keruntuhan ini terjadi disaat tahap pembangunan bagian tambahan tersebut
(kios dan toilet) maka tidak ada masalah dengan perawatan/pemakaian bangunan.
5) Ganti Rugi
Berdasarkan penyelidikan ditetapkan enam menjadi tersangka yaitu dari PT
Rointa Eka Jaya selaku pemilik bangunan, PT Trimatra Jaya Persada selaku
konsultan pengawas bangunan, PT Susanto Cipta Jaya selaku konsultan struktur
bangunan, PT Jagat Baja Prima Utama selaku kontraktor pelaksana, PT megatika
Internasional selaku konsultan arsitek dan kepala DPPB Kecamatan Tanah Abang,
Jakarta Pusat.
Mereka akan dikenakan dua dugaan pidana yaitu pelanggaran pasal
pelanggaran pasal 359 KUHP mengenai kelalaian yang mengakibatkan
meninggalnya orang lain, terkait pasal 360 KUHP mengenai kelalaian yang
mengakibatkan orang lain luka-luka, serta pelanggaran UU nomor 28 tahun 2002
mengenai bangunan dan gedung.
UU nomor 28 tahun 2002 khususnya pasal 46 ayat 2 dan 3 terkait
kepemilikan dan pengelolaan bangunan yang tidak sesuai dengan ketentuan
undang-undang tersebut dan mengakibatkan orang lain meninggal.
IV. Kasus Proyek Hambalang
Pembangunan Pusat Pendidikan latihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON)
di Hambalang, Jawa Barat adalah salah satu wujud kepedulian pemerintah untuk
menjadikan olahraga sebagai pendukung terwujudnya manusia Indonesia yang sehat.
Dengan menempatkan olahraga sebagai salah satu arah kebijakan pembangunan yaitu
menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga
memiliki tingkat kesehatan dan kebugaran yang cukup.. Namun, dalam kasus proyek
hambalang ini ditemukan prosedur prosedur yang tidak sesuai dengan prosedur
seharusnya.

Gambar: Proyek Hambalang di Sentul Bogor


Sumber: http://assets.kompas.com/data/photo/2012/12/17/1147223-set-pusat-olahraga-terpaduhambalang--620X310.jpg

1) Studi Kelayakan
Kepala Badan Perizinan Terpadu Kabupaten Bogor menerbitkan IMB
meskipun Kemenpora belum melakukan studi Amdal (Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan) terhadap proyek pembangunan P3SON sehingga diduga melanggar
Perda Kabupaten Bogor Nomor 12 tahun 2009 tentang Bangunan Gedung.
2) Perencanaan
Pada saat perencanaan proyek Hambalang dibangun dengan perencanaan
yang tidak sempurna. Hal ini diungkapkan langung oleh direktur PT Yodya Karya,
M Basir (Perusahaan tersebut merupakan BUMN pemenang tender untuk
perencana proyek itu) dan Konsultan Perencana di PT Yodya Karya (Idham
Alamsyah).
3) Konstruksi / Pelaksanaan
Saat masa pelaksanaan, sebagian area di pusat olahraga tersebut ambles,
yang mengakibatkan dua bangunan, yakni gedung bulu tangkis dan power house
(rumah genset), hampir roboh akibat tanah yang ditempat tersebut merupakan tanah
lempung yang ekpansif. Hal ini dapat terjadi karna memang belum dilakukan studi
Amdal terhadap proyek tersebut.
4) Pemakaian / Perawatan
Proyek hambalang ini mengalami masalah sebelum bangunan tersebut
selesai dibangun. Sehingga tida ada masalah dalam maintenance nya.
5) Ganti Rugi

Dalam hal ini banyak pihak yang memang bersalah, baik dari pihak
pemerintah maupun dari pihak perusahan-perusahaan yang mengerjakan proyek
tersebut. Namun yang lebih banyak dipersalahkan adalah pihak-pihak yang terlibat
korupsi.
Direktur PT Dutasari Citra Laras Mahfud Suroso dituntut 7 tahun 6 bulan
penjara dalam kasus proyek Hambalang. Mahfud juga wajib membayar ganti rugi
sebesar Rp 36 miliar. Mahfud juga diwajibkan membayar denda Rp 300 juta
subsider 6 bulan penjara.
Dalam kasus ini Mahfud bersama Direktur Operasional I PT Adhikarya
Teuku Bagus M Nur dianggap melakukan korupsi dana mechanical engineering
sekolah olahraga Hambalang. Dana sebesar Rp 185 miliar yang dikucurkan
Kemenpora hanya digunakan sekitar Rp 89 miliar. Sisanya sekitar Rp 92 miliar
digunakan untuk keperluan lain.
V.

Runtuhnya Sampoong DeptStore di Korea Selatan


Pada tanggal 29 Juni 1995, terjadi peristiwa yang paling tragis di Korea
Selatan, sehingga peristiwa itu dianggap sebagai The Largest Peacetime Disaster
in South Korean History. Sampoong Departement Store yang didirikan di distrik
Seocho-gu, Seoul, yang menjadi icon kemajuan kota Seoul pada saat itu, runtuh
dalam waktu 20 detik, dengan 1.500 orang berada didalamnya.
Sampoong Mall awalnya merupakan daerah tempat pembuangan sampah,
yang kemudian dibeli oleh Sampoong Group. Awal pembangunannya dilakukan
pada tahun 1987 dan dirampungkan pada akhir tahun 1989. Pada tanggal 7 Juli
1990, Mall tersebut sudah terbuka untuk umum. Departement Store terbesar di
distrik Seoul ini terdiri atas lima lantai dan satu lantai basement. Lima tahun
pertama sejak dibukanya mall tersebut, jumlah pengunjung setiap harinya mencapai
40.000 orang.

Gambar : Runtuhnya Bangunan Sampoong di Korea Selatan


Sumber : http://artmu.moca.go.kr/2013/201306/img/data/interview/2/4.jpg

Studi Kelayakan
Berdasarkan penyelidikan yang dilakukan diperoleh data bahwa pada saat
pengurusan izin bangunan tersebut terdapat korupsi yang dilakukan oleh pihak
pemilik perusahaan mall sampoong tersebut.

Perencanaan
Setelah didakan penyelidikan pada bangunan tersebut ternyata terdapat
beberapa kesalahan perencanaan diantranya pengurangan dimensi kolom struktur
bangunan dari yang seharusnya dan Tulangan lapis atas plat yang seharusnya
berada 5 cm di bawah permukaan pelat, ternyata berada 10 cm di bawah permukaan
pelat.
Pelaksanaan
Fungsi gedung itu pada awalnya adalah perkantoran 4 lantai, oleh direktur
selanjutnya Lee Joon, fungsi bangunan itu dirubah menjadi department store.
Beberapa kolom struktur dipotong sekitar 25 % agar escalator bisa dipasang. Waktu
kontraktor utama menolak melakukannya, Lee memecat mereka dan menyewa
kontraktor lainnya untuk membangun bangunan tersebut.
Bangunan selesai akhir 1989, dan dibuka untuk publik 7 Juli 1990 dengan
pengunjung kira-kira 40.000 orang perhari selama 5 tahun, Bangunan ini terdiri
dari sayap utara dan selatan dan dihubungkan oleh atrium.
Beberapa tahun selanjutnya, lantai ditambah menjadi 5 lantai,yang awalnya
direncanakan sebagai skating rink, tempat ini ditambahkan karena perijinan untuk
menghentkan seluruh bangunan untuk dijadikan department store. Lee mengubah
rencananya kembali dengan menambahkan 8 restaurant di lantai tambahan tersebut.

Waktu kontraktor yang mengerjakannya mengusulkan bahwa bangunan itu tidak


kuat dengan penambahan lantai tersebut. Mereka dipecat dan owner akhirnya
menunjuk anak perusahaan sendiri untuk melanjutkan pembangunan.
Karena sebagian besar restaurant disana adalah rumah makan korea
tradisional, mereka mengecor beton untuk keperluan itu yang menimbulkan extra
beban tambahan yang besar karena menambah ketebalan pelat lantai.ditambah
dengan pedingin bangunan yang dipasang di atap sehingga menambah beban aktual
menajdi 4 x beban rencana

Pemakaian / Perawatan
Dengan perubahan fungsi bangunan lantai atasa tersebut menjadi restoran
menimbulkan ketika makan, masyarakat Korea duduk dengan tidak menggunakan
kursi, maka pemanas ruangan ditaruh dibagian bawah lantai. Panas yang
dikeluarkan oleh pemanas ini terus menjalar ke pilar-pilar penyangga gedung.
Kemudian, getaran yang ditimbulkan oleh pendingin bangunan juga semakin
memperburuk retakan diantara pilar-pilar gedung. Ketika manajer gedung
mematikan AC satu jam sebelum bangunan runtuh, hal ini sudah sangat terlambat
untuk dilakukan. Retakan di restoran lantai lima yang tadinya hanya sebesar
kepalan tangan, telah melebar menjadi 10 cm. Akhirnya seluruh bangunan-pun
runtuh, menimpa pengunjung yang terlambat menyelamatkan diri.
Ganti Rugi
Pemilik gedung, Lee Joon, di jatuhi hukuman penjara 10,5 tahun. Putranya
yang merupakan CEO dari bangunan tersebut, Lee Han-Sang, dituntut sebagai
pelaku pembunuhan berencana dan dipenjara selama 7 tahun. Manajer gedung
dipenjara selama 5-6 tahun. Penyelidikan ini akhirnya mengarah pada
ditemukannya praktek korupsi besar-besaran dalam tubuh perusahaan. Beberapa
petugas kebersihan dan staff dinyatakan bersalah karena terbukti menerima suap
dari perusahaan. Pejabat kota dan mantan kepala administrasi kota juga ditahan,
karena kelalaian mereka dalam memeriksa kelayakan bangunan dan mengizinkan
penggunaan materil bangunan yang kurang terjamin keamanannya.