Anda di halaman 1dari 24

EKONOMI ISLAM

Ekonomi islam adalah pengetahuan dan aplikasi dari perintah dan pengaturan syariah
untuk menghindari ketidakadilan dalam perolehan dan pembagian sumber daya material agar
memberikan kepuasan kepada manusia sehingga memungkinkan manusia melaksanakan
tanggung jawabnya kepada Allah SWT dan masyarakat. Ilmu ekonomi islam merupakan suatu
kajian yang senantiasa memperhatikan rambu-rambu metodologi ilmiah. Sistem ekonomi islam
merupakan salah satu aspek dalam sistem nilai islam bagi seorang muslim.
Kegiatan ekonomi dalam pandangan islam merupakan tuntutan kehidupan. Di samping
itu juga merupakan anjuran yang memiliki dimensi ibadah,.hal ini dapat di buktikan dengan
ungkapan, Sesungguhnya kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi ini dan kami
adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.
(QS.Al-Araf;10). Pada kesempatan lain dikatakan, Dialah yang menjadikan bumi itu mudah
bagi kamu, maka berjalan lah (mencari rezeki kehidupanlah) di segala penjurunya dan
makanlah sebagian dari rezekinya. Hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah)
dibangkitkan. (QS. Al-Mulk: 15). Untuk itulah Allah berfirman, Kami jadikan siang untuk
mencari penghidupan.(QS. An-Naba:11).
Tujuan dari sebuah sistem ekonomi pada prinsipnya di tentukan oleh pandangan
masyarakat pendukungnya tentang dunia, jika manusia berpandangan bahwa alam semesta ini
terjadi dengan sendirinya, maka mereka tidak akan bertanggung jawab atasnya kepada siapapun,
dan mereka akan bebas hidup sesukanya. Tujuan hidup mereka hanya untuk mencapai kepuasan
maksimum, dengan mengabaikan hal itu di peroleh dan bagaimana hal itu berpengaruh pada
orang lain atau alam sekitar.
Ekonomi merupakan bagian dari kehidupan dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.
Tetapi ekonomi bukanlah fondasi bangunan nya dan bukan tujuan risalah islam
(Qardhawi,1997:33). Fondasi (asas) dalam islam, sebagaimana telah disebutkan, adalah akidah.
Akidah ini merupakan dasar keseluruhan tatanan kehidupan dalam islam, tarmasuk tatanan
ekonomi. Ekonomi islam adalah ekonomi yang berlandaskan akidah Ketuhanan Yang Maha Esa
(tauhid). Akidah yang diturunkan Allah SWT dengan sengaja kepada Rasul-Nya untuk umat
islam.

Tujuan ekonomi, membantu manusia untuk menyembah Tuhannya yang telah memberi
rizki, dan untuk menyelamatkan manusia dari kemiskinan yang bisa mengkafirkan dan kelaparan
yang bisa mendatangkan dosa. Oleh karena itu, rumusan sistem islam berbeda sama sekali dari
sistem-sistem yang lain nya. Sebagai sistem ekonomi, ia memiliki akar dalam syariah yang
menjadi sumber pandangan dunia, sekaligus tujuan dan strategi nya (Zainul Bahar, 1999;
Qardhawi, 1997:72).
Oleh karena itu, semua aktifitas ekonomi, seperti produksi, distribusi, konsumsi,
perdagangan, tidak lepas dari titik tolak ketuhanan dan bertujuan akhir kepada Tuhan. Kalau
seorang muslim bekerja di bidang produksi, maka pekerjaan itu dilakukan tidak lain karena ingin
memenuhi perintah Allah (Q. S al-mulk (67):15). Ketika menanam, membajak, atau melakukan
pekerjaan lain nya, seorang muslim merasa bahwa ia bekerja dalam rangka beribadah kepada
Allah. Makin tekun ia bekerja, makin takwa ia kepada Allah. Bertambah rapi pekerjaan nya,
bertambah dekat kepada Allah, tertanam dalam hati nya bahwa semua itu adalah rizki dari Allah,
maka patutlah bersyukur (Q.S al baqoroh (2) : 172)

A. Landasan Ekonomi dalam Islam


1. Landasan Akidah
Dalam sistem ekonomi islam kedudukan manusia sebagai makhluk Allah yang
berfungsi mengemban amanat Allah untuk memakmurkan kehidupan di bumi dan kelak
di kemudian hari akan dimintai pertanggungjawaban atas amanat Allah tersebut.
Sementara itu, sebagai pengemban amanat manusia dibekali kemampuan untuk
menguasai, mengolah, dan memanfaatkan potensi alam.
Al Quran surat Al Baqarah ayat 30: ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada
malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.
Begitu juga dalam surat Lukman ayat 20 : tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya
Allah telah menunjukkan untukmu apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat lahir dan batin.
Didalam Al Quran banyak ayat ayat yang memerintahkan agar manusia bekerja
dan berusaha mencari anugrah Allah untuk kepentingan hidupnya. Misalnya dalam Al
Quran surat Al Jumah ayat 10 ; Apabila sudah ditunaikan sholat maka beterbaranlah
kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah dengan sebanyak
banyaknya.
Bekerja mencari nafkah dan memanfaatkan potensi alam untuk mencukupi
kebutuhan hidup menurut pandangan Islam bukan merupakan tujuan, tetapi merupakan
sarana yang harus ditempuh, yang menjadi tujuan adalah mencari keridlaan Allah dengan
cara berbuat kebajikan, bersyukur atas nikmatNya.
Hubungan ekonomi Islam dengan aqidah Islam tampak jelas dalam banyak hal,
seperti pandangan Islam terhadap alam semesta yang ditundukkan (disediakan) untuk
kepentingaan manusia. Hubungan ekonomi Islam dengan aqidah dan syariah tersebut
memungkinkan aktifitas ekonomi dalam islam menjadi ibadah.
Dalam sistem ekonomi Islam kedudukan manusia sebagai makhluk Allah yang
berfungsi mengemban amanat Allah untuk memakmurkan kehidupan di bumi dan kelak

di kemudian hari akan dimintai pertanggungjawaban atas amanat Allah tersebut.


Sementara itu, sebagai pengemban amanat manusia dibekali kemampuan untuk
menguasai, mengolah, dan memanfaatkan potensi alam Al-Quran surat al-Baqarah: 30.
2. Landasan Moral
Al Quran dan hadist Nabi memberikan landasan yang terkait dengan akhlak atau
moral dalam ekonomi sebagai berikut:
1) Islam mewajibkan kaum muslimin untuk berusaha mencari kecukupan nafkah hidup
untuk dirinya, keluarga, dan mereka yang menjadi tanggung jawabnya dengan
kekuatan sendiri dan tidak menggantungkan kepada pertolongan orang lain. Islam
mengajarkan pada manusia bahwa makanan seseorang yang terbaik adalah dari jeri
payahnya sendiri. Islam juga mengajarkan bahwa orang yang memberi lebih baik dari
orang yang meminta atau menerima.
2) Islam mendorong manusia untuk memberikan jasa kepada masyarakat. Hadist riwayat
Ahmad, Bukhori, muslim dan Turmudzi mengatakan bahwa muslim yang menanam
tanaman, kemudian sebagian dimakan manusia, binatang merayap atau burung,
semuanya itu dipandang sebagai sedekah.
3) Hasil dari rizki yang kita peroleh harus disyukuri, hal ini dinyatakan dalam surat Al
Baqarah ayat 172; hai orang orang yang beriman makanlah diantara rizki yang baik
baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika engkau benar
benar hanya beribadah kepadanya.
3. Landasan Yuridis
Landasan yuridis Islam dalam bidang ekonomi meliputi Al Quran, Hadist dan
Ijtihad (rayu). Al Quran dalam bidang ekonomi memberikan pedoman yang bersifat
garis besar seperti pedoman untuk memperoleh rizki dengan jalan berniaga, melarang
melakukan riba, menghambur hamburkan harta, memakan harta milik orang lain,
perintah

bekerja

untuk

memenuhi

kebutuhan

hidup,

dan

sebagainya.

Sunnah Rasul memberikan penjelasan rinciannya seperti bagaimana cara berniaga yang

halal dan yang haram, menerangkan bentuk bentuk riba yang dilarang, bentuk bentuk
pemborosan dan sebagainya.
Ijtihad mengembangkan penerapan pedoman-pedoman Al Quran dan sunnah
Rasul dalam berbagai aspek perekonomian yang belum pernah disinggung secara jelas
oleh Al Quran dan hadist sesuai dengan perkembangan zaman, misalnya masalah bunga
bank, asuransi, koperasi, dan sebagainya.
Ketika Nabi akan mengutus Muadz ke Yaman, Beliau bertanya sebelum Muadz
berangkat: Bagaimana kamu akan memutuskan, jika kepadamu dihadapkan suatu
masalah?. Muadz menjawab saya akan memutuskan dengan ketentuan Al Quran. Nabi
bertanya lagi , Jika kamu tidak mendapatkanya dalam Al Quran?. Muadz menjawab
saya akan memutuskan dengan sunnah Rasulnya. Nabi bertanya lebih lanjut, Jika
dalam sunnah Rasulnya juga tidak kamu jumpai? Muadz menjawab saya akan
berijtihad dengan pikiranku, saya tidak akan membiarkan suatu masalah tidak
berkeputusan. Mendengar jawaban Muadz, Nabi mengatakan: Alhamdulillah yang telah
memberikan taufik kepada utusan rasulnya dengan sesuatu yang melegakan utusan
Allah. (H. R. Muadz).
B. Aspek Ekonomi Islam
Ekonomi Islam dalam beberapa aspek dikatakan mirip dengan sistem pengaturan
ekonomi campuran. Tapi aspek tambahannya adalah pada mekanisme sistemnya yang
melibatkan peran pelaku ekonomi termasuk negara. Di lain pihak, secara filosofis pada
tataran para pelaku ekonomi secara individual dilandasi oleh pertanggungjawabannya
kepada Allah secara vertikal selain secara sosial dan horizontal.
Islam mengambil suatu kaidah terbaik antara kedua pandangan yang ekstrim
(kapitalis dan komunis) dan mencoba untuk membentuk keseimbangan di antara
keduanya. Sumber pedoman ekonomi Islam adalah al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Sedang
hal-hal yang tidak secara jelas diatur dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut diperoleh
ketentuannya dengan jalan ijtihad.

Sistem ekonomi Islam mempunyai perbedaan yang mendasar dengan sistem


ekonomi yang lain, dimana dalam sistem ekonomi Islam terdapat nilai moral dan nilai
ibadah dalam setiap kegiatannya.
Prinsip ekonomi Islam adalah:
-

Kebebasan individu.

Hak terhadap harta.

Kesamaan sosial.

Keselamatan sosial.

Larangan menumpuk kekayaan.

Larangan terhadap institusi anti-sosial.

Kebajikan individu dalam masyarakat.


Dasar-dasar Ekonomi Islam:

Keseimbangan antara dunia akherat, jasmani dan rokhani, perorangan dan masyarakat
keseimbangan dan kelestarian.

Pengakuan hak milik perorangan.

Larangan menimbun harta.

Kewajiban zakat.

Diperbolehkannya perniagaan dan larangan riba.

Tidak adanya pembatasan suku, keturunan dalam bekerjasama.

C. Tata Niaga dalam Islam


Jual beli ialah persetujuan saling mengikat antara penjual yakni pihak yang
menyerahkan atau menjual barang dengan pembeli sebagai pihak yang membayar atau
membeli barang yang dijual.. Jual beli sebagai sarana tolong-menolong sesama manusia,
di dalam Islam mempunyai dasar hukum dari Al-Quran dan Hadist.

a.

Rukun dan Syarat Jual Beli


Dalam Islam terdapat rukun syarat-syarat yang harus terpenuhi agar jual belinya sah

menurut syara (hukum Islam). Adapun rukun jual beli dan syarat-syaratnya yaitu:
1) Orang yang melaksanakan akad jual beli (penjual dan pembeli)
Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penjual dan pembeli adalah:
a)
b)

Berakal, jual belinya orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah.
Balig, jual belinya anak kecil yang belum balig tidak sah, akan tetapi jika anak
itu sudah mamayyiz (mampu membedakan baik buruk), dibolehkan melakukan
jual beli terhadap barang-barang yang harganya murah, seperti permen, kue,

c)

dan kerupuk.
Berhak menggunakan hartanya. Orang yang tidak berhak menggunakan
(membelanjakan) hartanya karena tuna grahita tidak sah jual belinya, harta
milik orang tuna grahita diurus oleh walinya yang balig dan berakal sehat serta

jujur.
2) Sigat atau ucapan ijab dan kabul
Ulama fikih sepakat bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara
penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan
melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan Kabul (dari pihak pembeli).
3) Barang yang diperjualbelikan
Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi syarat-syarat yang diharuskan,
yaitu antara lain:
a) Barang yang diperjualbelikan sesuatu yang halal.
b) Barang itu ada manfaatnya. Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada
manfaatnya.

c) Barang itu benar-benar ada di tempat atau tidak ada tetapi sudah tersedia di
tempat lain, misalnya di gudang dan penjual bersedia mengambilnya bila
transaksi jual beli berlangsung.
d) Barang itu merupakan milik si penjual atau dibawah kekuasaannya.
Rasulullah SAW bersabda: Tidak sah jual beli, kecuali pada suatu yang
dimiliki (H.R Abu Daud dan At-Tirmidzi).
e) Barang itu hendaklah diketahui oleh pihak penjual dan pembeli dengan jelas
baik zatnya, bentuknya dan kadarnya, maupun sifat-sifatnya. Sesuatu yang
belum diketahui zat, bentuk, dan kadarnya dianggap tidak sah
b. Nilai tukar barang yang dijual
Syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual adalah:
1) Harga jual yang disepakati penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya.
1) Nilai tukar barang itu dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun
secara hukum, misalnya pembayaran dengan menggunakan cek atau kartu kredit.
Jika harga barang dibayar dengan cara utang atau kredit, waktu pembayarannya
harus jelas.
2) Apabila jual beli dilakukan secara barter atau Al-Muqayadah, maka nilai tukarnya
c.

tidak boleh dengan barang haram misalnya dengan babi dan khamar.
Macam-macam Jual Beli
Jual beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain tinjau dari segi
sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang.

1) Jual beli yang sah dan tidak terlarang yaitu jual beli yang terpenuhi rukun-rukun dan
syarat-syaratnya.
2) Jual beli yang terlarang dan tidak sah (batil) yaitu jual beli yang salah satu atau
seluruh rukunnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya tidak
disyariatkan (disesuaikan dengan ajaran Islam). Contoh jual beli jenis ini seperti:
a) Jual beli sesuatu yang termasuk najis, seperti bangkai dan daging babi.

b) Jual beli air mani hewan ternak, seperti kambing. Kalau menjual air mani hewan
jantan milik penjual kepada pemilik hewan betina dilarang, tetapi meminjamkan
hewan jantannya untuk dikawinkan dengan hewan betina milik orang lain
dibolehkan bahkan dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya,
Barangsiapa mengawinkan hewan jantan dengan betina, lalu mendapatkan
anak, baginya ganjaran sebanyak tujuh puluh hewan. (H.R Ibnu Hibban)
c) Jual beli anak hewan yang masih berada dalam perut induknya (belum lahir).
Hadist dari Ibnu Umar menyebutkan: Bahwa Rasulullah SAW telah melarang
menjual anak (hewan) yang masih berada dalam perut induknya. (H.R Bukhari
dan Muslim)
d) Jual beli yang mengandung unsur kecurangan dan penipuan, misalnya mengurangi
timbangan dan memalsukan kualitas barang yang dijual.
3) Jual beli yang sah tetapi terlarang (fasid). Ada beberapa contoh jual beli yang
hukumnya sah, tidak membatalkan akad jual beli, tetapi dilarang oleh Islam karena
sebab-sebab lain misalnya:
a) Merugikan si penjual, si pembeli, dan orang lain.
b) Mempersulit peredaran barang.
c) Merugikan kepentingan umum.
4) Najsyi yaitu menawar sesuatu barang dengan maksud hanya untuk mempengaruhi
orang lain agar mau membeli barang yang ditawarnya, sedangkan orang yang
menawar barang tersebut adalah teman si penjual.
5) Monopoli, yaitu menimbun barang agar orang lain tidak membeli, walaupun dengan
melampaui harga pasaran. Rasulullah SAW melarang jual beli seperti ini,karena akan
merugikan kepentingan umum.
D. Hutang Piutang
1. Pengertian Hutang Piutang
Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan
istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qathu yang

berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut AlQardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang. (Lihat
Fiqh Muamalat (2/11), karya Wahbah Zuhaili).
Sedangkan secara

terminologis

(istilah

syari), makna

Al-Qardh ialah

menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan
memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan
padanannya. (Lihat Muntaha Al-Iradat (I/197). Dikutip dari Mauqif Asy-Syariah Min
Al-Masharif Al-Islamiyyah Al-Muashirah, karya DR. Abdullah Abdurrahim AlAbbadi, hal.29).
Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi
hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari
sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika peminjam diberi pinjaman Rp.
1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan
uang sejumlah satu juta juga.

2. Hukum Hutang Piutang


Hukum Hutang piutang pada asalnya diperbolehkan dalam syariat Islam. Bahkan
orang yang memberikan hutang atau pinjaman kepada orang lain yang sangat
membutuhkan adalah hal yang disukai dan dianjurkan, karena di dalamnya terdapat
pahala yang besar. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya hutang
piutang ialah sebagaimana berikut ini:
Dalil dari Al-Quran adalah firman Allah I: Siapakah yang mau memberi
pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah),
maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda
yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah
kamu dikembalikan. (QS. Al-Baqarah: 245)
Sedangkan dalil dari Al-Hadits adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Rafi,
bahwa Nabi Sholallohu'alaihiwasallam pernah meminjam seekor unta kepada seorang
lelaki. Aku datang menemui beliau membawa seekor unta dari sedekah. Beliau
menyuruh Abu Rafi untuk mengembalikan unta milik lelaki tersebut. Abu Rafi
kembali kepada beliau dan berkata, Wahai Rasulullah! Yang kudapatkan hanya-lah
sesekor unta rubai terbaik? Beliau bersabda, Berikan saja kepadanya.
Sesungguhnya orang yang terbaik adalah yang paling baik dalam mengembalikan
hutang. (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Istiqradh, baba istiqradh Al-Ibil (no.2390), dan

Muslim dalam kitab Al-musaqah, bab Man Istaslafa Syai-an Fa Qadha Khairan
Minhu (no.1600)
Nabi Sholallohu'alaihiwasallam juga bersabda: Setiap muslim yang memberikan
pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah
satu kali. (Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albani di dalam Irwa Al-ghalil Fi Takhrij
Ahadits manar As-sabil (no.1389)). Sementara dari Ijma, para ulama kaum muslimin
telah berijma tentang disyariatkannya hutang piutang (peminjaman).
Adapun hokum berhutang atau meminta pinjaman adalah diperbolehkan, dan
bukanlah sesuatu yang dicela atau dibenci, karena Nabi Sholallohu'alaihiwasallam
pernah berhutang. (HR. Bukhari IV/608 (no.2305), dan Muslim VI/38 (no.4086)).
Namun meskipun berhutang atau meminta pinjaman itu diperbolehkan dalam
syariat Islam, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang
semaksimal mungkin jika ia mampu membeli dengan tunai atau tidak dalam keadaan
kesempitan ekonomi. Karena hutang, menurut Rasulullah Sholallohu'alaihiwasallam,
merupakan penyebab kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Hutang
juga
dapat
membahayakan
akhlaq,
sebagaimana
sabda
Rasulullah
Sholallohu'alaihiwasallam: Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia
sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri. (HR. Bukhari).
Rasulullah Sholallohu'alaihiwasallam pernah menolak menshalatkan jenazah
seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta
untuk membayarnya. Rasulullah r bersabda: Akan diampuni orang yang mati syahid
semua dosanya, kecuali hutangnya. (HR. Muslim).
3.

Adab Islami dalam Hutang Piutang


1) Hutang piutang harus ditulis dan dipersaksikan.
Dalilnya firman Allah I: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu
menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya
dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah
telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang
berhutang itu mengimlakkan (apa yang ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa
kepada Allah Rabbnya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada
hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah
(keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah
walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi
dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka
(boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu
ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah
saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil, dan
janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas

waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat
menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu.
(Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang
kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak
menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli ; dan janganlah
penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian)
maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah
kepada Allah ; Allah mengajarmu ; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al-Baqarah: 282)
Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ini
merupakan petunjuk dariNya untuk hambaNya yang mukmin. Jika mereka
bermuamalah dengan transaksi non tunai, hendaklah ditulis, agar lebih terjaga
jumlahnya dan waktunya dan lebih menguatkan saksi. Dan di ayat lain, Allah
Subhanahu wa Taala telah mengingatkan salah satu ayat : Hal itu lebih adil di sisi
Allah dan memperkuat persaksian dan agar tidak mendatangkan keraguan. (Lihat
Tafsir Al-Quran Al-Azhim, III/316).
2) Pemberi hutang atau pinjaman tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat
dari orang yang berhutang.
Kaidah fikih berbunyi : Setiap hutang yang membawa keuntungan,
maka hukumnya riba. Hal ini terjadi jika salah satunya mensyaratkan atau
menjanjikan penambahan. Dengan kata lain, bahwa pinjaman yang berbunga atau
mendatangkan manfaat apapun adalah haram berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah,
dan ijma para ulama. Keharaman itu meliputi segala macam bunga atau manfaat
yang dijadikan syarat oleh orang yang memberikan pinjaman kepada si peminjam.
Karena tujuan dari pemberi pinjaman adalah mengasihi si peminjam dan
menolongnya. Tujuannya bukan mencari kompensasi atau keuntungan. (Lihat AlFatawa Al-Kubra III/146,147)
Dengan dasar itu, berarti pinjaman berbunga yang diterapkan oleh bankbank maupun rentenir di masa sekarang ini jelas-jelas merupakan riba yang
diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. sehingga bisa terkena ancaman keras baik
di dunia maupun di akhirat dari Allah taala.
Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah- berkata : Hendaklah diketahui,
tambahan yang terlarang untuk mengambilnya dalam hutang adalah tambahan
yang disyaratkan. (Misalnya), seperti seseorang mengatakan saya beri anda
hutang dengan syarat dikembalikan dengan tambahan sekian dan sekian, atau
dengan syarat anda berikan rumah atau tokomu, atau anda hadiahkan kepadaku
sesuatu. Atau juga dengan tidak dilafadzkan, akan tetapi ada keinginan untuk
ditambah atau mengharapkan tambahan, inilah yang terlarang, adapun jika yang
berhutang menambahnya atas kemauan sendiri, atau karena dorongan darinya
tanpa syarat dari yang berhutang ataupun berharap, maka tatkala itu, tidak

terlarang mengambil tambahan. (Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhi, Shalih AlFauzan, II/51).


3) Kebaikan sepantasnya dibalas dengan kebaikan
Dari Abu Hurairah Radhiyallihu'anhu, ia berkata: Nabi mempunyai hutang
kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu.orang itupun datang
menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, Berikan kepadanya kemudian mereka
mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali
yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata : Berikan kepadanya, Dia
pun menjawab, Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah I
membalas dengan setimpal. Maka Nabi Sholallohu'alaihiwasallam bersabda,
Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian
(hutang).( HR. Bukhari, kitab Al-Wakalah, no. 2305)
Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallohu'anhu ia berkata: Aku mendatangi
Nabi Sholallohu'alaihiwasallam di masjid, sedangkan beliau mempunyai hutang
kepadaku, lalu beliau membayarnya dam menambahkannya. (HR. Bukhari, kitab
Al-Istiqradh, no. 2394)
4) Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya
Jika seseorang berhutang dengan tujuan buruk, maka dia telah berbuat
zhalim dan dosa. Diantara tujuan buruk tersebut seperti:
a. Berhutang untuk menutupi hutang yang tidak terbayar
b. Berhutang untuk sekedar bersenang-senang
c. Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi,
maka digunakan istilah hutang agar mau memberi.
d. Berhutang dengan niat tidak akan melunasinya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu'anhu, ia berkata bahwa Nabi
Sholallohu'alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang mengambil harta orang
lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka
Allah subhanahuwata'aala akan tunaikan untuknya. Dan barangsiapa
mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya, pent), maka Allah I
akan membinasakannya. (HR. Bukhari, kitab Al-Istiqradh, no. 2387)
Hadits ini hendaknya ditanamkan ke dalam diri sanubari yang berhutang,
karena kenyataan sering membenarkan sabda Nabi diatas. Berapa banyak orang
yang berhutang dengan niat dan tekad untuk menunaikannya, sehingga Allah pun
memudahkan baginya untuk melunasinya. Sebaliknya, ketika seseorang bertekad
pada dirinya, bahwa hutang yang dia peroleh dari seseorang tidak disertai dengan
niat yang baik, maka Allah subhanahuwata'aala membinasakan hidupnya dengan
hutang tersebut. Allah Subhanahuwata'aala melelahkan badannya dalam mencari,
tetapi tidak kunjung dapat. Dan dia letihkan jiwanya karena memikirkan hutang

tersebut. Kalau hal itu terjadi di dunia yang fana, bagaimana dengan akhirat yang
kekal nan abadi?
5) Tidak boleh melakukan jual beli yang disertai dengan hutang atau
peminjaman
Mayoritas ulama menganggap perbuatan itu tidak boleh. Tidak boleh
memberikan syarat dalam pinjaman agar pihak yang berhutang menjual sesuatu
miliknya, membeli, menyewakan atau menyewa dari orang yang menghutanginya.
Dasarnya adalah sabda Nabi: Tidak dihalalkan melakukan peminjaman plus jual
beli. (HR. Abu Daud no.3504, At-Tirmidzi no.1234, An-NasaI VII/288. Dan AtTirmidzi
berkata:
Hadits
ini
hasan
shahih).
Yakni agar transaksi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk mengambil bunga
yang diharamkan.
6) Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang
berhutang memberitahukan kepada orang yang memberikan pinjaman.
Karena hal ini termasuk bagian dari menunaikan hak yang menghutangkan.
Janganlah berdiam diri atau lari dari si pemberi pinjaman, karena akan
memperparah keadaan, dan merubah hutang, yang awalnya sebagai wujud kasih
sayang, berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.
7) Menggunakan uang pinjaman dengan sebaik mungkin. Menyadari, bahwa
pinjaman
merupakan
amanah
yang
harus
dia
kembalikan.
Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda: Tangan bertanggung
jawab atas semua yang diambilnya, hingga dia menunaikannya. (HR. Abu
Dawud dalam Kitab Al-Buyu, Tirmidzi dalam kitab Al-buyu, dan selainnya).
8) Diperbolehkan bagi yang berhutang untuk mengajukan pemutihan atas
hutangnya atau pengurangan, dan juga mencari perantara (syafaat) untuk
memohonnya.
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallohu'anhu, ia berkata: (Ayahku) Abdullah
meninggal dan dia meninggalkan banyak anak dan hutang. Maka aku memohon
kepada pemilik hutang agar mereka mau mengurangi jumlah hutangnya, akan
tetapi mereka enggan. Akupun mendatangi Nabi Sholallohu'alaihi wasallam
meminta syafaat (bantuan) kepada mereka. (Namun) merekapun tidak mau.
Beliau Sholallohu'alaihi wasallam berkata, Pisahkan kormamu sesuai dengan
jenisnya. Tandan Ibnu Zaid satu kelompok. Yang lembut satu kelompok, dan Ajwa
satu kelompok, lalu datangkan kepadaku. (Maka) akupun melakukannya.
Beliau Sholallohu'alaihi wasallam pun datang lalu duduk dan menimbang setiap
mereka sampai lunas, dan kurma masih tersisa seperti tidak disentuh. (HR. Bukhari
kitab Al-Istiqradh, no. 2405).

9) Bersegera melunasi hutang


Orang yang berhutang hendaknya ia berusaha melunasi hutangnya sesegera
mungkin tatkala ia telah memiliki kemampuan untuk mengembalikan hutangnya
itu. Sebab orang yang menunda-menunda pelunasan hutang padahal ia telah
mampu, maka ia tergolong orang yang berbuat zhalim. Sebagaimana sabda Nabi
Sholallohu'alaihi wasallam: Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu
merupakan suatu kezhaliman. (HR. Bukhari no. 2400, akan tetapi lafazhnya
dikeluarkan oleh Abu Dawud, kitab Al-Aqdhiah, no. 3628 dan Ibnu Majah, bab AlHabs fiddin wal Mulazamah, no. 2427).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallohu'anhu, ia berkata, telah
bersabda Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam: Sekalipun aku memiliki emas
sebesar gunung Uhud, aku tidak akan senang jika tersisa lebih dari tiga hari,
kecuali yang aku sisihkan untuk pembayaran hutang. (HR Bukhari no. 2390)
10) Memberikan Penangguhan waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam
melunasi hutangnya setelah jatuh tempo.
Allah I berfirman: Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran,
Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian
atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. (QS. AlBaqarah: 280).
Diriwayatkan dari Abul Yusr, seorang sahabat Nabi, ia berkata,
Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang ingin
dinaungi Allah dengan naungan-Nya (pada hari kiamat, pent), maka hendaklah ia
menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang kesulitan, atau
hendaklah ia menggugurkan hutangnya. (Shahih Ibnu Majah no. 1963)
Demikian penjelasan singkat tentang beberapa adab Islami dalam hutang
piutang. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi siapapun yang
membacanya. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita semua rezki yang
lapang, halal dan berkah, serta terbebas dari lilitan hutang. Amin.
E. Asuransi
Sesuai dengan prinsip Islam yang menghindari bentuk-bentuk bunga, dalam akad
asuransi tidak ada riba di dalamnya. Asuransi merupakan produk ekonomi Islam yang
tergolong baru dalam khazanah hukum Islam. Berbagai perbedaan pendapat muncul di
kalangan umat Islam terkait apakah akad asuransi ini dibenarkan dalam islam atau tidak.
1. Pengertian Asuransi

Istilah asuransi seringkali dasamakan dengan istilah pertanggungan (kafalah).


Pengertian tersebut dapat dijumpai dalam ketentuan Pasal 1 UU No. 2 tahun 1992
tentang usaha perasurasian.
Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, pihak
penanggung mengingatkan diri pada tertanggung dengan menerima premiasuransi,
untuk memberikan penggantian pada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pada pihak
ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung yang timbul dari suatu peristiwa yang
tidak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal
atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Dari pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa asuransi pada dasarnya adalah
pertanggungan dan ikhtiar seseorang dalam rangka menanggulangi resiko atau akibatakibat dari terjadinya sebuah peristiwa yang tidak diinginkan (diharapkan) terjadi,
namun terjadi.
Menurut pasal KUPD, asuransi adalah suatu perjanjian (akad) antara seseorang
yang mempertanggungkan sesuatu dengan seorang penanggung atau asurator. Menurut
perjanjian ini, si penanggung menerima premi, yakni semacam pembayaran, baik
sekaligus maupun berkala dari orang yang mempertanggungkan itu, dan dia berjanji
akan mengganti kerugian yang mungkin diderita oleh si mempertanggungkan karena
kejadian kelak (kemudian hari) yang sebelumnya tidak dapat ditentukan dan diketahui
oleh siapa pun, seperti kebakaran, kehilangan, dan kerusakan.
2. Dasar Hukum Asuransi
Ketentuan mengenai asuransi masuk dalam kategori objek ijtihad karena
ketidakjelasan ketentuan hukumnya. Hal ini terjadi karena memang ketetuan mengenai
asuransi, aik di dalam al-quran maupun hadits Nabi saw., termasuk para ulama tidak
banyak yang membicarakannya.
Untuk mengeluarkan sebuah produk hukum ijtihad, dapat menggunakan berbagai
cara, antara lain menggunakan konsep maslahah mursalah atau dengan cara kias
(metode analgis). Berdasarkan hasil ijtihad para ulama dengan menggunakan metode
ini maka dasar hukum asuransi di lingkungan ulama muncul beragam atau berbedabeda. Perbedaan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Pendapat

pertama,

mengatakan

bahwa

asuransi

dengan

sagala

bentuk

perwujudannya dipandang haram menurut ketentuan hukum. Artinya, melakukan


akad asuransi tidak dibolehkan. Ulama yang mengharamkan asuransi ini adalah
Abdullah al-Qalqili dan Muhammad Yusuf al-Qardawi.
b. Pendapat kedua, menyatakan bahwa asuransi dengan sagala bentuk perwujudannya
dapat diterima dalam syariat Islam. Ulama yang mendukung pendapat ini adalah
Abdul Wahab Khallaf dan Mustafa Ahmad Zarqa (Syiria), Muhammad Yusuf Musa
(Kairo).
c. Pendapat ketiga, mengatakan bahwa asuransi sosial diperbolehkan, sedangkan
asuransi komersial tidak diperdolehkan, kaena bertentangan dengan syariat Islam.
Pendapat ini didukung oleh ulama Abu Zahrah.
d. Pendapat

keempat,

mengatakan

bahwa

asuransi

dengan

segala

bentk

perwujudannya dipandang syubhat. Pendapat tersebut didukun oleh K.H. Ahmad


Azhar Basyir (Indonesia).
Dari berbagai keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa asuransi dibolehkan
selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Artinya, hendaknya berdasarkan asa
gotong royong (taawun) dan perjanjian-perjanjian yang dibuat benar-benar bersifat
tolong-menolong, bukan untuk mencari laba atau keuntungan dengan jalan yang tidak
benar.
Dalam buku Hukum Asuransi di Indonesia yang ditulis oleh Vide Wirjono
Prodjadikoro, dijelaskan, menurut pasal 246 Wet Boek Van Koophandel (Kitab
Undang-Undang Perniagaan), bahwa asuransi pada umumnya adalah suatu persetujuan
dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin untuk menerima
sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian yang mungkin akan diderita oleh
yang dijamin karena akibat dari satu peristiwa yang belum jelas akan terjadi.
3.

Tujuan Asuransi
Tujuan asuransi adalah meawarkan jaminan perlindungan untuk menghadapi
kerugian akibat suatu bencana yang terjadi pada yang diasuransikan, tanpa ada unsur
penambahan kekayaan seseorang.
Cara untuk menanggulangi bahaya yang mungkin terjadi biasanya dipraktikkan
dengan bersama-sama menanggung kerugian itu untuk tujuan meringankan beban

penderita yang diasuransikan. Hal ini berarti bahwa tujuan dari asuransi lebih dekat
dengan arti iuran ntuk perlindungan bersama.
4.

Jenis Asuransi
Social insurance lebih dianjurkan daripada bentuk-bentuk asuransi lain yang tidak
jelas status hukumnya. Di Indonesia terdapat dua asuransi, yaitu asuransi sosial dan
takaful. Asuransi sosial adalah asuransi pemerintah yang merupakan tuntunan UU
1945, khususnya pasal kesejahteraan sosial. Asuransi takaful merupakan lembaga
asuransi yang berbasis Islam. Pembahasan kedua modal asuransi (sosial dan takaful)
dirasa lebih cocok dan diterima oleh masyarakat Islam di Indonesia.
Asuransi sosial memiliki kekhususan tersendiri, diantaranya:
a.

Penyelenggara pertanggungan (asuransi) adalah pemerinta.

b.

Sifat hukum pertanggungan itu adalah wajib bagi seluruh anggota masyarakat atau
sebagai anggota tertentu masyarakat. Misalnya, bagi para penumpang kendaraan,
baik laut, darat maupun udara.

c.

Penentuan penggantian kerugian diatur oleh pemerintah dengan peraturan khusus


yang dibuat untuk itu.

d.

Tujuan asuransi memberikan suatu jaminan sosial (social security), bukan untuk
mencari keuntungan.
Secara operasional, asuransi yang sesuai dengan syariah memiliki sistem yang

mengandung hal-hal sebagai berikut:


a.

Mempunyai akad takafuli (tolong-menolong) untuk memberikan santunan atau


perlindungan atas musbah yang akan datang.

b.

Dana

yang

terkumpul

menjadi

amanah

pengeloladana.

Dana

tersebut

diinvestasikan sesuai dengan instrumen syariah seperti mudarabah, wakalah,


wadah, dan murabahah.
c.

Premi memiliki unsur tabaruq atau mortalita (harapan hidup).

d.

Pembebanan biaya operasional ditanggung pemegang polis, terbatas pada kisaran


30% dari premi sehingga pembentukan pada nilai tunai cepat terbentuk di tahun
pertama yang memiliki nilai 70% dari premi.

e.

Dari rekening tabarru (dana kebijakan seluruh peserta) sejak awal sudah
diikhlaskan oleh peserta untuk keperluan tolong-menolong bila terjadi musibah.

f.

Mekanisme pertanggungan pada asuransi syariah adalah sharing of risk di mana


apabila terjadi musibah, maka semua peserta ikut saling menanggung dan
membantu.

g.

Keuntngan (profit) dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi
hasil (mudarabah), atau dalam akad tabarru dapat berbentuk dengan memberikan
hadiah kepada peserta dan upah (fee) kepada pengelola.

h.

Mempunyai misi akidah, sosia serta mengangkat perekonomian umat Islam atau
misi istiqadi.

F. Riba
1. Pengertian dan Dasar Hukum Riba
Kata riba (ar riba) menurut bahasa, yaitu tambahn (az ziyadah) atu kelebihan.
Riba menurut istilah adalah suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar-menukar
sesuatu barang yang tidak diketahui sama sekali menurut syarak, atau dalam tukarmenukar itu diayaratkan menerima salah satu dari dua barang apabila terlambat. Syekh
Muhammad Abduh mendefinisikan, riba adalah penambahan-penambahan yang
diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada prang yang meminjam hartanya
atau uangnya karena janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah
ditentukan.
Riba dapat terjadi pada utang-utang,pinjaman, gadai, atau sewa-menyewa.
Sebagai contoh, Ridwan meminjam uang sebasar Rp. 20.000,- , pada hari Selasa
disepakati dalam setiap satu hari keterlambatan, Ridwan harus mengembalikan uang
tersebut denagn tambahan 2%. Maka, hari berikutnya Ridwan harus mengembalikan
uangnya menjadi Rp. 20.4000,- . Kelebihan atau tambahan ini disebut dengan riba.
Hukum melakukan riba adalah haram menurut Al-Quran, sunah dan ijmak
menurut ulama. Keharaman riba terkait dengan sistem bunga dalam jual beli yang
bersifat komersial. Di dalam melakukan transaksi atau jual beli, terdapat keuntungan
atau bunga tinggi melibihi keumuman atau batas kewajaran, sehingga merugikan
pihak-pihak tertentu. Fuad Moch. Fahruddin berpendapat bahwa riba adalah sebuah
transaksi pemerasan.

Dasar hukum pengharaman riba menurut Al-Quran, sunah dan ijmak para ulama
adalah sebagai berikut:
1) Al-Quran

. . . {275} . . .
...Sesumgguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Q.S. Al-Baqarah: 275)


{276}

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (Q.S. AlBaqarah: 276)

{130}
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat
ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya

kamu mendapat

keberuntungan. (Q.S. Ali Imran: 130)


2) Sunah Rasulullah saw.

:

:
{ }
Dari Jabir r.a. ia berkata, Rasulullah saw. telah melaknati orang-orang yang
memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil
riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya, (dan selanjutnya),
Nabi bersabda, mereka itu semua sama saja. (H.R. Muslim)

: :

:


{ }
Jauhilah tujuh hal yang membinasakan. Para sahabat bertanya,Apakah tujuh
hal tersebut ya Rasulullah? Rasulullah saw. bersabda, Syirik kepada Allah,
sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar,
memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada saat perang, dan
menuduh berzina wanita yang suci, beriman, dan lupa (lupa dari maksiat).
(H.R. Bukhari dan Muslim)

3) Ijmak para ulama


Para ulama sepakat bahwa seluruh umat Islam mengutuk dan
mengharamkan riba. Riba adalah salah satu usaha mencari rizeki dengan cara
yang tidak benar dan dibenci Allah swt.. Praktik riba lebih mengutamakan
keuntungan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Riba akan menyulitkan
hidup manusia, terutama mereka yang memerlukan pertolongan, menimbulkan
kesenjangan sosial yang semakin besar antara yang kaya dan miskin, serta dapat
mengurangi rasa kemanusiaan untuk rela membantu. Oleh karena itu Islam
mengharamkan riba.
Macam-macam Riba
Para ulama fiqih membagi riba menjadi empat macam, yaitu:
A. Riba Fadl()
Riba fadl adalah tukar-menukar atau jual beli dua buah barang yang sam
jenisnya, namun tidak sama ukurannya yang disyaratkan oleh orang yang
menukatnya. Atau jual beli yang mengandung unsur ribapada barang yang sejenis
dengan adanya tambahan pada salah satu benda tersebut. Sebagai contohnya adalah
tukar-menukar emas dengan emas atau beras dengan beras, dan ada kelebihan yang
disyaratkan oleh orang yang menukarkan. Kelebihan yang disyaratkan itu disebit riba
fadl.
Supaya tuka-menukar seperti ini tidak termasuk riba, maka arus ada tiga
syarat yaitu:
o Barang yang ditukarkan tersebut harus sama.
o Tibangan atau takarannya harus sama.
o Serah terima pada saat itu juga.
B. Riba Nasiah() (
Riba nasiah yaitu tukar-menukar dua barang yang sejenis yang maupun tidak
sejenis atau jual beli yang pembayarnnya disyaratkan lebih oleh penjual dengan
waktu yang dilambatkan. Menurut ulama Hanafiyah, riba nasiah adalah memberikan
kelebihan terhadap pembayaran dari yang ditangguhkan, memberikan kelebihan pada
benda dibanding untung pada benda yang ditakar atau yang ditimbang yang berbeda

jenis atau selain yang ditakarda ditimbang yang sama jenisnya. Maksudnya adalah
menjual barang dengan sejenisnya, tetapi yang satu lebih banyak dengan pembayaran
diakhirkan, seperti menjual saru kilogram dengan satu setengah kilogram beras ayng
dibayarkan setelah dua bulan kemudian. Kelebihan pembayaran yang disyaratkan
inilah yang disebut riba nasiah.
C. Riba Qardi(
)
Riba qardi adalah meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntunga
atau tambahan dari orang yang meminjam. Misalnya Ali meminjam uang kepada
Abbas sebesar Rp. 10.000,00. Kemudian Abbas mengharuskan kepada Ali untuk
mengembalikan uang itu sebesar Rp. 11.000,00. Tambahan Rp. 1.000,00 inilah yang
disebut riba qardi.
D. Riba Yad()
Riba yad yaitu berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima.
Contohnya, orang yang membeli suatu barang sebelum ia menerima barang tersebut
dari penjual, penjual dan pembeli tersebut telah berpisah sebelum serah terima
barang itu. Jual beli ini dinamakan riba yad. Ulama Syafiiyah mengatakan bahwa
riba yad adalah jual beli yang mengakhirkan penyerahan (al-qabdu), yakni bercerai
berai antara dua orang yang berakad sebelum serah terima, seperti menganggap
sempurna jual beli antara gandum dan syair tanpa harus saling menyerahkan dan
menerima ditempat akad.
Ada syarat-syarat agar jual beli tidak menjadi riba, yaitu:
1.

Menjual sesuatu yang sejenis ada tiga syarat, yaitu:


a.

Serupa timbangan dan banyaknya.

b. Tunai.
c. Timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad.
2.

Menjual sesuatu yang berlainan jenis ada dua syarat, yaitu:


a. Tunai.
b. Timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad.

Bahaya riba

1.

Dapat menimbulkan permusuhan antar pribadi dan mengikis habis semangat kerja sama atau

saling tolong-menolong, membenci orang yang mengutamakan kepentingan diri sendiri, serta
yang mengeksploitasi.
2.

Dapat menimbulkan tumbuh suburnya mental pemboros yang tidak mau bekerja keras, dan

penimbunan harta di salah satu pihak. Islam menghargai kerja sama sebagai sarana pencarian
nafkah.
3.

Sifat riba sangat buruk sehingga Islam menyerukan agar manusia suka mendermakan harta

kepada saudaranya dengan baik jika saudaranya membutuhkan harta.

Hikmah Pelarangan Riba


Diharamkan hikmah diharamkannya riba yaitu:
a.

Menghindari tipu daya diantara sesama manusia.

b.

Melindungi harta sesama muslim agar tidak dimakan dengan batil.

c.

Memotifasi orang muslim untuk menginvestasi hartanya pada usaha-usaha yang bersih dari

penipuan, jauh dari apa saja yang dapat menimbulkan kesulitan dan kemarahan diantara kaum
muslimin.
d. Menutup seluruh pintu bagi orang muslim.
e.

Menjauhkan orang muslim dari sesuatu yang menyebabkan kebinasaan karena pemakan riba

adalah orang yang zalim dan akibat kezaliman adalah kesusahan.


f.

Membuka pintu-pintu kebaikan di depan orang muslim agar ia mancari bekal untuk akhirat.

Menjauhkan Praktik Riba


Karena riba adalah sesuatu yang diharamkan, maka menjauhkan diri dari praktik riba adalah
sesutu yang sangat mulia dan beroleh pahala. Agar kita dapat manjauhkan diri dari praktik riba
maka yang harus dilakukan adalah:
a.

Membiasakan hidup sederhana, tidak boros.

b.

Membiasakan diri menabung apabila ada kelebihan rezeki dari Allah swt.

c.

Menghindarkan diri dari berfoya-foya selagi ada kelebihan.

d. Menghindari kebiasaan berhutang.


e.

Mengadakan usaha bersama dibidang ekonomi, seperti koperasi di sekolah atau di

masyarakat.

f.

Rajin mensyukuri nikmat Allah swt. dengan cara memanfaatkan untuk kebaikan serta tidak

menyia-nyiakan nikmat tersebut.


g.

Melakukan praktik jual beli dan utang piutang secara baik menurut Islam.