Anda di halaman 1dari 14

Nama Kelompok :

Muhammad Najib : 41113120018


Etik Trimiarsih

: 41113120020

Lutvia Wahyu

: 41113120124

Eko Yuliartanto

: 411131201233

DAFTAR ISI

1. Daftar isi

.............................................................................

2. Pendahuluan

.............................................................................

3. Pembahasan

.............................................................................

Pendapat Teoritis

Jeremy Bentham

....................................................

Thomas Hobbes

...................................................

E. Durkheim

...................................................

Savingny

..................................................

Von Jhering

..................................................

Thomas Hobbes

..................................................

Roscoe Pound

.................................................

Nonet-Selznick

................................................

Monntesquiteu

.................................................

4. Penutup

........................................................................

Kesimpulan

Saran

5. Daftar Pustaka

........................................................................

7
9
11

14

I.PENDAHULUAN

Studi kasus yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu kasus korupsi yang dilakukan oleh
Bupati Sleman nonaktif Ibnu Subiyanto. Dimana bupati tersebut terbukti bersalah melanggar Pasal 2
Ayat (1) jo Pasal 18 UU No 31/1999 yang telah diubah dan ditambah dengan UU No.20tahuin 2001 jo
Pasal 55 ayat (1) ke 1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
Yang bersangkutan dinilai terbukti melakukan korupsi pengadaan buku ajar SD, SMP, dan SMA Dinas
Pendidikan Sleman senilai Rp 10 miliar. Dengan tuntutan 6 (enam) tahun penjara dan denda senilai Rp
500 juta subsider 6 (enam) bulan penjara.
Hal ini menjadi persoalan karena pada akhirnya bupati Sleman tersebut hanya divonis 4 (empat) tahun
penjara oleh majelis hakim yang dipimpinan Heri Supriono dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN)
Sleman di Jalan KRT Pringgodiningrat pada tanggal 14 Januari 2010. Dengan denda Rp 200 juta
subsider 3 bulan penjara, di potong masa tahanan dan memutuskan terdakwa tetap ditahan.
Berbagai elemen penggiat anti korupsi ikut berperan dengan cara terus mendorong penuntasan kasus
yang melibatkan Bupati Sleman ini untuk dituntaskan. Dalam mengawasa kasus buku ini
membutuhkan waktu kurang lebih selama empat tahun. Oleh karena kasus ini terungkap sejak tahun
2005 tapi baru diajukan ke pengadilan negeri pada bulan Mei 2009.

II PEMBAHASAN

1.A.Pendapat Teoritis
1. Jeremy Bentham
Menurut Jeremy Bentham, manusia dikendalikan dua kecenderungan yakni mengejar
kenikmatan dan menghindari penderitaan. Teori ini ada hubungannya jika dikaitkan dengan tindakan
yang dilakukan oleh bupati Sleman nonaktif Ibnu Subiyanto yang memperkaya diri sendiri
menggunakan keuangan Negara yang bukan haknya, sehingga hal ini dapat dikatakan sebagai
perbuatan yang menghindari penderitaan dalam hal ini kemiskinan. Setiap orang memang mempunyai
kebebasan penuh untuk mengejar kepentingannya sepanjang yang bersangkutan memberi kebebasan
sama kepada orang lain untuk mengejar kepentingan dirinya. Sehingga tindakan korupsi sebesar Rp.
29,8 miliar yang dilakukan oleh Bupati Sleman ini tidak berbasis manfaat bagi kebahagiaan manusia
(masyarakat).
2. Thomas Hobbes
Manusia (sejak zaman purbakala) dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah untuk memperjuangkan
kepentingannya sendiri. Tidak ada pengertian adil atau tidak adil. Yang ada hanyalah nafsu-nafsu
individu, dalam keadaan seperti itu terjadilah omnium contra omnes dimana setiap orang selalu
memperlihatkan keinginannya yang sungguh-sungguh egoistis. Maka hukum merupakan pilihan dasar
manusia untuk mengamankan hidup masing-masing terhadap serangan orang lain agar efektif maka
hukum butuh tenaga yang kuat yaitu penguasa yang punya kekuasaan besar.Itulah sebabnya bagi
Thomas Hobbes kekuatan tidak kurang dari sarana yang ada sekarang untuk mendapatkan kebaikan
yang nyata dikemudian hari. Hukum yang dibutuhkan adalah hukum alam (hidup terhormat tidak
ganggun orang lain, beri apa yang menjadi hak orang lain).Jadi, karena keegoisan manusia dalam hal
ini bupati Sleman yang ingin menguasai sejumlah uang yang bukan merupakan haknya, oleh karena itu
hukum lahir untuk membatasi keinginan manusia yang berlebihan supaya tidak merugikan masyarakat
Kabupaten Sleman.

3. E. Durkheim
Teorinya menekankan pada permasalahan hukum dan solidaritas sosial. Sistem pembagian kerja
menentukan solidaritas sosial. Sistem pembagian kerja dalam hal ini yaitu pengalokasian anggaran
yang seharusnya digunakan dalam pengadaan buku ajar SD, SMP, dan SMA Dinas Pendidikan Sleman.
Hukum merupakan unit empirik dan organik dari solidaritas sosial. Berarti hukum merupakan bagian
dari solidaritas masyarakat yang bertipe hukum menindak dan hukum memulihkan suapaya terjadinya
integrasi sosial.
4. Savingny
Teori ini menekankan pada hukum dan jiwa rakyat selain itu juga hubungan organik antara
hukum dan watak atau karakter suatu bangsa (volkgeist). Menurut aliran sejarah ini, hukum tidak
dibuat tapi ditemukan terbentuk secara historis. Hukum berakar pada sejarah manusia, dimana akarnya
dihidupkan oleh kesadaran, keyakinan dan kebiasaan warga negara.
Undang-Undang tentang korupsi lahir karena adanya nilai yang hidup dalam masyarakat yang
mengganggap bahwa perbuatan korupsi sama saja dengan pidana berat yang dapat merugikan banyak
korban dalam hal ini masyarakat Sleman yang seharusnya menikmati sejumlah dana tersebut. Sehingga
dapat dikatakan bahwa hukum positif dalam hal ini Undang-Undang tentang korupsi cenderung raktif
karena diciptakan setelah berbagai pengalaman buruk dan penderitaan yang dialami manusia.
5. Von Jhering
Inti hukum adalah kepentingan masyarakat yakni bersifat egositis adalah pahala dan manfaat,
bersifat moralistis adalah kewajiban dan cinta. Kekuatan yang bersifat egositis ini adalah kekuatankekuatan yang membuat sesorang individu menuntut hak-haknya. Sedangkan kekuatan-kekuatan moral
yang membuatnya merasa sebagai anggota dari kelompok sosial yang terikat pada berbagai kewajiban.
Teori ini memang berkaitan dengan kasus korupsi yang dibahas karena ketika bupati sleman ini
melakukan korupsi maka itu merupakan sifat egositis dia sebagai makhluk individu, akan tetapi cara
yang digunakannya untuk menuntut haknya malahan melanggar UU karena dianggap berlebihan
terhadap apa yang seharusnya dia dapatkan. Dengana adanya perbuatan korupsi seperti ini maka
kekuatan-kekuatan sosial masyarakat Sleman sebagai pihak yang berkepentingan dalam pengusutan
kasus ini, ikut ambil bagian dalam pengusutan kasus ini sampai ke pengadilan.

6. Thomas Hobbes
Manusia (sejak zaman purbakala) dikuasai oleh nafsu-nafsu alamiah untuk memperjuangkan
kepentingannya sendiri. Tidak ada pengertian adil atau tidak adil. Yang ada hanyalah nafsu-nafsu
individu, dalam keadaan seperti itu terjadilah omnium contra omnes dimana setiap orang selalu
memperlihatkan keinginannya yang sungguh-sungguh egoistis. Maka hukum merupakan pilihan dasar
manusia untuk mengamankan hidup masing-masing terhadap serangan orang lain agar efektif maka
hukum butuh tenaga yang kuat yaitu penguasa yang punya kekuasaan besar.
Itulah sebabnya bagi Thomas Hobbes kekuatan tidak kurang dari sarana yang ada sekarang untuk
mendapatkan kebaikan yang nyata dikemudian hari. Hukum yang dibutuhkan adalah hukum alam
(hidup terhormat tidak ganggun orang lain, beri apa yang menjadi hak orang lain).
Jadi, karena keegoisan manusia dalam hal ini bupati Sleman yang ingin menguasai sejumlah uang yang
bukan merupakan haknya, oleh karena itu hukum lahir untuk membatasi keinginan manusia yang
berlebihan supaya tidak merugikan masyarakat Kabupaten Sleman.
Menurut Gustav Radbruch hukum memiliki tiga aspek yakni keadilan, kemanfaatan dan kepastian.
Aspek kemanfaatan menunjuk pada tujuan keadilan yang memajukan kebaikan dalam hidup manusia.
Aspek kepastian menunjuk pada jaminan bahwa hukum yang berisis keadilan dan norma-norma yang
memajukan kebaikan benar-benar berfungsi sebagai peraturan yang ditaati. Jika dilhat dari sisi nilai
kepastian hukum dalam kasus korupsi yang dilakukan oleh Ibnu Subiyanto ini kemungkinan terpenuhi
delik pidana yang diatur dalam UU tentang korupsi. Selanjutnya jika dilihat dari segi kemanfaatan,
diharapkan dengan bagi terdakwa yang akan menjalani hukuman ini tidak mengulangi lagi
perbuatannya.
Akan tetapi tidak ada nilai kemanfaatan dari segi ekonomi oleh karena jumlah uang yang dikorupsikan
tidak sebanding dengan yang dikembalikan oleh Ibnu Subiyanto kepada Negara. Sedangkan dalam
kasus ini, belum memberikan rasa keadilan masyarakat oleh karena putusan pidana tidak sebanding
dengan akibat yang dirasakan oleh masyarakat, yang mana uang Rp.10miliar tersebut seharusnya
digunakan untuk pengadaan buku ajar SD, SMP, dan SMA Dinas Pendidikan Sleman akan tetapi
dengan tindakan korupsi tersebut maka menghambat akses pendidikan yang layak atau berkualitas bagi
pelajar di lingkungan Kabupaten Sleman.

Dengan fakta seperti ini maka diharapkan minimal ada tiga subyek yang hendak memajukan kebaikan
manusia yakni indivindu, kolektivitas dan kebudayaan.

7 Roscoe Pound
Roscoe Pound berpandangan bahwa hukum merupakan alat rekayasa sosial. Teori ini menekankan pada
hukum dan kekuasaan.
Dikhotomi antara mereka yang berkuasa dengan mereka yang dikuasai. Karena yang memproduksi
hukum adalah mereka yang ada dalam struktur kekuasaan, tidak mengherankan jika hukum cenderung
memihak dan melayani kaum pemegang otoritas itu. Kepentingan.
Status quo cenderung mempertahankan kekuasaannya, sedangkan pendukung perubahan cenderung
dianggap sebagai ancaman bagi ideologi kekuasaan ini.
Fokus utama Pound dengan konsep social engineering adalah interest balancing, dan karenanya yang
terpenting adalah tujuan akhir dari hukum yang diaplikasikan dan mengarahkan masyarakat kearah
yang lebih baik. Bagi Pound antara hukum dan masyarakat terdapat hubungan yang fungsional. Oleh
karena itu kehidupan hukum terletak pada karya yang dihasilkannya bagi dunia sosial, maka tujuan
utama dalam social engineering adalah mengarahkan kehidupan social itu ke arah yang lebih maju.
Hukum sebagai sarana social engineering bermakna penggunaan hukum secara sadar untuk mencapai
tertib dan keadaan masyarakat sebagaimana dicita-citakan, atau untuk melakukan perubahan yang
diinginkan. Sifat hukum sebagai produk by design intelektual ilmiah dalam social engineering terlihat
jelas dalam rincian persoalan yang menurut Pound wajib dilakukan oleh seorang ahli hukum sosiologis
agar hukum dapat benar-benar efektif sebagai alat perubahan sosial.
8. Nonet-Selznick
Nonet-Selznick ini menekankan pada model hubungan antara hukum, Negara dan masyarakat. Tiga
karakter hukum menurutnya yaitu
Pertama Jika hukum dikuasai oleh Negara maka akan tampil hukum yang represif yang menindas
masyarakat. Makna hukum berkarakter represif ini, merupakan suatu metode yang digunakan oleh para
pejabat, untuk bertindak sewenang-wenang, terutama untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya.
Tindakan tersebut berpijak pada hukum sebagai instrument yang disusun sedemikian rupa, guna

mengamankan tindakan-tindakannya.. Kedua Jika hukum menutup diri terhadap kekuasaan dan realitas
masyarakat maka akan tampil figur hukum yang otonom. Dalam hukum tipe ini aspek prosedural
merupakan segala-galanya sehinga keadilan substantif tidak pernah tercapai.
Ketiga Jika hukum secara proposional menyerap aspirasi sosial dan mendayagunakan kekuasaan
Negara secara efisien maka akan tampil figur hukum yang responsif.
Adapun ciri-ciri karakter represif, otonom dan responsife tersebut yaitu:
1. Hukum represif yaitu :
1.Institusi-institusi hukum langsung terbuka bagi kekuasaan politik, hukum diidentifikasikan dengan
Negara dan tunduk kepada raison detat.
2.Perspektif resmi mendominasi segalanya, dimana dalam perspektif ini penguasa cenderung untuk
mengidentifikasikan kepentingannya dengan kepentingan masyarakat.
3.Kesempatan bagi rakyat untuk mendapat keadilan, di mana mereka dapat memperoleh perlindungan
dan jawaban atas keluhan-keluhan terbatas.
4.Badan-badan pengawasan khusus, seperti polisi, misalnya dibentuk untuk memelihara tertib social
untuk memaksakan kehendak penguasa.
5.Adanya suatu rejim hukum ganda, yakni melembagakan keadilan kelas dengan
mengkonsolidasikannya dan mengeahkan pola-pola subordinasi sosial; dan
6.Hukum dan otoritas resmi dipergunakan untuk menegakkan kesesuaian budaya, yang merupakan
fenomena yang dikenal sebagai moralitas hukum.
2.Hukum otonom yaitu:
1.Penekanan kepada aturan-aturan hukum sebagai upaya utama untuk mengawasi kekuasaan resmi dan
tidak resmi;
2.Terdapat pengadilan yang bebas yang tidak dapat dimanipulasi oleh dan dari kekuasaan politik dan
ekonomi, serta memiliki otoritas khusus untuk mengadili pelanggaran hukum, baik pejabat maupun
individu;
3.Terpisahnya hukum dari politik, yakni para ahli hukum dan pengadilan adalah spesilisasi dalam
menafsirkan dan menerapkan hukum.

4.Pengadilan tidak dapat menjamin hukum itu adil, melainkan dapat mengusahakan agar hukum
diterapkan secara adil.
3.Hukum responsif yaitu:
1.Pergeseran penekanan dari aturan-aturan ke prinsip-prinsip dan tujuan; dan
2.Pentingnya watak kerakyatan (populis) baik sebagai tujuan hukum maupun cara untuk mencapainya.

9. Monntesquiteu
Sistem hukum merupakan hasil dari kompleksitas berbagai faktor empiris dalam kehidupan
manusia. Watak masyarakat menjadi salah satu penyebab suatu Negara memiliki seperangkat hukum
atau strutur sosial dan politik tertentu. Ada dua faktor utama yang membentuk watak suatu masyarakat
yaitu pertama, faktor fisik yang utama adalah iklim yang menghasilkan akibat-akibat fisiologis mental
tertentu. Selain faktor iklim, keadaan daratan, kepadatan penduduk dan daerah kekuasaan suatu
masyarakat juga turut berpengaruh.Kedua, faktor moral yaitu seorang legislator yang baik, bisa
membatasi pengaruh faktor fisik sekecil mungkin dan bahkan bisa membatasi akibat-akibat karena
iklim tertentu. Dalam faktor moral ini terhimpun antara lain Agama, adat-istiadat, kebiasaan, ekonomi
dan pedagangan, cara berpikir serta suasana yang tercipta dipengadilan.
Dalam tesis Montesquieu, faktor iklim dan lingkungan tidak saja berpengaruh pada watak
manusia/masyarakat, tetapi juga pada sifat dan bentuk kegiatan, cara hidup masyarakat, dan lembagalembaga sosial. Teori lain dari Montesquieu yang amat terkenal adalah trias politica. Pengertian dasar
trias politica adalah pengawasan(check and balances) dari suatu lembaga ke lembaga yang lain. Ini
merupakan mekanisme yang dapat menjamin terwujudnya kehendak rakyat dalam sebuah masyarakat
yang mempunyai pemerintah. Konsep Trias Politica adalah adanya pembagian kekuasaan Negara ke
dalam fungsi legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pembagian kekuasaan dimaksud adalah untuk
melakukan check dan balances antara ketiga lembaga tinggi negara tersebut. Jika dikaitkan dengan
korupsi yang dilakukan oleh Bupati sleman, maka ini merupakan ketidak berfungsinya lembaga
legislatife dalam melaksanakan hak pengawasannya dengan baik sehingga terjadi penyalahgunaan
kewenangan yang pada akhirnya bermuara pada korupsi.
1.B.Kompleksitas Bekerjanya Hukum

Dalam pengusutan kasus korupsi ini, tentu saja ada hubungannya dengan kompleksitas bekerjanya
hukum dalam hal ini lembaga pembuat Undang-Undang, lembaga penegak hukum dan pemegang peran
serta pengaruh kekuatan sosial yang ikut mempengaruhi penegakkan hukumnya. Teori bekerjanya
hukum ini, secara jelas digambarkan oleh Robert B.Seidman yaitu

Lembaga pembuat Undang-Undang dalam hal ini yaitu eksekutif bersama-sama dengan legislatif.
Lembaga Penegak Hukum yang tergabung dalam catur wangsa (Polisi, jaksa, hakim dan pengacara)
serta KPK.
Pemegang peran yakni DPRD. Kekuatan sosial dalam hal ini ialah masyarakat, lembaga masyarakat.
Berbagai elemen penggiat antikorupsi terus mendorong penuntasan kasus yang melibatkan Bupati
Sleman ini untuk dituntaskan. Dalam mengawasl kasus buku ini membutuhkan waktu kurang lebih
selama empat tahun. Oleh karena kasus ini terungkap sejak tahun 2005 tapi baru diajukan ke
pengadilan negeri pada bulan Mei 2009.

III.PENUTUP

A.Kesimpulan
Dari analisa kasus diatas maka, perbuatan korupsi Rp.10miliar yang dilakukan oleh Bupati Sleman
ibnu. Dimana dana tersbut seharusnya digunakan dalam rangka pengadaan buku ajar SD,SMP dan
SMA dikategorikan penyalahgunaan wewenang yang diakibatkan oleh kurangnya pengawasan dari
pihak yang berwenang dalam hak ini anggota legislatif DPR. Monntesquiteu mengemukakan faktor
pengawasan(check and balances) dari suatu cabang ke cabang yang lain. Ini merupakan seharusnya
mekanisme yang dapat menjamin terwujudnya kehendak rakyat dalam sebuah masyarakat yang
mempunyai pemerintah. Konsep Trias Politica adalah adanya pembagian kekuasaan Negara ke dalam
fungsi legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pembagian kekuasaan dimaksud adalah untuk melakukan
check dan balances antara ketiga lembaga tinggi negara tersebut. Jika dikaitkan dengan korupsi yang
dilakukan oleh Bupati sleman, maka ini merupakan ketidak berfungsinya lembaga legislatif dalam
melaksanakan hak pengawasannya dengan baik sehingga terjadi penyalahgunaan kewenangan yang
pada akhirnya bermuara pada korupsi.
Akan tetapi perlu diketahui bahwa orang yang melakukan korupsi ialah orang yang memiliki
kesempatan karena kewenangannya. Apalagi sebagai seorang Bupati, tentu saja yang bersangkutan
memiliki otoritas dalam pengelolaan anggaran suatu daerah akan tetapi otoritas ini seringkali
disalahgunakan dalam pengelolaannya. Salah satunya penyelewengan dana yang seharunya digunakan
oleh dalam rangka pengadaan buku ajar para para pelajar dilingkungan kabupaten Sleman.
Oleh karena itu, hendaknya ide pemiskinan korupsi ini perlu dikembangkan. Karena ketika hanya teori
pemidanaan Absolut atau Pembalasan (retributive) yang merupakan sesuatu yang harus ada sebagai
konsekuensi kejahatan sehingga orang yang salah harus dihukum. Maka hal itu tidak terlalu efektif
apalagi jarak antara tuntutan dengan putusan sangat berbeda dan cenderung putusan atau vonis yang
diambil lebih rendah dari tuntutan. Akan tetapi juga diperluka Teori Relatif atau Tujuan (Utilitarian).
Yang mana dalam teori ini tidak hanya bertujuan untuk memuaskan tuntutan absolut (pembalasan) dari

keadilan, tetapi pembalasan itu sebagai sarana untuk melindungi kepentingan masyarakat, teori itu
disebut teori perlindungan masyarakat, Teori reduktif (untuk mengurangi frekuensi kejahatan) dan
Teori tujuan.
Penjatuhan pidana terhadap bupati Sleman diambil bukan quia peccatum est (orang berbuat kejahatan)
melainkan ne peccetur (agar orang tidak melakukan kejahatan).Teori Gabungan yang merupakan teori
pemidanaan yang multifungsi) karena berguna dalam rangka sebagai pembalasan agar pelaku
menderita, merehabilitasi dan juga sekaligus melindungi masyarakat
Restorative justice juga diperlukan karena pelaku harus mengembalikan keadaan pada kondisi semula,
keadilan bukan saja menjatuhkan sanksi namun memperhatikan keadilan bagi korban Pengembalian
pada keadaan semula maksudnya ialah penyitaan semua harta benda pelaku korupsi untuk
dikembalikan ke kas Negara. Kemungkinan tidak semua uang hasil korupsi Bupati Sleman ini bisa
dikembalikan ke kas Negara karena mungkin sudah di gunakan sebagian oleh si terpidana akan tetapi
minimal mengembalikan sebagin. Dan harus bisa dipastikan ketika uang hasil penyitaan itu sudah
masuk ke kas Negara, maka harus segera dianggarkan kembali proyek pengadaan buku ajar SD, SMP,
dan SMA Dinas Pendidikan Sleman. Supaya hak para pelajar untuk mendapatkan buku ajar yang
berkualitas tidak terbengkalai terlalu lama.
B.Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan diatas maka disarankan agar supaya:
1) Memperbaiki faktor hukumnya dalam hal ini Undang-Undang Korupsi agar penjatuhan pidanya
lebih ditekankan pada aspek pengembalian kerugian Negara dengan cara penyitaan semua aset
terpidana korupsi. Sehingga ide pemiskinan koruptor ini menjadi penting karena selain untuk
pengembalian sebagian atau seluruhnya kerugian Negara, juga sebagai pembelajaran bagi yang lain
agar jangan ada yang mencoba-coba melakukan korupsi.
Selain dari pada itu, Roscoe Pound berpendapat bahwa hukum tidak hanya dilihat sebagai alat
penyelesaian konflik atau sengketa melainkan terutama sebagai alat untuk merespons kepentingan
masyarakat. Sehingga diharapkan tugas hakim bukan hanya sebagai pewarta ajaran melainkan
merespons berbagai tantangan sosial dan personal. Sehingga pertimbangan moral menggunakan nilai
moral masyarakat setempat sebagai bagian dari pertimbangan hukum dalam kasus berat menjadi
penting.

2) Memperbaiki moralitas penegak hukum yaitu pihak-pihak yang membentuk hukum dalam hal ini
eksekutif bersama-sama dengan legislatif dan juga yang menerapkan hukumnya dalam hal ini
yudikatif.
3) Memperbaiki, menambah serta melengkapi sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan
hukum dalam kasus-kasus korupsi seperti ini. Oleh karena seringkali karena kelincahan atau kelebihan
para koruptor, maka mereka bisa melarikan diri keluar negeri. Kemudian karena kekurangan dana serta
fasilitas yang dimiliki oleh para penegak hukum maka tidak bias mengejar serta menangkap pelaku ke
luar negeri, dan masih banyak hal-hal yang lain yang masih harus dilengkapi sebagai upaya
mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia.
4)Faktor masyarakat yaitu lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkannya sanksi sosial
terhadap para koruptor salah satunya dengan cara dikucilkan dari pergaulan sehari-hari.
5)Peran faktor kebudayaan yaitu sebagai hasil karya cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia
didalam pergaulan hidup dapat terus dimaksimalkan sebagai tindakan pencegahan. Budaya anti korupsi
harus terus dikembangkan dan dikumandangkan agar itu bias menjadi pola hidup masyarakat.

IV.DAFTAR PUSTAKA

Sosiologi Hukum, Magister Ilmu Hukum UKSW, Agustus 2010.

Bernard L.Tanya,dkk,Teori Hukum strategi tertib manusia lintas ruang dan generasi,
Genta Publishing, Yogyakarta, 2010.

Warassih, Esmi,Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis, PT. Suryandaru Utama,


Semarang, 2005

http://bataviase.co.id/detailberita-10513087.html, 14 Jan 2010

http://donxsaturniev.blogspot.com/2010/08/teori-teori-pemidanaan.html

http://www.rezaalf.co.cc/2009/04/pidana-dan-pemidanaan.html