Anda di halaman 1dari 16

KONSEP DASAR ANEMIA SEL SABIT

2.1

Pengertian Anemia Sel Sabit

Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah berbentuk
menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal.(Noer Sjaifullah,1999)
Anemia sel sabit adalah anemia hemolitika berat akibat adanya defek pada molekul
hemoglobin dan disertai dengan serangan nyeri.(Suzanne C. Smeltzer, 2002) Anemia
Sel Sabit (Sickle cell anemia).Disebut juga anemia drepanositik, meniskositosis,
penyakit hemoglobin S.
Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai
dengan sel darah merah yang berbentuk sabit dananemia hemolitik kronik.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein pengangkut
oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel
dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit. Sel yang berbentuk sabit
menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang dan
organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut.
Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan
anemia berat, penyumbatan aliran darah, kerusakan organ dan mungkin kematian.
2.2

Anatomi Fisiologi

Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cairan bikonkaf yang tidak berinti
yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2 m pada bagian tengah tebalnya 1 m
atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam perjalanannya melalui
mikrosirkulasi konfigurasinya berubah. Stroma bagian luar yang mengandung protein
terdiri dari antigen kelompok A dan B serta faktor Rh yang menentukan golongan darah
seseorang. Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang
mengangkut O2 dan CO2 dan mempertahankan pH normal melalui serangkaian dapar
intraselluler. Molekul-molekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4
gugus heme, masing-masing mengandung sebuah atom besi. Konfigurasi ini
memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurna.
2.3

Penyebab/ etiologi

Penyakit sel sabit adalah hemoglobinopati yang disebabkan oleh kelainan struktur
hemoglobin. Kelainan struktur terjadi pada fraksi globin di dalam molekul hemoglobin.
Globin tersusun dari dua pasang rantai polipeptida. Misalnya, Hb S berbeda dari Hb A
normal karena valin menggantikan asam glutamat pada salah satu pasang rantainya.
Pada Hb C, lisin terdapat pada posisi itu.
Substitusi asam amino pada penyakit sel sabit mengakibatkan penyusunan kembali
sebagian besar molekul hemoglobin jika terjadi deoksigenasi (penurunan tekanan O 2).

Sel-sel darah merah kemudian mengalami elongasi dan menjadi kaku serta berbentuk
sabit.
Gambar 1. Sel Darah Merah Berbentuk Sabit
Deoksigenasi dapat terjadi karena banyak alasan. Eritrosit yang mengandung Hb S
melewati sirkulasi mikro secara lebih lambat daripada eritrosit normal, menyebabakan
deoksigenasi menjadi lebih lama. Eritrosit Hb S melekat pada endotel, yang kemudian
memperlambat aliran darah. Peningkatan deoksigenasi dapat mengakibatkan SDM
berada di bawah titik kritis dan mengakibatkan pembentukan sabit di dalam
mikrovaskular. Karena kekakuan dan bentuk membrannya yang tidak teratur, sel-sel
sabit berkelompok, dan menyebabkan sumbatan pembuluh darah, krisis nyeri, dan
infark organ (Linker, 2001). Berulangnya episode pembentukan sabit dan kembali ke
bentuk normal menyebabkan membran sel menjadi rapuh dan terpecah-pecah. Sel-sel
kemudian mengalami hemolisis dan dibuang oleh sistem monositmakrofag. Dengan
demikian siklus hidup SDM jelas berkurang, dan meningkatnya kebutuhan
menyebabkan sumsum tulang melakukan penggantian. Hal-hal yang dapat menjadi
penyebab anemia sel sabit adalah infeksi, disfungsi jantung, disfungsi paru, anastesi
umum, dataran tinggi, dan menyelam. (Price A Sylvia, 2006)
2.4

Patofisiologi

Defeknya adalah satu substitusi asam amino pada rantai beta hemoglobin karena
hemoglobin A normal mengandung dua rantai dan dua rantai , maka terdapat dua
gen untuk sintesa tiap rantai.Trait sel sabit hanya mendapat satu gen normal, sehingga
SDM masih mampu mensintesa kedua rantai dan s, jadi mereka mempunyai
hemoglobin A dan S sehingga mereka tidak menderita anemia dan tampak sehat.
Apabila dua orang dengan trait sel sabit sama menikah, beberapa anaknya akan
membawa dua gen abnormal dan hanya mempuntai rantai s dan hanya hemoglobin S,
maka anak akan menderita anemia sel sabit. (Smeltzer C Suzanne, 2002)
2.5 Gejala
Penderita selalu mengalami berbagai tingkat anemia dan sakit kuning (jaundice) yang
ringan,
tetapi
mereka
hanya
memiliki
sedikit
gejala
lainnya.
Berbagai hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen dalam darah, (misalnya
olah raga berat, mendaki gunung, terbang di ketinggian tanpa oksigen yang cukup atau
penyakit) bisa menyebabkan terjadinya krisis sel sabit, yang ditandai dengan:

semakin memburuknya anemia secara tiba-tiba nyeri (seringkali dirasakan di


perut atau tulang-tulang panjang)
demam, kadang sesak nafas.
Nyeri perut bisa sangat hebat dan bisa penderita bisa mengalami muntah; gejala ini
mirip dengan apendisitis atau suatu kista indung telur.

Pada anak-anak, bentuk yang umum dari krisis sel sabit adalahsindroma dada, yang
ditandai dengan nyeri dada hebat dan kesulitan bernafas. Penyebab yang pasti dari
sindroma dada ini tidak diketahui tetapi diduga akibat suatu infeksi atau tersumbatnya
pembuluh darah karena adanya bekuan darah atau embolus (pecahan dari bekuan
darah yang menyumbat pembuluh darah). Sebagian besar penderita mengalami
pembesaran limpa selama masa kanak-kanak. Pada umur 9 tahun, limpa terluka berat
sehingga mengecil dan tidak berfungsi lagi. Limpa berfungsi membantu melawan
infeksi, karena itu penderita cenderung mengalami pneumonia pneumokokus atau
infeksi lainnya.
Infeksi virus bisa menyebabkan berkurangnya pembentukan sel darah, sehingga
anemia menjadi lebih berat lagi. Lama-lama hati menjadi lebih besar dan seringkali
terbentuk batu empedu dari pecahan sel darah merah yang hancur.
Jantung biasanya membesar dan sering ditemukan bunyi murmur. Anak-anak yang
menderita penyakit ini seringkali memiliki tubuh yang relatif pendek, tetapi lengan,
tungkai, jari tangan dan jari kakinya panjang.
Perubahan pada tulang dan sumsum tulang bisa menyebabkan nyeri tulang, terutama
pada tangan dan kaki. Bisa terjadi episode nyeri tulang dan demam, dan sendi panggul
mengalami kerusakan hebat sehingga pada akhirnya harus diganti dengan sendi
buatan.
Sirkulasi ke kulit yang jelek dapat menyebabkan luka terbuka di tungkai, terutama pada
pergelangan kaki. Kerusakan pada sistem saraf bisa menyebabkan stroke. Pada
penderita lanjut usia, paru-paru dan ginjal mengalami penurunan fungsi.
Pria dewasa bisa menderita priapisme (nyeri ketika mengalami ereksi).
2.6

Manifestasi Klinik

No. Sistem
1.
Jantung

2.
3.

4.
5.
6.

Komplikasi
Gagal jantung kongestif

Tanda dan Gejala


Kardiomegali, takikardi, napas
pendek, dispnea sewaktu
kerja fisik, gelisah
Pernapasan
Infark paru, pneumonia
Nyeri dada, batuk, sesak
napas, demam, gelisah
Saraf Pusat
Trombosis serebral
Afasia, pusing, kejang, sakit
kepala, disfungsi usus dan
kandung kemih
Genitourinaria Disfungsi ginjal
Nyeri pinggang, hematuria
Gastrointestinal Kolesistitis, fibrosis hati,Nyeri perut, hepatomegali,
abses hati
demam
Okular
Ablasio retina, penyakitNyeri, perubahan penglihatan,
pembuluh darah perifer,buta
perdarahan

7.

Skeletal

8.

Kulit

2.7

Nekrosis aseptik kaputNyeri, mobilitas berkurang,


femoris dan kaput humeri nyeri dan bengkak pada
lengan dan kaki
Ulkus tungkai kronis
Nyeri, ulkus terbuka dan
mengering

Prognosis/ penatalaksanaan

Sekitar 60% pasien anemia sel sabit mendapat serangan nyeri yang berat hampir terusmenerus dan terjadinya anemia sel sabit selain dapat disebabkan karena infeksi dapat
juga disebabkan oleh beberapa faktor misalnya perubahan suhu yang ekstrim, stress
fisis atau emosional lebih sering serangan ini terjadi secara mendadak. Orang dewasa
dengan anemia sel sabit sebaiknya diimunisasi terhadap pneumonia yang disebabkan
pneumokokus. Tiap infeksi harus diobati dengan antibiotik yang sesuai. Transfusi SDM
hanya diberikan bila terjadi anemia berat atau krisis aplastik. Pada kehamilan usuhakan
agar Hb 10-12 g/dl pada trimester ketiga. Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12-14 g/dl
sebelum operasi. Penyuluhan sebelum memilih pasangan hidup adalah untuk
mencegah keturunan yang homozigot dan mengurangi kemungkinan heterozigot.(Noer
Sjaifullah, 1999)
2.8

Pengobatan

Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat memperbaiki
pembentukan sabit, karena itu pengobatan secara primer ditujukan untuk pencegahan
dan penunjang. Karena infeksi tampaknya mencetuskan krisis sel sabit, pengobatan
ditekankan pada pencegahan infeksi, deteksi dini dan pengobatan segera setiap ada
infeksi pengobatan akan mencakup pemberian antibiotik dan hidrasi dengan cepat dan
dengan dosis yang besar. Pemberian oksigen hanya dilakukan bila penderita
mengalami hipoksia. Nyeri hebat yang terjadi secara sendiri maupun sekunder terhadap
adanya infeksi dapat mengenai setiap bagian tubuh. Transfusi hanya diperlukan selama
terjadi krisis aplastik atau hemolitis. Transfusi juga diperlukan selama kehamilan.
Penderita seringkali cacat karena adanya nyeri berulang yang kronik karena adanya
kejadian-kejadian oklusi pada pembuluh darah.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANEMIA SEL SABIT
3.1

Pengkajian Keperawatan

Data-data yang perlu dikaji dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang
menderita anemia sel sabit yaitu :
1. Pengumpulan data

a. Identifikasi Pasien : nama pasien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/
bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
b. Identitas penanggung
c. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu
Keluhan utama: pada keluhan utama akan nampak semua apa yang dirasakan pasien
pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan pucat.
Riwayat kesehatan masa lalu: riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan informasi
kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Penyakit anemia sel sabit dapat disebabkan oleh kelainan/kegagalan genetik yang
berasal dari orang tua yang sama-sama trait sel sabit
e. Riwayat kesehatan sekarang
- Klien terlihat keletihan dan lemah
- Muka klien pucat dan klien mengalami palpitasi
- Mengeluh nyeri mulut dan lidah
f. Pemeriksaan fisik

Aktivitas/ istirahat
Gejala: Keletihan/ kelemahan terus-menerus sepanjang hari, kehilangan produktivitas,
kebutuhan tidur lebih besar dan istirahat
Tanda: Tidak bergairah, gangguan gaya berjalan (nyeri)

Sirkulasi
Gejala: Palpitasi atau nyeri dada anginal
Tanda: Takikardi, disritmia (hipoksia), tekanan darah menurun, nadi lemah, pernapasan
lambat, warna kulit pucat atau sianosis, konjungtiva pucat.

Eliminasi
Gejala: Sering berkemih, nokturia ( berkemih malam hari)

Tanda: Nyeri tekan pada abdomen, hepatomegali, asites, urine encer, kuning pucat,
hematuria, berat jenis urine menurun

Integritas ego
Gejala: Mudah marah, kuatir, takut
Tanda: Ansietas, gelisah

Makanan/ cairan
Gejala: Haus, anoreksia, mual/ muntah
Tanda: Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas cubitan, tampak kulit
dan membran mukosa kering.

Hygiene
Gejala: Keletihan/ kelemahan, kesulitan mempertahankan nyeri
Tanda: Ceroboh, penampilan tidak rapi

Neurosensori
Gejala: Sakit kepala/ pusing, gangguan penglihatan, kesemutan pada ekstremitas
Tanda: Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot, ataksia, kejang

Nyeri/ kenyamanan
Gejala: Nyeri punggung, sakit kepala
Tanda: Penurunana rentang gerak, gelisah

Pernapasan
Gejala: Dispnea saat bekerja/ istirahat
Tanda: Distres pernapasan akut, bunyi bronkial, bunyi napas menurun, mengi

Keamanan
Gejala: Riwayat transfusi
Tanda: Demam ringan, gangguan penglihatan, gangguan ketajaman penglihatan

Seksualitas

Gejala: Kehilangan libido, amenorea, priapisme


Tanda: Maturitas seksual terlambat, serviks dan dinding vagina (anemia)
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Jumlah Darah Lengkap ( JDL): Leukosit dan trombosit menurun
b. Retikulosit: jumlah dapat bervariasi dari 30% 50%
c. Pewarnaan SDM: menunjukkan sebagian sabit atau lengkap
d. LED: meningkat
e. Eritrosit: menurun
f. GDA: dapat menunjukkan penurunan PO 2
g. Billirubin serum: meningkat
h. LDH: meningkat
i. TIBC: normal sampai menurun
j. IVP: mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal
k. Radiografik tulang: mungkin menunjukkan perubahan tulang
l. Rontgen: mungkin menunjukkan penipisan tulang, osteoporosis
3.2

Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan pertukaran
pembawa oksigen darah.

gas

yang berhubungan

dengan penurunan

kapasitas

2.
Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan penurunan
kerusakan miokardial akibat infark kecil, deposit besi, dan fibrosis.
3.
Resiko tinggi terhadap kekurangan
dengan peningkatan kebutuhan cairan.
4.

volume

cairan

fungsi/

yangberhubungan

Nyeri yang berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah.

5.
Resiko tinggi terhadap
dengan gangguan sirkulasi.

kerusakan

integritas

kulit

yangberhubungan

6.
Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya.
3.3

Tindakan/ Intervensi Keperawatan

Diagnosa
keperawatan:
Kerusakan
pertukaran
gas
yang berhubungan
dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah, yang ditandai oleh: dispnea,
gelisah, takikardia, dan sianosis (hipoksia).
Tujuan Umum: Tidak terdapatnya sekret
Tujuan Khusus: Menunjukkan perbaikan ventilasi/ oksigenasi dan bunyi napas normal.
Intervensi
Mandiri

Rasional
Indikator
keadekuatan
fungsi
pernapasan atau tingkat gangguan
Awasi frekuensi/ kedalaman pernapasan, dan kebutuhan/keefektifan terapi.
area sianosis.
Terjadinya atelektasis dan stasis
dapat
mengganggu
Auskultasi bunyi napas, catat adanya/ sekret
pertukaran gas.
takadanya, dan bunyi adventisisus.
Kaji laporan nyeri dada dan peningkatan Menggambarkan terjadinya infeksi
paru,
yang
meningkatkankerja
kelemahan.
jantung dan kebuttuhan oksigen.
Bantu dalam mengubah posisi, batuk
Meningkatkan
ekspansi
dada
dan napas dalam.
optimal, memobilisasikan sekresi,
dan menurunkan stasis sekret.
Kaji tingkat kesadaran.
Kaji toleransi aktivitas; tempatkan pasienJaringan otak sangat sensitif pada
penurunan oksigen dan merupakan
pada tirah baring.
indikator dini terjadinya hipoksia.
Dorong pasien untuk memilih periode
Penurunan kebutuhan metabolik
istirahat dan aktivitas.
tubuh menurunkan kebutuhan O2.
Peragakan dan dorong penggunaan
Melindungi dari kelelahan berlebihan.
teknik relaksasi.
Tingkatkan
adekuat.

masukan

cairan

yangRelaksasi menurunkan teganagn otot


dan ansietas.
Masukan

yang

mencukupi

perlu

untuk mobilisasi sekret.

Batasi pengunjung/ staf.


Kolaborasi
Berikan suplemen O2 sesuai indikasi.
Lakukan/ bantu fisioterapi dada.
Berikan pak SDM atau transfusi tukar
sesuai indikasi.

Melindungi dari potensial sumber


infeksi pernapasan.
Memaksimalkan
transpor
O2 ke
jaringan, khususnya pada adanya
gangguan paru/ pneumonia.
Dilakukan untuk memobilisasi sekret
dan meningkatkan pengisian udara
area paru.
Meningkatkan jumlah sel pembawa
oksigen,
melarutkan
persentase
hemoglobin S (untuk mencegah
sabit) dan merusak sel sabit.

Diagnosa
keperawatan: Perubahan
perfusi
jaringan
yang berhubungan
dengan penurunan fungsi/ kerusakan miokardial akibat infark kecil, deposit besi, dan
fibrosis, yang ditandai oleh: penurunan tanda vital, pucat, gelisah, nyeri tulang, angina,
dan gangguan penglihatan.
Tujuan Umum: Perfusi jaringan adekuat
Tujuan Khusus: Menunjukkan perbaikan perfusi jaringan yang dibuktikan oleh tanda
vital yang stabil.
Intervensi
Rasional
Mandiri
Pengendapan dan sabit pembuluh
Awasi tanda vital dengan cermat. Kaji perifer dapat menimbulkan obliterasi
nadi untuk frekuensi, irama, danlengkap/ terjadi penurunan perfusi
volume.
jaringan pada sekitar pembuluh darah.
Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, Perubahan menunjukkan penurunan
sianosis,
diaforesis,
pelambatansirkulasi/ hipoksia yang meningkatkan
pengisian kapiler.
oklusi kapiler.
Catat perubahan dalam tingkatPerubahan
dapat
menunjukkan
kesadaran.
penurunan perfusi SSP akibat iskemia
atau infark.
Pertahankan
pemasukkan
cairanDehidrasi tidak hanya menyebabkan
adekuat.
hipovolemia
tetapi
meningkatkan
pembentukan sabit dan oklusi kapiler.
Pertahankan suhu lingkungan danMencegah vasokontriksi; membantu

kehangatan tubuh.

dalam mempertahankan sirkulasi dan


perfusi.
Kolaborasi
Penurunan perfusi jaringan dapat
Awasi pemeriksaan laboratorium, mis. menimbulkan infark organ jaringan
Darah lenkap, BUN
seperti otak, hati, limpa, ginjal dsb.
Berikan cairan hipo-osmolar (mis.Hidrasi menurunkan konsentrasi Hb S
Cairan garam faal 0,45) melalui pompa dalam
SDM,
yang
menurunkan
infus.
kecenderungan
sabit,
dan
juga
menurunkan viskositas darah yang
membantu untuk mempertahankan
perfusi.
Berikan agen antisabit percobaanAgen antisabit ditujukan pada hidup
(mis, natrium sianat) dengan hati-hati. panjang eritrosit dan mencegah sabit
dengan
mempengaruhi
perubahan
membran sel.
Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap
yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan
anoreksia, dehidrasi (muntah, diare, demam).

kekurangan volume cairan


cairan, yang ditandai oleh:

Tujuan Umum: Intake cairan terpenuhi


Tujuan Khusus: Mempertahankan keseimbangan cairan adekuat.
Intervensi
Rasional
Mandiri
Pasien dapat menurunkan pemasukan
Pertahankan
pemasukan
dancairan selama periode krisis karena
pengeluaran akurat. Timbang tiap hari. malaise, anoreksia dsb.
Perhatikan karakteristik urine danGinjal dapat kehilangannya untuk
berat jenis.
mengkonsentrasikan
urine,
mengakibatkan kehilangan banyak
urine encer.
Awasi tanda vital.
Penurunan sirkulasi darah dapat terjadi
dari peningkatan kehilangan cairan
mengakibatkan
hipotensi
dan
takikardia.
Observasi demam, perubahan tingkatGejala yang menunjukkan dehidrasi.
kesadaran, turgor kulit buruk, nyeri.
Awasi tanda vital dengan ketat selama Jantung
dapat
kelelahan
dan
transfusi darah dan catat adanya cenderung gagal karena kebutuhan
dispnea, ronki, mengi, batuk, danpada status anemia.
sianosis.
Kolaborasi
Penggantian atas kehilangan/ defisit:
Berikan cairan sesuai indikasi.
dapat memperbaiki ginjal pada SDM.

Awasi pemeriksaan laboratorium, mis. Peningkatan


menunjukkan
Hb/Ht, elektrolir serum dan urine.
hemokonsentrasi.
Kehilangan
kemampuan
ginjal
untuk
mengkonsentrasikan
urine
dapat
mengakibatkan penurunan Na+, K+, dan
Cl+ serum.
Diagnosa keperawatan: Nyeri yang berhubungan dengan aglutinasi sel sabit dalam
pembuluh darah, yang ditandai oleh: nyeri lokal, menyebar, berdenyut, perih, sakit
kepala.
Tujuan Umum: Mengurangi nyeri
Tujuan Khusus: Menyatakan nyaeri berkurang; menunjukkan postur badan rileks, bebas
bergerak; meningkatkan asupan cairan.
Intervensi
Rasional
Kaji berat dan lokasi nyeri. Tempat Jaringan dan organ sangat peka
nyeri yang sering adalah sendi dan terhadap
trombosis
mikrosirkulasi
ekstremitas, dada, dan abdomen.
dengan akibat kerusakan hipoksik;
hipoksia menyebabkan nyeri.
Berikan analgetik sesuai rsesp.Anageltik
oploid
penting
untuk
Perhitungkan pemakaian anagelsikmengurangi nyeri yang berat.
yang dikontrol pasien.
Dukung asupan cairan peroral danCairan akan memperbaiki hemodilusi
berikan cairan IV sesuai resep;dan menguraiakn algutinasi sel sabit
memantau asupan dan haluarandalam pembuluh darah kecil.
cairan.
Posisikan pasien dengan hati-hati dan Nyeri sendi dapat dikurangi selama
sangga
daerah
nyeri;
dukung krisis dengan gerakan yang hati-hati
penggunaan teknik relaksasi dandan penggunaan kompres panas; teknik
latihan pernapasan.
relaksasi dan latihan pernapasan dapat
berfungsi
sebagai
pelemas.
Penyumbatan pembuluh darah oleh sel
sabit akan menurunkan sirkulasi.
Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit
yang berhubungan dengan gangguan sirkulasi, yang ditandai oleh: turgor kulit buruk,
kulit kering, pucat.
Tujuan Umum: Mempertahankan integritas kulit dengan kriteria: kulit segar, sirkulasi
darah lancar.
Tujuan Khusus: Mencegah cedera; berpartisipasi dalam perilaku untuk menurunkan
faktor resiko/kerusakan kuilt.

Intervensi
Rasional
Mandiri
Mencegah tekanan jaringan lama
Sering ubah posisi, bahkan bila duduk dimana sirkulasi telah terganggu,
di kursi.
menurunkan resiko trauma jaringan/
iskemia.
Inspeksi kulit/ titik tekanan secaraSirkulasi
buruk
pada
jaringan,
teratur untuk kemerahan, beriakanmencegah kerusakan kulit.
pijatan lembut.
Pertahankan permukaan kulit keringLembab,
area
terkontaminasi
dan bersih; linen kering/ bebas memberikan media yang baik untuk
kerutan.
pertumbuhan organisme patogen.
Awasi tungkai terhadap kemerahan,Potensi jalan masuk untuk organisme
perhatikan dengan ketat terhadap patogen. Pda adnya gangguan sistem
pembentukan ulkus.
imun, ini meningkatkanresiko infeksi/
pelambatan penyembuhan.
Tinggikan ekstremitas bawah bilaMeningkatkan
aliran
balik
vena
duduk.
menurunkan stasis vena/ pembentukan
edema.
Kolaborasi
Menurunkan tekanan jaringan dan
Berikan kasur air atau tekanan udara. membantu
dalam
memaksimalkan
perfusi seluler untuk mencegah cedera.
Awasi status area iskemik, ulkus.Perbaikan
atau
lambanya
Perhatikan
distribusi,
ukuran,penyembuhan menunjukkan status
kedalaman, karakter, dan drainase.
perfusi
jaringan
dan
keefektifan
intervensi.
Siapkan untuk/ bantu oksigenasi pada Memaksimalkan pemberian oksigen ke
ulkus.
jaringan, meningkatkan penyembuhan
Diagnosa keperawatan: Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya
informasi tentang penyakitnya, yang ditandai oleh: pertanyaan; meminta informasi; tidak
akurat mengikuti intruksi; dan ansietas.
Tujuan Umum: Memahami tentang penyakitnya
Tujuan Khusus: Menyatakan pemahaman proses penyakit, termasuk gejala krisis;
melakukan perilaku yang perlu/perubahan pola hidup untuk mencegah komplikasi.
Intervensi
Rasional
Berikan informasi tentang penyakitnya. Memberikan
dasar
pengethuan
sehingga pasien dapat membuat pilihan
yang tepat, menurunkan ansietas dan
dapat meningkatkan kerjasama dalam
program terapi.

Kaji pengetahuan
penyakitnya.

tentangMenberi pengetahuan berdasarkan pola


kemampuan pasien untuk memilih
informasi.
Dorong mengkonsumsi sedikitnya 4-6Mencegah dehidrasi dan konsekuensi
liter cairan perhari.
hiperviskositas yang dapat membuat
sabit/ krisis.
Dorongb latihan rentang gerak dan Mencegah demineralisasi tulang dan
aktivitas
fisik
teratur
dengan dapat menurunkan resiko fraktur.
keseimbangan antara aktivitas dan
istirahat.
3.4

pasien

Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan adalah pengobatan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang


meliputi tindakan yang direncanakan oleh perawat, melaksanakan anjuran dokter dan
menjalankan ketentuan dari rumah sakit. Sebelum pelaksanaan terlebih dahulu harus
mengecek kembali data yang ada, karena kemungkinan ada perubahan data bila terjadi
demikian kemungkinan rencana haurs direvisi sesuai kebutuhan pasien.
3.5

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah pengukuran dari keberhasilan rencana perawatan dalam memenuhi


kebutuhan pasien. Tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam menggunakan
proses keperawatan.
Hasil evaluasi yang diharapkan/ kriteria: evaluasi pada pasien dengan anemia sel sabit
adalah sebagai berikut:
Mengatakan pemahaman situasi/ faktor resiko dan program pengobatan individu
dengan kriteria:
1.

Menunjukkan teknik/ perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas.

2.

Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas.


Menyatakan pemahaman proses penyakit dan
kriteria:

pengobatan pengobatan dengan

c. Mengidentifikasikan hubungan tanda/ gejala penyebab.


d. Melakukan perubahan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.
Mengidentifikasikan perasaan dan metode untuk koping terhadap persepsi dengan
kriteria:
f. Menyatakan penerimaan diri dan lamanya penyembuhan.

g. Menyukai diri sebagai orang yang berguna.


Mempertahankan hidrasi adekuat dengan kriteria:
h. Tanda-tanda vital stabil, turgor kulit normal, masukan dan keluaran seimbang.
Menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/ mempertahankan
berat badan yang sesuai dengan kriteria:
i. Menunjukkan peningkatan berat badan, mencapai tujuan denagn nilai laboratorium
normal.
BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan

Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah berbentuk
menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal. Penyakit Sel Sabit (sickle cell
disease) adalah suatu penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang
berbentuk
sabit
dan anemia
hemolitik
kronik.
Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin (protein pengangkut
oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel
dan
menyebabkan
bentuk
sel
menjadi
seperti
sabit.
Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam
limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya pasokan
oksigen ke organ tersebut.
Penyakit sel sabit/ anemia sel sabit merupakan gangguan genetik resesif autosomal,
yaitu individu memperoleh hemoglobin sabit (hemoglobin S) dari kedua orangtua. Halhal yang dapat menjadi penyebab anemia sel sabit adalah infeksi, disfungsi jantung,
disfungsi paru, anastesi umum, dataran tinggi, dan menyelam.
Gejala klinis yang biasa terjadi pada seseorang yang gangguan anemia sel sabit dapat
berupa : nyeri, pucat, kelemahan dan keletihan, palpitasi, takikardia, diare dan
penurunan haluaran urin, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, kulit kering, nafas
pendek, gangguan penglihatan dan demam.
Pengkajian yang dilakukan pada klien yang anemia dapat dirumuskan diagnosa
keperawatan sebagai berikut: Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan
dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen darah; perubahan perfusi jaringan
yang berhubungan denganpenurunan fungsi/ kerusakan miokardial akibat infark kecil,
deposit besi, dan fibrosis; resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan
yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan cairan; nyeri yangberhubungan
dengan aglutinasi sel sabit dalam pembuluh darah; resiko tinggi terhadap kerusakan

integritas kulit yang berhubungan dengangangguan sirkulasi; serta kurang pengetahuan


yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya.
Implementasi keperawatan pada klien anemia sel sabit harus sesuai dengan intervensi
atau rencana keperawatan yang telah dibuat. Oleh karena itu perawat harus
memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif sehingga meminimalkan
kemungkinan terjadi komplikasi.
4.2

Saran

Karena penyakit dapat menimbulkan krisis yang berbahaya, mereka yang mengidap
anemia sel sabit perlu bekerja keras untuk mempertahankan kesehatan yang baik.
Mereka dapat melakukan hal ini dengan menjaga kebersiahn pribadi, dengan
menghindari aktivitas yang berat yang berkepanjangan, dan dengan mengkonsumsi
makanan yang seimbang dan baik.
Para penderita anemia sel sabit hendaknya juga melakukan pemeriksaan medis yang
teratur. Jika penderita anemia sel sabit sering melakukan pemeriksaan medis dengan
teratur, maka ini memungkinkan banyak penderita anemia sel sabit untuk hidup secara
normal.
Dengan mengetahui konsep dasar dan asuhan keperawatan pada pasien anemia sel
sabit, diharapkan dalam memberikan pelayanan kesehatan harus secara profesional
dan komprehensif sehingga meminimalkan kemungkinan terjadi komplikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah Buku Saku. EGC: Jakarta
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasiaan Perawatan Pasien. EGC: Jakarta
Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume
2. EGC: Jakarta
Price, Sylvia A. 2006. Patofisisologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume
1. EGC: Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Volume 2. EGC:
Jakarta
http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/27/askep.anemia-sel-sabit/
http://www.womenshealth.gov/faq/anemia-sel-sabit.cfm
6.Hb C : hemoglobin abnormal dimana lisin menggantikan asam glutamate pada posisi

enam rantai
7.Hb D : hemoglobin abnormal yang ditandai oleh mobilitas elektroforetik yang sama dengan Hb
S pada kertas atau selulosa asetat.
8.Hb E : hemoglobin abnormal di mana lisin menggantikan asam glutamate pada posisi 26
rantai
9.Hb S : hemoglobin abnormal di mana valin menggantikan asam glutamate pada posisi enam
rantai. Keadaan homozigot mengakibatkan anemia sickle cell dan heterozigot asimptomatik
Disebut sickle cell trait.