Anda di halaman 1dari 91

TATA LAKSANA HIV PADA ANAK

JAKARTA, 10 MEI 2012

Tanda klinis yang paling sering dijumpai

Tujuan
Dapat mendiagnosis dan menangani
penyakit infeksi oportunistik secara
paripurna
Dapat menangani kasus gawat darurat
dan memberikan tatalaksana awal
sebelum dirujuk
Dapat memberikan penyuluhan paripurna

Tatalaksana HIV +

Tentukan status nutrisi dan intervensinya


Terapi profilaksis Infeksi Oportunistik
Tentukan klasifikasi klinis dan imunologis
Terapi kuratif Infeksi Oportunistik
Nilai indikasi ARV
Tentukan situasi sosial
Pemberian ARV

INFEKSI HIV DIBUKTIKAN

Terapi IO

Psikososek

ARV

Infeksi Oportunistik

Tuberkulosis
Tuberkulosis pulmonal, apusan sputum
positif
> pemeriksaan apusan sputum inisial menunjukkan
BTA positif, atau
Satu pemeriksaan apusan sputum menunjukkan BTA
positif dan ada abnormalitas radiografi sesuai
dengan TB pulmonal aktif, yang ditentukan oleh
klinisi, atau
Satu pemeriksaan apusan sputum menunjukkan BTA
positif dan kultur positif untuk M. tuberculosis.

Diagnostik Penyakit TB

Anamnesis kontak
Pemeriksaan fisis
Uji Mantoux
Foto Ro dada
Bakteri pada apusan sputum
Investigasi ke arah TB
ekstrapulmonal/pulmonal

Rekomendasi rejimen pengobatan untuk


anak pada setiap diagnosis kategori TB
Diagnosis
kategori TB

Kasus TB

Rejimen
Fase intensif
(setiap hari atau
3x/minggu)

Fase lanjutan
(setiap hari atau
3x/minggu)

III

TB pulmonal apusan negatif baru (di


luar kategori I)
Bentuk TB ekstrapulmonal yang lebih
ringan

2HRZ

4HR atau 6HE

Apusan baru positif TB pulmonal


Apusan baru negatif TB pulmonal
TB dengan keterlibatan parenkim paru
luas
Bentuk TB ekstrapulmonal yang berat
(selain meningitis TB)
Penyakit penyerta HIV yang berat

2HRZE

4HR atau 6HE

Meningitis TB

2RHZS

4RH

II

TB pulmonal apusan positif yang


sebelumnya telah diobati
relaps
pengobatan setalah putus obat
kegagalan pengobatan

2HRZES/1HRZE

5HRE

IV

Kronik dan MDR-TB

Rejimen dirancang per individu

Obat

Dosis rekomendasi
Setiap hari

Tiga kali seminggu

Dosis dan rentang


(mg/kgBB)

Maksimum
per hari (mg)

Dosis dan
rentang
(mg/kgBB)

Maksimum
per hari (mg)

5 (4-6)

300

10 (8-12)

Rifampisin

10 (8-12)

600

10 (8-12)

600

Pirazinamid

25 (20-30)

35 (30-40)

Anak 20 (15-25) i
Dewasa 15 (15-20)

30 (25-35)

15 (12-18)

15 (12-18)

Isoniazid

Etambutol

Streptomisin ii

Strategi ARV pd koinfeksi TB


Mulai terapi TB minimal 2 minggu
sebelum ARV Immune
Reconstitution Inflammatory Syndrome
Penyesuaian dosis NVP hanya 1
langkah
Penambahan dosis NVP sebesar 25%
kontroversial
Bila timbul hepatotoksisitas, obat TB
yang distop, ARV diteruskan.

PCP

Pada berbagai stadium dan usia


Demam, batuk, takipneu, dispneu
Dapat timbul tiba-tiba, atau lambat
Kasus lambat disertai batuk, demam ringan,
takipneu, gagal tumbuh
PF: distress pernafasan, ronki bibasilar,
hipoksemia

Gambar p.jiroveci

Foto Ro dapat tampak normal atau infiltrat


minimal.
Awalnya perihilar, bertambah ke arah lateral
sebelum mengarah ke apeks
Gambaran khas: umumnya infiltrat parenkim paru
difus bilateral dengan penampakan
retikulogranular atau ground-glass
Diagnosis definitif PCP adalah ditemukannya
P.jiroveci di jaringan dan cairan paru

PCP: Terapi
Anak > 2 bulan: kotrimoksasol (TMP)
15-20mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis
selama 21 hari (IV-oral)
Pilihan lain: pentamidine, atovaquone,
clindamycin/primaquin
Diperlukan profilaksis seumur hidup pasca
penyembuhan

PCP: Profilaksis
Ditujukan untuk bayi/anak yg terpapar HIV atau
positif HIV
Pada PMTCT hanya sampai status negatif
Pada HIV positif, sampai CD4 normal, atau di
atas umur 1 tahun.
Dosis kotrimoksasol: 4 mg/kgBB/dosis, 1 kali
sehari setiap hari (WHO)

Lymphoid Interstitial Pneumonitis


(LIP)
Batuk persisten dengan/tanpa kesulitan
bernapas, parotitis bilateral, limfadenopati
generalisata, hepatomegali dan tanda gagal
jantung, serta jari tabuh.
Foto Ro dada menunjukkan pola interstitial
retikulonodular bilateral, (bedakan dari
tuberkulosis paru dan adenopati hilus
bilateral)

LIP: Terapi
Terapi antibiotik untuk pneumonia bakterial
Steroid bila foto Ro dada sesuai LIP + salah satu gejala
berikut:
Napas cepat atau sukar bernapas
Sianosis
Saturasi oksigen < 90%.
Beri prednison oral, 12 mg/kg/hari selama 2 minggu.
Tapp off 2 4 minggu (tergantung respons)
Hati-hati reaktivasi TBC

Kandidosis oral dan esofagus


Kandidosis oral
lapisan putih kekuningan di atas mukosa
yang normal atau kemerahan, mudah
dilepas

Kandidosis esofagus
Nyeri menelan atau muntah, menolak
makan, liur berlebihan, menangis saat
makan, nyeri retrosternal

Kandidosis oral
Nystatin 400.000-600.000 U 5 X sehari, 7 14
hari
Atau
Flukonazol oral 3-6 mg/kg 1 X sehari, 7 14 hari

Kandidosis
Kandidosis esofagus tanpa kelainan
hati aktif:
Flukonasol 3-6 mg/kg 1 X sehari, 14-21
hari

Kandidosis esofagus dengan kelainan


hati aktif, tidak bisa terapi oral, risiko
kandidemia:
Amfoterisin B 0,5 mg/kg/hari IV, 14 hari
diikuti flukonazol oral hingga 21 hari

Infeksi Cryptococcus
Manifestasis sebagai meningitis,
ensefalitis serta pneumonia
Diagnosis: CT-Scan (lesi fokal di
ganglia basal), cairan serebrospinal
(pewarnaan tinta India), antigen Crypto
dari CSS, serum dan cairan bronkus.
Antibodi masih kontroversial.

Crypto: Terapi
Induksi: Amfoterisin B dan flucytosin 2
minggu
Konsolidasi: Fluconazole IV minimal 8
minggu
Pemeliharaan: Fluconazole oral seumur
hidup

Toxoplasmosis
Ensefalitis, korioretinitis, pneumonia
Diagnosis: CT scan lesi di ganglia basal
dan cerebral-corticomedullary junction.
Serologi masih kontroversial.
Terapi: Pirimetamin dan sulfadiazin +
leucovorin selama 6 minggu

Cryptosporidiasis-Microsporidiasis
Diare cair berat (tidak berdarah) disertai
kram perut, demam, muntah, anoreksia,
dan penurunan BB
Diagnosis: kista pada feses penderita
Terapi: ARV, Nitazoxanide atau
albendazole, dan azitromisin

CMV
Biasanya asimtomatik, reaktivasi dalam
bentuk korioretinitis, gastrointestinal,
pneumonistis, ensefalitis dan mielitis.
Diagnosis: PCR DNA, antigen virus,
histopatologi.
Terapi: gancyclovir

CMV

Infeksi
Opportunistik
dan
keganasan
lainnya

Toxo

(AIDS)
Limfoma

Kriptokokus

PCP

Antiretroviral (ARV)

Pertimbangan Umum

Stadium penyakit
AIDS-defining illness
Stadium imunosupresi CD4
Kecenderungan viremia
Ketersediaan ARV (jenis, formulasi)
Efek pilihan ARV lini pertama terhadap
pilihan ARV selanjutnya

Pertimbangan umum(2)
Komorbiditas
Potensi interaksi dengan obat lain
Kemampuan orangtua/pengasuh untuk
memberikan obat sesuai aturan

Tujuan pemberian ARV


Mengurangi morbiditas dan mortalitas
karena HIV
Memperbaiki dan memelihara fungsi imun
Menekan replikasi virus selama mungkin
Meminimalkan toksisitas karena obat
Membuat pertumbuhan fisik dan
perkembangan neurokognitif normal
Memperbaiki kualitas hidup

Indikasi ARV
Stadium 4 WHO
Semua diberi ARV

Stadium 3
Umur < 1 tahun, semua diberi ARV
Umur > 1 tahun, diobati semua kecuali yg terkena
TBC, LIP, trombopenia dan Oral Hairy Leukoplakia,
menurut hasil CD4

Stadium 2
Bergantung nilai CD4 (atau TLC)

Stadium 1
Tidak diberi ARV, kecuali bila CD4 sangat rendah

Target ARV
Integrase
Inhibitors
Nucleus

Entry

Inhibitors:
Fusion, CD4, CCR5
CXCR4

DNA
Protease

HIV

Reverse
transcriptase

RNA

CD4+ T-Cell

Reverse transcriptase inhibitors:


NRTI (nucleosides, nucleotides)
NNRTI

Protease
inhibitors

Mekanisme kerja ARV

NRTI

Zidovudin (AZT, ZDV)


Stavudin (d4T)
Lamivudin (3TC)
Didanosin (ddI)
Emtricitabin (FTC)
Abacavir (ABC)
Tenofovir (TDF)

NNRTI
Nevirapin (NVP)
Efavirenz (EFV)

Protease Inhibitor

Nelfinavir (NFV)
Ritonavir (Rtv)
Lopinavir (LPr)
Saquinavir (SQV)
Indinavir (IDV)
Atazanavir (ATZ)
Amprenavir
Fosamprenavir

Rejimen lini pertama yang


dianjurkan (WHO)
2 NRTI plus 1 NNRTI:[A (II)]
AZT + 3TC + NVP/ EFV
d4T + 3TC + NVP/EFV
ABC + 3TC + NVP/ EFV

Kombinasi ARV yg tidak dianjurkan


d4T + AZT keduanya dimetabolisme oleh
jalur yg sama [A(I)]
d4T + ddI - toksisitas keduanya tumpang
tindih [A(I)]
TDF + 3TC + ABC
TDF + 3TC + ddI
TDF + ddI + NNRTI
Semua hal di atas menyebabkan replikasi
virus yang tinggi sekali

Item

Dasar

Bulan
1

Bulan
2

Bulan
3

Bulan
4

Setiap
2-3
bulan

Bila
ada
gejala
X

Klinis

Evaluasi klinis

Berat dan tinggi badan

Perhitungan dosis ART

Obat lain yang


bersamaan2
Nilai kepatuhan minum
obat 3

Laboratorium
Hb dan leukosit 4

Kimia darah lengkap 5

Tes kehamilan pada


remaja 6

Hitung atau CD4+% 7

X
X

Pemantauan ARV
Waktu: setiap 2 minggu 2 X, selanjutnya
bulanan.
Hal yang harus dipantau ada pd tabel
Hati-hati toksisitas obat (NNRTI)
Setelah 6 bulan dibuat kesimpulan apakah
pasien responsif atau gagal terapi

Immune Reconstitution Inflammatory


Syndrome (IRIS)
Inflamasi lokal yg berhubungan dengan IO
setelah penggunaan ARV
Yg sudah dikenal: M.avium complex, TB,
CMV retinitis, infeksi Cryptococcus, lainlain (termasuk PCP)
Berhubungan dg kenaikan yg tajam kadar
CD4

Tatalaksana IRIS
Pada MAC, TB, PCP, mulai terapi IO
terlebih dahulu 4-8 minggu sebelum ARV
Pada infeksi Cryptococcus dan CMV, ARV
lebih dahulu
Selama episod IRIS, ARV diteruskan dan
terapi IO diberikan

Kriteria gagal terapi


Dinilai setelah 6 bulan ARV
Kegagalan supresi virus (Virologic Failure)
Kegagalan imunologik (Immunologic
failure)
Kegagalan klinis (Clinical failure)

Penggantian ke lini kedua


Bukan karena tidak patuh berobat
Bukan emergency
Selama belum diganti, ARV rejimen yang
lama tetap diminum (tetap ada aktivitas
antiHIV)
Anak mendapat profilaksis infeksi yg
cukup

BAYI DENGAN IBU HIV +

PENDAHULUAN
Bayi yang lahir dari ibu HIV positif
memerlukan pemantauan dan perawatan
yang teratur
Ibu,
pasangannya,
dan
keluarganya
memerlukan informasi yang tepat mengenai
cara perawatan dan pemantauan

ARV Profilaksis
ARV profilaksis diberikan untuk semua bayi baru lahir
yang lahir dari ibu HIV (+)
Zidovudin dimulai pada hari pertama (usia 12 jam)
selama 6 minggu
Bayi cukup bulan: 2 mg/kgBB 4x/h
Bayi prematur (<34 mgg):
1,5 mg/kgBB/x, 2x/hari selama 2 minggu;
kemudian 2 mg/kgBB/x, 3x/hari selama 2 minggu,
diikuti 2 mg/kgBB/x, 4x/hari selama 2 minggu
terakhir.
Harus memperhatikan dosis, efek samping, dan harus
memantau adherence

Pencegahan Pneumonia
Pneumocystis carinii (P. jiroveci)
Kotrimoksazol mulai usia 6 minggu
Bila dana terbatas, gunakan hanya untuk bayi
positif terinfeksi, dan bayi terpapar hingga
minimal 6 bulan (PCR II)
Memerlukan pemantauan kepatuhan minum
obat/adherence

Pencegahan Pneumonia
Pneumocystis carinii (P. jiroveci)

Berat Badan
3 - 4.9 kg
5 - 6.9 kg
7 - 9.9 kg
10 - 11.9 kg
12 - 14.9 kg

Kotrimoksazol 4 mg TMP/kg
BB
Larutan
Tablet dewasa (SMX
8 mg TMP/mL
400mg, TMP 80mg)
2 mL/hari
3 mL/hari
4 mL/hari
1/2 tab
5 mL/hari
1/2 tab
7 mL/hari
1 tab

Imunisasi
Imunisasi diperlukan untuk melindungi
bayi-bayi yang terekspos HIV
Prinsip umum: tidak memberi vaksin hidup
bila terdapat gejala infeksi HIV

Imunisasi
Imunisasi

Anak terinfeksi HIV,


asimptomatik

Anak terinfeksi HIV,


simptomatik

BCG

Tidak

Tidak

DPT

Ya

Ya

Hepatitis B

Ya

Ya

Polio

Ya

Ya *

Campak

Ya

Tidak **

Haemophilus influenzae,
tipe B

Ya

Ya

Streptococcus pneumoniae

Ya

Ya

* : Polio diberikan dalam bentuk inactivated polio vaccine (intramuskular)


**: Pasien dengan CD4 < 15% atau CD4 absolut lebih rendah dari kadar normal
sesuai usia, pasien dengan riwayat penyakit khas AIDS (stadium IV), tidak boleh
diberikan vaksin ini

Diagnosis HIV Pada Bayi Dan Anak


Pemeriksaan status HIV bayi sedapat mungkin dilakukan
secepatnya
Konseling pra dan pasca tes
Menurut panduan yang berlaku dan perasat yang
tersedia
Manfaatkan/buat jejaring pemeriksaan
Tujuan Diagnosis
Penilaian dan tata laksana awal
Menyingkirkan infeksi HIV
Menegakkan diagnosis HIV

Diagnosis HIV Pada Bayi Dan Anak


Serologi Anti HIV pada Anak
Untuk anak di bawah 18 bulan: tidak dapat dipakai
sebagai perasat diagnosis infeksi HIV untuk bayi,
karena ada transfer IgG dari ibu.
Bila hasil tes positif pada usia lebih dari 18 bulan
dianggap infeksi HIV
Menyingkirkan diagnosis infeksi HIV
Uji virologik negatif
Uji antibodi negatif pada anak berusia lebih dari 18
bulan, menghentikan pemberian ASI minimal 6
minggu

Waktu Pemeriksaan HIV

Pemantauan

Jadwal Kunjungan PMTCT


Lahir

10-14
hari

4
minggu

6
minggu

2
bulan

3
bulan

4
bulan

6
bulan

9
bulan

18
bulan

SF/ASIe*

SF/ASIe*

SF/ASIe*

SF/ASIe*

SF/ASIe*

SF/ASIe*

SF/ASIe*

SF/ASIe*

SF-MP

SF-MP

Berat
badan/
tinggi
badan/
lingkar kepala
Nutrisi
ARV profilaksis
(AZT 4 mg/kg/x,
2x/hari**
Kotrimoksazol

Imunisasi

Imunisasi Hepatitis B, OPV, DPT dapat diberikan sesuai jadwal


Imunisasi campak dapat diberikan kecuali HIV simptomatik
Perhatian khusus: BCG diberikan sesudah infeksi HIV dapat disingkirkan

Hb/Ht

PCR RNA/DNA

Note: SF: susu formula; ASIe*: Air susu ibu eksklusif, evaluasi AFASS, tidak mixed feeding; MP: makanan padat
Hb = Hemoglobin Ht = Hematokrit PCR RNA/DNA = Polymerase chain reaction RNA/DNA
AB = HIV antibody ARV: antiretroviral, AZT: zidovudin, **: dosis khusus untuk bayi prematur

AB

Kunjungan PMTCT
Jadwal kunjungan disesuaikan dengan bayi sehat
lainnya (klinik bersama).
Tidak boleh ada pelabelan HIV.
Mengikuti jadwal bayi sehat lain (penimbangan,
pemeriksaan KPSP, vitamin A, dan lainnya).
Kewaspadaan universal tetap dilakukan.
Gunakan kesempatan untuk pelayanan PMTCT Plus
(kesehatan ibu, KB dan sterilisasi, kesehatan saudara
kandung, penilaian ulang sosek, pasangan, keluarga
besar).
Manfaatkan untuk promosi nutrisi bagi ibu.

Ringkasan
Pemantauan kesehatan anak dari ibu dengan HIV
harus dilakukan dengan seksama, tetapi hindari
stigmatisasi
Pencegahan infeksi HIV dilakukan sejak bayi baru
lahir
Pencegahan dari infeksi lain: infeksi oportunistik
(pemberian kotrimoksazol) dan infeksi lain
(imunisasi)
Usaha diagnostik dilakukan sesuai dengan umur
dan sarana yang tersedia
Mazami Enterprise

2009

Ringkasan
Ibu dan keluarga harus mendapat informasi
cukup dan dukungan atas keputusan yang
diambil
Anak harus mendapat kesempatan yang sama
dengan anak lain untuk tumbuh dan
berkembang
Hak untuk hidup sehat adalah salah satu hak
utama seorang anak

Mazami Enterprise

2009

SIAPA YANG BERHAK


UNTUK MENDAPAT ART
Tidak semua ODHA perlu
ANTIRETROVIRAL segera !

KONSEP UMUM ART

4S

4S
Start
Memulai terapi ARV pada ODHA yang baru dan belum
pernah menerima sebelumnya
Restart: memulai kembali setelah berhenti sementara

Substitute
Mengganti salah satu / sebagian komponen ART
dengan obat dari lini pertama

Switch
Mengganti semua rejimen ART (beralih ke lini kedua)

Stop
Menghentikan pengobatan ARV

S T A R T

SEBELUM MULAI
Yakinkan bahwa status klien adalah HIV positif
Lakukan evaluasi Klinis:

Tentukan stadium sesuai WHO


Diagnosa dan pengobatan IO
Profilaksis IO dan adherence terhadap pengobatan IO
Pertimbangkan apakah perlu ARV

Pertanyakan mengenai kemungkinan adherence


terhadap ARV

KONSELING PENGOBATAN ART


SEBELUM MEMULAI PENGOBATAN
Pasien harus memahami : tujuan terapi
ARV tidak menyembuhkan infeksi HIV
Selama pengobatan ARV, virus masih
dapat ditularkan. Untuk itu diperlukan
seks yg aman dan suntikan yg aman.
Pengobatan seumur hidup.

When to start ARV


1 For treatment
- full blown AIDS
- symptomatic HIV infection
- asymptomatic but CD4 < 350
2 For prevention
- post exposure prophylaxis ( PEP )
- prevention of mother to child transmission

Starting Combined ART

Are you really ready ?


Symptomatic
CD4 <350

Commitment

Active OI
Co-morbidity
ARV knowledge
Financial !!

Ideally: The first HAART should be the best one

HOW TO MONITOR ART


1 Clinical evaluation
2 Laboratory evaluation
3 Immunological evaluation = CD4
4 Virological evaluation = HIV-RNA ( viral load )

CAUSES OF TREATMENT FAILURE

disease, drugs, patient


- advanced disease
- poor drug adherence
- pre-existing mutation
- adverse drug reaction
- drug-drug/drug-food interaction
- insufficient ARV regimen

Poor drug adherence and adverse drug reaction


are important roles

PEDOMAN BARU MEMPERCEPAT DIMULAINYA TERAPI


2006

Stadium Klinis

Kondisi lain

Jumlah
CD4

TB

Wanita
hamil

Hep B

<200

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

?
?
?

201-350

Mungkin

Ya

Ya

Ya jika
stadium
3

>350

Ya

2010

Stadium Klinis

Kondisi lain

Jumlah
CD4

TB

Wanita
Hamil

Hep B

<200

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

201-350

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya jika
stadium
3

Ya

>350

Ya

Ya

ALASAN SUBSTITUSI

Toksisitas / Efek samping


Hamil
Risiko Hamil
TB baru
Ada obat baru
Stok obat habis

TOKSISISITAS OBAT
Ketidak mampuan untuk menahan efek samping
disfungsi organ yang cukup berat
Dapat dipantau secara klinis
keluhan,
pemeriksaan fisik pasien, atau
hasil laboratorium
Bila obat atau rejimen dapat diidentifikasi dengan jelas
ganti dengan obat yang tidak memiliki efek samping
serupa:
AZT dengan TDF (untuk anemia), atau
EFV diganti NVP
Kombinasi ARV terbatas tidak dianjurkan mengganti
obat yang terlalu dini

S W I T C H

Definisi Gagal Pengobatan secara Klinis, jumlah CD4, dan Virologis


utk Pasien dgn Rejimen Lini Pertama ARV

Gagal Klinis

Timbulnya keadaan stad 4 WHO yg baru atau


kambuh b c

Gagal jumlah
CD4 d

Jumlah CD4 ke jumlah sebelum terapi (atau <<)


atau
Pe an 50% dari nilai puncak dgn terapi (jika
tahu) atau
Jumlah CD4 persisten < 100 sel/mm3 e

Gagal Virologis

Viral load plasma >10.000 copies/ml f

a. Kejadian ini harus dibedakan dengan immune reconstitution inflammatory


syndrome (IRIS)
b. Keadaan tertentu stad 3 WHO (mis. TB paru, infeksi bakteri yg berat), bukan
merupakan indikasi gagal terapi, sehingga tdk perlu terapi dgn lini ke-2;
c. Beberapa keadaan stad 4 WHO ( EPTB: limfadenitis TB, peny. TB pleura yg tdk
berpenyulit, kandidiasis esofagus, pneumoni bakteri rekurens) bukan merupakan
indikasi gagal terapi, sehingga tdk perlu terapi dgn lini ke-2;
d. Tanpa infeksi yg terjadi bersamaan yg menyebabkan pe an jumlah CD4.
e. Beberapa pakar mengatakan bahwa mungkin lebih sesuai jika jumlah CD4 yg
persisten <50/mm3 setelah 12 bulan dgn ART.
f. Jumlah VL yg optimal yang mengharuskan switch ART tdk diketahui. Tetapi,
jumlah > 10.000 copies/ml berkaitan dengan progresi klinis dan dapat dinilai akan
78
menurunkan jumlah CD4.

PENYEBAB KEGAGALAN ART

Non-adherence atau ketidak patuhan


Malabsorbsi obat
Interaksi obat-obat
Resistensi virus

S T O P

ALASAN STOP

81

Toksisitas/Efek
samping
Hamil
Gagal Pengobatan
Adherence buruk
Sakit / MRS
Stok obat habis
Kekurangan Biaya
Keputusan pasien

STRATEGI MENGHENTIKAN ARV


Jika ingin menghentikan ART yang berisi
NNRTI (mis: AZT+3TC+NVP, maka NVP
dihentikan lebih dahulu, dan 1 minggu
kemudian baru 2 NRTI dihentikan.
NVP/EFV (NNRTI) mempunyai half life yang
panjang.

Apakah hubungan sosial biasa


dapat menularkan HIV?
Tidak !
Karena hubungan sosial biasa tidak
memungkinkan terjadinya pertukaran cairan
tubuh yang dapat menularkan HIV.

Ingat, HIV tidak menular melalui:

Gp120

HIV
H
I
V

Envelop

Inti

: Human
: Immunodeficiency
: Virus

Struktur HIV
Envelop
gp120
gp41

Enzim-enzim
RT
Integrase
Protease

Inti
p17
p24
p7/p9

RNA HIV
Diploid single
strand

Target

Darah
Eritrosit

Lekosit

Limfosit

Sel B

Trombosit

Sel darah putih lainnya

Sel T

CD8

CD4

Siklus Hidup HIV dalam Limfosit-T (CD4)


Virion Matang

ds DNA
Integrase

HIV

DNA
1

3
RNA
2

Proviral DNA

RT
Transkripsi

Genomic RNA

5
mRNA
Spliced mRNA

Polyprotein
Protein

Protease

TERIMA KASIH

Slides dikumpulkan dari beberapa sumber antara lain: Pelatihan PMTCT

CV
Nama : dr. Dana Nur Prihadi, Sp.A, M.Kes
Tempat/tanggal lahir: Surakarta, 11 Juli 1974
Pendidikan:
- Dokter Umum: FK Undip Semarang (1991-1997)
- Spesialia Anak: FK Unpad Bandung (2005-2009)
- Magister Kesehatan: Unpad bandung (2005-2009)
Pekerjaan:
- Dokter PTT: 1998-2001
- Dokter PNS di RSPAD Gatot Soebroto: 2001-sekarang

Soal
1. Bagaimana tatalaksana bayi lahir dari ibu
dengan HIV positif ?
2. Bagaimana sikap dokter kalau
menemukan anak dengan HIV positif?