Anda di halaman 1dari 80

TUGAS TERSTRUKTUR

PERENCANAAN PROYEK INDUSTRI PANGAN

MIE JAGUNG INSTANT CAP DUA TONGKOL

Evi Tri Wahyuindarti


Anggi Priyandari

A1M008055
A1M008057

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
2011

I. PENDAHULUAN

Industri pangan menghasilkan berbagai produk pangan olahan dalam


bentuk makanan tradisional maupun modern. Produksi pangan olahan ini
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan kebutuhan luar negeri.
Industri pangan mencakup kegiatan mulai dari bagian produksi bahan mentah,
bagian pengolahan dan bagian distribusi. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat
membantu pembangunan suatu wilayah.
Produk mie baik berupa mie basah, mie kering, maupun mie instan kini
sudah menjadi bahan makanan utama kedua setelah beras bagi masyarakat
Indonesia. Berdasarkan hasil kajian preferensi konsumen, mie merupakan produk
pangan yang paling sering dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat baik
sebagai makanan sarapan maupun sebagai selingan (Juniawati, 2003). Mie
biasanya terbuat dari tepung terigu yang bahan bakunya, yaitu gandum masih
harus diimpor dari luar negeri. Oleh karena itu, pencarian berbagai bahan pangan
lain sebagai pengganti tepung terigu terus dilakukan. Salah satu alternatif
substitusi tepung terigu terutama dalam pembuatan mie adalah dengan
pemanfaatan jagung. Jagung merupakan salah satu komoditas yang memiliki
kandungan nilai gizi yang cukup memadai dan di beberapa daerah di Indonesia
sudah digunakan sebagai makanan pokok.
Kabupaten Banyumas merupakan salah satu bagian wilayah Provinsi Jawa
Tengah yang secara astronomis terletak diantara 10839171092715Bujur

Timur dan 7150573710 Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten


Banyumas adalah 132.759 ha atau sekitar 4,08 persen dari luas wilayah Jawa
Tengah. Luas wilayah tersebut terbagi menjadi lahan sawah sekitar 32.226 ha atau
24,27 persen, sedangkan sisanya 100.533 ha atau 75,23 persen merupakan lahan
bukan sawah. Secara administratif wilayah seluas 132.759 Ha tersebut, terdiri dari
27 kecamatan yang terbagi lagi menjadi beberapa desa/kelurahan sejumlah 301
desa dan 30 kelurahan (Bappeda, 2009).
Letak Kabupaten Banyumas berbatasan dengan beberapa Kabupaten yaitu:
1. Sebelah Utara dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang.
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan
kabupaten Kebumen.
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Cilacap.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes.
Hampir setengah dari luas wilayah Kabupaten Banyumas merupakan
kawasan budidaya pertanian dengan tingkat kesuburan yang cukup baik. Namun
demikian

dari

pemanfaatan

tanah

yang

ada

masih

penggunaannya terhadap kegiatan produktif. (Bappeda, 2009).


.

II. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

belum

maksimal

Perananan pemasaran dalam menentukan kelanjutan usaha suatu


perusahaan begitu penting, sehingga banyak di antara perusahaan dalam
manajemennya menempatkan posisi pemasaran paling depan. Pemasaran harus
selalu mengetahui lebih dahulu pasar yang akan dimasukinya, seperti:
1)
2)
3)
4)

Ada tidaknya pasar,


Seberapa besarnya pasar yang ada,
Potensi pasar,
Tingkat persaingan yang ada, termasuk besarnya market share yang akan
direbut dan market share pesaing. (Kasmir dan Jakfar, 2007).
Faktor utama menurut Ibrahim (2003) yang perlu dinilai dalam aspek

pasar dan pemasaran, antara lain:


a. Jumlah permintaan produk di masa lalu dan masa kini serta kecenderungan
permintaan di masa yang akan datang.
b. Berdasarkan pada angka proyeksi (perkiraan), berapa besar kemungkinan
market space (market potensial) yang tersedia di masa yang akan datang.
c. Berapa besar market share yang direncanakan berdasarkan pada rencana
produksi.
d. Faktor-faktor apa saja yang mungkin mempengaruhi permintaan di masa yang
akan datang.
e. Strategi apa saja yang perlu dilakukan dalam meraih market share yang telah
direncanakan.
Menurut Kasmir dan Jakfar (2007) dalam aspek pasar dan pemasaran, baik
untuk perusahaan yang sudah berjalan maupun bagi perusahaan yang akan berdiri
perlu dilakukan suatu studi tentang kelayakan terlebih dahulu. Intinya aspek pasar
dan pemasaran adalah untuk mengetahui berapa besar pasar yang akan dimasuki,

struktur pasar dan peluang pasar yang ada, prospek pasar dimasa yang akan
datang serta bagaimana strategi pemasaran yang harus dilakukan.
1. Permintaan dan penawaran
Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang diminta konsumen pada
berbagai tingkat harga pada suatu waktu tertentu. Secara umum faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan suatu barang atau jasa adalah: harga barang itu sendiri,
harga barang lain yang memiliki hubungan, pendapatan, selera, jumlah penduduk,
serta faktor khusus (Kasmir dan Jakfar, 2007).
Jumlah permintaan mie berbahan dasar jagung secara umum dapat
diketahui dari jumlah penduduk di Kabupaten Banyumas. Hal ini dikarenakan mie
merupakan makanan yang dapat dikonsumsi oleh segala umur. Berdasarkan hasil
pencacahan sensus penduduk 2010, jumlah penduduk kabupaten banyumas adalah
1.553.902 orang, yang terdiri dari 777.568 laki-laki dan 776.334 perempuan. Dari
hasil Sensus Penduduk 2010 tersebut terlihat 3 kecamatan yang merupakan urutan
teratas jumlah penduduk adalah Cilongok 108.797 orang, ajibarang 89.861 orang,
dan sokaraja 76.867 orang. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Banyumas
dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Banyumas


Jenis Kelamin

2006
2007
Laki-laki
775.056
785.007
Perempuan
777.196
786.607
Total
1.552.252 1.571.614
Sumber: BPS Kabupaten Banyumas (2010)

Tahun/ jiwa
2008
2009
2010
785.251
761.021
777.568
753.329
783.117
776.334
1.538.580
1.544.138 1.553.902

Penduduk yang terdapat di Kabupaten Banyumas bila dilihat dari


kelompok umur tergolong dalam penduduk usia muda.

Jumlah penduduk

berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Banyumas
Kelompok Umur (Tahun)
Jumlah (Orang)
0-14
438.538
15-59
978.173
60
154.903
Jumlah
1.571.614
Sumber : BPS Kabupaten Banyumas (2009)

Persentase (%)
6,66
64,45
28,89
100

Jumlah konsumen potensial industri mie jagung instant adalah penduduk


di Kabupaten Banyumas. Jumlah penduduk di Kabupaten Banyumas pada tahun
2010 sebanyak 1.553.902 orang. Mie jagung instant yang dibutuhkan sekitar 85
gram per hari per orang atau sekitar 132.081,67 kg mie jagung yang dibutuhkan.
Adanya persaingan dari produk mie lain maka industri mie jagung menargetkan
2,5 persen dari konsumen potensial atau sekitar 3300 kg per hari.
Prospek pasar mie jagung instant juga akan dipasarkan di wilayah lain.
Wilayah yang direncanakan sebagai daerah pemasaran adalah wilayah
barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen).
Pemilihan tersebut dikarenakan wilayah barlingmascakeb tersebut cukup
berdekatan. Selain itu kelima wilayah tersebut telah saling mengadakan kerjasama
di bidang perekonomian sehingga akan memudahkan dalam peluang pasar.
2. Perkembangan harga
a. Bahan baku

Bahan baku yang akan digunakan dalam industri ini adalah tepung jagung
dan pati jagung. Harga tepung jagung berkisar antara Rp.3.200 per kg. Harga pati
jagung Rp6.800 per kg.
b. Mie jagung
Mie jagung yang beredar dipasaran adalah bihun jagung pioneer dengan
harga Rp30.000/ball. 1 ball terdiri dari 10 bungkus dengan berat satuannya 340
gram.
c. Saingan usaha
Persaingan aspek industri sejenis tidak terdapat persaingan yang begitu
tinggi karena produk mie jagung ini merupakan produk baru yang dikembangkan
di wilayah Kabupaten Banyumas. Kebanyakan industri mie yang telah ada berupa
bihun jagung, sehingga peluang untuk membuat mie jagung cukup besar.
3. Strategi pemasaran
Strategi pemasaran memiliki peranan yang penting dalam berhasil atau
tidaknya suatu industri dapat melangsungkan usahanya. Kasmir dan Jakfar (2007)
menyatakan strategi bersaing dan unsur segmentasi, target dan posisi pasar (STP)
ditetapkan, maka selanjutnya perlu diselaraskan dengan kegiatan pemasaran
lainnya seperti strategi bauran pemasaran (marketing mix strategy). Kotler (2003)
menambahkan bahwa strategi pemasaran adalah pendekatan rata-rata yang akan
digunakan oleh unit bisnis dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan lebih
dahulu, didalamnya tercantum keputusan-keputusan pokok mengenai target pasar,
penempatan produk dipasar, bauran pemasaran, dan tingkat biaya pemasaran yang
diperlukan.

Strategi bauran pemasaran (Kasmir dan Jakfar, 2007) tersebut adalah


strategi produk, strategi harga, strategi lokasi dan distribusi, serta strategi promosi.
a.

Strategi Produk
Strategi produk adalah suatu strategi yang berkaitan dengan produk yang

akan diproduksi dan dipasarkan oleh perusahaan. Strategi

yang tepat dapat

menjadikan produk lebih unggul dibandingkan dengan produk saingannya.


Produk yang akan ditawarkan harus sudah melewati beberapa tahapan uji produk.
Spesifikasi produk ditentukan sebagai standar kualitas yang meliputi bahan baku
yang digunakan, proses pembuatan, ukuran, warna, tekstur, bentuk, dan
sebagainya.
Mie jagung adalah jenis mie yang dibuat dari tepung atau pati jagung
dengan penambahan bahan-bahan lainnya. Mie jagung memiliki beberapa
keunggulan dibandingkan produk pangan lainnya. Mie jagung instan mengandung
nilai gizi yang baik yaitu sekitar 360 kalori atau lebih tinggi dibandingkan dengan
nilai gizi pada nasi (178 kalori), singkong (146 kalori), dan ubi jalar (123 kalori).
Namun, nilai gizi ini masih lebih rendah bila dibandingkan dengan mie terigu
instan (471 kalori). Tingginya nilai gizi yang terdapat pada mie jagung instan
menunjukkan bahwa produk tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pangan
alternatif pilihan pengganti nasi. Kandungan lemak mie jagung instan juga jauh
lebih rendah dibandingkan dengan kandungan lemak pada mi terigu instan. Hal ini
dikarenakan tidak adanya proses penggorengan pada mie jagung instan,
melainkan hanya proses pengeringan menggunakan oven saja. Selain itu, mie
jagung instan juga tidak menggunakan pewarna tambahan seperti halnya mie

terigu instan. Warna kuning pada mie jagung merupakan warna alami yang
disebabkan oleh pigmen kuning pada jagung, yaitu lutein, zeaxanthin, dan
karoten.
b.

Strategi Harga
Satu-satunya aspek dalam strategi pemasaran yang menghasilkan

pendapatan adalah harga. Strategi penetapan harga produk dilakukan sebelum


produk dipasarkan. Perusahaan akan menetapkan harga berdasarkan analisis biaya
produksi dan penjualan serta laba yang diinginkan. Besarnya biaya produksi
sangat tergantung pada beberapa variabel seperti bahan baku, tenaga kerja, alat
dan bahan produksi, besarnya investasi, perawatan, penyusutan dan kondisi pasar.
Harga mie jagung instant yang akan dijual adalah kemasan 1 kg dan
kemasan 500 gram. Harga yang akan dijual untuk kemasan 1 kg adalah Rp10.500
dan Rp6.500 untuk kemasan 500 gram.
c. Strategi Distribusi
Strategi tempat termasuk penentuan lokasi pasar serta kegiatan yang
dilakukan perusahaan agar produk dapat diperoleh dan tersedia di pasar sasaran.
Lokasi pasar yang dipilih adalah wilayah banyumas dan sekitarnya, hal ini karena
tingginya permintaan masyarakat dan banyaknya industri kecil dan menengah
yang terdapat di wilayah tersebut akan adanya energi alternatif yang lebih murah
dan berkualias, sehingga belum bisa mencakup wilayah yang lebih luas.
Sistem distribusi untuk produk mie jagung instant direncanakan dengan
menggunakan sistem distribusi langsung dan semi langsung.

Produsen tank

Distributor

Konsumen

Gambar 1. Rencana sistem distribusi briket tempurung kelapa.


Sistem distribusi yang direncanakan tidak menggunakan sistem distribusi
yang tidak terlalu panjang sehingga mudah untuk mengendalikan harga dan mutu
produk yang dijual.
d.

Strategi Promosi
Promosi perlu dilakukan untuk mengenalkan produk ke konsumen, Karena

pada dasarnya produk yang sudah terencana dengan baik yang telah ditentukan
harga jualnya, belum dapat menjamin keberhasilan pemasaran produk. Mie
jagung instant merupakan produk baru di wilayah kabupaten banyumas dan
sekitarnya, sehingga diperlukan strategi yang tepat agar produk tersebut dapat
dikenal konsumen. Mie jagung instant dipromosikan secara langsung maupun
tidak langsung. Strategi pemasaran yang akan diterapkan meliputi:
Pasar sasaran

Masyarakat/rumah tangga, industri kecil maupun


industri menengah.

Keunggulan produk

Mie jagung instan mengandung nilai gizi yang baik


yaitu sekitar 360 kalori. Tingginya nilai gizi yang
terdapat pada mie jagung instan menunjukkan
bahwa produk tersebut dapat dijadikan sebagai
bahan pangan alternatif pilihan pengganti nasi.
Kandungan lemak mie jagung instan juga jauh lebih
rendah dibandingkan dengan kandungan lemak

pada mi terigu instan. Selain itu, mie jagung instan


juga tidak menggunakan pewarna tambahan seperti
Penempatan produk

halnya mie terigu instan.


Mie jagung dengan kualitas yang baik dan harga
terjangkau

Harga eceran tertinggi :

Rp12.000 untuk 1 kilogram dan Rp8.500 untuk

Distribusi

kemasan 500 gram.


Mie jagung tersedia di warung, pasar, dan toko.

Iklan dan promosi

Melalui iklan gratis di internet, membuat website

launching (pengenalan produk) ke konsumen,


pemasaran

online

(teknologi

search

engine),

memasang iklan di media cetak lokal, pendekatan


konsumen melalui tenaga penjualan, pemberian
label

usaha

pada

kemasan,

sehingga

meningkatkan nilai jual dari produk

dapat

III. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS

Hasil analisis dari aspek teknis dan teknologis merupakan suatu simpulan
apakah usulan proyek dapat diterapkan secara teknis, serta efektif secara
teknologi. Jika secara operasional berada pada kondisi yang logis dan
menguntungkan maka rencana pendirian industri tersebut layak ditinjau dari aspek
teknis dan teknologis. Masalah yang dianalisis pada aspek teknis dan teknologis
tersebut adalah mengetahui kelayakan dari : jumlah persediaan bahan baku, proses
produksi dan jenis teknologi proses yang digunakan, kapasitas produksi, dan
pemilihan lokasi yang optimal , serta lay out pabrik dan bangunan kantor.
1.

Ketersediaan bahan baku


Ketersediaan bahan baku menjadi syarat penting dalam menjamin

keberlangsungan produksi. Ketersediaan bahan baku yang baik akan dapat


menjaga keseimbangan proses produksi suatu industri, selain itu kajian bahan
baku dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana peluang ketersediaan bahan
baku di masa yang akan datang.
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan mie jagung adalah tepung
jagung dan pati jagung. Ketersediaan bahan baku industri mie jagung dikaji
berdasarkan potensi ladang tanaman jagung milik rakyat Kabupaten Banyumas
pada tahun 2006 yang paling banyak terdapat di kecamatan Kalibagor 1.293 ton
per tahun, Kembaran 3.795 ton per tahun dan Sumbang 8.688 ton per tahun.

2.

Rencana kapasitas produksi


Kapasitas produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi

untuk mencapai keuntungan yang optimal, sedangkan kapasitas adalah


kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu,
dan biasanya dinyatakan dalam bentuk keluaran (out put) per satuan waktu
(Husnan dan Suwarsono, 1984 dalam Indrawati, 2006). Kapasitas produksi mie
jagung dipengaruhi oleh permintaan pasar dan ketersediaan bahan baku.
Faktor yang mempengaruhi perencanaan kapasitas produksi pada pabrik
pengolahan mie jagung ini adalah ketersediaan bahan baku, ketersediaan modal,
teknologi mesin dan alat pengolahan, serta nilai ekonomis usaha. Kapasitas
produksi mie yang direncanakan 66000 kg per bulan.
Kapasitas maksimum mesin mie adalah 45 kg/jam. Dibutuhkan 9 mesin
mie dengan waktu kerja 8,5 jam untuk memproduksi mie 3300 kg per hari dengan
periode produksi 5 hari dalam seminggu maka dalam satu tahun dapat diproduksi
mie jagung sebesar 792 ton dan akan membutuhkan bahan baku tepung jagung
sebesar 693 ton per tahun dan 297 ton tepung maizena per tahun.
3. Penentuan lokasi
Penentuan lokasi menjadi faktor penting bagi industri mie jagung karena
hal ini sangat mempengaruhi kedudukan perusahaan dalam persaingan dan
menentukan kelangsungan hidup perusahaan. Lokasi pabrik harus memperhatikan
ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, ketersediaan tenaga kerja, listrik
dan air, supply tenaga kerja serta fasilitas transportasi.

Terdapat dua tahap penentuan lokasi yang dilakukan, yaitu penentuan


bobot prioritas parameter kelayakan lokasi dengan metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) dan penentuan alternatif lokasi dengan metode zero-one.
Metode AHP adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan
efektif atas persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan dan mempercepat
proses pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan tersebut kedalam
bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki,
memberi nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap
variabel dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel
yang mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk
mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Pembobotan dilakukan dengan nilai yang paling tinggi diasumsikan
sebagai biaya yang termurah. Menurut Husnan dan Suwarsono (1984) penentuan
bobot prioritas meliputi lima parameter kelayakan lokasi perusahaan. Parameterparameter yang akan dibandingkan adalah kemudahan penyediaan bahan baku
(Bb), kemudahan akses pasar (Ps), ketersediaan tenaga kerja (Tk), ketersediaan
sarana transportasi (St), dan ketersediaan utilitas air dan listrik (Ut). Penentuan
bobot prioritas terhadap kelima parameter dilakukan dengan survei menggunakan
kuisioner menggunakan metode purposive sampling lampiran 1. Penilaian ini
akan bersifat sangat subyektif, sehingga untuk memperoleh satu penilaian hasil
penelitian, diambil dari gabungan hasil penilaian responden dengan nilai yang
paling banyak. Hasil rata-rata penilaian responden dapat dilihat pada lampiran 2.

Penentuan bobot prioritas parameter ini diolah dengan menggunakan alat bantu
Microsoft Excel.
Tahap kedua yaitu penentuan alternatif lokasi dengan zero-one. Metode ini
merupakan penilaian terhadap perbandingan alternatif lokasi yang didasarkan
pada kondisi wilayah yang dimiliki dengan menggunakan bobot parameter yang
telah diketahui sebelumnya. Terdapat lima kecamatan di Kabupaten Banyumas
yang diproyeksikan menjadi alternatif lokasi pendirian pabrik kecap yaitu
Kecamatan Kalibagor, Kecamatan Sumbang, Kecamatan Baturaden, Kecamatan
Sokaraja, dan Kecamatan Kembaran.
Seluruh alternatif ini dibandingkan satu persatu berdasarkan pada setiap
parameter secara bertahap. Hasil perbandingan suatu alternatif bernilai satu (1)
berarti kondisi alternatif tersebut memilki kondisi yang lebih baik atau lebih
menguntungkan dibanding dengan pembandingnya, sebaliknya jika lebih buruk
atau tidak menguntungkan akan bernilai nol (0). Hasil perbandingan antar
alternatif tersebut dapat dilihat pada lampiran 3. Hasil penilaian bobot parameter
akan digabungkan dengan metode AHP dalam satu matriks keputusan alternatif.

Tabel 3. Matriks keputusan pemilihan alternatif lokasi


Parameter

Bb
Bobot

Alternatif
Kec. Kalibagor
Kec. Sumbang
Kec. Baturaden
Kec. Sokaraja
Kec.Kembaran

48,0
19,2
40

Ps

Tk

St

Ut

Total

25,8

13,9

8,0

4,2

100%

3,216

1,684

5,168
20

14,4
30

30
5,168

20
0

10

20

30

1,608

1,392

7,752

1,684
40

2,412
30

2,784
20

0
0

20

10

30

40
0

2,784

7,752

9,6
20

2,784

4,8

40

20

0
0

4,176

0,421
10

0,804
10

0,842
20

33,44
22,35
6,08
16,78
21,78

Alternatif terbaik yang akan dipilih ditentukan dari perolehan persentase


bobot paling besar. Berdasarkan matriks keputusan pemilihan alternatif lokasi,
diperoleh bahwa alternatif lokasi yang paling layak berdasarkan pertimbangan
lima parameter kelayakan lokasi industri yang difokuskan untuk pendirian industri
mie jagung di Kabupaten Banyumas adalah di Kecamatan Kalibagor.
4. Teknologi proses produksi
Pada dasarnya cara membuat mie jagung terdiri dari beberapa tahapan yaitu
tahap pencampuran bahan, pengukusan pertama dan pengulian, pembentukan
lembaran mi, pembentukan untaian mi, pemotongan, pengukusan kedua, dan
pengeringan.
a. Pencampuran
Pembuatan mie jagung kering diawali dengan proses pencampuran bahan
baku utama dan bahan baku tambahan. Proses pencampuran ini bertujuan untuk

menghidrasi tepung dengan air sehingga dihasilkan adonan yang homogen. Mulamula tepung dan pati jagung ditambahkan dengan guar gum atau CMC dan
baking powder. Lalu garam yang telah dilarutkan dalam air ditambahkan sedikit
demi sedikit pada adonan sambil diaduk hingga merata. Penambahan larutan
garam ke dalam adonan harus dilakukan secara bertahap supaya tidak terbentuk
gumpalan-gumpalan pada adonan. Jika pada adonan sampai terbentuk gumpalangumpalan, maka lembaran mie yang dihasilkan saat proses pembentukan
lembaran akan kurang halus permukaannya atau terbentuk noda. Oleh karena itu,
jenis pengaduk yang digunakan serta lamanya waktu pengadukan adonan perlu
diperhatikan untuk menghindari hal tersebut.
b. Pengukusan Pertama
Pada pembuatan produk mie dari bahan non terigu, misalnya mie dari
tepung jagung, diperlukan proses pengukusan adonan yang bertujuan untuk
menggelatinisasi pati. Pati yang tergelatinisasi tersebut akan berperan sebagai
bahan pengikat dalam proses pembentukan lembaran dan untaian mie. Hal ini
dikarenakan protein pada tepung jagung yang sebagian besar terdiri atas zein dan
glutelin (zeanin) tidak mampu membentuk massa yang elastis dan kohesif jika
hanya ditambahkan air saja. Berbeda halnya dengan protein gluten (gliadin dan
glutenin) pada terigu yang dapat bereaksi dengan air membentuk massa yang
elastis dan kohesif. Namun demikian, pengukusan adonan ini hanya bertujuan
agar pati mengalami gelatinisasi sebagian (pregelatinisasi). Bila pati telah
mengalami gelatinisasi sempurna, maka adonan yang dihasilkan akan menjadi
lengket saat pembentukan lembaran mi.

c. Pembentukan lembaran, pencetakan, dan pemotongan


Proses pengukusan dan pengulian pada adonan mi jagung ternyata belum
mampu membentuk massa yang kalis dengan struktur yang kompak, halus,
lembut, lunak, dan cukup elastis seperti halnya adonan dari terigu. Adonan yang
terbentuk masih berupa partikel-partikel tepung yang terberai. Hal ini dikarenakan
proses pengukusan hanya dilakukan untuk menggelatinisasi sebagian pati saja.
Jika proses pengukusan dilakukan hingga seluruh pati tergelatinisasi sempurna,
maka adonan akan menjadi sangat lengket dan menempel di roller sheeting saat
dibentuk menjadi lembaran mi.
Pada proses pembentukan lembaran, adonan yang telah dikukus sedikit
demi sedikit dilewatkan di antara roller sheeting secara berulang kali (5-10 kali)
yang akan mengubah adonan tersebut menjadi lembaran mi. Mula-mula
digunakan jarak antarrol yang kecil (0,6-0,8 mm) sehingga terbentuk lempenganlempengan tipis dan baru kemudian jarak antarrol diperbesar sampai
menghasilkan lembaran mi dengan ketebalan 1,5-2,0 mm. Saat proses
pengepresan ini, lembaran mi ditarik ke satu arah sehingga serat-seratnya sejajar.
Lembaran mi yang tipis selanjutnya dicetak menjadi untaian mi menggunakan
roller pencetak mi (slitter).
d. Pengukusan kedua
Untaian mi yang telah tercetak perlu dikukus terlebih dahulu sebelum
dilakukan pengeringan untuk menghasilkan mi kering. Pengukusan untaian mi ini
bertujuan untuk menyempurnakan gelatinisasi pati sehingga mi tidak akan hancur
ketika dimasak.

e. Pengeringan
Prinsip utama pengeringan adalah pengeluaran air dari bahan akibat proses
pindah panas yang berhubungan dengan adanya perbedaan suhu antara permukaan
produk dengan permukaan air pada beberapa lokasi dalam produk. Proses
pengeringan mi dapat dilakukan dengan menggunakan udara panas (oven).
5. Mesin dan peralatan
Alat dan mesin pada industri ini terdiri dari:
1. Mixer: untuk mencampurkan dua atau lebih bahan sampai terjadi distribusi
yang homogen di antara komponen-komponen dalam bahan tersebut.
2. Cabinet boiler: untuk mengukus
3. Mesin mie: untuk pembentukan lembaran, pencetakan, dan pemotongan mie
4. oven : untuk mengeringkan mie

6. Pengawasan Mutu
Pengawasan mutu merupakan bagian yang cukup penting dalam
menentukan mutu produk akhir yang diinginkan. Pengawasan mutu inii dilakukan
mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengemasan. Produk akhir yang
dihasilkan harus memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. Standar mutu mie
instant menurut SNI adalah :

Tabel 4. Standar mutu kecap menurut SNI nomor SNI 01-3551-2000

Sumber : Badan Standarisasi Nasional (2011).

7. Penetuan kebutuhan ruangan pabrik


Didalam suatu perusahaan, jenis bangunan dapat digolongkan menjadi
dua, yaitu bangunan produksi dan non-produksi. Ruang produksi adalah ruangan
yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan proses produksi dari awal
(diterimanya bahan baku) sampai akhir (produk). Ruangan non produksi yaitu
ruangan selain ruangan produksi yang digunakan untuk mendukung proses
produksi. Kebutuhan ruang untuk proses produksi dan peralatan pada industri
pengolahan kecap sebagian besar digunakan sebagai ruang produksi.
Apple dalam Ardi (2007) mengatakan bahwa kebutuhan ruang yang
digunakan untuk ruangan produksi ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1)

kebutuhan ruang disesuaikan dengan bentuk alat dan wadah alat,

2)

kebutuhan ruangan mesin adalah panjang mesin dikalikan


lebarnya,

3)

kebutuhan ruang untuk operator (bila ada) adalah panjang


peralatan dikalikan satu meter,

4)

kelonggaran yang dipakai adalah 150 persen, kelonggaran ini


dipakai untuk jarak antar peralatan serta lorong untuk pergerakan orang dan
bahan.
Perkiraan kebutuhan luas lahan untuk ruang produksi dapat dilihat pada

Tabel 5.
Tabel 5. Perkiraan kebutuhan luas ruang produksi
No.

Lokasi

Ukuran (m)

Luas (m2)

Panjang

Lebar

1.

Persiapan

16

2.

Pengolahan

64

3.

Pengemasan

36

4.

Gudang Bahan Baku

36

5.

Gudang Bahan Jadi

49

Total

201

Ruangan non produksi atau ruang sipil yang dibutuhkan dalam industri ini
meliputi pos satpam, tempat parkir, kantor, mushola, toilet, laboratorium.
Tabel 6. Perkiraan kebutuhan luas non-produksi
No.

Lokasi

Ukuran (m)

Luas (m2)

Panjang

Lebar

1.

Pos satpam

2.

Kantor

42

3.

Mushola

20

4.

Toilet

1,5

5.

Laboratorium

16

Kantin

28

Tempat parkir

15

60

Total

No
1.
2.
Total luas

Tabel 7. Perkiraan kebutuhan luas lahan


Pusat Aktivitas
Bangunan produksi
Bangunan non produksi

179

Luas lahan (m2)


201
179
380

8. Keterkaitan antar aktivitas


Keterkaitan antar aktivitas dapat diketahui dengan metode Analysis
Relationship Chart (ARC) yang menggambarkan hubungan kerja antar satu unit
kegiatan dengan kegiatan lainnya. Menurut Apple (1990), peta keterkaitan
kegiatan adalah teknik ideal untuk merencanakan keterkaitan antar setiap
kelompok kegiatan yang saling berkaitan. Peta keterkaitan antar aktivitas pada
industri mie jagung dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2. Peta keterkaitan antar aktivitas pada industri mie jagung


Keterangan:
A (Absolutely necessary)
E (Especially important)
I (Important)
O (Ordinary)
U (Unimportant)
X (Undesirable)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

: letak antar kegiatan mutlak perlu berdekatan


: letak antar kegiatan sangat penting berdekatan
: letak antar kegiatan penting berdekatan
: letak antar kegiatan biasa saling berdekatan
: letak antar kegiatan tidak perlu saling berdekatan
: letak antar kegiatan tidak diharapkan saling
berdekatan

: menggunakan catatan yang sama


: mengunakan tenaga kerja yang sama
: menggunakan ruang yang sama
: derajat kontak personel yang sering dilakukan
: derajat kontak kertas kerja yang sering dilakukan
: urutan aliran kerja
: melaksanakan pekerjaan yang sama
: menggunakan peralatan yang sama
: kemungkinan adanya bau yang tidak enak, ramai, dan lain-lain.

Tabel 8. Lembar kerja (worksheet)


Nama Departemen

Derajat keterdekatan
A

3,5,11,12

4,6

7,8,9,10

1,
3

4,5

12

7,8,9,10

2. Ruang persiapan

1,5

11,12

7,8,9,10

3. Ruang produksi

2,4

6,11,12

7,8,9,10

1,2,3

12

6,7,8,11

9,10

1,2,3,11

4,5,7,8,12

9,10

5,6 8,10,11,12

1,2,3,4,9

5,6,7 10,11,12

1,2,3,4

11,12

7,8,11,12

1,2,3,4,5,6,7,
10

1,5

2,3,4,5,7,8,9,10,1
1

1. Gudang bahan
baku

4. Ruang
pengemasan

3
-

5. Gudang produk
jadi

6. Laboratorium

7. Kantor

8. Mushola

9. Toilet

10. Kantin

12

11.Parkir

11

2,3,4,6,7,8,9,10

1,2,3,4,5,6,9
-

12. Pos satpam

Data yang telah dikelompokkan dalam lembar kerja (worksheet) kemudian


dimasukkan dalam diagram aktifitas template (Activity Template Block Diagram
(ATBD). Hubungan unimportant (U) tidak perlu dicantumkan kembali dalam
diagram ATBD. Tujuan dibuatnya ATBD adalah untuk mempermudah meletakkan
departemen yang akan dibangun dengan memperhatikan hubungan departemen
tersebut dengan departemen yang lain. ATBD hubungan keterkaitan antar ruang
dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3. Hubungan keterkaitan antar ruang


Setelah ATBD selesai dibuat, kemudian disusun sebuah rencana rancangan
tata letak pabrik yang sebelumnya dibuat diagram hubungan aktivitas antar
departemen atau ARD (Activity Relationship Diagram) dengan memperhatikan
pola hubungan yang tertera dalam ATBD diatas. ARD menerangkan alur proses
produksi dan perpindahan bahan dan material produksi yang dibuat berdasarkan
kepada alur proses produksi. ARD dibuat dengan menyusun tiap blok pada ATBD
dengan memperlihatkan pola hubungan yang ada dan mengabaikan luasan
sebenarnya dari tiap departemen. Pola ARD dapat dilihat pada Gambar berikut

Gambar 4. Activity Relationship Diagram (ARD)


Berdasarkan diagram keterkaitan antar aktivitas unit produksi diatas,
rancangan tata letak pabrik dapat dibuat dengan sedetail mungkin dengan
memperhatikan tata letak dan kemungkinan luasan yang dibutuhkan untuk setiap
departemen sehingga diperoleh lay out yang jelas dari perusahaan yang akan
didirikan. Rancangan pabrik dengan memperhatikan detail-detail yang diperlukan
dapat digambarkan dengan lay out pabrik sesuai dengan keadaan pabrik
sebenarnya. Rencana lay out pabrik terdapat pada Gambar 5.

Gambar 5. Layout perusahaan dalam bentuk 2 dimensi

IV. ASPEK MANAJEMEN OPERASIONAL

Analisis aspek manajemen operasional merupakan aspek ketiga dari


analisis teknoekonomi industri mi jagung. Hasil dari analisis aspek manajemen
operasional merupakan suatu simpulan apakah pendirian industri mie jagung
instant ini memiliki keteraturan manaerial serta didukung oleh ketersediaan
Sumber Daya Manusia yang memadai.
Masalah yang dikaji pada analisis manajemen operasional ini adalah:
struktur

organisasi

perusahaan,

rancangan

jabatan,

laporan

perusahaan,

manajemen penggajian, dan manajemen pengadaan bahan baku.


1.

Struktur organisasi
Kelancaran aktivitas perusahaan ditunjang oleh struktur organisasi
perusahaan itu sendiri. Struktur organisasi dibentuk untuk menentukan
pengelompokkan

kegiatan-kegiatannya,

penugasan

wewenang

dalam

melaksanakan pekerjaan, menentukan koordinasi kewenangan dan hubungan


informasi baik horisontal maupun vertikal untuk mencapai tujuan daripada sarana
keseluruhan atau untuk mencapai tujuan setiap bagiannya (Husnan dan
Suwarsono, 2000).
Industri mie jagung instant memerlukan manajemen pengelolaan untuk
melaksanakan tindakan-tindakan manajemen meliputi perencanaan, pelaksanaan,
pengontrolan, dan pengevaluasian. Sistem manajemen pada industri mie jagung
menggunakan sistem organisasi garis (line organization). Sistem ini mempunyai

pengertian bahwa setiap atasan mempunyai bawahan yang tetap dan sebaliknya
setiap bawahan mempunyai satu atasan yang tetap.
Struktur organisasi pada industri mi jagung cap dua tongkol digambarkan pada
gambar berikut.
Direktur

Kabag.
Produksi

Staf
QC

Bagian
Produk
si

Bagian
non
Produksi

Kabag.
Umum

Kabag.
Keuangan
dan

Staf
Keamana
n

Staf
keuanga
n

Kabag
Pemasaran

Staf
Pemasaran

Gambar 5. Struktur organisasi industri mie jagung cap dua tongkol

2.Rancangan jabatan
Batasan rancangan jabatan yang dimaksud adalah spesifikasi, kualifikasi,
deskripsi tugas, wewenang serta tanggung jawab masing-masing personal yang
terlibat dalam organisasi. Peningkatan produktifitas dapat dipacu dengan
penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan spesifikasi dan kualifikasinya.
Penyusunan spesifikasi dan kualifikasi tenaga kerja dilakukan dengan
mempertimbangkan skala usaha, jenis usaha, serta ruang lingkup pekerjaan.
Kualifikasi dan spesifikasi kebutuhan tenaga kerja perusahaan dapat dilihat pada
Tabel 9 berikut:

Tabel 9. Kualifikasi dan spesifikasi jabatan industri mie jagung instant cap
dua tongkol
No
1

Jabatan
Direktur

Jumlah
1

Kualifikasi
S1/S2

Kabag Produksi

S1

3
4
5
6
7

Kabag Umum
Kabag Keuangan
Kabag Pemasaran
Staff QC
Bagian Produksi

1
1
1
2
10

S1
S1
S1
D3
D3/S1

8
9
10
11

Staff Keamanan
Staff Keuangan
Staff Pemasaran
Bagian Non Produksi
-Sopir
-Office boy
Jumlah

2
2
4

SMA/SMK
D3/S1
D3
SMA/SMK

2
2
29

Spesifikasi
-Teknologi
Hasil
Pertanian
-Pengalaman 3 tahun
-Teknologi
Hasil
Pertanian/
Teknik
Industri
-mempunyai
pengalaman di bidang
yang sama
-manajemen
- Akuntansi
- Marketing
-Teknik kimia
-Teknik Industri/ Teknik
Hasil Pertanian
-Bersertifikat satpam
- Akuntansi
- Marketing
-Mempunyai sim A
-Sehat jasmani rohani

Deskripsi tugas dan tanggung jawab jabatan disusun untuk memudahkan


orang yang melaksanakan pekerjaan, mengenali, dan mendapatkan gambaran
mengenai tugas dan tanggung jawabnya. Deskripsi tugas dan tanggung jawab
jabatan pada industri mie jagung instant cap dua tongkol adalah sebagai berikut:
a. Direktur
Direktur merupakan pemimpin perusahaan yang mempunyai wewenang
untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang bersifat umum dan keputusan lain
yang menyangkut semua kegiatan perusahaan. Direktur mempunyai tugas
untuk

melakukan

fungsi-fungsi

manajemen

meliputi

perencanaan,

pengorganisasian, pengkoordinasian, pengarahan, dan pengawasan sehingga

kegiatan produksi dapat berjalan dengan baik. Batasan tanggung jawab direktur
adalah membuat kebijakan-kebijakan strategis berkaitan dengan pengoperasian
perusahaan dengan wewenang yang dimiliki, mengkoordinasikan aktivitas
perusahaan dengan para staf perusahaan, memantau perkembangan pabrik secara
umum, dan menerima laporan dari masing-masing kepala bagian.
b. Kepala Bagian Produksi
Kepala Bagian Produksi bertugas untuk mengkoordinasikan faktor
produksi yang ada di bagian produksi (manusia, modal dan bahan baku) agar
proses produksi berjalan secara efektif dan effisien.

Kepala bagian produksi

bertanggung jawab terhadap kinerja bagian produksi kepada direktur perusahaan


dan mendelegasikan tugas dan wewenang kepada SDM yang ada, serta dapat
membuat keputusan yang sifatnya operasional berkenaan dengan proses produksi
atau keputusan startegis melalui koordinasi dengan direktur perusahaan.
c. Kepala bagian umum
Kepala bagian umum membawahi staf keamanan. Kepala bagian umum
bertanggung jawab sepenuhnya pada hubungan masyarakat dan sistem keamanan
pabrik.
d. Kepala bagian pemasaran
Kepala bagian umum membawahi staf pemasaran.

Kepala bagian

pemasaran bertanggung jawab sepenuhnya pada sistem pemasaran produk.

e. Kepala bagian keuangan


Kepala bagian keuangan membawahi staf keuangan. Kepala bagian
keuangan bertanggung jawab sepenuhnya pada sistem keuangan dalam
perusahaan.
f. Staf QC (quality control)

Staf quality control bertugas mengontrol manajemen mutu mulai dari


bahan baku, proses produksi, maupun mutu produk akhir, dan setiap akhir bulan
staf ini bertugas meneliti mutu produk akhir di laboratorium untuk menjaga
kualitas mutu tepung jagung yang akan diproduksi menjadi mi jagung dan mi
jagung cap dua tongkol yang akan di pasarkan.
g. Staf keuangan
Batasan tanggung jawab dari staf keuangan adalah mempertanggung
jawabkan aktivitas bagian administrasi keuangan kepada kabag keuangan,
mengatur

keuangan perusahaan yaitu memberikan informasi mengenai

penempatan posisi-posisi penerimaan dan pengeluaran untuk memberikan


pertimbangan bagi kepala bagian keuangan dalam mengambil keputusan, dan
membantu kepala bagian umum dalam membuat anggaran perusahaan.
h. Staf pemasaran
Staf pemasaran bertanggung jawab untuk merealisasikan target penjualan,
serta mempromosikan produk perusahaan.
i. Staf keamanan
Tenaga non produksi terdiri dari 2 orang satpam yang bertanggung jawab
terhadap keamanan perusahaan.
j. Bagian produksi
Bagian produksi merupakan karyawan terlatih yang menguasai prinsipprinsip pengolahan mi jagung dan tepung jagung. Bagian produksi ini terdiri dari
orang yang terbagi menjadi beberapa bagian. Tiap dua minggu sekali antar bagian

ini mengalami pertukaran untuk menyamakan beban kerja dan jam kerja. bagianbagian produksi tersebut adalah:
k. Bagian non produksi
Bagian non produksi merupakan karyawan yang membantu kelancaran
jalannya proses produksi. Staf non produksi terdiri dari 4 orang diantaranya
bidang transportasi (sopir) dan office boy.
3.

Laporan perusahaan
Sistem laporan yang direncanakan pada industri ini adalah laporan harian
dan laporan bulanan yang kemudian direkap sebagai laporan akhir tahun.
Pelaporan ini bertujuan untuk memantau kegiatan perusahaan dan sebagai wujud
tanggung jawab suatu level manajemen kepada manajemen diatasnya.
a. Laporan harian
Laporan harian berisi seluruh kegiatan perusahaan pada hari tersebut pada
setiap harinya. Laporan disusun dan dilaporkan pada level manajemen di atasnya
sebagai wujud tanggung jawab terhadap perusahan.
b. Laporan bulanan
Laporan bulanan merupakan hasil rekapitulasi laporan harian dalam bulan.
Rekapitulasi dilakukan oleh bagian keuangan dan dapat dijadikan bahan evaluasi
dalam kegiatan pengembangan perusahaan.
c. Laporan tahunan
Merupakan rekapitulasi dan ringkasan laporan tiap bulan dalam satu tahun
buku. Laporan ini disampaikan dalam rapat perusahaan pada setiap akhir tahun.
4.Manajemen penggajian

Permasalahan

gaji

merupakan

hal

yang

sering

menimbulkan

ketidakharmonisan dan ketidakpuasan dalam suatu organisasi perusahaan. Karena


biasanya sistem penggajian tidak disusun berdasarkan beban kerja, ruang lingkup
tugas dan tanggung jawab yang dimiliki seseorang. Kondisi ini menyebabkan
terjadinya ketidak sesuaian antara keperluan karyawan dengan kemauan
manajemen perusahaan.
Kurniawan (2003) dalam Kasmin (2005) menyatakan bahwa menejemen
penggajian harus disusun dengan mempertimbangkan beberapa faktor, meliputi:
(1) Kemampuan perusahaan dalam memberikan gaji/upah, (2) analisis beban kerja
yang dimiliki seseorang dalam perusahaan, (3) rentang gaji antara jabtan tertinggi
dan terendah, (4) standar penggajian pada perusahaan-perusahaan sejenis, serta
(4) mengacu pada peraturan pemerintah tentang upah minimum kabupaten
(UMK).
Manajemen penggajian pada industri mi jagung cap dua tongkol ini disusun
dengan mempertimbangkan beberapa hal terkait dengan struktur organisasi, beban
tugas serta wewenang yang dirancang sebelumnya. Manajemen penggajian
mengacu pada Surat Ketetapan Gubernur Jawa Tengah No. 561.4/108/2009
tanggal 17 November 2009 tentang Upah Minimum pada 35 Kabupaten atau Kota
di Jawa Tengah per 1 Januari 2010 yang menyebutkan bahwa besarnya UMK
Banyumas tahun 2010 sebesar Rp. 670.000. Industri mi jagung direncanakan
didirikan di Kabupaten Banyumas sehingga mengacu pada keputusan tersebut
maka gaji terendah pada perusahaan ini yaitu sebesar Rp. 700.000 per bulan.

Sistem kerja yang digunakan yaitu sistem satu shift, dimulai dari pukul
07.30 sampai pukul 16.00 dengan waktu istirahat satu jam. Kecuali itu sistem
kerja yang digunakan bagian keamanan adalah dua shift, shift 1 dimulai dari pukul
06.00 sampai pukul 18.00 dengan waktu istirahat satu jam, sedangkan shift 2
dimulai dari pukul 18.00 sampai pukul 06.00 dengan waktu istirahat satu jam.
Hari kerja dalam satu bulan produksi yaitu 20 hari. Hari libur adalah hari minggu
ditambah tiga hari libur Hari Raya. Struktur gaji pokok karyawan disajikan dalam
Tabel 10.
Tabel 10. Daftar rencana gaji pokok karyawan perusahaan
No

Jabatan

1.
2.
3.
4.
5.
4.
5.
6.
7.
8.

Direktur
Kabag Produksi
Kabag Umum
Kabag Pemasaran
Kabag Keuangan
Staf adm. keuangan
Staf QC
Staf Pemasaran
Bagian produksi
Bagian non produksi
Office boy
Sopir
Staf keamanan

9.
Total

Jmlh

Gaji (Rp)

1
1
1
1
1
2
2
4
10

2.500.000
1.900.000
1.900.000
1.900.000
1.900.000
1.400.000
1.350.000
1.400.000
1.300.000

2
2
2
29

800.000
800.000
900.000

Gaji/bulan
(Rp)
2. 500.000
1.900.000
1.900.000
1.900.000
1.900.000
2.800.000
2.700.000
5.600.000
13.000.000

Gaji/tahun
(Rp)
27.000.000
42.000.000
21.000.000
21.000.000
21.000.000
30.000.000
30.000.000
57.600.000
120.000.000

1.600.000
1.600.000
1.800.000
36.700.000

16.800.000
16.800.000
19.200.000
440.400.000

V. ASPEK YURIDIS

Aspek hukum merupakan aspek keempat yang dikaji dalam studi


kelayakan pendirian industri mi jagung di Kabupaten Banyumas.

Hasil dari

kajian aspek hukum merupakan suatu simpulan apakah rencana pendirian industri
ini memiliki kesesuaian dengan peraturan yang berlaku dan tidak menyimpang
dari hukum yang ada. Jika rencana pendirian industri ini tidak bertentangan
dengan peraturan hukum yang berlaku maka rencana pendirian industri ini
memiliki kelayakan ditinjau dari aspek hukum.
1.

Bentuk badan usaha


Pemilihan bentuk badan usaha harus ditetapkan pada saat perusahaan akan

didirikan atau akan dimulai melaksanakan operasinya. Atas dasar pertimbangan


keefektifan koordinasi dalam fungsi organisasi dan modal usaha yang diperlukan
cukup besar, maka bentuk badan usaha yang memungkinkan untuk dijalankan
adalah CV atau Persekutuan Komanditer. Bentuk usaha ini lebih komplek bila
dibandingkan dengan perusahaan perseorangan, namun lebih sederhana
dibandingkan dengan PT. CV adalah suatu bentuk badan usaha bisnis yang
didirikan dan dimiliki oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama
dengan tingkat keterlibatan yang berbeda-beda di antara anggotanya. Satu pihak
dalam CV mengelola usaha secara aktif yang melibatkan harta pribadi dan pihak
lainnya hanya menyertakan modal saja tanpa harus melibatkan harta pribadi
ketika krisis finansial. Bagian yang aktif mengurus perusahaan CV disebut sekutu
aktif, dan yang hanya menyetor modal disebut sekutu pasif.

Ciri dan sifat CV:


a.

Sulit untuk menarik modal yang telah disetor

b.

Modal besar karena didirikan banyak pihak

c.

Mudah mendapatkan kredit pinjaman

d.

Ada anggota aktif yang memiliki tanggung jawab tidak terbatas dan ada
yang pasif tinggal menunggu keuntungan

e.

Relatif mudah untuk didirikan

f.

Kelangsungan hidup perusahaan CV tidak menentu.


2.

Perijinan
Perijinan menyangkut penyelesaian perijinan yang dipersyaratkan oleh

pemerintah daerah setempat dalam pendirian usaha atau industri. Persyaratan yang
dipersyaratkan oleh pemerintah daerah antara satu daerah dengan daerah lain
biasanya berbeda walaupun pada prinsipnya sama. Sebelum pengurusan perijinan
ke pihak pemerintah daerah, perusahaan terlebih dahulu harus membuat akta
pendirian usaha ke notaris. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor. 13 Tahun 1995
tentang Ijin usaha Industri dan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Nomor 256 /MP /Kep / 7 /1997 tentang ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin
Usaha Industri, Ijin Perluasan dan Tanda Daftar Industri, semua kegiatan
perindustrian wajib dilengkapi dengan Tanda Daftar Industri (TDI). Hal tersebut
bertujuan

untuk

mempermudah

pemantauan

dari

pemerintah

setempat.

Permohonan Tanda Daftar Industri disampaikan kepada Dinas Perindustrian,


Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Banyumas dengan mengisi formulir
permohonan Tanda Daftar Industri yang dilampiri dengan akta pendirian

perusahaan dari notaris, denah atau tata letak tempat usaha, dan pendapat tentang
keberatan atau tidaknya terhadap usaha yang hendak didirikan dari pemilik rumah
atau tanah dan tetangga sekitarnya.
Menurut SK.Menperindag RI No. 408 / Mpp / Kep / 10 / 1997 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Tanda daftar Usaha perdagangan (TDUP) dan
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP). Setiap kegiatan usaha yang telah masuk
dalam kriteria atau masuk dalam daftar klasifikasi uaha wajib SIUP (modal lebih
dari 10 juta) wajib memiliki SIUP dari daerah setempat. Permohonan pembuatan
SIUP disampaikan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Tengah dengan mengisi formulir permohonan ijin usaha dengan dilampiri akta
pendirian perusahaan, ijin tempat usaha, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan pas
foto penghadap. Sebelumnya perusahaan melakukan permohonan pengesahan
pendirian perusahaan yang disampaikan kepada Menteri Kehakiman Hukum dan
Hak Asasi Manusia dengan melampirkan akta notaris, ijin tempat usaha, dan
Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP).
Prosedur pemberian Ijin Usaha Industri (IUI) dan Tanda Daftar Industri
(TDI) dilakukan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten
Banyumas. Permohonan surat-surat tersebut dapat dilakukan apabila telah
mendapatkan ijin-ijin sebelumnya yaitu NPWP, ijin tempat dan ijin HO, serta ijin
IMB.
3.

Perjanjian
Perjanjian lebih merupakan nota kesepakatan yang dituangkan dalam

sebuah surat yang disahkan oleh pihak yang berkepentingan yaitu notaris untuk

menjaga keterjaminan kepentingan masing-masing pihak.

Surat perjanjian

tersebut diantaranya surat perjanjian kontrak yang mengikat antara perusahaan


dan mitra.
4.

Pengelolaan lingkungan
Tata cara pengelolaan lingkungan yang merupakan suatu kegiatan untuk

mengidentifikasi,

memprediksikan,

menginterpretasikan,

dan

mengkomunikasikan pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan.


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1982 tentang ketentuan pokok
lingkungan hidup, suatu industri yang mencemarkan lingkungan harus dapat
bertanggung jawab dalam penanganan limbah tersebut.
Menurut Pasal 2 PP 27/99 tentang Analisis Mengenai dampak lingkungan
(AMDAL), dokumen analisis mengenai dampak lingkungan merupakan bagian
dari kelayakan teknis finansial ekonomi.

Dokumen tersebut juga merupakan

syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan ijin melakukan usaha dan atau
kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang.

Hal tersebut sesuai

dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 10 dan 11 tahun 2003


yang menyatakan bahwa sesuai dengan Izin Usaha Indsutri (IUI) dan Tanda
Daftar Industri (TDI) yang diperoleh, maka perusahaan wajib:
a. Melaksanakan upaya keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam serta
pencegahan timbulnya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan hidup
akibat kegiatan industri yang dilakukan dengan melaksanakan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau Upaya Pengelolaan
Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) atau Surat

Pernyataan Pengelolaan Lingkungan (SPPL) yang berlaku bagi jenis-jenis


industri yang telah ditetapkan.
b. Melaksanakan upaya yang menyangkut keamanan dan keselamatan alat,
bahan baku, dan bahan penolong, proses serta hasil produksinya termasuk
pengangkutannya dan keselamatan kerja.
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 tahun
2001 tentang jenis Rencana Usaha Dan Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi
Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, kegiatan bidang
perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air, udara, tanah,
gangguan kebisingan, bau, dan getaran. Beberapa jenis industri menggunakan air
dengan volume sangat besar, yang diperoleh baik dari sumber air tanah maupun
air permukaan. Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar.
Berbagai potensi pencemaran, gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut
dapat menimbulkan dampak sosial.
Hampir semua industri menghasilkan limbah yang berupa limbah cair,
limbah gas, dan limbah padat. Limbah industri mi jagung ditangani berdasarkan
jenisnya yaitu limbah cair dan limbah padat.
Limbah cair dihasilkan pada saat pencucian bahan baku (perendaman dan
perebusan) dan pembersihan alat produksi. Pada proses pembersihan tersebut,
kotoran-kotoran akan ikut ke dalam sistem atau tempat pembuangan limbah cair.
Penanganan limbah cair pada industri mi jagung umumnya dengan membuat
saluran pembuangan limbah cair. Limbah cair yang dihasilkan dalam pengolahan
mi jagung tidak menimbulkan bau yang dapat menggangu kenyamanan

lingkungan karena limbah tersebut hanya dihasilkan pada saat proses pencucian
bahan baku dan pencucian alat-alat produksi. Limbah padat yang dihasilkan
dalam pengolahan mi jagung adalah tongkol jagung yang diperoleh ketika
membuat tepung jagung. Limbah padat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai
pakan ternak.

VI. ASPEK FINANSIAL


Analisis finansial bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan usaha mie
jagung dalam kaitan kelayakan usaha mie jagung, untuk mengetahui berapa
minimal seorang produsen mengusahakan mie jagung dan untuk menghindarkan
keterlanjutan investasi pada usaha yang tidak menguntungkan. Analisis finansial
dapat digunakan sebagai petunjuk di bidang sarana keuangan, yang dilengkapi
dengan informasi yang sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak lain, seperti lembaga
pemberi dana (perbankan maupun rekan usaha).
Aspek finansial merupakan aspek terakhir yang dianalisis. Penentuan
didirikannya perusahaan harus melalui aspek ini. Aspek finansial meliputi semua
aspek dalam rencana pendirian perusahaan, sehingga sangat bergantung pada
analisis aspek sebelumnya. Jumlah investasi perusahaan, parameter analisis, biaya
operasional, penyusutan, serta perhitungan berbagai kemungkinan yang mungkin
terjadi pada masa yang akan datang diperhitungkan dalam aspek ini.

1.

Parameter analisis keuangan

Dasar perhitungan dan parameter yang digunakan dalam analisis keuangan


pada industri dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Dasar perhitungan dan parameter dalam analisis keuangan
No
Asumsi
Satuan
Jumlah
1 Periode proyek
Tahun
5
2 Bulan kerja per tahun
bulan
12
3 Hari kerja per bulan
Hari
20
4 Kapasitas produksi maks. per
kilogram
66.000
bulan
5 Volume penjualan maks. per
kilogram
66.000
bulan
6. Tenaga kerja bersifat tetap
Orang
32
7. Rendemen produksi
%
90
8. Suku bunga
%
15
9. Proporsi kredit:
Modal sendiri
%
70
Kredit
%
30
10 Jangka waktu kredit investasi
Tahun
3
.
2.

Investasi perusahaan
Peralatan dan fasilitas yang diperlukan dalam industri ini untuk
beroperasi beserta jumlah dan nilainya dapat dilihat pada tabel 12.
Berdasarkan
pertama

tabel

untuk

tersebut

bangunan

dapat
dan

diketahui

peralatan

bahwa

produksi

investasi
yaitu

Rp

598.145.000. Peralatan tersebut terdiri dari peralatan produksi,


peralatan pendukung, kendaraan, dan peralatan kantor. Peralatanperalatan tersebut masing-masing memiliki nilai ekonomis yang
berbeda-beda. Nilai depresiasi dari peralatan-peralatan tersebut
dibagi menjadi dua bagian yaitu depresiasi dengan umur ekonomis
3 tahun, 5 tahun dan 10 tahun.

Depresiasi per tahun dihitung dengan cara membagi nilai harga


peralatan yang sudah dikurangi nilai sisa barang dengan umur
proyek. Nilai sisa barang diasumsikan sebesar sepuluh persen dari
harga peralatan

yang

mempunyai

umur ekonomis 3 tahun.

Peralatan dengan umur ekonomis 3 tahun memiliki total investasi


sebesar Rp 825.000 dan nilai depresiasi tiap tahun dari peralatan
tersebut sebesar Rp 247.500. Peralatan yang memiliki umur
ekonomis

tahun

setelah

umur

ekonomisnya

habis

harus

diperbaharui. Oleh karena itu pada awal tahun ke enam harus


dilakukan pembelian kembali peralatan tersebut. Investasi untuk
peralatan dengan nilai umur ekonomis 3 tahun yaitu sebesar Rp
82.500.
Peralatan yang memiliki umur ekonomis 5 tahun sebagian besar
adalah peralatan kantor. Nilai total investasi perusahaan yang
memiliki nilai ekonomis 5 tahun adalah sebesar Rp 5.850.000 . Nilai
sisa dari barang dan peralatan dengan umur ekonomis 10 tahun
sebesar Rp 1.053.000 dan besarnya depresiasi adalah Rp 585.000.
Peralatan yang memiliki umur ekonomis 10 tahun sebagian besar
adalah bangunan, mesin, fasilitas pabrik dan alat transportasi. Nilai
total investasi perusahaan yang memiliki nilai ekonomis 10 tahun
adalah sebesar Rp 456.020.000 . Nilai sisa dari barang dan
peralatan dengan umur ekonomis 10 tahun sebesar Rp 41.041.000
dan besarnya depresiasi adalah Rp 45.602.000.

Tabel 12. Jumlah peralatan dan fasilitas serta biaya investasi awal.

N
o
1

Jenis biaya

Satuan

Jumlah

Total biaya
(Rp)

Harga/ satuan

Perijinan

1.500.000
2

pendirian CV

Pengadaan tanah

893

150.000

133.950.000

Bangunan
m2

201

800.000

160.800.000

179

800.000

143.200.000

446,00

20.000

8.920.000

bangunan pabrikasi
bangunan non pabrikasi
pagar keliling
4

500.000

Peralatan produksi
Tahap pembuatan mie
Mixer

unit

4.000.000

Cabinet boiler

unit

1.000.000

Mesin mie kapasitas 4045kg per jam


Oven Dryer

unit

6.500.000

unit

7.000.000

Timbangan duduk

unit

350.000

700.000

Unit

700.000

2.100.000

Instalasi listrik

unit

2.500.000

2.500.000

Instalasi telepon

unit

500.000

Instalasi air

unit

5.000.000

5.000.000

Generator set cadangan

unit

3.000.000

3.000.000

unit

70.000.000

70.000.000

Komputer

Unit

4.500.000

4.500.000

Printer

Unit

800.000

Lemari arsip

Unit

2.000.000

2.000.000

Meja dan kursi kantor

Unit

1.000.000

8.000.000

White board

Unit

50.000

Meja kursi tamu

paket

1.500.000

Peralatan kantor lain

paket

500.000

16.000.000
5.000.000
58.500.000
21.000.000

Tahap pengemasan
Sealer
5

utilitas

Kendaraan
mobil box

500.000

Peralatan kantor

Total investasi

800.000

50.000
1.500.000
500.000
650.020.000

Tabel 13. Barang dan peralatan yang memiliki umur ekonomis 3 tahun

Jenis biaya

Satuan

Jumlah

Harga/
satuan

Total
biaya
(Rp)

Nilai sisa tahun


ke 3 (10% dari
total biaya) (Rp)

Penyusutan
/ tahun (Rp)

350.000

700.000

70.000

210.000

350.000

700.000

70.000

210.000

Tahap pembuatan mie


jagung
-

Total

Timbangan duduk

unit

Tabel 14. Barang dan peralatan yang memiliki umur ekonomis 5 tahun
Jenis biaya

Satuan

Jumlah

Harga/
satuan

Total
biaya (Rp)

Nilai sisa
(10% dari
total biaya)
(Rp)

Penyusutan
/ tahun
(Rp)

Peralatan kantor

unit

Komputer

unit

4.500.00
0

4.500.000

450.000

810.000

Printer
Peralatan kantor
lain

unit

800.000

800.000

80.000

144.000

unit

500.000

500.000

50.000

90.000

White board

unit

50.000
5.850.00
0

50.000

5.000

9.000

5.850.000

585.000

1.053.000

Total

Tabel 15. Barang dan peralatan yang memiliki umur ekonomis 10 tahun
Satuan

Jumlah

Harga/
satuan

Total biaya
(Rp)

Nilai sisa
(Rp)

Penyusutan
/ tahun (Rp)

m2

201

800.000

160.800.000

16.080.000

14.472.000

bangunan non pabrikasi

179

800.000

143.200.000

14.320.000

12.888.000

pagar keliling

m2

446

20.000

8.920.000

892.000

802.800

Peralatan produksi
Tahanp persiapan
pembuatan mie
Mixer

unit

4.000.000

16.000.000

1.600.000

1.440.000

Cabinet boiler

unit

1.000.000

5.000.000

500.000

450.000

Mesin mie kapasitas 4045kg per jam


Oven Dryer

unit

6.500.000
58.500.000

5.850.000

5.265.000

unit

7.000.000

21.000.000

2.100.000

1.890.000

Unit

700.000

2.100.000

210.000

189.000

Instalasi listrik

Unit

2.500.000

2.500.000

250.000

225.000

Instalasi telepon

Unit

500.000

500.000

50.000

45.000

Instalasi air

Unit

5.000.000

5.000.000

500.000

450.000

Generator set cadangan

Unit

3.000.000

3.000.000

300.000

270.000

Mobil box

Unit

70.000.000

70.000.000

7.000.000

6.300.000

Peralatan kantor
Lemari arsip

Unit

2.000.000

2.000.000

200.000

180.000

Meja dan kursi kantor

Unit

1.000.000

8.000.000

800.000

720.000

Jenis biaya
Bangunan
bangunan pabrikasi

Tahap pengemasan
Sealer
Utilitas

Kendaraan

Meja kursi tamu

paket

1.500.000

Total

1.500.000

150.000

135.000

508.020.000

50.802.000

45.721.800

3. Biaya operasional
Biaya operasional terdiri dari biaya tidak tetap (variabel) dan biaya tetap
(fixed cost). Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dipengaruhi oleh jumlah
kapasitas produk atau merupakan biaya yang sifatnya tidak tetap dari tahun ke
tahun. Jenis biaya ini terdiri dari biaya pengadaan bahan baku, pengemas dan
biaya lainnya.
Tabel16. Kebutuhan biaya variabel (kapasitas 66.000 Kg per bulan)
No
1

Satuan

Harga/Satuan

Jumlah
kebutu
han per
hari

tepung jagung

Kg

3.200

2887,5

57.750

184.800.000

2.217.600.000

pati jagung

Kg

6.800

1237,5

24.750

168.300.000

2.019.600.000

Garam

Kg

2.200

41,25

825

1.815.000

21.780.000

13.000

12,375

248

3.217.500

38.610.000

Kg

12.000

41,25

825

9.900.000

118.800.000

Plastik kemasan
kapasitas I kg

Unit

9.000

12

240

2.160.000

25.920.000

Plastik kemasan
kapasitas 500 g

unit

7.500

21

420

3.150.000

37.800.000

60.000

0,75

15

900.000

10.800.000

400.000
100.000
1.000.000
300.000
100.000

4.800.000
1.200.000
12.000.000
3.600.000
1.200.000

300.000

3.600.000

376.442.500

4.517.310.000

Uraian

CMC

Total per
tahun (Rp)

Pengemas

Kayu Bakar
3

Total per
bulan (Rp)

Bahan baku

Baking powder
2

Jumlah
kebutuhan
(per bulan)

Lain-lain
transportasi
-telepon
-listrik
-iklan
uji mutu
biaya lain

bulan
unit
unit
paket
paket

400.000
100.000
1.000.000
300.000
100.000

400.000
100.000
1.000.000
300.000
100.000

300.000

300.000

Jumlah Total

Tabel 17. Kebutuhan biaya tetap

No

Uraian

Satuan

Harga/Satuan

Jumlah
kebutuhan
(per bulan)

2.500.000

1.900.000
1.900.000

1
1

1.900.000

1.900.000

1.400.000

1.350.000

1.400.000
1.300.000
800.000

4
10

Total per
bulan

Total per
tahun

2.500.000

30.000.000

1.900.000

22.800.000

1.900.000

22.800.000

1.900.000

22.800.000

1.900.000

22.800.000

2.800.000

33.600.000

2.700.000

32.400.000

5.600.000

67.200.000

13.000.000

156.000.000

Tenaga Kerja
1

Direktur

Kabag Produksi
Kabag Umum

3
4
5
6
7

Kabag
Pemasaran
Kabag
Keuangan
Staf adm.
keuangan
Staf QC

orang
orang
orang
orang
orang
orang
orang

11

Staf Pemasaran
Bagian produksi
Bagian non
produksi
staff keamanan

12

Perawatan Listrik

bulan

50.000

50.000

600.000

13
14

Abonemen Listrik

bulan

40.000

40.000

480.000

Perawatan Telepon

bulan

50.000

50.000

600.000

15

Abonemen Telepon
Perawatan Alat &
Mesin

bulan

30.000

30.000

360.000

bulan

100.000

100.000

1.200.000

17
18

Perawatan Kendaraan

bulan

300.000

900.000

10.800.000

Perawatan Bangunan

bulan

50.000

50.000

600.000

19

Pengantian Surat-surat
Kendaraan

tahun

1.000.000

Pajak Bumi dan


Bangunan

tahun

250.000

8
9
10

16

20
21

Asuransi Bangunan
Jumlah Total

orang
orang
orang

3.200.000

38.400.000

orang

900.000

1.800.000

21.600.000

bulan

100.000

100.000
40.520.000

1.200.000
487.490.000

4. Modal kerja awal


Kebutuhan modal kerja untuk industri mie jagung adalah
sebesar kebutuhan untuk pengeluaran biaya produksi percobaan

dengan lama satu bulan. Nilai modal kerja sebesar Rp. 256.960.000.
Perhitungan kebutuhan modal kerja dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Modal kerja awal


Uraian
Bahan baku
tepung jagung
pati jagung
Garam
Baking powder
CMC
Pengemas
Plastik kemasan kapasitas I
kg
Plastik kemasan kapasitas
500 g
Kayu Bakar

Jumlah
kebutuha
n (per
bulan)

Total per
bulan (Rp)

184.800.000
168.300.000
1.815.000
3.217.500
9.900.000

Satuan

Harga/Satuan

Kebutuhan
per hari

kg
kg
kg
kg
kg

3.200
6.800
2.200
13.000
12.000

2887,5
1237,5
41,25
12,375
41,25

57750
24750
825
247,5
825

Unit

9.000

12

240

2.160.000

Unit

7.500

21

420

3.150.000

60.000

0,75

15

900.000

Tenaga Kerja
Direktur
Kabag Produksi
Kabag Umum
Kabag Pemasaran
Kabag Keuangan
Staf adm. keuangan
Staf QC
Staf Pemasaran
Bagian produksi

orang

2.500.000

2.500.000

orang

1.900.000

1.900.000

orang
orang

1.900.000

1.900.000
1.900.000

1
1

1.900.000
1.900.000

1.400.000

1.350.000
1.400.000
1.300.000

2
4
10

800.000
900.000

4
2

13.000.000
3.200.000
1.800.000

orang
orang
orang
orang

1.900.000
2.800.000
2.700.000
5.600.000

Bagian non produksi


staff keamanan

orang
orang
orang

Lain - lain
Perawatan Listrik
Abonemen Listrik
Perawatan Telepon

bulan
bulan
bulan

50.000
50.000
50.000

1
1

50.000
50.000
50.000

Abonemen Telepon
Perawatan Alat & Mesin
Perawatan Kendaraan
Perawatan Bangunan
Pengantian Surat-surat
Kendaraan
Pajak Bumi dan Bangunan
Asuransi Bangunan

bulan
bulan
bulan
bulan

30.000
75.000
400.000
50.000

1
1
2
1

30.000
75.000
800.000
50.000

tahun
tahun
bulan

100.000

1
1
1

100.000
35.000
100.000

transportasi

bulan

400.000

400.000

Telepon
Listrik
Iklan
uji mutu
biaya lain

Unit
Unit
Paket
Paket

100.000
1.000.000
300.000
100.000
300.000

1
1

100.000
1.000.000
300.000
100.000
300.000
232.182.500

Sumber dana investasi dan modal kerja berasal dari modal sendiri dan dari
kredit perbankan dengan perbandingan 70 persen modal sendiri dan 30 persen
kredit dari bank. Kebutuhan modal investasi dan modal kerja dapat dilihat pada
Tabel 19.
Tabel 19. Kebutuhan modal investasi dan modal kerja
Jumlah Investasi
persentase
650.020.000
a. Kredit
30 persen
195.006.000
b. Dana sendiri
70 persen
455.014.000
Jumlah Modal Kerja
232.182.500
a. Kredit
30 persen
69.654.750
b. Dana sendiri
70 persen
162.527.750
Jumlah Dana Proyek
650.020.000
a. Kredit
30 persen
195.006.000
b. Dana sendiri
70 persen
455.014.000
Melihat tabel di atas, jumlah dana kredit proyek dari Bank sebesar Rp.
195.006.000 yang akan dikembalikan dalam jangka waktu 3 tahun (bunga 15
persen) dengan angsuran dibayarkan setiap bulan. Rincian angsuran dapat dilihat
pada Lampiran ??.
5.

Perkiraan pendapatan produksi


Pendapatan perusahaan merupakan hasil yang didapat dari penjualan

produk yang dihasilkan. Pendapatan perusahaan tersebut masih merupakan


pendapatan kotor (bruto) yang belum dikurangi biaya produksi dan pajak.
Perusahaan memperoleh laba dengan mengurangi pendapatan dengan biaya yang

dikeluarkan oleh perusahaan. Laba yang diperoleh merupakan laba sebelum pajak,
sehingga perlu diperhitungkan. Pajak penghasilan (PPh) dihitung berdasarkan
Undang-Undang Perpajakan Tahun 2001 pasal 17 tentang Pajak Pendapatan
Badan Usaha dan Perseroan. Pasal tersebut mengatur besarnya pajak sesuai
dengan jumlah pendapatan. Pendapatan per tahun kurang dari Rp. 50.000.000
dikenakan pajak sebesar 10 persen, bila pendapatan antara Rp. 50.000.000 sampai
Rp. 100.000.000 maka dikenakan pajak 10 persen dari Rp. 50.000.000 ditambah
15 persen dari pendapatan yang telah dikurangi Rp. 50.000.000. Pendapatan diatas
Rp. 100.000.000 ditetapkan pajak 10 persen dari Rp. 50.000.000 ditambah 15
persen dari Rp. 50.000.000 dan ditambah lagi 30 persen dari pendapatan yang
telah dikurangi Rp. 100.000.000.
Laba setelah pajak merupakan laba bersih yang akan diperhitungkan untuk
menghitung nilai cash flow. Nilai cash flow diperoleh dengan cara menjumlahkan
laba setelah pajak dengan nilai depresiasi. Nilai cash flow digunakan untuk
menentukan nilai net present value, pay back period, profitability index, dan IRR.
Tabel 20. Proyeksi penjualan produk
No.

Satuan

Harga/
Satuan
(Rp)

kapasitas
(bungkus)

Total penjualan
per tahun

bungkus

10.500

288.000

3.024.000.000

bungkus

6.000

504.000

3.024.000.000

Jenis produk
Plastik kemasan
kapasitas 1 kg
Plastik kemasan
kapasitas 500 g

1
2
Jumlah

792.000

6.048.000.000

6. Analisis finansial
a) Analisis sensitivitas
Analisis sensitivitas perusahaan dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan
perfoma perusahaan dalam berbagai kondisi pasar yang mempengaruhi semua

faktor produksi. Kondisi tersebut bisa berupa perubahan pendapatan yang


diakibatkan oleh perubahan harga atau perubahan faktor produksi lainnya.
Perubahan pendapatan yang diakibatkan oleh berbagai kondisi sebab seperti
penurunan harga mie jagung di pasaran atau kenaikkan harga bahan baku yang
berakibat pada naiknya biaya operasional. Analisis sensitivitas dilakukan pada
kondisi pendapatan turun 10 persen dan 15 persen, biaya operasional naik 10
persen dan 15 persen, dan investasi naik 25 persen. Analisis sensitifitas dapat
dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Analisis sensitivitas industri mie jagung instant
Keterangan
Keadaan normal
Pendapatan turun 10 persen
Pendapatan turun 15 persen
Biaya operasional naik 10
persen
Biaya operasional naik 15
persen
Biaya investasi naik 25 persen

Penurunan

pada

NPV

PI

2.559.722.
765
639.682.26
5
9.446.015
870.230.19
8
355.267.91
5
1.774.008.
517

5.28
2.07
1.02
2.45
1.59
3.73

pendapatan

PBP
(Tahun
)
-0.06
2.93
5.30
2.54
3.65
1.96

perusahaan

IR
R
(%)
132
37
15
44
27
60

RO
I
(%)
115
52
21
64

38
92

paling

berpengaruh pada NPV, PI, PBP dan IRR. Kondisi-kondisi yang


dapat mempengaruhi pendapatan harus sangat diperhatikan
dan dijaga agar tidak mengalami penurunan yang dapat
mempengaruhi pendapatan perusahaan.
Nilai IRR pada setiap perubahan yang terjadi masih di atas
nilai suku bunga bank yang dipakai dalam analisis (15 persen)

yang menandakan perusahaan dinilai sebuah investasi yang


menguntungkan.

Hal

tersebut

dikarenakan

nilai

laju

pengembalian modal perusahaan masih berada di atas suku


bunga. Industri mie jagung ini masih dapat dikategorikan
sebagai perusahaan yang cukup kuat pada setiap perubahan.
Pada semua level perubahan, profitability index masih bertahan
di atas nilai satu yang berarti perusahaan masih dapat memberi
keuntungan dalam semua kondisi dan masih dinilai sebagai
investasi yang menguntungkan.

b) Analisis Net Present Value (NPV)


Variabel yang penting dalam perhitungan NPV adalah arus
kas dan modal. Perhitungan perkiraan laba perusahaan dapat
digunakan untuk mengetahui komponen pokok dalam arus kas.
Tingkat suku bunga yang dipakai yaitu 15 persen.
Nilai NPV pada kondisi sesuai rencana (kondisi normal)
yang didapat dari perhitungan yaitu sebesar Rp. 2.559.722.765
NPV pada pendapatan turun 10 persen dan 15 persen, biaya
operasional naik 10 persen dan 15 persen, serta investasi naik
sebesar 25 persen juga lebih dari 0. Hal tersebut menunjukkan
bahwa present value dari biaya lebih kecil dari present value
benefit yang menandakan bahwa industri mie jagung ini dapat
dilanjutkan atau secara teknis menguntungkan untuk sebuah
investasi modal. Perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 4
sampai Lampiran 9.

c) Analisis Internal Rate of Return (IRR)


Variabel yang digunakan pada metode ini yaitu nilai
investasi awal dan arus kas masuk (cash flow) selama umur
proyek (10 tahun) pada tingkat suku bunga pinjaman (discaunt
factor) sebesar 15%. Nilai IRR dari hasil perhitungan lebih besar
daripada tingkat suku bunga (discount factor) yang dipakai yaitu
15 persen. Hal ini dapat dilihat pada kondisi sesuai rencana
dengan nilai IRR sebesar 132 persen, pendapatan turun 10
persen dan 15 persen nilai IRR sebesar 37 persen dan 15
persen, biaya operasional naik 10 persen nilai IRR sebesar 44
persen, biaya operasional naik 15 persen nilai IRR sebesar 27
persen dan biaya investasi naik 25 persen nilai IRR sebesar 60
persen. Hal ini menandakan industri ini masih dianggap layak
dan merupakan proyek yang menguntungkan (nilai IRR masih
diatas 15%). Perhitungan nilai IRR dapat dilihat pada Lampiran
10.

d) Pay Back Period (PBP)


Pay back period merupakan jangka waktu yang dibutuhkan
untuk mengembalikan investasi semula, dimana keputusannya
diambil berdasarkan kriteria waktu. Nilai PBP industri mie jagung
dihitung pada berbagai kondisi yang dapat dianggap sebagai
kemungkinan

perubahan

pertimbangan

dan

arus

perubahan

kas
kondisi

karena
pasar

berbagai
yang

akan

berpengaruh pada besarnya cash flow dan alokasi modal


investasi

(Lampiran

11).

Hasil

perhitungan

pada

kondisi

pendapatan turun 10 persen industri ini dapat mengembalikan


modal setelah dijalankan selama 2,93 tahun.

e) Profitability Index (PI)


Investasi dalam dunia industri sangat dipengaruhi oleh
berbagai macam kondisi pasar yang juga berpengaruh pada
besarnya

laju

pengembalian

modal

dan

lama

waktu

pengembalian modal. Perhitungan nilai indeks keuntungan atau


profitability index diperlukan dalam berbagai kemungkinan
kondisi. Nilai PI>1 maka investasi dianggap menguntungkan.
Hasil dari perhitungan profitability indeks (Lampiran 12)
pada industri ini yaitu 5,28 bila dihitung pada kondisi normal,
2,07 pada kondisi pendapatan usaha turun 10 persen, 1,02 pada
kondisi pendapatan usaha turun 15 persen, 2,45 dalam kondisi
biaya operasional naik 10 persen, 1,59 dalam keadaan biaya
operasional naik sampai 15 persen, dan 3,37 dalam keadaan
biaya investasi modal naik 25 persen.
Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan, dapat dilihat
bahwa nilai profitability indeks dalam semua kondisi yang
diprediksikan lebih besar dari satu. Hal tersebut menunjukkan
bahwa industri mi jagung ini dapat dianggap sebagai sebuah
investasi yang menguntungkan. Perhitungan PI dapat dilihat
pada Lampiran 12

f) Return On Investment (ROI)

ROI juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui


efisiensi penggunaan modal atau mengukur keuntungan usaha
dalam kaitannya dengan investasi yang digunakan. Pelaksanaan
usaha belum efisien jika rasio ROI lebih rendah dibandingkan
tingkat suku bunga bank. Rasio ROI pada kondisi normal sebesar
115 persen, pendapatan turun 10 persen sebesar 52 persen,
pendapatan

turun

15

persen

sebesar

21

persen,

biaya

operasional naik 10 persen dan 15 persen sebesar 64 persen


dan 38 persen, dan investasi naik 25 persen sebesar 92 persen.
Berdasarkan nilai tersebut, dapat dilihat bahwa rasio ROI dalam
semua kondisi yang diprediksikan lebih besar suku bunga,
sehingga pelaksanaan usaha dapat dikatakan telah efisien.
Perhitungan ROI dapat dilihat pada Lampiran 13.

g) Break Even Point (BEP)


Proyek dikatakan impas jika jumlah penjualan produk pada satu
periode sama dengan jumlah biaya yang ditanggung sehingga
proyek tidak mengalami keuntungan maupun kerugian. Industri
mie jagung mempunyai nilai BEP pada tahun pertama sebesar Rp.
1.263.722.891 dengan kapasitas 105.450 kemasan/tahun. Nilai BEP

tahun kedua adalah sebesar Rp. 1.731.659.782 dengan kapasitas


102.201 kemasan/tahun, dan nilai BEP tahun ketiga dan seterusnya

adalah

sebesar

Rp.

1.377.887.498

dengan

kapasitas

127.751

kemasan/tahun. Perhitungan BEP dapat dilihat pada Lampiran 14.

VII. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Apple, J.M. 1977. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Terjemahan oleh
N.M.T. Mardiono. 1990. Penerbit ITB. Bandung.
Badan Pusat Statistik. 2009. Kabupaten Banyumas Dalam Angka 2008/2009.
Badan Pusat Statistik, Banyumas.
__________________. 2010. Kabupaten Banyumas Dalam Angka 2009/2010.
Badan Pusat Statistik, Banyumas.
Bappeda Kabupaten Banyumas. 2009. Laporan Semester 1 SIPD 2009.
Pemerintah Kabupaten Banyumas, Banyumas.
Husnan, S dan M. Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek Edisi ke Empat.
UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
Ibrahim, Y. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. PT Rineka Cipta, Jakarta.
Juniawati. 2003. Optimasi proses pengolahan mi jagung instan berdasarkan kajian
preferensi konsumen. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan,
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kasmin. 2005. Studi Kelayakan Pendirian Industri Pengolahan Kelapa Terpadu.
Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
185 hal. (Tidak Dipublikasikan).
Kasmir dan Jakfar. 2007. Studi Kelayakan Bisnis. Kencana, Jakarta. 239 hal.

LAMPIRAN
Lampiran 1. Matrik AHP Penentuan Lokasi Industri
Rekap Penilaian Parameter
1. Kemudahan bahan baku (Bb)
2. Kemudahan akses pasar (Ps)
3. Ketersediaan tenaga kerja (Tk)
4. Sarana transportasi (St)
5. Ketersediaan utilitas air dan lsitrik (Ut)
Res
p

1,2

1,3

1,4

1,5

2,3

2,4

2,5

3,4

3,000

5,000

5,000

5,000

3,000

5,000

7,000

3,000

3,000

3,000

7,000

7,000

5,000

5,000

7,000

3,000

3,000

3,000

7,000

7,000

3,000

3,000

7,000

5,000

3,000

5,000

7,000

7,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

3,000

7,000

3,000

5,000

5,000

3,000

3,000

3,800

5,800

6,600

3,400

4,200

5,800

3,400

Keterangan: A-E adalah Responden

3,5
5,00
0
3,00
0
3,00
0
3,00
0
3,00
0
3,40
0

4,5
3,000
3,000
5,000
3,000
3,000
3,400

Lampiran 2. Matrik Rata-Rata Penilaian Parameter dan Hasil Pemilihan Lokasi

B
b
Ps
Jp
St
Ut

Bb

Ps

Jp

St

Ut

VE

VA

VB

VP

1,000

3,000

3,800

5,800

6,600

3,373

2,528

5,267

0,480

0,333
0,263
0,172
0,152

1,000
0,294
0,333
0,172

3,400
1,000
0,294
0,294

3,000
3,400
1,000
0,294

5,800
3,400
3,400
1,000

1,815
0,978
0,565
0,296
7,027

1,377
0,758
0,433
0,224

5,329
5,445
5,390
5,322
26,752

0,258
0,139
0,080
0,042
1,000

VP (%)
48,00
25,84
13,92
8,04
4,21
100,00

VE = Vektor eigen

Nilai Eigen Maksimum = 26,725 / 5 = 5,350

VA = Vektor Antara

CI = (5,345-5)/(5-1)

VB = Nilai Eigen

CR = CI/RI untuk n = 5, RI = 1,12

VP = Vektor Prioritas

CR = 0,078

= 0,088

Untuk CR lebih kecil sama dengan 0,1


sehingga matrik perbandingan dapat diterima

Lampiran 3. Matrik Pemilihan Alternatif Lokasi dengan Zero-One


A. Tabel zero-one parameter kemudahan suplai bahan baku
Alternatif
1. Kec. Kalibagor
2. Kec. Sumbang
3. Kec Baturaden
4. Kec Sokaraja
5. Kec. Kembaran

1,
2
1
0

1,
3
1

1,
4
1

1,
5
1

2,3
1
0

0
0

2,
4

2,
5

0
0

3,
4

3,
5

0
1

4,
5

0
1

4
3
0
1
2

Indeks
performans
i
40
30
0
10
20

2
2
0
3
3

Indeks
performans
i
20
20
0
30
30

3
2
2
1
2

Indeks
performans
i
30
20
20
10
20

4
0
2

Indeks
performans
i
40
0
20

B. Tabel zero-one parameter kemudahan akses dengan pasar


Alternatif
1. Kec. Kalibagor
2. Kec. Sumbang
3. Kec Baturaden
4. Kec Sokaraja
5. Kec. Kembaran

1,
2
0
1

1,
3
1

1,
4
0

1,
5
1

2,3
1
0

0
1

2,
4

2,
5

1
0

3,
4

3,
5

0
1

4,
5

0
1

C. Tabel zero-one parameter ketersediaan tenaga kerja


Alternatif
1. Kec. Kalibagor
2. Kec. Sumbang
3. Kec Baturaden
4. Kec Sokaraja
5. Kec. Kembaran

1,
2
1
0

1,
3
1

1,
4
1

1,
5
0

2,3
0
1

0
0

2,
4

2,
5

0
1

3,
4

3,
5

0
1

4,
5

0
1

D. Tabel zero-one parameter sarana transportasi


Alternatif
1. Kec. Kalibagor
2. Kec. Sumbang
3. Kec Baturaden

1,
2
1
0

1,
3
1
0

1,
4
1

1,
5
1

2,3
0
1

2,
4

2,
5

3,
4

3,
5

4,
5

4. Kec Sokaraja
5. Kec. Kembaran

1
0

1
1

1
0

3
1

30
10

E. Tabel zero-one parameter utilitas (sumber daya seperti listrik, air, pembuangan limbah)
Indeks
1, 1, 1, 1,
2, 2, 3, 3, 4,
performans
Alternatif
2
3
4
5 2,3 4
5
4
5
5

i
1. Kec. Kalibagor
1
1
1
1
3
40
2. Kec. Sumbang
0
0
0
0
0
0
3. Kec Baturaden
0
1
1
1
4
40
4. Kec Sokaraja
0
1
0
0
1
10
5. Kec. Kembaran
0
1
0
1
2
20

Lampiran 4. Biaya variabel kapasitas 80 Persen (3300 kg mi jagung per hari)


Satuan

Harga/Satu
an

Jumlah
kebutuha
n per hari

Jumlah
kebutuhan
(per bulan)

Total per
bulan (Rp)

Total per
tahun (Rp)

Jagung pipil kering

Kg

3.250

2.310

46.200

150.150.000

1.801.800.000

Garam

Kg

2.200

990

19.800

43.560.000

522.720.000

Baking powder

Kg

16.500

33

660

10.890.000

130.680.000

CMC

Kg

17.000

33

660

11.220.000

134.640.000

Plastik kemasan
kapasitas I kg

Unit

10.000

10

192

1.920.000

23.040.000

Plastik kemasan
kapasitas 500 g

Unit

7.500

16,8

336

2.520.000

30.240.000

m3

60.000

0,6

12

720.000

8.640.000

transportasi

bulan

400.000

400.000

400.000

4.800.000

-telepon
-listrik
-iklan

unit
unit
paket

100.000
1.000.000
300.000

100.000
1.000.000
300.000

100.000
1.000.000
300.000

1.200.000
12.000.000
3.600.000

uji mutu
biaya lain
Jumlah Total

paket

100.000
300.000

100.000
300.000

100.000
300.000
223.180.000

1.200.000
3.600.000
2.678.160.000

No
1

Uraian
Bahan baku

Pengemas

Kayu Bakar
3

Lain-lain

Lampiran 5. Biaya variabel kapasitas 90 Persen (3300 kg mi jagung per hari)

No
1

Satua
n

Harga/Sat
uan

Jumlah
kebutuh
an per
hari

Jumlah
kebutuha
n (per
bulan)

Bahan baku
Jagung pipil
kering

Kg

3.250

2.599

51.975

168.918.750

2.027.025.000

Garam
Baking powder

Kg
Kg

2.200
16.500

1.114
37

22.275
743

49.005.000
12.251.250

588.060.000
147.015.000

CMC

Kg

17.000

37

743

12.622.500

151.470.000

Unit

10.000

11

216

2.160.000

25.920.000

Unit
m3

7.500
60.000

19
1

378
14

2.835.000
810.000

34.020.000
9.720.000

bulan

400.000

400.000

400.000

4.800.000

-telepon

unit

100.000

100.000

100.000

1.200.000

-listrik

unit

1.000.000

1.000.000

1.000.000

12.000.000

-iklan

paket

300.000

300.000

300.000

3.600.000

uji mutu

paket

100.000

100.000

100.000

1.200.000

300.000

300.000

300.000

3.600.000

250.802.500

3.009.630.000

Uraian

Pengemas
Plastik kemasan
kapasitas I kg
Plastik kemasan
kapasitas 500 g
Kayu Bakar

Total per
bulan (Rp)

Total per tahun


(Rp)

Lain-lain
transportasi

biaya lain
Jumlah Total

Lampiran 6. Rincian angsuran kredit (3 tahun)


Periode

Angsuran Pokok

Angsuran
Bunga

Total Angsuran

(15%/thn)

Saldo Akhir
195.006.000

Bulan 1

5.416.833

2.437.575

7.854.408

189.589.167

Bulan 2

5.416.833

2.369.865

7.786.698

184.172.333

Bulan 3

5.416.833

2.302.154

7.718.988

178.755.500

Bulan 4

5.416.833

2.234.444

7.651.277

173.338.667

Bulan 5

5.416.833

2.166.733

7.583.567

167.921.833

Bulan 6

5.416.833

2.099.023

7.515.856

162.505.000

Bulan 7
Bulan 8
Bulan 9
Bulan 10
Bulan 11
Bulan 12
Total

5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
65.002.000

2.031.313
1.963.602
1.895.892
1.828.181
1.760.471
1.692.760
24.782.013

7.448.146
7.380.435
7.312.725
7.245.015
7.177.304
7.109.594
89.784.013

157.088.167
151.671.333
146.254.500
140.837.667
135.420.833
130.004.000

Bulan 13
Bulan 14
Bulan 15
Bulan 16
Bulan 17
Bulan 18
Bulan 19
Bulan 20
Bulan 21
Bulan 22
Bulan 23
Bulan 24
Total

5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
65.002.000

1.625.050
1.557.340
1.489.629
1.421.919
1.354.208
1.286.498
1.218.788
1.151.077
1.083.367
1.015.656
947.946
880.235
15.031.713

7.041.883
6.974.173
6.906.463
6.838.752
6.771.042
6.703.331
6.635.621
6.567.910
6.500.200
6.432.490
6.364.779
6.297.069
80.033.713

124.587.167
119.170.333
113.753.500
108.336.667
102.919.833
97.503.000
92.086.167
86.669.333
81.252.500
75.835.667
70.418.833
65.002.000

Bulan 25
Bulan 26
Bulan 27
Bulan 28
Bulan 29
Bulan 30
Bulan 31
Bulan 32
Bulan 33
Bulan 34
Bulan 35
Bulan 36
Total

5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
5.416.833
65.002.000

812.525
744.815
677.104
609.394
541.683
473.973
406.262
338.552
270.842
203.131
135.421
67.710
5.281.412

6.229.358
6.161.648
6.093.938
6.026.227
5.958.517
5.890.806
5.823.096
5.755.385
5.687.675
5.619.965
5.552.254
5.484.544
70.283.413

59.585.167
54.168.333
48.751.500
43.334.667
37.917.833
32.501.000
27.084.167
21.667.333
16.250.500
10.833.667
5.416.833
(0)

Lampiran 7. Analisis Net Present Value Kondisi Normal


Tahun ke
0

produksi

0,8

0,9

pendapatan usaha

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

biaya operasional

4.003.840.000

4.504.320.000

5.004.800.000

angsuran pokok kredit

65.002.000

65.002.000

65.002.000

angsuran bunga kredit

24.782.013

15.031.713

5.281.412

total investasi

650.020.000

laba sebelum pajak

1
5.850.000

700.000

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

5.004.800.000

5.004.800.000

700.000

10

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

1.449.900.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

1.154.546.000

295.354.000

1.954.375.988

1.463.646.288

972.916.588

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

pajak 30%

568.812.796

421.593.886

274.374.976

295.460.000

295.460.000

295.460.000

295.460.000

295.460.000

295.460.000

71.106.200

laba bersih

1.385.563.191

1.042.052.401

698.541.611

747.740.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

224.247.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

70.985.520

865.000

70.000

70.000

52.402.800

1.432.547.991

1.089.037.201

745.596.411

794.024.800

795.589.800

794.794.800

794.724.800

794.724.800

794.794.800

347.636.120

depresiasi
residu proyek

70.000

net cash flow

650.020.000

discount factor
cash flow terdiscount
NPV

1,00

0,87

0,756

0,658

0,572

0,497

0,4323

0,3759

0,3269

0,2843

0,2472

650.020.000

1.246.316.752

823.312.124

490.602.439

454.182.186

395.408.131

343.589.792

298.737.052

259.795.537

225.960.162

85.935.649

4.097.043.011

Lampiran 8. Analisis Net Present Value Kondisi Pendapatan Turun 10 persen


Tahun ke
0

produksi

0,8

0,9

pendapatan usaha

4.354.560.000

4.898.880.000

5.443.200.000

biaya operasional

4.003.840.000

4.504.320.000

5.004.800.000

angsuran pokok kredit

65.002.000

65.002.000

65.002.000

angsuran bunga kredit

24.782.013

15.031.713

5.281.412

total investasi

650.020.000

laba sebelum pajak

1
5.850.000

700.000

5.443.200.000

5.443.200.000

5.443.200.000

5.004.800.000

5.004.800.000

700.000

10

5.443.200.000

5.443.200.000

5.443.200.000

5.443.200.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

438.400.000

260.935.988

314.526.288

368.116.588

438.400.000

438.400.000

438.400.000

438.400.000

438.400.000

438.400.000

pajak 30%

60.780.796

76.857.886

92.934.976

114.020.000

114.020.000

114.020.000

114.020.000

114.020.000

114.020.000

114.020.000

laba bersih

200.155.191

237.668.401

275.181.611

324.380.000

324.380.000

324.380.000

324.380.000

324.380.000

324.380.000

324.380.000

depresiasi

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

865.000

70.000

70.000

51.387.000

247.139.991

284.653.201

322.236.411

370.664.800

372.229.800

371.434.800

371.364.800

371.364.800

371.434.800

422.751.800

residu proyek

70.000

net cash flow

650.020.000

discount factor
cash flow terdiscount
NPV

1,00

0,87

0,756

0,658

0,572

0,497

0,4323

0,3759

0,3269

0,2843

0,2472

650.020.000

215.011.792

215.197.820

212.031.559

212.020.266

184.998.211

160.571.264

139.596.028

121.399.153

105.598.914

104.504.245

1.020.909.251

Lampiran 9. Analisis Net Present Value Kondisi Pendapatan Turun 15 persen


Tahun ke
0

produksi

0,8

0,9

pendapatan usaha

4.112.640.000

4.626.720.000

5.140.800.000

biaya operasional

4.003.840.000

4.504.320.000

5.004.800.000

angsuran pokok kredit

65.002.000

65.002.000

65.002.000

angsuran bunga kredit

24.782.013

15.031.713

5.281.412

laba sebelum pajak

19.015.988

42.366.288

pajak 30%

-11.795.204

laba bersih
depresiasi

total investasi

5.850.000

700.000

5.140.800.000

5.140.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

65.716.588

136.000.000

-4.790.114

2.214.976

23.300.000

30.811.191

47.156.401

63.501.611

46.984.800

46.984.800

46.984.800

77.795.991

94.141.201

110.556.411

cash flow terdiscount


NPV

10
1

5.140.800.000

5.140.800.000

5.140.800.000

5.140.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

136.000.000

136.000.000

136.000.000

136.000.000

136.000.000

136.000.000

23.300.000

23.300.000

23.300.000

23.300.000

23.300.000

23.300.000

112.700.000

112.700.000

112.700.000

112.700.000

112.700.000

112.700.000

112.700.000

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

865.000

70.000

70.000

51.387.000

158.984.800

160.549.800

159.754.800

159.684.800

159.684.800

159.754.800

211.071.800

700.000

9
1

70.000

discount factor

5.140.800.000

residu proyek
650.020.000

7
1

650.020.000

net cash flow

6
1

1,00

0,87

0,756

0,658

0,572

0,497

0,4323

0,3759

0,3269

0,2843

0,2472

650.020.000

67.682.512

71.170.748

72.746.119

90.939.306

79.793.251

69.062.000

60.025.516

52.200.961

45.418.290

52.176.949

11.195.651

Lampiran 10. Analisis Net Present Value Kondisi Biaya Operasional naik 10 persen
Tahun ke
0

produksi

0,8

0,9

pendapatan usaha

4.838.400.000

5.443.200.000

6.048.000.000

biaya operasional

4.404.224.000

4.954.752.000

5.505.280.000

angsuran pokok kredit

65.002.000

65.002.000

65.002.000

angsuran bunga kredit

24.782.013

15.031.713

5.281.412

total investasi

650.020.000

laba sebelum pajak

1
5.850.000

700.000

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

5.505.280.000

5.505.280.000

700.000

10

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

5.505.280.000

5.505.280.000

5.505.280.000

5.505.280.000

5.505.280.000

344.391.988

408.414.288

472.436.588

542.720.000

542.720.000

542.720.000

542.720.000

542.720.000

542.720.000

542.720.000

pajak 30%

85.817.596

105.024.286

124.230.976

145.316.000

145.316.000

145.316.000

145.316.000

145.316.000

145.316.000

145.316.000

laba bersih

258.574.391

303.390.001

348.205.611

397.404.000

397.404.000

397.404.000

397.404.000

397.404.000

397.404.000

397.404.000

depresiasi

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

865.000

70.000

70.000

51.387.000

305.559.191

350.374.801

395.260.411

443.688.800

445.253.800

444.458.800

444.388.800

444.388.800

444.458.800

495.775.800

residu proyek

70.000

net cash flow

650.020.000

discount factor
cash flow terdiscount
NPV

1,00

0,87

0,756

0,658

0,572

0,497

0,4323

0,3759

0,3269

0,2843

0,2472

650.020.000

265.836.496

264.883.350

260.081.351

253.789.994

221.291.139

192.139.539

167.045.750

145.270.699

126.359.637

122.555.778

1.369.233.731

Lampiran 11. Analisis Net Present Value Kondisi Biaya Operasional naik 15 persen
Tahun ke
0

produksi

0,8

0,9

pendapatan usaha

4.838.400.000

5.443.200.000

6.048.000.000

biaya operasional

4.604.416.000

5.179.968.000

5.755.520.000

angsuran pokok kredit

65.002.000

65.002.000

65.002.000

angsuran bunga kredit

24.782.013

15.031.713

5.281.412

total investasi

650.020.000

laba sebelum pajak

1
5.850.000

700.000

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

5.755.520.000

5.755.520.000

700.000

10

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

5.755.520.000

5.755.520.000

5.755.520.000

5.755.520.000

5.755.520.000

292.480.000

144.199.988

183.198.288

222.196.588

292.480.000

292.480.000

292.480.000

292.480.000

292.480.000

292.480.000

pajak 30%

25.759.996

37.459.486

49.158.976

70.244.000

70.244.000

70.244.000

70.244.000

70.244.000

70.244.000

70.244.000

laba bersih

118.439.991

145.738.801

173.037.611

222.236.000

222.236.000

222.236.000

222.236.000

222.236.000

222.236.000

222.236.000

depresiasi

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

865.000

70.000

70.000

51.387.000

165.424.791

192.723.601

220.092.411

268.520.800

270.085.800

269.290.800

269.220.800

269.220.800

269.290.800

320.607.800

residu proyek

70.000

net cash flow

650.020.000

discount factor
cash flow terdiscount
NPV

1,00

0,87

0,756

0,658

0,572

0,497

0,4323

0,3759

0,3269

0,2843

0,2472

650.020.000

143.919.568

145.699.043

144.820.807

153.593.898

134.232.643

116.414.413

101.200.099

88.008.280

76.559.374

79.254.248

533.682.371

Lampiran 12. Analisis Net Present Value Kondisi Investasi Naik 25 persen
Tahun ke
0

produksi

0,8

0,9

pendapatan usaha

4.838.400.000

5.443.200.000

6.048.000.000

biaya operasional

4.003.840.000

4.504.320.000

5.004.800.000

angsuran pokok kredit

81.252.500

81.252.500

81.252.500

angsuran bunga kredit

30.977.516

18.789.641

6.601.766

laba sebelum pajak

722.329.984

838.837.859

pajak 30%

199.198.995

234.151.358

laba bersih

523.130.989

Depresiasi

total investasi

7.312.500

875.000

6.048.000.000

6.048.000.000

5.004.800.000

5.004.800.000

955.345.734

1.043.200.000

269.103.720

295.460.000

604.686.502

686.242.014

58.731.000

58.731.000

58.731.000

581.861.989

663.417.502

745.060.514

cash flow terdiscount


NPV

10
1

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

5.004.800.000

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

1.043.200.000

295.460.000

295.460.000

295.460.000

295.460.000

295.460.000

295.460.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

747.740.000

58.731.000

58.731.000

58.731.000

58.731.000

58.731.000

58.731.000

58.731.000

1.081.250

87.500

87.500

51.387.000

805.596.000

807.552.250

806.558.500

806.471.000

806.471.000

806.558.500

857.858.000

875.000

9
1

87.500

discount factor

6.048.000.000

residu proyek
812.525.000

7
1

812.525.000

net cash flow

6
1

1,00

0,87

0,756

0,658

0,572

0,497

0,4323

0,3759

0,3269

0,2843

0,2472

812.525.000

506.219.930

501.543.631

490.249.818

460.800.912

401.353.468

348.675.240

303.152.449

263.635.370

229.304.582

212.062.498

2.904.472.898

Lampiran 13. Tabel IRR (Internal Rate of Return) pada berbagai kondisi
Tahun

0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
IRR

Kondisi
Sesuai Rencana
-650.020.000
1.432.547.991
1.089.037.201
745.596.411
794.024.800
795.589.800
794.794.800
794.724.800
794.724.800
794.794.800
846.111.800
197%

Pendapatan Turun
10%
-650.020.000
247.139.991
284.653.201
322.236.411
370.664.800
372.229.800
371.434.800
371.364.800
371.364.800
371.434.800
422.751.800
46%

Net Cash Flow


Operasional
Pendapatan turun
naik
15%
10%
-650.020.000
-650.020.000
77.795.991
305.559.191
94.141.201
350.374.801
110.556.411
395.260.411
158.984.800
443.688.800
160.549.800
445.253.800
159.754.800
444.458.800
159.684.800
444.388.800
159.684.800
444.388.800
159.754.800
444.458.800
211.071.800
495.775.800
15%
56%

Operasional
Naik
15%
-650.020.000
165.424.791
192.723.601
220.092.411
268.520.800
270.085.800
269.290.800
269.220.800
269.220.800
269.290.800
320.607.800
32%

investasi naik
25%
-812.525.000
581.861.989
663.417.502
745.060.514
805.596.000
807.552.250
806.558.500
806.471.000
806.471.000
806.558.500
857.858.000
81%

Lampiran 14. Tabel PBP (Pay Back Period) pada berbagai kondisi
Net Cash

Jumlah
Kumulatif

Jumlah
Kumulatif
Net Cash
Flow
pndptn turun
10%

Net Cash
Flow
Pendapatan
turun 15 %

Jumlah
Kumulatif
Net Cash
Flow
Pendapatan
turun 15%

Net Cash
Flow
operasional
naik 10%

Jumlah
Kumulatif
Net Cash
Flow
operasional
naik 10%

Net Cash
Flow
Operasional
Naik
15%

Jumlah
Kumulatif
Net Cash
Flow
Operasional
naik 15%

25%

Jumlah
Kumulatif
Net Cash
Flow
investasi naik
25%

Flow Normal

Net Cash Flow

-650.020.000

-650.020.000
1.432.547.99
1
1.089.037.20
1

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-812.525.000

-812.525.000

782.527.991

247.139.991

-402.880.009

77.795.991

-572.224.009

305.559.191

-344.460.809

165.424.791

-484.595.209

581.861.989

-230.663.011

745.596.411

1.871.565.193

284.653.201

-118.226.808

94.141.201

-478.082.808

350.374.801

5.913.993

192.723.601

-291.871.608

663.417.502

432.754.491

2.617.161.604

322.236.411

204.009.604

110.556.411

-367.526.396

395.260.411

401.174.404

220.092.411

-71.779.196

745.060.514

1.177.815.005

4
5

794.024.800

3.411.186.404

370.664.800

574.674.404

158.984.800

-208.541.596

443.688.800

844.863.204

268.520.800

196.741.604

805.596.000

1.983.411.005

795.589.800

4.206.776.204

372.229.800

946.904.204

160.549.800

-47.991.796

445.253.800

1.290.117.004

270.085.800

466.827.404

807.552.250

2.790.963.255

794.794.800

5.001.571.004

371.434.800

1.318.339.004

159.754.800

111.763.004

444.458.800

1.734.575.804

269.290.800

736.118.204

806.558.500

3.597.521.755

794.724.800

5.796.295.804

371.364.800

1.689.703.804

159.684.800

271.447.804

444.388.800

2.178.964.604

269.220.800

1.005.339.004

806.471.000

4.403.992.755

794.724.800

6.591.020.604

371.364.800

2.061.068.604

159.684.800

431.132.604

444.388.800

2.623.353.404

269.220.800

1.274.559.804

806.471.000

5.210.463.755

794.794.800

7.385.815.404

371.434.800

2.432.503.404

159.754.800

590.887.404

444.458.800

3.067.812.204

269.290.800

1.543.850.604

806.558.500

6.017.022.255

10

846.111.800

8.231.927.204

422.751.800

2.855.255.204

211.071.800

801.959.204

495.775.800

3.563.588.004

320.607.800

1.864.458.404

857.858.000

6.874.880.255

Tahun

Normal
0
1

PBP

-0,51

Net Cash Flow


Pendapatan
Turun
10%

2,45

5,30

2,10

3,27

Net Cash
Flow
investasi naik

1,54

Lampiran 15. Tabel PI (Profitability Index)

Tahun

Discou
nt
Factor

Net Cash
flow normal

Present Value
Normal

Net Cash
Flow
Pendapatan
Turun
10%

1,000

0,870

0,756

3
4

10%

Net Cash
Flow
Pendapatan
turun
15%

Present
Value
Pendapatan
turun
15%

Net Cash
Flow
Operasional
Naik
10%

Present
Value
Operasional
Naik
10%

Net Cash
Flow
Operasional
naik
15%

Present
Value
Operasional
naik
15%

Net Cash
Flow
Investasi
Naik
25%

Present
Value
Investasi
Naik
25%

-650.020.000
1.432.547.99
1
1.089.037.20
1

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-650.020.000

-812.525.000

-812.525.000

1.246.316.752

247.139.991

215.011.792

77.795.991

67.682.512

305.559.191

265.836.496

165.424.791

143.919.568

581.861.989

506.219.930

823.312.124

284.653.201

215.197.820

94.141.201

71.170.748

350.374.801

264.883.350

192.723.601

145.699.043

663.417.502

501.543.631

0,658

745.596.411

490.602.439

322.236.411

212.031.559

110.556.411

72.746.119

395.260.411

260.081.351

220.092.411

144.820.807

745.060.514

490.249.818

0,572

794.024.800

454.182.186

370.664.800

212.020.266

158.984.800

90.939.306

443.688.800

253.789.994

268.520.800

153.593.898

805.596.000

460.800.912

0,497

795.589.800

395.408.131

372.229.800

184.998.211

160.549.800

79.793.251

445.253.800

221.291.139

270.085.800

134.232.643

807.552.250

401.353.468

0,432

794.794.800

343.589.792

371.434.800

160.571.264

159.754.800

69.062.000

444.458.800

192.139.539

269.290.800

116.414.413

806.558.500

348.675.240

0,376

794.724.800

298.737.052

371.364.800

139.596.028

159.684.800

60.025.516

444.388.800

167.045.750

269.220.800

101.200.099

806.471.000

303.152.449

0,327

794.724.800

259.795.537

371.364.800

121.399.153

159.684.800

52.200.961

444.388.800

145.270.699

269.220.800

88.008.280

806.471.000

263.635.370

0,284

794.794.800

225.960.162

371.434.800

105.598.914

159.754.800

45.418.290

444.458.800

126.359.637

269.290.800

76.559.374

806.558.500

229.304.582

10

0,247

846.111.800

209.158.837

422.751.800

104.504.245

211.071.800

52.176.949

495.775.800

122.555.778

320.607.800

79.254.248

857.858.000

212.062.498

PI

Present Value
Pendapatan
turun

7,30

2,57

1,02

3,11

1,82

4,57

Lampiran 16. Tabel ROI (Return on Investment)


Keterangan
Biaya Operasional

Kondisi Normal
5.004.800.000

Pendapatan

Pendapatan

Operasional

Operasional

Investasi

Turun 10 %

Turun 15 %

Naik 10%

Naik 15 %

Naik 25 %

5.004.800.000

5.004.800.000

5.505.280.000

5.755.520.000

5.004.800.000

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

46.984.800

58.731.000

Total Biaya

5.051.784.800

5.051.784.800

5.051.784.800

5.552.264.800

5.802.504.800

5.063.531.000

Penjualan

6.048.000.000

5.443.200.000

5.140.800.000

6.048.000.000

6.048.000.000

6.048.000.000

996.215.200

391.415.200

89.015.200

495.735.200

245.495.200

984.469.000

650.020.000

650.020.000

650.020.000

650.020.000

650.020.000

812.525.000

160

67

21

83

45

128

Depresiasi (Operating Assets)

Laba Usaha
Investasi
ROI (%)

Lampiran 17. Analisis Break Even Point (BEP)


1. Tahun Pertama

Nilai BEP

Biaya Tetap
Biaya Variabel
1
Hasil Penjualan
487.490.000
2.678 .160 .000
1
6.048 .000 .000

= 874.919.735
%BEP

Biaya Tetap
100
PenjualanBiaya Varia bel

487.490 .000
100
6.048 .000 .0002.678 .160 .000

= 14 %
Kapasitas BEP = 14% x 712.800 kemasan/tahun
= 103.116 kemasan/tahun
2. Tahun Kedua

Nilai BEP

Biaya Tetap
Biaya Variabel
1
Hasil Penjualan
487.490.000
3.009 .630 .000
1
6.048 .000 .000

= 970.368.823
%BEP

Biaya Tetap
100
PenjualanBiaya Variabel

487.490 .000
100
6.048 .000 .0003.009 .630 .000

= 16 %

Kapasitas BEP = 16% x 633.600 kemasan/tahun


= 201.787 kemasan/tahun

3. Tahun Ketiga dan Seterusnya

Nilai BEP

Biaya Tetap
Biaya Variabel
1
Hasil Penjualan
487.490 .000
4.517 .310.000
1
6.048.000 .000

= 1.926.150.638
%BEP

Biaya Tetap
100
PenjualanBiaya Variabel

487.490 .000
100
6.048 .000 .0004.517 .310 .000

= 32 %
Kapasitas BEP = 32% x 792.000 kemasan/tahun
= 252.234 kemasan/tahun

Beri Nilai