Anda di halaman 1dari 3

Evaluasi Intevensi Apoteker

pada Peresepan BPJS Periode Februari-Maret 2015


di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Intervensi Apoteker terhadap Peresepan BPJS


Periode Februari-Maret 2015
Apoteker merupakan last keeper dalam menyediakan pengobatan yang efektif dan
aman bagi pasiennya. Oleh karena itu diperlukan peran aktif apoteker di dalam pelayanan
kefarmasian khususnya dalam pengkajian resep. Tanpa adanya keterlibatan apoteker maka
kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan akan meningkat akibatnya keselamatan pasien
akan terancam. Intervensi apoteker di dalam peresepan meliputi pengkajian resep sesuai
persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis. Persyaratan
administrasi meliputi data diri pasien dan data diri dokter, persyaratan farmasetik meliputi
nama obat, bentuk dan kekuatan sediaan, dosis dan jumlah obat, aturan dan cara penggunaan.
Persyaratan klinis meliputi ketepatan indikasi, dosis, dan waktu penggunaan, duplikasi
penggunaan, kontraindikasi, interaksi obat.
Resep yang dievaluasi adalah resep rawat jalan BPJS pada bulan Februari-Maret. Resep
dievaluasi berdasarkan kesesuaiannya terhadap Formularium Nasional 2013, Perubahan
Formularium Nasional 2014 dan Suplemen Formularium Nasional untuk pasien BPJS di RS
PKU Muhammadiyah yang telah ditetapkan oleh Direktur RS. Sampel diambil secara
purposive random sampling dengan kriteria resep yang diambil hanya yang telah dilakukan
Intervensi apoteker. Intervensi yang dievaluasi meliputi persyaratan farmasetik dan
persyaratan klinis. Resep yang diambil sebanyak 200 lembar, masing-masing 100 resep
bulan Februari dan 100 resep bulan Maret.
Tabel I. Rata-rata Jumlah Resep Intervensi Apoteker
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Intervensi Apoteker
Penyesuaian Obat DI FORNAS dan Suplemen PKU
Muhammadiyah Yogyakarta
Substitusi generik/branded lain
Pengurangan Jumlah Obat
Penyesuaian Dosis Obat/ frekuensi penggunaan
Obat Tidak diberikan

Jumlah Resep
Keseluruhan
200

Jumlah resep
intervensi apoteker
49

200
200
200
200

69
106
7
28

Persentase
24,5%
34,5%
53%
3,5%
14%

Evaluasi Intevensi Apoteker


pada Peresepan BPJS Periode Februari-Maret 2015
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Dari 200 resep yang telah diambil, intervensi yang dilakukan apoteker dapat dibedakan
menjadi 5, yaitu :
a.

Penyesuaian Obat dengan yang ada di Fornas dan Suplemen RS PKU Muhammadiyah

Yogyakarta
Intervensi yang dilakukan oleh apoteker adalah mengecek apakah obat yang diresepkan
oleh dokter telah sesuai dengan Formularium Nasional. Hasil rata-rata intervensi resep pada
bulan Februari dan Maret sebesar 24,5%, hal ini menunjukkan bahwa peresepan obat BPJS
oleh dokter di RS PKU Muhammadiyah sudah cukup baik. Kesesuaian Formularium nasional
akan memberi keuntungan bagi pasien serta rumah sakit itu sendiri. Pada Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta terdapat Suplemen Formularium Nasional yang berisi obat-obat
tambahan untuk pasien BPJS yang ditetapkan oleh Direktur RS. Penetapan suplemen ini
didasarkan dengan kebijakan pola penyakit dan pengobatan di rumah sakit dengan tujuan
untuk memaksimalkan pengobatan serta meningkatkan kualitas hidup dari pasien. Berikut
adalah daftar obat Suplemen Formularium Nasional untuk pasien BPJS di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta:
Tabel I. Suplemen Formularium Nasional untuk Pasien BPJS di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
No
1
2
3
4
5
6

b.

Nama Obat
Ambroxol
Betahistin
Citicolin
Flunarizin
Gabapentin
Hidroxyl ethyl starch 6%

No
7
8
9
10
11
12

Nama Obat
Lactobacilus (Lacto B)
Meloxicam
Metampiron (Antalgin)
Pantoprazole Injeksi
Piracetam
Tiamizol

Substitusi generik / Branded Generik


Kewenangan apoteker salah satunya adalah mengganti obat branded dengan obat

generik dengan kandungan zat aktif yang sama sesuai dengan Formularium Nasional. Hasil
telaah intervensi resep BPJS bulan Februari dan Maret diperoleh presentase substitusi
generic/ branded lain sebesar 34,5%. Tujuan penggantian obat ke generik untuk mendapatkan
harga obat yang terjangkau bagi semua kalangan masyarakat. Penyediaan obat yang murah
serta terjamin kualitasnya memang merupakan kebutuhan primer dari semua pasien
khususnya bagi pasien BPJS. Adanya intervensi apoteker ini akan membantu pasien untuk
mendapatkan obat generik yang keamanan serta kualitasnya setara dengan obat branded tapi
dengan harga yang lebih murah. Peran apoteker ini akan meningkatkan efisiensi biaya dalam
pengelolaan obat yang sangat diperlukan dalam era BPJS ini.
c.
Penyesuaian Jumlah obat yang diberikan
Hasil telaah intervensi resep BPJS bulan Februari dan Maret diperoleh presentase
pengurangan jumlah obat paling tinggi dibandingkan intervensi apoteker lain yaitu sebesar

Evaluasi Intevensi Apoteker


pada Peresepan BPJS Periode Februari-Maret 2015
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

53%. Hal ini disebabkan kerena apoteker juga menyesuaikan jumlah obat-obat dalam resep
agar masing-masing obat dalam resep dapat habis dalam waktu yang sama sehingga akan
memudahkan pasien untuk kontrol kembali. Intervensi yang dilakukan apoteker adalah
mengecek apakah jumlah obat yang diberikan telah sesuai dengan kondisi klinis dan waktu
pengobatan pasien.
d.

Penyesuaian Dosis Obat / Frekuensi / Cara Penggunaan


Intervensi yang dilakukan apoteker adalah memastikan bahwa dosis, frekuensi dan cara

penggunaan yang diresepkan oleh dokter telah sesuai ketentuan. Apoteker dapat menambah
ataupun mengurangi dosis, mengganti frekuensi minum obat dan menyesuaikan cara
penggunaan apabila itu dianggap perlu dengan sebelumnya dilakukan pemberitahuan ke
dokter penulis resep. Hasil telaah intervensi resep BPJS bulan Februari dan Maret diperoleh
presentase penyesuaian dosis obat/ frekuensi penggunaan paling rendah dibandingkan
intervensi apoteker lain sebesar 3,5%.
e.

Obat dalam resep yang tidak diberikan


Intervensi apoteker yang dilakukan adalah memastikan bahwa obat yang diberikan

sesuai dengan kondisi dan situasi pasien. Apabila pasien telah memiliki obat yang sama di
rumah maka apoteker berhak untuk tidak memberikan obat tersebut meski terdapat di resep.
Hasil telaah intervensi resep BPJS bulan Februari dan Maret diperoleh presentase obat tidak
diberikan yaitu sebesar 14%. Selain itu apoteker juga harus memastikan bahwa tidak terdapat
duplikasi/ketidak efektifan obat dan ketidak sesuaian obat dengan kondisi pasien dalam
penulisan resep.
Intervensi apoteker ini merupakan wujud nyata dari pelayanan kefarmasian yang
dilakukan oleh Apoteker. Perhatian Apoteker ini menunjukan bahwa Apoteker telah sedikit
aware terhadap keselamatan pasiennya. Semoga ke depannya peran apoteker akan lebih
terlihat dan

Intervensi yang dilakukan Apoteker akan lebih banyak, khususnya untuk

Interaksi obat pada resep-resep polifarmasi.