Anda di halaman 1dari 3

Pemuda, Generasi X dan Y

Rating
(2 votes)

Oleh:
Diani Savitri
Terbangun dari pemahaman sejarah dan penggunaannya dalam percakapan formal,
kata pemuda kuat mengisyaratkan gambaran karakter yang positif dan bernuansa
harapan. Pemuda dalam Sumpah Pemuda identik dengan semangat dan kesadaran
kebangsaan. Bandingkan dengan penggalan katanya dalam percakapan yang lebih
informal: muda, lebih umumnya lagi anak muda, yang lebih romantis,
memanjakan, dan asosiatif dengan kemerdekaan menjadi diri sendiri dengan tanggung
jawab yang seperlunya saja.
Generasi X dan Y
Penamaan Generation X yang sekarang terdengar keren dan misterius berawal dari
persepsi kesenjangan oleh generasi terdahulunya. Robert Capa, jurnalis dan fotografer
perang berdarah Hungaria, di pertengahan tahun 1950an termasuk yang pertama
menggunakan istilah ini sebagai judul karya fotografinya yang menampilkan sejumlah
anak muda, setelah menemui kesulitan menamai generasi yang lahir dan tumbuh
setelah perang dunia kedua ini dalam suatu generalisasi. Capa melihat potensi besar
dalam generasi yang tidak lagi mengalami tekanan sosial dan politis ini, sekaligus
resiko besar karena ketidakpastian masa datang akibat kompetisi bebas di dunia yang
tidak lagi bersekat dan menganut nilai absolut.
Lebih dikenal sebagai generasi Nirvana, Pearl Jam atau seuzur-uzurnya Duran Duran,
paruh kedua Generasi X akan sulit mengidentifikasikan diri mereka pada Billy Idol
yang di tahun 1976 membentuk band dengan nama Generation X di Inggris. Band
dengan aliran punk rock ini sebetulnya seakan mengawali pencitraan karakter yang
diatribusikan pada generasi yang lahir di kisaran tahun 1960an hingga 1980:
individualis sekaligus pluralis, riuh dengan pemikiran-pemikiran baru yang meledakledak di kepala mereka namun juga relativis, mempertahankan konvensi dan tradisi
dengan gamang karena telah teradiksi dengan privasi.
Bila Generasi X terlahir dari perubahan iklim sosial-politik dunia dan lalu ekonomi,
Generasi Y dibidani oleh inovasi teknologi dan industri komersial. Terlahir di kisaran
tahun 1980an hingga tahun 2000, mereka disebut juga generasi Millenia sebagai
sinyal penolakan atas pewarisan nama dari generasi sebelumnya. Tumbuh bersamaan
dengan inovasi teknologi terutama teknologi komunikasi dan rekreasi, generasi ini
begitu nyaman dengan teknologi bahkan menjadikannya bagian dari identitas diri.

Keinstanan menjadi fitur yang tidak hanya mewarnai teknologi dan digitalisasi yang
mereka adopsi, melainkan menjadi karakter sosiologis generasi ini. Kecepatan arus
informasi membuat generasi ini lihai mengekstraksi informasi yang dibutuhkan dan
mengeliminasi yang tidak, hampir dalam moda terotomatisasi, dan refleksi yang
minimum.
Meski generalisasi generasi ini awalnya mengambil konteks masyarakat Barat,
globalisasi membuat kondisi yang hampir serupa di belahan lain dunia. Termasuk
Indonesia. Tentu, lokalitas memberi sentuhannya tersendiri. Generasi X Indonesia
akrab dengan Iwan Fals yang kritis, Dewa 19 dan Slank yang nakal, dan harus melalui
dua alam nasional pra dan paska kejatuhan Soeharto. Generasi Y Indonesia terpapar
pada menu yang lebih variatif macam Ungu dan Armada yang romantis dan asik
dengan ekpresinya sendiri tanpa pretensi memberikan kontribusi tertentu pada
kesenian, dan dibesarkan dengan dua alam global pra dan paska ledakan 9-11 yang
memengaruhi kehidupan sosial berbangsa. Kedua perubahan alam ini membentuk
pemikiran dan adab berlaku yang berbeda, mengajarkan cara bertahan hidup yang
spesifik.
Sebagian generasi X Indonesia kini adalah tokoh dan pelaku dunia politik, ekonomi,
sosial dan budaya Indonesia, dan apapun yang dinyatakan orang tentang masih
kuatnya pengaruh generasi terdahulu terhadap iklim berkehidupan di Indonesia,
generasi X Indonesia menampilkan karakter khas seperti semangat pembelajar dan
keterbukaan akan nilai-nilai yang tidak berakar lokal.
Generasi Y sebagian besar kini sudah memasuki usia produktif atau di usia sekolah,
dan merepresentasikan karakter yang lebih kompromis, tidak lagi sibuk memilah
kategori lokal maupun global karena bagi mereka input maupun output budaya
tidaklah perlu serumit itu. Proses kreasi adalah yang utama, dan sebisanya proses itu
singkat karena ada begitu besar dorongan untuk segera beralih pada isu lain. Banyak
hal adalah hasil fusi atau kombinasi. Output adalah ekspresi diri, dan lebih daripada
generasi-generasi terdahulu, apresiasi dan pengakuan oleh pihak lain adalah hal yang
begitu penting bagi generasi Y.
Benang Merah X dan Y: Konsumsi
Benang merah dari kedua generasi X dan Y adalah apa dan bagaimana mereka sebagai
konsumen. Usia 18 hingga 35 tahun adalah rentang usia yang menjadi target utama
pemasaran konvensional. Pada prakteknya, komunikasi dan strategi pemasaran kian
hari memburu mangsa yang kian muda, dan mensponsori pola konsumsi yang kian
kerap dan random, mengarah pada fenomena konsumerisme.
Konsumerisme dianggap sebagai konsekuensi negatif dari perekonomian pasar bebas.
Pemilik modal membutuhkan konsumen yang terus menerus menyerap produksinya
untuk keuntungan yang berkelanjutan. Kebutuhan direkayasa begitu rupa sehingga
tidak ada individu yang merasa layak bagi masyarakatnya bila tidak mengadopsi
perilaku konsumtif. Bauman (2007) menciri hilangnya pertimbangan reflektif sebagai
kendali individu atas moda konsumsi, menghasilkan individu yang gelisah karena
harus pasrah pada bagaimana masyarakat menilainya berdasarkan kemampuannya
mengkonsumsi. Friedman (2005) mengingatkan bahwa kegiatan ekonomi yang

semata bertujuan untuk peningkatan materi beresiko mengorbankan kebahagiaan


akibat terkesampingkannya moralitas dan integritas.
Generasi X yang masih mendahulukan tatanan sosial dengan patuh berusaha
menyesuaikan diri dengan pencitraan yang dibentuk oleh merek dan industri
komersial. Generasi Y, yang menyaksikan segala keterjadian di belahan bumi lain
melalui sofistikasi teknologi komunikasi dan media, bukannya menjadi konsumen
yang lebih pandai justru lebih bernafsu mengadopsi produk industri maupun nilai dan
budaya yang melekat padanya karena pasar lebih cerdik lagi merayu mereka dengan
kredo life imitates art atau lebih tepatnya life imitates ad.
Generasi X dan Y Indonesia adalah generasi yang meski berdarah Indonesia adalah
generasi yang secara konstan terpapar pada nilai, simbolisasi dan pemaknaan yang
dianut di wilayah geografis lain. Indonesia adalah darah tapi belum tentu jiwa.
Konsep identitas yang akrab dalam keseharian kedua generasi ini bukanlah
kebangsaan, melainkan commercial branding. Mereka dipersatukan dengan bahasa
komunikasi pergaulan yang disepakati bersama, diperantarai bahasa biner, dan
pemaknaan bahasa tanda yang turut dibentuk oleh iklan komersial yang tersebar
dalam interaksi sosial dan wadah fisiknya. Tanpa sumpah pun, generasi X Indonesia
yang berjiwa muda dan adik mereka generasi Y yang betulan muda sepertinya
dipersatukan oleh gerakan konsumsi yang beresiko mengarah ke konsumerisme.
Gelombang konsumerisme boleh jadi melemahkan daya cipta dan kreasi, karena ia
mengalihkan perhatian individu dari apa yang mampu dilakukan ke apa yang kurang
dimiliki. Bila ini yang terjadi, jangankan untuk menegaskan atau merumus-ulangkan
konsep berbangsa, konsep jati diri mereka pun bisa jadi adalah hasil rekaan dan
rekayasa pemilik modal besar.
Revisi terakhir pada: 30 November 2013

Diani Savitri
Diani Savitri menulis fiksi dan opini. Ia konsultan riset kualitatif untuk bidang
pemasaran dan hubungan publik, juga fasilitator pelatihan untuk riset yang sama.
Menyelesaikan S1 di fakultas Ekonomi UI, kini mahasiswa program paskasarjana
Sosiologi, FISIP UI. Buku kumpulan cerita pendeknya Menanti Sekarini (2009)
http://www.jakartabeat.net/kolom/konten/pemuda-generasi-x-dan-y