Anda di halaman 1dari 4

KEMBANGKAN KONTROL DIRI

Tiap-tiap

orang

memerlukan

kebebasan

untuk

menjadi

kreatif

dan

untuk

mengaktualisasikan diri. Namun di sisi lain kendali dari dalan diri diperlukan sebagai
regulasi atas dorongan dan kemampuan yang dimiliki, baik secara fisik, psikis, maupu
perilakun.
Bertindak tanpa pikir panjang merupakan ciri khas yang melekat pada anak-anak.
Mereka bertindak spontan. Bila sakit mereka akan menangis di mana saja, kapan saja,
dan dalam situasi apa saja. Bila gembira, anak yang sehat akan berlarian, mencoretcoret, berteriak-teriak girang, atau melakukan apapun yang ia inginkan. Bayangkan bila
perilaku semacam ini dilakukan oleh remaja atau orang dewasa. Tentu saja cukup aneh.
Kita akan merasa sangat terganggu bila menemukan seseorang yang bukan lagi anakanak bertindak sesuka hati, membiarkan dorongan-dorongan atau keinginankeinginannya yang bersifat egoistis termanifestasi begitu saja. Semakin bertambah usia
seseorang, ia diharapkan semakin memiliki kendali atas perilakunya sendiri, atau
dengan kata lain semakin mengembangkan kontrol diri.
Kendali/kontrol diri (self-control) adalah pengaruh atau atau regulasi seseorang
terhadap fisik, perilaku, dan proses-proses psikologisnya (Calhoun & Acocella, 1990).
Ini merupakan hal yang sangat penting dalam hidup seseorang. Mengapa?
Pertama, kontrol diri berperan dalam hubungan seseorang dengan orang lain. Hal
ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kita tidak hidup sendirian, melainkan di dalam
kelompok, di dalam masyarakat. Padahal kita masing-masing memiliki kebutuhan
pribadi seperti makanan, minuman, kehangatan, dsb. Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut kita perlu mengendalikan diri sedemikian rupa supaya tidak mengganggu orang
lain.
Kedua, kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi. Setiap orang, dari
budaya manapun selalu berharap mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya. Misalnya,
tujuan untuk memiliki kompetensi tertentu, mencapai kematangan pribadi, dsb, sesuai
dengan standard yang ada dalam masyarakat. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut
kita perlu belajar dan berusaha terus menerus, dan mengendalikan diri dengan menunda
pemuasan kebutuhan-kebutuhan sesaat demi mencapai tujuan jangka panjang.
Dengan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri sebaik-baiknya, maka
kita menjadi pribadi yang efektif, sehingga kita dapat secara konsisten merasa bahagia,
bebas dari rasa bersalah, hidup lebih konstruktif, dapat menerima diri sendiri dan juga
diterima oleh masyarakat.
Kontrol Internal dan Kontrol Eksternal
Semakin bertambah usia, seseorang semakin dapat mengendalikan perilakunya
sendiri. Namun pada dasarnya sumber kontrol perilaku dapat dibedakan menjadi dua:
faktor di dalam atau di luar diri.
Kontrol diri yang bersumber dari dalam diri sering disebut sebagai kontrol
internal, dan yang bersumber dari luar diri disebut kontrol eksternal. Dalam kontrol diri
(internal), individu mengatur perilaku dan standard kinerjanya sendiri; memberi
ganjaran bagi dirinya sendiri bila berhasil mencapai tujuan; dan menghukum dirinya
sendiri bila tidak berhasil mencapai tujuan. Di sisi lain, dalam kontrol eksternal,

M.M. Nilam Widyarini

individu menempatkan atau menganggap orang lain sebagai penentu (yang menjadi
penyebab) perilaku, standard kinerja, dan ganjaran-ganjaran yang diperolehnya.
Dari dua jenis kontrol tersebut, kontrol pribadi (internal) dinilai lebih berharga.
Sepanjang kita menggantungkan diri pada kontrol eksternal, kehidupan kita sebagian
besar ditentukan oleh orang lain. Sebaliknya, dengan mengembangkan kontrol diri
(internal) berarti kita mengendalikan dua hal: diri sendiri dan dunia sekitar kita.
Problem Pengendalian Diri
Seperti telah dijelaskan di atas, kontrol diri yang berkembang dengan baik akan
memberikan banyak keuntungan bagi seseorang. Namun dalam kenyataan, tidak semua
dari kita mampu melakukan pengendalian diri secara konsisten. Kemampuan
pengendalian diri kita bervariasi. Ada yang sering terlalu banyak minum (hingga
mabok), terlalu banyak makan, mudah kehilangan kontrol emosi, cenderung menunda
pekerjaan, dsb. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Seperti halnya kontrol diri yang kuat, kontrol diri yang lemah juga berkembang
melalui proses belajar. Misalnya, seorang remaja yang tetap impulsif, yakni selalu
marah bila keinginannya tak terpenuhi, kemungkinan menjadi demikian karena sejak
kecil orang tuanya selalu menuruti segala permintaan (berfungsi sebagai ganjaran)
setiap kali anaknya itu merengek meminta sesuatu, terlebih-lebih bila anaknya mulai
marah. Ketika pola ganjaran semacam ini terjadi berulang-ulang, berarti si anak
mengalami proses pembelajaran bahwa permintaannya pasti terpenuhi dengan marah.
Maka selanjutnya ia mengembangkan pola perilaku marah setiap kali permintaannya
belum terpenuhi.
Seseorang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, mungkin menjadi
demikian karena sejak kecil terbiasa bekerja dalam tekanan orang tua (berfungsi sebagai
hukuman). Dalam situasi demikian ia termotivasi melakukan tugas hanya untuk
menghindari hukuman. Akibatnya, dalam situasi tanpa adanya tekanan, ia cenderung
bermalas-malasan.
Bagaimana mengatasi kelemahan dan meningkatkan kontrol diri, akan dikupas
dalam tulisan mendatang. Berikut disajikan sebuah skala (alat ukur) untuk mengetahui
tingkat kontrol diri kita masing-masing. Berdasarkan hasilnya, kita dapat memulai
langkah memantapkan kontrol diri masing-masing.
Menjajaki Kontrol Diri
Petunjuk
Untuk tiap-tiap butir pernyataan, anda dipersilakan memberikan respon dengan menuliskan
jawaban dan skor untuk jawaban anda tersebut pada kolom yang disediakan. Berikut pilihan
jawaban anda dengan skor masing-masing, untuk butir-butir pernyataan yang tidak bertanda
bintang (*):
STS, berarti pernyataan tsb SANGAT TIDAK SESUAI dengan diri anda, berikan skor 1.
TS, berarti pernyataan tsb TIDAK SESUAI dengan diri anda, berikan skor 2.
AS, berarti pernyataan tersebut AGAK SESUAI dengan diri anda, berikan skor 3.
S, berarti pernyataan tersebut SESUAI dengan diri anda, berikan skor 4.
SS, berarti pernyataan tersebut SANGAT SESUAI dengan diri anda, berikan skor 5.
Untuk butir-butir pernyataan bertanda bintang (*), pemberian skor dibalik: jawaban SS justru
mendapat skor 1; S mendapat skor 2, AS mendapat skor 3; TS mendapat skor 4; STS mendapat
skor 5.

M.M. Nilam Widyarini

Untuk mengetahui tingkat kontrol diri anda, jumlahkan skor untuk seluruh nomor. Selanjutnya
kategori kontrol diri anda dapat diketahui dari norma berikut:
136: sangat rendah; 3772: rendah; 73108: sedang; 109-144: tinggi; 145-180: sangat tinggi.
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.

Pernyataan
Bila mengerjakan sesuatu yang membosankan, saya berpikir tentang
bagian-bagian pekerjaan yang tidak membosankan dan hal-hal yang
menyenangkan yang akan saya terima ketika saya menyelesaikannya
Ketika harus melakukan sesuatu yang mencemaskan, saya mencoba
membayangkan bagaimana saya mengatasi kecemasan saya sambil
mengerjakan pekerjaan tsb
Biasanya dengan mengubah cara berpikir saya mampu untuk mengubah
perasaan-perasaan saya yang negatif tentang segala sesuatu.
Saya biasanya menemukan kesulitan mengatasi perasaan-perasaan tegang
tanpa bantuan dari orang lain. *
Ketika saya merasa depresi, saya mencoba memikirkan kejadian-kejadian
menyenangkan.
Saya tidak dapat menghindari berpikir tentang kesalahan-kesalahan yang
pernah saya buat pada masa lalu. *
Ketika saya menghadapi masalah yang sulit, saya mencoba mengatasinya
dengan cara-cara yang sistematik.
Saya selalu mengerjakan tugas saya secepatnya bila seseorang menekan
saya. *
Ketika saya menghadapi suatu keputusan yang sulit, saya memilih
menunda keputusan, bahkan ketika semua fakta untuk untuk itu sudah
tersedia. *
Ketika saya menghadapi kesulitan berkonsentrasi membaca, saya mencari
cara-cara untuk meningkatkan konsentrasi saya
Ketika membuat rencana untuk bekerja, saya menghilangkan semua hal
yang tidak relevan dengan pekerjaan saya.
Ketika mencoba menghilangkan kebiasaan buruk, yang pertama saya
lakukan adalah mencari semua faktor penyebab kebiasaan-kebiasaan itu.
Bila suatu pikiran yang tidak menyenangkan mengganggu saya, saya
mencoba memikirkan sesuatu yang menyenangkan.
Jika saya merokok dua pak sehari, kemungkinan saya membutuhkan
bantuan dari luar untuk menghentikan kebiasaan merokok itu. *
Bila saya tidak bergairah, saya mencoba untuk bertindak ceria sehinga
lebih bergairah.
Jika saya memiliki obat-obatan, saya akan minum obat penenang ketika
saya nervous. *
Ketika saya merasa depresi, saya mencoba untuk menyibukkan diri dengan
hal-hal yang saya sukai.
Saya cenderung menunda tugas-tugas yang tidak menyenangkan meskipun
sebenarnya saya dapat menyelesaikannya secara cepat. *
Saya membutuhkan bantuan dari pihak lain untuk menghilangkan
kebiasaan-kebiasaan buruk saya. *
Ketika saya merasa sulit untuk bekerja dengan tenang, saya mencari cara
untuk membantu saya tenang.
Meskipun membuat saya merasa tidak enak, saya tidak dapat menghindari
pikiran tentang bencana-bencana yang kemungkinan saya hadapi di masa
mendatang. *

M.M. Nilam Widyarini

Jwbn Skor

22. Yang utama bagi saya adalah mengerjakan pekerjaan yang harus saya
lakukan, dan kemudian baru mulai melakukan hal yang menyenangkan
bagi diri saya.
23. Ketika saya merasa nyeri pada bagian tertentu, saya mencoba untuk tidak
memikirkannya.
24. Harga diri saya akan bertambah bila saya berhasil mengatasi suatu
kebiasan buruk saya.
25. Untuk mengatasi perasaan buruk yang menyertai kegagalan, saya selalu
mengatakan pada diri saya, bahwa itu bukan suatu bencana dan saya dapat
melakukan sesuatu untuk itu.
26. Ketika saya merasa sangat impulsif, saya mengatakan pada diri sendiri
Stop! Berpikirlah sebelum anda melakukan sesuatu.
27. Ketika saya sangat marah pada seseorang, saya mempertimbangkan
tindakan saya secara hati-hati.
28. Dalam mengambil keputusan, saya biasanya lebih memilih mencari semua
alternatif daripada membuat keputusan secara cepat dan spontan.
29. Biasanya saya melakukan hal-hal yang betul-betul saya sukai, walaupun
ada hal-hal yang lebih penting untuk dikerjakan. *
30. Ketika saya menyadari akan terlambat menghadiri pertemuan penting, saya
mengatakan pada diri sendiri untuk tetap tenang.
31. Bila saya merasa nyeri, saya mencoba mengalihkan pikiran-pikiran saya
tentang itu.
32. Saya biasanya menyusun rencana bila menghadapi banyak hal yang harus
saya kerjakan.
33. Ketika saya tidak memiliki uang, saya memutuskan untuk mencatat semua
pengeluaran dengan tujuan agar lebih hati-hati di masa yad.
34. Jika saya menghadapi kesulitan dalam berkonsentrasi terhadap pekerjaan
tertentu, saya membagi tugas tersebut dalam segmen-segmen yang lebih
kecil.
35. Hampir selalau saya tidak dapat mengatasi pikiran-pikiran tidak
menyenangkan yang mengganggu saya. *
36. Ketika saya lapar tetapi tidak bisa makan, saya mencoba mengalihkan
pikiran-pikiran saya dari perut, atau mencoba membayangkan bahwa saya
sudah puas.

Sumber:
Rosenbaum (dalam Calhoun &Acocella, Psychology of Adjustment and Human
Relationships, 1990)

M.M. Nilam Widyarini