Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN EKSTRAKSI SELURUH GIGI PADA PASIEN GAGAL GINJAL DENGAN

KOMPLIKASI
Dena Septiani Nurhasanah, Erlin Zuke Rizkia, Oqy Diadara Putri, Putri Cherry Dio Fanny, Shabrina Islami, Renita
Uswatun Hasanah, Yunia Amina Faurur.
Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
Email: renitakaren58@gmail.com
ABSTRACT
Introduction: Chronic renal disease is a progressive loss in renal function happened continously over a period of months
or years. Objective: This case study explains about oral surgery management in full mouth extraction in chronic renal
failure patient. Case History: A 35-year-old caucasian woman is suffering from chronic renal failure and diabetes
mellitus. Intraoral clinical examination showed mobility of some teeth, generalized loss of insertion, deep periodontal
pockets, gingival bleeding and heavy dental plaque deposits throughout the mouth. She was referred to the dentist for
full-mouth tooth extraction and subsequent prosthetic rehabilitation. Case Management: The full mouth extraction were
scheduled in blocks under general anesthesia. Conclusion: It is important for dentist to address systemic conditon and
oral manifestations of chronic renal failure before dental treatment.
Keyword: chronic renal failure, hypertensive, hemodialysis, dental management
PENDAHULUAN
Ginjal merupakan salah satu organ ekskresi yang
berfungsi untuk menyaring darah dengan mekanisme,
filtrasi, reabsorpsi dan eksekresi.[1]
Pasien dengan kasus gagal ginjal kronik fungsi
ginjal tidak dapat pulih kembali karena kemampuan dari
ginjal untuk ekskresi dari produk sisa metabolisme
mengalami kegagalan. Tahapan gagal ginjal kronik dimulai
dengan penurunan cadangan ginjal, kemudian isufisiensi
ginjal, kegagalan ginjal dan uremia.[2] Sehingga perlu
dilakuan terapi, seperti dialisis atau transplantasi ginjal.
Dialisis terbagi menjadi dua jenis yaitu hemodialisis dan
dialisis peritoneal.[3]
Pasien dengan kelainan gagal ginjal sering
mengalami komplikasi kondisi sistemik yang menimbulkan
manifestasi pada rongga mulut. Pada keadaan tersebut,
dokter gigi memerlukan pengetahuan yang baik dalam
menentukan perawatan serta pemilihan medikasi yang tepat
bagi pasien.
LAPORAN KASUS
Seorang wanita Kaukasia berusia 35 tahun dirujuk
ke klinik untuk perawatan gigi. Pasien memiliki riwayat
gagal ginjal moderat sejak tahun 1991. Pada usia 13 tahun
pasien juga menderita diabetes mellitus dan hipertensi krisis
terkontrol. Rawat inap dilakukan, pasien didiagnosa
menderita gagal ginjal kronis dan mulai melakukan terapi
hemodialisis. Nefropati diabetik diduga sebagai faktor
etiologi penyakit ginjal kronis, sehingga dilakukan
continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD).
Pada tahun 1994 pasien didiagnosa mengalami tuli
koklea neurosensorial dan harus menggunakan alat bantu
dengar. Pada tahun berikutnya, pasien mengalami glaukoma
pada mata kiri dan kemudian dirujuk untuk dilakukan
operasi. Terapi CAPD menyebabkan pasien mengalami
peritonitis berulang, sehingga dilakukan kembali
hemodialisis 3 kali satu minggu selama 4 jam. Terapi
hemodialisis dan penyakit ginjal kronis yang dideritanya
menimbulkan gejala hiperparatiroidisme.

Pasien pernah mengalami rasa sakit di wilayah


anterior rahang dan terasa nyeri saat mengunyah juga
sensitif terhadap rangsang termal. Pemeriksaan intraoral
menunjukkan adanya mobilitas beberapa gigi, poket
periodontal yang dalam, lesi furkasi, perdarahan pada
gingiva, dan deposit plak yang berat pada seluruh gigi di
rongga mulut. Radiograf panoramik menunjukkan adanya
kehilangan tulang pada alveolar crest sebagai tulang
pendukung, tampak gambaran radiopak antara gigi,
kalkulus interproksimal, dan abses periapikal pada beberapa
gigi. Hampir semua gigi sangat hancur dan/atau terjadi
penurunan pada jaringan periodontal. Dokter mengambil
tindakan untuk mengekstraksi semua gigi. Bedah dilakukan
dengan General Anesthesia (GA).
PENATALAKSANAAN KASUS
Hasil pemeriksaan klinis pre-operatif pasien
mengalami gagal ginjal disertai diabetes melitus dan
hipertensi yang terkontrol dengan diet ekslusif. Pasien
mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter karena
bertahun-tahun melakukan hemodialis yaitu furosemid
40mg satu kali sehari , kaptopril 25 mg, vitamin B
kompleks, asam folat 5mg sekali sehari, calcitriol 0,25 mg,
dan kalsium karbonat 2 mg. Keadaan intraoral pasien yang
buruk sehingga memerlukan perawatan gigi sebelum
operasi dilakukan dengan melakukan ekstraksi semua gigi
menggunakan GA. Sebelum tindakan ekstraksi semua gigi,
pasien melakukan hemodialisa dengan heparin. Lima
bulan setelah tindakan ekstraksi, radiografi panoramik
menunjukan adanya perubahan malformasi tulang,
kemudian pasien membutuhkan rehabilitasi prostetik.
PEMBAHASAN
Pre-operative
Penyakait gagal ginjal kronis menyebabkan masalah
hemostasis, kadar urea yang tinggi dalam darah dapat
menyebabkan terjadinya kegagalan adhesi normal trombosit
dan agregasi (Von Willebrand faktor cacat), penurunan

trombosit faktor III dan perubahan dalam metabolisme


protrombin. Selain itu haemodialisis yang dilakukan
meningkatkan potensi terjadinya pendarahan karena
penggunaan antikoagulan, oleh karena itu pembedahan
sebaiknya dilakukan pasca hemodialisis saat kadar
antikoagulan dalam darah berada pada tingkat paling
minimal.[4]
Komplikasi lain yang menyertai yaitu hipertensi dan
diabetes kondisi ini meperburuk kondisi rongg mulut pasien
sehingga diputuskan untuk melakukan ekstraksi seluruh
gigi. Komunikasi yang baik dengan dokter yang merawat
pasien tersebut terkait dengan konsumsi obat dan kondisi
pasien saat itu perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya
risiko perdarahan maupun komplikasi lain selama tindakan
atau pasca tindakan.[5]
Intraoperative
Pada kasus digunakan GA saat melakukan prosedur
bedah ekstraksi seluruh gigi. Efek penggunaan GA pada
pasien gagal ginjal dapat mengurangi laju aliran darah ke
ginjal hingga 50%, dengan berkurangnya aliran darah ke
ginjal menyebabkan melemahnya fungsi ginjal sebagai
organ ekskresi. Selain itu terjadi penurunan fungsi dari
cholinesterase suatu enzim yang berfungsi untuk memecah
agen anestesikum sehingga zat anestesikum yang tidak
dapat dieksresikan terakumulasi dalam tubuh dan
menyebabkan perpanjangan waktu kerja anestesikum.
Penyesuaian dosis merupakan hal yang penting dilakukan
untuk mengatasi efek perpanjangan waktu kerja anaestikum
dan pemilihan zat anestesikum pun perlu diperhatikan
berkaitan dengan kondisi ginjal pasien seperti zat
anestesikum berupa methoxyflurane and enflurane
sebaiknya dihindari karena bersifat nefrotoksik.[6]
Pasca operatif
Pasca tindakan operasi, dokter dapat memberikan
agen hemostatik untuk mengatasi perdarahan, dan
memperhatikan kondisi rongga mulut dengan menjaga oral
hygiene. Terapi medikamentosa berupa antibiotik untuk
pencegahan infeksi dan analgesik yang tidak bersifat
nefrotoksik dan tidak memicu perdarahan diresepkan
dengan ketentuan khusus sesuai dengan kemampuan kerja
ginjal[7]. Amoxicillin 500mg dapat diberikan tiap 12-18 jam
sehari selama satu minggu atau alternatif lain, yaitu
clindamisin dosis umum atau eritromisin dengan
pengurangan dosis 50-75%[8], dikombinasikan bersama
analgesik sedang-berat berupa Tramadol dengan
penyesuaian dosis yang dikonsumsi tiap 12-18 jam sehari [9].
Pasien juga diminta untuk tetap mengkonsumsi obat-obatan
sebelumnya yang dikonsumsi secara rutin, yaitu
Furosemide 40mg, Captopril 25mg, Vitamin B kompleks,
Asam folat 5mg, Calcitriol 0.25, dan Kalsium karbonat
2mg.
Perkembangan rahang pasca ekstraksi dievaluasi
secara rutin per bulan. Evaluasi radiografi menunjukkan
lamina dura pada maksila dan mandibula menghilang, dan
terdapat abnormalitas pada proses penyembuhan tulang
pasca ekstraksi. Hal ini dipicu karena adanya peningkatan
parathormon sebagai indikator adanya gangguan dalam

metabolisme kalsium dan vitamin D yang berguna untuk


regenerasi tulang. Komplikasi yang terjadi dapat
menyebabkan demineralisasi pada tulang sehingga memicu
terjadinya pengeroposan[10]. Terapi yang dilakukan adalah
dengan mengkonsultasikannya ke dokter ahli karena
abnormalitas pembentukan tulang yang terjadi merupakan
komplikasi dari hiperparatiroidsme yang diderita pasien [11].
KESIMPULAN
Penatalaksanaan tindakan bedah mulut pada pasien
dengan gagal ginjal harus mempertimbangkan kondisi
sistemik dari pasien pada prosedur pra-operatif,
intraoperatif, dan pasca operatif. Pemilihan obat dengan
dosis yang tepat juga harus diberikan pada pasien dengan
beberapa komplikasi, agar mekanisme kerja obat tidak
bersifat antagonis.
REFERENSI
1.

Sloane, Ethel, Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula,


EGC: Jakarta; 2003.
2. Jan, Tambayong., Patofisiologi untuk keperawatan,
EGC: Jakarta; 2000.
3. Sulejmanagic, Halid, et al. Dental Treatment of
Patients with Kidney Diseases-Review. Bosnian
Journal of Basic Medical Science, 2005; 5(1): 52-56.
4. Alamo SM, Esteve CG, Perez M. Dental
considerations for the patient with renal disease. J
Clin Exp Dental. 2011; 3(2): 112-9.
5. Nishide N, Nishikawa T, Kanamura N. Extensive
bleeding during surgical treatment for gingival
overgrowth in a patient on haemodialysis a case
report and review of the literature. Australian Dental
Journal. 2005; 50(4): 276-281.
6. Salifu, M,O., Otah, M, E. Perioperative Management of
the Patient With Chronic Renal Failure. E Medicine.
2010
Juni.
http://emedicine.medscape.com/article/284555overview diakses pada tanggal 20 Maret 2015.
7. Eleni A. Georgakopoulou, Marina D. Achtari, Niki
Afentoulide Stomatologija, Dental management of
patients before and after renal transplantation. Baltic
Dental and Maxillofacial Journal, 2011; 13: 107-112.
8. SS De Rossi and M Glick Dental considerations for the
patient with renal disease receiving hemodialysis. JADA
1996;127: 211-219
9. Hardjosaputra, P., Listyawati, P., Tresni, K., Loecke, K.,
Indriantoro, Nawanti, I., Data Obat di Indonesia (DOI),
ed. 11, Muliapurna Jayaterbit: Jakarta; 2008.
10. Good Dental Status Despite LongTerm Dialysis and
Severe Renal Osteodystrophy

Case
Report
and
Literature
Review
MagdalenawilczyskaBorawska, Jacek Borawski,
Micha Myliwiec, Wanda Stokowska Dent. Med. Probl.
2005: 42; (3): 513516.
11. Lars Rejnmark, Line Underbjerg, and Tanja Sikjaer.
Therapy of Hypoparathyroidism by Replacement with
Parathyroid Hormone. Departement of Endocrinology

and Internal Medicine, Aarhus University Hospital


Tage-Hansens Grade 2, 8000, Aaharus: Denmark; 2008.