Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Metode geofisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur bumi
baik yang terlihat maupun tidak dengan melakukan pengukuran atau pengamatan
sifat fisis di atas permukaan bumi yang berlandaskan atas prinsip-prinsip fisika.
Metode gravitasi merupakan salah satu metode geofisika yang dapat
menggambarkan bentuk atau geologi bawah permukaan berdasarkan variasi
medan gravitasi bumi yang ditimbulkan oleh perbedaan densitas antar batuan.
Pada prinsipnya metode ini digunakan karena kemampuannya membedakan
densitas dari satu sumber anomali terhadap densitas lingkungan sekitarnya.
Salah satu cara untuk mengetahui titik terjadinya suatu patahan dan untuk
mengetahui jenis patahan tersebut dapat dilakukan dengan cara analisa derivative.
Analisa derivative terdapat dua jenis, yaitu First Horizontal Derivative (FHD)
dan Second Vertical Derivative (SVD). FHD didapat dari anomali gaya berat yang
menunjukkan tepian body-nya, sehingga metode ini dapat menentukan lokasi
batas kontak kontras densitas horisontal dari data gaya berat (Cordell, 1979
dalam Zaenudin, A, et al.,2013). Sedangkan SVD merupakan salah satu teknik
filtering yang dapat memunculkan anomali residual. Adanya struktur patahan
disuatu daerah akan dapat diketahui dengan baik menggunakan teknik ini.
Karakteristik perhitungan SVD, sesar naik memiliki nilai mutlak SVD maksimum
lebih kecil dari nilai mutlak SVD minimum, sedangkan karakteristik sesar turun
berlaku sebaliknya.
I.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari praktikum ini adalah untuk memahami dan mampu dalam
pengolahan data dengan baik menggunakan software Oasis Geosoft Montaj.
Tujuan praktikum ini adalah mendapatkan peta ABL, mendapatkan grafik
sayatannya, serta menginterpretasikan bawah permukaan bumi berdasarkan peta
dan sayatan tersebut.

BAB II
DASAR TEORI

II.1 Metode Gravity


Metode Gravity adalah salah satu metode eksplorasi dalam geofisika,
yang memenfaatkan sifat daya tarik antar benda yang didapat dari densitasnya,
jadi prinsip eksplorasi dengan metode gravity ini yaitu mencari anomali gravity
pada subsurface. Metoda ini jarang digunakan pada tahapan lanjut eksplorasi
bijih, namun cukup baik digunakan untuk mendefinisikan daerah target spesifik
untuk selanjutnya disurvei dengan metoda-metoda geofisika lain yang lebih detil.
Adanya variasi medan gravitasi bumi ditimbulkan oleh adanya perbedaan
rapat massa (density) antar batuan. Adanya suatu sumber yang berupa suatu massa
(masif, lensa, atau bongkah besar) di bawah permukaan akan menyebabkan
terjadinya gangguan medan gaya berat (relatif). Adanya gangguan ini disebut
sebagai anomali gaya berat. Karena perbedaan medan gayaberat ini relatif kecil
maka diperlukan alat ukur yang mempunyai ketelitian yang cukup tinggi. Alat
ukur yang sering digunakan adalah Gravimeter. Alat pengukur gayaberat di darat
telah mencapai ketelitian sebesar 0.01 mGal dan di laut sebesar 1 mGal.
II.2 Anomali Bouguer Lengkap
Anomali

Bouguer

merupakan

koreksi

yang

dilakukan

untuk

menghilangkan perbedaan ketinggian dengan tidak mengabaikan massa di


bawahnya. Perbedaan ketinggian tersebut akan mengakibatkan adanya pengaruh
massa di bawah permukaan yang mempengaruhi besarnya percepatan gaya berat
di titik amat.

Gambar II.1 Perbedaan ketinggian serta adanya massa di bawah


permukaan

Koreksi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :


0,04192 x 1 x z

(II.1)

Dengan :
1 = Densitas batuan (gr/cc)
z = Elevasi (m)
.

Gambar II.2 Koreksi Bouguer

Selanjutnya dengan adanya bukit dan lembah disekitar titik pengamatan


dan mengurangi besarnya harga gravitasi pengamatan sehingga perlu dilakukan
koreksi medan (terrain correction). Oleh karena adanya efek. massa diantara titik
pengamatan dan MSL yang akan menambah harga gravitasi pengamatan, maka
harus dilakukan pengurangan apabila titik amat berada dia atas datum. Reduksi
Bouguer dirumuskan sebagai berikut:
g bouger atau (KB) = 2Gh = 0,04193 h

(II.2)

Perhitungannya berlawanan dengan koreksi udara bebas. jika titik ukur


terletak di atas datum maka dikurangkan dan sebaliknya.

massa bouguer

Gambar II.3 Anomali Bouguer

Anomali Bouguer absolut (anomali

bouguer lengkap) dapat

dirumuskan sebagai berikut :


ABL = ABS + Koreksi Medan

(II.3)

Harga anomali Bouguer relatif (anomali bouguer sederhana) sering


digunakan untuk keperluan-keperluan tertentu yang bersifat lokal, sehingga
tidak perlu mengetahui harga g absolutnya (tidak memerlukan pengikatan pada
RGBS).

Pada anomali Bouguer relatif dan absolut (anomali bouguer lengkap) hanya
berbeda dalam hal magnitude anomali sebesar suatu faktor yang relatif
konstan. Sedangkan anomali yang akan diinterpretasikan sebagai efek kondisi
geologi adalah anomali Bouguer yang telah dikurangi dengan efek regional
yang ditentunkan dari kecenderungan anomali Bouguer, sehingga dapat
dianggap bahwa anomali Bouguer absolut dan relatif akan menghasilkan
pola dan magnitude yang sama.

II.4 Upward Continuaition


Dalam penelitian ini proses pemisahan dilakukan dengan

metode

kontinuasi ke atas dan ke bawah. Metode ini pada dasarnya dipakai untuk
menghilangkan efek lokal sehingga yang didapatkan hanyalah kecenderungan
regionalnya. Hasil yang diperoleh kemudian dikurangkan terhadap anomali medan
gravitasi Bouguer lengkap yang sudah terpapar pada bidang datar sehingga
diperoleh anomali medan gravitasi Bouguer lengkap lokal yang siap diinterpretasi.
Persamaan yang digunakan dalam melakukan kontinuasi ke atas) adalah
z
U ( x, y, z O z )
2

( x x' )

U ( x' , y ' , z O )
2

( y y ' ) 2 z 2

3/ 2

dx' dy '
(II.4)

Persamaan ini menunjukkan cara penghitungan harga medan potensial


pada sembarang titik di atas permukaan dimana harga-harga medan yang
diketahui berada. Prosedur perhitungan persamaan diatas akan lebih efisien jika
dibuat dalam domain Fourier. Secara sederhana persamaan diatas merupakan
konvolusi dua dimensi:

U ( x, y, zO z )

U ( x' , y' , z

) u ( x x' , y y ' , z )dx' dy '

dimana

u ( x, y, z )

z
1
2
2
2 ( x y z 2 ) 3 / 2
(II.5)

Transformasi Fourier dari persamaan dinyatakan oleh persamaan di


bawah
k z

e
1
1
F u
F
z k
2 z r

z k

z 0.

(II.6)

dengan

r x 2 y 2 z 2
(II.7)

Sehingga transformasi Fourier dari medan kontinuasi ke atas adalah


F U u F U F u
(II.8)
II.6 Analisa Derivative
Analisa Derivative digunakan untuk menentukan batas dan mengetahui
jenis patahan. Untuk mendapatkan hal tersebut maka dilakukan First Horizontal
Derivative (FHD) dan Second Vertical Derivative (SVD) dari lintasan yang
dibuat dalam peta anomaly bouger atau peta anomaly regional atau peta
anomaly residual yang selanjutnya dibuat penampangnya.
a. First Horizontal Derivative (FHD)
First Horizontal Derivative (FHD) atau Turunan Mendatar Pertama
mempunyai nama lain yaitu Horizontal Gradient. Horizontal gradient dari
anomali gayaberat yang disebabkan

oleh

suatu

body

cenderung

untuk

menunjukkan tepian dari body-nya tersebut (Zaenudin, A., et al., 2013). Jadi
metode horizontal gradient dapat digunakan untuk menentukan lokasi batas
kontak kontras densitas horisontal dari data gaya berat (Cordell, 1979 dalam
Zaenudin, A, et al.,2013). Untuk menghitung nilai FHD dapat dilakukan
dengan persamaan

FHD=

g(i)g(i1)
x

(II.9)

Dimana:
g

= nilai anomaly (mgal)

= Selisih antara jarak pada lintasan (m)

mgal
FHD = First Horizontal Derivative ( m )

Gambar II.4 Nilai Gradien Horizontal pada model tabular (Blakely, 1996)
b. Second Vertical Derivative (SVD)
SVD

bersifat

sebagai

high

pass

filter,

sehingga

dapat

menggambarkan anomali residual yang berasosiasi dengan struktur dangkal yang


dapat

digunakan

untuk mengidentifikasi jenis patahan turun atau patahan naik

(Hartati, A., 2012). Dalam penentuan nilai SVD maka digunakan turunan kedua atau
dilakukan dengan persamaan:

SVD =

g ( i1 )g ( i )g(i+1)
x

(II.10)

Dimana:
g

= Nilai anomali (mgal)

= Selisih antara jarak pada lintasan (m)

SVD = Second Vertical Derivative (

mgal
2
)
m

Dalam penentuan patahan normal ataupun patahan naik, maka dapat dilihat pada
harga mutlak nilai SVDmin dan harga mutlak SVDmax . Dalam penentuannya dapat dilihat
pada ketentuan berikut:
|SVD|min > |SVD|max = Patahan Naik
|SVD|min < |SVD|max = Patahan Normal

(II.11)

|SVD|min = |SVD|max = Patahan Mendatar

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1 Diagram Alir

Gambar III.1 Diagram alir pengolahan data Geosoft Montaj

III.2 Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data


Pengolahan data sampai mendapatkan sayatan peta ABL dan grafiknya
dilakukan langkah langkah sebagai berikut :
1. Buka kembali peta ABL yang telah dilakukan pada praktikum sebelumnya
di Software Oasis Montaj
2. Membuat sayatan pada peta ABL tersebut
3. Langkah langkah dalam membuat sayatan sebagai berikut:
- Membuat tabel data baru pada Software Oasis Montaj
- Kemudian pilih gridding
utility
grid profile
masukkan nilai
interval
- Setelah itu membuat sayatan dengan menarik garis sesuai dengan yang
diinginkan pada peta ABL
- Pilih database tool
channel tool
make a distance channel
- Selanjutnya export file tabel tersebut ke format .csv
- Data .csv tersebut buka dengan software surfer dan copy data tersebut ke
Microsoft Excel
4. Lakukan perhitungan nilai FHD dan SVD dengan rumus persamaan yang
telah ada.
5. Membuat grafik dari hasil perhitungan yang telah didapat pada Microsoft
Excel
6. Menginterpretasikan hasil yang telah didapat
7. Membuat kesimpulan
8. Selesai

10

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHAS

IV.1 Peta Anomali Bouguer Lengkap

11

Gambar IV.1Peta Anomali Bouguer Lengkap

Peta Anomali Bouguer Lengkap

di atas dapat dilihat pada line 10

merupakan titik pengambilan data lokasi kelompok 10 tepatnya dari arah utara
peta ke selatan peta. Pada line tersebut didapatkan nilai rata-rata anomali Bouguer
antara 79 mGal sampai dengan 85 mGal dimana dengan titik tertinggi berada
dibagian akhir dari line tersebut yaitu di selatan peta dengan nilai 85 mGal dan
yang paling kecil yang berada di sebelah utara peta dengan nilai 79 mGal. Hampir
80% daerah penelitian didominasi oleh nilai anomali Bouguer tinggi. Secara
kualitatif, peta ABL ini dapat di interpretasikan litologi bawah permukaannya.
Berdasarkan warna litologi, lokasi penelitian dapat diinterpretasikan bahwa warna
merah menunjukkan litologi bawah permukaannya adalah batuan kristalin. Hal ini
dapat diasumsikan dengan percepatan gravitasi berbanding lurus dengan rapat
massa batuannya. Karena nilai anomali bouguer lengkapnya tinggi maka semakin
kuat interpratasinya bahwa benar adanya litologi bawah permukaan tersebut
adalah batuan kristalin.
Sedangkan pada keseluruhan peta, nilai Anomali Bouguer Lengkap yang
terukur yaitu dari 59 mgal sampai dengan 87 mgal. Nilai Anomali Bouguer
Lengkap yang relatif rendah ditandai dengan warna biru, nilai Anomali Bouguer
Lengkap yang relatif sedang ditandai dengan warna hijau, nilai Anomali Bouguer
Lengkap yang relatif tinggi ditandai dengan warna merah. Dari data yang
diperoleh, nilai Anomali Bouguer Lengkap terendah yaitu 59 mgal yang ditandai
dengan warna ungu, sedangkan yang tertinggi yaitu 87 mgal yang ditandai dengan
warna merah. Pada peta Anomali Bouguer Lengkap di atas merupakan suatu
representasi dari medan gravitasi yang paling umum untuk memperkirakan
gambaran kondisi bawah permukaan berdasarkan kontras rapat massa batuan.
Dari peta Anomali Bouguer Lengkap di atas, diinterpretasikan adanya batas
litologi antara batuan kristalin, soil dan satuan batupasir. Hal tersebut juga
didukung oleh peta geologi yang mengindikasikan adanya kontak batuan dan
dapat dilihat berdasarkan warna litologi pada peta geologi, didapatkan batuan
kristalin dan satuan batupasir.

12

IV.2. Peta Sayatan Analisa Derivative

13

Gambar IV.2 Peta Sayatan Analisa Derivative

Peta peta elevasi di atas, dapat dilihat rentang ketinggian dibedakan


berdasarkan warna. Nilai tertinggi yang didapat dari pengolahan adalah 275 m
dan nilai terendah 135.5 m. Daerah tertinggi terdapat pada bagian utara dan
selatan peta yang ditunjukkan dengan warna merah muda merah dan jingga.
Nilai tertinggi ini berkisar dari 174.6 m sampai dengan 275 m. Daerah terendah
pada peta terletak ditengah tengah peta yang ditunjukkan dengan warna biru
muda biru tua. Nilai terendah tersebut berkisar antara 135.5 m sampai dengan
146 m. Sedangkan daerah dengan ketinggian yang sedang terdapat diantara daerah
tertinggi dan terendah pada peta yang ditunjukkan dengan warna kuning hijau.
Nilai ketinggiannya berkisar antara 147.5 m sampai dengan 172 m.

14

IV.3. Analisa Derivative

15

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Hasil pengolahan peta ABL, baik secara regional dan residual dapat
disimpulkan:
1. Pada line 10 diperoleh nilai rata-rata anomali Bouguer antara 79 mGal sampai
dengan 85 mGal, dimana anomali yang tinggi berada di selatan peta dan yang
rendah berada di utara peta dengan ciri-ciri litologinya adalah batuan
kristalin.
2. Pada peta secara keseluruhan diperoleh nilai Anomali Bouguer Lengkap yang
terukur yaitu dari 59 mgal sampai dengan 87 mgal. Anomali Bouguer
Lengkap yang rendah berada pada selatan peta dan yang tinggi berada pada
utara peta dimana terdapat 2 ciri litologi yaitu batuan kistalin dan satuan batu
pasir.
3. Peta sayatan analisa derivative
4. Analisa derivative
V.2 Saran
Dalam pengolahan data diperlukan ketelitian dalam melakukan filtering
dan pengolahan peta. Selain itu sebaiknya pengetahuan dan pemahaman geologi
diperbanyak agar dalam penginterpretasian geologi tidak minim.

16