Anda di halaman 1dari 3

Lo.

1 RABEL & RIRIS

DEFINISI, KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI ASMA


DEFINISI
Istilah asma berasal dari kata Yunani yang artinya terengah-engah dan berarti serangan napas
pendek. Meskipun dahulu istilah ini digunakan untuk menyatakan gambaran klinis napas pendek
tanpa memandang sebabnya, sekarang istilah ini hanya ditujukan untuk keadaan-keadaan yang
menunjukkan respon abnormal saluran napas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan
penyempitan jalan napas yang meluas. Asma adalah penyempitan bronkus yang bersifat reversible
yang terjadi oleh karena bronkus yang hiperaktif mengalami kontaminasi dengan antigen.
KLASIFIKASI
Dahulu dibedakan asma alergik (ekstrinsik) dan non-alergik (intrinstik). Asma alergik
terutama munculnya waktu anak-anak mekanisme serangannya melalui reaksi alergi terhadap alergen.
Sedangkan asma intrinstik bila tidak ditemukan tanda-tanda reaksi hipersensitivitas terhadap
alergen. Namu klasifikasi tersebut pada prakteknya tidak mudah dan sering pasien mempunyai kedua
sifat alergik dan non-alergik (campuran).
Selanjutnya Global initiative for asthma (GINA) mengajukan klasifikasi asma intermiten dan
persisten ringan, sedang dan berat.
Tabel 1. Klasifikasi derajar asma
DERAJAT
ASMA
Intermiten

Persisten
ringan

Persisten
sedang

Persisten berat

GEJALA
Bulanan
Gejala < 1x/minggu
Tanpa gejala diluar serangan
Serangan singkat
Mingguan
Gejala > 1x / minggu, tetapi <1x /
hari.
Serangan
dapat
mengganggu
aktivitas dan tidur
Harian
Gejala harian
Menggunakan obat setiap hari
Serangan mengganggu aktivitas
dan tidur
Serangan 2x/minggu, bisa berharihari
Kontinu
Gejala terus menerus
Aktivitas fisik terbatas
Sering serangan

GEJALA MALAM

FAAL PARU

2 kali sebulan

VEP1 atau APE 80%

> 2 kali seminggu

VEP1 atau APE 80%


normal

> sekali seminggu

VEP1 atau APE > 60%


tetapi 80% normal

sering

VEP1 atau APE <80%


normal

Baru-baru ini, berdasarkan gejala siang, aktivitas, gejala malam, pemakaian obat pelega dan
eksaserbasi, GINA membagi asma menjadi asma terkontrol, terkontrol sebagian dan tidak terkontrol.
1

Lo. 1 RABEL & RIRIS


Tabel 2. Tingkat kontrol asma
KARAKTERISTIK

TERKONTROL

TERKONTROL
SEBAGIAN

Gejala harian
Keterbatasan aktivitas

Tidak ada ( 2x/mgg)


Tidak ada

> 2x/mgg
Ada

Gejala
nocturnal
/
terbangun karena asma

Tidak ada

Ada

Kebutuhan pelega

Tidak ada (2x/mgg)

> 2x/mgg

Normal

< 80% prediksi / nilai terbaik

Tidak ada

1/tahun

Fungsi
(APE/VEP1)
Eksaserbasi

paru

TIDAK
TERKONTROL

3
gambaran
terkontrol
sebagian
ada dalam setiap
minggu

1 x/ mgg

ETIOLOGI
Sampai pada saat ini etioologi asma masih belum jelas diketahui secara pasti, namun ada
beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial
(Tanjung, 2003; Muttaqin, 2008).
a. Faktor predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat
alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar
dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa
diturunkan.
b. Faktor presipitasi
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
ex: debu (Dermatophagoides pteronissynus), bulu binatang, serbuk bunga, spora
jamur, bakteri dan polusi
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut
ex: makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
ex: perhiasan, logam dan jam tangan
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma.
Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim
kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan
debu.
Stress
Stress/ gangguan emosi bukan penyebab asma namun dapat menjadi pencetus
serangan asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang
2

Lo. 1 RABEL & RIRIS

mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah


pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa
diobati.
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium
hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu
libur atau cuti.
Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan
asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas
tersebut
Obat-obatan
Beberapa klien asma bronkhial sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti
pennisilin, salisilat, beta blocker dan kodein.

FAKTOR RESIKO ATAU PENCETUS


Factor-faktor pencetus pada asma yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Infeksi virus saluran napas; influenza


Pemajanan terhadap alergen; tungau, debu rumah, bulu binatang
Pemajanan terhadap iritan asap rokok, minyak wangi
Kegiatan jasmani: lari
Ekspresi emosional; takut, marah, frustasi
Obat-obatan aspirin, penyekat beta, anti-inflamasi non-steroid
Lingkungan kerja: uap zat kimia
Polusi udara: asap rokok
Pengawet makanan: sulfit
Lain-lain: genetic, haid, kehamilan, sinusitis

REFERENSI
Sudoyono Aru, (2009), Buku Ajar IlmuPenyakitDalam, ed, ke 5 jilid 1, Jakarta: interna publishing.
Sylvia price, (2012), Patofisiologi, ed.ke 6, vol. 2, EGC
Mansjoer Arif, Kapita selekta kedokteran, ed. Ke 3 jilid 2, Jakarta: FK UI
Rab Tabrani, 2010, ilmu penyakit paru, Jakarta : Trans Info Media
http://id.scribd.com/doc/54038460/2/Etiologi-Asma