Anda di halaman 1dari 34

Home

About Me

Contact Me

Disclaimer

Privacy Policy

Motivasi

Text to sea

Serba - serbi Perawat

Home

Askep 1
o Keperawatan Anak
o Keperawatan Keluarga
o Keperawatan Jiwa
o Sistem Pernapasan
o Medikal Bedah
o Endokrin
o Keperawatan Jiwa
o Sistem Persyarafan
o Keperawatan Komunitas

Askep 2

o Muskuloskaletal
o Kanker
o Pengindraan
o Kardiologi
o Darah
o Manajemen Keperawatan
o Uji Kompetensi
o Maternitas
o Farmasi

More
o Bola
o Tips Kesehatan
o Lasalian
o Hukum Kesehatan

Serba-serbi

Motivasi

Kristiani

Menu 7

Home kep jiwa Asuhan Keperawatan Jiwa Klien Dengan Waham Kebesaran

Asuhan Keperawatan Jiwa Klien Dengan Waham


Kebesaran
LANDASAN TEORI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. Y.S DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR WAHAM
KEBESARAN RUANG E RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH KELAS A PROVINSI
SULAWESI UTARA
I. Asuhan Keperawatan Jiwa
A. Pengertian
- Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan / asuhan yang bersifat humanistik, profesional dan
holistik berdasarkan ilmu dan kiat, memiliki standar asuhan dan menggunakan kode etik, serta
dilandasi oleh profesionalisme yang mendiri dan / atau kolaborasi (lokakarya, 1983).
- Pengertian Asuhan Keperawatan.
Asuhan Keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang
diberikan secara langsung kepada klien / pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan.
-Pengertian Proses Keperawatan.
Proses keperawatan adalah suatu proses penilaian masalah yang dinamis dalam usaha
memperbaiki atau memelihara pasien sampai ke taraf optimum melalui suatu pendekatan yang
sistematika untuk mengenal dan membantu memenuhi kebutuhan khusus pasien. (Dep. Kes. RI.
Dan JICA 1982).
-Gangguan Jiwa adalah kondisi terganggunya fungsi mental, emosi, pikiran, kemauan, perilaku
psikomotorik dan verbal, yang menjelma dalam kelompok gejala klinis yang disertai oleh
penderitaan dan mengakibatkan terganggunya fungsi humanistik individu. C PPDGJ III atau ICD
X.
- Keperawatan Jiwa adalah Proses Intrapersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan
mempertahankan prilaku sehingga klien dapat berfungsi sebagai manusia antara perawat dengan
klien , keluarga dan masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal
( Carpenito, 1989 dikutip oleh kawat 1991)
B. Tujuan Keperawatan
Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan
dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi optimal. Kebutuhan dan
masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan untuk dipenuhi serta diselesaikan. Dengan
menggunakan proses keperawatan perawat dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang

bersifat rutin, intuisi dan tidak unik bagi individu klien. Keperawatan Jiwa merupakan proses
interpersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku sehingga klien
dapat berfungsi utuh sebagai manusia.
1.
a.
b.
c.

Bagi Perawat.
Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan.
Tersedia pola pikir / kerja yang logis, ilmiah, sistematis dan terorganisir.
Pendokumentasian dalam proses keperawatan memperlihatkan bahwa perawat bertanggung

jawab dan bertanggung gugat.


d. Peningkatan kepuasan kerja.
e. Sarana / wahana desiminasi IPTEK keperawatan.
f. Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian.
2.

Bagi Klien.

a. Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah


b. Partisipasi meningkat dalam menuju perawatan mandiri (Independent Care)
c. Terhindar dari malpraktek
C. Proses Keperawatan Jiwa Dan Langkah-langkah Proses Keperawatan
- Pengkajian Keperawatan.
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian
terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang
dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian
keperawatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian
terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart dan Larai
2001). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 dimensi yaitu fisik, emosional, intelektual, sosial,
dan spiritual kemampuan perawat yang diharapkan dalam melakukan pengkajian adalah
mempunyai kesadaran / titik diri (self-awareness), kemampuan mengobservasi dengan akurat,
kemampuan komunikasi terapeutik dan senantiasa mampu berespon secara efektif (Stuart dan L)
2001. Perilaku yang perlu dilakukan perawat-perawat adalah membina hubungan saling percaya
dengan melakukan kontrak, mengkaji data dari klien dan keluarga, memvalidasi data dengan
klien, mengorganisir atau mengelompokkan data, serta menetapkan kebutuhan atau masalah
klien.
- Diagnosa Keperawatan.

Pengertian diagnosa keperawatan adalah identifikasi / peniliaian terhadap pola respon klien baik
aktual maupun potensial (Stuart dan Laraia, 2001)
Tipe-tipe diagnosa keperawatan dalam rencana asuhan keperawatan dan dokumentasi oleh
-

Carpenito adalah.....
Diagnosa aktual; fokus intervensi yaitu mengurangi atau menghilangkan masalah
Diagnosa resti; fokus intervensi untuk mengurangi faktor resiko untuk mencegah terjadinya

masalah aktual
Diagnosa kemungkinan; fokus intervensi mengumpulkan data tambahan untuk / atau

menetapkan tanda gejala / faktor resiko


Masalah kolaboratif; fokus intervensi menentukan awitan atau status masalah penatalaksanaan
status
- Perencanaan Keperawatan.
Perencanaan keperawatan terdiri dari 3 aspek yaitu, tujuan umum, tujuan khusus dan rencana
tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus kepada penyelesaian permasalahan sedangkan
tujuan umum dapat dicapai apabila serangkaian tujuan khusus telah tercapai. Tujuan khusus
berfokus pada penyelesaian etiologi sehingga tujuan ini perlu dicapai atau dimiliki klien.
Umumnya kemampuan klien pada tujuan khusus dapat menjadi 3 aspek yaitu kemampuan
kognitif, psikomotor, dan afektif. Rencana tindakan ini disesuaikan dengan standar asuhan
keperawatan jiwa di Indonesia atau standar keperawatan Amerika. Tindakan keperawatan yang
telah direncanakan dicatat dalam formulir dokument keperawatan.
- Implementasi Keperawatan.
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada
siatuasi nyata implementasi sering kali jauh berbeda dengan rencana. Sebelum melaksanakan
tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana
tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini. Perawat juga menilai diri sendiri,
apakah mampu melaksanakan, perawat harus menilai kembali, apakah tindakan tersebut aman
bagi klien. Pada saat akan melaksanakan tindakan keperawatan, perawat membuat kontrak
dengan klien yang isinya menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta yang diharapkan
dari klien. Dokumentasikan semua tindakan yang dilakukan.
- Evaluasi Keperawatan.
Evaluasi keperawatan merupakan proses berkelanjutan menilai efek dari tindakan keperawatan
pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan

yang telah dilaksanakan. Evaluasi dibagi dua, yaitu evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan
dengan membandingkan antara respon klien dan tujuan khusus serta umum yang telah
S:
O:
A:

ditentukan. Evaluasi dapat dilakukan dengan pendekatan SOAP yaitu.....


Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
Analisa ulang atas data subjektif dan data objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih

P:

tetap / muncul masalah baru


Perencanaan atau tindakan lanjut berdasarkan hasil analisis pada respon klien yang terdiri dari
lanjut klien dari perawat.

Bagan Rentang Neurobiologis

D.

Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditegakkan pada klien dengan gangguan
delusi ( waham )
1.

resiko membaayakan diri / orang lain.


Faktor resiko meliputi : - ancaman bahaya yang dirasakan
- peningkatan bahaya yang dirasakan

Indikator yang mungkin : - berperilaku dalam cara yang tidak rasional


- menjadi terancam atau diserang dalam
Menghadapi ancaman yang dirasakan.
2.

ansietas

dapat dihubungkan dengan, kemungkinan ditandai oleh :


-

ketidakmampuan untuk percaya


-

sistem delusi yang kaku

merasa takut terhadap orang lain dan permusuhannya sendiri.


Hasil yang diinginkan / kriteria evaluasi
-

mengakui delusi dan mengatasinya secara tepat.

Mendefinisikan metode untuk menurunkan kadar ansietasnya sendiri.

Melaporkan bahwa ansietas berkurang ketingkat yang dapat dikendalikan


3.

Menunjukkan sikap yang rileks.


ketidakberdayaan
dapat dihubungkan dengan :

gaya hidup tidak berdaya : perasaan tidak adekuat, gangguan harga diri yang parah.
-

Interaksi interpersonal.
Kemungkinan ditandai oleh :

Ekspresi verbal yang tidak mempunyai pengendalian/pengaruh terhadap situasi.

Penggunaan delusi paranoid, perilaku agresif untuk mengopensasi kurangnya pengendalian.


Hasil yang diharapkan :
-

Menunjukkan perubahan gaya hidup/ perilaku yang penting untuk mempertahankan


pengendalian tanpa menggunakan penyerangan.
4.

hambatan interaksi sosial


dapat dihubungkan dengan :

gangguan proses pikir, perasaan tidak percaya terhadap orang lain/ pikiran delusi.
-

Defisit pengetahuan/ keterampilan tentang cara meningkatkan mutualitas.


Kemunkinan ditandai oleh :

Ketidaknyamanan dalam situasi sosial, kesulitan dalam membangun hubungan dengan orang
lain.
-

Menghadapi masalah dengan kemarahan/ permusuhan dan perilaku kekerasan.


Hasil yang diinginkan :
-

Mengungkapkan kemauan untuk terlibat dngan orang lain.

Berpartisipasi dalam aktivitas/ program bersama orang lain dengan hanya sedikit
ketidaknyamanan.

Rencana tindakan keperawatan


1.

resiko membahayakan diri / orang lain


tindakan / interaksi :

perhatikan riwayat perilaku berbahaya sebelumnya bila dalam keadaan stress. Indikator
peningkatan resiko kambuhnya perilaku berbahaya/ menyerang.

Bimbing klien untuk mengidentifikasi situasi yan memicu ansietas berat perilaku agresif.
Memahami hubungan antara ansietas berat dan perasaan agresif dapat membantu klien
mengidentifikasi. Pilihan untuk menghindari perilaku kekerasan.

Terima sikap bermusuhan secara verbal tanpa perlawanan atau pertahanan perawat perlu
menyadari responsnya sendiri terhadap perilaku klien. Perilaku tidak selalu diarahkan pada
perawat secara individu, dan berespons secara defensif dapat membentuk situasi. Kesadaran
yang responsnya sendiri, memungkinkan perawat untuk melawan/ menghadapi perasaan
tersebut.

Hindari menunjuk, menyentuh, memerintah, memaki, menantang, mengganggu, berargumen,


menganggap sepele, atau mengintimidasi klien. Tindakan ini dapat dianggap mengancam dan
dapat memicu klien untuk melakukan kekerasan.

Minta izin untuk mengajukan pertanyaan, cara untuk melihat jelas kejadian yang memicu emosi
yang mendasari, seperti takut, ansietas, atau malu beri jalan keluar/ alternatif lain.
2.

ansietas

tindakan / intervensi
-

kembangkan hubungan perawat/ klien utama. Kontinuitas hubungan perawatan utama memberi
waktu yang diperlukan untuk membentuk pertahanan dengan orang yang dicurigai.
-

Gali pola koping yang timbul terhadap ansietas dan seberapa efektif koping tersebut.
Meningkatkan kewaspadaan bahwa tindakan agresif dapat diungkapkan secara destruktif.

Diskusikan alternatif perilaku tidak efektif terbaru. Klien menggunakan koping tidak sesuai
dengan mengidentifikasi strtegi yang konstruktif dan efektif untuk mengatasi situasi yang
menakutkan dapat merangsang perubahan.

Kolaborasi : beri pengobatan sesuai indikasi. Menurunkan ansietas dan pikiran delusi yang dapat
meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah.
3.

ketidakberdayaan
tindakan / intervensi

anjuran klien untuk melakukan apa saja yang bisa dilakukan bagi dirinya, beri pilihan bila
mungkin. Memungkinkan / memampukan pengendalian situasi sehinggakecurigaan dapat
dikurangi.

Bimbing klien untuk mengidentifikasimunculnya perasaan kehilangan kendali dan kejadian /


situasi yang mengarah pada perasaan tidak berdaya.
-

Tinjau ulang kontak sosial/ huungan terdahulu, jika tidak lagi terlibat dalam hubungan ini,
biarkan klien menggambarkan apa yang terjadi. Pengetahuan dapat tercapai dari bagaimana klie
membangun hubungan dan mengaoa hubungan ini memburuk atau tetap utuh, ang memberi
kesadaran untuk merubah perilaku diri dan meningkatkan hubungan yang akan datang.
4.

hambatan interaksi sosial


tindakan / intervensi

bangun hubungan, gunakan teknik mendengar aktif dan beri lingkungan yang aman untuk
keterbukaan diri. Kontak yang jujur, jelas, konsisten dapat membantu klien memulai dan
menguasai tugas yang berhubungan dengan belajar mempercayai orang lain.

Tentukan derajat hambatan, dengarkan pendapat klien tentang kesendirian, perhatikan adanya
perasaan diri berharga. Perasaan tidak percaya dapat menimbulkan kesulitan dalam membangun
hubungan, dan klien dapat menarik diri dari kontak tertutup dengan orang lain.
-

Anjurkan klien mengungkapkan perasaan tidak nyaman terhadap situasi sosial dan persepsi
tentang alasan permasalahan. Pengakuan membantu klien menyadari perasaan dan memulai
mengatasinya.

Kaji hubungan keluarga pola komuikasi, pengetahuan tentang kondisi klien. Masalah dalam
keluarga dapat membuat anggota keluarga memberi dukungan yang adekuat / hubungan yang
berkelanngjutan dan dapat mengganggu kemajuan klien.

Gali dan contohkan cara mengubah interaksi / perilaku sosial. Beri umpan balik terhadap usaha
klien. Memberi lingkan yang aman untuk mencoba perilaku baru. Pemberian dorongan dapat
meningkatan pengulangan perilaku tersebut dan pengambilan resiko
II. Konsep Dasar Penyakit
A. Pengertian
Waham atau delusi adalah kesalahan dalam menilai diri sendiri atau keyakinan tentang isi
pikirnya pada hal tidak sesuai dengan kenyataan atau kepercayaan yang telah terpaku/terpajang
kuat dan tidak dibenarkan berdasarkan fakta tetapi dipertahankan jika disuruh membuktikan
berdasarkan akal sehatnya tidak bisa, atau disebut juga kepercayaan yang palsu dan sudah tak
dapat dikoreksi.
B. Faktor-faktor lainnya yang dapat melatar belakangi terjadinya waham antara lain:
Tahap tumbuh kembang tidak terpenuhi, pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan,
dan masa kecil tidak bahagia. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses berfikir
misalnya faktor somatik ( gangguan otak), faktor psikologik ( gangguan emosi tpsikosa ), dan
faktor sosial ( kegaduhan yang sangat mempengaruhi perhatian dan konsentrasi individu ).

C. Macam-macam waham
1.

Waham kejar

Keyakinan bahwa orang lain atau lingkungan memusuhi/mencurigai dirinya, misalnya merasa
ada orang yang ingin membunuhnya, memata-matai atau membicarakan kejelekannya.
2.

Waham kebesaran

Yakin bahwa dirinya mempunyai kekuatan, kekuasaan, kedudukan, kekayaan berlimpah,


pendidikan tinggi atau kepandaian yang luar biasa, misalnya seorang yakin bahwa dirinya adalah
seorang raja.
3.

Waham nihilistik

Penyangkalan terhadap dirinya atau lingkungan, misalanya yakin bahwa dirinya sendiri sudah
mati dunia ini sudah tak ada, dsb.
4.

Waham keagamaan

Yaitu waham yang berhubungan dengan keagamaan, misalnya merasa dirinya adalah seorang
nabi, merasa dalam waktu 10 hari terjadi kiamat disuatu tempat.
5.

Waham dosa

Keyakinan pada dirinya bahwa ia telah melakukan dosa yang sangat besar dan tidak mungki
terampuni dan karenanya ia bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tertentu.
6.

Waham pengaruh

Keyakinan bahwakeadaan pikiran, emosi atau tingka lakunya dipengaruhi oleh kekuatan dari luar
yang tidak terlihat atau gaib.
7.

Waham somatik dan hipokondrik

Keyakinan bahwa keadaan tubunya sudah tidak mungkin benar atau sakit misalnya yakin bahwa
ususnya telah busuk diperutnya ada gejalah, dsb.
8.

Waham sakit

Keyakinan bahwa seluruh atau sebagian tubuhnya sedang dilanda penyakit kronis.
9.

Waham hubungan

Interpretasi yang salah dari pembicaraan, kejadian ataugerak-gerik yang didasarkan berhubungan
langsung dengan dirinya.

D. Gambaran klinis dan diagnosa

Waham kebesaran yang menetap seringkali merupakan tanda dari gangguan kepribadian,
waham kebesaran merupakan suatu gangguan psikotik, biasanya mania skizofremia, atau
gangguan waham organik (sebagai contoh : intoksikasi dengan kokain, aphetamin atau
halusinogen). Tujuan yang penting dalam memeriksa waham kebesaran adalah untuk
menentukan berat, irama dan penyebab
Pedoman wawancara dan psikoterapi :
Pasien dengan waham kebesaran masih diikat dengan suatu wawancara jika memberikan
kesempatan kepada mereka untuk membicarakan isi kepercayaan kebesarannya walaupun
beberapa pasien mudah tersinggung dan tidak dapat bekerjasama, jangan menantang
kepercayaan kebesaran klien walaupun jika jelas sudah tetapi jangan setujui jika mereka benar,
jika pasien bertanya langsung kepada anda bahwa saya dapat terbang?. Jawaban yang paling baik
adalah bahwa anda mengerti pasien mempercayainya dan kepercayaan itu akan teliti lebih lanjut,
selama wawancara cobalah menentukan dalamanya ide. Apakah pasien mempunyai kebesaran
dibidang lain? Galilah pikiran paranoid, beberapa ide paranoid mempunyai inti yang kebesaran
yaitu pasien paranoid percaya bahwa meraka cukup penting bagi orang yang melawan mereka.
E.

Pemeriksaan dan pelaksanaan

2. Tentukan apakah pasien psikotik dan tentukan derajat gangguan pertimbangan, pasien dengan
gangguan delusional mungkin memiliki gangguan pertimbangan tersebut, sehingga mereka
berbahaya bagi dirinya/orang lain dan memerlukan perawatan di RS, involunter jika diperlukan.
Apakah pasien berkelahi dengan orang yang menantang kebesaranya?. Apakah pasien
merencanakan untuk melakukan kepercayaan kebesarannya?. Apakah terdapat rencana
membunuh? Apakah pasien mempunyai resiko membahayakan diri sendiri karena sikap waham
kebesarnnya.
3. Singkirkan penyebab organik khususnya jika pasien psikotik jika gejalah adalah baru pada
seorang pasien, pasien tanpa adanya riwayat gejalah yang serupa sebelumnya obat yang
diresepkan seperti contoh steroid, trisiklik, inhibutor, paroamin oksidasi (madro-dofa dan
phenileprine). Dapat menyeabkan waham kebesaran
4. Pasien dengan waham kebesaran yang ringan telah mengalami haltersebut selama beberapa
tahun mungkin memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian narsistik ambang histronik atau

paranoid. Pasien yang mempunyai sistem kebesaran yang persisten dan baik yang tidak
mengalami depresi atau yang tidak mempunyai halusinasi/waham kacau yang menonjol mungkin
mendapatkan diagnosis dan delusional jenis kebesaran.
5. Terapi obat adalah bergantung pada diagnosis definitif. Agitasi akut mungkin memerlukan
tronkulisasi dengan benzodiasepam. (contoh :oxazepam (seraks) 10-30mg/oral, estazolam
(prosem) 0,5-1 mg/oral, lorazopam (oktofan) 1-2 mg/oral/IV, suatu anti psikotik (sebagai contoh
trifluoperalin (prulaksume)/haloperidol, semuanya diberikan 2-5 mg/oral/IV). Jika pasien adalh
psikotik gangguan delusional diobati dengan anti psikotik.
.
III. Konsep Analisa Proses Interaksi (API).
A. Pengertian.
Analisa Proses Interaksi adalah merupakan alat kerja yang dipakai perawat (mahasiswa) untuk
memahami interaksi yang terjadi antara perawat dan klien.
Analisa Proses Interaksi meliputi:
-

Catatan hubungan perawat klien.

Resume Interaksi yang terjadi selama perawat berhubungan individual dengan klien.
-

Kelompok klien pada terapi modalitas keperawatan.


B. Tujuan Analisa Proses Interaksi (API).
1. Meningkatkan kemampuan mendengar
2. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi

3. Memberi dasar belajar; artinya berupa alat untuk mengkaji kemampuan perawat / mahasiswa
dalam berinteraksi dengan klien dan data bagi CI /supervisor pembimbing untuk memberi
arahan.
4. Meningkatkan kepekaan perawat terhadap kebutuhan klien, serta mempermudah perkembangan
dan perubahan pendekatan perawat.
5. Membantu perawat merencanakan tindakan keperawatan.
C. Data Dalam Format (API).
1. Inisial klien; tulis inisial bukan nama lengkap.
2. Status interaksi; pertemuan beberapa fase berhubungan.
3. Lingkungan; tempat interaksi, situasi tempat interaksi, posisi mahasiswa dan klien.

4. Deskripsi klien; Penampilan umum klien.


5. Tujuan; tujuan yang akan dicapai dalam interaksi selama 20-30 menit
- Tujuan berpusat pada klien.
- Tujuan terkait dengan prosek keperawatan klien.
6. Komunikasi verbal Ucapan verbal Perawat Klien.
7. Komunikasi non-verbal non verbal klien dan perawat saat bicara / saat
mendengar.
8. Analisa berpusat pada perawat.
Pusat analisa proses yang berhubungan dengan komponen sebagai berikut :
a. Perasaan Sendiri.
Perawat waspada tentang respon perasaan sendiri dan menunjukkan peningkatan kemampuan
untuk menjelaskan riwayat / latarbelakang bagaimana perasaan perawat dan bagaimana perasaan
perawat dipengaruhi oleh tingkah laku non verbal klien.
b. Tingkah Laku non-verbal.
Cari / kenali, diskusikanlah analisa tingkah laku non verbal diri sendiri.
c. Isi Pembicaraan yang muncul dan terselubung.
Cari / kenali, bedakan dan diskusikanlah tehnik komunikasi yang
Digunakan.
d. Tujuan Interaksi.
Perawat berperan sebagai apa? Pasien sebagai apa?
Apa anggapan perawat tentang kejadian yang telah terjadi? Bagaimana
seharusnya berinteraksi.
Bagaimana pengaruh proses interaksi pada mereka.
Apakah mereka perlu berubah? Dan jika perlu berubah, mengapa?
Apakah interaksi ini mempengaruhi tujuan dan rencana interaksi yang
akan datang?
1. Analisa berpusat pada klien.

Analisa; pusatkan analisa proses interaksi pada komponen sebagai berikut :

a.

Tingkah laku non verbal.

Cari / kenali, diskusikan dan analisa tingkah laku non verbal klien.
b. Isi pembicaraan yang muncul dan terselubung.
Cari / kenali, bedakan dan diskusikan keadaan perasaan klien.
c.
d.

Perasaan klien.

Temukan, cari arti tingkah lakuklien.

Identifikasi dan diskusikan keadaan perasaan klien.

Bagaimana perasaan klien mempengaruhi / dipengaruhi oleh perawat.

Kebutuhan klien dengan menggunakan data dari interaksi, yang terjadi interaksi sebelumnya,
riwayat klien dan teori.
2. Analisa Teoritis (rasional).

Sintesa dan terapan teori pada proses interpersonal: Berikan alasan teoritis, intervensi anda atau
intervensi lain. Tunjukkan peningkatan kemampuan dalam mendiskusikan tingkah klien dalam
rangka teori psikodinamika, teori adaptasi, setiap sumber-sumber teori lain yang dikenal.
-

Perawat diharapkan menggunakan teori komunikasi, teori komunikasi terapeutik, teori

interpersonal dan setiap pembelajaran dasar ilmu pengetahuan tingkah laku yang telah diperoleh
disamping itu juga digunakan teori perawatan psikiatri yang didapat dari bacaan dan kuliah.

D. Contoh Format (API).


Analisa Proses Interaksi
Inisial Klien

: ....................................

Nama Mahasiswa :................................

Status Interaksi

: ....................................

Tanggal

:................................

Lingkungan

: ....................................

Jam

:................................

Deskripsi Klien

: ....................................

Bangsal

:................................

Tinjauan (orientasi pada klien) : ..............................................

Komunikasi

Komunikasi

Analisa Berpusat

Analisa Berpusat

Verbal

Non verbal

Pada Perawat

Pada Klien

P ...............

Rasional

P ...................
K ..................

K ..............

K ..................

P ...................
Dst.

Gambar Contoh Format (API)

BAB III
STUDI KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Nn. Y. S DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR
WAHAM KEBESARAN RUANG E RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH KELAS A
PROVINSI SULAWESI UTARA
3.1 Pengkajian Keperawatan.

1. Identitas Klien.
Inisial

: Nn Y. S

Umur

: 31 tahun

Jenis Kelamin
Alamat

: Perempuan
: Talutu, Tondano Jaga III

Suku/Bangsa

: Minahasa/Indonesia

Pendidikan

: SMP

Agama

: Kristen Protestan

Status Perkawinan
Tanggal MRS

: 03 Maret 2009

Tanggal Pengkajian
Ruang Perawatan
Pekerjaan
Diagnosa Medik

: Tidak Kawin
: 13 Oktober 2009

: Ruangan E (Ruangan Maengket)


: Tidak Ada
: Skizofrenia Residual

2. Penanggung Jawab.
Nama

: Nn. L. L

Umur

: 60 tahun

Pendidikan
Pekerjaan
Hubungan
Alamat

: SD Kelas II
: Tani
: Ibu Klien
: Talutu, Tondano Jaga III

II. Alasan Masuk Rumah Sakit


Klien MSJ Ramtumbuysan Manado diantar oleh orang tuanya karena menurut
keluarga klien sering bicara-bicara sendiri, suka tidur terus, gelisah dan
kadang-kadang

marah dan mengamuk

Keluhan saat pengkajian : klien bahwa kedua orang tuanya tinggal di luar negeri
klien tampak kooperatif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan. Klien
terlihat bingung, mondar-mandir sendiri, 10 kali ganti

terkadang
pakaian, klien juga

mengatakan dia anak tunggal yang disayangi


orang tuanya
III.

Faktor Predisposisi.

1. Klien pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu > ya. Karena sejak 2 tahun
lalu klein sudah merasakan gejela-gejala ini
2. Pengobatan Sebelumnya.
Klien belum pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya,
3. Trauma
Sejak kecil pernah mengalami trauma perpisahan antara kedua orang tuanya
4. Anggota keluarga yang gangguan jiwa
Ibu klien perna mengalami gangguan jiwa
4. Pengalaman masa lalu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
Klien dilarang oleh keluarga untuk bekerja dan sering tinggal di rumah
IV. Pemeriksaan Fisik.
a.

Tanda-tanda Vital
TD : 110/80 mmHg
N

: 80 x/menit

: 18 x/menit

b. Berat Badan
Tinggi Badan
c.

Keluhan Fisik

: 155 cm
: 50 kg

: Saat pengkajian klien mengeluh demam.

V. Status Psikososial
1. Genogram

yang

A. Orang tua dari ayah


Orang tua dari ibu
Ayah klien bersaudara
D. Ibu klien bersaudara
Klien bersaudara

Laki-laki
Perempuan
Meninggal
Keluarga yang mengalami gangguan jiwa
Tinggal serumah

2.

Konsep Diri.
a. Citra Tubuh.

Klien mengatakan bahwa dia sangat menyukai seluruh bagian tubuhnya, karena ia merasa
bahwa ia adalah orang luar negeri.
b. Identifikasi Diri.
Klien dapat meyebutkan idetitasnya seperti nama umur, alamat klien dengan baik.
c. Peran.
Belumnya MRS. Klien hanya membantu pekerjaan ibunya di rumah seperti memasak,
membersihkan rumah, mencuci baju, karena tidak diizinkan ayahnya untuk berkerja.
d. Ideal Diri.
Klien mengatakan ingin segera sembuh dan cepat pulang ke rumah.

e. Harga Diri.
Klien mengatakan bahwa dirinya masih berguna dalam keluarganya dan masyarakat.
3. Hubungan Sosial.
- Orang yang terdekat.
Klien mengatakan bahwa di rumah ia dekat dengan kedua orang tuanya.
- Peran serta dalam kelompok masyarakat.
Klien sangat aktif dalam mengikuti kegiatan aktivitas kelompok.
- Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien tidak memiliki hambatan dalam beriinteraksi dengan orang lain karena sifat klien yang
mudah bergaul dengan orang lain.
4. Spiritual
- Nilai dan Keyakinan.
Klien beragama kristen protestan dan yakin akan sembuh karena pertolongan Tuhan.
- Kegiatan Ibadah :
Klien jarang mengikuti ibadah karena menurut klien ia tidak mempunya baju gereja.
VI. Status Mental.
1.

Penampilan.

Cukup, menggunakan pakaian sesuai, ganti baju 10 kali sehari


2. Pembicaraan.
Pembicaraan cepat, suara perlahan
3. Aktivitas Motorik
Klien gelisah, suka mondar-mandir di ruangan
4. Alam Perasaan
Klien tampakm gelisah, dia mengatakn ingin pulang rumah
5. Afek
Adar, kadang-kadang tampak tenang, kadang-kadang tampak gelisah, suka bertengkar dengan
klien lain.
Maslah keperawatan : resiko tinggi melakukan tindak kekerasan

6. Interaksi selama wawancara


Saat dikaji klien kooperatif menunjukan sifat bersahabat dan mau menjawab semua pertanyaan.
7. Perpepsi
Saat pengakjian. Klien mengatakan masih mendengar dan melihat bayangan-bayangan
8. Proses Pikir
Klien selalu menjawab pertayaan yang diajukan
9. Isi Pikir
Klien mengatakan bahwa ayah dan ibunya tinggal diluar negeri, klien juga mengatakan bahwa
dia memiliki banyak pacar. Dan klien mengatakan dia tinggal di luar negri.
Masalah : waham kebesaran
10. Tingkat Kesadaran
Klien dapat mengenal orang yang berbicara dengannya, dapat menyebutkan tempat dam waktu
tanpa bantuan perawat.
11. Memori
Klien sudah tidak bisa mengingat kejadian dimasa lalu. Tapi dia masih ingat kejadian sekarang
Masalah : gangguan proses pikir.
12. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
Klien dapat menghitung dengan benar.
13. Kemampuan Penilaian
Klein mampu mengambil keputusan.
14. Daya Tilik diri
Klien menyadari kalau dirinya sedang sakit dan berada di RS.

VII. Kebutuhan Persiapan Pulang.


1. Makan.
- Frekuansi makan kien 3 x/hari dengan komposisi nasi, ikan, sayur, dan buah, klien dapat
menghabuskan makanan yan disajikan.

2. BAB Dan BAK.


Klien mampu melakukan sendiri tanpa bantuna orang lain.
3. Mandi
Klein dapat mandi sendiri, mandi 3x/hari dan 3x gosok gigi/hari
4. Berpakaian.
Klien dapat melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain
5. Istirahat dan Tidur.
Klien dapat tidur siang 1 jam, tidur malam 8 jam.
6. Penggunaan Obat.
Klien dapat minum obat secara mandiri dan dimonitor oleh perawat (di RSJ) dam dikontrol oleh
keluarga bila sudah pulang
7. Pemeliharaan Kesehatan.
Untuk sementara waktu klien harus durawat du RSJ
8. Aktivitas di dalam rumah.
Untuk dirumah, kadang-kadang klien melakukan aktivitas seperti saat diruma mencuci baju,
memasak dan membersihkan rumah.
9. Aktivitas di luar rumah.
Klien belum bisa melakukan aktivitas diluar rumah.

VIII. Aspek medik.


1. Diagnosa medik
Skizofrenia residual
2. Terapi medic
- CPZ (clorpromazime) 3 x 100 mg.
- Hallop ( Hollopenidol) 3 x 5 mg
- THP ( trihexphenidyl) 3 x 2 mg
IX. Masalah Keperawatan

- Gangguan isi pikir : Waham Kebesaran


- Koping induvidu tidak efektif.
- Resiko melakukan tindakan kekerasan.

IIX. Pengelompokan Data


Data subjektif
- Klien mengatakan bahwa ia adalah orang luar negeri
- Klien mengatakan bahwa ia memiliki banyak pacar
- Klien mengatakan bahwa kedua orang tuanya tinggal di luar negeri
- Klien mengatakan bahwa dia anak tunggal yang disayangi orang tuanya
Data objektif
- Pembicaan capat
- Klien sudah mengalami gejala ini 2 tahun yang lalu
- Klien suka bertengkar dengan teman-temannya
- Klien MRS bertengkar dengan teman-temannya

2. ANALISA DATA
Data
Ds :
- Klien mengatakan bahwa ia adalah orang luar negeri

Masalah
Gangguan Isi
Kebesaran

pikir

waham

- Klien mengatakan bahwa ia memiliki banyak pacar


- Klien mengatakan bahwa dia anak tunggal yang
disayangi orang tuanya
Do :
- Pembicaan capat
Ds :
-

Resiko Tinggi melakukan tindak


kekerasan

Do :
- Klien sudah mengalami gejala ini 2 tahun yang lalu
- Klien suka bertengkar dengan teman-temannya
- Klien MRS bertengkar dengan teman-temannya

3. Masalah Keperawatan.
1. Gangguan isi pikir : waham kebesaran b.d individu tidak efektif.
2. Resiko tinggi melakukan tindak kekerasan b.d waham kebesaran.

Resiko tinggi melalukan tindak kekerasan


Gangguan isi pikir : waham kebesaran
Koping individu tidak efektif
Akibat
Masalah utama
penyebab
4. Pohon Masalah.

ASUHAN KEPERAWATAN
NAMA KLIEN
RUANGAN

: Nn. Y. S
: E (Maengket)

Perencanaan Keperawatan

nosa keperawatan

Tujuan/kriteria
hasil

Intervensi

Rasional

Implementasi
Keperawatan

E
ke

guan isi pikir :

TUM

Tgl : 13/10-2009

Tgl :

m kebesaran b.d

Gangguan isi pikir

Jam : 09.00

Jam

du tidak efektif

waham kebesaran

ditandai dengan.

teratasi dalam 3 bulan

S:

- Nam
- Saya

Tuk

en

mengatakan

a ia adalah orang

egeri

ien

ia

memiliki

k pacar

ien

saling percaya
dengan kriteria hasil

mengatakan

mengatakan

a dia anak tunggal


disayangi orang

senan
- Saya

1. Bina hubungan
1. Bina hubungan
saling percaya

kien dapat menerima


kehadiran perawat

- Dorong dan beri

1. Hubungan saling
percaya sebagai dasar

saling percaya sengan

interaksi yang

klien

terapeutik perawat klien


- Ungkapkan perasaan

kesempatan kien

klien kepada perawat

untuk

sebagai bakti bahwa

mengungkapkan

klien mulai

perasaannya

mempercayai perawat
- Rasa empati dapat

caraan capat

- Dorong ungkapkan
klien dengan empati

1. Membina hubungan

Menyakan pada klien


apa yang dirasakan
klein

luar n
- Ayah

di be

ibu d

inggr
- Saya

nama
- Saya
O:

- Hub

Mendengarkan klien

perca

tercip
- Klie

meningkatkan

mengungkapkan

hubungan saling

perasaannya dengan

dan m

percaraya.

menerima tanpa

menj

memotong pembicaraan

perta

Jam : 10.00
2. Menanyakan pada

peraw
- Klie

mene

ia ha

2. Mengetahui jenis
2. Anjurkan

gangguan pada pasien.

pertayaan-pertayaan -

Mencegah pembicaraan

yang penting

terlampaui jauh

- Identifikasi ketakutan

dan perhatian klien


2. Kenali waham

saat ini, tetapi juga

klien dengan kriteria

terlihat diskusikan

hasil klien dapat

panjang tentang

bercerita tentang

waham yang

dirinya dan apa yang

kompleks

sehingga pikiran pasien

klien tanggapan pribadi

RS.

terhadap dirinya sendiri


Mendengarkan klien

A:

mengungkapkan

- Hub

perasaannya dan

perca

wahamnya tanpa

lebih meningkat lagi ke

berusaha meningkatkan

waham.

wahamnya. Meminta
mengungkapkan

kepe

Jam : 11.00
3. Membantu klien
mengingat bahwa klien
sedang sakit dan untuk

yang dipikirkan klien

itu klien sementara


3. Menguji daya ingat

dirawat dengan tujuan

dan mengidetifikasi
alam perasaan klien

mengatasi penyakitnya
Membantu
menjelaskan pada klien
bahwa saat ini dia
sedang dirawat

- Bantu klien

- Membantu klien

bersama-sama dengan

membedakan

membedakan khayalan

teman-temannya yang

3. Klien dapat

khayalan dan

dan kenyataan

punya masalah karena

membedakan antara

kenyataan

sakit dan meyakinkan

khayalan dan

klien bahwa perawat

kenyataan dengan

akan membantunya

kriteria hasil klien

dalam mengatasi

mengenala situasi,

masalahnya

klien dapat

- Lanj

interv

terhadap dirinya sendiir.

3. Tanyakan apa

P:

klien untuk
penilaian pribadi

dipikirkan

tercip

membedakan
khayalan dan
kenyataan

tinggi TUM

ukan

tindak Tidak terjadi tindak

Tgl :
Tgl : 14/10- 2009

asan b.d waham kekerasan

Jam

S:
Jam : 09.00
1.1 Hubungan saling
aran yang ditandai TUK
- Kala
1.1 Bina hubungan saling
Salam
terapeutik
percaya sebagai dasar
n.
1. Bina hubungan
seda
- Memperkenalkan diri
percaya
interaksi yang
- Berjabat tangan
saling percaya
Saya
Duduk
berdampingan
terapeutik antara
dengan kriteria hasil
mara
- Meningkatkan kontrak
perawat
klien
sudah mengalami klien dapat menerima
- Menunjukan sikap
pada
1.2 Ungkapkan perasaan
Iya
ini 2 tahun yang
empati selamat pagi
kehadiran perawat
klien kepada perawat
1.2 Dorong dan beri
perkenalkan nama saya itu ti
sebagai bukti klien
n suka bertengkar
mela
kesempatan untuk
Feila, saya mahasiswa
mulai
mempercayai
n teman-temannya
lagi
mengungkapkan
Akper yang akan
perawat
n MRS bertengkar
rajin
perasaannya
melakukan praktek

n teman-temannya

disini selama 3 hari


1.3 Rasa empati dapat
1.3 Dengarkan ungkapan
klien dengan empati

mulai hari ini saya akan

meningkatkan seling

berbincang-bincang

percaya.

dengan anda selama 15


menit. Nama anda
siapa? Terus umur
berapa? Tinggal
dimana? Bagaimana
perasaan anda
sekarang?

O:

- Klie

men

tinda

dilak
saat

amu

nase
A:

- TUK
P:
Tgl : 14/10- 2009
Jam : 09.00

- Lan

TUK 2
- Mengkaji tindakan

yang biasa dilakukan


klien untuk mengontrol
2.1 Indentifikasi bersama2.1 Tindakan yang biasanya
klein tindakan apa

dilakukan klien

yang dilakukan bila

merupakan upaya

sedang emosi

mengatasi emosinya

2.2 Diskusikan cara


2. Klien dapat

mengontrol emosi

2.2 Dengan terkontrolnya


emosi oleh klien mata

mengontrol emosinya

resiko kekerasaan tidak

dengan kriteria hasil

akan terjadi

klien tidak marahmarah

emosinya
- Kalau Y. S sedang
emosi biasanya apa
yang dilakukan?
- Mendiskusikan cara

mengontrol emosi
kalau Nn. Y.S sedang
emosi. Y. S jangan
berkelahi dengan yang
lain apalagi sampai
memukul teman, Y.S
kan orang kristen kalau
Y.S melakukan itu
Tuhan Yesus marah, Y.S
juga jangan lupa minum
obat secara teretur.

perte

berik

ANALISA PROSES INTERAKSI


Nam

: Nn. Y. S

Umur

: 31 Tahun

Interaksi

: I (Fase perkenalan)

Waktu interaksi : 13/10- 2009, jam : 09.00-09.30


Lingkungan

skripsi

: Di dalam ruangan, duduk saling berdampingan kira-kira 1 m

: Klien mengunakan kaos berwarna biru dongker, celana panjang jeans berwarna biru, rambut
pendek terurai, memakai sendal jepit

juan

: Klien dapat memperkenalkan diri/ identitas, terbina hubungan saling percaya antara perawat
dan klien
Komunikasi

Verbal
P : Selamat pagi

Non verbal
P : Menatap klien
sambil tersenyum

Analisa Berpusat pada


Klien
perawat
Merasa senang
Berharap ada

Mengucapkan salam

ditegur perawat

tanggapan positif

sebagai awal dari

dari klien

terjadi hubungan

K : Tersenyum dan
K : Selamat pagi

duduk disamping

Rasional

saling percaya

perawat
P : Perkenalkan nama P : Mengulurkan tangan Nampak mulai

Berharap klien

Perkenalkan dapat

akan

meninggalkan

mahasiswa Akper

menyebutkan

hubungan saling

Bethesda yang akan

nama dan umur

percaya antara

praktek disini selama

interaksi berjalan

perawat dan klien

3 hari, mulai hari ini

sesuai dengan

saya akan berbincang-

harapan

saya Feila, saya

dan menatap klien

bincang dengan anda


selama 15 menit
nama anda siapa?
Terus umur berapa?
K : Nama saya Y.S
sekarang umur 31
tahun
K : Mengulurkan

ada kedekatan

tangan dan menatap


P : Nn. Y.S tinggal
dimana

perawat
P : Bernada memohon

Langsung

Senang karena

K : Dengan yakin dan

menjawab

pertayaan

cepat menjawab

pertayaan

langsungan

Langsung

dijawab
Senang karena

menjawab

pertayaan

pertayaan

langsungan

K : Saya tinggal di

asrama
pertayaan
P : Kalau orang tua Nn. P : Bernada ingin tahu
Y. S tinggal dimana?
K : Kalau ayah saya

K : Dengan yakin dan

tinggal di belanda,

cepat menjawab

sendangkan ibu saya

pertayaan yang

Mengukur daya ingat

dijawab

tinggal di inggris
diajukan
P : Nn. Y.S besok kita P : Menatap klien dan
berbincang-bincnag

Mengukur daya ingat

tersenyum

lagi yach, selamat

Segera berjalan

Mengkhiri

Perpisahan yang baik

kembali ke

interaksi,

memungkinkan

ruangannya

berharap dapat

interaksi dapat

melanjutkan

dilanjutkan

siang
K : Iya suster

interaksi pada
esok hari
ANALISA PROSES INTERAKSI
Nam

: Nn. Y. S

Umur

: 31 Tahun

Interaksi

: II (Fase kerja)

Waktu interaksi : 14/10- 2009, jam : 09.00-09.30


Lingkungan
Deskripsi

: Di dalam ruangan, duduk saling berdampingan kira-kira 1 m

: Klien mengunakan kaos berwarna hijau, celana pendek, memakai sendal jepit
Tujuan

: Klien dapat mengungkapkan perasaannya

Komunikasi
Verbal
P : Selamat pagi

Non verbal
P : Menatap klien

Analisa Berpusat pada


Klien
perawat
Menyapa perawat Berharap klien

tersenyum
K : Selamat pagi suster

K : Menatap perawat

P : Nn. Y.S sudah mandi?

sambil tersemyum
P : Bertanya dengan
penuh harapan klien

Rasional
Mengucapkan

mejawab sapaan

salam sebagai

perawat

awal memulai

Menjawab dengan Bertanya

komunikasi
Memulai interaksi

malu-malu

dengan bercanda

sekaligus

menjawab

bercanda

pertayaan
K : Sudah suster, pagi ini sayaK : Menjawab
sudah mandi 4xkali

pertayaan perawat

dengan malu-malu
P : Nn. Y.S sudah berapa kaliP : Menatap klien
masuk RS?
K : Baru sekarang suster

K : Menatap perawat

Berusaha

Mengkaji

Dengan

mengingat dan

orientasi klien

menanyakan

segara menjawab

kapan masuk RS

pertayaan

dan diketahui
orientasi klien

P : Nn. Y.S masih ingat kapan


pertama kali merasakan
sejala seperti ini
K : 2 tahun suster saya
merasakan gejala seperti
ini
P : Didalam keluarga Nn. Y.SP : Meoertahankan
ada yang sakit seperi Nn.

kontak mata

Y.S

Langsung

Berharap klien

Mengetahui

menjawab

dapat menjawab

faktor herediter

pertayaan

pertayaan sesuai

K : Ibu saya pernah masuk

dengan

RS jiwa sama sperti saya


P : Apakah Nn. Y.S sering P : Mempertahan kan
dijenguk keluarga?

kontak mata

K : Ayah dan ibu saya hanya K : Menatap perawat


datang 1 bulan 1x karena

Menjawab

kenyataan
Menganalisa isi

Menganalisa isi

pertayaan dari

pikir klien

pikir klien/waham

perawat

klien

sambil tersemyum

mereka tinggal jauh di luar


negeri
P : Nn. Y.S sampai disini duluP : Berditri dan

Segera berjalan

Mengakhiri

Perpisahan yang

kekamar

interaksi

baik

kita lanjutkan besok,

berharap dapat

memungkinkan

selamat pagi

melanjutkan

interaksi dapat

interaksi esok

dilanjutkan pagi

perbincangan kita, nanti

berjalan

K : Pagi ses
K : Berjalan kembali ke
ruangan

hari

ANALISA PROSES INTERAKSI


Nam

: Nn. Y. S

Umur

: 31 Tahun

Interaksi

: III (Fase perkenalan)

Waktu interaksi : 15/10- 2009, jam : 09.00-09.15


Lingkungan
Deskripsi

: Di dalam ruangan, duduk saling berdampingan

: Klien mengunakan pakaian berwarna putih, celana panjang garis-garis


Tujuan

: Pemutusan hubungan/perpisahan dengan klien

Komunikasi
Verbal
Non verbal
P : Selamat pagi Nn. Y. SP : Menatap klien

Analisa Berpusat pada


Klien
perawat
Menyapa perawat Berharap klien

sambil tersenyum
K : Selamat pagi

obat
K : Sudah suster

K : Menatap perawat

P : Bagus Nn. Y. S harusP : mempertahan kan


rajin minum obat

kontak mata

Mengucapkan salam

mejawab sapaan

sebagai awal

perawat

memulai komunikasi

Langsung

Berharap klien

Mengkaji ingatan

menjawab

menjawab

klien

pertayaan

pertayaan

Menerima nasihat

perawat
berharap klien

Memberi tahu klien

dari perawat

dsapat menerima

tentang pentingnya

nasihat

minum obat

Tampak

Berharap klien

Terminasi yang baik

K : Menatap perawat

dan tersemyum
P : Nn. Y.S sudah minumP : Menatap kien

Rasional

supaya cepat sembuh


dan boleh pulang
K : Iya suster
K : Menatap perawat
dan tersenyum
P : Nn. Y. S ini adalah P : Mengulurkan
hari terakhir saya

tangan dan berjabat

menerima

menerima

membuat klirn dapat

disini, mulai besok

tangan

perpisahan

perpisahan

menerima perpisahan

teman suster yang

dan sebgai tanda

akan menggatikan

akhir interaksi

suster disini yang


ingat pesan suster.
K : Iya suster

K : Mengulurkan
tangan