Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN TUTORIAL

HEMOROID

Pembimbing :
Dr. Amir Lubis Sp.B

Disusun Oleh :
Mega Robbiaty Utomo
Mahfira Ramadhania
Cindy Novita
Oktamanda Akbar
Andi M Iqbal
Riesti Roito
Sarwenda Annas
Devi Kharisma
Ahmad Fauzi
Richa Hendris
Annisa Hasna
Firdha Leonita
Rizky Agviola
KEPANITERAAN KLINIK SMF BEDAH
RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2015

HEMOROID
Definisi
Hemoroid adalah pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah
anus yang berasal dari pleksus hemoroidalis. (FKUI, 2006)
Hemoroid interna adalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas garis
mukokutan dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid interna ini merupakan bantalan
vaskuler di dalam jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah. Sering
hemoroid terdapat pada tiga posisi primer yaitu, kana depan, kanan belakang, dan
kiri lateral. Hemoroid yang lebih kecil terdapat di antara ketiga letak primer
tersebut. (Sjamsuhidajat, 2010)
Hemoroid eksterna merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus
hemoroidalis inferior yang terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam
jaringan di bawah epitel anus. (Sjamsuhidajat, 2010)
Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus, saling berhubungan
secara longgar dan merupakan awal dari aliran vena yang kembali bermula dari
rektum seblah bawah dan anus. Pleksus hemoroid internus mengalirkan darah ke
vena hemoroidalis superior dan selanjutnya ke vena porta. Pleksus hemoroid
eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui daerah perineum dan
lipat paha ke vena iliaka. (FKUI, 2006)
Epidemiologi
Sepertiga dari 10 juta penderita hemoroiddi Amerika Serikat mencari
pengobatan secara medis, sehingga 1,5 juta resep terkait per tahun. Jumlah
hemorrhoidectomies yang dilakukan di rumah sakit menurun, puncaknya dari 117
hemorrhoidectomies per 100.000 orang tercapai pada tahun 1974, tingkat ini
menurun menjadi 37 hemorrhoidectomies per 100.000 orang pada tahun 1987.
Hemoroidmewabah pada semua kelompok usia, meskipun terjadi paling sering
pada individu yang berusia 46-65 tahun. (Scott, 2010)

Etiologi
Keluhan hemoroid biasanya tidak berhubungan dengan kondisi medis lain atau
penyakit. Namun, pasien dengan penyakit dan kondisi berikut memiliki
peningkatan risiko keluhan hemoroid:
1. Radang usus merupakan masalah yang sering menyebabkan terjadinya
2.
3.
4.
5.

hemoroid
Colitis ulcerative dan penyakit Crohn
Kehamilan
Diare kronis
Penyakit hati (Scott, 2010)

Insidensi
Ras
Penyakit hemoroid lebih sering terjadi pada ras kaukasia, dari status
ekonomi lebih tinggi, dan daerah pedesaan.
Seks
Predileksi tidak diketahui. Walaupun laki-laki cenderung mencari
pengobatan, namun kehamilan dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang
mempengaruhi

perempuan

untuk

menderita

hemoroid.

Uterus

gravid

mengembang, menekan vena kava inferior dan menyebabkan pembengkakan pada


vena distal.
Usia
Hemoroid eksterna lebih sering terjadi pada dewasa muda dan setengah
baya dari pada orang dewasa yang lebih tua. Prevalensi hemoroid meningkat
sesuai bertambahnya usia, puncaknya pada orang berusia 45-65 tahun. (FKUI,
2006)
Patogenesis

Hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan atau dilatasi vena


hemorrhoidalis yang disebabkan oleh faktor-faktor risiko/ pencetus.
Faktor risiko hemoroid antara lain faktor mengedan pada buang besar yang
sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyak memakai jamban duduk,
terlalu lama duduk di jamban sambil membaca, merokok), peningkatan tekanan
intra abdomen karena tumor(tumor usus, tumor abdomen), kehamilan (disebabkan
tekanan janin pada abdomen dan perubahan hormonal), usia tua, konstipasi
kronik, diare kronik atau diare akut yang berlebihan, hubungan seks peranal,
kurang minum air, kurang makan makanan berserat. (FKUI,2006)
Mekanisme terjadinya hemoroid adalah meningkatnya tekanan anus pada
saat

istirahat,

yang

menyebabkan

berkurangnya

pengembalian

vena,

pembengkakan vena, dan kerusakan dari jaringan penunjang. Penyebab dari


penyakit hemoroid eksterna tidak diketahui, namun berhubungan dengan kegiatan
mengejan. (FKUI, 2006)
Kebanyakan gejala timbul dari hemoroid interna yang membesar.
Pembengkakan dari bantalan dubur menyebabkan dilatasi dan pembengkakan dari
pleksus arteriovenus. Hal ini menyebabkan peregangan otot suspensorium dan
akhirnya terjadi prolaps jaringan rektum melalui lubang anus. Mukosa dubur yang
membesar mudah mengalami trauma, sehingga menyebabkan perdarahan rektum
yang biasanya merah terang karena kadar oksigen tinggi dari anastomosis
arteriovenus. Prolaps mengarah ke kotoran dan keluarnya lendir, merupakan
predisposisi terhadap inkarserata dan strangulasi. ( FKUI,2006)

Gambar 1. Hemoroid interna dan eksterna


Klasifikasi
Hemoroid interna dapat dikelompokkan dalam 4 derajat:
1. Derajat I: pembesaran hemoroid yang tidak prolaps ke luar kanalis anus
dan pada anoskopi terlihat hemoroid menonjol ke lumen anus.
2. Derajat II: pembesaran hemoroid yang prolaps dan dapat menghilang atau
masuk ke dalam anus secara spontan.
3. Derajat III: pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk kembali ke
dalam anus dengan bantuan dorongan jari.
4. Derajat IV: prolaps hemoroid yang menonjol ke luar dan tidak dapat
dimasukkan ke kanalis anus. Rentan dan cenderung untuk mengalami
trombosis dan infark.
Secara anoskopi, hemoroid dapat dibagi atas hemoroid eksterna (di luar
atau di bawah linea dentate) dan hemoroid interna (di dalam atau di atas linea
dentate). Untuk melihat risiko perdarahan hemoroid dapat dideteksi oleh adanya
stigmata perdarahan berupa bekuan darah yang masih menempel, erosi,
kemerahan diatas hemoroid. (FKUI,2006)

Gambar 2. Pembagian Derajat Pada Hemoroid Interna


Manifestasi klinis
Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau wasir tanpa ada
hubungannya dengan gejala rektum atau anus yang khusus. Nyeri yang hebat
jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid interna dan hanya timbul pada
hemoroid eksterna yang mengalami trombosis. (Sjamsuhidajat, 2010)
Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama hemoroid interna
akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan
tidak bercampur dengan feses, dapat hanya berupa garis pada feses atau kertas
pembersih sampai pada perdarahan yang menetas atau mewarnai air toilet menjadi
merah. Walaupun berasal dari vena, darah yang keluar berwarna merah segar
karena kaya akan zat asam, pendarahan luas dan intensif di pleksus hemoroidalis
menyebabkan darah di vena tetap merupakan darah arteri. (Sjamsuhidajat,
2010)
Kadang, perdarahan hemoroid yang berulang dapat menyebabkan anemia
berat. Hemoroid yang membesar secara perlahan akhirnya dapat menonjol ke luar
dan menyebabkan prolaps. Pada tahap awal, penonjolan ini hanya terjadi sewaktu
defekasi dan disusul oleh reduksi spontan sesudah selesai defekasi. Pada stadium
lebih lanjut, hemoroid interna ini perlu didorong kembali setelah defekasi agar
masuk kedalam anus. Akhirnya, hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk yang
mengalami prolaps menetap dan tidak dapat didorong masuk lagi. Keluarnya

mukus dan terdapatnya feses pada pakaian dalam merupakan ciri hemoroid yang
mengalami prolaps menetap. Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa gatal
yang dikenal sebagai pruritis anus, dan ini disebabkan oleh kelembapan yang terus
menerus dan rangsangan mukus. Nyeri hanya timbul apabila terdapat trombosis
yang luas dengan udem dan radang. (Sjamsuhidajat, 2010)
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Pada pemeriksaan dinilai keadaan sfingter ani eksterna: benjolan, warna, lesi,
skin tag, fistula, abses. Benjolan akan mengeluarkan mukus apabila pasien
mengedan.
2. Palpasi
Apabila benjolan terlihat berasal dari dalam anus, maka baru dinilai apakah
benjolan berasal dari luar atau dalam anus dan dapat masuk atau tidak ke
lumen anus.
Pemeriksaan rectal toucher merupakan pemeriksaan yang paling mudah
untuk dilakukan dan dapat menyingkirkan diagnosis banding, seperti
karsinoma rectum. Pada hemoroid interna, pemeriksaan rectal toucher tidak
dapat diraba karena tekanan vena didalamnya tidak cukup tinggi.
Pemeriksaan penunjang
1. Anoskopi
Untuk melihat hemoroid interna yang tidak menonjol ke luar. Anoskop
dimasukkan dan diputar untuk menilai keempat kuadran. Pada hemoroid
interna akan terlihat penonjolan vaskuler ke dalam lumen dan penonjolan
akan semakin terlihat nyata saat pasien mengedan.
2. Sigmoidoskopi
Untuk mengetahui ada atau tidak kelainan pada bagian proksimal rectum.
3. Proktoskopi
Diindikasikan apabila dicurigai adanya prolaps rectum.
4. Pemeriksaan feses untuk memastikan ada atau tidak darah samar.
(Sjamsuhidajat, 2010)
Diagnosis Banding
Banyak masalah anorektal, antara lain, fistula, abses, atau iritasi dan gatal,
yang memiliki gejala mirip dengan hemoroid dan harus dipahami sebelum

direkomendasikan untuk melakukan pengobatan. Selain itu, hubungan perdarahan


anus dengan kanker kolorektal menjadi kuat jika dikaitkan dengan usia. Oleh
karena itu, evaluasi lebih lanjut dengan kolonoskopi harus dilakukan pada pasien
yang lebih tua dari 50 tahun serta keluarga yang memiliki riwayat kanker usus
besar. (sylvia, 2005)
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis hemoroid terdiri dari penatalaksanaan non
farmakologis, farmakologis dan tindakan minimal invasi. Penatalaksanaan medis
hemoroid ditunjukan untuk hemoroid interna derajat I sampai dengan III atau
semua derajat hemoroid yang ada kontraindikasi operasi atau pasien menolak
operasi. Sedangkan penatalaksanaan bedah ditujukan untuk hemoroid interna
derajat IV dan eksterna, atau semua derajat hemoroid yang tidak direspon
terhadap pengobatan medis. ( FKUI,2006)
Penatalaksanaan Medis Non-Farmakologis
Penatalaksanaan ini berupa perbaikan pola hidup, perbaikan pola makan
dan minum, perbaiki pola cara/defekasi. Memperbaiki defekasi merupakan
pengobatan yang selalu harus ada dalam setiap bentuk dan derajat hemoroid.
Perbaikan defekasi disebut bowel management program (BMP) yang terdiri dari
diet, cairan, serat tumbuhan, pelicin feses, dan perubahan perilaku buang air.
Untuk memperbaiki defekasi dianjurkan menggunakan posisi jongkok sewaktu
defekasi. Pada posisi jongkok ternyata sudut anorektal pada orang menjadi lurus
ke bawah sehingga hanya diperlukan usaha yang lebih ringan untuk mendorong
tinja ke bawah atau ke luar rektum. Mengedan dan konstipasi akan meningkatkan
tekanan vena hemoroid, dan akan memperparah timbulnya hemoroid, dengan
posisi jongkok ini tidak diperlukan mengedan lebih banyak. Bersamaan dengan
program BMP di atas, biasanya juga dilakukan tindakan kebersihan lokal dengan
cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4 kali sehari. Dengan
perendaman ini maka eksudat yang lengket ata sisa tinja yang lengket dapat
dibersihkan. Eksudat atau sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan
rasa gatal bila dibiarkan. ( FKUI,2006)

Pasien diusahakan tidak banyak duduk atau tidur, banyak bergerak, dan banyak
jalan. Dengan banyak bergerak pola defekasi manjadi membaik. Pasien
diharuskan banyak minum 30-40 ml/kgBB/hari untuk melembekkan tinja. Pasien
harus banyak makan serat antara lain buah-buahan, sayur-sayuran, cereal. Dan
suplementasi serat komersil bila kurang serat dalam makanannya. ( FKUI,2006)
Penatalaksaan medis farmakologis
Obat-obat farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat, yaitu pertama
memperbaiki defekasi, kedua meredakan keluhan subyektif, ketiga menghentikan
perdarahan,dan keempat menekan atau mencegah timbulnya keluhan dan gejala.
1. Obat memperbaiki defekasi : ada dua obat yang diikutkan dalam BMP
yaitu suplemen serat (fiber supplement) dan pelincir atau pelicin tinja
(Stool softener). Suplemen serat komersial yang banyak dipakai antara lain
psyllium atau isphagula Husk (misal Vegeta, Mulax, Metamucil,
Mucofalk) yang berasal dari kulit biji Plantago ovata yang dikeringkan dan
digiling menjadi bubuk. Dalam saluran cerna bubuk ini agak menyerap air
dan bersifat sebagai bulk laxative, yang bekerja membesarkan volume tinja
dan meningkatkan peristalsis. Efek samping antara lain kentut, kembung
dan konstipasi atau obstruksi saluran cerna dianjurkan minum air yang
banyak.
Obat kedua yaitu obat laksan atau pencahar antara lain natrium dioktil
sulfosuksinat (R/laxadine), dulcolax, microlax dan lain lain. Natrium
dioctyl sulfosuccinat bekerja sebagai anionic surfactant, merangsang
sekresi mukosa usus halus dan meningkatkan penetrasi cairan ke dalam
tinja. Dosis 300mg/hari. ( FKUI,2006)
2. Obat Simtomatik : pengobatan simtomatik bertujuan menghilangkan atau
mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri, atau karena kerusakan kulit didaerah
anus. Obat pengurang keluhan seringkali dicampur pelumas (lubricant),
vasokonstriktor, dan antiseptik lemah. Untuk menghilangkan nyeri,
tersedia sediaan yang mengandung anestesi lokal. Bukti yang meyakinkan
akan anestesi lokal tersebut belum ada. Pemberian anestesi lokal tersebut
dilakukan sesingkat mungkin untuk menghidarkan sensitasi atau iritasi
kulit anus. Sediaan penenang keluhan yang ada di pasar dalam bentuk
ointment atau suppositoria antara lain anusol, boraginol N/S, dan Faktu.

Bila perlu dapat digunakan sediaan yang mengandung kortikosteroid untuk


mengurangi radang daerah hemoroid atau anus antara lain Ultraproct,
Anusol HC, Scheriproct. Sediaan berbentuk suppositoria digunakan untuk
hemoroid interna, sedangkan sediaan ointment/krem digunakan untuk
hemoroid eksterna.
3. Obat menghentikan perdarahan : perdarahan menandakan adanya luka
pada dinding anus atau pecahnya vena hemoroid yang dindingnya tipis.
Pemberian serat komersial misal psyllium pada penelitian Perez-Miranda
dkk (1996) setelah 2 minggu pemberian ternyata dapat mengurangi
perdarahan hemoroid yang terjadi dibandingkan plasebo. Szent-Gyorgy
memberikan citrus bioflavanoids yang berasal dari jeruk lemon dan
paprika pada pasien hemoroid berdarah, ternyata dapat memperbaiki
permeabilitas dinding pembuluh darah. Bioflavanoids yang berasal dari
jeruk lemon antara lain diosmin, heperidin, rutin, naringin, tangeretin,
diosmetin, neohesperidin, quercetin, yang digunakan untuk pngobatan
hemoroid yaitu campuran diosmin (90%) dan hesperidin (10%) dalam
bentuk micronized, dengan nama dagang Ardium atau Daflon, buktibukti yang menunjukkan penggunaan bioflavanoids untuk mengehentikan
perdarahan hemoroid antara lain penelitian Ho dkk (1995) meneliti efek
daflon 500 mg 3x perhari dalam mencegah perdarahan sekunder setelah
hemoroidektomi pada 228 pasien hemoroid dengan prolaps menetap. Pada
kelompok daflon perdarahan sekunder lebih sedikit dibandingkan
kelompok plasebo. ( FKUI,2006)
Penatalaksaan Minimal Invasive
Penatalaksanaan hemoroid

ini

dilakukan

bila

pengobatan

non

farmakologis, farmakologis tidak berhasil. Penatalaksanaan ini antara lain


tindakan skleroterapi hemoroid, ligasi hemoroid, pengobatan hemoroid dengan
terapi laser.
Penlis dkk pada tahun 1993-1995 di RSCM dalam penelitiannya
melakukan skleroterapi pada 18 pasien hemoroid menggunaka obat aethoxyscerol
11/2%, anoskop logam dan jarum spinal no. 26 dan spuit 1cc. Tiap hemoroid
interna disuntik masing-masing 0,5 1ml aethoxyscerol. Dari penelitian ini
didapat bahwa dengan skleroterapi aethoxyscerol didapatkan pengecilan derajat

hemoroid pada minggu 4 sampai dengan setelah skleroterapi 3-5 kali. Komplikasi
yang didapatkan yaitu akit pada anus waktu buang air besar, dan ulkus.
( FKUI,2006)
Pencegahan
Yang paling baik dalam mencegah hemoroid yaitu mepertahankan tinja
tetap lunak sehingga mudah ke luar, di mana hal ini menurunkan tekanan dan
pengedenan dan mengosongkan usus sesegera mungkin setelah perasaan mau ke
belakan timbul. Latihan olahraga seperti berjalan, dan peningkatan konsumsi serat
diet juga membantu mengurangi konstipasi dengan mengedan. ( FKUI,2006)
Prognosis
Pada umumnya, kasus hemoroid dapat sembuh dengan spontan ataupun
dengan pengobatan konservatif. Namun, tingkat rekurensi pengobatan konservatif
lebih tinggi daripada tindakan pembedahan yaitu 10-50% dalam 5 tahun,
sedangkan pada tindakan pembedahan diperkirakan 26%. ( FKUI,2006)