Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
I.

LATAR BELAKANG
Di zaman apakah kita sekarang hidup dan tinggal? Tentunya pertanyaan tersebut dapat

kita jawab, kita hidup di zaman pencerahan yang diberikan Allah dengan mengutus seorang
rasulnya, dimana seluruh manusia kini telah mendapatkan hidayah dan petunjuk, dengan
bukti bahwasanya umat manusia telah bebas dari perbudakan dan menjunjung tinggi hak
asasi. Namun apakah dengan anugerah itu umat manusia sengaja melalaikan dirinya sebagai
ciptaan dari sang kholik. Terjunjungnya sebuah hak asasi sekarang telah dijadikan sebuah
alasan untuk menuju kehidupan yang bebas dan sebebas-bebasnnya atau yang sering kita
sebut dengan kehidupan liberal. Contohnya dewasa ini dapat kita rasakan bahwasannya
antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya hidup berdampingan seakan tiada
pemisah dan jarak.
Benarkah Islam mengajarkan hal yang demikian? Sudah pasti kita sebagai umat nabi
Muhammad saw akan menjawab dengan keras dan penuh keyakinan tidak, dan penulis yakin
agama manapun akan menjawab tidak ada yang membenarkan hal yang demikian itu.
Pemuda-pemudi di negara kita sekarang ini dapat kita lihat, bagaimana cara mereka
bersosialisasi antar sesamannya. Ketika ada pertemuan ataupun semacamnya sudah menjadi
tradisi mereka ketika bertemu, bertegursapa dengan cara cium pipi kiri dan kanan. Dan lebih
dari itu, tidak jarang diantara mereka yang memiliki hubungan khusus diluar pertemanan
sang sering disebut oleh kaum muda dengan istilah pacaran. Lalu, bagaimana pandangan
Islam tentang hal ini? Karena sebab dan gejolak-gejolak yang timbul di zaman ini penulis
mencoba mengutarakan pendapatnya tentang pacaran dalam kaca mata Islam.

II.

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di aras maka penulis menyajikan rumusan masalah

sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pacaran dalam pandangan Syari'at agama?
2. Apakah solusi yang di anjurkan dalam syariat Islam?

III. TUJUAN PENULISAN


1. Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana pacaran dalam pandangan Islam.
2. Agar pembaca mampu membedakan mana yang menjadi tuntutan dan anjuran dalam
agama, dan mana yang harus ditinggalkan dalam interaksi sosial antara pria dan
wanita yang bukan muhrim.

BAB II
2

PEMBAHASAN

A. Pacaran dalam Pandangan Syari'at Agama


Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang
memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada
wanita (lawan jenis), anak-anak, perhiasan dan lain-lainnya. Allah berfirman: Dijadikan
indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,
harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang
baik .(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu
dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu
adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka
menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik. Rasulullah
SAW bersabda,Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik
terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku.
Istilah pacaran yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini tidak ada dalam
Islam. Islam hanya mengenal istilah yang disebut KHITBAH atau masa tunangan. Masa
tunangan ini adalah masa perkenalan, sehingga kalau misalnya setelah Khitbah putus tidak
akan mempunyai dampak seperti kalau putus setelah nikah. Dalam masa tunangan keduanya
boleh bertemu dan berbincang-bincang ditempat yang aman, maksudnya ada orang ketiga
meskipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka.
Kenyataannya di sekitar kita semakin banyak timbul gejala yang kurang sehat, bahkan
banyak yang bertentangan dengan syariat islam. Pacaran sepertinya sudah menjadi suatu
aktifitas rutin disekitar kita. Bahkan ada segolongan orang yang menganggap hal ini yang
bersifat HARUS dilakukan. Sangatlah menakutkan jika pemikiran-pemikiran seperti ini
ada dilingkungan masyarakat. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti ada yang mengatakan
pacaran tidak bertentangan dengan Islam. Mungkin hal ini berawal dari sebagian masyarakat
yang menempatkan America dan Eropa sebagai kiblat dan pemimpin kemajuan. Apapun yang
datang dari sana di anggap benar salah satunya adalah percampuran bebas dan pada akhirnya
menimbulkan tingkah laku yang disebut pacaran. Sebaliknya yang datang dari timur dinilai
3

jelek dan batil, walaupun itu bimbingan dan tuntunan agama. Adapun contoh-contoh mereka
yang mengatakan pacaran diperbolehkan dalam pandangan Islam yaitu sebagai berikut:
Pacaran islami tidak mendekati zina. Bahkan, pacaran pada umumnya pun
tidak identik dengan mendekati zina.
Pacaran islami justru melapangkan jalan untuk menikah dengan sebaikbaiknya, guna membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa
rahmah. (Lihat 12 alasan mengapa bercinta sebelum menikah.)
Pacaran islami justru mengupayakan peningkatan kualitas tanazhur pra-nikah.
(Lihat Gaul Sistematis dengan Jiwa Bersih.).
Sebagian besar penentang pacaran islami menyangka, keberadaan pacaran islami
tidak didukung dengan dalil sama sekali. Bahkan, mereka mengira, pacaran islami ini
merupakan bidah yang sesat dan menyesatkan. Padahal, seandainya mereka membaca
dengan cermat buku-buku (dan artikel-artikel) pacaran islami, tentu mereka jumpai dalildalil yang menguatkan keberadaan pacaran islami. Tiga diantaranya adalah sebagai
berikut. (Dua dalil pertama bersifat umum, tidak hanya mengenai pacaran, sedangkan dalil
ketiga jelas-jelas mengenai pacaran).
Mengenai hubungan antar manusia, pernah Rasulullah saw. bersabda: Segala yang
tidak disinggung-Nya itu tergolong dalam hal-hal yang dibolehkan-Nya. (Shahih al-Jami
ash-Shaghir, hadits no. 3190) Karena pacaran tidak disinggung dalam Al-Quran,
kehalalannya tidak mustahil.
Nabi saw. bersabda, Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu. (HR Muslim)
Hadits inilah yang menjadi dasar kaidah ushul fiqih yang menyatakan bahwa pokok hukum
dalam urusan muamalah adalah sah (halal), sampai ada dalil (yang qathi) yang
membatalkan dan mengharamkannya. Dengan kata lain, selama tidak ada dalil yang dengan
tegas mengharamkannya, maka hukumnya tidak haram. Begitu pula perihal pacaran.
Pada kenyataannya, budaya pacaran (percintaan pra-nikah) sudah ada pada zaman
Rasulullah. Adakah dalil dari beliau yang mengharamkannya? Ternyata, beliau sama sekali
tidak pernah mewanti-wanti para sahabat untuk tidak pacaran. Beliau tidak pernah
mengharamkan pacaran. Bahkan, sewaktu menjumpai fenomena pacaran, beliau tidak
sekedar membiarkan fenomena ini. Beliau bersimpati kepada pelakunya dan justru mencela
sekelompok sahabat yang memandang rendah pasangan tersebut. Beliau menyindir, Tidak
adakah di antara kalian orang yang penyayang? (HR Thabrani dalam Majma az-Zawid
4

6: 209). Jadi, dalil-dalil para pendukung islamisasi pacaran lebih kuat daripada dalil-dalil
para penentang pacaran islami.1
Seperti itulah mereka yang memilki alasan dan dalil-dalil yang kurang tepat.
Bagaimana bisa sebuah artikel dijadikan panutan dan dalil, denganpun adannya dalil dan
hadits di atas, pembaca bisa meng-analogikan ketika sebuah permasalahan yang tidak
disinggung rosulullah itu digolongkan terhadap apa-apa yang dibolehkan, namun bila itu
permasalahan yang mampu mendekatkan manusia kepada hal yang tidak diinginkan seperti
zinah, apakah itu masih bisa dikatakan BOLEH ?
Kita sebagai orang timur menerima mentah-mentah apa yang datang dari barat, dan
yang lebih menyedihkan lagi kebanyakan pelaku-pelaku ini terdiri dari kalangan yang
mengaku dirinya sebagai MUSLIM.
Salah satu budaya sekaligus gaya hidup kaum muda Indonesia. Mereka mempunyai
fikiran bahwa manusia itu diciptakan untuk saling melindungi dan saling menyayangi. Maka
sudah menjadi bagian Fitrah manusia kalau memiliki potensi untuk mencintai dan dicintai,
mereka menganggap cinta adalah bagian dari emosi yang secara naluriah tidak bisa dihindari.
Karena itu cinta menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi, dalam artian cinta harus
direfleksikan kepada objek yang diinginkan. Singkatnya kalau ada orang yang lagi mencintai
orang lain maka saat itu ia sedang memenuhi kebutuhan biologisnya.
Kadang mereka juga merasa dengan berpacaran mereka mendapat seorang motifator
dalam keadaan apapun, berbagai alasanpun mereka utarakan untuk mendapat kebenaran dari
tingkah lakunya. Di lingkungan masyarakat yang sering kita dengar para kaum muda
menggunakan pacaran sebagai alasan proses penjajakan pra-nikah. Mereka merasa Tuhan
menciptakan laki-laki dan perempuan dengan tujuan agar keduanya saling mengenal,
menyayangi dan saling menolong. Keduanyapun mempunyai tugas yang sama yaitu
melestarikan kehidupan meskipun ada perbedaan peran dalam keduanya. Peran inilah yang
bisa menjadikan keduanya menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial. Agar manusia bisa
saling mengenal, menyayangi, dan menolong, Tuhan memberikan potensi kepada laki-laki
dan perempuan rasa cinta yang mereka wujudkan dengan pacaran.
Persoalannya adalah Islam tidak membenarkan istilah pacaran yang dipegang oleh
masyarakat kita. Mari kita kembali kepada fakta utama yang menimbulkan masalah ini, dari
1

http://muslimromantis.wordpress.com/2008/05/08/mesra-tanpa-zina/

kajian secara dalam dan menyeluruh dapat dibuktikan bahwa pergaulan bebas adalah benih
dari segala permasalahan diatas.
Bagaimana pula pergaulan bebas ini bisa terjadi? Sadar atau tidak, kita telah lama
meninggalkan akidah Islam yang seharusnya menjadi landasan kita dalam menjalani
kehidupan ini dan bukan sistemnya yang salah. Mengapa pula terjadi jalinan kasih sayang
terhadap insan lawan jenis? kecendrungan menyukai insan yang berlawanan jenisnya dengan
kita adalah satu fitrah manusia yang mempunyai Gharizah Al-nau (naluri untuk mengadakan
keturunan). Islam mengakui akan hal itu, oleh karenanya Allah sang pencipta yang berkuasa
telah menggariskan beberapa peraturan untuk memenuhi hal ini.
Jalinan hubungan kasih sayang dalam konsep pacaran pada kondisi saat ini terjadi
antara manusia yang berlawanan jenis disebabkan oleh standar yang mereka gunakan untuk
mengukur setiap perbuatan yang mereka lakukan bukan berdasarkan akidah Islam dan konsep
pergaulan yang mereka gunakan bukannya berdasarkan akidah Islam. Oleh sebab itu, bagi
mereka pendidikan sexs adalah penyelesaian bagi mereka. Sebagai seorang Muslim kita
seharusnya mempunyai suatu standar tingkah laku (miqyasul amal) yang jelas dalam
melakukan suatu perbuatan yakni berdasarkanhukum syara (Al-Quran dan sunnah). Sebagai
contoh Rasulullah S.A.W telah bersabda: Janganlah sekali-kali berdua-duaan antara
seorang lelaki dan seorang perempuan atau bepergian dengannya melainkan disertai
muhrimnya (Al-Hadist). Rasulullah S.A.W juga pernah bersabda:
Rosululloh Sungguh Aku (Rasulullah) benar-benar mengetahui beberapa umatku,
datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar perbukitan (yang nampak
putih) lalu Allah menjadikannya berhamburan.
Tsauban bertanya: Ya Rasulullah jelaskan pada kami sifat-sifat mereka, karena kami
khawatir termasuk seperti mereka sedang kami tiada menyadarinya?
Rasulullah : mereka adalah saudaramu yang melakukan ibadah di malam hari, tapi
apabila mereka bersunyi-sunyi yang diharamkan oleh Allah, mereka mengganggu
kehormatannya (Al-Hadist).
Dari kedua hadist tersebut maka sudah jelas pergaulan bebas antara lawan jenis
walaupun termasuk adik angkat tetap haram hukumnya. Juga dari hadist-hadist lain kita
dapat menyimak bahwa para sahabat pada saat itu kuat ketertarikannya terhadap hukum
Islam. Contohnya apabila disampaikan hal seperti hadist di atas tadi para sahabat akan segera
6

bertanya. Karena mereka khawatir mereka pernah melakukannya sesuatu yang tidak sesuai
dengan Islam tanpa disadari.Apabila telah dijelaskan mereka segera meninggalkan atau
melaksanakan apa yang dituntut oleh Islam.
Selain itu Allah juga mengatakan lewat firmannya yang berbunyi :

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk {32}.2
1. Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzinah, tapi jangan mendekatinya. mengapa?
Karena biasanya orang yang berberzinah itu tidak langsung. Tetapi melalui tahapantahapan seperti : saling memandang, berkenalan, bercumbu, kemudian berbuat zinah
yang terkutuk itu.
2. Kalau ayat tersebut berbunyi Misalnya: Jangan berbuat zina atau telah diharamkan
zinah. Maka berarti pegang-pegangan tangan boleh, cium-ciuman boleh dan
sebagainya yang dilakukan dalam berpacaran. Maka jelas jadinya bahwa segala
tindakan yang akan membawa kepada perbuatan zinah hukumnya haram.
Dari sinilah dapat dilihat bahwa tolak ukur bagi tindakan para sahabat adalah aqidah
Islam. Tapi masihkah ada wujud keadaan yang demikian saat ini? Adakah kita menjadikan
aqidah Islam sebagai tolak ukur bagi setiap tindakan kita atau kita akan melakukan sesuatu
berdasarkan manfaat yang akan kita peroleh?3
Namun yang nyata pada zaman perkembangan tekhnologi ini, segolongan para remaja
Muslim yang seharusnya mengikatkan diri mereka dengan aturan Islam memberikan reaksi
yang sebaliknya apabila disampaikan karena mereka akan kehilangan manfaat atau
keindahan cinta pada pandangan mereka. Kenapa ini terjadi? Ini disebabkan oleh
kedangkalan pemikiran mereka terhadap Islam dan menyebabkan remaja Muslim keluar dari
jalur Islam disadari atau tidak, karena mereka sering beranggapan percintaan itu di bolehkan
dalam Islam bahkan dianjurkan.
Telah banyak kita dengar atau baca tentang pengertian pacaran. Maka ada dua
kemungkinan pengertian pacaran, yaitu :
2

Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta : PT. Bumi Restu, 1977. hal 429

Buletin al-Furqon Tahun 3, Vol. 9 no. 3 Bulan Muharram 1430 H

1. Perasaan seorang laki-laki ingin mencintai perempuan/ sebaliknya.


2. Dua insan yang berlawanan jenisnya saling mencintai.
Perlu diingat, kita seharusnya dapat membedakan kedua pengertian di atas. Pengertian
yang pertama yakni perasaan untuk mencintai insan lawan jenis adalah masalah yang
mendasar dan mempunyai kaitan erat dengan fitrah atau kodrat manusia seperti yang telah
dijelaskan dari awal penulisan ini.
Allah telah menganugrahkan manusia naluri untuk meneruskan keturunan (salah
satunya menyukai kaum lawan jenis) atau dikenal dengan istilah Gharizah Al-nau. Ini
merupakan salah satu naluri manusia dari tiga naluri yang ada pada diri manusia yaitu:
1. Gharizah Al-baqa(naluri untuk meneruskan kehidupan atau mempertahankan);
2. gharizah Al-tadayyun(naluri untuk menyembah atau beragama);
3. gharizah Al-nau(naluri untuk mengadakan keturunan).
Jadi dengan adanya perasaan itu memang sudah fitrah manusia, hal ini wajar dan tidak haram
disisi Islam.
Seperti yang dijelaskan oleh Allah lewat firmannya: Dijadikan indah pada
(pandangan) manusia berupa kecintaan pada apa yang diingini, yakni wanita.(AliImron:14).
Persoalan yang berhubungan dengan cara bagaimana untuk meneruskan perasaan
cinta itu adalah hak Islam (ALLAH) untuk mengaturnya. Sedangkan pengertian yang kedua
berkaitan pula dengan pengungkapan dan perasaan cinta itu dengan berdua-duaan, saling
berpandangan kemudian melangkah setapak lagi dengan berpegangan tangan yang paling
kronis lagi berani berciuman dan sanggup menyerahkan segalanya demi cinta mereka.
Inilah yang haram menurut Islam. Islam sebagai satu system hidup/idiologi yang lengkap
telah mengatur pergaulan antara kaum yang berlainan jenis.
Islam memerintahkan seorang laki-laki atau perempuan agar menundukan pandangan
mereka (bukan berarti memalingkan/tunduk) tetapi tunduk dalam arti kata menahan
pandangan yang disertai syahwat.
Seperti firman Allah:

Dan suruhlah wanita-wanita mukmin

menundukkan

pandangannya dan memelihara kehormatannya dan janganlah memamerkan kecantikannya


kecuali bagian badan yang boleh kelihatan (muka dan telapak tangan) dan supaya menutup
dadanya dengan kerudung...(An-nur :31).
8

Dua kalimat perintah diatas menjelaskan disamping untuk menahan pandangan antara
laki-laki dan perempuan turut diperintahkan untuk menutupi aurat baik laki-laki dan
perempuan. Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya Islam itu suatu ideology yang lengkap.
Dalam Islam ikatan antara laki-laki dan perempuan hanya ada dua yaitu pinang atau tunang
(khitbah) dan nikah. Jadi untuk memahami pribadi seseorang yang kita sukai itu boleh
ditanyakan kepadanya (wanita) dengan niat yang benar-benar kuat untuk menikahinya. Akan
tetapi wanita harus tetap disertai muhrimnya. Jadi seandainya alasan karena tidak saling kenal
mengenal pribadi yng disebabkan tidak adanya proses pacaran akan menimbulkan salah
faham atau sebagainya maka alasan tersebut adalah alasan yang dibuat-buat.
Meminang adalah cara Islam untuk suatu pernikahan. Menikah tidak dilakukan begitu
saja tanpa fikir panjang, ada cara untuk mewujudkannya dan menyempurnakan dengan
meminang. Islam memperbolehkan orang yang meminang melihat yang dipinang dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh Islam. Tetapi meminang itu sendiri bukanlah berarti sudah
sepenuhnya resmi sebagai suami-istri atau sebagai alasan untuk melakukan hal-hal yang
boleh dilakukan seperti pasangan suami-istri atau bebas dibawa kesana-kesini tanpa
mengenal batas.

B. Dampak Negatif dari Pacaran.


Sebagaimana kita yakini sebagai seorang Muslim. Bahwa, segala sesuatu yang
diharamkan oleh Allah, selalu mempunyai dampak yang negatif di masyarakat. Begitu pula
dengan pacaran yang dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti perkawinan
dini, hamil diluar nikah adanya praktek aborsi dan yang paling banyak sekarang yang dialami
oleh remaja-remaja masa kini adalah free sexs. Akibat-akibat itu pasti dapat merugikan
remaja itu sendiri dan juga keluarganya.
Selama ini mungkin kaum muda menutup mata dan bersikap acuh meskipun sudah
banyak fakta buruk akibat percampuran bebas yang tergambar jelas dihadapan mereka. Sudah
begitu banyak dihadapan mereka, remaja-remaja putus sekolah hanya karena hamil diluar
nikah, juga meningkatkan jumlah kematian karena adanya praktek aborsi terlarang dan yang
lebih menyedihkan lagi free sexs dikalangan remaja semakin lama semakin meningkat.
Semua hal-hal tesebut pastilah tidak akan terjadi kalau kita mau berusaha untuk
merubah sikap serta pandangan kita. Terutama para kaum remaja yang dalam hal ini menjadi
9

pemeran utama. Kalau kita mau kembali kepada ajaran agama Islam pasti kita selamat dari
hal-hal negatif yang tidak kita inginkan.

C. Pencegahan.
Dalam hukum Islam umumnya, manakala sesuatu itu diharamkan maka segala sesuatu
yang berhubungan dengan yang diharamkan itu,diharamkan juga. Seperti minum arak, yang
bukan hanya yang minumnya saja yang diharamkan tapi juga yang memproduksinya, yang
menjualnya, yang membelinya, yang duduk bersama orang minum arak tersebut.
Demikian juga dengan masalah zina. Oleh karena itu maka syariat Islam memberikan
tuntunan pencegahan dari perbuatan zina, karena Allah tahu tentang kelemahan manusia,
yaitu :
1. Dilarang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya untuk berdua-duaan.
Nabi S.A.W bersabda : Apa bila laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya
berdua-duaan maka yang ketiga adalah Syetan. Syetan juga pernah mengatakan
kepada Nabi Musa a.s bahwa apabila laki-laki dan perempuan berdua-duaan maka
aku akan menjadi utusan keduanya untuk menggoda mereka.
2. Harus menjaga mata atau pandangan, sebab mata itu kuncinya hati. Dan pandangan
itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu
Allah berfirman: katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka
memalingkan pandangan mereka (dari yang haram) dan menjaga kehormatan
mereka..Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan
mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka (24 :30-31).
3. Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat mereka, dan dilarang mereka
untuk memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk
suaminya. Dalam hadist dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan
berpakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, memakai minyak wangi yang
baunya semerbak, memakai make up dan sebagainya. Setiap langkahnya dikutuk
oleh para malaikat dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan bezinah
dengannya. Dihari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya
surga apalagi masuk kedalamnya (masuk surga).
4. Dengan ancaman bagi yang berpacaran / berbuat zina. Misalnya Nabi bersabda :
Lebih baik memegang besi yang panas dari pada memegang atau meraba
10

perempuan yang bukan istrinya (kalau dia tahu akan berat siksanya). Dalam hadist
yang lain : Barang siapa yang minum (minuman keras) atau berzina, maka Allah
akan melepaskan iman dari hatinya, seperti seseorang melepaskan peci dari
kepalanya (Artinya kalau yang sedang berzina itu meninggal ketika berzina tidak
sempat bertobat lagi, maka dia meninggal sebagai orang kafir yang akan kekal
dineraka).4
D. Jalan keluar
Masalah yang timbul sekarang adalah bagaimana dengan anak-anak, teman, atau
saudara kita yang saat ini pacaran. Haruskah kita cambuk sesuai hukum Islam? Tentu saja
tidak semudah itu, Karena hukum pidana Islam belum diformalkan di negara kita. Jalan
keluar dari masalah ini adalah :
1. Kawin atau menikah supaya bisa menjaga mata dan kehormatan kalau mereka masih
sekolah atau kuliah bisa nikah dengan cara nikah gantung sebagaimana terjadi dalam
hukum adat masyarakat Jawa. Yaitu menikahkan secara resmi tapi belum boleh
berkumpul dalam satu rumah dan melakukan hubungan suami-istri. Hal ini juga
pernah dicontohkan Rasulullah ketika menikahi Aisyah, karena saat itu Aisyah belum
menginjak baligh. Rasulullah baru berkumpul dalam satu rumah setelah Aisyah
dewasa /baligh. Model nikah semacam inilah yang seharusnya kita populerkan.
Sehingga pacaran menjadi resmi,karena dilakukan setelah izab Kabul.
2. Kalau belum siap perbanyak puasa dan olah raga.
3. Jauhkan mata dan telinga dari segala sesuatu yang akan membangkitkan syahwat
4. Dekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak membaca Al-Quran dan
merenungkan artinya. Berzikir, membaca sholawat, sholat berjamaah di mesjid, hadir
di pengajian-pengajian dan berkawan dengan kawan yang sholeh yang selalu
mengingatkan kita kepada jalan yang lurus.5
Lalu bagaimana dengan yang belum pacaran dan belum menikah. Jalan keluarnya
yaitu dengan cara mencari istri lewat orang tua, ustadz, teman. Apabila sudah cocok setelah
melakukan penyelidikan terhadap sang calon segera saja dilamar dan dinikahi. Hal ini pernah
di contohkan oleh orang tua kita. Meskipun mereka tidak berpacaran tapi perkawinannya

Ahmad Hanafi, Pengantar dan Sejarah Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1970. hal 211

http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/0

11

kekal hingga akhir hayat. Ini sangat berbeda dengan anak muda sekarang meskipun
berpacaran cukup lama tapi tingkat perceraiannya cukup tinggi.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pacaran pada masa
remaja merupakan suatu tingkah laku yang berdasarkan atas dasar sexsualitas. Memang kalau
dilihat dari psikologi perkembangan remaja, pacaran pada masa remaja merupakan suatu hal
yang biasa. Karena ciri dari anak yang menginjak pada masa remaja adalah adanya rasa
12

tertarik pada lawan jenis dan adanya perubahan tingkah laku. Namun hal ini tidak ada dalam
ajaran Islam karena Islam tidak mengenal istilah pacaran tetapi khitbah atau masa tunangan,
dimana dalam masa itu keduanya boleh bertemu dan berbincang-bincang ditempat yang
aman. Maksudnya ada orang ketiga meskipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka.
Kita juga tidak memungkiri adanya akibat dari pacaran itu sendiri yang mana akibat
itu dapat merugikan diri sendiri dan keluarga baik secara fisik dan mental. Akibat itu seperti
menikah pada usia dini, hamil diluar nikah, terjadinya aborsi, meningkatnya free sexs atau
pergaulan bebas dikalangan remaja.
Jadi marilah kita bersama-sama merubah keadaan ini. Merubah kesalahan-kesalahan
yang selama ini kita lakukan, bukankah semua orang pernah berbuat salah. Namun yang
membedakan ialah mereka yang sanggup mengakui kesalahan mereka dan kembali kejalan
yang benar.

DAFTAR PUSTAKA

Buletin al-Furqon Tahun 3, Vol. 9 no. 3 Bulan Muharram 1430 H


Depag RI. 1977. Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta : PT. Bumi Restu,
Hanafi, Ahmad. 1970. Pengantar dan Sejarah Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Http://Muslimromantis.Wordpress.Com/2008/05/08/Mesra-Tanpa-Zina/
13

Http://www.almanhaj.or.id/content/173/slash/0

14