Anda di halaman 1dari 27

Penyusutan

Menurut PSAK Nomor 17, penyusutan adalah alokasi umlah suatu aktiva yang
dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Besarnya penyusutan untuk
periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak
langsung.

Aktiva yang dapat disusutkan adalah yang:

1. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari periode akuntansi

2. Memiliki suatu manfaat yang terbatas

3. Ditahan oleh suatu perusahaan yang digunakan dalam produksi atau memasok
barang dan jasa untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Masa manfaatnya diukur dengan periode suatu aktiva yang diharapkan digunakan
oleh perusahaan atau jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari
aktiva oleh perusahaan.

Sedangkan jumlah yang dapat disusutkan adalah biaya perolehan suatu aktiva,
atau jumlah lain yang disubtitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan, dikurangi nilai
sisanya.

Pengaturan penyusutan menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan


diatur dalam pasal 11 Undang-undang No.7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah diubah terahir dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994.
ketentuan tersebut menegaskan bahwa penyusutan atas pengeluaran untuk embelian,
pendirian, penambahan, perbaikan atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang
dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang
sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut. Dalam
pengaturan penyusutan tersebut mengandung maksud persyaratan aktiva yang dapat
disusutkan dan metode penyusutannya.

Persyaratan aktiva yang dapat disusutkan menurut ketentuan perpajakan meliputi:

1.H arta yang dapat disusutkan adalah harta berwujud.

2. Harta tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun,

3. Harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.

METODE PENYUSUTAN
Aktiva tetap kecuali tanah akan makin berkurang kemampuannya untuk
memberikan jasa bersamaan dengan berlakunya waktu. Jumlah yang dapat disusutkan
dialokasikan kesetiap periode akuntansi selama masa manfaat aktiva dengan berbagai
metode yang sistematis dan diterapkan secara konsisten/taat asas, tanpa memandang
tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan
daya banding hasil afiliasi perusahaan dari periode penyusutan dapat dilakukan dengan
berbagai metode yang dikelompokkan menurut akuntansi komersial:

1. Berdasarkan kriteria waktu

a. Metode garis lurus

b. Metode pembebanan menurun

1) Metode jumlah angka tahun

2) Metode saldo menurun/saldo menurun ganda

2. Berdasarkan kriteria penerimaan

a. Metode jam jasa

b. Metode jumlah unit produksi

3. Berdasarkan kriteria lainnya

a. Metode berdasarkan jenis dan kelompok

b. Metode anuitas

Metode penyusutan menurut Ketentuan Perundang-undangan Perpajakan


sebagaimana telah diatur dalam Pasal 11 Undang – undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang
pajak penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10
Tahun 1994:

1. Metode garis lurus (straight line metode), atau metode saldo menurun (Declining
Balance Method) unutk aktiva tetap berwujud bukan bangunan.

2. Metode garis lurus untuk aktiva tetap berupa bangunan

Kelompok Harta Berwujud dan Tarif Penyusutan


Penentuan kelompok dan tarif penyusutan harta berwujud didasarkan pada pasal
11 Undang-undang No.7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
diubah terrahir dengan Undang-undang Nomor.10 Tahun 1994 sebagai berikut:

Tarif Penyusutan
Tarif Penyusutan
Kelompok Harta Berdasarkan
Masa Manfaat Berdasarkan
Berwujud metode saldo lurus
metode garis
menurun
I. Bukan bangunan

Kelompok 1 4 tahun 25 % 50%

Kelompok 2 8 tahun 12,50% 25%

Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%

Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

II. Bangunan
Permanen
20 tahun 5% -
Tidak permanen
10 tahun 10% -

Untuk lebih memudahkan Wajib Pajak dan memberikan keseragaman dalam


pengelompokan harta tetap berwujud, maka keluarlah Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 82/KMK. 04/1995 Tanggal 7 Februari 1995 yang mengatur tentang
pengelompokan jenis-jenis Harta Berwujud sebagai berikut:

Jenis-jenis Harta Berwujud yang termasuk dalam kelompok 1

NOMOR
JENIS USAHA JENIS HARTA
URUT
1. Semua Jenis Usaha a. Mebel dan peralatan dari kayu
atau rotan termasuk meja, bangku,
kursi, almari, dan sejenisnya yang
bukan bagian dari bangunan.

b. Mesin kantor seperti mesin ketik,


mesin hitung, duplikator, mesin
fotokopi, accounting machine dan
sejenisnya.

c. Perlengkapan lainnya seperti


amplifier, video recorder,
tape/cassete, televisi dan
sejenisnya.

d. Sepeda motor, sepeda, dan becak

e. Alat perlengkapan khusus ( tools)


bagi industri/jasa yang
bersangkutan.

f. Alat dapur untuk memasak,


makanan dan minuman.

g. Dies, Jigs, dan Mould.

Alat yang digerakkan bukan dengan


mesin

Mesin ringan yang dapat dipindah-


pindahkan seperti huller, pemecah kulit,
penyosoh, pengering, pallet dan
sejenisnya.

Mobil taksi, bus dan truk yang


digunakan sebagai angkutan umum.

2. Pertanian, perkebunan,
kehutanan dan perikanan

Industri makanan dan


3 minuman

Perhubungan, pergudangan
dan komunikasi
Jenis-jenis Harta Berwujud yang Termasuk dalam Kelompok 2

NOMOR
JENIS USAHA JENIS HARTA
URUT
1. Semua jenis usaha a. Mebel dan peralatan dari logam
termasuk meja, kursi, bangku,
almari, dan sejenisnya yang
bukan merupakan bagian dari
bangunan. Alat pengatur udara
seperti AC, kipas angin dan
sejenisnya.
b. Komputer, printer, scanner dan
sejenisnya.
c. Mobil, bus, truk, speed boat dan
sejenisnya.
d. Container dan sejenisnya.

a. Mesin pertanian/perkebunan
seperti traktor dan mesin bajak,
penggaruk, penanam, penebar
benih dan sejenisnya
b. Mesin yang mengolah atau
menghasilkan atau memproduksi
bahan atau barang pertanian,
kehutanan, perkebunan dan
perikanan.

a. Mesin yang mengolah produk


2. Pertanian, perkebunan, asal binatang, unggas dan
kehutanan, perikanan perikanan, misalnya pabrik susu,
pengalengan ikan.
b. Mesin yang mengolah produk
nabati, misalnya mesin minyak
kelapa, margarine, penggilingan
kopi, kembang gula, mesin
pengolah biji-bijian separti
penggilingan beras, gandum,
tapioka.
c. Mesin yang
menghasilakan/memproduksi
minuman dan bahan-bahan
minuman segala jenis.
d. Mesin yang
menghasilakn/memproduksi
bahan-bahan makanan dan
makanan segala jenis.

3. Industri makanan dan Mesin yang menghasilkan/memproduksi


minuman mesin ringan, misalnya mesin jahit,
pompa air.

Mesin dan peralatan penebangan kayu

Peralatan yang digunakan seperti truk


berat, dump truk,crane buldozer dan
sejenisnya

a. Truk kerja untuk pengangkutan


dan bongkar muat, truk peron,
truk ngangkan dan sejenisnya,
b. Kapal penumpang, kapal barang,
kapal khusus dibuat untuk
pengangkutan barang tertentu
(misalnya gandum, batu-batuan,
biji tambang dan sebagainya)
termasuk kapal pendingin dan
kapal tangki, kapal penangkap
ikan dan sejenisnya yang
mempunyai berat sampai dengan
100 DWT.
c. Perahu layar pakai atau tanpa
motor yang memuat sampai 200
DWT.
d. Kapal balon.

a. Perangkat pesawat telpon

b. Pesawat telegraf termasuk


pesawat pengirim dan
penerimaan radio telegraf dan
radio telpon.
Industri mesin

Perkayuan

5 Kontruksi

Perhubungan,
pergudangan dan
7 komunikasi
Telekomunikasi

Jenis-jenis Harta Berwujud yang Termasuk dalam Kelompok 3

NOMOR
JENIS USAHA JENIS HARTA
URUT
1 Pertambangan selain Mesin yang dipakai dalam
minyak dan gas pertambangan, termasuk mesin-mesin
yang mengolah produk perlikan

a. Mesin yang
mengolah/menghasilakn produk-
produk tekstil. Misalnya kain
katun, sutra serat-serat buatan,
wol dan bulu hewan lainnya,
lenarami, permadani, kain-kain
bulu, tule.
Pemintalan, pertenunan b. Mesin untuk preparation,
2 dan pencelupan bleaching, dyeing, printing,
finishing, texturing, packaging
dan sejenisnya.

a. Mesin yang mengolah/


menghasilkan produk-produk
kayu, barang-barang dari jerami,
rumput, dan bahan anyaman
lainnya
b. Mesin dan pertalatan
penggergajian.

a. Mesin dan peralatan yang


mengolah/menghasilkan produk
industri kimia dan industri yang
ada hubungannya dengan industri
kimia, misalnya bahan kimia
organis, penyewaan organis dan
Perkayuan anorganis dari logam mulia,
elemen radioaktif, isotop, bahan
3. kimia organis, aresinoida, wangi-
wangian, obat kecantikan dan
obat rias, sabun dan detergan,
dan bahan organis pembersih
lainnya, zat albumina, perekat,
bahan peledak, produk
peroteknik, korek api, alloy
peroforis, barang fotografi dan
sinematografi.
b. Mesin yang
mengolah/menghasilkan prodk
industri lainnya. Misalnya damar
Industri kimia tiruan, bahan plastik, ester dan
eter dari selulosa, karet, karet
4. sintetis, karet tiruan, kulit samak,
jangat dan kulit mentah.

Mesin yangt menghasilkan/


memproduksi mesin menengah dan
berat, misalnya mesin mobil, mesin
kapal.

a. Perangkat radio navigasi, radar


dan kendali jarak jauh.
b. Kapal penumpang, kapal barang,
kapal khusus dibuat untuk
pengangkutan barang-barang
tertentu (misalnya gandum, batu-
batuan, biji tambang dan
sejenisnya), termasuk kapal
pendingin dan kapal tangki,
kapal penangkap ikan dan
sejenisnya yang mempunyai
berat diatas 100 DWT sampai
dengan 1.000 DWT.
c. Kapal dibuat khusus untuk
menghela atau mendorong kapal,
kapal suar, kapal pemadam
kebakaran, kapal keruk, keran
terapung dan sejenisnya, yang
mempunyai berat diatas 100
DWT sampai dengan 1.000
DWT.
d. Dok terapung
e. Perahu layar pakai atau tanpa
motor yang mempunyai berat
diatas 250 DWT
f. Pesawat terbang dan helikopter-
helikopter segala jenis.

Aktiva berwujud lainnya yang tidak


termasuk dalam kelompok I, II, dan
IV.

Industri mesin

5.

Perhubungan dan
komunikasi
6.
Lain-lain

7.

Jenis-jenis Harta Berwujud yang Termasuk dalam Kelompok 4

NOMOR JENIS USAHA JENIS HARTA


URUT
1. Konstruksi Mesin berat untuk konstruksi

2. Perhubungan & a. Lokomotif uap dan tender atas


Telekomunikasi rel.
b. Lokomotif listrik atas rel,
dijalankan dengan batere atau
dengan tenaga listrik dari sumber
luar.
c. Lokomotif atas rel lainnya.
d. Kereta, gerbong penumpang dan
barang termasuk kontener khusus
dibuat dan diperlengkapi untuk
ditarik dengan suatu alat atau
beberapa alat pengangkutan.
e. Kapal penumpang, kapal barang,
kapal khusus untuk
pengangkutan barang
tertentu(misalnya gandum, batu-
batuan, biji tambang dan
sebagainya) termasuk kapakl
pendingin dan kapal tangki,
kapal penangkap ikan dan
sebagainya, yang mempunyai
berat diatas 1.000 DWT
f. Kapal dibuat khusus untuk
menghela atau mendorong kapal,
kapal suar, kapal pemadam
kebakaran, kapal keruk, keran-
keran terapung, dan sebagainya
yang mempunyai berat diatas
1.000 DWT

g. Dok-dok terapung.

Khusus untuk bangunan tidak permanen dimaksudkan adalah bangunan yang


bersifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang
bersifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang
dapat dipindah-pindahkan yang masa manfaatnya tidak lebih dari 10(sepuluh) tahun,
misalnya bangunan berupa barak atau asrama dari kayu.

Contoh Perhitungan Penyusutan

PT. Maju Makmur memiliki Aktiva Tetap Berwujud yang diperolehnya tahun 1995
sebagai berikut:

No. Jenis Harta Tahun Masa Harga Perolehan Kelompok


Perolehan Manfaat
1. Mesin I 1995 8 tahun Rp.200.000.000 II

2. Mesin II 1995 8 tahun Rp.150.000.000 II

3. Truck 1995 8 tahun Rp. 70.000.000 II

Aktiva tetap tersebut disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus (Dasar
Penyusutan = Harga Perolehan), maka perhitungan penyusutan tahun 1995:

1. Mesin I = 12,5% x Rp. 200.000.000 = Rp. 31.250.000


2. Mesin II = 12,5% x Rp.150.000.000 =Rp. 18.750.000
3. Truck = 12,5% x Rp. 70.000.000 =Rp. 8.750.000

Jumlah Penyusutan tahun 1995 Rp.58.750.000

Penyusutan Pada Akhir Masa Manfaat

Apabila wajib pajak menggunakan metode saldo menurun, besarnya biaya


penyusutan makin lama makin menurun dari tahun ke tahun.

Contoh :

PT. Nusantara memiliki aktiva tetap berwujud mesin dengan harga perolehan Rp
250.000.000,- dengan masa manfaat 4 tahun, dasar penyusutannya adalah nilai buku pada
awal periode. Besarnya Biaya Penyusutan selama masa manfaat terlihat pada tabel
berikut :
Biaya Akumulasi
Harga Perolehan Nilai Sisa Buku
Tahun Penyusutan Penyusutan
ke
(Rp) (Rp)
(Rp) (Rp)
1 250.000.000,- 125.000.000,- 125.000.000,- 125.000.000,-
2 250.000.000,- 62.500.000,- 187.500.000,- 62.500.000,-
3 50.000.000,- 31.250.000,- 218.750.000,- 31.250.000,-
4 250.000.000,- 31.250.0000,- 250.000.000,- 0

Pada akhir masa manfaat (tahun ke-4) Nilai Sisa Buku disusutkan sekaligus.

Saat Penyusutan

Penyusutan dimulai pada tahun dilakukannya pengeluaran. Hal ini dikecualikan


untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada tahun
selesainya pengerjaan harta tersebut. Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak,
Penyusutan dapat dilakukan pada saat tahun harta tersebut digunakan untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada tahun harta tersebut
dimulai menghasilkan. Mulai menghasilkan tersebut dikaitkan dengan saat mulai
berproduksi yang tidak dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan.

Sebagai contoh :

PT ABC yang bergerak dibidang perkebunan kopi membeli traktor pada tahun 1998.
Perusahaan mulai menghasilkan tahun 2000, maka dengan persetujuan Direktur Jenderal
Pajak Penyusutan dimulai tahun 2000.

Penghitungan Penyusutan Tahun 1995 atas Aktiva Tetap yang Diperoleh Sebelum
Tahun 1995

PT. Abadi Jaya memiliki Aktiva Tetap berwujud berupa mesin yang diperolehnya
sebelum tahun 1995 sebagai berikut :

Masa Harga
Tahun
No Jenis harta Manfaat Perolehan Gol.
Perolehan
Max (Rp)
1 Mesin I 1984 16 100.000.000,- III
2 Mesin II 1988 8 50.000.000,- II
3 Mesin III 1990 16 100.000.000,- III
4 Mesin IV 1991 8 50.000.000,- II
5 Mesin V 1993 16 100.000.000,- III
400.000.000,-

Dengan telah dikeluarkannya SE-44/PJ.4/1995 tanggal 2 Oktober 1995 perihal


penyusutan atau amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta yang masih
dimiliki dan digunakan pad awal tahun pajak 1995, maka penghitungan penyusutan tahun
1995 sebagai berikut :

Masa Manfaat
Tahun Max Pemakaian Sisa Awal Harga Pokok Tarif Penyusutan s.d. Nilai Sisa Buku Kel. Awal
No Jenis Harta GOL
Perolehan (Tahun) 1995 (Rp) Semula 1994 (Rp) Awal 1995 (Rp) Harta
(Tahun)
1 Mesin I 1984 16 11 5 III 100.000.000 10% 68.618.940 31.381.060 I
2 Mesin II 1988 8 7 1 II 50.000.000 25% 43.325.806 6.674.194 -
3 Mesin III 1990 16 5 11 III 100.000.000 10% 40.951.000 59.049.000 II
4 Mesin IV 1991 8 4 4 II 50.000.000 25% 34.179.688 15.820.312 I
5 Mesin V 1993 16 2 14 III 100.000.000 10% 19.000.000 81.000.000 III
Catatan :

Mesin I Rp. 50.000.000,-

Harga perolehan

Penyusutan Tahun I = Rp.12.500.000

Penyusutan Tahun II = Rp. 9.375.000

Penyusutan Tahun III = Rp. 7.031.000

Penyusutan Tahun IV = Rp. 5.273.000

Rp. 34.179.688,-

Nilai Sisa Buku Awal 1995 Rp. 15.820.000,-

Penarikan Harta Bukan Bangunan

Aktiva Tetap perusahaan yang tidak terpakai lagi dapat ditarik dari pemakaian.
Penarikan dapat dilakukan dengan menjual aktiva tetap tersebut. Dalam akuntansi
komersial, terhadap aktiva tetap yang dijual nilai bukunya dihitung sampai dengan
tanggal penjualan, sedangkan dalam ketentuan perpajakan Nilai Sisa Bukunya dihitung
sampai dengan akhir tahun sebelum aktiva tetap tersebut dijual.

Ketentuan Pasal 11 ayat (8) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun
1994 bahwa apabila terjadi penjualan atau penarikan harta (Pasal 4 ayat (1) hurf d) atau
penarikan harta karena sebab lainnya, maka nilai buku harta tersebut dibebankan sebagai
kerugian dan jumlah harga jual atau penggantian asuransinya yang diterima atau
diperoleh dibukukan sebagi penghasilan pada tahun terjadinya penarikan. Sehingga
keuntungan atua kerugian karena pengalihan atau penarikan harta dikenakan pajak dalam
tahun dilakukan pengalihan harta. Apabila harta tersebut dijual atau terbakar, maka
penerimaan neto dari penjualan harta yaitu selisih antara harga penjualan dengan biaya
yang dikeluarkan berkenaan dengan penjualan, dan atau penggantian asuransinya
dibukukan sebagai penghasilan. Dalam hal penggantian asuransi ternyata jumlah yang
diterima baru dapat diketahui dengan pasti dimasa kemudian, maka wajib pajak dapat
mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak agar jumlah sebesar kerugian
dapat dibebankan dalam tahun penggantian asuransi tersebut. Namun demikian apabila
terjadi pengalihan harta karena bantuan, sumbangan, hibah atau warisan (Pasal 4 ayat (3)
huruf a dan huruf b Undang-undang Pajak Penghasilan 1994) berupa harta berwujud,
maka jumlah sisa bukunya tidak boleh dibebankan sebagai kerugian oleh pihak yang
mengalihkan.

Pengelompokkan Aktiva Tetap

Metode penyusutan yang dipilih mencakup semua harta bukan bangunan yang
kemungkinan diperolehnya sebelum atau diperoleh sejak Tahun 1995 tidak
diperkenankan menggunakan dua macam metode penyusutan untuk harta bukan
bangunan.

Penyusutan aktiva tetap yang dimiliki sebelum awal Tahun Pajak 1995 dan masih
digunakan untuk mendapatkan menagih dan memelihara penghasilan, secara fiskal masih
mempunyai sisa masa manfaat penyusutan dilakukan berdasarkan Nilai Sisa Buku.
Aktiva tetap yang tidak lagi digunakan untuk mendapatkan dan menagih serta
memelihara penghasilan atua telah habis masa manfaatnya secara fiskal sejak tahun 1995
tidak dapat disusutkan, maka Nilai Sisa buku yang masih ada dibebankan seluruhnya
sebagai biaya dalam tahun 1995.

Aktiva tetap perusahaan yang dibeli sebelum tahun 1995 perlu dikelompokkan
berdasarkan sisa masa manfaat pada awal tahun 1995 dari masing-masing harta (tanpa
perhatian jenisnya) sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-44/PJ.4/1995
tanggal 2 Oktober 1995 (diperbaharui dengan SE-49/PJ.4/1995 tanggal 31 Oktober 1995)
tentnag Penyusutan atau Amortisasi atas Pengeluaran untuk memperoleh harta yang
masih dimiliki dan digunakan pada awal tahun 1995 sebagai berikut :
SISA MANFAAT KELOMPOK
2 sampai dengan 5 tahun 1
7 sampai dengan 11 tahun 2
Lebih dari 13 tahun 3 Catatan :

1. Apabila sisa manfaat tinggal 1 (satu) tahun, maka disusutkan sekaligus

2. Apabila sisa manfaat berada ditengah-tengah kelompok misalnya 6 (enam) tahun,


maka dapat memilih masuk dalam kelompok 1 atau kelompok 2

Untuk aktiva tetap diperoleh sejak tahun 1995 dan seterusnya akan
dikelompokkan sesuai pasal 11 Undang-undang Pajak Penghasilan (perhatikan kelompok
harta berwujud).

Ketentuan Lain

Penyimpangan dari ketentuan pasal 11 ayat (1) Undang-undang Pajak


Penghasilan yang mengatur masalah penyusutan bahwa Menteri Keuangan selanjutnya
mempunyai kewenangan mengatur tersendiri untuk penyusutan harta berwujud yang
digunakan dalam usaha tertentu seperti pertambangan minyak dan gas bumi, serta
perkebunan tanaman keras.

B. AMORTISASI

Pengertian

Seperti yang telah dilakukan pada aktiva tetap berwujud, bahwa nilai aktiva tetap
tak berwujud harus juga dilakukan penyusutan yang disebut dengan amortisasi.
Pengertian aktiva tak berwujud adalah aktiva lancar (Non Current Asset) dan tak
berbentuk yang memberikan hak keekonomian dan hukum kepada pemiliknya dan dalam
laporan keuangan tidak dicakup secara terpisah dalam klasifikasi aktiva yang lain (PSAK
No.19). Termasuk dalam aktiva tak berwujud seperti Hak Paten, Hak Merek, GoodWill,
Biaya Pendirian dan lain-lain.

Perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud menyangkut masalah yang tidak berbeda
dengan perlakukan akuntansi terhadap aktiva tetap, hanya kesulitan yang dihadapi dalam
pemecahan masalah perlakuan akuntansi aktiva tak berwujud pada umumnya karena sifat
aktiva yang tidak ada wujud fisik yang berakibat bukti keberadaan kabur termasuk
kesulitan dalam penentuan nilai perolehan serta masa manfaat keekonomian.

Nilai aktiva tak berwujud pada akhirnya akan habis pada saat tertentu, sehingga
harga perolehan aktiva tak berwujud harus diamortisasi secara sistematis selama taksiran
masa manfaat dan tidak boleh melebihi 20 (dua puluh) tahun dengan dasar pemikiran
atau pertimbangan bahwa periode tersebut sudah banyak perkembangan dan periode
selebihnya tidak lagi mempunyai manfaat keekonomian. Namun perusahaan diharuskan
mengevaluasi periode amortisasi aktiva tidak berwujud secara teratur untuk memutuskan
apakah peristiwa dan kondisi selanjutnya menuntut perubahan taksiran masa manfaat
yang telah ditentukan. Apabila ternyata berubah, maka jumlah harga perolehan yang
belum diamortisasi harus dibebankan pada sisa manfaat yang baru asal tidak melebihi 20
(dua puluh) tahun dari tanggal perolehan. Metode yang digunakan dalam amortisasi
aktiva tetap tak berwujud menurut akuntansi komersial pada umumnya menggunakan
metode garis lurus yaitu dihitung dengan jalan mengalihkan persentase Amortisasi
dengan Harga Perolehan aktiva tetap tak berwujud, kecuali jika ada metode lain yang
lebih sesuai dengan kondisi perusahaan.

Amortisasi menurut Akuntansi Pajak mendasarkan pada Pasal 11A Undang-


undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1994.

Dalam Pasal 11A menyebutkan bahwa amortisasi dilakukan terhadap pengeluaran


untuk memperoleh harta tak berwujud dan pengeluaran lainnya yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang digunakan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan. Istilah yang digunakan dalam akuntansi pajak adalah harta tak
berwujud tetapi mempunyai makna yang sama dengan aktiva tetap tak berwujud.

Metode Amortisasi

Metode yang digunakan dalam amortisasi aktiva tetap tak berwujud menurut
akuntansi pajak:

1. Metode garis lurus, atau

2. Metode saldo menurun

Penggunaan metode amortisasi disyaratkan taat asas (konsisten).

Pengelompokkan Aktiva Tetap Tak Berwujud dan Tarif Amortisasi

Dalam menghitung amortisasi aktiva tetap tak berwujud terlebih dahulu harus
dikelompokkan sesuai dengan masa manfaatnya. Untuk lebih jelasnya pengelompokkan
masa manfaat dan tarif penyusutan terlihat sebagai berikut :

Kelompok Masa manfaat Tarif amortisasi


harta tak Garis Saldo
lurus menurun
berwujud
Kelompok 1 4 tahun 25 % 50 %
Kelompok 2 8 tahun 12,5 % 25 %
Kelompok 3 16 tahun 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 tahun 5% 10 %

Penetapan masa manfaat dan tarif amortisasi diatas dimaksudkan untuk


memberikan keseragaman dalam melakukan amortisasi. Metode yang digunakan sesuai
dengan metode yang dipilih berdasarkan masa manfaat yang sebenarnya. Kemungkinan
dapat terjadi bahwa masa manfaat aktiva tetap tak berwujdu tidak tercantum pada
kelompok masa manfaat, maka Wajib Pajak menggunakan masa manfaat terdekat.
Sebagai contoh aktiva tetap tak berwujud masa manfaat sebenarnya 6 (enam) tahun,
dapat menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun atua 8 (delapan) tahun.
Demikianlah halnya apabila masa manfaat sebenarnya 5 (lima) tahun, maka
menggunakan kelompok masa manfaat 4 (empat) tahun.

Contoh :

Untuk memperoleh hak paten perusahaan telah mengeluarkan uang per kas
sebesar Rp 150.000.000,- Masa manfaat hak paten tersebut 4 (empat) tahun.

1. Penghitungan amortisasi setiap tahun dengan menggunakan Metode Garis Lurus = 25


% x Rp 150.000.000,- = Rp 37.500.000,-

2. Penghitungan amortisasi setiap tahun dengan menggunakan Metode Saldo Menurun


= 50% x Rp 150.000.000,- = Rp 75.000.000,-

Saat Amortisasi dan Amortisasi pada Akhir Masa Manfaat

Seperti halnya penyusutan, dalam hal amortisasi ini dilakukannya pada saat
diperolehnya, sedangkan dalam akuntansi pajak bahwa amortisasi dilakukan pada saat
tahun dilakukannya pengeluaran. Pada akhir masa manfaat aktiva tetap tak berwujud
akan diamortisasi sekaligus.

Ketentuan Lain

Pada ketentuan lain ini mengatur masalah :

1. Pengeluaran untuk biaya pendirian dan biaya pengeluaran modal suatu perusahaan
dibebankan pada tahun terjadinya pengeluaran atau diamortisasi sesuai ketentuan
yang berlaku
2. Amortisasi terhadap pengeluaran untuk memperoleh hak dan pengeluaran lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun di bidang penambangan minyak
dan gas bumi dilakukan dengan menerapkan persentase tarif armotisasi yang
besarnya setiap tahun sama dengan persentase perbandingan antara realisasi
penambangan minyak dan gas bumi pada tahun yang bersangkutan dengan taksiran
jumlah seluruh kandungan minyak dan gas bumi di lokasi tersebut diproduksi.
Apabila ternyata jumlah produksi yang sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan,
sehingga masih terdapat sisa pengeluaran untuk memperoleh hak atau pengeluaran
lain, maka atas sisa pengeluaran dapat dibebankan sekaligus dalam tahun pajak yang
bersangkutan.

Contoh :

PT. Abadi mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan gas
bumi di suatu lokasi sebesar Rp 800.000.000,- . Taksiran jumlah kandungan minyak
sebesar 200.000.000 barel produksi sebenarnya 50.000.000 barel.

a. Tarif amortisasi = (50.000.000/200.000.000) x 100 % = 25 %

Amortisasi tahun I = 25 % x Rp 800.000.000,-

= Rp 200.000.000,-

b. Produksi sebenarnya tahun ke II 75.000.000 barel

Tarif amortisasi = (75.000.000 / 200.000) x100 %

= 37,5 %

Tarif amortisasi Tahun II = 37,5% x Rp 800.000.000,-

= Rp 300.000.000,-

3. Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak penambangan selain minyak dan
gas bumi, hak pengusahaan hutan dan hak penguasaan sumber alam serta hasil alam
lainnya seperti hak pengusahaan hasil laut diamortisasi berdasarkan metode satuan
produksi dengan jumlah setinggi-tingginya 20% (dua puluh persen) setahun.

Contoh :

Pengeluaran untuk memperoleh hak penguasaan hutan sebesar Rp


800.000.000,- Potensi hutan tersebut 10.000.000 ton kayu.

a. Produksi sebenarnya tahun I 1.000.000 ton

Tarif amortisasi = (1.000.000/10.000.000) x 100 % = 10 %


Amortisasi = 10 % x Rp 800.000.000,-

= Rp 80.000.000,-

b. Jika produksi sebenarnya tahun II sebesar 3.000.000 ton atau 30% potensi
tersedia, maka amortisasi tahun tersebut 20 % x Rp 800.000.000,- =
Rp 160.000.000,-

4. Amortisasi atas pengeluaran yang dilakukan operasi komersial yang mempunyai


masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. Terhadap pengeluaran tersebut harus
dikapitalisasi terlebih dahulu. Pengertian biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum
operasi komersial sebagai contoh adalah biaya studi kelayakan dan biaya produksi
percobaan tetapi tidak termasuk biaya operasional rutin (gaji pegawai, rekening
listrik, dsb). Biaya rutin ini akan dibebankan sekaigus pada tahun pengeluaran.

Pengalihan Hak Aktiva Tetap Tak Berwujud

Apabila terjadi pengalihan hak aktiva tatap tak berwujud seperti tersebut dalam
pasal 11A ayat (1), ayat (4), ayat (5), nilai sisa buku harta atau hak-hak tersebut
dibebankan sebagai kerugian dan jumlah yang diterima sebagai penggantian merupakan
penghasilan pada tahun terjadinya pengalihan.

Kemungkinan terjadi pengalihan aktiva tetap tak berwujud yang memenuhi syarat
pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b undang-undang No 7 tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan undang-undang No. 10 tahn 1994, maka
Nilai Sisa Buku Aktiva tersebut boleh dibebankan sebagai kerugian bagi pihak yang
mengalihkan.

Contoh :

PT Jaya mengeluarkan biaya untuk memperoleh hak penambangan minyak dan


gas bumi di suatu lokasi sebesar Rp 600.000.000,-. Taksiran kandungan minyak sebanyak
200.000.000 barel. Setelah produksi minyak dan gas bumi mencapai 100.000.000 barel,
hak penambangan dijual kepada pihak lain seharga Rp 400.000.000,-.

Penghitungan penghasilan dan kerugian penjualan sebagai berikut:

Harga Perolehan Rp 600.000.000,-

Amortisasi yang dilakukan

100.000.000
x 100% x Rp 600.000.00,- Rp 300.000.000,-
200.000.000
Nilai Sisa Buku Rp 300.000.000,-

Harga Jual Rp 400.000.000,-

Dengan demikian Nilai Sisa Buku sebesar Rp 300.000.000,- dibebankan sebagai


kerugian dan Harga Jual sebesar Rp 400.000.000,- dibukukan sebagai penghasilan.

BAB I
FUNGSI DAN TUJUAN MANAJEMEN KEUANGAN
A. Pengertian, Arti Penting Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan merupakan salah satu bidang manajemen fungsional
dalam suatu perusahaan, yang mempelajari tentang penggunaan dana, memperoleh
dana dan pembagian hasil operasi perusahaan
Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab
manajer keuangan. Meskipun tugas dan tanggung jawabnya berlainan di setiap
perusahaan, tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi : keputusan
tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian dividen suatu
perusahaan (Weston dan Copeland, 1992: 2)
Manajer keuangan berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang
layak dari investasi pada berbagai aktiva dan pemilihan sumber-sumber dana untuk
membelanjai aktiva-aktiva tersebut. Untuk membelanjai kebutuhan dana tersebut,
manajer keuangan dapat memenuhinya dari sumber yang berasal dari luar
perusahaan dan dapat juga yang berasal dari dalam perusahaan. Sumber dari luar
perusahaan berasal dari pasar modal, yaitu pertemuan antara pihak membutuhkan
dana dan pihak yang dapat menyediakan dana. Dana yang berasal dari pasar modal
ini dapat berbentuk hutang (obligasi) atau modal sendiri (saham). Sumber dari dalam
perusahaan berasal dari penyisihan laba perusahaan (laba ditahan), cadangan,
maupun depresiasi.
Setelah dana diperoleh, dana tersebut harus digunakan untuk membelanjai
operasi perusahaan. Dana akan tertanam pada berbagai kekayaan riil perusahaan,
Setelah mempelajari pokok bahasan ini, diharapkan mahasiswa mampu
memamahi dan menjelaskan:
� Pengertian dan pentingnya manajemen keuangan.
� Fungsi keuangan.
� Tujuan Corporate Finance
� Lingkungan Keuangan.
� Masalah keagenan
baik kekayaan yang berwujud atau pun yang tidak berwujud. Sedangkan sumbersumber
dana perusahaan, baik kekayaan yang berwujud atau pun yang tidak
berwujud. Sedangkan sumber-sumber dana perusahaan akan diwujudkan dalam
berbagai aktiva finansial, yaitu selembar kertas yang mempunyai nilai pasar, karena
dengan memiliki kertas tersebut, pemilik dapat memperoleh penghasilan (baik yang
tetap, atau pun tidak tetap).
Besar kecilnya dana yang harus diperoleh oleh manajer keuangan tentu saja
harus disesuaikan dengan kebutuhan untuk operasi perusahaan itu. Penggunaan dana
untuk operasi perusahaan dapat digunakan untuk keperluan yang sangat bermacammacam.
Tetapi kalau dipandang dari dimensi waktunya, maka penggunaan dana
tersebut dapat untuk modal kerja (jangka pendek) dapat juga untuk investasi modal
(jangka panjang).
Setelah dana tersebut dipergunakan, maka diharapkan perusahaan dapat
memperoleh keuntungan dari penggunaan dana tersebut. Apabila perusahaan
memperoleh keuntungan maka harus diputuskan apakah keuntungan ini akan
dibagikan kepada pemilik modal ataukah diinvestasikan kembali ke dalam
perusahaan.
Dengan demikian maka manajer keuangan intinya harus melakukan tugastugas
utama (fungsi) yaitu: memperoleh dana dan menggunakan dana tersebut.
Untuk memperoleh dana, ia harus mengambil keputusan pembelanjaan, yaitu
mencari dana dari pasar modal (dalam bentuk hutang maupun modal sendiri/saham).
Di samping itu, dana juga dapat diperoleh dari hasil operasi perusahaan. Besarkecilnya
dana ini tergantung pada kebijakan dividen, yaitu penentuan besar-kecilnya
keuntungan yang harus dibagi (dan ditahan). Semakin banyak yang ditahan, semakin
banyak dana yang diperoleh dari dalam perusahaan. Untuk fungsi menggunakan
dana, manajer keuangan harus mengambil keputusan investasi yaitu penentuan untuk
apa dana yang dimiliki oleh perusahaan akan dipergunakan.
Kegiatan penting lain yang harus dilakukan manajer keuangan menyangkut
empat (4) aspek yaitu:
1. Pertama, yaitu dalam perencanaan dan peramalan, dimana manajer keuangan
harus bekerja sama dengan para manajer lain yang ikut bertanggung jawab atas
perencanaan umum perusahaan.
2. Kedua, manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan
investasi dan pembiayaan, serta segala hal yang berkaitan dengannya.
3. Ketiga, manajer keuangan harus bekerja sama dengan para manajer lain di
perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin
4. Keempat, menyangkut penggunaan pasar uang dan pasar modal, manajer
keuangan menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, di mana dana
dapat diperoleh dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.
Dari ke empat aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tugas pokok manajer keuangan
berkaitan dengan keputusan investasi dan pembiayaannya. Dalam menjalankan
fungsinya, tugas manajer keuangan berkaitan langsung dengan keputusan pokok
perusahaan dan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
B. Fungsi dan Tanggung Jawab Manajer Keuangan
Manajer Keuangan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap apa yang
telah dilakukannya. Ada pun keputusan keuangan yang menjadi tanggung jawab
manajer keuangan dikelompokkan ke dalam tiga (3) jenis:
1. Mengambil keputusan investasi (investment decision)
Menyangkut masalah pemilihan investasi yang diinginkan dari sekolompok
kesempatan yang ada, memilih satu atau lebih alternatif investasi yang dinilai
paling menguntungkan.
2. Mengambil keputusan pembelanjaan (financing decision)
Menyangkut masalah pemilihan berbagai bentuk sumber dana yang tersedia
untuk melakukan investasi, memilih satu atau lebih alternatif pembelanjaan yang
menimbulkan biaya paling murah.
3. Mengambil keputusan dividen (dividend decision)
Menyangkut masalah penentuan besarnya persentase dari laba yang akan
dibayarkan sebagai dividen tunai kepada para pemegang saham, stabilitas
pembayaran dividen, pembagian saham dividen dan pembelian kembali sahamsaham.
Keputusan-keputusan tersebut harus diambil dalam kerangka tujuan yang
seharusnya dipergunakan oleh perusahaan yaitu memaksimumkan nilai perusahaan.
Nilai perusahaan adalah harga yang terbentuk seandainya perusahaan dijual. Apabila
perusahaan “go public” maka nilai perusahaan ini akan dicerminkan oleh harga
saham perusahaan tersebut. Dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka pemilik
perusahaan menjadi lebih makmur sehingga mereka menjadi lebih senang.
12/10/2007 Noorlaily F/ IMAN/Matrikulasi 4
Assets Liabilities & Equity
Current assets Current Liabilities
Fixed assets Long-term debt
Preferred Stock
Common Equity
The investment decision
Gambar I.1 Keputusan Investasi
12/10/2007 Noorlaily F/ IMAN/Matrikulasi 5
Assets Liabilities & Equity
Current assets Current Liabilities
Fixed assets Long-term debt
Preferred Stock
Common Equity
The financing decision
Gambar I.2 Keputusan Pembelanjaan
C. Kedudukan Manajer Keuangan Dalam Struktur Organisasi Perusahaan
Di dalam perusahaan yang besar bidang keuangan dipimpin oleh seorang
manajer keuangan (chief funancial manager). Manajer keuangan atau sering disebut
direksi keuangan melaporkan secara langsung kepada direktur keuangan atau
presiden direktur.
Sedangkan di dalam departemen keuangan dalam suatu perusahaan dibagi lagi
ke dalam beberapa bagian/divisi yang dipunyai oleh seorang kepada divisi meliputi:
1. Divisi anggaran, bertanggung jawab untuk mempersiapkan dan memperbaiki
bugdet operasi (operating bugdet)
2. Divisi penganggaran modal (capital budgeting) yang bertanggung jawab untuk
mempersiapkan analisis pengeluaran modal
3. Divisi perencanaan keuangan, yang bertanggung jawab untuk mengambil
alternatif pemenuhan kebutuhan dana jangka panjang
4. Divisi perencanaan keuangan jangka pendek, yang bertanggung jawab terhadap
pemenuhan kebutuhan dana jangka pendek, serta investasi jangka pendek pada
surat berharga (marketable securities)
5. Divisi kredit, bertanggung jawab untuk menentukan kredit yang akan diberikan
kepada langganan, disamping itu divisi ini juga bertanggung jawab dalam
negoisasi dengan kreditor (lembaga keuangan Bank dan bukan Bank)
6. Divisi hubungaan masyarakat (human relation), bertanggung jawab terhadap
pembentukan image/komunikasi antara perusahaan, pemegang saham, para
investor dan masyarakat keuangan secara umum.
D. Tujuan dari Manajemen Keuangan (The Main Objective of Financial
Management)
Tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan kemakmuran pemegang
saham atau memaksimumkan nilai perusahaan, bukan memaksimumkan profit. Arti
memaksimumkan profit, berarti mengabaikan tanggung jawab social, mengabaikan
risiko, dan berorientasi jangka pendek. Sedangkan arti memaksimumkan kemakmuran
pemegang saham atau nilai perusahaan sebagai berikut:
1. Berarti memaksimumkan nilai sekarang (present value) semua keuntungan di masa
datang yang akan diterima oleh pemilik perusahaan.
2. Berarti lebih menekankan pada aliran hasil bukan sekedar laba bersih dalam
pengertian akuntansi.
Kelebihan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan/kemakmuran pemegang
saham adalah secara konseptual jelas sebagai pedoman di dalam pengambilan
keputusan yang memprtimbangkan faktor risiko. Dalam pencapaian tujuan tersebut,
manajemen keuangan harus dapat menyeimbangkan kepentingan pemilik, kreditor,
dan pihak lain yang berkaitan dengan perusahaan.
Memaksimumkan kemakmuran pemegang saham/pemilik perusahaan tidak
mengingkari adanya social objectives dan kewajiban sosial. Tanggung jawab sosial
adalah satu aspek penting dari tujuan perusahaan, maksudnya:
1. Keberhasilan memaksimumkan nilai perusahaan akan memberikan sumbangan
yang berarti kepada lingkungan sosial secara keseluruhan.
2. Pengaruh (dampak) lingkungan eksternal seperti polusi, keselamatan kerja,
keamanan produk juga harus diperhitungkan.
3. Kepekaan terhadap faktor eksternal merupakan salah satu syarat penting agar
perusahaan tetap dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
4. Perusahaan harus dapat memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dalam
kendala legal dan sosial dan bertanggung jawab terhadap perubahan lingkungan.
E. Lingkungan Keuangan
Aspek lingkungan yang penting dipahami para manajer keuangan adalah sektor
keuangan di bidang perekonomian, yang terdiri dari pasar keuangan (financial
markets), lembaga keuangan (financial institutions) dan instrumen keuangan
(financial instruments).
1. Pasar keuangan, menunjukkan pertemuan antara permintaan dan penawaran akan
aktiva finansial (financial asset) atau sering disebut sebagai sekurities. Sekurities
adalah secarik kertas (surat) yang mempunyai nilai pasar karena surat tersebut
menunjukkan klaim atas aktiva riil perusahaan (misalnya mesin-mesin, pabrik,
bahan baku, barang dagangan, merek dagang, dll.)
2. Lembaga keuangan yaitu lembaga yang berperan sebagai lembaga intermediari
(financial intermediation) dengan mempertemukan unit surplus dengan unit
defisit. Contoh lembaga keuangan dalam sistem moneter adalah Bank sentral,
Bank pencipta uang giral/bank umum. Lembaga keuangan dan di luar sistem
moneter (bank bukan pencipta uang giral/BPR), lembaga pembiayaan,
perusahaan asuransi, dana pensiun, lembaga di bidang pasar modal, dll.
3. Instrumen Keuangan, contohnya adalah uang, saham, hutang, dan surat berharga
di pasar uang dan pasar modal lainnya.
Direct Transaction
Gambar I.1 Lembaga-lembaga Pemilik Dana dan Pembutuh Dana
F. Masalah Keagenan
Yang disebut masalah keagenan atau Agency Problem adalah konflik yang timbul
antara pemilik, karyawan, dan manajer perusahaan di mana ada kecenderungan manajer
lebih mementingkan tujuan individu daripada tujuan perusahaan. Agency problem
muncul terutama apabila perusahaan menghasilkan free cash flows yang sangat besar
(Jensen, 1992, dalam Agus Sartono, 1998). Free cash flows adalah aliran kas bersih yang
tidak dapat diinvestasikan kembali karena tidak tersedia kesempatan investasi yang
profitable.
Masalah keagenan dapat timbul antara:
1. Pemegang saham dengan manajer (sering terjadinya perbedaan kepentingan
antara pemegang saham dan manajer, sehingga untuk meminimalisasinya pemilik
biasanya memberikan fasilitas yang bagus dan kadang juga berupa saham kepada
manajer,agar manajer bertindak seperti sebagai pemegang saham)
Suppliers of
funds
(investor)
Financial Institutions
Banks
Savings and Loans
Savings Banks
Credit Unions
Insurance
Companies
P i F d Demanders of
Funds
(issuer)
Financial Market
Money Market(Short
term)
Capital Market(Long
2. Manajer dengan kreditor (misalnya, ketika perusahaan sudah dalam keadaan
pailit, dan kreditor menginginkan perusahaan dilikuidasi, tapi manajer masih
berusaha untuk mempertahankan perusahaan dan berusaha untuk
memperbaikinya)
3. Manajer, pemegang saham dan kreditor dalam kasus perusahaan menghadapi
kesulitan keuangan
Dalam upaya meminimumkan agency problem diperlukan biaya yang disebut agency
costs dan tercermin dalam empat alternatif:
1. Pengeluaran untuk monitoring seperti halnya biaya untuk pemeriksaan akuntansi
dan prosedur pengendalian intern.
2. Pengeluaran insentif sebagai kompensasi untuk manajemen atas prestasi yang
konsisten – memaksimumkan nilai perusahaan. Bentuk insentif yang umum
adalah stock option yaitu pemberian hak kepada manajemen untuk membeli
saham perusahaan di masa yang akan datang dengan harga yang telah ditentukan.
3. Bentuk yang kedua adalah performance shares yaitu pemberian saham kepada
manajemen atas pencapaian tujuan –pencapaian tingkat return tertentu. Bentuk
insentif lain adalah cash bonus atau bonus kas yang dikaitkan dengan pencapaian
tujuan tertentu.
4. Fidelity bond adalah kontrak antara perusahaan dengan pihak ketiga di mana
pihak ketiga –bonding company – setuju untuk membayar perusahaan jika
manajer berbuat tidak jujur sehingga menimbulkan kerugian bagi perusahaan.
5. Golden parachetus dan poison pill dapat dipergunakan pula untuk mengurangi
konflik antara manajemen dan pemegang saham. Golden parachutes adalah suatu
kontrak antara manajemen dan pemegang saham yang menjamin bahwa
manajemen akan mendapat kompensasi sejumlah tertentu apabila perusahaan
dibeli oleh perusahaan lain atau terjadi perubahan pengendalian perusahaan.
Poison pill adalah usaha pemegang saham untuk menjaga agar perusahaan tidak
diambil alih oleh perusahaan lain.
G. Pertanyaan
1. Jelaskan fungsi utama manajer keuangan?
2. What is the difference between stock price maximization, firm value maximization and
stockholder wealth maximization
3. Jelaskan pengertian agency problem dan agency costs.

Anda mungkin juga menyukai