Anda di halaman 1dari 106

1

MODUL BAHASA INDONESIA

Tujuan Kuliah

I. Tujuan Umum

Agar para mahasiswa memiliki sikap bahasa yang positif terhadap bahasa Indonesia dengan cara :

A. Kesetian bahasa

Mahasiswa memelihara bahasa Indonesia dan tidak mudah terpengaruh dengan bahasa asing.

B. Kebanggan bahasa

Mahasiswa mengutamakan bahasanya dan menggunakan sebagai lambang identitas bangsa.

C. Kesadaran akan adanya norma bahasa

Mahasiswa menggunakan bahasanya sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku.

II. Tujuan Khusus

Agar para mahasiswa, calon sarjana, terampil menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan dan tulisan sebagai sarana pengungkapan gagasan ilmiah.

Materi Kuliah

1. Pengantar

2. Fungsi dan Ragam Bahasa

3. Ejaan yang Disempurnakan

4. Bentuk dan Makna

5. Diksi

6. Kalimat

2

8. Teknik Penulisan Surat

9. Topik , Tema dan Kerangka Karangan

10. Penulisan Karangan

BAB I KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA

A.

1.

Kedudukan Bahasa Indonesia

Sebagai Bahasa Nasional

Sumpah Pemuda.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan,

bahasa Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :

a. Lambang kebanggaan nasional

b. Lambang identitas nasional

c. Alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasanya

d. Alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah, antarwarga

2.

Sebagai Bahasa Negara

UUD 1945 Bab XV, pasal 36.

Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.

Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi:

a. Bahasa resmi kenegaraan

b. Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan

c. Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan

d. Bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan iptek

B.

Fungsi Bahasa

3

2. Sebagai alat untuk mengekspresikan diri

3. Sebagai alat untuk berintegrasi dan beradaptasi soisal

4. Sebagai alat kontrol sosial

C. Hakikat Bahasa

Bahasa adalah suatu lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh

suatu masyarakat tutur untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan

mengidentifikasi diri. Sebagai sebuah sistem, bahasa terbentuk oleh suatu

aturan, kaidah, atau pola-pola tertentu baik dalam bidang tata bunyi, tata

bentuk kata, maupun tata kalimat.

D. Ragam Bahasa

Pemilihan

berkomunikasi tergantung pada tiga hal berikut ini

corak

atau

ragam

bahasa

yang

1. Cara berkomunikasi / media

2. Cara pandang penuturnya

3. Topik/pokok permbicaraan

dipakai

oleh

seseorang

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN BERKOMUNIKASI SECARA LISAN DAN TULIS

Cara Berkomunikasi

Keunggulan

Kelemahan

Komunikasi Lisan

1. Berlangsung cepat

1. Tidak dapat dibuktikan secara autentik

1. Berbicara

2. Dapat berlangsung

2. Berpidato

tanpa alat bantu

2. Dasar hukumnya lemah

3. Berdiskusi

3. Dapat

4. Presentasi

menggunakan

3. Sulit disajikan secara mendalam

5. dll

bahasa tubuh, mimik

4. Mudah dimanipulasi

4. Kesalahan dapat dikoreksi langsung

Komunikasi Tertulis

1. Bukti autentik

1. Waktunya lambat

1. Surat

2. Dapat disajikan

2. Menggunakan alat bantu

2. Laporan

lebih mendalam

3. Artikel

3. Tidak dapat

3. Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi

4. Makalah

dimanipulasi

5. Skripsi

datanya

4. Tidak dapat dibantu dengan bahasa tubuh serta mimik

4. Mempunyai kekuatan hukum yang kuat

4

PEMAKAIAN RAGAM TAKRESMI DAN RAGAM RESMI

Ragam Takresmi Lisan

Ragam Resmi Lisan

Dipakai untuk

Dipakai untuk

1. Komunikasi sehari-hari dirumah

1. Ceramah

2. Bergunjing

2. Pidato

3. Bercerita

3. Diskusi

4. Berbicara

4. Presentasi

5. dll.

5. dll.

Ragam Takresmi Tulis

Ragam Resmi Tulis

1. Surat pribadi

1. Surat resmi

2. Catatan harian / diary

2. Makalah

3. dll.

3. Artikel

4. Proposal

5. Laporan

6. dll.

PERBEDAAN PEMAKAIAN RAGAM LISAN DAN TULIS

RAGAM LISAN

RAGAM TULIS

1. Memerlukan lawan bicara

1. Tidak memerlukan lawan bicara

2. Unsur-unsur funsional gramatikal (S,P,O,K) tidak dinyatakan dengan kata-kata , tetapi dengan menggunakan bantuan gerak tubuh dan mimik

3. Terikat pada situasi, kondisi, ruang, gerak, dan waktu

2. Fungfsi-fungsi gramatikal harus dinyatakan secara eksplisit agar pembaca memahami maksudnya

3. Tulisan dapat dibaca dan dimengerti oleh siapa saja pada situasi, kondisi, waktu dan tempat yang berbeda-beda

4. Makna dipengaruhi oleh tinggi rendah dan panjang pendeknya nada suara

4. Makna ditentukan oleh pemakaian tanda baca

Ragam

Contoh

Lisan takresmi

Sudah saya baca buku itu. Saya sudah membaca buku itu. Gue udah baca buku itu. Saya sudah membaca buku itu. Saya sudah membaca buku itu. Saya sudah baca buku itu.

Tulis formal

Dialek

Terpelajar

Resmi

Takresmi

Ragam

Ilmiah

Nonilmiah

Hukum

Dia dihukum karena melakukan tindakan pidana.

Dia dihukum karena melakukan penipuan dan penggelapan.

Bisnis

Setiap agen akan mendapat rabat khusus.

Setiap agen akan mendapat potongan khusus.

Sastra

Alur cerita sinetron itu membosankan

Jalan cerita sinetron itu membosankan.

Kedokteran

Epilepsi bukan penyakit menular.

Ayan bukan penyakit menular

5

E. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

1. Bahasa yang Baik Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di rumah hendakalah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan akrab yang tidak terlalu terikat oleah patokan. Dalam situasi resmi dan formal, seperti lingkungan pendidikan, seminar, pidato, hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal, yang selalu memperhatikan norma bahasa.

2. Bahasa yang Benar Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan dan kaidah yang berlaku. Meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusuanan kalimat, kaidah penyusunan paragraph, dan lainnya.

Jadi bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indoensia yang berlaku.

6

BAB II EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

A. PENULISAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING

1. Huruf Kapital

a. Dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat Misal

Apa maksudnya?

b. Dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung Misal

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

c. Dipakai sebagai huruf pertama nama Tuhan, kitab suci Misal

Allah, Alkitab, Yang Maha Kuasa, Kristen, Islam, Weda,

d. Dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keagamaan, keturunan yang diikuti nama orang. Misal

Sultan Hasanudin Mahaputra Yamin Haji Agus Salim Bila tidak diikuti nama orang, maka tidak memakai huruf kapital Misal

Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

e. Dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan, pangkat, instansi, pengganti nama orang, dan nama tempat Misal

Wakil Presiden B.J. Habibie. Sekretaris Jendral Departemen Pertanian Bila tidak diikuti nama orang, penulisannya tidak menggunakan huruf kapital. Misal

Siapa gubernur yang baru dilantik itu? Kemarin Brigjen Farsa dilantik menjadi mayor jendral.

f. Dipakai sebagai huruf pertama nama orang. Misal

7

Finza Nurcahyo. Mung Kusumo Ajie

g. Dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa Misal

bangsa Indonesia suku Sunda bahasa Inggris

h. Dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah Misal

bulan Agustus hari Lebaran Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

i. Dipakai sebagai huruf pertama nama khas geografi misal

Asia Tenggara

Selat Lombok

Bukit Barisan

Gunung Semeru

Danau Toba

Pulau Bali

j. Dipakai sebagai huruf pertama nama negara, nama resmi lembaga

pemerintahan, nama dokumen resmi Misal

Republik Indonesia Majelis Permusyawaratan Rakyat

k. Dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna pada nama badan/lembaga Misal

Perserikatan Bangsa-Bangsa Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

l. Dipakai sebagai huruf pertama dalam penulisan nama buku, majalah, surat kabar, judul karangan, kecuali preposisi yang di tengah. Misal

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

8

m. Dipakai sebagai huruf pertama hubungan kekerabatan Misal

“ Kapan Bapak berangkat?” Tanya Hanru Surat Saudara telah saya terima.

n. Dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan Misal

Dr.

Doktor

M.A.

Master of Arts

o. Dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda Misal

Sudahkan Anda tahu? Surat Anda telah kami terima.

2.

Huruf Miring atau Cetak Miring

a. Dipakai untuk menuliskan nama buku, nama majalah, nama surat kabar yang dikutip dalam karangan

Misal

Buku Negarakertagama karangan Prapanca. Surat Kabar Suara Pembaruan.

b. Dipakai untuk menegaskan huruf, bagian kata, atau kelompok kata Misal

Dia bukan menipu, tetapi ditipu. Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf kapital.

c. Dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing Misal

Nama ilmiah manggis adalah Carsinia Mangostana.

B.

PENULISAN KATA

1.

Kata Dasar Semua kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misal Saya kuliah di Universitas Negeri Jakarta. Mobil sedan keluaran terbaru itu sangat laris di pasar otomotif.

9

2. Kata Turunan

a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) Misal

belajar, gerigi, masakan

b. Bentuk dasar berupa gabungan awalan, akhiran saja, ditulis terpisah Misal

diberi tahu, tanda tangani,

c. Bentuk dasar jika mendapat awalan dan akhiran sekaligus, penulisannya digabung Misal

Pemberitahuan, pertanggungjawaban, mentandatangani

d. Salah satu unsur jika digabung sebagai kombinasi saja, maka penulisannya digabung Misal.

adibusana, antarkota, pascabayar, paripurna, narapidana, biokimia, mancanegara

3. Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis lengkap dengan menggunakan kata hubung Misal

buku-buku, anak-anak, porak-poranda, mondar-mandir

4. Gabungan Kata

a. Gabungan kata atau kata majemuk, Istilah khusus, unsurnya ditulis terpisah Misal

duta besar, rumah sakit, mata kuliah, terima kasih

b. Gabungan kata termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan salah pengertian ditulis dengan kata hubung sebagai penegas Misal

anak istri saya, orang tua-muda, kaki-tangan pengusaha,

10

c. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai Misal

bagaimana, barangkali, daripada, olahraga, saputangan, halalbihalal, belasungkawa, matahari.

5. Kata Ganti

Kata ganti sebagai bentuk singkat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya Misal : aku : kubawa, kubaca, bukuku Engkau : kaubawa, kauambil

6. Kata Depan (Preposisi)

Kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali yang sudah diangap satu kata (kepada, daripada) Misal

Datanglah ke rumahku Buku pesananku datang di minggu kedua bulan ini. Mereka berasal dari keluarga berada.

7. Kata Sandang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya Misal

Bulan ini sang diktator negara tersebut dihukum mati.

8. Partikel

a. Partikel -lah, -kah, ditulis serangkai dari kata yang mendahuluinya. Misal

Pikirkanlah dengan baik-baik apa yang telah dikatakan oleh ibumu. Diakah yang telah membantumu?

b. Partikel -pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya kecuali kata yang sudah dianggap padu atau berupa konjungsi (bagaimanapun, meskipun, walaupun, biarpun, dll.) Misal

Jangankan bertatatpan, bertegur sapa pun aku enggan.

11

Meskipun hujan, aku tetap berangkat ke kampus.

c. Partikel -per yang berarti tiap atau demi ditulis terpisah dari kata yang mendahului dan mengikutinya Misal

Satu per satu kaum duafa itu menerima bingkisan.

9. Singkatan dan Akronim

a. Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Peraturan penulisannya adalah sebagai berikut. 1) Setiap menyingkat satu kata dipakai satu tanda titik Misal

nomor

halaman disingkat

disingkat

no. hlm. dan h.

2) Bila menyingkat dua kata dipakai dua titik

Misal atas nama

disingkat

a.n.

sampai dengan

disingkat

s.d.

3) Bila menyingkat tiga kata atau lebih, pada akhir singkatannya dipakai tanda titik. Misal

dan kawan-kawan

disingkat

dkk.

yang akan datang

disingkat

yad.

4) Penulisan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, mata uang

tidak diikuti titik. Misal : sentimeter disingkat

cm

kilogram

disingkat

kg

rupiah

disingkat

Rp

akan tetapi, singkatan nama diri yang diambil nama huruf awal kata disingkat, ditulis tanpa titik. Misal :

BUMN, DKI, RCTI, PT, AS, CV, dll.

b. Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal kata atau gabungan suku kata dari deret kata yang disingkat. Akronim dibaca dan diperlakukan sebagai kata

12

1) Akronim nama diri berupa gabungan huruf awal dari kata yang disingkat, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misal FISIP, KONI, 2) Akronim nama diri berupa gabungan suku kata atau huruf dan suku kata, huruf awalnya ditulus dengan kapital dan tidak diakhiri oleh tanda titik. Misal Bappenas, Kadin, Seskoal 3) Akronim bukan nama diri berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang disingkat, seluruhnya ditulis dengan huruf kecil dan tidak diakhiri dengan tanda titik. Misal rapim, munas, rudal

10. Angka dan Lambang Bilangan

a. Dipakai untuk menyatakan lambang bilangan nomor. Lazimnya digunakan angka Arab atau angka Romawi.

Misal :

1,2,3,4,5

I, II, III, L (50), C (100).

b. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (ii) satuan waktu, (iii) nilai ruang, dan (iv) kuantitas. Misal

19 meter, pukul 15.30, 65 liter

c. Dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen atau kamar pada alamat. Misal

Jalan Merah Putih II Blok F2 Nomor 235

d. Angka digunakan untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci Misal

Bab X, Pasal 5, halaman 354, Surat Annisa: 9

e. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut

a) Bilangan utuh

13

 

Misal : dua belas

12

b)

Bilangan pecahan Misal : setengah

1/2

f. Penulisan lambang bilangan tingkat dilakukan dengan cara Misal:

Lihat Bab II, pasal 5 dalam bab ke-2 buku itu; Ditingkat ke-2 itu ; kantor di tingkat II itu.

g. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf Misal:

Lima puluh orang tewas akibat bencana alam itu. 50 orang tewas akibat bencana alam itu ( salah )

h. Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja supaya mudah dibaca Misal

Perusahaan kami mendapat pinjaman 250 juta rupiah.

i. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, keculai dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi. Misal

Kami memiliki 20 unit komputer. Kami memiliki 20 (dua puluh ) unit komputer. (salah)

C. PEMAKAIAN TANDA BACA

1. Tanda Titik ( . )

a. Dipakai pada akhir kalimat Misal

Bapak memimpin rapat di kantor.

b. Dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean judul bab atau subbab Misal

a. Departemen Dalam Negeri

A. Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa

B. Direktorat Jendral Agraria

1. Subdit

2. Subdit

14

b. Isi Karangan

A.

uraian Umum

B.

Ilustrasi

1. Gambar

2. Tabel

3. Grafik

c. Isi Karangan

1.1 Uraian Umum

1.2 Ilustrasi

1.2.1 Gambar

1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik

c. Dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik Misal

Pukul 12.10.20

d. Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan dalam daftar pustaka Misal

Siregar, Marari. 1992. Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka.

e. Dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. Misal

Calon mahasiswa yang mendaftar mencapai 20.590 orang.

f. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, kepala tabel, ilustrasi, dan lainnya. Misal

Salah Asuhan

g. Tanda titik tidak dipakai dibelakang alamat surat dan tanggal surat. Misal

Jakarta , 1 April 2009 Yth. Sdr. M Faraby Jalan Arcadia Nomor 43 Palembang

15

h. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatan yang tidak menunjukan jumlah Misal

Paman lahir pada tahun 1956 di Bandung. Nomor gironya 56456784

2. Tanda Koma

a. Dipakai di antara unsur- unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misal Saya membeli karcis, pena, dan tinta.

b. Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan kalimat setara berikutnya. Misal Saya ingin datang, tetapi hari hujan. Dia bukan anak saya,melainkan anak Pak Ello.

c. Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya Misal Karena sibuk, ia lupa akan janjinya. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induknya jika anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimatnya. Misal Saya tidak akan datang kalau hari hujan

d. Dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat Misal Oleh karena itu, kita harus hati-hati. Jadi, soalnya tidak semudah itu.

e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata ungkapan perasaan Misal Wah, bukan main!

16

f. Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat Misal Kata ibu, “ Saya gembira sekali.”

g. Dipakai untuk (1) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, (iv) nama tempat dan wilayah yang ditulis berurutan Misal Surat-surat ini dialamatkan kepada Dekan Fakultas Ekonomi, Universitas Darma Persada, Jalan Radin Inten, Jakarta Timur.

h. Dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunanya dalam daftar pustaka Misal Rusli, Marah. 1990. Siti Nurbaya. Jakarta : Balai Pustaka.

i. Dipakai di antara bagian-bagian catatan kaki. Misal W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang Mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia. 1976), hlm. 4.

j. Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakan dari singkatan dan nama diri, keluaraga, atau marga. Misal C Ratrulangi, S.E.

k. Dipakai di muka angka per sepuluhan atau antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka . Misal 12,5 m

l. Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misal Guru saya Pak Ratyo, pandai sekali.

m. Dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misal

17

Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh. Bandingkan dengan ; Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

n. Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misal “Di mana Saudara tinggal?” tanya Aisha.

3. Tanda Titik koma ( ; )

a. untuk

Dipakai

memisahkan

bagian-bagian

kalimat

yang

sejenis

dan

setara.

Misal Malam makin larut ; pekerjaan belum selesai juga.

b. Dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misal Ibu mengurus tanaman di kebun itu ; ayah sibuk bekerja di garasi mobil ; saya sendiri asyik mendengarkan siaran radio.

4. Tanda Titik Dua ( : )

a. Dipakai

atau

pemerian. Misal Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari. Tidak dipakai jika rangkaian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Misal Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

pada

akhir

pernyataan

lengkap

jika

diikuti

rangkaian

b. Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misal

18

Ketua

:

Enindita Sih Listiyani

Sekretaris :

Mutia Sekar Wangi

Bendahara :

Gyscha Revita Rendy

c. Dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan. Misal

: (meletakan beberapa kopor) “ Bawa kopor ini , Mir!”

Ibu

Amir : “ Baik, Bu ( mengangkat kopor dan masuk )

d. Dipakai (i) di antara jilid atau nomor halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. Misal Tempo, I (1971), 34:7 Surah Yassin: 9 Ali Hakim, Pendiidkan Seumur Hidup : Sebuah Studi, sudah terbit. Tjakranegara, Soetomo, 1968. Tjukupkah Saudara Membina Bahasa Persatuan kita? Djakarta: Eresco.

5. Tanda Hubung ( - )

a. Dipakai untuk menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. Misal

Di samping cara-cara lama itu ada ju- ga cara yang baru.

b. Menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris Misal

Kini ada cara yang baru untuk meng- ukur panas.

19

anak- anak

d. Menyambung huruf kata yang dieja satu dan bagian-bagian tunggal Misal p-a-n-i-t-i-a

e. Dipakai

untuk

memperjelas

(i)

hubungan

bagian-bagian

kata

atau

ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata. Misal ber-evolusi dua puluh lima- ribuan. (25.000) Bandingkan dengan :

be-revolusi dua-puluh-lima ribuan (25.000)

f. Dipakai untuk merangkaikan (i) se dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke dengan angka, (iii) angka dengan an, dan (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap. Misal

se-Indonesia hadiah ke-2 tahun 50-an mem-PHK-kan Menteri-Sekretaris Negara

g. Dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Misal di-smash

6. Tanda Pisah ( )

a. Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misal Kemerdekaan bangsa itu saya yakin akan tercapai diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.

20

b. Menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Misal Rangkaian temuan evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

c. Dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang artinya ‘ sampai ‘ Misal 1998 2008 Jakarta Bandung

7. Tanda Elips (

)

a. Dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. Misal Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.

b. Menunjukan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Misal

Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

8. Tanda Tanya ( ? )

a. Dipakai pada akhir kalimat tanya. Misal Kapan ia berangkat? Saudara tahu, bukan?

b. Dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misal Ia dilahirkan pada tahun 1987 (?)

9. Tanda Seru ( ! ) Dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, rasa emosi yang kuat. Misal

21

Alangkah seramnya peristiwa itu!

10. Tanda Kurung ( (…) )

a. Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. Misal Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor tersebut.

b. Mengapit keterangan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misal Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

c. Mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. Misal Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

d. Mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan. Misal Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

11. Tanda Kurung Siku ( [

] )

a. Mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat pada naskah. Misal Kata beliau waktu itu, “ Kita jangan hanya mau meng[e]ritik, tetapi juga mau dikeritik”.

b. Mengapit keterangan dalam kalimat penjelasan yang sudah bertanda kurung.

Misal Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35-38] buku pertama) perlu dibentangkan di sini.

22

12. Tanda Petik Ganda ( “….” )

a. Dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misal “Saya belum siap, “ kata Mira, “ tungggu sebentar!” Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “ Bahasa Negara ialah bahasa Indonesia.”

b. Mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. misal Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu. Karangan Andi Hakim Nasution yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam Tempo.

c. Mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau mempunyai arti khusus. Misal Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.

d. Mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Misal Kata Tono, “ Saya juga minta satu.”

e. Mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Misal Karena warna kulitnya, budi mendapat julukan “ Si Hitam”.

13. Tanda Petik Tunggal ( ‘…’ )

1. Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Misal Tanya Faby, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

2. Mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing. Misal

Feed-back ‘balikan’

23

a. Dipakai dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. Misal No. 7/PK/1998 Jalan Kramat II / 70 Tahun anggaran 2001/2002

b. Sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.

Misal Mahasiswa/mahasiswi Harganya Rp1.500,00/lembar 15. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘) Dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. misal Kamu ‘kan kusurati tiap bulan ( ‘kan = akan)

Latihan dan Tugas Mandiri

I. Pilihlah pernyataan yang paling tepat, yang penulisannya sesuai dengan EYD!

1.a. Kelima sahabatku akan melanjutkan studinya keluar negeri besok pagi.

b.

c.

d.

Ke lima sahabatku akan melanjutkan studinya keluar negeri besok pagi.

Kelima sahabatku akan melanjutkan studinya ke luar negeri besok pagi.

Ke lima sahabatku akan melanjutkan studinya ke luar negeri besok pagi.

2. “Jangan berhenti dahulu, “ katanya, “ sebentar lagi kita tiba.”

“Jangan berhenti dahulu,” katanya: “ Sebentar lagi kita tiba.”

a.

b.

c.

d.

“Jangan berhenti dahulu,” katanya: “sebentar lagi kita tiba.”

“Jangan berhenti dahulu, “katanya, “Sebentar lagi kita sampai.”

3. Di Surabaya, suku Madura

a.

menggunakan bahasa Jawa.

b.

c.

Di Surabaya, suku Madura menggunakan Bahasa Jawa.

Di Surabaya, Suku Madura menggunakan bahasa Jawa.

24

4.

a. Abad ke 21 merupakan tantangan bagi ummat manusia.

b. Abad ke-21 merupakan tantangan bagi umat manusia.

c. Abad ke XXI merupakan tantangan bagi ummat manusia.

d. Abad ke-XXI merupakan tantangan bagi umat manusia.

5.

a. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Irham Pradipta Fadhli S.E.

b. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Irham Pradipta Fadhli, S.E.

c. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Irham Pradipta Fadhli, SE.

d. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Irham Pradipta Fadhli SE.

6.

a. Pembuatan gula jawa oleh masyarakat di jawa tengah masih secara tradisional.

b. Pembuatan gula Jawa oleh masyrakat di Jawa Tengah masih secara tradisional.

c. Pembuatan Gula Jawa oleh Masyarakat di Jawa Tengah masih secara tradisional.

d. Pembuatan gula jawa oleh masyarakat di Jawa Tengah masih secara tradisional.

7.

a. Silakan Bapak menunggu ayahku di sini!

b. Silakan bapak menunggu ayahku!

c. Silakan Bapak menunggu Ayahku di sini!

d. Silakan bapak menunggu Ayahku di sini!

8.

a. Di pekarangan Pak Agung pohon rambutan Aceh dan jeruk Bali sangat subur.

b. Di pekarangan Pak Agung pohon rambutan Aceh dan jeruk bali sangat subur.

c. Di pekarangan Pak Agung pohon Rambutan Aceh dan Jeruk Bali sangat subur.

d. Di pekarangan Pak Agung pohon rambutan aceh dan jeruk bali sangat

subur.

9.

a. KTP dan Simnya hilang di Pasar Baru.

b. KTP dan SIM-nya hilang di Pasar Baru.

c. K.T.P. dan S.I.M. nya hilang di Pasar Baru.

25

10. Persatuan Renang se-Jawa Barat mendaftarkan atletnya.

a.

b.

Persatuan renang seJawa Barat mendaftarkan atletnya.

c.

Persatuan Renang se-Jawa Barat mendaftarkan atlitnya.

d.

Persatuan renang se-Jawa Barat mendaftarkan atlitnya.

11. a. Mahasiswa lama/baru mendaftar diloket 2.

b.

c.

d.

Ujian akan berlangsung dari pukul 13.00 s/d 14.30.

Nomor surat tersebut adalah 17/UP/VII/2004.

Upah yang diterimanya Rp 500.000,00/minggu.

12. FISIP, RCTI, tilang, rapim

a.

b.

c.

d.

FISIP, RCTI, TILANG. RAPIM

FISIP, RCTI, Tilang, Rapim

fisip, rcti, tilang, rapim

13. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan Tabel 2 berikut ini.

a.

b.

c.

d.

Untuk lebih jelasnya, coba anda perhatikan tabel 2 berikut ini.

Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan tabel 2 berikut ini.

Untuk lebih jelasnya, coba anda perhatikan Tabel 2 berikut ini.

14. Karena cerdiknya, Aksana dijuluki Kancil.

a.

b.

c.

d. Karena cerdiknya Aksana mendapat julukan “Kancil”.

Karena cerdiknya, Aksana mendapat julukan “Kancil”.

Karena cerdiknya Aksana mendapatkan julukan Kancil.

15. a. Terima kasih, Bapak telah membantu saudara saya.

b. Terima kasih, Bapak telah membantu Saudara saya.

c. Terima kasih, bapak telah membantu saudara saya.

d. Terima kasih, bapak telah membantu Saudara saya.

II. 2 nd PART (Thursday Saturday)

Tulislah kata

berikut sesuai dengan EYD

dan berikan penjelasan tentang

jawaban anda!

26

1. danau toba

2. perang di ponegoro

3. hari selasa

4. tanggal dua belas maret tahun 2005

5. pupuk kujang

6. apel malang

7. bulan pebruari

8. seribu lima ratus korban tidak dikenali lagi

9. karena hari hujan saya terpaksa berteduh di halte bis

10. Buku kumpulan cerpen cerita untuk rumput karangan inggrid wijanarko kembali di cetak ulang

Due: Group presidents to submit answer by 1800pm WIB Saturday afternoon

BAB III BENTUK DAN MAKNA

A. FONEM

Bunyi terkecil yang membedakan arti.

Dapat juga disebut dengan bunyi dari huruf

Huruf

B. MORFEM

lambang bunyi atau lambang fonem.

Satuan bentuk terkecil yang dapat membedakan arti.

Bentuk morfem dapat berupa imbuhan, partikel, dan kata dasar.

Morfem dibedakan atas

27

Morfem yang dapat berdiri sendiri. Semua kata dasar dapat digolongkan sebagai morfem bebas. Misal saya, rumah, biru, hampir, kaki.

2. Morfem Terikat

Morfem yang tidak dapat berdiri sendiri. Morfem ini akan mempunyai makna bila dihubungkan dengan morfem yang lainnya.

Semua imbuhan, partikel, dan bentuk lain yang tidak dapat berdiri termasuk kepada morfem terikat.

Misal

a.

Saya terlatih untuk tidak manja.

b.

Tolong ambilkan diktat itu.

c.

Mobil antarkota melaju dengan mulus.

C. KATA

Satuan bentuk terkecil dari kalimat yang mempunyai makna Misal

sepeda, kursi, mobil, pohon, belajar

Berdasarkan bentuknya kata dibedakan atas

1. Kata dasar (bermorfem tunggal) Misal

Buku, cerdas, mulia, kantor

2. Kata turunan (kata berimbuhan) Misal

pembukuan, dibukukan, mencerdaskan

D. KELAS KATA

Kelas kata/jenis kata secara

1. kata benda (nomina)

2. kata kerja (verba)

3. kata sifat (adjektiva)

tradisional kata

dapat dibedakan atas

28

5. kata ganti (pronomina)

6. kata bilangan (numeralia)

7. kata sambung ( konjungsi)

8. kata depan (preposisi)

9. kata sandang (artikel)

10. kata seru (interjeksi)

Menurut

mengelompokkan kata ke dalam lima jenis yaitu

Moeliono,

dkk.

Dalam

buku

Tata

Bahasa

1. kata kerja (verba)

2. kata sifat (adjektiva)

3. kata keterangan (adverbia)

4. rumpun kata benda, yang terdiri atas

a. kata benda (nomina)

b. kata ganti (pronominal)

c. kata bilangan (numeralia)

5. rumpun kata tugas yang terdiri atas

a. kata depan (preposisi)

b. kata sambung (konjungsi)

c. kata seru (interjeksi)

d. kata sandang (artikel)

e. partikel

1. KATA KERJA (VERBA)

Baku

Indonesia,

Kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Kata kerja umumnya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat. Kata kerja dapat dibuktikan dengan mengujinya dengan menambahkan dengan + KB (kata benda) / KS (kata sifat) dibelakang kata yang diujikan. Misal

tulis + dengan pena (KB) menulis + dengan cepat (KS) pergi + dengan adik (KB)

29

berpergian + dengan gembira (KS) bicara + dengan ibu (KB) berbicara + dengan lancar (KS) Kata kerja dapat dibedakan atas dua bentuk

a. kata kerja asal kata kerja yang dapat berdiri sendiri. Misal tulis, pergi, makan, bicara

b. kata kerja turunan kata kerja yang mempunyai afiks/imbuhan misal menulis, berpergian, memakan, berbicara

c. kata kerja berulang (verba reduplikasi) misal makan-makan, batuk-batuk, berlari-lari, tembak-menembak.

d. kata kerja majemuk (verba majemuk) verba yang terbentuk melalui proses penggabungan kata, namun penggabungan ini bukan idiom. Misal

terjun payung, tatap muka, siap tempur, temu wicara

e. kata kerja berpartikel (verba berpreposisi) kata kerja yang selalu diikuti oleh preposisi. Misal berbicara tentang, terdiri dari, cinta pada, tergolong sebagai, tahu akan, cinta akan, sejalan dengan, dll

2. KATA SIFAT (ADJEKTIVA) Kata yang menerangkan sifat, keadaan, watak, suatu benda. Kata sifat umumnya berfungsi sebagai predikat, objek, dan penjelas dalam kalimat. Kata sifat dapat dibuktikan dengan ciri-ciri berikut

tersebut : sama,

a. Dapat diberi keterangan pembanding di awal kata imbuhan se-, kurang, lebih, paling, imbuhan ter- Misal

30

lebih baik, paling baik, kurang baik, sebaik, terbaik.

b. Dapat diberi keterangan penguat diawal atau diakhir benar, sekali, amat, terlalu, tidak, agak, dll. Misal

kata tersebut :

amat senang, senang sekali, senang benar.

c. Dapat diulang dengan memberikan imbuhan se-+-nya. Misal

secantik-cantiknya, sebenar-benarnya, sehalus- halusnya. Kata sifat berdasarkan bentuknya dapat dibedakan

a. Kata sifat berbentuk tunggal Misal

Sakit, indah, luas

b. Kata sifat berimbuhan Misal Sesakit-sakitnya, kesakitan, egois

3. KATA KETERANGAN (ADVERBIA) Kata yang memberikan keterangan pada verba, adjektiva, nomina atau kalimat. Adeverbia sebagai kategori Misal Saya ingin segera melukis.

adverbia yang menerangkan verba.

Ayah saya hanya pegawai biasa.

adverbia yang menerangkan nomina.

Lukisannya sangat indah. adverbia yang menerangkan adjektiva.

Kata keterangan/adverbia di dalam kalimat terdiri atas

a. menyatakan waktu saat, ketika, sejak, sedari, tatkala, semenjak, sewaktu,

31

pagi, sore, besok, sekarang, hari ini,dll

b. menyatakan tempat/arah

(preposisi:dari, di, ke), kampus, sekolah, timur, dll

c. menyatakan tujuan

demi, untuk, kepada, buat, bagi,kepada, dll

d. menyatakan cara

dengan, tanpa.

e. menyatakan saling

satu sama lain.

f. menyatakan kesertaan

bersama, dengan, tanpa.

g. menyatakan alat dengan, tanpa

h. menyetakan sebab/akibat karena, sebab, maka, sehingga, akibat, sampai-sampai, akibatnya, dll

i. menyatakan syarat jika, bila, asalkan, asal, andai, andaikan, kalau, dll

4. KATA BENDA (NOMINA)

Kata yang mengacu kepada sesuatu benda (abstrak atau konkret).

Kata benda dalam kalimat dapat berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap dan

keterangan

Kata benda dapat dibuktikan dengan mengujinya dengan cara menambahkan

yang yang + KS (kata sifat) atau yang sangat + KS (kata sifat) dibelakang kata

yang diuji.

Misal

buku + yang mahal (KS)

pohon + yang rindang (KS)

orang + yang baik (KS)

32

pengetahuan + yang sangat penting (KS)

kekasih + yang sangat cantik (KS)

pikiran + yang sangat cemerlang (KS)

5. KATA GANTI (PRONOMINA)

Kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina (benda) lain, berfungsai untuk menggantikan nomina (benda). Kata ganti dapat dibedakan atas

a. Pronomina persona (kata ganti orang)

Bentuk

Orang

Kedudukan

Contoh

Tunggal

ke-1

yang

aku, saya

berbicara

ke-2

diajak

Anda,

berbicara

kamu,

yang

engkau

ke-3

dibicarakan

dia, ia, nya

Jamak

ke-1

yang

kami, kita

berbicara

ke-2

diajak

kalian, kita

berbicara

yang

ke-3

dibicarakan

mereka

b. Pronomina penunjuk (kata ganti penunjuk)

1. penunjuk umum : ini, itu

2. penunjuk tempat : sini, sana

c. Pronomina penanya (kata ganti tanya)

apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan, dll

33

6. KATA BILANGAN (NUMERALIA)

Dapat dibedakan atas

a. Numeralia tentu/ kata bilangan utama/pokok

satu, sepuluh, dua lima, seribu, sejuta, dll

b. Numeralia tidak tentu

seberapa, beberapa, banyak, puluhan, ribuan, jutaan,

semua, berbagai, segenap, dll.

c. Numeralia tingkat

kedua, kelima, kesepuluh, dll

d. Numeralia kumpulan/kelompok

kedua, kelima, kedupuluh, dll

e. Numeralia bantu atau kata bilangan bantu

sehelai, selembar, seikat, sebungkus, dll

7. KATA DEPAN (PREPOSISI)

Kata tugas yang selalu berada di depan kata benda, kata sifat, atau kata kerja.

Kata depan dapat dibedakan atas

a. Kata depan dasar/utama : di, ke, dari, pada, dengan, oleh, tentang,dll

b. Kata depan turunan : di antara, kepada, daripada, dll

8. KATA SAMBUNG (KONJUNGSI) Kata tugas yang berfungsi menghubungkan bagian-bagian kalimat atau kalimat lainnya dalam wacana. Kata sambung disebut juga konjungtor karena berfungsi sebagai penghubung dalam kata atau kalimat.

Konjungsi dapat dikelompokkan atas

a. Konjungsi intrakalimat

dan, serta, sambil, atau, supaya, agar, seperti, sebab, kalau, untuk, bagai,

34

tetapi, kemudian, bahkan, dll

1) Saya belajar sungguh-sungguh supaya lulus ujian. 2) Ia kaya raya tetapi hidupnya sederhana. 3) Aku yang datang kerumahmu atau kamu yang datang ke rumahku.

b. Konjungsi ekstrakalimat

jadi, di samping itu, oleh karena itu, oleh sebab itu, dengan demikian, walaupun demikian, tambahan pula, selain itu, akan tetapi, bertalian

dengan itu, dll

a. Pengusaha itu kaya raya dan dermawan. Oleh karena itu, ia dihormati oleh tetangga di sekitar rumahnya.

b. Kreativitas barunya berakar pada tradisi kehidupannya. Dengan demikian, ia tidak pernah kehabisan sumber kreativitas baru.

c. Ia selalu mengembangkan karakternya. Di samping itu, ia juga memperluas wawasan bisnisnya.

9. KATA SERU (INTERJEKSI)

Kata seru adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan perasan

kata seru dipakai

atau seruan hati: kagum, sedih heran, jijik, benci marah, dll

di dalam kalimat seruan, imbauan, atau kalimat perintah (imperatif)

Misal

a.

Wah saya sangat tersanjung dengan sambutan ini.(kagum)

b.

Astaga, dia bukannya berjaga, malahan pergi! (heran)

c.

Amboi, alangkah indahnya panoramnya. (kagum)

d.

Sial, memancing seharian, Cuma dapat sedikit! (marah)

e.

Asyik, jagoanku akhirnya terpilih. (senang)

10. KATA SANDANG (ARTIKEL)

Kata sandang merupakan kata tugas yang membatasi makna jumlah orang atau benda. Kata sandang terdiri atas

a. artikel yang menyatakan makna tunggal

35

sang guru, sang suami, sang juara, sang putri, baginda raja, sri ratu, hang tuah, dang tuanku.

b. artikel yang menyatakan banyak para siswa, para pemirsa

c. artikel yang menyatakan netral si cantik, si hitam manis, si dia

E. FRASA Merupakan kelompok kata yang tidak mengadung predikat dan belum membentuk klausa atau kalimat serta mengandung kesatuan makna yang jelas. Unsur frasa tidak terbatas pada dua atau tiga kata, tetapi dapat beberapa kata asalkan gabungan kata itu tidak membentuk predikat.

Ciri frasa

1. konstruksinya tidak mempunyai predikat

2. proses pemaknaannya berbeda dengan idom

3. susunan katanya berpola tetap

1. Konstruksinya tidak mempunyai predikat Misal

a. bahasa Indonesia

b. di balik awan putih bersih

c. air mineral dari pegunungan

d. dua minggu yang lalu

e. sejumlah persoalan yang pelik

Gabungan kata yang sudah membentuk predikat dan tidak dapat dikatakan frasa misal

a. belajar bahasa Indonesia

b. menghilang di balik awan

c. meminum air mineral

d. datang berkunjung dua minggu yang lalu

e. membawa sejumlah persoalan yang pelik

36

2. Proses pemaknaannya berbeda dengan idiom Frasa berbeda dengan idiom walaupun keduanya berupa gabungan kata. Idiom dapat terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk makna baru, dan makna itu sudah sudah bergeser jauh dengan makna sebenarnya. Frasa cakupan maknanya masih disekitar makna sebenarnya atau inti maknanya tetap. Contoh idiom Misal

a. tipis kuping

=

tak tahan sindiran

b. gulung tikar

=

bangkrut

c. main api

=

menyerempet bahaya

contoh frasa

a. haus kekuasaan

=

haus akan kekuasaan

b. siap tempur

=

siap untuk bertempur

c. jumpa pers

=

berjumpa dengan pers

3. Susunan katanya berpola tetap Susunan kata dalam frasa bersifat tetap, tegar, tidak tergoyahkan, dan tidak boleh dibalik. Kalau posisinya berpindah, kelompok kata itu berpindah secara utuh.

Misal

a. Hari ini akan diadakan jumpa pers.

b. Jumpa pers akan diadakan hari ini.

Berbeda

dengan

idiom

yang

penulisannya

masih

bisa

dibalik

tanpa

mengubah maknanya. Misal

 

a. tipis kuping

 

kuping tipis

b. besar kepala

kepala besar

c. panjang tangan

tangan panjang

Bandingkan dengan frasa bila susunan katanya dipertukarkan. Misal

37

a. haus kekuasaan

kekuasaan haus

b. siap tempur

tempur siap

c. temu wicara

wicara temu

Frasa dapat dikelompokkan atas lima macam

1. frasa verbal (artinya sama dengan kata kerja)

a. mengetik dengan sepuluh jari (intinya: mengetik)

b. asyik belajar (intinya: belajar)

c. tidak harus pergi (intinya: pergi)

d. sedang berpikir keras (intinya: berpikir)

e. sudah melarikan diri (intinya: melarikan)

2. frasa adjectival (artinya sama dengan kata sifat)

a.

sudah tidak layak

b.

sama sekali tidak sombong

c.

makin lama makin panas

d.

malu sekali

e.

lebih dari cukup

3. frasa adverbial (artinya sama dengan kata keterangan)

a. pada zaman jepang

b. dengan kereta api cepat

c. karena cinta yang membara

d. untuk mencerdaskan bangsa

e. sebelum azan subuh

4. frasa nominal (artinya sama dengan kata benda)

a. anak cucu

b. penyakit yang sangat berbahaya

c. formulir pendaftaran calon mahasiswa baru

d. manajer pemasaran yang terampil

e. lima lembar kuitansi tanda bukti pembayaran

5. frasa partikel (artinya sama dengan kata depan)

a. selain dari

b. sampai dengan

38

d. dari samping

e. oleh karena

Makna setiap frasa ditentukan oleh intinya.

F. KLAUSA

Klausa adalah kelompok kata yang berpotensi menjadi kalimat.

1. Klausa Kalimat Majemuk Setara Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif) setiap klausa mempunyai

kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif ini dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Misal

a. Rima pergi ke kampus atau ke rumah temannya. Klausa pertama Rima pergi ke kampus. Klausa kedua Rima ke rumah temannya.

b. Rima membaca Kompas sedangkan adiknya menonton televisi. Klausa pertama Rima membaca Kompas. Klausa kedua adiknya menonton televisi.

2. Klausa Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat (subordinat) dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Misal

a. Tetanggaku pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank

Indonesia.

Tetanggaku pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazimnya disebut induk kalimat) setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia sebagai klausa sematan (lazimnya disebut anak kalimat)

b. Mereka mengolah kekayaan alam secara kreatif karena itu sangat makmur. (klausa utama + klausa sematan)

3. Klausa Kalimat Majemuk Gabungan Setara dan Bertingkat

39

Klausa ini digabung dari kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat (kalimat subordinat-koordinat) terdiri atas tiga klausa atau lebih.

a. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. dia pindah ke Jakarta (klausa utama) setelah ayahnya meninggal (klausa sematan) ibunya kawin lagi (klausa sematan)

G. MAKNA DAN PERUBAHANNYA

Makna adalah hubungan antara bentuk bahasa dengan objek atau sesuatu hal yang diacunya. Makna tersebut dibagai atas dua, yaitu

1. Makna leksikal (makna denotasi) Makna lugas yang tidak mempunyai kaitan dengan kata lain. Makna ini sering juga disebut dengan makna yang tertera dalam kamus Misal Belah dapat mempunyai makna (1) celah, (2) pecah menjadi dua, (3) sisi,

(4) setengah, dst

2. Makna gramatikal / struktural (makna konotasi) Makna yang timbul akibat pergesaran dari makna leksikal ke gramatikal. Makna yang timbul akan bergantung kepada struktur tertentu Misal hitam (makna leksikal ‘warna yang gelap’) makna gramatikalnya dapat menjadi ‘penuh kegetiran’.

a. Dia hampir terjerumus ke lembah hitam (daerah/tempat mesum)

b. Kuhitamkan negeri ini. (kutinggalkan untuk selamanya)

c. Dia tidak ingin membicarakan masa lalunya yang hitam.

H. PERTALIAN MAKNA KATA Dalam kaitannya dengan makna ada beberapa makna yang mempunyai pertalian makna

40

1. Sinonim Kata yang mempunyai persamaan makna. Misal

muda, nasib = takdir, sunyi = senyap , pemirsa = pirsawan = penonton

2. Antonim Kata yang mempunyai perlawanan makna. Misal atas dan bawah, menjual dan membeli

3. Homonim

Kata

mempunyai makna yang berbeda. Misal bandar = pelabuhan

yang

mempunyai

persamaan

bunyi,

= parit

= pemegang uang dalam perjudian

persamaan

tulisan

tetapi

4. Homofon Kata yang mepunyai persamaan bunyi, tetapi penulisan dan maknanya berbeda. Misal sangsi dan sanksi ( ragu dan hukuman)

5. Homograf Kata yang mempunyai persamaan tulisan, tetapi membaca dan maknanya berbeda. Misal Ia makan apel (buah) sesudah apel (upacara) di lapangan

6. Polisemi Kata yang mempunyai makna yang beragam sesuai dengan konteks katanya. Misal kaki

kaki tangan

kaki bukit

kaki meja

catatan kaki

41

7. Hipernim Kata yang mempunyai cakupan makna yang lebih luas atau lebih umum. Misal bunga warna

8. Hiponim Kata yang mempunyai cakupan yang lebih khusus atau lebih sempit. Misal anyelir, melati, mawar, anggrek merah, kuning, hitam, biru, putih

I. PERGESERAN MAKNA / PERUBAHAN MAKNA

1. Makna Meluas Perubahan makna kata yang cakupan makna sekarang lebih luas dari makna sebelumnya. Misal Putri = dahulu dipakai untuk anak raja-raja sekarang dipakai untuk menyebut

semua anak permpuan.

2. Makna menyempit Perubahan makna kata yang cakupan makna sekarang lebih sempit dari makna sebulumnya. Misal Sarjana = dahulu dipakai untuk kaum cerdik pandai sekarang hanya untuk gelar akademis.

3. Ameliorasi Perubahan makna kata yang mengakibatkan makna sekarang lebih tinggi nilai rasanya dari makna sebelumnya. Misal istri lebih tinggi/halus dari bini

42

Misal

Gerombolan

dahulu

maknanya

halus,

sekarang

bermakna

pada

bentuk

negatif

5. Sinestesia Perubahan makna yang terjadi karena pertukaran dua alat indra yang berlainan. Misal Kopi ini manis (indra pengecap) Wajahnya manis untuk dilihat. (indra penglihatan)

6. Asosiasi Perubahan makna kata karena persamaan sifat. Misal Belikan saya amplop (pembungkus surat) Berikan saja amplop ini biar urusan cepat selesai (sogokan)

Latihan dan Tugas Mandiri

1. Tuliskan jenis kelas kata yang bercetak miring pada kalimat berikut!

a. Itulah sebabnya, Pemda DKI berupaya mengatasi kemacetan lalu lintas ini.

b. Kemacetan di Jakarta menghabiskan ribuan ton bahan bakar secara sia-sia.

c. Pemerintah dapat memfasilitasi proyek ini bersama pengusaha perikanan dan transportasi laut.

2. Tuliskanlah jenis frasa bercetak miring dalam kalimat berikut!

a. Potensi ekonomi masyarakat harus dikembangkan.

b. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia bertekad menegakkan hukum.

43

3. Tuliskanlah jenis klausa yang bercetak miring pada kalimat berikut! a. Mahasiswa tidak hanya demonstrasi, tetapi juga mencermati koruptor itu.

b. Ketika duduk di bangku taman, mereka mengamati kendaraan di muka rumah itu.

A. DIKSI (PILIHAN KATA)

BAB IV

DIKSI

1. Diksi atau pilihan kata mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.

2. Diksi atau pilihan kata adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa- nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

44

3. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa tersebut.

Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Penggunaan ketepatan pilihan kata ini dipengaruhi oleh kemampuan mengetahui, memahami, menguasai, dan

menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca atau pendengarnya. Indikator ketepatan kata ini, antara lain

1.

Mengomunikasikan gagasan berdasarkan pilihan kata yang tepat dan sesuai berdasarkan kaidah bahasa Indonesia

2.

Menghasilkan komunikasi yang paling efektif tanpa salah penafsiran atau salah makna

3.

Menghasilkan respon pembaca atau pendengar sesuai dengan harapan penulis atau pembicara

4.

Menghasilkan target komunikasi yang diharapkan

B.

FUNGSI DIKSI

1. Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal

2. Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, semi resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar/pembaca

3. Menciptakan komunikasi yang baik dan benar

4. Menciptakan suasana yang tepat

5. Mencegah perbedaan penafsiran

6. Mencegah salah pemahaman

7. Mengefektifkan pencapaian target komunikasi

C.

SYARAT KETEPATAN PEMILIHAN KATA

1. Dapat membedakan antara denotasi dan konotasi Misal

a. Bunga edelwise hanya tumbuh di tempat yang tinggi.

b. Jika bunga bank tinggi, orang enggan mengambil kredit bank.

c. Megawati dan Susilo Bambang Yudoyono berebut kursi presiden.

45

2. Dapat membedakan kata-kata yang hampir bersinonim dan kata yang

bersinonim.

Misal

a. Siapa pengubah peraturan yang memberatkan pengusaha.

b. Pembebasan bea masuk untuk jenis barang tertentu adalah peubah peraturan yang selama ini memberatkan pengusaha.

c. Kucing adalah binatang buas.

d. kucing merupakan binatang buas.

3. Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip dalam ejaannya. Misal

intensif

-

insentif

karton

-

kartun

interferensi

-

inferensi

preposisi

-

proposisi

4. Dapat memahami dengan tepat makna kata-kata abstrak dam konkret secara cermat Misal

Abstrak : keadilan, kebahagiaan, keluhuran kebajikan, kebijakan, kebijaksanaan Konkret : mangga, sarapan, lima belas persen

5. Dapat memakai kata penghubung yang berpasangan dengan tepat.

Benar

antara

dan

sesuai

dengan

tidak

tetapi

baik

maupun

bukan

melainkan

Salah

antara

dengan

sesuai

bagi

tidak

melainkan

bukan

tetapi

Berikut beberapa kata berpasangan (termasuk kata kerja berpartikel)

46

berawal dari berdasarkan pada bergantung pada berjumpa dengan berkenaan dengan bertalian dengan dibacakan oleh diperuntukan bagi

disebabkan oleh sampai ke sehubungan dengan sejalan dengan sesuai dengan terbuat dari terdiri atas/dari tergantung pada

6. Dapat membedakan antara kata-kata yang umum (hipernim) dan kata yang khusus (hiponim)

Hipernim

:

Melihat

Hiponiom

:

melotot, membelalak, melirik, mengerling, mengintai, mengintip,

memandang,

menatap,

melotot,

memperhatikan, meneropong, dll.

mengamati,

mengawasi,

melirik,

menonton,

D. GAYA BAHASA

Gaya bahasa ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Kalimat, paragraf, atau wacana menjadi efektif jika diekspresikan dengan gaya bahasa yang tepat. Gaya bahasa mempengaruhi terbentuknya suasana, kejujuran, kesopanan, kemenarikan, tingkat keresmian, atau gaya percakapan. Gaya resmi misalnya akan membawa pembaca/pendengar ke suasana serius dan penuh perhatian. Suasana tidak resmi mengarahkan pembaca/pendengar ke dalam situasi rileks tetapi efektif. Gaya percakapan membawa suasana ke dalam situasi realistis. Gaya bahasa berdasarkan nada yang dihasilkan oleh pilihan kata ini ada tiga macam

47

Melalaui rangkaian kata ini penulis/pembicara dapat menghasilkan ekspresi pesan yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan pembaca, misalnya dalam buku-buku pelajaran, penyajian fakta, dan pembuktian.

2. Gaya menengah Gaya bahasa menengah dibangun berdasarkan rangkaian kaidah sintaksis dengan maksud untuk menimbulkan suasana damai dan kesejukan, misalnya dalam seminar, kekeluargaan, dan kesopanan

3. Gaya mulia Gaya bahasa yang penuh dengan tenaga menggunakan pilihan kata yang penuh vitalitas, energi dan tenaga, serta kebenaran universal. Gaya ini dapat menghanyutkan emosi pembaca/pendengar. Gaya ini sering digunakan untuk menggerakan masa dalam jumlah yang sangat banyak.

Ada enam faktor yang mempengaruhi tampilan bahasa seorang komunikator dalam berkomunikasi dengan komunikannya, yaitu

1. cara dan media komunikasi lisan atau tulisan, langsung atau tidak langsung, media cetak atau elektronika

2. bidang ilmu ekonomi, sastra, hukum, kedokteran, filsafat, dll.

3. Situasi resmi, tidak resmi, setengah resmi

4. ruang atau konteks seminar, kuliah, ceramah, pidato

5. khalayak usia (anak-anak, remaja, dewasa), jenis kelamin (laki - laki, perempuan), tingkat pendidikan ( rendah,menengah, tinggi), status sosial

6. tujuan diplomasi, humor, informasi, persuasi, membangkitkan emosi

48

BAB V

KALIMAT

A. UNSUR-UNSUR KALIMAT

1.SUBJEK

Fungsi a.Membentuk kalimat dasar, kalimat luas, kalimat tunggal, kalimat majemuk. b.Mejadi pokok pikiran.

c. Memperjelas makna

d.Menegaskan atau memfokuskan makna.

e.Memperjelas pikiran atau ungkapan.

f. Membentuk kesatuan pikiran. Ciri-ciri

49

a.Jawaban apa dan siapa.

b.Dapat didahului kata bahwa.

c. Dapat berupa kata atau frasa benda.

d.Dapat disertai kata ini, atau itu. e.Dapat disertai kata pewatas yang.

f. Tidak dapat didahului oleh preposisi : di, dalam, kepada, bagi, untuk,

dari, menurut, berdasarkan, dan lain-lain. g.Tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, atau bukan Misal a.Saya sudah mulai mengantuk. b.Malam sudah sangat larut.

c. Air sungai kecil itu terus menggericik.

d.Seekor kelinci tiba-tiba keluar dari segerombolan tanaman dekat rel kereta api.

2.PREDIKAT

Fungsi

a.Membentuk kalimat tunggal, kalimat luas, kalimat majemuk. b.Memperjelas pikiran atau gagasan yang diungkapkan dan menentukan kejelasan makna kalimat.

c. Menegaskan makna.

d.Membentuk kesatuan pikiran.

Ciri-ciri a.Jawaban mengapa, bagaimana

b.Dapat diingkarkan dengan kata tidak, bukan

c. Dapat didahulukan dengan keterangan aspek: akan, sudah, sedang,

selalu, hampir d.Dapat didahului keterangan modalitas: sebaiknya, seharusnya, seyogyanya, mesti, selayaknya, dan lain-lain. e.Tidak dapat didahului oleh kata yang, jika didahului yang, maka predikat akan berubah menjadi perluasdan subjek.

f. Dapat didahului kata adalah, ialah, yaitu, yakni

g.Dapat berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, atau kata bilangan

Misal

50

a.Pengusaha sukses itu menemukan peluang bisnis baru b.Dia sukses c. Bisnisnya berkembang d.Manusia adalah makhluk yang berakal budi e.Bisnisnya berkembang sangat pesat setelah menggunakan bahan baku lokal.

3.OBJEK

Fungsi a.Membentuk kalimat dasar pada kalimat berpredikat transitif b.Memperjelas makna kalimat c. Membentuk kesatuan atau kelengkapan pikiran Ciri-ciri a.Dapat berupa kata benda b.Tidak didahului kata depan c. Mengikuti secara langsung dibelakang predikat transitif d.Merupakan jawaban apa atau siapa yang terletak dibelakang predikat transitif e.Dapat menduduki fungsi subjek apabila dipasifkan

Misal a.Mahasiswa itu menerangkan kerangka berpikirnya b.Mereka mendiskusikan anti korupsi

4.PELENGKAP

Ciri-ciri a.Bukan unsur utama, tetapi tanpa pelengkap kalimat tersebut tidak jelas dan tidak lengkap informasinya b.Terletak dibelakang prediakat yang bukan kata kerja transitif Misal a.Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila b.Ia menjadi rektor c. Ibu membawakan saya oleh-oleh

51

5.KETERANGAN

Fungsi a.Menjelaskan atau melengkapi informasi pesan-pesan kalimat. Ciri-ciri a.Bukan unsur utama kalimat, tetapi kalimat tanpa keterangan, pesan menjadi tidak jelas, tidak lengkap b.Tempat tidak terikat posisi pada awal, tengah, akhir kalimat c. Dapat berupa keterangan waktu, tujuan, sebab, akibat, syarat, cara, posesif (ditandai kata meskipun, walaupun, biarpun) dan penganti nomina (menggunakan kata bahwa ) d.Dapat berupa keterangan tambahan(keterangan tambahan subjek, tetapi tidak dapat menggantikan subjek), dapat berupa aposisi (dapat menggantikan subjek)

Misal a.Kemarin rektor berangkat ke Tokyo b.Karena malas belajar, mahasiswa itu tidak lulus. c. Megawati, yang menjabat Presiden RI 2001-2004, adalah putra Bung Karno. (keterangan tambahan) d.Megawati, Presiden RI 2001-2004, adalah putra Bung Karno. (aposisi)

B. POLA KALIMAT 1.POLA KALIMAT DASAR

Pola kalimat dasar sekurang-kurangnya terdiri atas subjek (S) dan predikat

(P)

Pola kalimat dasar mempunyai ciri-ciri a.Berupa kalimat tunggal (satu S, satu P, satu O, satu Pel, satu K) b.Sekurang-kurangnya terdiri dari satu S dan satu P c. Selalu diawali dengan subjek d.Berbentuk kalimat aktif e.Dapat berupa kata dan frasa

f. Dapat dikembangkan menjadi kalimat luas dengan memperluas subjek, predikat, objek, dan keterangan.

52

FUNGSI TIPE
FUNGSI
TIPE

SUBJEK

PREDIKET

OBJEK

PELENGKAP

KETERANGAN

1.

S P

 

Kami

berdiskusi

~

~

~

2.

S - P- O

Aku

mendapatkan

hadiah

~

~

3.

S

-

P-

Ketua

menjadi

~

calon

~

Pel

 

partai itu

presiden

4.

S

-

P

-

Para

sedang

~

~

di

Bali

Ket

 

kepala

bersidang

 
 

negara

Asean

5.

S

-

P-

Kami

menjuluki

Dia

sang

~

O- Pel

 

penyelamat

6.

S P- O-

Beberapa

sedang

kasus

 

di

ruang rapat

Ket

 

karyawan

membahas

bisnis

 

Contoh kalimat luas a.Kami yang mengharapkan kedamaian di Papua selalu berdiskusi tentang masalah ini. b.Mahasiswa unggulan itu sedang mempelajari struktur cahaya matahari. c. Mereka yang menginginkan prestasi atlet menyediakan sarana latihan. d.Para siswa yang kehilangan gedung sekolah itu sedang belajar bahasa Indonesia dengan sarana seadanya. e.Beberapa karyawan yang sangat kreatif itu sedang membahas secara serius masalah kasus bisinis properti di ruang rapat pimpinan.

Catatan :

Kata yang dicetak miring merupakan kalimat dasar.

2.POLA KALIMAT MAJEMUK

53

a.Kalimat Majemuk Setara 1)Kalimat majemuk setara gabungan menggunakan : dan, serta, sambil. Dosen dan mahasiswa bekerja secara kreatif dan inofatif. 2)Kalimat majemuk setara memilih menggunakan : atau Anda pergi ke kampus atau menghadiri seminar? 3)Kalimat majemuk setara berurutan menggunkan : lalu, lantas, kemudian, setelah itu, mula-mula Kami menabung setiap bulan lalu mengawali bisnis ini. 4)Kalimat majemuk setara perlawanan menggunakan : tetapi, melainkan, sedangkan, namun, Sahabatku tidak pandai melainkan rajin. 5)Kalimat majemuk setra menguatkan : bahkan, lagipula. Buku itu bagus lagipula murah harganya.

b.Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat disusun berdasarkan jenis anak kalimatnya. Anak kalimat tersebut merupakan perluasan dari kalimat asalnya atau sering disebut induk kalimat. Macam-macam kalimat majemuk berdasarkan jenis anak kalimatnya

1)Anak kalimat keterangan waktu : ketika, waktu, saat, setelah, sebelum, sejak, dll. Misal Mereka segera mencari peluang kerja, setelah menyelesaikan studinya. 2)Anak kalimat keterangan sebab : sebab, karena, lantaran, dll Misal Orang itu meninggal karena menderita sakit jantung. 3)Anak kalimat keterangan akibat : hingga, sehingga, maka, dll.

54

Misal Pengusaha itu bekerja keras sehingga berhasil mendapat untung besar. 4)Anak kalimat keterangan syarat : jika, apabila, kalau, andai, dll. Misal Andaikata Anda mampu memenangkan pertandingan tersebut, bagaimana perasaan Anda? 5)Anak kalimat keterangan tujuan : agar, supaya, demi, untuk, guna, dll. Misal Kita harus bekerja keras demi masa depan yang gemilang. 6)Anak kalimat keterangan cara : dengan, tanpa, dalam. Misal Dosen itu menerangkan masalah tersebut dengan pendekatan ilmiah. 7)Anak kalimat perluasan objek : bahwa Misal Presiden menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus menegakan hukum. 8)Anak kalimat keterangan posesif : meskipun, walaupun, biarpun, dll. Misal Saya akan berupaya meningkatkan kualitas kerja meskipun sulit diujudkan.

c. Kalimat Majemuk Gabungan (campuran) Misal 1)Bangsa Indonesia bekerja keras mengejar ketinggalan ekonomi setelah krisis politik berkepanjangan dan krisis keamanan mulai membaik. 2)Kinerja bisnis mulai membaik dan perkembangan ekonomi mulai stabil setelah berhasil melangsungkan pemilu secara demokratis.

55

Latihan dan Tugas Mandiri

1. Perbaiki kalimat berikut agar menjadi kalimat efektif! Variasi perbaikan setiap

nomor minimal dua kalimat.

a. Para duta-duta besar sudah pada berdatangan untuk hadir pada upacara peringatan 100 tahun Bung Hatta.

b. Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan YME, maka selesailah makalah ini tepat pada waktunya.

c. untuk meningkatkan mutu akademis, memerlukan sarana yang harus dibiayai dengan SPP.

d. Hipotesis nol adalah berarti tidak membedakan variabel x dan variabel y

e. Adalah merupakan tanggung jawab kita semua untuk menciptakan rasa aman dan tenteram di masyarakat kita.

2. Tentukan subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan kalimat berikut!

a. Persatuan dapat dilaksanakan dengan menciptakan perasaan senasib.

b. Budaya bangsa merupakan modal pembangunan.

c. Dalam pembangunan dituntut kreativitas baru, kerja keras, dan efesiensi.

d. Presiden RI berupaya menarik simpati bangsa pemodal untuk berinvestasi di Indonesia.

e. Menteri Negara beranggapan bahwa kasus ini hanya dibesar-besarkan media massa saja.

3. Tuliskanlah contoh kalimat majemuk setara

a. kalimat majemuk setara gabungan

b. kalimat majemuk setara pemilihan

4. Tuliskanlah contoh kalimat majemuk bertingkat

a.

kalimat majemuk anak kalimat keterangan sebab

b.

kalimat majemuk anak kalimat keterangan tujuan

c.

kalimat majemuk anak kalimat keterangan cara

56

BAB VI ALINEA / PARAGRAF

A. Struktur Alinea

1. Kalimat Topik / Kalimat Utama Kalimat yang berisi ide pokok Ciri-cirinya

a. mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih lanjut.

b. merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri dan diuraikan lebih lanjut

c. mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain.

2. Kalimat Penjelas

Kalimat yang berfungsi menjelaskan atau mendukung ide utama kaliamat.

57

Ciri-cirinya

a. sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri

b. arti kalimat ini baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lainnya.

c. Isinya berupa rincian, keterangan, contoh,dan data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik.

B. Syarat Alinea

1. Kesatuan Alinea Seluruh kalimat yang ada hanya membicarakan satu ide pokok, satu topik/masalah

2. Kepaduan Alinea (koherensi) Antarkalimat terdapat keterpaduan dan logis. Penggunaan repetisi, kata ganti, serta frasa penghubung dapat melengkapi keterpaduan antarkalimat

C. Jenis Alinea

1. Jenis Alinea Menurut Posisi Kalimat Topiknya

a. Alinea Deduktif Alinea yang kalimat utamanya terletak diawal kalimat, diikut oleh kalimat penjelas.

b. Alinea Induktif Alinea yang kalimat utamanya terletak diakhir. Alinea ini diawali dengan kalimat-kalimat penjelas dan diakhiri dengan kalimat utama.

c. Alinea Deduktif-Induktif (Gabungan) Alinea yang kalimat utamanya terletak diawal paragraf dan ditampilkan kembali diakhir paragraf untuk penegasan.

d. Alinea Penuh Kalimat Topik Alinea yang kalimat utamanya terletak disemua kalimat. Alinea ini bisa

berupa uraian yang berupa deskripsi atau karangan bersifat narasi.

58

a. Persuasif/Persuasi Alinea yang berisi ajakan, mempengaruhi pembaca.

b. Argumentatif/Argumentasi Alinea yang berisikan pembahasan tentang sesuatu yang berisikan bukti-bukti yang berisikan bukti-bukti dan alasan-alasan yang mendukung.

c. Deskriptif/Deskripsi Alinea yang berisikan tentang gambaran objek atau lukisan objek secara rinci

d. Eksposisitoris/Eksposisi Alinea yang memaparkan suatu bentuk kejadian atau peristiwa yang berupa fakta-fakta, atau lukisan peristiwa.

e. Narataif/Narasi Alinea yang berisikan penceritaan atau berbentuk cerita.

3. Jenis Alinea Menurut Fungsinya dalam Karangan

a. Alinea Pembuka Berfungsi sebagai

a. menghantar pokok pembicaraan

b. menarik minat dan perhatian pembaca

c. menyiapkan pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan.

d. Bentuk-bentuk yang dapat dipakai sebagai bahan menulis alinea pembuka, yaitu 1) kutipan, peribahasa, anekdot 2) uraian bagaimana pentingnya pokok pembicaraan 3) suatu tantangan atas pendapat atau pernyataan seseorang 4) uraian tentang pengalaman pribadi 5) uraian mengenai maksud dan tujuan penulisan

6) sebuah pernyataan

b. Alinea Pengembang / Isi Berfungsi sebagai

1)

mengemukakan inti persoalan

59

2)

memberi ilustrasi atau contoh

3)

menjelaskan hal yang diuraikan pada alinea berikutnya

4)

meringkas alinea sebelumnya

5)

mempersiapkan dasar atau landasan untuk simpulan

c. Alinea Penutup

Alinea ini berisikan simpulan bagian karangan. Merupakan pernyataan kembali maksud penulis. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah

a. Sebagai penutup, alinea ini tidak boleh terlalu panjang.

b. Isi alinea berisi simpulan sebagai cerminan inti seluruh uraian

c. Alinea ini hendaknya memberikan kesan yang mendalam bagi pembaca.

D. Pengembangan Alinea

1. Metode Defenisi Penulis menerangkan pengertian/konsep istilah tertentu.

2. Metode Proses Alinea ini menguraikan suatu proses dapat berupa urutan tindakan atau perbuatan, yang diurutkan secara runut.

3. Metode Contoh Alinea yang menampilkan contoh dan ilustrasi secara terurai dan terperinci.

4. Metode Sebab-Akibat Alinea yang menerangkan sebab kejadian atau akibat yang ditimbulkan.

5. Metode Umum-Khusus Alinea yang mengembangkan gagasan umum menuju kegagasan khusus.

6. Metode Klasifikasi Alinea yang mengelompokkan persamaan atau perbedaan ciri benda, sifat, bentu, ukuran, dan lainnya. Pengelompokan ini dapat menjadikan perbandingan atau pertentangan suatu ciri, sifat yang diklasifikasikan tesebut

E. Contoh-Contoh Pargaraf

60

1. Contoh Paragraf Deduktif

Semua isi alam ciptaan Tuhan. Ciptaan Tuhan yang paling berkuasa di dunia ini ialah manusia. Manusia diizinkan oleh Tuhan memanfaatkan isi alam ini sebaik-baiknya. Akan tetapi, tidak diizinkan menyiksa, mengabaikan, dan menyia-nyiakannya.

2. Contoh Paragraf Induktif

Harga beras minggu yang lalu Rp 1.000,00/kg, kini sudah menjadi Rp1.100,00. Gula pasir biasanya Rp1.250,00/kg telah berubah menjadi Rp1.300,00/kg. Minyak goreng, susu bubuk, dan tepung terigu juga mengalami kenaikan meskipun tidak terlalu besar. Kelihatannya harga sebagian barang pokok terus bergerak naik.

3. Contoh Paragraf Deduktif-Induktif

Pemerintah menyadari bahwa rakyat Indonesia memerlukan rumah murah, sehat dan kuat. Depertemen PU sudah lama menyelidiki bahan rumah yang murah , tetapi kuat. Agaknya bahan perlit yang diperoleh dari batu-batuan gunung berapi sangat menarik perhatian para ahli. Bahan ini tahan api dan tahan air. Lagi pula, bahan perlit dapat dicetak menurut keinginan seseorang. Usaha ini menunjukan bahwa pemerintah berusaha membangun rumah murah, sehat, dan kuat untuk memenuhi keperluan rakyat.

4. Contoh Paragraf Kalimat Topik diseluruh Kalimat (Penuh)

Pagi hari aku duduk di bangku panjang dalam taman di belakang rumah. Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalah. Sinar matahari pagi menghangatkan badan. Didepanku bermekaran bunga beraneka warna. Kuhirup hawa pagi yang segar sepuas-puasnya.

5. Contoh Paragraf Persuasi

Deterjen ini tidak hanya cocok dipakai untuk mencuci bahan yang kasar, tetapi cocok juga untuk mencuci bahan yang halus seperti sutra. Selain itu, deterjen

61

baru ini dapat juga dipakai untuk mencuci perabot dapur. Lagi pula, perabotan yang dicuci dengan bubuk deterjen ini warnanya tidak akan pudar.

6. Contoh Paragraf Argumentasi

Tenaga kerja di Pulau Jawa, Bali, Madura dan Lombok kelebihan, sedangkan di pulau-pulau lain kekurangan. Oleh sebab itu, sebagian tenaga kerja dari keempat pulau tersebut dipindahkan ke pulau-pulau lain yang kekurangan tenaga kerja. Dengan demikian, akan terjadi pemerataan tenaga kerja di Indonesia.

7. Contoh Paragraf Deskripsi

Tempat pensil kesukaan adikku. Setiap hari tak pernah lupa dibawanya. Warnanya biru dihiasi motif bulan sabit yang tersenyum berwarna kuning. Segala macam perelengkapan tulis-menulis disimpan rapi di sana. Terkadang kepingan uang receh pun juga diletakkannya di tempat pensil hadiah ulang tahunnya itu. Lucunya tempat perlengkapan alat tulis ini ada kaca kecilnya.

8. Contoh Paragraf Eksposisi

Panen padi di beberapa desa di Jawa Tengah terancam gagal. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat padi yang ditanam mengalamai kekeringan. Ditambah lagi hama tikus juga menambah kendala terancamnya gagal panen ini. Kekeringan ini mulai terasa semenjak usai tanam, hujan tidak pernah turun mengakibatkan debit air di beberapa irigasi di bawah batas ambang normal, bahkan ada yang benar-benar kering.

9. Contoh Paragraf Narasi

Libur semester kemarin aku ke Bali. Senangnya dapat menikmati liburan di Pulau Seribu Pura tersebut. Tidak disangka-sangka aku bertemu dengan teman SMA yang berlibur bersama keluarganya. Semakin asyik saja suasana liburanku.

62

Istilah organisasi dalam bahasa Indonesia berasal dari kata kerja bahasa Latin organizare yang berarti membentuk sebagaian atau menjadi keseluruhan dari bagian-bagian yang satu dan unsur yang lainnya saling bergantung atau terorganisasi. Jadi secara harafiah organisasi itu berarti paduan dari bagian- bagian yang satu sama lain saling bergantung. Di antara para ahli ada yang menyebut paduan itu sistem, ada yang menamakan sarana.

11. Contoh Paragraf Metode Proses Proses pembuatan kue donat adalah sebagai berikut. Mula-mula dibuat adonan terigu dicampur dengan telur dan gula dengan perbandingan tertentu yang ideal sesuai dengan banyaknya kue donat yang akan dibuat. Kemudian, adonan dicetak dalam bentuk gelang-gelang. Setelah itu, gelang-gelang tadi digoreng sampai berwarna kuning kecoklatan. Lalu, gorengan itu diolesi mentega, diberi butiran coklat warna-warni, atau ditaburi tepung gula. Kini kue donat siap untuk disantap.

12. Contoh Paragraf Metode Contoh

Ini seperti acara pesta kesenian di Indonesia. Lagu-lagu diperdendangkan, mulai dari Indonesia Raya hingga Bintang Kecil. Alat musik tradisional terdengar bergantian. Busana yang dikenakan juga busana dari Sabang sampai Merauke. Dengan gerakan lentur dan lucu, para penari seusia SD itu meperlihatkan keterampilan membedakan tarian nusantara. Tetapi ada yang mebedakan dengan pesta di sekolah Indonesia. Para penarinya tidak berkulit sawo matang karena mereka adalah bocah-bocah bule dengan mata biru atau coklat dan berambut pirang. Mereka murid SD Benalla East, kira-kira 120 km dari Melbourn, Australia. Para murid sekolah itu tertarik belajar bahasa Indonesia, termasuk keseniannya.

13. Contoh Paragraf Sebab Akibat

63

Kecelekaan beruntun terjadi di jalur Jakarta-Cikampek Km 68. Menurut saksi mata, truk tangki dari arah Jakarta melaju dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba oleng sehingga menyeruduk dua kendaraan lain yang berlawanan. Api diperkirakan timbul akibat gesekan antara badan mobil dan bahu jalan. Tumpahan minyak tanah memicu timbulnya nyala api sehingga kobaran api tidak dapat dikendalikan lagi. Akibat kecelakaan ini, lalu lintas Jakarta-Cikampek sempat tersendat beberapa jam.

14. Contoh Paragraf Metode Umum - Khusus

Kedudukan beras sebagai bahan makanan pokok sangat penting. Dalam beras terdapat zat makanan yang disebut hidrat arang. Hidrat arang itulah yang menjadi sumber tenaga manusia. Menurut penyelidikan para ahli, dalam 100 gram beras terdapat tenaga sebanyak 300 kalori.

15. Contoh Paragraf Metode Klasifikasi

Sebanyak lima dari sepuluh kota termahal di dunia berada di Asia, dengan Tokyo dan Osaka tercatat sebagai kota termahal di dunia. Kedua kota besar di Jepang itu ternyata 20% lebih mahal dibandingkan tempat ketiga yang diduduki Hongkong bersama Singapura dan Taipe. London yang sangat berusaha keras menarik wisatawan, tampil menjadi kota keenam termahal bagi pelancong internasional dan sebagai kota termahal di Uni Eropa. New York tetap merupakan kota termahal di Amerika Serikat, sedangkan Chicagho, San Francisco, dan Los Angeles termasuk dalam kelompok 20 teratas.

Latihan dan Tugas Mandiri

1. Buatlah sebuah contoh paragraf induktif.

2. Buatlah sebuah contoh paragraf deduktif induktif

3. Buatlah contoh paragraf argumentasi

4. Buatlah paragraf deduktif dengan pola deskripsi.

64

5. Buatlah sebuah karangan yang terdiri dari beberapa paragraf. Topik sesuai dengan bidang Anda. Perhatikan penulisan paragraf pembuka, penghubung penutup, serta penggunaan unsur keterpaduan paragraf.

BAB VII TOPIK, TEMA, DAN KERANGKA KARANGAN

A. TOPIK

Topik berarti pokok pembicaraan atau pokok permasalahan.Topik karangan adalah suatu hal yang akan digarap menjadi sebuah karangan. Topik karangan permasalahannya masih bersifat umum Fungsi topik

1. mengikat keseluruhan isi

65

3. memudahkan pengembangan ide bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembaca

4. memberikan daya tarik pembaca

B. JUDUL

Judul merupakan perincian atau penjabaran dari topik. Judul karangan sedapatnya singkat dan padat, menarik perhatian serta dapat menggambarkan inti pembahasan. Syarat judul yang baik

1. sesuai dengan topik Topik : Analisis fungsi penjualan produk terhadap kinerja bisnis

Judul : Analisis fungsi penjualan terhadap kinerja bisnis PT Semen Cibinong pada 2004

2. sesuai dengan isi karangan

3. berbentuk frasa bukan kalimat

1. Upaya mengembangkan inovasi kabel listrik dengan serat optik (benar)

2. Inovasi baru mengubah kabel listrik dengan serat optik (salah)

4. singkat

5. jelas

1. Pengembangan sumber daya laut terhadap peningkatan pendapatan daerah (kurang jelas)

2. Upaya meningkatkan pendapatan daerah melalui sektor perikanan laut pada pemerintahan DKI Jakarta (lebih jelas)

Misal

Topik

Judul

: Putus Sekolah : 1. Kiat Menekan Tingginya Angka Putus Sekolah 2. Tingginya Angka Putus Sekolah Merupakan Problema Pendidikan 3. Masalah Tingginya Angka Putus Sekolah, PR bagi Ahli Pendidikian

66

Ide atau gagasan yang akan dituangkan dalam karangan atau sering disebut pokok pemikiran. Tema berupa pengungkapan maksud dan tujuan dari penulisan. Tujuan yang dirumuskan secara singkat dan berupa satu kalimat, disebut tesis. Kalimat tesis adalah rumusan singkat gagasan sentral sebuah karangan. Rumusan tema boleh lebih dari satu kalimat Misal Topik : Kemacetan Lalu Lintas Subtopik : Upaya Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas Tesis : Menuntun pembaca untuk dapat mengatasi kemacetan lalu lintas bersama-sama Judul : 1. Lalu Lintas Macet, Penyakit Modernisasi

2. Kemacetan Lalu Lintas Dapat Memicu Stress

Tema : Upaya mengatasi kemacetan lalu lintas bukanlah semata- mata menjadi tanggung jawab aparat kepolisian, melainkan juga menjadi tanggung jawab seluruh warga masyarakat pemakai jalan. Permasalahan lalu lintas tidak mungkin dapat dipecahkan tanpa bantuan semua pihak terkait. Dalam hal ini yang paling diperlukan adalah kesadaran berlalu lintas secara baik, teratur, sopan, dan bertanggung jawab.

D. KERANGKA KARANGAN (OUTLINE)

Kerangka karangan merupakan rencana kerja yang memuat garis-garis besar suatu karangan.

1. Fungsi kerangka karangan

a. mempermudah penyusunan karangan

b. mempermudah penempatan antara bagian keterangan yang penting dengan yang tidak penting

c. menghindari timbulnya pengulangan pembahasan/ide

d. membantu pengumpulan sumber yang diperlukan, pengarang tinggal menyusun kalimat-kalimat karangannya.

67

2. Syarat kerangka karangan yang baik

a. mengungkapkan maksud yang jelas

b. tiap bagian dalam kerangka karangan hanya mengandung satu gagasan

c. disusun secara logis dan sistematis

d. penggunaan simbol/sistem tanda/kode yang sistematis

Pemakian simbol

1) angka romawi ( I, II, III, IV ) untuk tingkatan pertama 2) huruf kapital (A, B, C, D ) untuk tingkatan kedua 3) angka arab ( 1, 2, 3, 4 ) untuk tingkatan ketiga 4) huruf kecil (a, b, c, d ) untuk tingkatan keempat Misal II. SEBAB-SEBAB KERESAHAN BURUH

A. Finansial

1. Gaji Pokok

a. Buruh Terampil

b. Buruh Kasar

2. Perumahan

a. Buruh yang Sudah Berkeluarga

b. Buruh yang Belum Berkeluarga

3. Pemeliharaan Kesehatan

a. Buruh Lelaki

b. Buruh Perempuan

B. Politik

1. Pengaruh Serikat Buruh Perusahaan

a. Pengaruh pada Buruh Terampil

b. Pengaruh pada Buruh Kasar

2. Pengaruh dari Luar Perusahaan

a. Organisasi Politik

b. Partai Politik

II SEBAB-SEBAB KERESAHAN BURUH 2.1 Finansial

2.1.1 Gaji Pokok

2.1.1. 1 Buruh Terampil

68

2.1.1.2

Buruh Kasar

2.1.2

Perumahan

2.1.2.1

Buruh yang Sudah Berkeluarga

2.1.2.2

Buruh yang Belum Berkeluarga

2.1.3

Pemeliharaan Kesehatan

2.1.3.1

Buruh Lelaki

2.1.3.2

Buruh Perempuan

2.2 Politik

2.2.1

Pengaruh Serikat Buruh Perusahaan

2.2.1.1

Pengaruh pada Buruh Terampil

2.2.1.2

Pengaruh pada Buruh Kasar

2.2.2

Pengaruh dari Luar Perusahaan

2.2.2.1

Organisasi Politik

2.2.2.2

Partai Politik

1. Bentuk Kerangka Karangan Kerangka karangan dapat dibedakan atas topik a. Kerangka Kalimat

kerangka kalimat dan kerangka

Kerangka kalimat mempergunakan kalimat dekleratif (berita) yang untuk merumuskan setiap topik, subtopik dan sub-sub topik. Misal I. Pendahuluan

lengkap

A. Latar belakang membahas kesenjangan konsep ideal dan fakta, kajian pustaka, dan penalaran yang menimbulkan masalah.

B. Masalah merumuskan pertanyaan yang hendak dibahas.

C. Tujuan berisi upaya yang hendak dicapai.

D. Pembatasan masalah merinci ruang lingkup pembahasan konsep, tempat penelitian dan waktu penelitian.

E. Metode pembahasan menguraikan secara menganalisis.

II. Deskripsi teori berisi kajian teoretik variabel pertama dan kedua. A. Deskripsi variabel pertama, teori x berisi defenisi dan deskripsi singkat.

69

B. Deskripsi variabel kedua, teori yang berisi defenisi dan deskripsi singkat.

III. Metode Penelitian membahas cara meneliti, cara mengumpulkan data, dan cara menganalisis sampai mendapatkan hasil analisi data.

IV. Deskripsi data menggambarkan data, menganalisis data, dan hasil analisis.

V. Kesimpulan menafsirkan hasil analisis, dan menyampaikan saran atau rekomendasi.

b. Kerangka Topik Kerangka topik berisi topik dan subtopik yang berupa frasa, bukan kalimat lengkap.

1. Kerangka kasar menuju kerangka sempurna

I. Penjualan yang sedang berlangsung

II. Peningkatan penjualan

III. Prospek penjualan tahun 2004

2. Kerangka sistem lekuk, dengan angka romawi, huruf kapital, dan angka arab. Misal III. Startegi Berwirausaha A. Strategi Awal

1. Konsep

2. Modal

3. Produk

4. Pasar

3. Kerangka sistem lekuk dengan angka desimal Misal 3. Startegi Berwirausaha 3.1 Strategi Awal

3.1.1 Konsep

3.2.2 Modal

70

3.2.3 Produk

3.2.4 Pasar

a. Kerangka sistem lurus dengan angka romawi dan desimal

Misal

BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Deskripsi Teori

2.1.1 Deskripsi teoretik variabel pertama (defenisi, gambaran konsep)

2.1.2 Deskripsi teoretik variabel kedua (defenisi, gambaran konsep)

b. Kerangka karangan dengan romawi lurus model penelitian kualitatif misal

BAB I

Pendahuluan

BAB II

Teori Acuan

BAB III

Metodelogi Penelitian

BAB IV

Hasil Penelitian

BAB V

Pembahasan

BAB VI

Simpulan, implikasi (saran)

c. Kerangka karangan dengan kombinasi romawi desimal lurus model kerangka

penelitian kualitatif, misal

BAB III

Hasil Penelitian

3.1 Interpretasi

3.2 Implikasi

Latihan dan Tugas Mandiri

1. Lengkapi kalimat tesis berikut ini 1) Topik : Kreatifivitas baru produk pangan dari singkong Tujuan : Membuktikan bahwa bahan kayu singkong dapat diolah dalam berbagai jenis pangan yang dapat dijadikan komoditas ekspor

71

Tesis : ……………………………………

2) Tesis : Efesiensi sumber daya ekonomi akan menghasilkan produk sepatu tangguh berdaya saing tinggi di pasar Internasional.

Topik

Tujuan

: ………………………. : …………………………

: ………………………. : …………………………

2. Jelaskan perbedaan judul karangan dengan topik.

3. Jelaskan syarat-syarat kalimat tesis.

BAB VIII KARANGAN ILMIAH

A. Jenis-Jenis Karangan Ilmiah

1. Makalah Karya tulis ilmiah yang yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Mekalah merupakan bentuk karya tulis yang paling sederhana.

72

2.

Kertas Kerja Karya tulis ilmiah yang menyajikan sesuatu berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif. Analisisnya lebih serius dibandingkan dengan makalah. Disajikan untuk seminar atau loka karya.

3.

Skripsi Karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan, data dan fakta empiris-objektif, baik penelitian langsung (observasi lapangan) maupun tidak langsung (studi kepustakaan)

4.

Tesis Karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dari skripsi. Tesis akan mengungkapkan pengetahuan baru yang diperoleh dari penelitian sendiri.

5.

Disertasi Karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta dengan analisis terinci. Disertasi ini berisi suatu temuan penulis sendiri yang berupa temuan orisinil.

B.

Sistematika Karangan Ilmiah

1.

Bagian Pembuka

a. Judul sampul (cover)

b. Halaman Judul 1) Judul karangan dan keterangannnya 2) Maksud penyusunan 3) Jenis tulisan (makalah, skripsi, tesis, dll.) 4) Identitas penulis 5) Nama instansi dan tahun pembuatan

c. Halaman persembahan (bila ada)

d. Halaman pengesahan (bila ada)

e. Kata Pengantar 1) ucapan syukur 2) penjelasan adanya tugas penulisan karya ilmiah / tujuan penulisan

3) ucapan terima kasih kepada yang telah membantu penulisan karya ilmiah. 4) harapan penulis atas karya tulis

73

f.

5) manfaat bagi pembaca serta kesediaan menerima kritik dan saran Abstrak Suatu penyajian singkat sebuah laporan/dokumen yang ditulis secara teknis, teliti, tanpa kritik atau penafsiran penulis. Strukturnya

a. judul laporan/dokumen

b. nama asli penulis

c. tujuan dan masalah

d. cara kerja dan validitas hasil

e. simpulan

f. inisal penulis abstrak

g.

Daftar isi Daftar isi disusun secara konsisten baik penomoran, penulisan, tata letak judul

maupun

h.

Daftar Gambar

i.

Daftar Tabel

2. Bagian Inti Karangan Ilmiah 1. Pendahuluan

a. Latar belakang masalah Mencantumkan alasan pengambilan judul, manfaat yang diambil dari karangan ilmiah. Kemukakan juga tentang studi kepustakaan yang dilakukan, buku-buku ilmiah, jurnal, internet, yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Cantumkan juga bagian- bagian yang akan dibahas dalam bab-bab berikutnya, agar pembaca mengetahui informasi sekilas.

b. Tujuan penulisan Berisikan garis besar tujuan pembahasan dengan jelas, yaitu gambaran hasil yang akan dicapai.Tujuan boleh lebih dari satu asalkan semuanya mempunyai kaitan dan ada relevansinya dengan

judul.

74

Menjelaskan pembatasan masalah yang dibahas. Pembatasan harus rinci, dan istilah yang digunakan dirumuskan secara tepat. Ruang lingkup dijabarkan sesuai dengan tujuan pembahasan.

d. Hipotesis (anggapan dasar), dan kerangka teori ( bila ada ) Anggapan dasar disebut juga asumsi adalah pernyataan umum yang tidak diragukan kebenarannya. Anggapan dasar inilah yang akan memberikan arah dalam mengerjakan penelitian dan anggapan dasar inilah yang akan mewarnai simpulan penelitian. Hipotesis, dibuat jika anggapan dasar sudah ditentukan. Hipotesis merupakan pernyataan sementara tentang suatu masalah yang belum pasti kebenarannya. Hipotes inilah yang akan diuji benar atau tidaknya dalam penelitian. Kerangka teori, berisi prinsip-prinsip teori yang mempengaruhi dalam pembahasan. Gunanya untuk membantu gambaran langkah dan arah kerja.

e. Sumber data Memaparkan sumber data dalam penulisan, sumber data ini bisa diambill sebagian saja sebagai contoh (sampel), memuat kriteria penentuan jumlah data, penentuan mutu data, kriteria penentuan sampel.

f. Metode dan teknik penulisan Menjelaskan metode yang digunakan ; Metode deskriptif, jika penulis datang ke sumber data dan menganalisis data tersebut apa adanya ; metode komparatif, penulis membandingkan dua sumber data : metode eksperimen, penulis menggunakan metode percobaan di lapangan atau pengujian di laboratorium, dan lainnya. Menjelaskan teknik yang digunakan dalam penulisan, seperti metode wawancara, kuisoner, observasi, analisis data.

g. Sistematika penulisan Gambaran singkat penyajian isi pendahuluan, Pembahasan utama, dan simpulan, juga bisa berisikan penjelasan lambang-lambang, simbol-simbol, atau kode (bila ada)

75

2. Inti Karangan / Pembahasan Bagian inilah yang paling penting dalam penulisan. Dalam bab ini

dilakukan kegiatan analisis, system pembahasan. interperensi, jalan keluar, pengolahan data dan lainnya Kesempurnaan pembahasan ini diukur berdasarkan kelengkapan unsur-unsur berikut

a. Ketuntasan materi Materi yang dibahas mencakup seluruh variabel, baik data sekunder (kajian teoretik) maupun data primer (pembuktian secara logika, yang telah diuji kebenarannaya dengan bukti-bukti)

b. Kejelasan uraian/deskripsi kejelasan konsep seluruh pikiran dan tuntas dalam menganalisis dari bab ke bab lainya, atau ke subbab lainnya. Memperhatikan penomoran, pengunaan huruf, jarak spasi, teknik kutipan, daftar pustaka, catatan kaki. Kejelasan bahasa, tepat dalam memilih diksi yang dapat diukur kebenarannya. Penggunaaan kata yang maknanya tegas, tidak ambigu. Kejelasan menggunakan struktur kalimat. Ejaan yang benar, kalimat efektif. Kejelasan paragraf dengan memperhatikan syarat-syarat paragraf :

kesatuan, kepaduan, kohorensi (repetisi, kata ganti ), logis.

c. Kejelasan penyajian dan kebenaran fakta Dapat diupayakan dengan penyajian dari umum ke khusus, dari yang kurang penting ke yang penting, dan sebagainya. Untuk menunjang dapat didukung dengan gambar, grafik, bagan, tabel, diagram, dan foto-foto.

3. Penutup Bab ini berisikan simpulan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, berupa gambaran umum seluruh analisis dan relevansi dengan hipotesisis yang dilakukan. Simpulan menyajikan gambaran isi karangan yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya secara singkat dan

76

meyakinkan. Saran-saran penulis tentang metodelogi penulisan lanjutan, penerapan hasil penelitian dan beberapa saran yang mempunyai relevansi dengan penelitian. Saran tidak selalu diperlukan dalam karangan ilmiah.

4. Bagian Penutup

1. Daftar Pustaka

2. Lampiran (apendiks) Dapat berupa cerita, daftar nama, model analisis. Penyajian lampiran ini agar tidak mengganggu pembahasan jika disertakan dalam uraian.

3. Indeks Daftar kata atau istilah yang digunakan dalam uraian dan disusun secara alfabetis. Penulisan indeks disertai nomor halaman yang menggunakan istilah tersebut, gunanya untuk memudahkan pencarian kata dan penggunaannya dalam pembahasan.

4. Riwayat Hidup Penulis (Biografi singkat) Hal penting yang perlu dituliskan antara lain : nama, tempat tanggal lahir, pendidikan, pengalaman kerja, dan karya ilmiah yang terkait dengan makalah.

Contoh Abstrak. KEGIATAN KONSULTASI BISNIS DAN PENEMPATAN KERJA (KBPK) BAGI LULUSAN PERGURUAN TINGGI DAN PENGUSAHA KECIL DI JAKARTA TIMUR : LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT, WIDJONO HS., DKK. Jakarta, LPM Universitas Negeri Jakarta, 20012

77

Kegiatan KBP ini bertujuan mengatasi pengangguran lulusan perguruan tingi dan mengembangkan pengusaha kecil di Jakarta Timur. Kegiatan ini memberikan layanan konsultasi dalam memanfaatkan peluang kerja bagi alumni dengan kreatifitas, kecerdasan, dan motivasinya sehingga dapat berprestasi dalam usaha tersebut, baik dalam bisnis maupun mengisi peluang kerja. Kepada pengusaha kecil, KBP memberikana layanan konsultasi agar mereka segera bangkit dari kelesuan bisnisnya. Kegiatan ini dilangsungkan bertahap (1) mengidentifikasi permasalahan klien, (2) menentukan target pencapaian, (3) mengevaluasi kinerja dengan menginventarisasi masalah, sumber daya, dan target yang hendak dicapai, (4) mendata umpan balik, (5) mengefisienkan sumber daya dan mengefektifkan pencapaian target, (6) menentukan strategi, dan (7) melaksanakan konsultasi. Hasil yang dicapai baru 20 persen dari 120 klien. Namun, kegiatan ini menghasilkan kerangka kerja yang dapat dijadikan dasar pengembangan selanjutnya. Kesimpulan: dengan berbagai hambatan dan kesulitan yang dihadapi, kegiatan ini sepenuhnya berhasil (Wi)

BAB IX KUTIPAN, CATATAN KAKI, BIBLIOGRAFI

A. KUTIPAN

Adalah salinan kalimat, paragraf, atau pendapat dari seseorang pengarang baik yang terdapat dalam buku, jurnal, maupun terbitan lain.

78

1.

Jenis kutipan

a.

Kutipan langsung Salinannya persis sama dengan sumbernya tanpa perubahan.

Skripsi adalah naskah teknis. Pada umumnya skripsi merupakan sebagaian syarat untuk memperoleh gelar derajat akademis, dengan titik berat sebagai latihan menulis karya ilmiah bagi calon sarjana (Brotowidjoyo 1993: 143).

 

b.

Kutipan tidak langsung Menyadur, mengambil ide dari suatu sumber dan menuliskannya sendiri dengan kalimat atau bahasa sendiri

Seperti yang dikemukakan Brotowidjoyo (2014: 143) skripsi pada dasarnya adalah latihan menulis ilmiah bagi calon sarjana. Naskah teknis ini sekaligus berfungsi sebagai pelengkap persyaratan akhir untuk memperoleh gelar sarjana

 

2.

Prinsip Mengutip

a. Tidak boleh mengubah (menambah atau mengurangi) hal yang kita kutip

b. Jangan memasukan pendapat pribadi

c. Penulis bertanggungjawab penuh akan akurasi kutipan.

d. Nomor kutipan berurutan dalam satu bab. Pergantian bab diikuti pula dengan penggantian nomor kutipan.

e. Jika menggunakan teknik penempatan catatan kaki, pada setiap akhir kutipan diberi nomor (angka arab)

3.

Teknis Mengutip

a. Kutipan langsung kurang dari lima baris (kutipan pendek) 1) Isi kutipan menyatu dengan teks. 2) Jarak antarbaris dengan kutipan sama dengan teks (dua spasi) 3) Bagian yang dikutip diapit dengan tanda petik (“…”) 4) Setelah kutipan selesai diberi nomor urut sebagai catatan kaki menuliskan langsung sumbernya.

atau

79

Dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan disebutkan bahwa “

unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan

dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar

ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya

masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya.” 1

1 Dendy Sugono, (Penangg.Jwb.), Pedoman Umum Ejaan

Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, (Jakarta:Pusat

Bahasa, Depertemen Pendidikan Nasional, 2004),hlm.23.

b. Kutipan langsung yang lebih dari lima baris (kutipan panjang)

1)

Isi kutipan ditempatkan pada alinea baru dan tersendiri.

2)

Jarak ketik antarbaris kutipan satu spasi.

3)

Kutipan ini tidak diapit dengan tanda petik

Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia disebutkan bahwa :

Ragam bahasa standar memiliki sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan tetap. Baku atau standar tidak dapat berubah setiap saat. Kaidah pembentukkan kata yang menerbitkan perasa dan perumus dengan taat asas harus menghasilkan bentuk perajin dan perusak dan bukan pengrajin atau pengrusak. 2

Ketaatan atas ragam baku ini dalam penulisan ilmiah perlu

dilaksanakan secara konsisten sehingga menghasilkan ekspresi

pemikiran yang objektif

2 Anton M. Moeliono, (Ed), Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h.13.

c. Jika ingin menghilangkan beberapa kata pada awal atau tengah tulisan,

maka diberi tanda elips (…) pada bagian yang dihilangkan. Jika

menghilangkan unsur pada bagian akhir tulisan beri titik sebanyak empat

buah (….). Jika menghilangkan satu alinea maka harus memberi tanda

titik sepanjang satu baris.

80

akan tetapi komunikasi dalam iklan bersifat khusus. Iklan pada prinsipnya adalah”komunikasi nonpersonal yang dibayar oleh sponsor yang menggunkan media massa untuk membujuk dan mempengaruhi

khalayaknya” (Wells

iklan dari promosi dan publisitas. …………………………………………………………………… Dari defenisi tersebut dapat ditarik empat kata kunci, yaitu sponsor, pesan, media, dan sasaran.

Segi nonpersonal itu membedakan

B. CATATAN KAKI / FOOTNOTES

1. Teknik Pengetikan Catatan Kaki

a. Catatan kaki harus ditulis pada tempat yang sama dengan pencantuman nomor catatan kaki

b. Nomor harus ditempatkan dengan menggunakan angka dan berurutan tiap bab.

c. Pergantian bab diikuti pula dengan pergantian catatan kaki

d. Nomor diletakan setengah spasi di atas teks

e. Jarak ketik antar baris satu spasi

f. Jarak ketik antarnomor (sumber) dua spasi

2. Tempat Catatan Kaki

a. Catatan kaki dan uraian pada halaman yang sama pada bagian bawah digunakan dalam skripsi, tesis, disertasi, buku, atau karangan ilmiah formal lainnya.

b. Catatan kaki pada akhir bab digunakan untuk karangan populer.

c. Catatan kaki pada akhir karangan digunakan untuk karangan yang berbentuk artikel untuk surat kabar, jurnal, majalah, laporan yang menggunkan pembagian bab, atau esai dalam kumpulan esai.

3. Catatan Kaki Singkat

a.

Ibid.

81

Singkatan dari ibidem yang berarti sama dengan diatas. Istilah ini digunakan untuk catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya dan belum diselingi oleh sumber lain.Ibid ditulis cetak miring dan diakhiri tanda titik. Misal 1 Hernowo, Mengikat Makna, (Bandung: Mizan,2002), hlm. 109-130. 2 Ibid., hlm.133.

b. Op. Cit

Singkatan dari opera citato yang berarti dalam karya yang telah dikutip. Istilah ini digunakan untuk catatan kaki lain dari sumber yang pernah dikutip, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber lain. Op.Cit.ditulis cetak miring dan diikuti tanda titik. Misal 1 Daniel Goleman, Emotional Intelegence (Jakarta: Gramedia, 2001), 161. 2 Satjipto Rahardjo, Hukum Masyarakat dan Pembangunan (Bandung: Alumni, 1976), hlm.111. 3 Goleman, Op.Cit.

4 Rahardjo, Op. Cit., Hlm. 125. (1,2,3.4: penulisannya salah semua)

c. Loc. Cit Singkatan dari loco citato yang berarti tempat yang telah dikutip. Istilah ini digunakan jika kita mengutip kembali karya yang terdahulu dengan halaman yang sama.Loc.cit. ditulis cetak miring diikuti tanda titik. Misal 1 Sarwiji Suwandi, “Peran Guru dalam Meningkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia Siswa Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi,” Kongres Bahasa Indonesia VIII, ( Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2003), hlm. 1 15 . 2 Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 2 terj. Nurum Imm, (Jakarta:

Pustaka Binaman Presindo, 1994), hlm. 1 40. 3 Suwandi, Loc.Cit. 4 Adnan Buyung Nasution, S.H., “Beberapa Aspek Hukum dalam Masalah Pertanahan dan Pemukiman di Kota Besar,” dalam Prof. Ir. Eko Budihardjoi,

82

MSc. (Ed), Sejumlah Masalah Pemukiman Kota, (Bandung: Alumni, 1992),

hlm.7.

5 Suwandi,Loc.Cit.

6 Nasution, Loc.Cit.

Misal

1 Kasali, Manajemen Periklanan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti,1995), hlm.19. 2 Ibid., hlm.4. 3 Ismaini, “Kreatif: Citra Utuh Sebuah Merk” (www.cakram.com.juni00/kreatif htm), hlm. 2 (22 November 2012). 4 Kasali, Op.Cit., hlm.67. 5 Kasali,Loc.Cit.

4. Penulisan Catatan Kaki

a. Satu Pengarang

1) Nama pengarang ditulis sesuai dengan nama pengarang pada buku.

2) Setelah nama pengarang diberi tanda koma.

3) Judul buku dicetak miring.

4) Setelah judul buku diikuti informasi buku, subjudul, jilid, edisi; tidak

diikuti koma atau titik.

5) Informasi penerbitan diapit tanda kurung dengan urutan nama kota,

penerbit, dan tahun.

6) Setelah kurung tutup diberi koma

7) Dapat diikuti kata halaman (didingkat hlm atau h, dapat juga tanpa

kata halaman), nomor halaman dan diakhiri dengan titik.

Misal

1 Prof.Dr.Gorys Keraf, Komposisi, (Flores:Nusa Indah, 1998), h.63-70.

b. Dua Pengarang

1) Kedua nama pengarang ditulis sesuai dengan nama pengarang di

buku dan diikuti koma.

Misal

1 E Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, Cermat Berbahasa Indonesia,

(Jakarta: Akademia Presindo, 1996), hlm. 121.

2 Bobby DePorter dan Mike Hernacki, Quantum Business, terj.

Basyarah Nasution, (Bandung: Kaifa, 2000) hlm. 87.

83

1) Ketiga nama pengarang ditulis seluruhnya. Misal 1 Gibson, Ivanevich, and Doneelly, Organisasi Edisi ke-8, terj. Ir. Nunuk Adriani M.M., (Jakarta: Bina Aksara, 1997), hlm. 355. 2 Agus Sujanto, Halem Lubis, dan Taufik Hadi, Psikologi Kepribadian (Jakarta: Aksara Baru, 1992) hlm. 120.

d. Lebih dari Tiga Pengarang 1) Nama pengarang pertama diikuti singkatan dkk. (dan kawan-kawan) atau et.al. Misal 1 Arthur J. Keown et.al., Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Buku 2, 7 th ed. Terj. Chairul D. Djakman, S.E., MBA, dan Dwi Sulistyorini, S.E., M.M., (Jakarta: Salemba Empat, 2000), hlm. 456-458.

e. Institusi sebagai Penulis Misal 1 Biro Pusat Statistik, Proyeksi Angkatan Kerja Indonesia Sampai Tahun 2000 (Jakarta: BPS, 1982), hlm.1. 2Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2004), hlm. 1-3.

f. Terjemahan

Misal

1 Jack Canfield, Marck Victor Hansen, Janiver Read Hawthorene, Chicken Soup for the Women’s Soul, terj. Anton MGS, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2000), hlm. 100.

g. Artikel dalam Jurnal, Majalah, dan Surat Kabar 1) Susunan artikel dalam jurnal

a) Judul artikel diapit tanda petik diikuti koma

b) Nama jurnal dicetak miring diikuti koma

84

d) Bulan dan tahun terbit diapit tanda kurung dan diikuti koma, diikuti nomor halaman dan ditutup dengan tanda titik. Misal 1 Bagus Sumargo, “Validitas dan Realibilitas Pengukuran Kemiskinan,” Jurnal Ilmiah Mat Stat, 2:2, (Jakarta, Juli 2002), hlm.

137.

2 Nur Hidayat, “ Analisis Perbandingan Laporan Keuangan Fiuskal vs Laporan Keuangan Komersial,” Jurnal Perpajakan Indonesia, 1:10 (Jakarta, Mei 2002), hlm. 32. 2) Majalah

a) Judul artikel diapit tanda petik

b) Nama majalah dicetak miring Misal 1 Dedi Humaedi,” Kiat Perusahaan Hidup untuk Hidup Terus,” Swa Sembada, 16/XX/5-18 Agustus 2008, h. 107-109.

3) Surat Kabar

a) Nama pengarang (jika tidak ada nama pengarang, tuliskan halaman pembahasan, misalnya opini, tajuk rencana, dll.)

b) Judul artikel diapit tanda petik.

c) Nama surat kanar dicetak miring, dan tanggal tempat terbit. Misal 1 Usep Setiawan, Pemerintah Baru dan Konflik Agraria,” Kompas 24 September 2004, hlm. 4. 2 Putut EA, “ Rumah Hujan,” Media Indonesia 20 Juni 2008,

hlm.13.

C. BIBLIOGRAFI (DAFTAR PUSTAKA)

1. Penulisan Daftar Pustaka

a. nama pengarang disusun secara alfabetis

b. tanpa nomor urut

c. jarak ketik antarbaris dalam satu sumber, satu spasi

d. jarak ketik antarsumber dua spasi

e. huruf pertama dari baris pertama masing-masing sumber diketik tepat pada marjin kiri tanpa idensi, sedangkan untuk baris berikutnya idensi 5 7 spasi (karakter).

85

2. Penyusunan Bibliografi

a. Tipe A…… 1) Nama pengarang, titik 2) Judul (buku, artikel, surat kabar, majalah, dll.), titik 3) nama kota, titik dua 4) nama penerbit, koma 5) tahun penerbitan, titik

b. Tipe B 1) Nama pengarang, titik 2) Tahun penerbitan, titik 3) Judul ( buku, artikel, surat kabar, majalah, dll. ), titik 4) Nama kota, titik dua 5) Nama penerbit, titik

3. Data Bibiliografis

a. Nama Pengarang

1) Satu Pengarang

Nama pengarang yang terdiri dari satu kata ditulis tetap.Nama pengarang yang terdiri dua kata ditulis dengan urutan terbalik. Misalnya, Farhan Kasyfi menjadi, Kasyfi, Farhan. Nama pengarang yang terdiri dari tiga kata atau lebih, maka kata terakhir menjadi urutan pertama. Misalnya, Irham Pradipta Fadhli menjadi Fadhli, Irham Pradipta.

2) Dua atau Tiga Pengarang

Jika sumber bacaan ditulis oleh lebih dari satu orang pengarang , maka hanya nama pengarang pertama saja yang ditulis terbalik, sedangkan nama pengarang kedua atau ketiga penulisannya tetap. Misalnya Irham Pradipta Fadhli dan Farhan Kasyfi menjadi Fadhli, Irham Pradipta dan Farhan Kasyfi. Rendy Muhammad, Bayu Priyonggo dan Nindio Swaratama menjadi Muhammad, Rendy, Bayu Priyonggo, dan Nindio Swaratama. Atau Muhammad, Rendy, Bayu Priyonggo, Nindio Swaratama.

86

3) Lebih dari Tiga Pengarang Jika sumber bacaan ditulis lebih dari tiga pengarang, hanya nama pengarang pertama yang yang dicantumkan dan ditambahkan dkk. atau et. al Misal Ayu, Diah Puspita, dkk. atau Ayu, Diah Puspita, et.al.

4) Tidak Ada Nama Pengarang

Jika penulisnya tidak ada atau di sumber bacaan tidak dic