Anda di halaman 1dari 23

Sampling

http://edukasi.kompasiana.com/2013/05/02/metode-pengambilan-dan-pengolahan-sampel552332.html

Metode Pengambilan dan Pengolahan


Sampel
REP | 02 May 2013 | 18:32

Metode Pengambilan dan Pengolahan Sampel


Skala Ukuran
Skala ukuran bertujuan menempatkan identitas data yang berbeda-beda secara tepat untuk
beberapa tingkatan atau jenjang.
1. Skala Nominal
Data dengan sekala nominal disebut data kategori. Misalnya jawaban responden hanya
berupa ya dan tidak disebut sebagai dikotom. Contoh lain pertanyaan tentang jawaban jenis
kelamin yang terdiri dari 2 subkategori, yaitu laki-laki dan perempuan. Data dengan skala
nominal dapat terdiri dari beberapa subkategori, misalnya agama dan suku bangsa.
Data dengan skala nominal mempunya jenjang yang sama, misalnya pengumpulan data jenis
kelamin, laki-laki diberi kode 1 dan perempuan dengan kode 2 tidak berarti bahwa laki-laki
mempunyai jenjang yang lebih tinggi daripada perempuan. Pada Skala nominal posisi data
tidak mempunyai jenjang yang sama.
Keuntungan data skala nominal adalah mudah dijawab, mudah diolah, dan dapat digunakan
untuk membandingkan, misalnya persentase .
2. Skala Ordinal
Skala ordinal memiliki kemiripan dengan skala nominal, tetapi data dalam urutan subkategori
telah memiliki jenjang yang bersifat kualitatif. Pada data ordinal selain terdapat perbedaan
subkategori, juga terdapat perbedaan jenjang antar subkategori., namun perbedaan tersebut

dengan jarak yang tidak tepat. Dari data skala ordinal dapat dinyatakan perbedaan
subkategori dan subkategori satu lebih tinggi dari subkategori lain.
Sebagai contoh, terdapat data yang menunjukkan prevalensi penyakit Diabetes kota Malang,
kabupaten Malang, dan Kota Batu. Prevalensi Diabates Kota Malang sebeesar 4%,
Kabupaten Malang sebesar 6,2%, dan Kota Batu sebesar 5,2%. Dari data diatas dapat
dinyatakan Prevalesni Kota Batu lebih besar dari Kota Malang. Walaupun terdapat jenjang,
namun jarak antar jenjang tidak sama.
3. Skala Interval
Data dengan skala interval memiliki kesamaaan dengan skala nominal dan ordinal, namun
jarak antar subkategori yang sama, dan dapat dinyatakan secara kuantitatif.
Sebagai contoh, Kadar Gula darah Fulan 140mg/dl, dan kadar gula darah Fulana 125mg/dl.
Dari data tersebut dapat dinyatakan bahwa kadar gula darah Fulan lebih tinggi dari Fulana.
4. Skala Rasio
Skala rasio memiliki ketiga sifat skala sebelumnya dan memiliki titik nol yang absolut. Oleh
karena itu, setiap subkategori dapat dibandingkan dengan titik nol. Sebagai contok Umur
Fulan 40 dan umur Fulana 20 tahun. Dapat dikatakan umur Fulan 2 kali umur Fulana.
Teknik Pengambilan Sampel
Pengambulan Sampel Secara Acak
1. Simple random sampling
Yang dimaksudkan dengan pengambilan sampel acak sederhana adalah
pengambilan sampel sedemikian rupa sehingga setiap unit dasar memiliki
kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel,
2. Stratified random sampling
Stratified random sampling adalah pengambilan sampel yang dilakukan
dengan membagi populasi menjadi beberapa strata dimana setiap strata adalah
homogen.

3. Multstage random sampling


Pengambilan sampel yang membagi populasi menjadi beberapa fraksi
kemudian diambil sampelnya.
4. Systematic random sampling
Pengambilan sampel acak sistematik dilakukan bila pengambilan sampel acak
dilakukan secara berurutan dengan interal tertentu.
5. Cluster Random sampling
Pengambilan sampel acak kelompok dilakukan bila kita akan mengadakan
suatu penelitian dengan mengambil kelompok unit dasar sebagai sampel.
6. Probability Proporsionate to Size
Pengambilan sampel dengan cara PPS ini merupakan variasi dari pengambilan
sampel bertingkat dengan PSU besar yang dilakukan secara proporsional
Pengambilan sampel tanpa acak
Pengambilan sampel tanpa acak ini digunakan bila kita ingin mengambil sampel yang sangat
kecil pada populasi yang besar. Pengambilan sampel tanpa acak ini terdiri dari :
1. Pengambilan sampel seadanya(Accidental sampling)
Pengambilan sampel yang dilakukan secara subjektif oleh peneliti ditinjau dari
sudut kemudahan, tempat pengambilan sampel, dan jumlah sampel yang akan
diambil.
2. Pengambilan sampel berjatah(Quota sampling)
Cara pengambilan sampel dengan jatah hampir sama dengan pengambilan
sampel seadanya, tetapi dengan kontrol lebih baik untuk mengurangi
terjadinya bias.
3. Pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan(Purposive sampling)
Pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan bila cara pengambilan sampel
dilakukan sedemikian rupa, sehingga keterwakilannya ditentukan oleh peneliti
berdasarkan pertimbangan orang orang yang telah berpengalaman.

Pengambilan sampel dengan cara ini lebih baik dari dua cara sebelumnya
karena dilakukan berdasarkan pengalaman berbagai pihak.
Pengambilan sampel pada penelitian klinis
Pada penelitian klinik pengambilan sampel sering didasarkan pada waktu atau jumlah.
Pengambilan sampel yang dilakukan pada periode waktu tertentu, dimana penderita yang
datang ke rumah sakit dan memenuhi kriteria studi diambil sebagai sampel sampai suatu
periode waktu yang telah ditentukan. Pengambilan sampel yang menggunakan cara ini tidak
tergantung pada jumlahnya.
Pengambilan sampel beradasarkan jumlah, bila kasusnya cukup banyak akan
membutuhkan waktu yang singkat, tetapi bila kasusnya jarang makan akan membutuhkan
waktu yang lebih lama. Permasalahan tersebut seharunya menjadi pertimbangan pada saat
menentukn cara mana yang akan digunakan.
PENENTUAN SAMPEL
1. METODE SLOVIN
Rumus Slovin menggunakan pendekatan distribusi normal, p=0,5, dengan nilai batas
kesalahan bisa ditentukan peneliti.
Pesamaan yang dirumuskan oleh Slovin (Steph Ellen, eHow Blog, 2010; dengan rujukan
Principles and Methods of Research; Ariola et al. (eds.); 2006) sebagai berikut.
n = N/(1 + Ne^2)
n = Number of samples (jumlah sampel)
N = Total population (jumlah seluruh anggota populasi)
e = Error tolerance (toleransi terjadinya galat; taraf signifikansi; untuk sosial dan pendidikan
lazimnya 0,05) > (^2 = pangkat dua)
Jika populasi 2000, dengan asumsi tingkat ketepatan 95%, maka eror 5%(0,05) maka :
N = 1000,

Taraf Signifikansi = 5%
maka :
n = N/(1 + Ne^2) = 2000/(1 + 2000 x 0,05 x 0,05) = 333 orang.
2. METODE KREJCIE DAN MORGAN
Metode Krejcie dan Morgan mengguankan pendekatan chi-quadrat, p=0,5, dengan batas error
diasumsikan 5%(0,05)
Krejcie dan Morgan (1970) dalam Uma Sekaran (1992) membuat daftar yang bisa dipakai
untuk menentukan jumlah sampel sebagai berikut (Lihat Tabel)
Populasi Sampel Populasi Sampel Populasi Sampel
(N)

(n)

(N)

(n)

(N)

(n)

10

10

220

140

1200

291

15

14

230

144

1300

297

20

19

240

148

1400

302

25

24

250

152

1500

306

30

28

260

155

1600

310

35

32

270

159

1700

313

40

36

280

162

1800

317

45

40

290

165

1900

320

50

44

300

169

2000

322

55

48

320

175

2200

327

60

52

340

181

2400

331

65

56

360

186

2600

335

70

59

380

191

2800

338

75

63

400

196

3000

341

80

66

420

201

3500

346

85

70

440

205

4000

351

90

73

460

210

4500

354

95

76

480

214

5000

357

100

80

500

217

6000

361

110

86

550

226

7000

364

120

92

600

234

8000

367

130

97

650

242

9000

368

140

103

700

248

10000

370

150

108

750

254

15000

375

160

113

800

260

20000

377

170

118

850

265

30000

379

180

123

900

269

40000

380

190

127

950

274

50000

381

200

132

1000

278

75000

382

210

136

1100

285

1000000

384

Dengan metode Krejcie dan Morgan sampel yang dibutuhkan untuk populasi 2000 adalah
322

http://yudhislibra.wordpress.com/2010/10/12/macam-%E2%80%93-macam-metode-samplingtahap-pembuatan-laporan-penelitian/

MACAM MACAM METODE SAMPLING & TAHAP PEMBUATAN


LAPORAN PENELITIAN
MACAM MACAM METODE SAMPLING & TAHAP PEMBUATAN LAPORAN
PENELITIAN
Pengertian Populasi dan Sampel
Populasi:
Kumpulan/ keseluruhan anggota dari obyek penelitian dan memenuhi criteria tertentu yang
telah ditetapkan dalam penelitian. Penelitian yang melibatkan populasi sebagai obyek
penelitian disebut Sensus.

Sampel:
Bagian tertentu dari unit populasi. Penelitian yang melibatkan sampel sebagai obyek
penelitian disebut Sampling Populasi.

Kelebihan dan Kelemahan dari Populasi dan Sampel


Populasi:

Kelebihan : Data dijamin lebih lengkap


Pengambilan kesimpulan/generalisasi lebih akurat
Kelemahan: Membutuhkan banyak sumber daya (biaya, tenaga, waktu)
Tidak ada jaminan bahwa semua anggota populasi dapat didata/dilacak dilapangan
Sampel:

Kelebihan : Efisien penggunaan sumber daya (tenaga, biaya, waktu)


Anggota sampel lebih mudah didata/dilacak dilapangan
Kelemahan: Membutuhkan ketelitian dalam menentukan sampel
Pengambilan kesimpulan/generalisasi perlu analisis yang teliti

Hal-hal penting berkaitan dengan pemilihan sampel yang baik

Sampel Yang Baik:

Representatif (harus dapat mewakili populasi atau semua unsure sampel)


Batasan sampel harus jelas
Dapat dilacak dilapangan
Tidak ada keanggotaan sampel yang ganda (didata dua kali/lebih)
Harus up to date (terbaru dan sesuai dengan keadaan saat dilakukan penelitian)

Metode pemilihan atau pengambilan sampel (sampling) yang baik

Metode Pengambilan Sampel Yang Baik:

Prosedurnya sederhana dan mudah dilakukan


Dapat memilih sampel yang representatif
Efisien dalam penggunaan sumber daya

Dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya mengenai sampel

Berapa jumlah anggota sampel yang baik?

Yang perlu diperhatikan dalam menentukan besarnya sampel:

Derajat keseragaman/heterogenitas dari populasi


Metode analisis yang akan digunakan
Ketersediaan sumber daya
Presisi yang dikehendaki

MACAM MACAM METODE SAMPLING

Probability Sampling

1. Simple Random Sampling

Semua unsure dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota
sampel. Anggota sampel dipilih secara acak dengan cara:
Pengundian menggunakan nomor anggota sebagai nomor undian
Menggunakan table angka random (bilangan acak) berdasarkan nomor anggota

Syarat Penggunaan Metode Simple Random Sampling:

Sifat populasi adalah homogen


Keadaan anggota populasi tidak terlau tersebar secara geografis
Harus ada kerangka sampling (sampling frame) yang jelas

Kebaikan : Prosedur penggunaannya sederhana


Kelemahan: Persyaratan penggunaan metode ini sulit dipenuhi

2. Stratified Random Sampling

Populasi dikelompokkan menjadi sub-sub populasi berdasarkan criteria tertentu yang


dimiliki unsure populasi. Masing-masing sub populasi diusahakan homogen
Dari masing-masing sub populasi selanjutnya diambil sebagian anggota secara acak dengan
komposisi proporsional atau disproporsional
Total anggota yang dipilih ditetapkan sebagai jumlah anggota sampel penelitian

Contoh: Dari 1000 populasi pemilih pada PEMILU akan diambil 100 orang (10%) sebagai
sampel berdasarkan usia pemilih secara proporsional

Syarat Penggunaan Metode Stratified Random Sampling:

Populasi mempunyai unsure heterogenitas


Diperlukan kriteria yang jelas dalam membuat stratifikasi/lapisan sesuai dengan unsure
heterogenitas yang dimiliki
Harus diketahui dengan tepat komposisi jumlah anggota sampel yang akan dipilih (secara
proporsional atau disproporsional)

Kebaikan : Semua ciri-ciri populasi yang heterogen dapat terwakili


Kelemahan: Memerlukan pengenalan terhadap populasi yang akan diteliti untuk
menentukan ciri heterogenitas yang ada pada populasi

3. Cluster Sampling

Populasi dikelompokkan menjadi sub-sub populasi secara bergrombol (cluster)


Dari sub populasi selanjutnya dirinci lagi menjadi sub-populasi yang lebih kecil
Anggota dari sub populasi terakhir dipilih secara acak sebagai sampel penelitian

Contoh: Akan dipilih sampel penelitian untuk meneliti rata-rata tingkat pendapatan buruh
bangunan diKodya Semarang

Kodya Semarang dibagi menjadi16 Kecamatan, dari 16 Kecamatan dipilih 2 Kecamatan


sebagai Populasi dari sampling I
Dari 2 Kecamatan masing-2 dipilih 2 Kelurahan sebagai Populasi dari sampel II
Dari 2 Kelurahan masing-2 dipilih 50 buruh bangunan sebagai sampel penelitian

Non Probability Sampling

1. Quota Sampling

Metode memilih sampel yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam jumlah atau quota yang
diinginkan

Contoh: Akan diteliti mengenai manfaat penggunaan internet pada peningkatan kualitas
proses belajar mengajar pada mata kuliah tertentu, Peneliti menentukan quota untuk masingmasing sampel:
Jumlah mahasiswa = 50 orang
Jumlah dosen = 5 orang
Jumlah mata kuliah = 3 matakuliah
Sehingga diperoleh 150 mahasiswa dan15 dosen sebagai sampel penelitian untuk 3 mata
kuliah yang memanfaatkan internet dalam proses belajar mengajarnya

Kelebihan : Mudah dan cepat digunakan


Kelemahan: Penentuan sampel cenderung subyektif bagi peneliti

2. Accidental Sampling

Metode pengambilan sampel dengan memilih siapa yang kebetulan ada/dijumpai


Contoh: Akan diteliti mengenai minat ibu rumah tangga berbelanja diswalayan peneliti
menentukan sampel dengan menjumpai ibu rumah tangga yang kebetulan berbelan jadi suatu
swalayan tertentu untuk dimintai pendapat/motivasinya

Kelebihan : Mudah dan cepat digunakan


Kelemahan: Jumlah sampel mungkin tidak representative karena tergantung hanya
pada anggota sampel yang ada pada saat itu

3. Saturation Sampling

Metode pengambilan sampel dengan mengikutsertakan semua anggota populasi sebagai


sampel penelitian

Contoh: Akan diteliti mengenai pendapat mahasiswa terhadap pemberlakuan kurikulum baru
di Gunadarma, peneliti menentukan sampel dengan menambil seluruh mahasiswa aktif di
Gunadarma sebagai sampel penelitian

Kelebihan : Memerlukan waktu untuk pengumpulan data sampel


Kelemahan: Tidak cocok untuk populasi dengan anggotanya yang besar

4. Snowball Sampling

Metode pengambilan sampel dengan secara berantai (multi level).


Sampel awal ditetapkan dalam kelompok anggota kecil
Masing-masing anggota diminta mencari anggota baru dalam jumlah tertentu
Masing-masing anggota baru diminta mencari anggota baru lagi.

Contoh: Akan diteliti mengenai pendapat mahasiswa terhadap pemberlakuan kurikulum baru
di Gunadarma, sampel ditentukan sebesar 100 mahasiswa, peneliti menentukan sampel awal
10 mahasiswa. Masing-masing mencari 1 orang mahasiswa lain untuk dimintai pendapatnya.
Dan seterusnya hingga diperoleh sampel dalam jumlah 100 mahasiswa

Kelebihan : Mudah digunakan


Kelemahan: Membutuhkan waktu yang lama

TAHAP PEMBUATAN LAPORAN PENELITIAN


Perencanaan Penentuan Metode Sampling

Pengolahan dan Analisis Data


Setelah data dikumpulkan, selanjutnya dilakukan Pengolahan dan Analisis Data. Kegiatan
analisis data dimaksudkan untuk memberi arti dan makna pada data serta berguna untuk
memecahkan masalah dalam penelitian yang sudah dirumuskan. Sebelum analisis data
dilakukan maka data perlu diolah terlebih dulu.

Pengolahan data meliputi:

Editing

Kegiatan untuk memeriksa data mentah yang telah dikumpulkan, meliputi:


Melengkapi data yang kurang/kosong
Memperbaiki kesalahan-kesalahan atau kekurangjelasan dari pencatatan data
Memeriksa konsistensi data sesuai dengan data yang diinginkan
Memeriksa keseragaman hasil pengukuran (misalnya keseragaman satuan)
Memeriksa reliabilitas data (misalnya membuang data-data yang ekstrim)

Coding

Kegiatan untuk membuat peng-kode-an terhadap data sehingga memudahkan untuk analisis
data., biasanya dilakukan untuk data-data kualitatif. Dengan koding ini, data kualitatif dapat
dikonversi menjadi data kuantitatif (kuantifikasi). Proses kuantifikasi mengikuti prosedur
yang berlaku, misalnya dengan menerapkan skala pengukuran nominal dan ordinal.

Tabulating

Kegiatan untuk membuat table data (menyajikan data dalam bentuk tabel) untuk
memudahkan analisis data maupun pelaporan. Tabel data dibuat sesederhana mungkin
sehingga informasi mudah ditangkap oleh pengguna data maupun bagi bagian analisis data.

Analisis Data
Kegiatan analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian. Pemecahan
masalah penelitian dan penarikan kesimpulan dari suatu penelitian sangat tergantung dari

hasil analisis data ini. Sehingga perlu dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga tidak
memberikan salah penafsiran terhadap hasil penelitian. Seorang peneliti (bagian analisis data)
harus menguasai kemampuan keilmuan secara teknis dalam menerapkan metode analisis
yang cocok

Metode analisis data yang dipilih harus disesuaikan dengan jenis penelitiannya. Pertimbangan
pemilihan metode analisis dapat dilihat dari:
Tujuan dan jenis penelitian
Model/jenis data
Tingkat/taraf kesimpulan

Penarikan Kesimpulan

Kegiatan untuk memberikan penafsiran terhadap hasil analisis data. Pada penelitian yang
menggunakan pengujian hipotesis penelitian,kesimpulan dapat ditarik dari hasil pengujian
hipotesis. Kesimpulan hendaknya dibuat secara singkat, jelas dan padat.
Kesimpulan Penelitian harus sesuai dengan:
Tema, topic dan judul penelitian
Pemecahan permasalahan penelitian
Hasil analisis data
Pengujian hipotesis (bilaada)
Teori/ilmu yang relevan

Pelaporan

Tahapan akhir dalam kegiatan penelitian adalah pembuatan laporan penelitian. Laporan ini
berguna untuk kegiatan publikasi hasil penelitian maupun untuk pertanggungjawabkan secara
ilmiah kegiatan penelitian yang telah dilakukan. Dalam laporan penelitian, dituliskan secara
sistematis semua tahapan yang telah dilakukan mulai dari tahap perencanaan hingga
penarikan kesimpulan penelitian (termasuk didalamnya lampiran-lampiran yang diperlukan).

Sistematika pelaporan disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh


lembaga/institusi/sponsor yang akan mengelola hasil penelitian tersebut.

http://gerrytri.blogspot.com/2013/06/teknik-pengambilan-sampel-dalam.html

Kamis, 13 Juni 2013


Teknik Pengambilan Sampel dalam Metodologi Penelitian

Semoga bermanfaat :)
Teknik Pengambilan Sampel : Nonprobability Sampling
Pengertian

Nonprobability

Sampling atau Definisi

Nonprobability

Sampling adalah teknik

pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik Sampling Nonprobality ini meliputi :Sampling
Sistematis,

Sampling

Kuota,

Sampling

Insidental,

Purposive

Sampling,

Sampling

Jenuh, Snowball Sampling.

1. Sampling Sistematis
Pengertian Sampling Sistematis atau Definisi Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel
berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.Contoh Sampling Sistematis,
anggota populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua semua anggota populasi itu diberi nomor
urut 1 sampai 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil nomor ganjil saja,
genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu
maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor urut 1, 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.

2. Sampling Kuota
Pengertian Sampling Kuota atau Definisi Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel
dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan.Contoh
Sampling Kuota, akan melakukan penelitian tentang Karies Gigi, jumlah sampel yang ditentukan 500
orang, jika pengumpulan data belum memenuhi kuota 500 orang tersebut, maka penelitian
dipandang belum selesai. Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5

orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang
anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.

3. Sampling Insidental
Pengertian Sampling Insidental atau Definisi Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel
berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan
peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok
sebagai sumber data.

4. Purposive Sampling
Pengertian Purposive Sampling atau Definisi Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu. Contoh Purposive Sampling, akan melakukan penelitian tentang
kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih
cocok digunakan untuk Penelitian Kualitatif atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi.

5. Sampling Jenuh (Sensus)


Pengertian Sampling Jenuh atau Definisi Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua
anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil,
kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang
sangat kecil.

6. Snowball Sampling
Pengertian Snowball Sampling atau Definisi Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel
yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang

lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang
sampel, tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang
diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data
yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel
semakin banyak. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel Purposive dan Snowball.
Contohnya akan meneliti siapa provokasi kerusuhan, maka akan cocok menggunakan Purposive
Sampling dan Snowball Sampling.

Cara Pengambilan Sampel dengan Probabilitas Sampling


Ada empat macam teknik pengambilan sampel yang termasuk dalam teknik pengambilan sampel
dengan probabilitas sampling. Keempat teknik tersebut, yaitu cara acak, stratifikasi, klaster, dan
sistematis.

1. Sampling Acak
Ada beberapa nama untuk menyebutkan teknik pemilihan sampling ini. Nama tersebut termasuk di
antaranya: random sampling atau teknik acak. Apa pun namanya teknik ini sangat populer dan
banyak dianjurkan penggunaannya dalam proses penelitian. Pada teknik acak ini, secara teoretis,
semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk dipilih
menjadi sampel. Untuk mendapat responden yang hendak dijadikan sampel, satu hal penting yang
harus diketahui oleh para peneliti adalah bahwa perlunya bagi peneliti untuk mengetahui jumlah
responden yang ada dalam populasi.

Teknik memilih secara acak dapat dilakukan baik dengan manual atau tradisional maupun dengan
menggunakan tabel random.
a. Cara Tradisional

Cara tradisional ini dapat dilihat dalam kumpulan ibu-ibu ketika arisan. Teknik acak ini dapat
dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:
tentukan jumlah populasi yang dapat ditemui;
daftar semua anggota dalam populasi, masukkan dalam kotak yang telah diberi lubang penarikan;
kocok kotak tersebut dan keluarkan lewat lubang pengeluaran yang telah dibuat;
nomor anggota yang keluar adalah mereka yang ditunjuk sebagai sampel penelitian;
lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan dapat dicapai.
b. Menggunakan Tabel Acak
Pada cara kedua ini, proses pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan tabel yang dihasilkan
oleh komputer dan telah diakui manfaatnya dalam teori penelitian. Tabel tersebut umumnya terdiri
dari kolom dan angka lima digit yang telah secara acak dihasilkan oleh komputer.

Dengan menggunakan tabel tersebut, angka-angka yang ada digunakan untuk memilih sampel
dengan langkah sebagai berikut:
identifikasi jumlah total populasi;
tentukan jumlah sampel yang diinginkan;
daftar semua anggota yang masuk sebagai populasi;
berikan semua anggota dengan nomor kode yang diminta, misalnya: 000-299 untuk populasi yang
berjumlah 300 orang, atau 00-99 untuk jumlah populasi 100 orang;
pilih secara acak (misalnya tutup mata) dengan menggunakan penunjuk pada angka yang ada dalam
tabel;
pada angka-angka yang terpilih, lihat hanya angka digit yang tepat yang dipilih. Jika populasi 500
maka hanya 3 digit dari akhir saja. Jika populasi mempunyai anggota 90 maka hanya diperlukan dua
digit dari akhir saja;
jika angka dikaitkan dengan angka terpilih untuk individual dalam populasi menjadi individu dalam
sampel. Sebagai contoh, jika populasinya berjumlah 500, maka angka terpilih 375 masuk sebagai

individu sampel. Sebaliknya jika populasi hanya 300, maka angka terpilih 375 tidak termasuk sebagai
individu sampel;
gerakan penunjuk dalam kolom atau angka lain;
ulangi langkah nomor 8 sampai jumlah sampel yang diinginkan tercapai.
Ketika jumlah sampel yang diinginkan telah tercapai maka langkah selanjutnya adalah membagi
dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sesuai dengan bentuk desain penelitian.

Contoh Memilih Sampel dengan Sampling Acak


Seorang kepala sekolah ingin melakukan studi terhadap para siswa yang ada di sekolah. Populasi
siswa SMK ternyata jumlahnya 600 orang. Sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dia
ingin menggunakan teknik acak, untuk mencapai hal itu, dia menggunakan langkah-langkah untuk
memilih sampel seperti berikut.
Populasi yang jumlahnya 600 orang diidentifikasi.
Sampel yang diinginkan 10% x 600 = 60 orang.
Populasi didaftar dengan diberikan kode dari 000-599.
Tabel acak yang berisi angka random digunakan untuk memilih data dengan menggerakkan data
sepanjang kolom atau baris dari tabel.
Misalnya diperoleh sederet angka seperti berikut: 058 710 859 942 634 278 708 899
Oleh karena jumlah populasi 600 orang maka dua angka terpilih menjadi sampel yaitu: 058 dan 278.
Coba langkah d sampai diperoleh semua jumlah 60 responden.

2. Teknik Stratifikasi
Dalam penelitian pendidikan maupun penelitian sosial lainnya, sering kali ditemui kondisi populasi
yang ada terdiri dari beberapa lapisan atau kelompok individual dengan karakteristik berbeda. Di
sekolah, misalnya ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Mereka juga dapat dibedakan menurut
jenis kelamin responden menjadi kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Di masyarakat,
populasi dapat berupa kelompok masyarakat, misalnya petani, pedagang, pegawai negeri, pegawai

swasta, dan sebagainya. Keadaan populasi yang demikian akan tidak tepat dan tidak terwakili; jika
digunakan teknik acak. Karena hasilnya mungkin satu kelompok terlalu banyak yang terpilih sebagai
sampel, sebaliknya kelompok lain tidak terwakili karena tidak muncul dalam proses pemilihan.

Teknik yang paling tepat dan mempunyai akurasi tinggi adalah teknik sampling dengan cara
stratifikasi. Teknik stratifikasi ini harus digunakan sejak awal, ketika peneliti mengetahui bahwa
kondisi populasi terdiri atas beberapa anggota yang memiliki stratifikasi atau lapisan yang berbeda
antara satu dengan lainnya. Ketepatan teknik stratifikasi juga lebih dapat ditingkatkan dengan
menggunakan proporsional besar kecilnya anggota lapisan dari populasi ditentukan oleh besar
kecilnya jumlah anggota populasi dalam lapisan yang ada.

Seperti halnya teknik memilih sampel secara acak, teknik stratifikasi juga mempunyai langkahlangkah untuk menentukan sampel yang diinginkan. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat seperti
berikut :
Identifikasi jumlah total populasi.
Tentukan jumlah sampel yang diinginkan.
Daftar semua anggota yang termasuk sebagai populasi.
Pisahkan anggota populasi sesuai dengan karakteristik lapisan yang dimiliki.
Pilih sampel dengan menggunakan prinsip acak seperti yang telah dilakukan dalam teknik random di
atas.
Lakukan langkah pemilihan pada setiap lapisan yang ada.
Sampai jumlah sampel dapat dicapai.

Contoh menentukan sampel dengan teknik stratifikasi


Seorang peneliti ingin melakukan studi dari suatu populasi guru SMK yang jumlahnya 900 orang,
sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dalam anggota populasi ada tiga lapisan guru,
mereka adalah yang mempunyai golongan dua, golongan tiga, dan golongan empat. Dia ingin

memilih sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi. Terangkan langkah-langkah guna


mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi tersebut.
Jawabannya adalah sebagai berikut.
Jumlah total populasi adalah 900 orang.
Daftar semua anggota yang termasuk sebagai populasi dengan nomor 000-899.
Bagi populasi menjadi tiga lapis, dengan setiap lapis terdiri 300 orang.
Undilah sampel yang diinginkan 30% x 900 = 270 orang.
Setiap lapis mempunyai anggota 90 orang.
untuk lapisan pertama gerakan penunjuk (pensil) dalam tabel acak.
Dan pilih dari angka tersebut dan ambil yang memiliki nilai lebih kecil dari angka 899 sampai
akhirnya diperoleh 90 subjek.
Lakukan langkah 6 dan 7 untuk Iapis kedua dan ketiga sampai total sampel diperoleh jumlah 270
orang.

3. Teknik Klaster
Teknik klaster merupakan teknik memilih sampel lainnya dengan menggunakan prinsip probabilitas.
Teknik ini mempunyai sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan kedua teknik yang telah dibahas
di atas. Teknik klaster atau Cluster Sampling ini memilih sampel bukan didasarkan pada individual,
tetapi lebih didasarkan pada kelompok, daerah, atau kelompok subjek yang secara alami berkumpul
bersama. Teknik klaster sering digunakan oleh para peneliti di lapangan yang wilayahnya mungkin
luas. Dengan menggunakan teknik klaster ini, mereka lebih dapat menghemat biaya dan tenaga
dalam menemui responden yang menjadi subjek atau objek penelitian.

Memilih sampel dengan menggunakan teknik klaster ini mempunyai beberapa langkah seperti
berikut.
Identifikasi populasi yang hendak digunakan dalam studi. b. Tentukan besar sampel yang diinginkan.
Tentukan dasar logika untuk menentukan klaster.

Perkirakan jumlah rata-rata subjek yang ada pada setiap klaster.


Daftar semua subjek dalam setiap klaster dengan membagi antara jurnlah
sampel dengan jumlah klaster yang ada.
Secara random, pilih jumlah angggota sampel yang diinginkan untuk setiap klaster.
Jumlah sampel adalah jumlah klaster dikalikan jumlah anggota populasi per klaster.

Contoh terapan pemilihan sampel dengan menggunakan teknik klasterMisalkan seorang peneliti
hendak melakukan studi pada populasi yang jumlahnya 4.000 guru dalam 100 sekolah yang ada.
`Sampel yang diinginkan adalah 400 orang. Cara yang digunakan adalah teknik sampel secara klaster
dengan sekolah sebagai dasar penentuan logis klaster yang ada. Bagaimanakah langkah menentukan
sampel tersebut?

Jawabannya adalah sebagai berikut.


Total populasi adalah 4.000 orang.
Jumlah sampel yang diinginkan 400 orang.
Dasar logis klaster adalah sekolah yang jumlahnya ada 100.
Dalam populasi, setiap sekolah adalah 4.000/100 = 40 guru setiap sekolah.
Jumlah klaster yang ada adalah 400/40 = 10.
Oleh karena itu, 10 sekolah di antara 100 sekolah dipilih secara random.
Jadi, semua guru yang ada dalam 10 sekolah sama dengan jumlah sampel yang diinginkan.

4. Teknik Secara Sistematis


Teknik memilih sampel yang keempat adalah teknik sistematis atau systematic sampling. Teknik
pemilihan ini menggunakan prinsip proporsional. Caranya ialah dengan menentukan pilihan sampel
pada setiap 1/k, di mana k adalah suatu angka pembagi yang telah ditentukan misalnya 5,6 atau 10.

Syarat yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah adanya daftar atau list semua anggota
populasi.

Untuk populasi yang didaftar atas dasar urutan abjad pemakaian metode menggunakan teknik
sistematis juga dapat diterapkan. Walaupun mungkin saja terjadi bahwa suatu nama seperti nama
yang berawalan su, sri dalam bahasa Indonesia akan terjadi pengumpulan nama dalam awalan
tersebut. Sisternatis proporsional k dapat memilih dengan baik.

Teknik observasi lapangan khusus untuk penelitian di lokasi tambang

Pengumpulan Data penelitian


Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan. Mengamati tidak
hanya melihat, melainkan merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian yang ada di
lapangan. Teknik ini ada dua macam, yaitu observasi langsung (observasi partisipasi) yaitu apabila
pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejalagejala pada objek yang dilakukan
secara langsung di tempat kejadian, dan observasi tidak langsung (observasi non-partisipasi) yaitu
pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala pada objek tidak secara
langsung di lapangan. Beberapa cara yang biasa dilakukan dalam observasi adalah sebagai berikut:
1) Membuat catatan anekdot (anecdotal record), yaitu catatan informal yang digunakan pada waktu
melakukan observasi. Catatan ini berisi fenomena atau peristiwa yang terjadi saat observasi.
2) Membuat daftar cek (checklist), yaitu daftar yang berisi catatan setiap faktor secara sistematis.
Daftar cek ini biasanya dibuat sebelum observasi dan sesuai dengan tujuan observasi.
3) Membuat skala penilaian (rating scale), yaitu skala yang digunakan untuk menetapkan penilaian
secara bertingkat untuk mengamati kondisi data secara kualitiatif.
4) Mencatat dengan menggunakan alat (mechanical device), yaitu pencatatan yang dilakukan melalui
pengamatan dengan menggunakan alat, misalnya slide, kamera, komputer, dan alat perekam suara.

Observasi tersebut dapat terbentang mulai dari kegiatan pengumpulan data yang formal hingga
yang tidak formal. Bukti observasi seringkali bermanfaat untuk memberikan informasi tambahan
tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat menambah dimensi-dimensi baru untuk
pemahaman konteks maupun fenomena yang akan diteliti. Observasi tersebut bisa begitu berharga
sehingga peneliti bisa mengambil foto-foto pada situs studi kasus untuk menambah keabsahan
penelitian (Dabbs, 1996: 113).

REFERENSI
Sugiyono, 2007, Statistika Untuk Penelitian, Cetakan Keduabelas, Alfabeta, Bandung.
http://asiabusinesscentre.blogspot.com/2012/07/teknik-pengambilan-sampel.htm

http://www.onlinesyariah.com/2012/12/cara-pengambilan-sampel-dengan.html
http://texbuk.blogspot.com/2012/01/teknik-observasi-atau-pengamatan.html#ixzz2RwhVvFK1