Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Hukum Agraria adalah keseluruhan kaedah hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis yang

mengatur agraria; hukum yang mengatur tentang pemanfaatan bumi, air dan ruang angkasa.
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Hukum Agraria (UndangUndang Pokok Agraria UUPA) tidak memberikan pengertian Agraria maupun Hukum Agraria, hanya
memaparkan ruang lingkup agrarian sebagaimana yang tercantum dalam konsideran pasal-pasal maupun
penjelasannya. Ruang lingkup Agraria menurut UUPA meliputi bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan
alam yang terkandung didalamnya (BARAKA). Ruang lingkup agraria menurut UUPA sama dengan
ruang lingkup sumber daya agrarian/ sumber daya alam menurut Ketetapan MPR RI No. IX/MPR/2001
tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Adapun, definisi Hukum Agraria menurut para ahli/ pakar hukum, antara lain:
Drs. E. Utrecht SH
Hukum Agraria menguji hubungan hukum istimewa yang diadakan akan memungkinkan para pejabat
administrasi yang bertugas mengurus soal-soal tentang agraria, melakukan tugas mereka.
Bachsan Mustafa SH
Hukum Agrarian adalah himpunan peraturan yang mengatur bagaimana seharusnya para pejabat
pemerintah menjalankan tugas dibidang keagrariaan.
Boedi Harsono
Hukum Agraria bukan hanya merupakan satu perangkat bidang hukum. Hukum agraria merupakan satu
kelompok berbagai bidang hukum, yang masing-masing mengatur hak-hak pengusaan sumbersumber
daya alam tertentu yang termasuk pengertian agraria. Kelompok berbagai bidag hukum tersebut terdiri
atas:
1. Hukum Tanah, yang mengatur hak-hak penguasaan atas tanah, dalam arti permukaan bumi.
2. Hukum Air, yang mengatur hak-hak penguasaan atas air.
3. Hukum Pertambangan, yang mengatur hak-hak penguasaan atas bahan-bahan galian yang dimaksudkan
oleh Undang-undang Pokok Petambangan.
4. Hukum Perikanan, yang mengatur hak-hak penguasaan atas kekayaan alam yang terkandung di dalam
air.
5. Hukum Penguasaan Atas Tenaga dan Unsur-unsur dalam Ruang Angkasa, yang mengatur hak-hak
penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa yang dimaksudkan dalam Pasal 48 UUPA.

Hukum Agraria dari segi objek kajiannya tidak hanya membahas tentang bumi dalam arti sempit yaitu
tanah, akan tetapi membahas juga tentang pengarian, pertambangan, perikanan, kehutanan dan
penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa.

PERMASALAHAN PERTAMBANGAN BATUBARA DITINJAU DARI SUDUT PANDANG HUKUM


LINGKUNGAN
PERMASALAHAN PERTAMBANGAN BATUBARA
DITINJAU DARI SUDUT PANDANG HUKUM LINGKUNGAN

I. Latar Belakang
Kuasa Penambangan merupakan salah satu instrumen hukum yang dapat digunakan oleh pemegang
Kuasa Pertambangan untuk melaksanakan kegiatan Pertambangan. Tanpa adanya Kuasa Pertambangan
perusahaan pertambangan belum dapat melakukan kegiatan pertambangan.
Menurut Pasal 2 huruf i Undang-Undang No.11 Tahun 1967 tentang Pertambangan, Pengertian
Pertambangan adalah Wewenang yang diberikan kepada badan / Perorangan untuk melaksanakan usaha
pertambangan.
Landasan Hukum permasalah Pertambangan adalah UU No.11 tahun 1967 tentang Ketentuan ketentuan
Pokok Pertambangan, UU No.23 tahun 1967 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,UU No.32 Tahun
2004 tentang Pemda,PP No.75 tahun 2001 tentang Pelaksanaan UU No.11 tahun 1967 dan Kepmen
ESDM No.1211.K/008/M.PE/1995 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran
Lingkungan pada kegiatan Usaha Pertambangan.

Pejabat yang berwenang menerbitkan kuasa pertambangan adalah :

a. Bupati/Walikota .
Bupati/Walikota berwenang menerbitkan surat keputusan kuasa pertambangan apabila wilayah kuasa
pertambangan terletak dalam wilayah kabupaten/kota dan atau diwilayah laut 4 mil dari laut.
b. Gubenur.
Gubenur berwenang menerbitkan surat keputusan kuasa pertambangan apabila wilayah kuasa
pertambangan terletak dalam beberapa wilayah kabupaten/kota maupun antara kabupaten/kota dengan
provinsi dan atau diwilayah laut 4 mil sampai dengan 12 mil dari laut.
c. Menteri.
Menteri berwenang menerbitkan surat keputusan kuasa pertambangan apabila wilayah kuasa
pertambangan terletak dalam beberapa wilayah provinsi dan tidak dilakukannya kerjasama antara provinsi
dan/atau diwilayah laut yang terletak diluar 12 mil dari laut.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.75 Tahun 2001 Pemegang Kuasa Pertambangan berkewajiban
menyetorkan jaminan reklamasi,membayar iuran tetap dan iuran Eksplorasi/Eksploitasi serta
menyampaikan laporan rencana usaha,target produksi dan menyampaikan laporan triwulan dan tahunan
mengenai kegiatan kepada menteri, gubenur, bupati/walikota.

II. Permasalahan.
Bagaimana apabila Pemerintah Daerah selaku penerbit Kuasa Pertambangan dan Pengusaha
Pertambangan tidak mematuhi ketentuan hukum yang menjadi dasar atau landasan dalam penerbitan
maupun usaha pertambangan.
Ditinjau dari sudut Hukum Lingkungan, terlebih dahulu kita melihat Hubungan hukum pertambangan
dengan Hukum lingkungan yangmana hukum pertambangan mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan hukum lingkungan karena setiap usaha pertambangan diwajibkan untuk memelihara
kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.Hal ini lazim disebut dengan pelestarian
fungsi lingkungan hidup (pasal 1 angka 5 UU Nomer 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup).

Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup, setiap perusahaan bergerak dibidang pertambangan
wajib :
a. Memiliki Amdal (Pasal 15 ayat 1 UU.No.23 Tahun 1997) yangmana Amdal disini menkaji
permasalahan dampak besar dan penting suata usaha atau kegiatan.
b. Perusahaan wajib melaksanakan atau melakukan pengolahan limbah hasil usaha/kegiatan ( Pasal 16
UU No.23 Tauhn 1997).
c. Perusahaan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) sebagaimana Pasal 17
UU No.23 tahun 1997.
Disamping kewajiban tersebut perusahaan pertambangan dilarang :
a. Melanggar Baku Mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
b. Melakukan Impor limbah bahan berbahaya dan beracun (Pasal 14 ayat 1 dan pasal 21 UU No.23 Tahun
1997)
Pemerintah Daerah berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap para pemegang Kuasa
Pertambangan dalam hal Pengelolaan Lingkungan hidup di lokasi sekitar Kuasa Pertambangan yang telah
diterbitkannya, oleh karena itu pemerintah dan pengusaha bertanggung jawab atas kelestarian dan
keseimbangan lingkungan hidup di wilayah atau lokasi ditempat ia bekerja atau melaksanakan kegiatan
usahanya.
III. Pemecahan Masalah.
a. Pemerintah.
Agar Aparat Pemerintah Daerah yang mengemban fungsi sebagai pembina dan pengawas terhadap
kegiatan atau usaha pertambangan yang dilakukan oleh Badan Usaha atau perorangan yang
mengakibatkan terjadinya Pencemaran maupun kerusakan Lingkungan Hidup berdampak besar dan
penting dapat melaksanakan tugasnya dengan melakukan pembinaan dan pengawasan secara kontinue
atau terus menerus secara berkesinambungan.

b. Badan Usaha atau Perorangan.


Dalam permasaalahan ini terhadap Badan usaha atau Perorangan yang melaksanakan usaha pertambangan
apabila tidak mematahui ketentuan dalam perundang undang dan peraturan tersebut diatas maka dapat
dilakukan tindakan berupa :
Tindakan hukum pidana apabila apabila sanksi bidang hukum lain seperti Sanksi Administrasi, Sanksi
Perdata dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektip. (Hal ini dilakukan karena
didalam Tindak Pidana Lingkungan Hidup ada dikenal Asas Subsidaritas).
Tetapi syarat dari asas Subsidaritas dapat diabaikan apabila dipenuhi tiga syarat/kondisi tersebut dibawah
ini:
1). Tingkat kesalahan pelaku relatif berat.
2). Akibat perbuatannya relatif besar.
3). Perbuatan pelanggaran menimbulkan keresahan masyarakat.
Asas Subsidaritas merupakan penyimpangan terhadap asas legalitas yang berlaku dalam penegakan
hukum pidana mengenai kejahatan kriminal sehari hari ditangani pihak Polri. Tetapi Asas Subsidaritas
tidak diberlakukan dalam penyidikan tindak pidana lingkungan hidup yang diatur diluar UU No.23 Tahun
1997.
IV. Pendapat.
1). Terhadap Perorangan yang melakukan usaha atau kegiatan pertambangan yang telah mengabaikan
utaran Perundang undangan yang berlaku diatas yangmana akibat perbuatannya mengakibatkan terjadinya
Pencemaran atau Perusakan Lingkungan di mana kesalahannya relatif berat, Akibat perbuatannya relatif
besar dan Perbuatan pelanggaran menimbulkan keresahan masyarakat maka dapat dikenakan pasal 41
ayat 1 dan ayat 2 UU No.23 tahun 1999.
Selain Sanksi Pidana dapat juga sekaligus dilakukan upaya Tuntutan Secara Perdata dan Administrasi
serta membayar ganti rugi atas perbuatan yang telah dilakukan.
2). Terhadap Badan Usaha yang telah mengabaikan utaran Perundang undangan yang berlaku diatas
yangmana akibat perbuatannya mengakibatkan terjadinya Pencemaran atau Perusakan Lingkungan di

mana kesalahannya relatif berat, Akibat perbuatannya relatif besar dan Perbuatan pelanggaran
menimbulkan keresahan masyarakat maka dapat dikenakan pasal 45 dan Pasal 46 ayat 1 UU No.23 tahun
1999.
Terhadap Badan Usaha juga dapat diberikan Sanksi tambahan sesuai pasal 47 UU No.23 tahun 1999.
Selain Sanksi Pidana dapat juga sekaligus dilakukan upaya Tuntutan Secara Perdata dan Administrasi
serta membayar ganti rugi atas perbuatan yang telah dilakukan.
3). Terhadap Pemerintah Daerah yang tidak mematahui ketentuan dalam perundang undang dan peraturan
tersebut diatas dengan tidak melaksanakan fungsinya sebagai pembina dan pengawas terhadap kegiatan
atau usaha pertambangan yang dilakukan oleh Badan Usaha atau perorangan yang mengakibatkan
terjadinya Pencemaran maupun kerusakan Lingkungan Hidup berdampak besar dan penting maka :
1. Masyakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat dapat melakukan gugatan Class Action terhadap
pemerintah.
2. Terhadap pejabat pemerintah yang bertanggung jawab atas kegiatan tersebut dapat dipersangkakan
dengan Pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 jo UU No.20 Tahun 2001, yang isinya : Setiap Orang yang
dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu Koorporasi,menyalahgunakan
kewenangan,kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatannya atau kedudukannya yang dapat
merugijan keuangan negara atau perekonomian negara.