Anda di halaman 1dari 21

CASE REPORT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RSUD ABDUL MOELOEK
LAPORAN KASUS
TUMOR INTRAKRANIAL

Oleh :
Lailatus Syifa Selian

Preceptor
dr. Zam Zanariyah, Sp.S, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RSUD ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

KATA PENGANTAR

Pertama saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT. karena atas
rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
Tumor Intrakranial tepat pada waktunya. Adapun tujuan pembuatan laporan
kasus ini adalah sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf RSUD Abdul Moeloek.
Saya mengucapkan terima kasih kepada dr. Zam Zanariyah, Sp.S, M.Kes
yang telah meluangkan waktunya untuk saya dalam menyelesaikan laporan kasus
ini. Saya menyadari banyak sekali kekurangan dalam laporan ini, oleh karena itu
saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga laporan kasus
ini dapat bermanfaat bukan hanya untuk saya, tetapi juga bagi siapa pun yang
membacanya.

Bandar Lampung, Agustus 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................

DAFTAR ISI..................................................................................................

BAB I

LAPORAN KASUS .......................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Definisi ..............................................................................................
Insiden ...............................................................................................
Etiologi ..............................................................................................
Diagnosis ...........................................................................................
Penatalaksanaan .................................................................................
Prognosis ...........................................................................................

14
15
16
18
20
22

BAB III KESIMPULAN...............................................................................

23

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................

25

BAB I
LAPORAN KASUS

Masuk RSUD Abdul Moeloek :


Tanggal 3 Agustus 2014
No. RM : 372951
A. ANAMNESIS
1. Identitas
Nama

: Ny. W

Usia

: 70 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Dusun II Pekalongan Way panji, Lampung selatan

Agama

: Islam

Pekerjaan

: IRT

Status

: Menikah

Suku Bangsa

: Jawa

Dirawat yang ke : 1
2. Riwayat Penyakit
Keluhan Utama

Penurunan kesadaran sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit

Tambahan
tangan kanan dan tungkai kanan lumpuh

Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien datang ke UGD RSAM diantar keluarga dengan keluhan
penurunan kesadaran sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit,
menurut keluarganya sejak 8 hari sebelum masuk rumah sakit
pasien mengalami kelemahan pada tangan dan tungkai sebelah
kanan, semakin hari keluhan terasa bertambah berat hingga lumpuh
saat masuk rumah sakit, tidak ada riwayat trauma, keluhan tidak
disertai sakit kepala dan mual muntah. Pasien belum pernah
mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat hipertensi disangkal, riwayat diabetes mellitus juga
disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti ini
B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Pemeriksaan Generalis
Keadaan umum

GCS

Vital sign

Tekanan darah
Nadi
Pernafasan
Suhu
Gizi
Kepala
Rambut
Mata
Telinga
Hidung
Mulut
Leher
Inspeksi
Palpasi

: Tampak sakit sedang


: E3 V4 M5
: 110/80 mmHg
: 92 kali/menit
: 24 kali/menit
: 36,90 C
: cukup
: hitam dan beruban, tidak mudah dicabut
: konjungtiva anemis, sclera anikterik
: simetris, serumen (-), otorea (-)
: normal, deviasi septum (-), rinore (-)
: bibir kering dan pecah-pecah (+)
: simetris trakea ditengah, JVP meningkat (-)
: Massa (-), pembesaran KGB (-)

Paru-paru
Inspeksi : gerakan pernafasan simetris kanan dan kiri
Palpasi
: fremitus taktil dan ekspansi simetris, massa (-)
Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi : vesikuler (+/+) ronki (-/-) wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi
: iktus kordis tidak teraba
Perkusi : redup
Auskultasi : bunyi jantung I II regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : perut datar, massa (-)
Palpasi
: nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+)

2. Pemeriksaan Neurologis
a. Saraf Cranialis

1. Nervus Olfactorius (N.I)


Daya penciuman hidung : dalam batas normal
2. Nervus Opticus (N.II)
Tajam penglihatan
: VOD >3/60 BS dan VOS >3/60 BS
Lapang penglihatan
: sama dengan pemeriksa
Tes warna
: tidak dilakukan
Fundus oculi
: tidak dilakukan
3. Nervus Oculomotorius, Nervus Trochlearis, Nervus Abdusen
(N.III N.IV N.VI)
Kelopak mata
Ptosis
(-/-)
Lagoftalmus (-/-)
Endophtalmus (-/-)
Exopthalmus (-/-)
Pupil
Ukuran
: (3mm/3mm)
Bentuk
: (bulat/bulat)
Isokor
: (+)
Posisi
: (central)
Reflex cahaya
: (+/+)
Gerakan bola mata
Medial, lateral
: normal
Superior, inferior
: normal
Obliqus superior
: normal
Obliqus inferior
: normal
4. Nervus Trigemenus (N.VI)
Sensibilitas
Ramus oftalmikus
: normal
Ramus maksilaris
: normal
Ramus mandibularis : normal
Motorik
M. maseter
: normal
M. temporalis
: normal
M. pterigoides
: normal
5. Nervus Fascialis (N.VII)
Inspeksi wajah sewaktu
Diam
: simetris
Senyum
: simetris
Meringis
: simetris
Menutup mata
: simetris
Pasien diminta untuk
Mengerutkan dahi
: simetris
Mengangkat alis
: simetris
Menutup mata kuat : simetris
Sensoris
Pengecapan 2/3 depan lidah : normal
6. Nervus vestibulocochlearis (N.VIII)
N.cochlearis

Ketajaman pendengaran
: normal
Tinnitus
: normal
N.vestibularis
Tes vertigo
: tidak dilakukan
Nistagmus
: (-/-)
7. Nervus Glosofaringeus (N.IX) dan Nervus Vagus (N.X)
Suara bindeng/nasal
: tidak ada
Uvula
: ditengah
Palatum mole
: normal
Arcus palatoglossus
: normal
Arcus palatofaringeus
: normal
Reflek batuk
: (+)
Reflek muntah
: (+)
Peristaltic usus
: (+)
Bradikardi
: (-)
Takikardi
: (-)
8. Nervus aksesorius (N.XI)
M. sternocleidomastoideus
: dalam batas normal
M. Trapezius
: dalam batas normal
9. Nervus Hipoglosus (N.XII)
Deviasi
: tidak ada
Atropi
: tidak ada
Fasikulasi
: tidak ada
b. Tanda rangsang meningeal
Kaku kuduk
: (-)
Kernig sign
: (-)
Lasseque
: (-)
Brudzinky I
: (-)
Brudzinky II
: (-)
c. System motorik ekstremitas
Superior
Gerakan
Kekuatan otot
Tonus
Klonus
Atropi
Inferior
Gerakan
Kekuatan otot
Tonus
Klonus
Atropi
Refleks fisiologis
Biceps
Triceps
Patella
Achilles

: tidak aktif/aktif
: 2/5 5/5
: (-/-)
: (-)
: (-)
: tidak aktif/aktif
: 0/5 5/5
: (-/-)
: (-/-)
: (-/-)
: (+/+)
: (+/+)
: (+/+)
: (+/+)

Reflex patologis
Babinsky
: (+/-)
Chaddock
: (-/-)
Gordon
: (-/-)
Gonda
: (-/-)
Schaefner
: (-/-)
Oppenheim
: (-/-)
Hoffman trimmer
: (-/-)
d. Sensibilitas
Eksteroseptif/rasa permukaan
Rasa raba
: hipoestesi dari betis sampai telapak
Rasa nyeri
: dapat dirasakan
Rasa suhu panas
: tidak dilakukan
Rasa suhu dingin
: tidak dilakukan
e. Susunan saraf otonom
Miksi
: normal
Defekasi
: normal
Salivasi
: normal
f. Fungsi luhur
Fungsi bahasa
: tidak dilakukan
Fungsi orientasi
: tidak dilakukan
Fungsi memori
: tidak dilakukan
Fungsi emosi
: tidak dilakukan
C. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium tanggal 4 agustus 2014
Hematologi
-

Hb
: 12,8
LED
: 45
Leukosit
: 9400
Masa perdarahan
: 3
Masa pembekuan
: 10

Kimia Darah
- Kolesterol total
- HDL
- LDL
- trigliserida
- asam urat

: 227
: 43
: 178
: 152
: 4,4

CT Scan tanpa kontras potongan axial pada tanggal 5 agustus 2014


tampak lesi hipodens dengan isodens di perifer disertai

perifocal oedema di lobus frontalis sinistra


ventrikel lateralis sinistra menyempit
struktur mediana terdeviasi ked extra

kesan : massa di lobus frontalis sinistra dengan herniasi subfalcine


D. Diagnosis
Klinis
: hemiparese dextra
Topis
: lobus frontalis sinistra
Etiologi
: space occupying lesion
E. Prognosis
Quo ad vitam
: dubia
Quo ad functionam : dubia
F. Penatalaksanaan
1.

IVFD RL

2.

Ceftriaxone

3.

Ranitidin

4.

Paracetamol

5.

Vit B19

6.

Dexamethasone

7.

Bisoprolol

8.

Simvastatin

9.

Isosorbit dinitrat

10.

Aspilet

11.

Anjuran operasi namun keluarga menolak

ANALISA KASUS

1. Apakah diagnosis kasus diatas sudah benar?


Pasien ini didiagnosis hemiparese dextra et causa Space Occupying
Lesion berdasarkan anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang
Anamnesis :
Berdasarkan anamnesis didapatkan keluhan ekstremitas atas dan bawah
sebelah kanan mengalami kelumpuhan yang progresif. Keluhan ini tidak
dipicu oleh trauma, riwayat hipertensipun tidak ada yang dapat
menyingkirkan

kemungkinan

diagnosis

stroke. Kelumpuhan

yang

progresif atau tidak memdadak juga dapat menyingkirkan diagnosis


stroke.
Pemeriksaan fisik :
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan penurunan kekuatan otot pada
ekstremitas sebelah kanan, pemeriksaan ini kurang spesifik untuk
menyingkirkan diagnosis, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang
yang dapat memastikan penyebabnya.
Pemeriksaan penunjang :
Setelah dilakukan CT Scan tanpa kontras potongan axial dengan hasil :
tampak lesi hipodens dengan isodens di perifer disertai

perifocal oedema di lobus frontalis sinistra


ventrikel lateralis sinistra menyempit
struktur mediana terdeviasi ked extra

kesan : massa di lobus frontalis sinistra dengan herniasi subfalcine

berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,


didapatkan hasil yang sejalan, terdapat tumor pada lobus frontalis sinistra
yang berakibat hemiparese pada ekstremitas kontralateral lesi.

2. Apakah penatalaksanaan pasien diatas sudah benar?


Pada pasien diatas dianjurkan untuk dilakukan operasi, yang bertujuan
untuk mengangkat massa tumor tersebut, selain itu dengan pembedahan
dapat diambil jaringan tumornya dan dilakukan pemeriksaan patologi
anatomi untuk mengetahui apakah tumor tersebut mengarah ganas atau
tidak. Penentuan ganas atau tidaknya ini akan berpengaruh terhadap
pemilihan

terapi

selanjutnya,

namun

karena

keluarga

menolak

dilakukannya operasi, penatalaksanaan pada kasus ini tidak selesai


meskipun

medikamentosa

diberikan,

tidak

dapat

menyelesaikan

permasalahan utamanya, sehingga medikamentosa saja kurang adekuat.

TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI OTAK
1. Hemisfer serebri
Hemisfer serebri memiliki empat lobus: frontal, parietal, oksipital,
dan temporal. Lobus frontal dipisahkan dari lobus parietal oleh sulkus
sentralis (Rolandi), lobus parietal dipisahkan dari lobus oksipital oleh
sulkus parietooksipitalis, sementara lobus temporal dipisahkan dari
lobus frontal dan parietal oleh fissura sylvii (lateralis). Diensefalon
berisi talamus dan hipotalamus. Talamus berada di sisi kanan dan kiri
ventrikel ketiga dan berhubungan satu sama lain pada struktur
intermedia. Hipotalamus berada di lantai ventrikel ketiga, di atas
chiasma opticus dan sisterna suprasellar.
2. Brain stem
Brain

stem

mielensefalon.

terdiri

dari

mesensefalon,

metensefalon,

Mesensefalon

berdiferensiasi

menjadi

dan

midbrain.

Metensefalon akan berkembang menjadi pons dan serebellum.


Mielensefalon akan menjadi medulla.
3. Serebellum
Serebellum berada di ruang infratentorial, di posterior dari brain
stem. Anatomi serebellum sangat kompleks, dengan banyak area yang
memiliki

namanya

masing-masing.

Untuk

lebih

mudahnya,

kebanyakan ahli memisahkan serebellum menjadi vermis superior dan


inferior dan istilah hemisfer cerebelli digunakan untuk bagian lateral
dan sentral serebellum.
4. Korpus kallosum
Permukaan medial dari otak didominasi oleh korpus kallosum.
Bangunan ini merupakan bagian white matter yang menghubungan
kedua hemisfer cerebri.
5. Deep gray nuclei
Ganglia

basalis

memiliki

sejumlah

nama

dalam

literatur

neuroanatomi. Ganglia basalis merupakan struktur gray matter yang


berada di antara insula dan midline. Globus palidus adalah struktur

gray matter yang berada di lateral genu kapsula interna. Di superfisial


dari globus palidus adalah putamen. Nukleus kaudatus berada di kornu
frontalis ventrikel lateralis, dan di anterior dari globus palidus.
6. Sistem ventrikel
Volume normal cairan serebrospinal (CSF) di seluruh SSP adalah
sekitar 150 mL, dimana 75 mL didistribusikan di sekitar saraf spinal,
25 mL di dalam sistem ventrikel, dan 50 mL berada di sekitar sulci
kortikal dan di sisterna yang berada di basis otak. Aliran CSF berjalan
dari pleksus koroideus di lantai ventrikel lateralis, melalui foramen
Monro, ke ventrikel ketiga, akuaduktus silvius, dan masuk ke ventrikel
keempat. Setelah masuk ke foramen Magendie (medial) dan Luschka
(lateral) dari ventrikel keempat, CSF mengalir ke sisterna dan rongga
subarahnoid regio servikal, kemudian mengalir ke inferior memasuki
kompartemen spinal intratekal.
B. DEFINISI
Tumor otak adalah suatu massa abnormal yang ada di dalam
tengkorak yang disebabkan oleh multipikasi sel-sel yang berlebihan dan
menyebabkan adanya proses desak ruang. Tumor otak (tumor intrakranial)
meliputi lesi benigna dan maligna. Tumor otak dapat terjadi pada beberapa
struktur area otak dan pada semua kelompk umur. Tumor otak dinamakan
sesuai dengan jaringan dimana tumor itu muncul.
Tumor otak jarang bermtastasi keluar dari dari sistem syaraf pusat
tapi menyebabkan kematian dengan cara merusak fungsi vital / terlibat
secara langsung meningkatkan intrakranial.
Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal
didalam otak, tetapi tidak ganas.
Tumor otak maligna adalah kanker didalam otak yang berpotensi
menyusup dan menghancurkan jaringan sebelahnya / yang telah menyebar
keotak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.

C. EPIDEMIOLOGI

Data dari USA dilaporkan bahwa setiap tahunnya di Aerika


dijumpai 38.000 kasus baru neoplasma intracranial primer. Tahun 2001
dijumpai lebih dari 180.000 kasus neoplasma intracranial. Insidensi
neoplasma intracranial lebih sering dijumpai padalaki-laki disbanding
perempuan, dengan kelompok usia terbanyak sekita 65-79 tahun.
D. ETIOLOGI
Penyebab tumor masih sangat sedikit yang diketahui. Radiasi
merupakan salah satu dari factor penyebab timbulnya tumor otak. Trauma,
infeksi, dan toksin belum dapat dibuktikan sebagai penyebab timbulnya
tumor otak tetapi bahan industri tertentu seperti nitrosourea adalah
krasinogen yang paten. Limfoma lebih sering terdapat pada mereka yang
mendapat imunosupesan seperti pada transplantasi ginjal. Sumsum tulang
dan pada AIDS.
E. KLASIFIKASI
Stadium tumor berdasarkan sistem TNM ( stadium TNM ). Terdiri
dari 3 kategori, yaitu : T ( tumor primer ), N ( nodul regional, metastase ke
kelenjar limfe regional ) dan M ( metastase jauh ).
Kategori T :
Tx = syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi.
Tis = Tumor in situ.
T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer.
T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm.
T2 = Tumor dengan f maksimal 2 5 cm.
T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm.
T4 = Tumor invasi keluar organ.
Kategori N :
N0 = Nodul regional negative.
N1 = Nodul regional positif, mobile ( belum ada perletakan ).
N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan.
N3 = Nodul jukstregional atau bilateral.
Kategori M :
Mo = Tidak ada metastase organ jauh.
M1 = Ada metastase organ jauh.
M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.
Tumor otak dapat diklasifikasikan sebagai berikut yaitu :
1. Benigna umumnya ekstra aksial, yaitu tumbuh dari meningen,
nervus kranialis, atau struktur lain dan menyebabkan kompresi
ekstrinsik pada substansi otak.

2. Maligna umumnya intra aksial yaitu berasal dari parenkim otak :


a) Primer umumnya berasal dari sel glia/neurobia ( glioma )
tumor ini diklasifikasikan maligna karena sifat invasif
lokal, metastasis ekstrakranial sangat jarang, dan dikenali
sebagai subtipe histologi dan derajat diferensiasi.
b) Sekunder metastasis dari tumor maligna dari bagian tubuh
lainnya.
F. MANIFESTASI KLINIS
Menurut lokasi tumor :
1. Lobus frontalis
Gangguan mental / gangguan kepribadian ringan : depresi,
bingung, tingkahlaku aneh, sulit memberi argumentasi / menilai
salah atau benar, hemiparesis, ataksia dan gangguan bicara.
2. Korteks presentalis poterior
Kelemahan / kelumpuhan pada otot-otot wajah, lidah dan jari.
3. Lobus parasentalis
Kelemahan ekstrimitas bawah.
4. Lobus oksipintalis
Kejang, gangguan penglihatan.
5. Lobus temporalis
Tinitus, halusinasi pendengaran, afasia senorik, kelumpuhan otot
wajah.
6. Lobus parietalis
Hilang fungsi sensorik karotikalif, gangguan lokalisasi sensorik,
gangguan penglihatan.
7. Ceribulum
a) Nyeri kepala, gangguan motorik, hipotonia, hiperextrimitas,
sendi.
b) Tanda dan gejala umum :
c) Nyeri kepala berat pada pagi hari, makin bertambah bila
batuk membungkuk.
d) Kejang.
e) Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial : pandangan
kabur, mual, muntah, penurunan fungsi pendengaran,
perubahan TTV, afasia.
f) Perubahan kepribadian.
g) Gangguan memory.
h) Gangguan alam perasaan.

Lokasi Tumor

Manifestasi Klinis

Lobus Frontalis

Lobus Temporalis

Lobus Parietalis

Kelemahan lengan dan tungkai kontralateral


Perubahan kepribadian : antisocial, kehilangan kemampuan
inhibisi, kehilangan inisiatif, penurunan tingkat intelektual
(misalnya deemensia, terutama jika korpus kalosum terlibat)
Afasia sensorik (bila yang terkena lobus temporalis dominan)
Gangguan lapang pandang (upper homonymous quadranta nopia)

Lobus Oksipitalis

Gangguan sensorik (lokalisasi sentuh, diskriminasi dua titik,


gerakan pasif, astereognosis)
Gangguan lapang pandang (lower homonymous quadrantanopia)
Jika tumor pada lobus parietalis hemisfer dominan, dapat terjadi
kebingungan cara membedakan kanan dan kiri, agnosia jari,
akalkulia, dan agrafia
Jika tumor pada lobus parietalis hemisfer yang nondominan, dapat
terjadi apraksia.
Gangguan lapangan pandang (hemianopsia homonim)

Korpus Kalosum

Sindrom diskoneksi

Hipotalamus
Hipofisis

Gangguan endokrin

Batang Otak

Penurunan kesadaran
Tremor
Kelainan gerakan bola mata
Abnormalitas pupil
Muntah, cegukan (medula)
Ataksia
Tremor intensional
Dismetria
Disartia

Serebelum

nistagmus

G. PATOFISIOLOGI
Tumor otak menyebabkan gangguan neurolagis. Gejala-gejala
terjadi berurutan hal ini menekankan pentingnya anamnesis dalam
pemeriksaan klien. Gejala neurologik pada tumor otak biasanya dianggap
disebabkan oleh tumor dan tekanan intrakranial. Gangguan vocal terjadi
apabila penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi / inovasi langsung pada
parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor
yang tumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak.
Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi
sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan
dengan gangguan cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuro
dihubungkan dengan kompersi invasi dan perubahan suplai darah
kejaringan otak.
Peningkatan intrakranial dapat diakibatakan oleh beberapa factor :
bertambahnya masa dalam tengkorak , terbentuknya oedema sekitar tumor
dan perubahan sirkulasi serebrospinal.
Pertumbuhan tumor akan menyebabkan bertambahnya massa
karena tumor akan mengambilkan ruang yang relatif dari ruang tengkorak
yang kaku.
Tumor

ganas

menimbulkan

odem

dalam

jaringan

otak.

Mekanisme belum sepenuhnya dipahami namun diduga disebabkan selisih


osmotik yang menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena oedema yang
disebabkan kerusakan sawar darah otak semuanya menimbulkan kenaikan
volume inntrakranial. Observasi sirkulasi cairan serebrospinal dari
vantrikel laseral keruang sub arakhnoid menimbulkan hidrosephalus.
Peningkatan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi
secara cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicaraknan
sebelumnya. Mekanisme kompensasi memrlukan waktu berhari-hari /
berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna
bila apabila tekanan intrakranial timbul cepat.

Mekanisme kompensasi ini bekerja menurunkan volume darah


intrakranial, volume cairan cerborspinal, kandungan cairan intrasel dan
mengurangi sel-sel parenkim.
Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi
ulkus/ serebulum.herniasi timbul bila girus medalis lobus temporalis
bergeser keinterior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemister
otak. Herniasi menekan ensefalon menyebabkan kehilangan kesadaran dan
menekan saraf ke tiga.
Pada herniasi serebulum tonsil sebelum bergeser kebawah melalui
foramen magnum oleh suatu massa poterior.

H. PATHWAY
Idiopatik
Tumor otak
Penekanan jaringan otak
Invasi jaringan otak

Bertambahnya massa
Nekrosis jar. otak

Kerusakan jar. Neuron


( Nyeri )

Gang.
Suplai darah

Kejang

Gang.
Neurologis
fokal

Gang.
Fungsi otak

Defisit
neurologis

Disorientasi

Aspirasi
sekresi
Obs. Jln
nafas
Dispnea
Henti
nafas
Perubah
an pola

Gang.
Pertukaran
gas
( Suddart, Brunner.
2001 )

Resti. Cidera

Cemas
Gang. Rasa
nyaman

Hipoksia
jaringan

Obstruksi vena di otak

Gang.
Perfusi
jaringan

Oedema

Peningkatan
TIK

Hidrosefalus

Perubanah
proses pikir

Bradikardi progresif,
hipertensi sitemik, gang.
pernafasan
Ancaman
kematia

Penyerapan cairan otak

Bicara terganggu,
afasia

Hernialis
ulkus

Gang. Komunikasi

Menisefalon
tekanan

verbal

Mual, muntah,
papileodema, pandangan
kabur, penurunan fungsi
pendengaran, nyeri
kepala

Gang.
kesadar
an

I. KOMPLIKASI
1. Edema serebral.
2. Tekanan intrakranial meningkat.
3. Herniasi otak.
4. Hidrosefalus.
5. Kejang.
6. Metastase ketempat lain.
J. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rontgent tengkorak
Untuk diagnostik sekurang-kurangnya diambil dari dua arah yaitu
2.
3.
4.
5.

antero poterior dan lateral.


Angiograf serebral.
EEG.
CT. Scan.
MRI.

K. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN


1. Terapi radiasi.
2. Kemoterapi.
3. Prosedur pembedahan otak.
4. Laser karbondioksida.
5. Transplantasi sumsum tulang.
6. Implantasi radioisotop.
7. Ganti balut.
8. Relaksasi nafas dalam.

DAFTAR PUSTAKA
1. Harsono. 1999. Tumor otak dalam Buku Ajar Neurologi Klinis edisi I.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press. hlm 201-2017.
2. Mardjono M. 2008. Proses neoplasmatik di susunan saraf. Dalam
neurologi klinis dasar. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Hlm 390-402.
3. Price SA, LM Wilson. 2005. Patofisiologi konsep klinis proses-proses
penyakit volume 1 edisi 6. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Hlm. 11831189.
4. Harsono. 2008. Buku ajar neurologi klinis. Yogyakarta: Gajah Mada Hlm
201-207.
5. Mardjono M. 2006. Neurologi klinis dasar. Jakarta: Dian Rakyat. Hlm
390-396.