Anda di halaman 1dari 34

No.

17/11/DKSP

Jakarta, 1 Juni 2015

No. 17/11/DKSP

Jakarta, June 1, 2015

SURAT EDARAN

CIRCULAR
Perihal: Kewajiban Penggunaan Rupiah di Subject: Mandatory Use of Rupiah in the Territory
of the Unitary State of the Republic of
Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia
Indonesia
Sehubungan dengan berlakunya Peraturan
Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015 tentang
Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 70,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5683), perlu diatur ketentuan pelaksanaan
mengenai kewajiban penggunaan Rupiah di
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dalam Surat Edaran Bank Indonesia sebagai
berikut:

With the issuance of Regulation of Bank


Indonesia Number 17/3/PBI/2015 concerning
Mandatory Use of Rupiah in the Territory of the
Unitary State of the Republic of Indonesia (State
Gazette of the Republic of Indonesia Number 70
of 2015, Supplement to the State Gazette of the
Republic of Indonesia Number 5683), it is
necessary to issue an ancillary regulation
concerning Mandatory Use of Rupiah in the
Territory of the Unitary State of the Republic of
Indonesia in the form of Circular of Bank
Indonesia, as follows:

I.

I.

KETENTUAN UMUM

GENERAL PROVISIONS

A. Kewajiban penggunaan Rupiah di


Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia menganut asas teritorial. Setiap
transaksi yang dilakukan di Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia,
baik dilakukan oleh penduduk maupun
bukan penduduk, transaksi tunai maupun
non tunai, sepanjang dilakukan di
Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia wajib menggunakan Rupiah.

A. Mandatory Use of Rupiah in the Territory


of the Unitary State of the Republic of
Indonesia embraces the territorial
principle. Any transaction, as long as
made in the Territory of the Unitary State
of the Republic of Indonesia, either by
residents or non-residents, cash or noncash, must use Rupiah.

B. Transaksi dan pembayaran merupakan


satu kesatuan. Terhadap transaksi yang
dilakukan di Wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia maka penerimaan
pembayarannya wajib dalam Rupiah.

B. Transactions and payment are unity. Any


transaction made in the Territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia must receive payment in
Rupiah.

Contoh:

E.g.

Perusahaan A sebagai pelayaran asing


menggunakan jasa kepelabuhanan di
Indonesia yang dikelola oleh PT B.
Perusahaan
A
dapat
melakukan
pembayaran secara tunai melalui agen
dengan menggunakan mata uang Rupiah
atau
melalui
transfer
dengan
menggunakan mata uang negaranya.
Dalam hal pembayaran dilakukan melalui
transfer maka PT B wajib menerima
pembayaran dari Perusahaan A dalam
mata uang Rupiah.

Company A, as a foreign shipping line,


uses port services in Indonesia that is
provided by PT B. Company A may
make payment in Rupiah cash through an
agent or by transfer using currency of its
own country. In case of payment by
transfer, PT B must receive payment from
Company A in Rupiah currency.

Translated by: Wishnu Basuki


wbasuki@gmail.com

C. Kewajiban penggunaan Rupiah dalam


setiap transaksi sebagaimana dimaksud
dalam huruf A tidak berlaku bagi
transaksi sebagai berikut:
1.

transaksi tertentu dalam rangka


pelaksanaan anggaran pendapatan
dan belanja negara yang meliputi:

C. Mandatory use of Rupiah in any


transaction as referred to in point (A)
shall not apply to the following
transactions:
1.

certain transactions with respect to


the state budget, including:

a.

pembayaran utang luar negeri;

a.

repayment of foreign debts;

b.

pembayaran utang dalam negeri


dalam valuta asing;

b.

repayment of domestic debts in


foreign currencies;

c.

belanja barang dari luar negeri;

c.

foreign expenditure;

d.

belanja modal dari luar negeri;

d.

foreign capital expenditure;

e.

penerimaan negara yang berasal


dari penjualan surat utang
negara dalam valuta asing; dan

e.

state revenues from sovereign


bond sale in foreign currencies;
and

f.

transaksi lainnya dalam rangka


pelaksanaan
anggaran
pendapatan dan belanja negara,
seperti setoran pajak, visa on
arrival, dan penerimaan negara
bukan pajak;

f.

other transactions with respect to


the state budget, such as tax
payment, visa on arrival, and
non-tax state revenues;

2.

penerimaan atau pemberian hibah


dari atau ke luar negeri yang
dilakukan oleh para pihak yang salah
satunya berkedudukan di luar negeri;

2.

transactions of receipt or provision of


gifts from or to abroad that is made
by the parties, one of whom is
domiciled abroad;

3.

transaksi perdagangan internasional


yang meliputi:

3.

international
including:

trade

transactions,

a.

kegiatan ekspor dan/atau impor


barang ke atau dari luar wilayah
pabean Republik Indonesia;
dan/atau

a.

export and/or import of goods to


or from outside the customs
zones of the Republic of
Indonesia; and/or

b.

kegiatan perdagangan jasa yang


melampaui batas wilayah negara
yang dilakukan dengan cara:

b.

cross border trade in services in


the form of:

1) pasokan lintas batas (cross


border supply), misalnya
pembelian secara online
(dalam
jaringan)
atau
melalui
call
center.
Termasuk
pengertian
pasokan lintas batas adalah
tenaga ahli yang memiliki
keahlian
tertentu
yang
ditugaskan oleh kantor
induknya di luar negeri
untuk bekerja di Indonesia;

1) cross border supply, e.g. by


online purchase or by call
center. Cross border supply
includes
experts
with
specific expertise who is
assigned by their head
office abroad to work in
Indonesia; and

dan
2) konsumsi di luar negeri
(consumption
abroad),
misalnya warga negara
Indonesia yang kuliah di
luar negeri atau menjalani
perawatan di rumah sakit
luar negeri;

2) consumption abroad, e.g. an


Indonesian citizen who
studies at the college abroad
or
receives
medical
treatment at the hospital
abroad;

4.

simpanan di Bank dalam bentuk


valuta asing seperti tabungan valuta
asing atau deposito valuta asing; atau

4.

Bank savings in foreign currencies,


such as foreign currency-based
savings or foreign currency-based
deposits; or

5.

transaksi pembiayaan internasional


yang dilakukan oleh para pihak yang
salah satunya berkedudukan di luar
negeri seperti pemberian kredit oleh
Bank di luar negeri kepada nasabah
di Indonesia.

5.

international financing transactions


made by parties, one of whom is
domiciled abroad, such as provision
of credits by a Bank abroad to a
customer in Indonesia.

D. Kewajiban penggunaan Rupiah dalam


setiap transaksi sebagaimana dimaksud
dalam huruf A tidak berlaku untuk
transfer dana dalam valuta asing dari
individu di dalam negeri kepada pihak di
luar negeri yang tidak dimaksudkan
sebagai pembayaran atau penyelesaian
kewajiban yang timbul dari transaksi di
wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

D. Mandatory use of Rupiah as referred to in


point (A) shall not apply to the transfer of
funds in foreign currencies from an
individual in home country to a party
abroad if such is not intended as payment
or settlement of obligations arising out of
the transaction in the territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia.

E. Kewajiban penggunaan Rupiah dalam


setiap transaksi sebagaimana dimaksud
dalam huruf A juga tidak berlaku untuk
transaksi dalam valuta asing yang
dilakukan
berdasarkan
ketentuan
Undang-Undang yang meliputi:

E. Mandatory use of Rupiah in any


transaction as referred to in point (A)
shall not apply either to any foreign
currency transaction made under the
Laws that include:

1.

Kegiatan usaha dalam valuta asing


yang
dilakukan
oleh
Bank
berdasarkan Undang-Undang yang
mengatur mengenai perbankan dan
perbankan syariah yang meliputi
antara lain:

1.

foreign currency-based business


activities conducted by a Bank under
the Laws concerning banking and
shariah banking, including, inter alia:

a.

kredit dalam valuta asing untuk


kegiatan ekspor dan kegiatan
lainnya;

a.

credits for export and other


activities in foreign currencies;

b.

pasar uang antar Bank dalam


valuta asing;

interbank call money in foreign


currencies;

c.

obligasi dalam valuta asing;

c.

bonds in foreign currencies;

d.

sub-debt dalam valuta asing;

d.

sub-debt in foreign currencies;


3

e.

jual beli surat berharga dalam


valuta asing; dan

e.

sale and purchase of negotiable


instruments
in
foreign
currencies; and

f.

transaksi perbankan lainnya


dalam valuta asing yang diatur
dalam Undang-Undang yang
mengatur mengenai perbankan
dan perbankan syariah beserta
peraturan pelaksanaanya.

f.

other banking transactions in


foreign currencies as governed
by Laws concerning banking
and shariah banking along with
their ancillary regulations.

These
foreign
currency-based
business activities also include fees
charged by Banks for those activities.

Dalam pengertian kegiatan usaha


dalam valuta asing tersebut termasuk
pula biaya (fee) yang dikenakan oleh
Bank dalam pelaksanaan kegiatan
usaha tersebut.
2.

3.

Transaksi di pasar perdana dan pasar


sekunder atas surat berharga dalam
valuta asing yang diterbitkan oleh
Pemerintah berdasarkan UndangUndang yang mengatur mengenai
surat utang negara dan surat berharga
syariah negara.

2.

Primary market and secondary


market transactions of negotiable
instruments in foreign currencies
issued by the Government under the
Laws concerning sovereign bonds
and Islamic bonds.

Contoh:

E.g.

Transaksi sukuk global dalam valuta


asing
yang
diterbitkan
oleh
Pemerintah.

Global Government-issued Islamic


bonds transactions in foreign
currencies.

Transaksi lainnya dalam valuta asing


yang dilakukan berdasarkan UndangUndang.

3.

Other transactions in foreign


currencies made under the Laws.

Contoh:

E.g.

Transaksi pembiayaan di dalam


negeri dalam valuta asing oleh
Lembaga
Pembiayaan
Ekspor
Indonesia
(LPEI)
berdasarkan
Undang-Undang yang mengatur
mengenai lembaga pembiayaan
ekspor Indonesia.

A financing transaction in home


country made by the Indonesia
Credit Export Agency (LPEI) in
foreign currencies under the Laws
that govern Indonesia credit export
agency.

F. Setiap pihak dilarang menolak untuk


menerima Rupiah yang penyerahannya
dimaksudkan sebagai pembayaran atau
untuk menyelesaikan kewajiban yang
harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau
untuk transaksi keuangan lainnya di
Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

F. Any party is prohibited from rejecting to


receive Rupiah which is delivered to pay
or settle the obligations payable in
Rupiah and/or in any other financial
transactions in the territory of the Unitary
State of the Republic of Indonesia.

Contoh:

E.g.

Penyedia barang dan/atau jasa dilarang


menolak untuk menerima Rupiah dari

Any goods and/or services provider is


prohibited from rejecting to receive
4

pengguna barang dan/atau jasa.


G. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
huruf F dikecualikan dalam hal:

Rupiah from goods and/or services users.


G. The provision of point (F) shall be
exempted where:

1.

terdapat keraguan atas keaslian


Rupiah yang diterima untuk transaksi
tunai; atau

1.

the party is doubtful about the


genuineness of Rupiah received in a
cash transaction; or

2.

pembayaran
atau
penyelesaian
kewajiban dalam valuta asing telah
diperjanjikan secara tertulis.

2.

the payment or settlement of


obligations in foreign currencies is
made under the written agreement.

H. Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud


dalam butir G.2 hanya dapat dilakukan
untuk:

H. A written agreement as referred to in


point (G.2) may be entered into only for:

1.

transaksi yang dikecualikan dari


kewajiban
penggunaan
Rupiah
sebagaimana dimaksud dalam huruf
C dan huruf E; atau

a.

transactions that are exempted from


the mandatory use of Rupiah as
referred to in point (C) and point (E);
or

2.

proyek infrastruktur strategis dan


mendapat persetujuan pengecualian
kewajiban penggunaan Rupiah dari
Bank Indonesia.

b.

strategic infrastructure projects upon


approval of Bank Indonesia for
exemption from the mandatory use
of Rupiah.

I.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan


kewajiban penggunaan Rupiah, pelaku
usaha baik perseorangan maupun
korporasi wajib mencantumkan harga
barang dan/atau jasa hanya dalam
Rupiah.

I.

In furtherance of the mandatory use of


Rupiah, any business operator must,
whether individuals or corporations,
price-tag/label goods and/or services in
Rupiah only.

J.

Bank Indonesia berwenang untuk


meminta laporan, keterangan, dan/atau
data kepada setiap pihak yang terkait
dengan
pelaksanaan
kewajiban
penggunaan Rupiah dan kewajiban
pencantuman harga barang dan/atau jasa
dalam Rupiah.

J.

Bank Indonesia shall be authorized to


request reports, descriptions, and/or data
from any party involved in the mandatory
use of Rupiah and the mandatory pricetagging/labelling of goods and/or services
in Rupiah.

K. Bank Indonesia melakukan pengawasan


terhadap kepatuhan setiap pihak dalam
melaksanakan kewajiban penggunaan
Rupiah dan kewajiban pencantuman
harga barang dan/atau jasa dalam Rupiah.

K. Bank Indonesia shall supervise the


compliance of any party with the
mandatory use of Rupiah and the
mandatory price-tagging/labelling of
goods and/or services in Rupiah.

L. Dalam hal terdapat permasalahan bagi


pelaku usaha dengan karakteristik
tertentu terkait pelaksanaan kewajiban
penggunaan Rupiah untuk transaksi non
tunai, Bank Indonesia dapat mengambil
kebijakan
tertentu
dengan
tetap
memperhatikan kewajiban penggunaan
Rupiah.

L. In case there are issues of certain


characteristics affecting the business
operators in connection with the
implementation of the mandatory use of
Rupiah in non-cash transactions, Bank
Indonesia may adopt a certain policy with
due regard to the mandatory use of
Rupiah.
5

II. KEWAJIBAN PENCANTUMAN HARGA


BARANG DAN/ATAU JASA DALAM
RUPIAH
A. Setiap pelaku usaha di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia wajib
mencantumkan harga barang dan/atau
jasa hanya dalam Rupiah dan dilarang
mencantumkan harga barang dan/atau
jasa dalam Rupiah dan mata uang asing
secara bersamaan (dual quotation).

II. MANDATORY PRICE-TAGGING/


LABELLING OF GOODS AND/OR
SERVICES IN RUPIAH
A. Any business operator in the territory of
the Unitary State of the Republic of
Indonesia must price-tag/label goods
and/or services in Rupiah only and is
prohibited from putting price-tags/labels
of goods and/or services in Rupiah and in
a foreign currency together (dual
quotation).

Contoh larangan dual quotation:

E.g.

Toko A mencantumkan harga 1 buah


komputer sebesar Rp15.000.000,00 dan
USD1,500.00 secara bersamaan.

Store A puts the price tag/label of


Rp15,000,000 and USD1,500 on 1
computer set together.

B. Kewajiban dan larangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf A antara lain
berlaku untuk:

B. Mandatory price-tagging/labelling and


prohibition of price-tagging/labelling as
referred to in point (A) shall apply to,
inter alia:

1.

label harga, seperti label harga yang


tercantum pada barang;

1.

price tags/labels, such as price


tags/labels on goods;

2.

biaya jasa (fee), seperti fee agen


dalam jual beli properti, jasa
kepariwisataan, jasa konsultan;

2.

fees, such as property purchase fees


for agents, tourism fees, consulting
fees;

3.

biaya sewa menyewa, seperti sewa


apartemen, rumah, kantor, gedung,
tanah, gudang, kendaraan;

3.

rent/leasing fees, such as apartments,


houses, offices, buildings, land,
warehouses, vehicles;

4.

tarif, seperti tarif bongkar muat peti


kemas di pelabuhan atau tarif tiket
pesawat udara, kargo;

4.

rates/tariffs, such as container


loading/unloading tariffs at port, or
airfares, cargo tariffs;

5.

daftar harga, seperti daftar harga


menu restoran;

5.

price lists, such as restaurants food


price lists;

6.

kontrak, seperti klausul harga atau


biaya yang tercantum dalam kontrak
atau perjanjian;

6.

contracts, such as a clause on prices


or fees stated in the contracts or
agreements;

7.

dokumen penawaran, pemesanan,


tagihan, seperti klausul harga yang
tercantum dalam faktur, delivery
order, purchase order; dan/atau

7.

bidding
documents,
orders,
invoices/bills, such as a clause on
prices stated in the invoices/bills,
delivery orders, purchase orders,
and/or

8.

bukti pembayaran, seperti harga yang


tercantum dalam kuitansi.

8.

payment receipts, such as prices


stated in the receipts.

C. Kewajiban dan larangan pencantuman


harga barang dan/atau jasa dalam Rupiah
sebagaimana dimaksud dalam huruf A

C. Mandatory price-tagging/labelling and


prohibition of price-tagging/labelling of
goods and/or services in Rupiah as
6

dan huruf B berlaku pula untuk


pencantuman harga barang dan/atau jasa
melalui media elektronik.
III. PELAKSANAAN KEWAJIBAN
PENGGUNAAN RUPIAH UNTUK
PROYEK INFRASTRUKTUR STRATEGIS
YANG DIPERJANJIKAN SECARA
TERTULIS
A. Proyek infrastruktur mencakup proyek
sebagai berikut:

referred to in point (A) and point (B)


shall also apply to price-tagging/labelling
of goods and/or services in the electronic
media.
III. IMPLEMENTATION OF MANDATORY
USE OF RUPIAH IN THE STRATEGIC
INFRASTRUCTURE PROJECTS THAT
ARE MADE UNDER THE WRITTEN
AGREEMENTS
A. The infrastructure projects shall include
the following projects:

1.

infrastruktur transportasi, meliputi


pelayanan jasa kebandarudaraan,
penyediaan dan/atau pelayanan jasa
kepelabuhanan, sarana dan prasarana
perkeretaapian;

1.

transportation
infrastructure,
including airport services, seaport
supply and/or services, railway
infrastructure and facilities;

2.

infrastruktur jalan, meliputi jalan tol


dan jembatan tol;

2.

road infrastructure, including toll


roads and toll bridges;

3.

infrastruktur pengairan, meliputi


saluran pembawa air baku;

3.

irrigation infrastructure, including


raw water mains;

4.

infrastruktur air minum, yang


meliputi bangunan pengambilan air
baku, jaringan transmisi, jaringan
distribusi, instalasi pengolahan air
minum;

4.

drinking
water
infrastructure,
including raw water extraction
buildings, transmission network,
distribution network, drinking water
treatment installations;

5.

infrastruktur sanitasi, yang meliputi


instalasi pengolah air limbah,
jaringan pengumpul dan jaringan
utama, dan sarana persampahan yang
meliputi pengangkut dan tempat
pembuangan;

5.

sanitation infrastructure, including


waste water treatment installations,
hub network and core network, and
waste facilities including transporters
and disposal sites;

6.

infrastruktur telekomunikasi dan


informatika,
meliputi
jaringan
telekomunikasi dan infrastruktur egovernment;

6.

telecommunications and informatics


infrastructure,
including
telecommunication network and egovernment infrastructure;

7.

infrastruktur
ketenagalistrikan,
meliputi
pembangkit,
termasuk
pengembangan tenaga listrik yang
berasal dari panas bumi, transmisi
atau distribusi tenaga listrik; dan

7.

electricity infrastructure, including


power plants, such as geothermalbased electricity development, power
transmission or distribution; and

8.

infrastruktur minyak dan gas bumi,


meliputi transmisi dan/atau distribusi
minyak dan gas bumi.

8.

oil and natural gas infrastructure,


including oil and natural gas
transmission and/or distribution.

B. Proyek
infrastruktur
sebagaimana
dimaksud dalam huruf A dapat
dikecualikan dalam penggunaan Rupiah
apabila:

B. The strategic infrastructure projects as


referred to in point (A) may be exempted
from the mandatory use of Rupiah if:
7

1.

dinyatakan oleh pemerintah pusat


atau pemerintah daerah sebagai
proyek infrastruktur strategis yang
dibuktikan dengan surat keterangan
dari kementerian/lembaga terkait
kepada pemilik proyek; dan

1.

declared by the central government


or the regional government as
strategic infrastructure projects, as
documented by the certificate from
the competent ministry/agency to the
project owner; and

2.

memperoleh
persetujuan
pengecualian terhadap kewajiban
penggunaan Rupiah dari Bank
Indonesia.

2.

approved by Bank Indonesia to be


exempted from the mandatory use of
Rupiah.

C. Dalam memberikan persetujuan, Bank


Indonesia mempertimbangkan antara lain
sumber pembiayaan proyek dan dampak
proyek tersebut terhadap stabilitas
ekonomi makro.

C. To give approval, Bank Indonesia shall


take, inter alia, the financing sources of
the project and the resultant impacts of
the project on the stability of the
macroeconomics into consideration.

D. Persetujuan pengecualian penggunaan


Rupiah dalam proyek infrastruktur
strategis yang diberikan oleh Bank
Indonesia dapat mencakup:

D. Approval to exempt the strategic


infrastructure
projects
from
the
mandatory use of Rupiah shall be issued
by Bank Indonesia within the scope of:

1.

transaksi
dalam
rangka
pembangunan proyek infrastruktur
strategis sampai dengan proyek
selesai dibangun; dan/atau

1.

transactions from the construction of


strategic infrastructure project to the
completion of the project; and/or

2.

transaksi dalam rangka penjualan


produk atau jasa yang dihasilkan
oleh proyek infrastruktur strategis
sampai dengan jangka waktu
tertentu, dengan syarat penjualan
produk atau jasa tersebut telah
diperjanjikan
sejak
awal
pembangunan proyek dimaksud.

2.

transactions of sale of products or


services generated from the strategic
infrastructure project for a definite
term as long as the sale of the
products or services is made under
the agreement from the beginning of
the construction of the project.

E. Permohonan pengecualian kewajiban


penggunaan Rupiah diajukan oleh pihak
yang
memerlukan
pengecualian
kewajiban penggunaan Rupiah disertai
dengan alasan untuk menggunakan valuta
asing
dalam
pembayaran
atau
penyelesaian kewajiban.

E. A request for exemption from the


mandatory use of Rupiah shall be
submitted by the party seeking exemption
from the mandatory use of Rupiah,
accompanied by the reason to use foreign
currencies for payment or settlement of
obligations.

F. Dalam hal proyek dilaksanakan oleh


konsorsium, permohonan dapat diajukan
oleh salah satu anggota konsorsium untuk
dan atas nama konsorsium atau diajukan
secara bersama-sama oleh anggota
konsorsium tersebut.

F. Where the project is carried out by a


consortium, a request therefor may be
submitted by one of the members of the
consortium acting for and on behalf of the
consortium, or jointly submitted by the
members of the consortium.

G. Tata cara pengajuan permohonan diatur


sebagai berikut:

G. Procedures for submission of a request


shall be as follows:

1.

Pemohon
menyampaikan
permohonan secara tertulis kepada

1.

The applicant

shall

submit

the
8

Bank Indonesia.
2.

Surat permohonan sebagaimana


dimaksud dalam angka 1 harus
disertai dengan dokumen sebagai
berikut:

request in writing to Bank Indonesia.


2.

A request as referred to in point 1


must be accompanied by the
following documentation:

a.

dokumen yang menunjukkan


legalitas pemohon, seperti akta
pendirian dan anggaran dasar
perusahaan
termasuk
perubahannya,
keterangan
domisili, dan profil badan usaha;

a.

documents stating the legality of


the applicant, such as a
memorandum of association and
the articles of association of the
company, along with their
amendments,
certificate
of
domicile, and company profile;

b.

surat
keterangan
dari
kementerian atau lembaga yang
berwenang yang menyatakan
bahwa
proyek
yang
dilaksanakan merupakan proyek
infrastruktur strategis;

b.

a certificate from the competent


ministry or agency stating that
the project being carried out is
the
strategic
infrastructure
project;

c.

dalam hal permohonan diajukan


oleh pelaksana pekerjaan atau
kontraktor maka keterangan
mengenai proyek infrastruktur
strategis dapat berupa fotokopi
surat keterangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf b yang
disertai dengan rekomendasi
yang menyatakan bahwa:

c.

where the request is submitted


by a contractor, the certificate of
the
strategic
infrastructure
project may be a photocopy as
referred to in point (b),
accompanied
by
the
recommendation stating that:

d.

1) proyek yang dilaksanakan


merupakan bagian dari
proyek
infrastruktur
strategis; dan/atau

1) the project being carried out


is part of the strategic
infrastructure
project;
and/or

2) pelaksanaan
proyek
memerlukan valuta asing
dalam rangka pengadaan
barang dan/atau jasa yang
berasal dari luar Wilayah
Negara Kesatuan Republik
Indonesia;

2) the project needs foreign


currencies to procure goods
and/or services from outside
the territory of the Unitary
State of the Republic of
Indonesia;

fotokopi perjanjian tertulis yang


menyatakan bahwa pembayaran
menggunakan valuta asing, yang
dinyatakan
sesuai
dengan
aslinya oleh pemohon.

H. Dalam
rangka
menindaklanjuti
permohonan sebagaimana dimaksud
dalam huruf G, Bank Indonesia dapat
meminta keterangan dan/atau dokumen
tambahan dan melakukan pemeriksaan
terkait permohonan yang diajukan

d.

a photocopy of the written


agreement stating that the
payment is foreign currencybased, certified as true copy of
the original document.

H. In response to the request as referred to in


point (G), Bank Indonesia may make
inquiries and/or require additional
documents and make examination in
connection with the request submitted by
the applicant, such as a project site
9

pemohon, seperti pemeriksaan ke lokasi


proyek.

inspection.

I.

Bank Indonesia memberikan persetujuan


atau penolakan secara tertulis atas
permohonan yang disampaikan, paling
lama 30 (tiga puluh) hari sejak
permohonan diterima secara lengkap.

I.

Bank Indonesia shall approve or reject


the request in writing within 30 (thirty)
days from when the request is fully
received.

J.

Bank Indonesia memberitahukan secara


tertulis
kepada
pemohon
apabila
diperlukan tambahan waktu sehingga
melebihi jangka waktu 30 (tiga puluh)
hari untuk pemrosesan permohonan.

J.

Bank Indonesia shall notify the applicant


in writing in case of needing extra days to
exceed 30 (thirty) days to process the
request.

IV. PELAKSANAAN KEWAJIBAN


PENGGUNAAN RUPIAH UNTUK
TRANSAKSI NON TUNAI BAGI PELAKU
USAHA DENGAN KARAKTERISTIK
TERTENTU

IV. IMPLEMENTATION OF MANDATORY


USE OF RUPIAH IN NON-CASH
TRANSACTIONS BY BUSINESS
OPERATORS WITH CERTAIN
CHARACTERISTICS

A. Dalam hal terdapat permasalahan bagi


pelaku usaha dengan karakteristik
tertentu terkait pelaksanaan kewajiban
penggunaan Rupiah untuk transaksi non
tunai sebagaimana dimaksud dalam butir
I.L, Bank Indonesia dapat mengambil
kebijakan
tertentu
dengan
tetap
memperhatikan kewajiban penggunaan
Rupiah.

A. In case there are issues of certain


characteristics affecting the business
operators in connection with the
implementation of the mandatory use of
Rupiah in non-cash transactions as
referred to in point (I.L), Bank Indonesia
may adopt a certain policy with due
regard to the mandatory use of Rupiah.

B. Dalam menetapkan kebijakan tertentu


sebagaimana dimaksud dalam huruf A,
Bank Indonesia mempertimbangkan
antara lain:

B. To adopt a certain policy as referred to in


point (A), Bank Indonesia shall take the
following into consideration, inter alia:

1.

kesiapan pelaku usaha, antara lain


dalam hal penerapan kewajiban
penggunaan Rupiah memerlukan
perubahan yang mendasar dalam
sistem dan/atau proses bisnis dari
kegiatan usaha dan/atau pelaku usaha
tertentu;

1.

the readiness of the business


operators, in which, inter alia, that to
apply the mandatory use of Rupiah
requires fundamental changes in the
business system and/or process of the
business activities and/or certain
business operators;

2.

kontinuitas kegiatan usaha, antara


lain dalam hal penerapan kewajiban
penggunaan Rupiah dalam waktu
segera tanpa masa transisi yang
cukup,
dapat
mempengaruhi
kelangsungan kegiatan usaha;

2.

the continuity of the business, in


which, inter alia, that to apply the
mandatory use of Rupiah in the
immediate term without an adequate
time of transition may affect the
continuity of the business activities.

3.

kegiatan investasi, antara lain dalam


hal kegiatan usaha memerlukan
pembiayaan dalam valuta asing
untuk periode tertentu dan kewajiban
penggunaan Rupiah dalam waktu
segera dapat mengganggu investasi

3.

investment activities, in which, inter


alia, that business activities require
financing in foreign currencies for a
definite period of time and the use of
Rupiah in the immediate term may
10

yang bersangkutan; dan/atau


4.

kegiatan usaha yang memiliki


dampak
signifikan
terhadap
pertumbuhan ekonomi nasional.

C. Selain
mempertimbangkan
faktor
sebagaimana dimaksud dalam huruf B,
Bank Indonesia mempertimbangkan pula
kepatuhan pelaku usaha terhadap
ketentuan Bank Indonesia antara lain
mengenai kewajiban penerimaan devisa
hasil ekspor, dan penerapan prinsip
kehati-hatian dalam pengelolaan utang
luar negeri korporasi non Bank.

affect the ongoing investment; and/or


4.

business activities with significant


impacts on the growth of the national
economy.

C. In addition to taking factors as referred to


in point (B) into consideration, Bank
Indonesia shall also consider the
compliance of the business operators with
the regulations of Bank Indonesia
concerning, inter alia, the mandatory
receipt of export proceeds and the
principle of prudence in the management
of
foreign
debts
of
non-Bank
corporations.

V. LAPORAN TERKAIT PENGGUNAAN V. REPORTS ON THE MANDATORY USE


RUPIAH
DI
WILAYAH
NEGARA
OF RUPIAH IN THE TERRITORY OF THE
KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
UNITARY STATE OF THE REPUBLIC OF
INDONESIA
A. Bank Indonesia berwenang untuk
meminta laporan, keterangan, dan/atau
data kepada setiap pihak yang terkait
dengan
pelaksanaan
kewajiban
penggunaan Rupiah.

A. Bank Indonesia shall be authorized to


request reports, descriptions, and/or data
from any party involved in the
implementation of the mandatory use of
Rupiah.

B. Setiap pihak sebagaimana dimaksud


dalam huruf A wajib menyampaikan
laporan, keterangan, dan/atau data kepada
Bank Indonesia disertai dengan dokumen
pendukung, dalam hal diminta oleh Bank
Indonesia.

B. Any party as referred to in point (A) must


submit reports, descriptions, and/or data
to Bank Indonesia, accompanied by the
supporting documentation where Bank
Indonesia so requires.

VI. PENGAWASAN ATAS KEPATUHAN VI. SUPERVISION OF COMPLIANCE WITH


THE MANDATORY USE OF RUPIAH IN
TERHADAP PENGGUNAAN RUPIAH DI
THE TERRITORY OF THE UNITARY
WILAYAH
NEGARA
KESATUAN
STATE
OF
THE
REPUBLIC
OF
REPUBLIK INDONESIA
INDONESIA
A. Bank Indonesia melakukan pengawasan
terhadap kepatuhan setiap pihak dalam
rangka penerapan kewajiban penggunaan
Rupiah dan kewajiban pencantuman
harga barang dan/atau jasa hanya dalam
Rupiah.

A. Bank Indonesia shall supervise the


compliance of any party with the
implementation of the mandatory use of
Rupiah and the mandatory pricetagging/labelling of goods and/or services
in Rupiah only.

B. Ruang lingkup pengawasan terhadap


penerapan kewajiban penggunaan Rupiah
sebagaimana dimaksud dalam huruf A
terutama dilakukan terhadap pemenuhan
kewajiban penggunaan Rupiah untuk
transaksi non tunai. Dalam melakukan
pengawasan terhadap transaksi non tunai
tersebut, Bank Indonesia dapat bekerja

B. The scope of supervision of the


implementation of the mandatory use of
Rupiah as referred to in point (A) is made
to supervise the fulfillment of the
mandatory use of Rupiah in non-cash
transactions. Bank Indonesia may, in the
supervision of non-cash transactions,
cooperate with the competent agencies.
11

sama dengan instansi terkait.


C. Dalam
melaksanakan
pengawasan
terhadap
pemenuhan
kewajiban
penggunaan Rupiah untuk transaksi tunai,
Bank Indonesia bekerja sama dengan
aparat penegak hukum.

C. Bank Indonesia shall, in the supervision


of the implementation of the mandatory
use of Rupiah in cash transactions,
cooperate with the law enforcement
officers.

D. Mekanisme pengawasan sebagaimana


dimaksud dalam huruf A, dilaksanakan
dengan ketentuan sebagai berikut:

D. The mechanism for supervision as


referred to in point (A) shall be conducted
as follows:

1.

Metode
pengawasan
dilakukan
secara langsung dan/atau tidak
langsung.

1.

Methods of onsite and/or offsite


supervision.

2.

Pengawasan
secara
langsung
sebagaimana dimaksud dalam angka
1 dilakukan melalui pemeriksaan
yang dapat dilakukan sewaktu-waktu
oleh Bank Indonesia.

2.

Onsite supervision as referred to in


point (1) shall be made by Bank
Indonesia by means of a spot check.

3.

Pengawasan secara tidak langsung


sebagaimana dimaksud dalam angka
1 dilakukan melalui kegiatan analisa
dan evaluasi atas laporan yang
disampaikan oleh setiap pihak
sebagaimana dimaksud dalam butir
V.A.

3.

Offsite supervision as referred to in


point (1) shall be made by analyzing
and evaluating the reports submitted
by the party as referred to in point
(V.A).

4.

Dalam pelaksanaan pemeriksaan


langsung sebagaimana dimaksud
dalam angka 2, pihak yang
merupakan obyek pemeriksaan harus
memberikan kepada pemeriksa,
antara lain:

4.

During the spot check as referred to


in point 2, the party under inspection
must provide the inspection officers
the following, inter alia:

a.

laporan
keuangan,
data
transaksi, dan data pendukung;

a.

the
financial
statements,
transaction data, and supporting
data;

b.

akses
untuk
melakukan
observasi terhadap aktivitas
operasional dan sarana fisik
yang berkaitan dengan kegiatan
usahanya; dan/atau

b.

access
to
observing
the
operating activities and physical
facilities in connection with its
business activities; and/or

c.

keterangan mengenai transaksi


dan kegiatan yang berkaitan
dengan kewajiban penggunaan
Rupiah
dari
pihak
yang
kompeten dan berwenang pada
saat
pemeriksaan
sedang
berlangsung.

c.

descriptions on transactions and


activities with respect to the
mandatory use of Rupiah by the
competent
and
authorized
officers during inspection.

12

VII. KORESPONDENSI
A. Penyampaian permohonan sebagaimana
dimaksud dalam Bab III, penyampaian
laporan sebagaimana dimaksud dalam
Bab V, dan/atau surat menyurat
disampaikan dalam Bahasa Indonesia
kepada Bank Indonesia dengan alamat:

VII. CORRESPONDENCE
A. Requests as referred to in Chapter III,
reports as referred to in Chapter V, and/or
correspondence shall be made in the
Indonesian language and sent to Bank
Indonesia at the address of:

Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran


(Department of Policy and Supervision of Payment System)
Kompleks Perkantoran Bank Indonesia Gedung D lantai 5
Jl. M.H. Thamrin No. 2
Jakarta 10350
B. Dalam hal terjadi perubahan alamat
sebagaimana dimaksud dalam huruf A,
Bank Indonesia akan memberitahukan
melalui surat dan/atau media lainnya.
VIII. KETENTUAN LAIN-LAIN

B. In case of change of/in the address as


referred to in point (A), Bank Indonesia
shall write a notification by mail and/or
other media.
VIII. MISCELLANEOUS PROVISIONS

A. Bank dan Penyelenggara Transfer Dana


harus
memberitahukan
kewajiban
penggunaan Rupiah di Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia kepada
setiap nasabah yang akan melakukan
transaksi dengan menggunakan valuta
asing.

A. Banks and Money Transfer Operators


must inform any customer to make a
transaction in foreign currencies about the
mandatory use of Rupiah in the territory
of the Unitary State of the Republic of
Indonesia.

B. Dalam
hal
nasabah
sebagaimana
dimaksud dalam huruf A tetap akan
melakukan transaksi dalam valuta asing
maka Bank dan Penyelenggara Transfer
Dana harus meminta nasabah tersebut
untuk mengisi tujuan transaksi dalam
formulir atau slip transaksi.

B. Where the customer as referred to in


point (A) proceeds with his/her
transactions in foreign currencies, Banks
and Money Transfer Operators must
direct such a customer to have the
purpose(s) of transaction(s) in the form or
the transaction slip completed.

IX. TATA CARA PENGENAAN SANKSI

IX. PROCEDURES
SANCTIONS

FOR

IMPOSITION

OF

A. Setiap
pihak
yang
melakukan
pelanggaran
terhadap
kewajiban
penggunaan Rupiah di Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dikenakan
sanksi.

A. Any party in violation of the mandatory


use of Rupiah in the territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia shall be imposed sanctions.

B. Terhadap pelanggaran atas kewajiban


penggunaan Rupiah untuk transaksi tunai
dan/atau larangan menolak Rupiah untuk
transaksi tunai berlaku ketentuan pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011
tentang Mata Uang.

B. Any violation of the mandatory use of


Rupiah in the territory of the Unitary
State of the Republic of Indonesia and/or
prohibition from rejecting Rupiah in cash
transactions shall be subject to the
criminal provisions of Article 33 of Law
Number 7 of 2011 concerning Currency.

C. Penerapan sanksi terhadap pelanggaran


atas kewajiban penggunaan Rupiah untuk

C. Sanctions against violation of the


mandatory use of Rupiah in non-cash
13

transaksi non tunai dilakukan dengan


ketentuan sebagai berikut:

transactions shall be imposed as follows:

1.

1.

2.

Setiap pihak yang melakukan


pelanggaran
atas
kewajiban
penggunaan Rupiah untuk transaksi
non
tunai
dikenakan
sanksi
administratif berupa:

Any party in violation of the


mandatory use of Rupiah in non-cash
transactions shall be imposed
administrative sanctions of:

a.

teguran tertulis;

a.

written warnings;

b.

kewajiban membayar; dan/atau

b.

obligatory payment; and/or

c.

larangan untuk ikut dalam lalu


lintas pembayaran.

c.

prohibition from engaging in


any payment transaction.

Sanksi
kewajiban
membayar
sebagaimana dimaksud dalam butir
1.b dikenakan dengan ketentuan
sebagai berikut:

2.

A sanction of obligatory payment as


referred to in point (1.b) shall be
imposed as follows:

a.

Sanksi kewajiban membayar


dikenakan
setelah
Bank
Indonesia memberikan sanksi
teguran tertulis paling kurang 2
(dua) kali.

a.

A sanction of obligatory
payment shall be imposed after
Bank Indonesia imposes a
sanction of at least 2 (two)
written warnings.

b.

Sanksi kewajiban membayar


ditetapkan sebesar 1% (satu
persen) dari nilai transaksi,
dengan
jumlah
kewajiban
membayar
paling
banyak
sebesar
Rp1.000.000.000,00
(satu miliar rupiah).

b.

A sanction of obligatory
payment shall be 1% (one
percent) of the transaction value,
in the aggregate, not exceeding
Rp1,000,000,000 (one billion
rupiah).

c.

Nilai transaksi sebagaimana


dimaksud dalam huruf b
dihitung dari seluruh nilai
transaksi
yang
melanggar
ketentuan
kewajiban
penggunaan Rupiah. Pengenaan
sanksi administratif dilakukan
terhadap pelanggaran transaksi
non tunai yang terjadi sejak
tanggal 1 Juli 2015.

c.

The transaction value as referred


to in point (b) shall be calculated
from the aggregate transaction
value
that
violates
the
mandatory use of Rupiah.
Administrative sanctions shall
be imposed against violation of
non-cash transactions occurring
from July 1, 2015.

d.

Dalam hal pelaku usaha yang


telah
dikenakan
sanksi
kewajiban membayar masih
melakukan
pelanggaran
kewajiban penggunaan Rupiah
maka pelaku usaha tersebut
dikenakan kewajiban membayar
tanpa melalui teguran tertulis.

d.

Where a business operator that is


imposed a sanction of obligatory
payment is still in violation of
the mandatory use of Rupiah,
the business operator shall be
under the obligation to pay
without a written warning.

e.

Sanksi kewajiban membayar


dikenakan dalam Rupiah dan

e.

A sanction of obligatory
payment shall be imposed in
14

Rupiah and calculated at the


prevailing mid exchange rate of
Bank Indonesia 1 (one) working
day before the date the
transaction is made.

dihitung dengan menggunakan


kurs tengah Bank Indonesia
yang berlaku 1 (satu) hari kerja
sebelum
tanggal
transaksi
dilakukan.
f.

3.

f.

Pelaksanaan sanksi kewajiban


membayar dilakukan dengan
cara:

Payment for a sanction of


obligatory payment shall be
made by:

1) pendebetan rekening yang


ada di Bank Indonesia,
dalam hal pihak yang
dikenakan sanksi memiliki
rekening di Bank Indonesia;
atau

1) debiting the account with


Bank Indonesia, where the
party being imposed a
sanction has an account
with Bank Indonesia; or

2) pembayaran ke rekening
Bank
Indonesia
yang
ditunjuk, dalam hal pihak
yang dikenakan sanksi tidak
memiliki rekening di Bank
Indonesia.

2) paying to the designated


account
with
Bank
Indonesia, where the party
being imposed a sanction
has no account with Bank
Indonesia.

Bank Indonesia dapat mengenakan


sanksi larangan untuk ikut dalam lalu
lintas pembayaran sebagaimana
dimaksud dalam butir 1.c terhadap
pihak yang melakukan pelanggaran
kewajiban penggunaan Rupiah di
wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

3.

Bank Indonesia may impose a


sanction
of
prohibition
from
engaging
in
any
payment
transactions as referred to in point
(1.c) against a party in violation of
the mandatory use of Rupiah in the
territory of the Unitary State of the
Republic of Indonesia.

D. Pelanggaran atas kewajiban pencantuman


harga barang dan/atau jasa dalam Rupiah
dan kewajiban penyampaian laporan,
keterangan, dan/atau data dikenakan
sanksi administratif berupa teguran
tertulis.

D. Any violation of the mandatory pricetagging/labelling of goods and/or services


in Rupiah and the obligations to submit
reports, descriptions, and/or data shall be
imposed administrative sanctions of
written warnings.

E. Pihak yang dikenakan sanksi atas


pelanggaran kewajiban pencantuman
harga barang dan/atau jasa dalam Rupiah
sebagaimana dimaksud dalam huruf D
wajib
menindaklanjuti
dengan
melaksanakan kewajiban pencantuman
harga barang dan/atau jasa dalam Rupiah.

E. Any party imposed a sanction of the


mandatory price-tagging/labelling of
goods and/or services in Rupiah as
referred to in point (D) must further fulfill
the mandatory price-tagging/labelling of
goods and/or services in Rupiah.

F. Pihak yang dikenakan sanksi atas


pelanggaran kewajiban penyampaian
laporan, keterangan, dan/atau data
sebagaimana dimaksud dalam huruf D
tetap wajib menyampaikan laporan,
keterangan, dan/atau data yang diminta
oleh Bank Indonesia.

F. Any party being imposed a sanction


against violation of the obligation to
submit reports, descriptions, and/or data
as referred to in point (D) must continue
to submit reports, descriptions, and/or
data that Bank Indonesia may request.

G. Selain mengenakan sanksi administratif

G. In addition to the administrative sanctions


15

sebagaimana dimaksud dalam huruf C


dan huruf D, Bank Indonesia dapat
merekomendasikan kepada otoritas yang
berwenang untuk melakukan tindakan
antara lain berupa pencabutan izin usaha
atau penghentian kegiatan usaha.

as referred to in point (C) and point (D),


Bank Indonesia may recommend the
competent authorities to take measures
within their area of competence, such as,
inter alia, revocation of licenses or
cessation of business activities.

H. Dalam hal pelaku usaha mengajukan


permohonan sebagaimana dimaksud
dalam Bab III dan Bab IV namun
permohonan tersebut tidak memperoleh
persetujuan dari Bank Indonesia maka
Bank Indonesia mengenakan sanksi
administratif terhadap pelanggaran yang
dilakukan oleh pelaku usaha sejak tanggal
1 Juli 2015.

H. Where a business operator submits a


request as referred to in Chapter III and
Chapter IV but is disapproved by Bank
Indonesia, Bank Indonesia shall impose
an administrative sanction against the
violation committed by the business
operator since July 1, 2015.

I.

I.

Pengenaan sanksi administratif kepada


pelaku usaha sebagaimana dimaksud
pada huruf H dilakukan dengan mengacu
pada ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam huruf C dan/atau huruf D.

X. KETENTUAN PERALIHAN

Administrative sanctions against a


business operator as referred to in point
(H) shall be imposed under the provisions
of point (C) and/or point (D).

X. TRANSITIONAL PROVISIONS

Terhadap perjanjian tertulis mengenai


pembayaran atau penyelesaian kewajiban
dalam valuta asing yang dibuat sebelum
tanggal 1 Juli 2015 berlaku ketentuan sebagai
berikut:

Written agreements on payment or settlement


of obligations in foreign currencies that are
entered into before July 1, 2015 shall be
treated as follows:

1.

Perjanjian tertulis meliputi perjanjian


induk, perjanjian turunan atau dokumen
lainnya yang memuat mengenai transaksi
yang akan dilakukan para pihak seperti
purchasing order dan delivery order.

1.

Written agreements shall include master


agreements, ancillary agreements or other
supporting documentation that contain
transactions to be made by the parties,
such as purchasing order and delivery
order.

2.

Perjanjian tertulis yang merupakan


turunan atau pelaksanaan dari perjanjian
induk yang dibuat sejak tanggal 1 Juli
2015
yang
diperlakukan
sebagai
perjanjian yang berdiri sendiri wajib
tunduk pada ketentuan yang mengatur
mengenai kewajiban penggunaan Rupiah
di Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

2.

Written agreements, themselves ancillary


or complementary to the master
agreement entered into as of July 1, 2015,
and considered as individual agreements,
must comply with the provisions that
govern the mandatory use of Rupiah in
the Territory of the Unitary State of the
Republic of Indonesia.

3.

Perpanjangan jangka waktu dan/atau


perubahan atas perjanjian tertulis yang
dilakukan sejak tanggal 1 Juli 2015 wajib
tunduk pada ketentuan yang mengatur
mengenai kewajiban penggunaan Rupiah
di Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

3.

Renewal of the term and/or amendment


of a written agreement entered into as of
July 1, 2015 must comply with the
provisions that govern the mandatory use
of Rupiah in the Territory of the Unitary
State of the Republic of Indonesia.

4.

Perubahan sebagaimana dimaksud dalam

4.

Amendment as referred to in point 3 shall


16

angka 3 antara lain perubahan mengenai


pihak dalam perjanjian, harga barang
dan/atau jasa, dan/atau obyek perjanjian.
XI. KETENTUAN PENUTUP

include, inter alia, change of parties to the


agreement, prices of goods and/or
services, and/or objects of the agreement.
XI. CONCLUDING PROVISIONS

Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai


berlaku pada tanggal 1 Juni 2015.

This Circular of Bank Indonesia shall come


into effect on June 1, 2015.

Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan pengumuman Surat Edaran
Bank Indonesia ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

In order that every person may know of it, the


promulgation of this Circular of Bank
Indonesia is ordered by placement in the
Official Gazette of the Republic of Indonesia.

BANK INDONESIA,

BANK INDONESIA,

ENI V. PANGGABEAN
KEPALA DEPARTEMEN
KEBIJAKAN DAN
PENGAWASAN SISTEM
PEMBAYARAN

ENI V. PANGGABEAN
THE HEAD OF THE
DEPARTMENT OF POLICY AND
SUPERVISION OF PAYMENT
SYSTEM

17

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS


SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR
17/11/DKSP TANGGAL 1 JUNI 2015

CIRCULAR OF BANK INDONESIA NUMBER


17/11/DKSP DATED JUNE 1, 2015

PERIHAL:
KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI
WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK
INDONESIA

SUBJECT:
MANDATORY USE OF RUPIAH IN THE
TERRITORY OF THE UNITARY STATE OF
THE REPUBLIC OF INDONESIA

A. UMUM
1.

A. GENERAL

Apa saja pertimbangan diterbitkannya


Surat Edaran Bank Indonesia ini?

1.

This Circular of Bank Indonesia is issued


to give effect to Regulation of Bank
Indonesia Regulation of Bank Indonesia
Number
17/3/PBI/2015
concerning
Mandatory Use of Rupiah in the Territory
of the Unitary State of the Republic of
Indonesia (State Gazette of the Republic
of Indonesia Number 70 of 2015,
Supplement to the State Gazette of the
Republic of Indonesia Number 5683) in
the form of Circular of Bank Indonesia.

Surat Edaran Bank Indonesia ini


diterbitkan dengan pertimbangan bahwa
perlu diatur ketentuan pelaksanaan
Peraturan Bank Indonesia Nomor
17/3/PBI/2015
tentang
Kewajiban
Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5683) dalam
bentuk Surat Edaran Bank Indonesia.
2.

Apa dasar hukum Bank Indonesia


menerbitkan Surat Edaran Bank
Indonesia ini?

2.

Hal apa saja yang diatur dalam Surat


Edaran Bank Indonesia ini?
Surat Edaran Bank Indonesia
mengatur hal sebagai berikut:

ini

What is the legal basis under which


Bank Indonesia issues this Circular of
Bank Indonesia?
Bank Indonesia issues this Circular of
Bank Indonesia as mandated by Article
22 of Regulation of Bank Indonesia
Number
17/3/PBI/2015
concerning
Mandatory Use of Rupiah in the Territory
of the Unitary State of the Republic of
Indonesia (State Gazette of the Republic
of Indonesia Number 70 of 2015,
Supplement to the State Gazette of the
Republic of Indonesia Number 5683) that
ancillary provisions to this Regulation of
Bank Indonesia will be governed by
Circular of Bank Indonesia.

Bank Indonesia menerbitkan Surat


Edaran Bank Indonesia ini didasari
amanat Pasal 22 Peraturan Bank
Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015 tentang
Kewajiban Penggunaan Rupiah di
Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 70,
Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5683), yang mengatur
bahwa ketentuan lebih lanjut dari
Peraturan Bank Indonesia ini diatur
dalam Surat Edaran Bank Indonesia.
3.

What does Bank Indonesia take into


consideration when issuing this
Circular of Bank Indonesia?

3.

What does this Circular of Bank


Indonesia govern?
This Circular of Bank Indonesia governs
the following:

a.

Ketentuan umum;

a.

General provisions;

b.

Kewajiban
pencantuman
harga
barang dan/atau jasa dalam Rupiah;

b.

Mandatory price-tagging/labelling of
goods and/or services in Rupiah;
18

4.

c.

Pelaksanaan kewajiban penggunaan


Rupiah untuk proyek infrastruktur
strategis yang diperjanjikan secara
tertulis;

c.

Implementation of mandatory use of


rupiah in the strategic infrastructure
projects that are made under the
written agreements;

d.

Pelaksanaan kewajiban penggunaan


rupiah untuk transaksi non tunai bagi
pelaku usaha dengan karakteristik
tertentu;

d.

Implementation of mandatory use of


rupiah in non-cash transactions by
business operators with certain
characteristics;

e.

Laporan terkait penggunaan Rupiah


di Wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia

e.

Reports on the mandatory use of


Rupiah in the territory of the unitary
state of the Republic of Indonesia;

f.

Pengawasan atas kepatuhan terhadap


penggunaan Rupiah di Wilayah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia;

f.

Supervision of compliance with the


mandatory use of Rupiah in the
territory of the unitary state of the
Republic of Indonesia;

g.

Korespondensi;

g.

Correspondence;

h.

Ketentuan lain-lain;

h.

Miscellaneous provisions;

i.

Tata cara pengenaan sanksi;

i.

Procedures
sanctions;

j.

Ketentuan peralihan; dan

j.

Transitional provisions; and

k.

Ketentuan penutup.

k.

Concluding provisions.

Apa prinsip yang mendasar dari


ketentuan kewajiban penggunaan
Rupiah di wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia?

4.

Apakah transaksi dan pembayaran


dapat dipisahkan?

imposition

of

What fundamental principle do the


provisions for the mandatory use of
Rupiah in the territory of the Unitary
State of the Republic of Indonesia
embrace?
Mandatory use of Rupiah in the Territory
of the Unitary State of the Republic of
Indonesia embraces the territorial
principle. Any transaction, as long as
made in the Territory of the Unitary State
of the Republic of Indonesia, either by
residents or non-residents, cash or noncash, must use Rupiah.

Kewajiban penggunaan Rupiah di


Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia menganut asas teritorial. Setiap
transaksi yang dilakukan di Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia,
baik dilakukan oleh penduduk maupun
bukan penduduk, transaksi tunai maupun
non tunai, sepanjang dilakukan di
Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia wajib menggunakan Rupiah.
5.

for

5.

Are transactions and payment separate


things?

Transaksi dan pembayaran merupakan


satu kesatuan. Terhadap transaksi yang
dilakukan di Wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia maka penerimaan
pembayarannya wajib dalam Rupiah.

Transactions and payment are unity. Any


transaction made in the Territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia must receive payment in
Rupiah.

Contoh:

E.g.

Perusahaan A sebagai pelayaran asing

Company A, as a foreign shipping line,


19

uses port services in Indonesia that is


provided by PT B. Company A may
make payment in Rupiah cash through an
agent or by transfer using currency of its
own country. In case of payment by
transfer, PT B must receive payment from
Company A in Rupiah currency.

menggunakan jasa kepelabuhanan di


Indonesia yang dikelola oleh PT B.
Perusahaan
A
dapat
melakukan
pembayaran secara tunai melalui agen
dengan menggunakan mata uang Rupiah
atau
melalui
transfer
dengan
menggunakan mata uang negaranya.
Dalam hal pembayaran dilakukan melalui
transfer maka PT B wajib menerima
pembayaran dari Perusahaan A dalam
mata uang Rupiah.
6.

7.

Transaksi apa saja yang diperbolehkan


menggunakan valuta asing?

6.

What transactions are permitted to use


foreign currencies?

Dalam Surat Edaran Bank Indonesia ini


transaksi
yang
diperbolehkan
menggunakan valuta asing adalah sebagai
berikut:

In this Circular of Bank Indonesia, the


following are transactions permitted to
use foreign currencies:

a.

transaksi tertentu dalam rangka


pelaksanaan anggaran pendapatan
dan belanja negara;

a.

certain transactions with respect to


the state budget;

b.

penerimaan atau pemberian hibah


dari atau ke luar negeri;

b.

receipt or provision of gifts from or


to abroad;

c.

transaksi perdagangan internasional;

c.

international trade transactions;

d.

simpanan di Bank dalam bentuk


valuta asing; atau

d.

Bank savings in foreign currencies;


or

e.

transaksi pembiayaan internasional,

e.

international financing transactions,

dan transaksi dalam valuta asing yang


dilakukan
berdasarkan
ketentuan
Undang-Undang yang meliputi:

and foreign currency-based transactions


made under the Laws that include:

a.

kegiatan usaha dalam valuta asing


yang
dilakukan
oleh
Bank
berdasarkan Undang-Undang yang
mengatur mengenai perbankan dan
perbankan syariah;

a.

foreign currency-based business


activities conducted by a Bank under
the Laws concerning banking and
shariah banking;

b.

transaksi surat berharga yang


diterbitkan oleh Pemerintah dalam
valuta asing di pasar perdana dan
pasar sekunder berdasarkan UndangUndang yang mengatur mengenai
surat utang negara dan surat berharga
syariah negara; dan

b.

primary market and secondary


market transactions of negotiable
instruments in foreign currencies
issued by the Government under the
Laws concerning sovereign bonds
and Islamic bonds; and

c.

transaksi lainnya dalam valuta asing


yang dilakukan berdasarkan UndangUndang.

c.

other
foreign
currency-based
transactions made under the Laws.

Transaksi tertentu dalam rangka


pelaksanaan anggaran pendapatan dan

7.

What certain transactions with respect


to the state budget are permitted to use
20

8.

belanja negara seperti apa yang


diperbolehkan menggunakan valuta
asing?

foreign currencies?

Transaksi
tertentu
dalam
rangka
pelaksanaan anggaran pendapatan dan
belanja negara meliputi:

Certain transactions with respect to the


state budget include:

a.

pembayaran utang luar negeri;

a.

repayment of foreign debts;

b.

pembayaran utang
dalam valuta asing;

b.

repayment of domestic debts in


foreign currencies;

c.

belanja barang dari luar negeri;

c.

foreign expenditure;

d.

belanja modal dari luar negeri;

d.

foreign capital expenditure;

e.

penerimaan negara yang berasal dari


penjualan surat utang negara dalam
valuta asing; dan

e.

state revenues from sovereign bond


sale in foreign currencies; and

f.

transaksi lainnya dalam rangka


pelaksanaan anggaran pendapatan
dan belanja negara, seperti setoran
pajak, visa on arrival, dan
penerimaan negara bukan pajak.

f.

other transactions with respect to the


state budget, such as tax payment,
visa on arrival, and non-tax state
revenues.

dalam negeri

Transaksi penerimaan atau pemberian


hibah dari atau ke luar negeri seperti
apa yang diperbolehkan menggunakan
valuta asing?

8.

Transactions of receipt or provision of


gifts from or to abroad that are permitted
to use foreign currencies are such
transactions where either the recipient or
the provider of gifts is domiciled abroad.
If the recipient and the provider of gifts
are domiciled in the territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia, the transactions of receipt or
provision of gifts must be made in
Rupiah.

Penerimaan atau pemberian hibah dari


atau ke luar negeri yang diperbolehkan
menggunakan valuta asing adalah hibah
yang dilakukan oleh penerima atau
pemberi hibah yang salah satunya
berkedudukan di luar negeri. Apabila
penerima
dan
pemberi
hibah
berkedudukan di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia maka hibah
harus dilakukan dengan menggunakan
Rupiah.
9.

Transaksi perdagangan internasional


seperti apa yang diperbolehkan
menggunakan valuta asing?

What transactions of receipt or


provision of gifts from or to abroad are
permitted to use foreign currencies?

9.

What international trade transactions


are permitted to use foreign
currencies?

Transaksi perdagangan internasional yang


diperbolehkan menggunakan valuta asing
meliputi:

International trade transactions that are


permitted to use foreign currencies
include:

a.

kegiatan ekspor dan/atau impor


barang dari atau ke luar wilayah
pabean Republik Indonesia; dan/atau

a.

export and/or import of goods to or


from outside the customs zones of
the Republic of Indonesia; and/or

b.

kegiatan perdagangan jasa yang


melampaui batas wilayah negara

b.

cross border trade in services in the


form of:
21

yang dilakukan dengan cara:


1.

pasokan lintas batas (cross


border
supply).
Termasuk
pengertian pasokan lintas batas
adalah
tenaga
ahli
yang
memiliki keahlian tertentu yang
ditugaskan oleh kantor induknya
di luar negeri untuk bekerja di
Indonesia; dan

1.

cross border supply.


Cross
border supply includes experts
with specific expertise who is
assigned by their head office
abroad to work in Indonesia; and

2.

konsumsi
di
luar
negeri
(consumption abroad), misalnya
warga negara Indonesia yang
kuliah di luar negeri atau
menjalani perawatan di rumah
sakit luar negeri.

2.

consumption abroad, e.g. an


Indonesian citizen who studies
at the college abroad or receives
medical treatment at the hospital
abroad.

10. Simpanan di Bank dalam valuta asing


seperti apa yang diperbolehkan
menggunakan valuta asing?

10. What kinds of foreign currency-based


Bank savings are permitted to use
foreign currencies?

Simpanan di Bank dalam bentuk valuta


asing seperti tabungan valuta asing,
deposito valuta asing atau giro valuta
asing.

They are foreign currency-based savings,


foreign currency-based deposits, or
foreign currency-based giro.

11. Transaksi pembiayaan internasional


seperti apa yang diperbolehkan
menggunakan valuta asing?

11. What
international
financing
transactions are permitted to use
foreign currencies?

Transaksi pembiayaan internasional yang


dilakukan oleh para pihak yang salah
satunya berkedudukan di luar negeri
seperti pemberian kredit oleh Bank di
luar negeri kepada nasabah di Indonesia.

International financing transactions that


are made by parties, one of whom is
domiciled abroad, such as provision of
credits by a Bank abroad to a customer in
Indonesia.

Dalam
hal
pemberi
pembiayaan
internasional berupa Bank maka wajib
memenuhi ketentuan yang mengatur
mengenai transaksi valuta asing terhadap
Rupiah antara Bank dengan pihak asing.

Where the international financing


provider is a Bank, the Bank must
comply with the regulation that governs
foreign currencies against Rupiah
transactions between Banks and foreign
parties.

12. Apakah transfer dana dalam valuta


asing dari individu di dalam negeri
kepada pihak di luar negeri yang tidak
dimaksudkan sebagai pembayaran
atau penyelesaian kewajiban yang
timbul dari transaksi di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia
diwajibkan menggunakan Rupiah?

12. Must transfer of funds in foreign


currencies from an individual in home
country to a party abroad if such is not
intended as payment or settlement of
obligations arising out of the
transaction in the territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia use Rupiah?

Kewajiban penggunaan Rupiah dalam


setiap transaksi tidak berlaku untuk
transfer dana dalam valuta asing dari
individu di dalam negeri kepada pihak di

Mandatory use of Rupiah does not apply


to the transfer of funds in foreign
currencies from an individual in home
country to a party abroad if such is not
22

luar negeri yang tidak dimaksudkan


sebagai pembayaran atau penyelesaian
kewajiban yang timbul dari transaksi di
wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

intended as payment or settlement of


obligations arising out of the transaction
in the territory of the Unitary State of the
Republic of Indonesia.

13. Kegiatan usaha Bank dalam valuta


asing seperti apa yang diperbolehkan
menggunakan valuta asing?

13. What foreign currency-based business


activities conducted by a Bank are
permitted to use foreign currencies?

Kegiatan usaha dalam valuta asing yang


dilakukan oleh Bank berdasarkan
Undang-Undang
yang
mengatur
mengenai perbankan dan perbankan
syariah meliputi antara lain:

Those permitted to use foreign currencies


are foreign currency-based business
activities conducted by a Bank under the
Laws concerning banking and shariah
banking, including, among others:

a.

kredit dalam valuta asing untuk


kegiatan ekspor dan kegiatan
lainnya;

a.

credits for export and other activities


in foreign currencies;

b.

pasar uang antar Bank dalam valuta


asing;

interbank call money in foreign


currencies;

c.

obligasi dalam valuta asing;

c.

bonds in foreign currencies;

d.

sub debt dalam valuta asing;

d.

sub-debt in foreign currencies;

e.

jual beli surat berharga dalam valuta


asing; dan

e.

sale and purchase of negotiable


instruments in foreign currencies;
and

f.

transaksi perbankan lainnya dalam


valuta asing yang diatur dalam
Undang-Undang yang mengatur
mengenai perbankan dan perbankan
syariah
beserta
peraturan
pelaksanaannya. Dalam pengertian
kegiatan usaha dalam valuta asing
tersebut termasuk pula biaya (fee)
yang dikenakan oleh Bank dalam
pelaksanaan kegiatan usaha tersebut.

f.

other banking transactions in foreign


currencies as governed by Laws
concerning banking and shariah
banking along with their ancillary
regulations. These foreign currencybased business activities also include
fees charged by Banks for those
activities.

14. Transaksi surat berharga yang


diterbitkan oleh Pemerintah seperti
apa yang diperbolehkan menggunakan
valuta asing?

14. What transactions of negotiable


instruments issued by the Government
are permitted to use foreign
currencies?

Transaksi surat berharga yang diterbitkan


oleh Pemerintah dalam valuta asing di
pasar perdana dan pasar sekunder
berdasarkan
Undang-Undang
yang
mengatur mengenai surat utang negara
dan surat berharga syariah negara
diperbolehkan
menggunakan
valuta
asing.

Primary market and secondary market


transactions of negotiable instruments in
foreign currencies issued by the
Government under the Laws concerning
sovereign bonds and Islamic bonds are
permitted to use foreign currencies.

Contoh:

E.g.
23

Transaksi sukuk global dalam valuta


asing yang diterbitkan oleh Pemerintah.

Global Government-issued Islamic bonds


transactions in foreign currencies.

15. Transaksi apa saja yang dapat


dilakukan dalam valuta asing yang
diatur berdasarkan Undang Undang?

15. What
transactions
in
foreign
currencies are governed by Laws?

Undang-Undang
yang
mengatur
mengenai transaksi lainnya dalam valuta
asing antara lain Undang-Undang
mengenai Bank Indonesia, UndangUndang mengenai penanaman modal,
Undang-Undang mengenai rransfer dana,
dan Undang-Undang mengenai lembaga
pembiayaan ekspor Indonesia.

Laws that govern other transactions in


foreign currencies are, among others,
Law concerning Bank Indonesia, Law
concerning investment, Law concerning
fund transfer, and Law concerning
Indonesia export financing institutions.

Transaksi yang dapat dilakukan dalam


valuta asing yang diatur berdasarkan
Undang-Undang
seperti
kegiatan
melakukan transfer dan repatriasi dalam
valuta asing, antara lain terhadap modal,
keuntungan, bunga bank, deviden, dan
pendapatan lain, tambahan dana yang
diperlukan bagi pembiayaan penanaman
modal, dsb., sesuai dengan ketentuan
yang diatur dalam Pasal 8 ayat (3)
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal. Selain itu
kegiatan transfer dana dalam valuta asing
yang dilakukan oleh Penyelenggara
Transfer Dana sesuai ketentuan yang
diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Transfer
Dana.

Transactions that can be made in foreign


currencies as governed by Laws, such as
activities to transfer and repatriate in
foreign currencies are, among others,
capital, profits, bank interest, dividends,
and other income, funds that are needed
for investment, etc. pursuant to Article 8
section (3) of Law Number 25 of 2007
concerning Investment. In addition, these
transactions include fund transfer
activities in foreign currencies that are
made by the Money Transfer Operator
pursuant to Article 2 of Law Number 3 of
2011 concerning Fund Transfer.

16. Apakah diperbolehkan menolak untuk


menerima
Rupiah
yang
penyerahannya dimaksudkan sebagai
pembayaran
atau
untuk
menyelesaikan kewajiban yang harus
dipenuhi dengan Rupiah dan/atau
untuk transaksi keuangan lainnya di
wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia?

16. Is any party permitted to reject to


receive Rupiah which is delivered to
pay or settle the obligations payable in
Rupiah and/or in any other financial
transactions in the territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia?

Setiap pihak dilarang menolak untuk


menerima Rupiah yang penyerahannya
dimaksudkan sebagai pembayaran atau
untuk menyelesaikan kewajiban yang
harus dipenuhi dengan Rupiah dan/atau
untuk transaksi keuangan lainnya di
wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Any party is prohibited from rejecting to


receive Rupiah which is delivered to pay
or settle the obligations payable in
Rupiah and/or in any other financial
transactions in the territory of the Unitary
State of the Republic of Indonesia.

Contoh:

E.g.
24

Penyedia barang dan/atau jasa dilarang


menolak untuk menerima Rupiah dari
pengguna barang dan/atau jasa.

Any goods and/or services provider is


prohibited from rejecting to receive
Rupiah from goods and/or services users.

Namun demikian, larangan dimaksud


dikecualikan dalam hal:

This prohibition is, however, exempted


where:

a.

terdapat keraguan atas keaslian


Rupiah yang diterima untuk transaksi
tunai; atau

a.

the party is doubtful about the


genuineness of Rupiah received in a
cash transaction; or

b.

pembayaran
atau
penyelesaian
kewajiban dalam valuta asing telah
diperjanjikan secara tertulis.

b.

the payment or settlement of


obligations in foreign currencies is
made under the written agreement.

17. Apakah suatu transaksi diperbolehkan


menggunakan valuta asing apabila
telah diperjanjikan secara tertulis?

17. Is a transaction permitted to use


foreign currencies if made under the
written agreement?

Pada prinsipnya setiap pihak wajib


menggunakan Rupiah dalam setiap
transaksi di wilayah NKRI dan dilarang
menolak untuk menerima Rupiah yang
penyerahannya dimaksudkan sebagai
pembayaran atau untuk menyelesaikan
kewajiban yang harus dipenuhi dengan
Rupiah.

Any party must, in principle, use Rupiah


in any transaction made in the territory of
the Unitary State of the Republic of
Indonesia and is prohibited from rejecting
to receive Rupiah which is delivered to
pay or settle the obligations payable in
Rupiah.

Namun demikian, suatu pihak dapat


menolak untuk menerima Rupiah dengan
salah
satu
pertimbangan
bahwa
pembayaran atau penyelesaian kewajiban
dalam valuta asing telah diperjanjikan
secara
tertulis. Perjanjian tertulis
dimaksud hanya dapat dilakukan untuk:

Any party may, however, reject to receive


Rupiah on the grounds that the payment
or settlement of the obligations in foreign
currencies is made under the written
agreement. Such a written agreement
may be entered into only for:

a.

transaksi
yang
dikecualikan
dari
kewajiban penggunaan Rupiah; atau

a.

transactions that are exempted from


the mandatory use of Rupiah; or

b.

transaksi yang berkaitan dengan proyek


infrastruktur strategis dan mendapat
persetujuan Bank Indonesia sesuai
dengan ketentuan Bank Indonesia.
Penentuan proyek infrastruktur strategis
dibuktikan dengan surat keterangan dari
kementerian
atau
lembaga
yang
berwenang.

b.

transactions in connection with


strategic infrastructure projects upon
approval of Bank Indonesia under
the regulations of Bank Indonesia.
These
strategic
infrastructure
projects must be documented by the
certificate from the competent
ministry/agency.

B. PENCANTUMAN HARGA BARANG


DAN/ATAU JASA

B. PRICE-TAGGING/LABELLING OF
GOODS AND/OR SERVICES

18. Apakah pencantuman harga barang


dan/atau
jasa
diperbolehkan
menggunakan valuta asing?

18. Are goods and/or services permitted to


be price-tagged/labelled in foreign
currencies?

Setiap pelaku usaha di wilayah Negara


Kesatuan Republik Indonesia wajib
mencantumkan harga barang dan/atau

Any business operator in the territory of


the Unitary State of the Republic of
Indonesia must price-tag/label goods
25

jasa hanya dalam Rupiah dan dilarang


mencantumkan harga barang dan/atau
jasa dalam Rupiah dan mata uang asing
secara bersamaan (dual quotation).

and/or services in Rupiah only and is


prohibited from putting price-tags/labels
of goods and/or services in Rupiah and in
a foreign currency together (dual
quotation).

Contoh larangan dual quotation:

E.g.

Toko A mencantumkan harga 1 buah


komputer sebesar Rp15.000.000,00 dan
USD1,500.00 secara bersamaan.

Store A puts the price-tag/label of


Rp15,000,000 and USD1,500 on 1
computer set together.

Kewajiban pencantuman dan larangan


dimaksud antara lain berlaku untuk:

Mandatory price-tagging/labelling and


prohibition of price-tagging/labelling
apply to, among others:

a.

label harga, seperti label harga yang


tercantum pada barang;

a.

price tags/labels, such as price


tags/labels on goods;

b.

biaya jasa (fee), seperti fee agen


dalam jual beli properti, jasa
kepariwisataan, jasa konsultan;

b.

fees, such as property purchase fees


for agents, tourism fees, consulting
fees;

c.

biaya sewa menyewa, seperti sewa


apartemen, rumah, kantor, gedung,
tanah, gudang, kendaraan;

c.

rent/leasing fees, such as apartments,


houses, offices, buildings, land,
warehouses, vehicles;

d.

tarif, seperti tarif bongkar muat peti


kemas di pelabuhan atau tarif tiket
pesawat udara, kargo;

d.

rates/tariffs, such as container


loading/unloading tariffs at port, or
airfares, cargo tariffs;

e.

daftar harga, seperti daftar harga


menu restoran;

e.

price lists, such as restaurants food


price lists;

f.

kontrak, seperti klausul harga atau


biaya yang tercantum dalam kontrak
atau perjanjian;

f.

contracts, such as a clause on prices


or fees stated in the contracts or
agreements;

g.

dokumen penawaran, pemesanan,


tagihan, seperti klausul harga yang
tercantum dalam faktur, delivery
order, purchase order; dan/atau

g.

bidding
documents,
orders,
invoices/bills, such as a clause on
prices stated in the invoices/bills,
delivery orders, purchase orders,
and/or

h.

bukti pembayaran, seperti harga yang


tercantum dalam kuitansi.

h.

payment receipts, such as prices


stated in the receipts.

19. Bagaimana
pencantuman
harga
barang dan/atau jasa melalui media
elektronik?

19. What
about
price-tagging
and
prohibition of price-tagging of goods
and/or services in the electronic media?

Kewajiban dan larangan pencatuman


harga barang dan/atau jasa dalam Rupiah
berlaku pula untuk pencantuman harga
barang dan/atau jasa melalui media
elektronik.

Mandatory price-tagging and prohibition


of price-tagging of goods and/or services
in Rupiah also apply to price-tagging of
goods and/or services in the electronic
media.

26

C. PROYEK INFRASTRUKTUR
STRATEGIS

C. STRATEGIC INFRASTRUCTURE
PROJECTS

20. Proyek infrastruktur seperti apa yang


dapat dikategorikan sebagai proyek
infrastruktur strategis yang dapat
dikecualikan
dari
kewajiban
penggunaan Rupiah?

20. What infrastructure projects can be


categorized as strategic infrastructure
projects to be exempted from the
mandatory use of Rupiah?

Proyek infrastruktur mencakup proyek


sebagai berikut:

These infrastructure projects include the


following projects:

a.

infrastruktur transportasi, meliputi


pelayanan jasa kebandarudaraan,
penyediaan dan/atau pelayanan jasa
kepelabuhanan, sarana dan prasarana
perkeretaapian;

a.

transportation
infrastructure,
including airport services, seaport
supply and/or services, railway
infrastructure and facilities;

b.

infrastruktur jalan, meliputi jalan tol


dan jembatan tol;

b.

road infrastructure, including toll


roads and toll bridges;

c.

infrastruktur pengairan, meliputi


saluran pembawa air baku;

c.

irrigation infrastructure, including


raw water mains;

d.

infrastruktur air minum, yang


meliputi bangunan pengambilan air
baku, jaringan transmisi, jaringan
distribusi, instalasi pengolahan air
minum;

d.

drinking
water
infrastructure,
including raw water extraction
buildings, transmission network,
distribution network, drinking water
treatment installations;

e.

infrastruktur sanitasi, yang meliputi


instalasi pengolah air limbah,
jaringan pengumpul dan jaringan
utama, dan sarana persampahan yang
meliputi pengangkut dan tempat
pembuangan;

e.

sanitation infrastructure, including


waste water treatment installations,
hub network and core network, and
waste facilities including transporters
and disposal sites;

f.

infrastruktur telekomunikasi dan


informatika,
meliputi
jaringan
telekomunikasi dan infrastruktur egovernment;

f.

telecommunications and informatics


infrastructure,
including
telecommunication network and egovernment infrastructure;

g.

infrastruktur
ketenagalistrikan,
meliputi
pembangkit,
termasuk
pengembangan tenaga listrik yang
berasal dari panas bumi, transmisi
atau distribusi tenaga listrik; dan

g.

electricity infrastructure, including


power plants, such as geothermalbased electricity development, power
transmission or distribution; and

h.

infrastruktur minyak dan gas bumi,


meliputi transmisi dan/atau distribusi
minyak dan gas bumi.

h.

oil and natural gas infrastructure,


including oil and natural gas
transmission and/or distribution.

Proyek infrastruktur tersebut di atas dapat


dikecualikan dalam penggunaan Rupiah
apabila:

Such strategic infrastructure projects may


be exempted from the mandatory use of
Rupiah if:

a.

a.

dinyatakan oleh pemerintah pusat


atau pemerintah daerah sebagai

declared by the central government


or the regional government as
27

proyek infrastruktur strategis yang


dibuktikan dengan surat keterangan
dari kementerian/lembaga terkait
kepada pemilik proyek; dan
b.

memperoleh
persetujuan
pengecualian terhadap kewajiban
penggunaan Rupiah dari Bank
Indonesia.

strategic infrastructure projects, as


documented by the certificate from
the competent ministry/agency to the
project owner; and
b.

approved by Bank Indonesia to be


exempted from the mandatory use of
Rupiah.

21. Apa
saja
pertimbangan
Bank
Indonesia
dalam
memberikan
persetujuan terhadap permohonan
proyek infrastruktur strategis?

21. What
consideration
does
Bank
Indonesia take into to approve the
request to be categorized as strategic
infrastructure projects?

Dalam memberikan persetujuan, Bank


Indonesia mempertimbangkan antara lain
sumber pembiayaan proyek dan dampak
proyek tersebut terhadap stabilitas
ekonomi makro.

Bank Indonesia will, to give approval,


take into consideration the following,
among others, the financing sources of
the project and the resultant impacts of
the project on the stability of the
macroeconomics.

22. Apa saja cakupan pengecualian


penggunaan Rupiah dalam proyek
infrastruktur strategis?

22. Within what scope does Bank


Indonesia approve to exempt strategic
infrastructure projects from the use of
Rupiah?

Persetujuan pengecualian penggunaan


Rupiah dalam proyek infrastruktur
strategis yang diberikan oleh Bank
Indonesia dapat mencakup:

Approval to exempt the strategic


infrastructure projects from the use of
Rupiah is given by Bank Indonesia within
the scope of:

a.

transaksi
dalam
rangka
pembangunan proyek infrastruktur
strategis sampai dengan proyek
selesai dibangun; dan/atau

a.

transactions from the construction of


strategic infrastructure project to the
completion of the project; and/or

b.

transaksi dalam rangka penjualan


produk atau jasa yang dihasilkan
oleh proyek infrastruktur strategis
sampai dengan jangka waktu
tertentu, dengan syarat penjualan
produk atau jasa tersebut telah
diperjanjikan
sejak
awal
pembangunan proyek dimaksud.

b.

transactions of sale of products or


services generated from the strategic
infrastructure project for a definite
term as long as the sale of the
products or services is made under
the agreement from the beginning of
the construction of the project.

23. Bagaimana
pengajuan
untuk
pelaksanaan proyek infrastruktur
yang dilaksanakan oleh konsorsium?

23. How does a consortium submit the


request to exempt the infrastructure
projects from the use of Rupiah?

Dalam hal proyek dilaksanakan oleh


konsorsium, permohonan dapat diajukan
oleh salah satu anggota konsorsium untuk
dan atas nama konsorsium atau diajukan
secara bersama-sama oleh anggota
konsorsium tersebut.

Where the project is carried out by a


consortium, a request therefor may be
submitted by one of the members of the
consortium acting for and on behalf of the
consortium, or jointly submitted by the
members of the consortium.
28

24. Bagaimana tata cara dan proses


pengajuan
permohonan
proyek
infrastruktur strategis agar dapat
dikecualikan
dari
kewajiban
penggunaan Rupiah?

24. What are the procedures and process


to submit the request to exempt the
infrastructure projects from the
mandatory use of Rupiah?

a.

Pemohon
menyampaikan
permohonan secara tertulis kepada
Bank Indonesia.

a.

The applicant must submit the


request in writing to Bank Indonesia.

b.

Surat permohonan harus disertai


dengan dokumen sebagai berikut:

b.

A request must be accompanied by


the following documentation:

1) dokumen yang menunjukkan


legalitas pemohon, seperti akta
pendirian dan anggaran dasar
perusahaan
termasuk
perubahannya,
keterangan
domisili, dan profil badan usaha;

1) documents stating the legality of


the applicant, such as a
memorandum of association and
the articles of association of the
company, along with their
amendments,
certificate
of
domicile, and company profile;

2) surat
keterangan
dari
kementerian atau lembaga yang
berwenang yang menyatakan
bahwa
proyek
yang
dilaksanakan merupakan proyek
infrastruktur strategis;

2) a certificate from the competent


ministry or agency stating that
the project being carried out is
the
strategic
infrastructure
project;

3) dalam hal permohonan diajukan


oleh pelaksana pekerjaan atau
kontraktor maka keterangan
mengenai proyek infrastruktur
strategis dapat berupa fotokopi
surat keterangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf b yang
disertai dengan rekomendasi
yang menyatakan bahwa:

3) where the request is submitted


by a contractor, the certificate of
the
strategic
infrastructure
project may be a photocopy as
referred to in point (b),
accompanied
by
the
recommendation stating that:

a)

proyek yang dilaksanakan


merupakan bagian dari
proyek
infrastruktur
strategis; dan/atau

a)

the project being carried out


is part of the strategic
infrastructure
project;
and/or

b) pelaksanaan
proyek
memerlukan valuta asing
dalam rangka pengadaan
barang dan/atau jasa yang
berasal dari luar wilayah
Negara Kesatuan Republik
Indonesia;

b) the project needs foreign


currencies to procure goods
and/or services from outside
the territory of the Unitary
State of the Republic of
Indonesia;

4) fotokopi perjanjian tertulis yang


menyatakan bahwa pembayaran
menggunakan valuta asing, yang
dinyatakan
sesuai
dengan
aslinya oleh pemohon.

4) a photocopy of the written


agreement stating that the
payment is foreign currencybased, certified as true copy of
the original document.
29

c.

Dalam
rangka
memproses
permohonan, Bank Indonesia dapat
meminta
keterangan
dan/atau
dokumen tambahan dan melakukan
pemeriksaan terkait permohonan
yang diajukan pemohon, seperti
pemeriksaan ke lokasi proyek.

c.

To process the request, Bank


Indonesia may make inquiries and/or
require additional documents and
make examination in connection with
the request submitted by the
applicant, such as a project site
inspection.

d.

Bank
Indonesia
memberikan
persetujuan atau penolakan secara
tertulis atas permohonan yang
disampaikan, paling lama 30 (tiga
puluh) hari sejak permohonan
diterima secara lengkap.

d.

Bank Indonesia will approve or


reject the request in writing within 30
(thirty) days from when the request is
fully received.

e.

Bank Indonesia memberitahukan


secara tertulis kepada pemohon
apabila diperlukan tambahan waktu
sehingga melebihi jangka waktu 30
(tiga puluh) hari untuk pemrosesan
permohonan.

e.

Bank Indonesia will notify the


applicant in writing in case of
needing extra days to exceed 30
(thirty) days to process the request.

D. PELAKSANAAN KEWAJIBAN
PENGGUNAAN RUPIAH UNTUK
TRANSAKSI NON TUNAI BAGI
PELAKU USAHA DENGAN
KARAKTERISTIK TERTENTU

D. IMPLEMENTATION OF MANDATORY
USE OF RUPIAH IN NON-CASH
TRANSACTIONS BY BUSINESS
OPERATORS WITH CERTAIN
CHARACTERISTICS

25. Apa pertimbangan Bank Indonesia


dalam menetapkan kebijakan tertentu
terhadap permasalahan yang dialami
oleh
pelaku
usaha
dengan
karakteristik
tertentu
terkait
penerapan kewajiban penggunaan
Rupiah?

25. How does Bank Indonesia adopt a


certain policy in case there are issues of
certain
characteristics
affecting
business operators in connection with
the implementation of the mandatory
use of Rupiah?

Dalam menetapkan kebijakan tertentu,


Bank Indonesia mempertimbangkan
antara lain:

To adopt a certain policy, Bank Indonesia


will take the following into consideration,
among others:

a.

kesiapan pelaku usaha, antara lain


dalam hal penerapan kewajiban
penggunaan Rupiah memerlukan
perubahan yang mendasar dalam
sistem dan/atau proses bisnis dari
kegiatan usaha dan/atau pelaku usaha
tertentu;

a.

the readiness of the business


operators, in which, among others,
that to apply the mandatory use of
Rupiah
requires
fundamental
changes in the business system
and/or process of the business
activities and/or certain business
operators;

b.

kontinuitas kegiatan usaha, antara


lain dalam hal penerapan kewajiban
penggunaan Rupiah dalam waktu
segera tanpa masa transisi yang
cukup,
dapat
mempengaruhi
kelangsungan kegiatan usaha;

b.

the continuity of the business, in


which, among others, that to apply
the mandatory use of Rupiah in the
immediate term without an adequate
time of transition may affect the
continuity of the business activities.
30

c.

kegiatan investasi, antara lain dalam


hal kegiatan usaha memerlukan
pembiayaan dalam valuta asing
untuk periode tertentu dan kewajiban
penggunaan Rupiah dalam waktu
segera dapat mengganggu investasi
yang bersangkutan; dan/atau

c.

investment activities, in which,


among others, that business activities
require
financing
in
foreign
currencies for a definite period of
time and the use of Rupiah in the
immediate term may affect the
ongoing investment; and/or

d.

kegiatan usaha yang memiliki


dampak
signifikan
terhadap
pertumbuhan ekonomi nasional.

d.

business activities with significant


impacts on the growth of the national
economy.

26. Apakah terdapat pertimbangan


lainnya?
Selain mempertimbangkan faktor, Bank
Indonesia
mempertimbangkan
pula
kepatuhan pelaku usaha terhadap
ketentuan Bank Indonesia antara lain
mengenai kewajiban penerimaan devisa
hasil ekspor, dan penerapan prinsip
kehati-hatian dalam pengelolaan utang
luar negeri korporasi non Bank.
E. LAPORAN TERKAIT PENGGUNAAN
RUPIAH

26. Is there any other consideration?


In addition to taking some factors into
consideration, Bank Indonesia will also
consider the compliance of the business
operators with the regulations of Bank
Indonesia concerning, among others, the
mandatory receipt of export proceeds and
the principle of prudence in the
management of foreign debts of nonBank corporations.
E. REPORTS ON THE USE OF RUPIAH

27. Apakah Bank Indonesia meminta


laporan terkait pelaksanaan kewajiban
penggunaan Rupiah ini?

27. Does Bank Indonesia request reports


on the implementation of the
mandatory use of Rupiah?

Bank Indonesia berwenang untuk


meminta laporan, keterangan, dan/atau
data kepada setiap pihak yang terkait
dengan
pelaksanaan
kewajiban
penggunaan Rupiah.

Bank Indonesia is authorized to request


reports, descriptions, and/or data from
any party involved in the implementation
of the mandatory use of Rupiah.

28. Apa kewajiban pihak yang dimintakan


laporan oleh Bank Indonesia?

28. What must any party do if Bank


Indonesia requests them to submit a
report?

Setiap pihak wajib menyampaikan


laporan, keterangan, dan/atau data kepada
Bank Indonesia disertai dengan dokumen
pendukung, dalam hal diminta oleh Bank
Indonesia.

Any party must submit reports,


descriptions, and/or data to Bank
Indonesia,
accompanied
by
the
supporting documentation where Bank
Indonesia so requires.

F. PENGAWASAN DAN PENGENAAN


SANKSI TERKAIT PELAKSANAAN
KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH
29. Bagaimana
pengawasan
yang
dilakukan oleh Bank Indonesia terkait
pelaksanaan kewajiban penggunaan
Rupiah di wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia

F. SUPERVISION AND IMPOSITION OF


SANCTIONS WITH RESPECT TO THE
MANDATORY USE OF RUPIAH
29. How does Bank Indonesia supervise
the mandatory use of Rupiah in the
territory of the Unitary State of the
Republic of Indonesia?
31

Bank Indonesia melakukan pengawasan


terhadap kepatuhan setiap pihak dalam
melaksanakan kewajiban penggunaan
Rupiah dan kewajiban pencantuman
harga barang dan/atau jasa dalam Rupiah,
yang dilakukan secara langsung maupun
tidak langsung. Pengawasan secara
langsung dilakukan melalui pemeriksaan
yang dapat dilakukan sewaktu-waktu oleh
Bank Indonesia. Pengawasan secara tidak
langsung dilakukan melalui kegiatan
analisa dan evaluasi atas laporan yang
disampaikan oleh setiap pihak.

Bank
Indonesia
supervises
the
compliance of any party with the
implementation of the mandatory use of
Rupiah and the mandatory price-tagging
of goods and/or services in Rupiah, either
onsite or offsite. Onsite supervision is
made by Bank Indonesia by means of a
spot check. Offsite supervision is made
by analyzing and evaluating the reports
submitted by the party.

30. Bagaimana pemeriksaan langsung


yang dilakukan oleh Bank Indonesia?

30. How does Bank Indonesia make onsite


supervision?

Dalam
melaksanakan
pemeriksaan
langsung,
Bank
Indonesia
dapat
melakukan meminta kepada pihak yang
diperiksa untuk memberikan kepada
pemeriksa antara lain:

In the making of onsite supervision, Bank


Indonesia may request the party under
inspection to provide the inspection
officers the following, among others:

a.

laporan keuangan, data transaksi, dan


data pendukung;

a.

the financial statements, transaction


data, and supporting data;

b.

akses untuk melakukan observasi


terhadap aktivitas operasional dan
sarana fisik yang berkaitan dengan
kegiatan usahanya; dan/atau

b.

access to observing the operating


activities and physical facilities in
connection
with
its
business
activities; and/or

c.

keterangan mengenai transaksi dan


kegiatan yang berkaitan dengan
kewajiban penggunaan Rupiah dari
pihak yang kompeten dan berwenang
pada saat pemeriksaan sedang
berlangsung.

c.

descriptions on transactions and


activities with respect to the
mandatory use of Rupiah by the
competent and authorized officers
during inspection.

31. Bagaimana pengenaan sanksi terhadap


pihak yang melanggar kewajiban
penggunaan
Rupiah
dan/atau
pencantuman harga barang dan/atau
jasa di wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia?

31. How to impose sanctions on the party


in violation of the mandatory use of
Rupiah and/or the mandatory pricetagging/labelling of goods and/or
services in the territory of the Unitary
State of the Republic of Indonesia?

Setiap
pihak
yang
melakukan
pelanggaran
terhadap
kewajiban
penggunaan Rupiah di Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dikenakan
sanksi, dengan ketentuan:

Any party in violation of the mandatory


use of Rupiah in the territory of the
Unitary State of the Republic of
Indonesia will be imposed sanctions, as
follows:

a.

a.

Terhadap
pelanggaran
atas
kewajiban penggunaan Rupiah untuk
transaksi tunai dan/atau larangan
menolak Rupiah untuk transaksi
tunai berlaku ketentuan pidana

Any violation of the mandatory use


of Rupiah in cash transactions and/or
prohibition from rejecting Rupiah in
cash transactions is subject to the
criminal provisions of Article 33 of
32

sebagaimana dimaksud dalam Pasal


33 Undang-Undang Nomor 7 Tahun
2011 tentang Mata Uang.
b.

c.

Penerapan
sanksi
terhadap
pelanggaran
atas
kewajiban
penggunaan Rupiah untuk transaksi
non
tunai
dikenakan
sanksi
administratif berupa:

Law Number 7 of 2011 concerning


Currency.
b.

Sanctions against violation of the


mandatory use of Rupiah in non-cash
transactions will be imposed
administrative sanction of:

1) teguran tertulis;

1) written warnings;

2) kewajiban membayar, ditetapkan


sebesar 1% (satu persen) dari
nilai transaksi, dengan jumlah
kewajiban membayar paling
banyak
sebesar
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah); dan/atau

2) obligatory payment by 1% (one


percent) of the transaction value,
in the aggregate, not exceeding
Rp1,000,000,000 (one billion
rupiah); and/or

3) larangan untuk ikut dalam lalu


lintas pembayaran.

3) prohibition from engaging in


any payment transaction.

Pelanggaran
atas
kewajiban
pencantuman harga barang dan/atau
jasa dalam Rupiah dan kewajiban
penyampaian laporan, keterangan,
dan/atau data dikenakan sanksi
administratif berupa teguran tertulis.

G. KORESPONDENSI

c.

Any violation of the mandatory


price-tagging of goods and/or
services in Rupiah and the
obligations to submit reports,
descriptions, and/or data will be
imposed administrative sanctions of
written warnings.

G. CORRESPONDENCE

32. Bagaimana penyampaian permohonan,


penyampaian laporan, dan/atau surat
menyurat kepada Bank Indonesia?

32. How to submit requests, reports,


and/or to have correspondence to Bank
Indonesia?

Penyampaian permohonan, penyampaian


laporan,
dan/atau
surat
menyurat
disampaikan dalam Bahasa Indonesia
kepada Bank Indonesia dengan alamat:

Requests, reports, and/or correspondence


must be made in the Indonesian language
and sent to Bank Indonesia at the address
of:

Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran


(Department of Policy and Supervision of Payment System)
Kompleks Perkantoran Bank Indonesia Gedung D lantai 5
Jl. M.H. Thamrin No. 2
Jakarta 10350
Dalam hal terjadi perubahan alamat
tersebut di atas, Bank Indonesia akan
memberitahukan melalui surat dan/atau
media lainnya.
H. LAIN-LAIN
33. Bagaimana ketentuan pelaksanaan
terhadap perjanjian tertulis mengenai
pembayaran
atau
penyelesaian

In case of change of/in the address above,


Bank Indonesia will write a notification
by mail and/or other media.
H. MISCELLANEOUS
33. How are the written agreements on
payment or settlement of obligations in
foreign currencies that are entered into
33

kewajiban dalam valuta asing yang


dibuat sebelum tanggal 1 Juli 2015?

before July 1, 2015 treated?

Terhadap perjanjian tertulis mengenai


pembayaran atau penyelesaian kewajiban
dalam valuta asing yang dibuat sebelum
tanggal 1 Juli 2015 berlaku ketentuan
sebagai berikut:

Written agreements on payment or


settlement of obligations in foreign
currencies that are entered into before
July 1, 2015 will be treated as follows:

a.

Perjanjian tertulis meliputi perjanjian


induk, perjanjian turunan atau
dokumen lainnya yang memuat
mengenai transaksi yang akan
dilakukan para pihak, seperti
purchasing order dan delivery order.

a.

Written agreements include master


agreements, ancillary agreements or
other supporting documentation that
contain transactions to be made by
the parties, such as purchasing order
and delivery order.

b.

Perjanjian tertulis yang merupakan


turunan atau pelaksanaan dari
perjanjian induk yang dibuat sejak
tanggal
1
Juli
2015
yang
diperlakukan sebagai perjanjian yang
berdiri sendiri wajib tunduk pada
ketentuan yang mengatur mengenai
kewajiban penggunaan Rupiah di
Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

b.

Written agreements, themselves


ancillary or complementary to the
master agreement entered into as of
July 1, 2015, and considered as
individual agreements, must comply
with the provisions that govern the
mandatory use of Rupiah in the
Territory of the Unitary State of the
Republic of Indonesia.

c.

Perpanjangan jangka waktu dan/atau


perubahan atas perjanjian tertulis
yang dilakukan sejak tanggal 1 Juli
2015 wajib tunduk pada ketentuan
yang mengatur mengenai kewajiban
penggunaan Rupiah di Wilayah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia. Perubahan perjanjian
tertulis tersebut antara lain perubahan
mengenai pihak dalam perjanjian,
harga barang dan/atau jasa, dan/atau
obyek perjanjian.

c.

Renewal of the term and/or


amendment of a written agreement
entered into as of July 1, 2015 must
comply with the provisions that
govern the mandatory use of Rupiah
in the Territory of the Unitary State
of the Republic of Indonesia. The
amendment includes, among others,
change of parties to the agreement,
prices of goods and/or services,
and/or objects of the agreement.

34. Kapan Surat Edaran Bank Indonesia


ini mulai berlaku?
Surat Edaran Bank Indonesia ini mulai
berlaku pada tanggal 1 Juni 2015.

34. When does this Circular of Bank


Indonesia come into effect?
This Circular of Bank Indonesia comes
into effect on June 1, 2015.

---oOo---

Translated by: Wishnu Basuki


wbasuki@gmail.com

34