Anda di halaman 1dari 3

Learning Objective

1. All about arthritis rheumatoid


A. Definisi
Penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik kronik
dan progresif, dimana sendi merupakan target utama.
B. Etiologi
a. Faktor genetik
Faktor genetik berperan penting terhadap kejadian AR, dengan
angka kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60%.
b. Hormon seks
Prevalensi AR lebih besar pada perempuan dibandingkan lakilaki.
c. Faktor infeksi
Beberapa virus dan bakteri diduga sebagai agen penyebab
penyakit, seperti Mycoplasma, Retrovirus, Enteric bacteriaI, dan
Mycobateria. Organisme ini diduga menginfeksi sel induk semang dan
merubah respon sel T sehingga mencetuskan penyakit.
C. Faktor resiko
a. Jenis kelamin perempuan
b. RPK AR
c. Umur lebih tua
d. Paparan salisilat
e. Merokok
f. Konsumsi kopi > 3 x sehari
g. Makanan tinggi vitamin D
D. Patogenesis
Kerusakan sendi pada AR dimulai dari proliferasi makrofag dan
fibroblas sinovial setelah adanya faktor pencetus, berupa autoimun atau
infeksi. Limfosit menginfiltrasi daerah perivaskular dan terjadi proliferasi
sel-sel endotel, yang selanjutnya terjadi neovaskularisasi. Pembuluh darah
pada sendi yang terlibat mengalami oklusi oleh bekuan-bekuan kecil atau
sel-sel inflamasi. Terjadi pertumbuhan yang ireguler pada jaringan sinovial
yang mengalami inflamasi sehingga membentuk jaringan pannus. Pannus
menginfeksi dan merusak rawan sendi dan tulang. Berbagai macam
sitokin, interleukin, proteinase, dan faktor pertumbuhan dilepaskan,
sehingga mengakibatkan destruksi sendi dan komplikasi sistemik.

E. Manifestasi klinis
a. Kekakuan sendi pada pagi hari selama lebh dari satu jam
b. Kelemahan
c. Kelelahan
d. Anoreksia
e. Demam ringan
f. Tanda inflamasi mungkin ditemukan
F. Kriteria diagnostik
a. Kaku pgi hari
b. Arthritis pada 3 persendian atau lebih
c. Arthritis pada persendian tangan
d. Arthritis yang simetris
e. Nodul Rematoid
f. Faktor rematoid serum positif
g. Perubahan gambaran radiologis
G. Penatalaksanaan
Tujuan dari penatalaksanaan pada penderita AR adalah:
a. Mengurangi nyeri
b. Mempertahankan status fungsional
c. Mengurangi inflamasi
d. Mengendalikan keterlibatan sistemik
e. Proteksi sendi dan struktur ekstraartikular
f. Mengendalikan progresivitas penyakit
g. Menghindari komplikasi yang berhubungan dengan terapi
Terapi pada arthritis rheumatoi sendiri terdiri dari dua hal, antara lain
sebagai berikut:
a. Terapi non farmakologi
1. Memberikan edukasi
2. Pendekatan multidisiplin
3. Terapi puasa
4. Suplementasi asam lemak esensial
5. Terapi spa
6. Latihan
7. Pemberian suplemen minyak ikan
b. Terapi farmakologik
1. OAINS
Digunakan sebagai terapi awal untuk mengurangi nyeri dan
pembengkakkan. OAINS tidak boleh digunakan secara tunggal,
karena tidk merubah perjalanan penyakit.
2. Gluokortikoid
Steroid dengan dosis ekuivalen dengan prednison kurang dari
10 mg per hari cukup efektif untuk meredakan gejala dan dapat

memperlambat kerusakan sendi. Terapi glukokrtikoid harus disertai


dengan pemberian kalsium 150 mg dan vitamin D 400 800 IU.
3. DMARD (Disease-modifying antirhematic drugs)
Pemberian DMARD harus dipertimbangkan untuk semua
pnderita AR. Pemilihan jenis DMARD harus mempertimbangkan
kepatuhan, beratnya penyakit, dan penyakit penyerta. DMARD yang
paling sering digunakan adalah:
i.

Methotrexate
Dosis yang diberikan 7,5 25 mg p.o, IM, atau SC per minggu.
ii. Hidroksiklorokuin, klorokuin fosfat
Dosis yang diberikan 200 400 mg p.o, 250 mg p.o per hari.
iii. Sulfasalazin
Dosis yang diberikan 2 3 mg p.o per hari
iv. Leflunomide
Dosis yang diberikan 100 mg p.o per hari selama tiga hari,
kemudian 10 20 mg p.o per hari.
v.

Etanercept
Dosis yang diberikan 25 mg SC 2 kali per minggu atau 50 mg

SC per minggu.
vi. Infliximab
Dosis yang diberikan 3 mg/kg BB IV pada minggu ke 0, 2,
dan 6 kemudian setiap 8 minggu.
H. Komplikasi
a. Anemia
b. Kanker
c. Deformitas pada sendi-sendi
d. Miokarditis
e. Penyakit tulang belakang leher
f. Episkleritis
g. Nodul rheumatoid
h. Vaskulitis
I. Prognosis
a. Prognosis buruk, jika melibatkan banyak sendi.
b. Prognosis baik, jika penderita mempunyai penyakit yang lebih ringan
dan terapi yang adekuat.
(Sudoyo, Aru W. 2009. Buku Ajar: Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI)