Anda di halaman 1dari 30

Referat

Manajemen
Hipertensi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia,
dan berkaitan dengan pola perilaku hidup masyarakat itu sendiri. Dimana
tekanan darah yang tinggi bila ditinjau dari prevalensi yang cukup tinggi
dan akibat yang ditimbulkan merupakan suatu masalah kesehatan
masyarakat. Hipertensi sendiri tidak menunjukan gejala maka sering baru
disadari bila telah menyebabkan gangguan organ misalnya gangguan
fungsi jantung atau gangguan koroner, gangguan fungsi ginjal, gangguan
fungsi kognitif atau stroke. Tidak jarang hipertensi ditemukan secara tidak
sengaja waktu pemeriksaan kesehatan rutin atau dengan keluhan lain.
Penanggulangan hipertensi dimulai dengan meningkatkan kesadaran
masyarakat dan perubahan pola hidup kearah yang lebih sehat. 1
Tekanan darah yang tinggi menyebabkan kerusakan target organ
hipertensi, seperti otak, jantung, ginjal, mata, dan pembuluh darah. Hasil
studi jangka panjang dari Framingham selama dua puluh tahun, terlihat
hubungan semakin tinggi tekanan darah, semakin besar resiko menderita
penyakit

jantung

koroner,

stroke,

dan

gagal

jantung

kongestif.

Berdasarkan hal ini, tekanan darah yang tinggi mesti diturunkan ke nilai
normal,

untuk

menghindari

kerusakan

organ

target.

Dengan

penanggulangan yang tepat maka angka morbiditas dan mortalitas


kardiovaskular, serebrovaskular serta progresifitas penyakit ginjal akibat
hipertensi dapat diturunkan.4
1.2 Epidemiologi
Walaupun peningkatan tekanan darah bukan merupakan bagian
normal dari ketuaan, insiden hipertensi pada lanjut usia adalah tinggi.
Setelah umur 69 tahun, prevalensi hipertensi meningkat sampai 50%.
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

Pada tahun 1988-1991 National Health and Nutrition Examination Survey


menemukan prevalensi hipertensi pada kelompok umur 65-74 tahun
sebagai berikut: prevalensi keseluruhan 49,6% untuk hipertensi derajat 1
(140-159/90-99 mmHg), 18,2% untuk hipertensi derajat 2 (160-179/100109 mmHg), dan 6.5% untuk hipertensi derajat 3 (>180/110 mmHg).
Prevalensi HCT adalah sekitar berturut-turut 7%, 11%, 18% dan 25% pada
kelompok umur 60-69, 70-79, 80-89, dan diatas 90 tahun. HST lebih
sering ditemukan pada perempuan dari pada laki-laki. Pada penelitian di
Rotterdam, Belanda ditemukan: dari 7983 penduduk berusia diatas 55
tahun, prevalensi hipertensi (160/95 mmHg) meningkat sesuai dengan
umur, lebih tinggi pada perempuan (39%) dari pada laki-laki (31%). Di
Asia, penelitian di kota Tainan, Taiwan menunjukkan hasil sebagai berikut:
penelitian

pada

usia

diatas

65

tahun

dengan

kriteria

hipertensi

berdasarkan JNVC, ditemukan prevalensi hipertensi sebesar 60,4% (lakilaki 59,1% dan perempuan 61,9%), yang sebelumnya telah terdiagnosis
hipertensi

adalah

31,1%

(laki-laki

29,4%

dan

perempuan

33,1%),

hipertensi yang baru terdiagnosis adalah 29,3% (laki-laki 29,7% dan


perempuan 28,8%). Pada kelompok ini, adanya riwayat keluarga dengan
hipertensi dan tingginya indeks masa tubuh merupakan faktor risiko
hipertensi. Ditengarai bahwa hipertensi sebagai faktor risiko pada lanjut
usia. Pada studi individu dengan usia 50 tahun mempunyai tekanan darah
sistolik

terisolasi

sangat

rentan

terhadap

kejadian

penyakit

Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor utama yaitu :2


1. Volume cairan yang mengisi pembuluh darah

besarnya

kardiovaskuler.2,3
1.3 Definisi Hipertensi

ditentukan oleh curah jantung,


2. Tahanan pembuluh darah tepi (resistensi perifer) terhadap aliran
darah yang mengalir.

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

Hasil pengukuran langsung atau tidak langsung tekanan darah


sistolik den tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik merefleksikan
nilai curah jantung, bila kompliens aorta normal. Meningkatnya curah
jantung akan menaikan tekanan darah sistolik. Sedangkan curah jantung
ditentukan oleh isi sekuncup dikalikan frekuensi denyut jantung. Karena
itu, tekanan darah sistolik sangat mudah berubah atau bervariasi dalam
periode waktu yang singkat, sesuai dengan aktifitas tubuh. Tekanan darah
sistolik akan meningkat pada orang yang cemas, baru naik tangga, jalan
cepat, selesai makan dan minum.1,4
Kontras, tekanan darah diastolik yang merefleksikan resistensi
perifer hanya akan berubah pada aktifitas fisik yang berat dan perubahan
yang terjadi hanya sedikit. Pada orang yang terlatih atau olahragawan,
pada aktifitas fisik yang berat terdapat penurunan tekanan darah diastolik
walaupun relatif kecil. Hal ini disebabkan pengaruh mekanisme lokal zat
metabolit dan respon miogenik yang bersifat vasodilatasi, dikenal sebagai
respon hiperemis. Sebaliknya pada orang yang tidak terlatih, aktifitas fisik
yang berlebihan dapat menaikan tekanan darah diastolik.2
Jadi tekanan darah memberikan informasi tentang curah jantung
dan resistensi perifer maka disebutkan tekanan darah adalah refleksi
kardiovaskular.

Sedangkan

Hipertensi

adalah

kondisi

abnormal

(disorder) dari hemodinamik. Jadi hipertensi merefleksikan gangguan


fungsi sistem kardiovaskular yang mengatur sirkulasi darah keseluruh
tubuh, dengan konsekuensi meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Bila
penyebab hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya disebut hipertensi
esensial (primer), frekuensinya berkisar 95-98%. Sedangkan yang dapat
diketahui penyebabnya disebut hipertensi sekunder, frekuensinya berkisar
2-5%.1,3

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Etiologi
Berdasarkan penyebeb hipertensi, dapat diklasifikasikan sebagai:
a) Hipetensi primer
Hipertensi

primer

didefinisikan

sebagai

hipertensi

yang

tidak

disebabkan oleh adanya gangguan organ lain seperti ginjal dan jantung.
Hipertensi ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan seperti faktor
keturunan, pola hidup yang tidak seimbang, keramaian, stress dan
pekerjaan. Sikap yang dapat menyebabkan hipertensi seperti konsumsi
tinggi lemak, garam, aktivitas yang rendah, kebiasaan merokok, konsumsi
alkohol dan kafein. Sebagian besar hipertensi primer disebabkan oleh
faktor stress.6
b) Hipertensi sekunder
Hipertensi yang disebabkan oleh gangguan ginjal, endokrin dan
kekakuan dari aorta. Kondisi stress dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah, karena saat seseorang dalam kondisi stress akan terjadi
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

pengeluaran beberapa hormon yang akan menyebabkan penyempitan


dari pembuluh darah dan pengeluaran cairan lambung yang berlebihan,
akibatnya seseorang akan mengalami mual, muntah, mudah kenyang,
nyeri lambung yang berulang, dan nyeri kepala. Kondisi stress yang terus
dapat menyebabkan komplikasi hipertensi pula. Pola hidup yang tidak
seimbang, merupakan sikap hidup yang tidak tepat komposisi antara
asupan makanan, olah raga dan istirahat, sehingga menimbulkan gejala
awal seperti obesitas yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan
lain seperti kencing manis, dan gangguan jantung.6
Konsumsi

garam

berlebihan,

dapat

menimbulkan

darah

tinggi

diakibatkan oleh peningkatan kekentalan dari darah, sehingga jantung


membutuhkan tenaga yang lebih untuk mendorong darah sampai ke
jaringan paling kecil.6
Kebiasaan konsumsi alkohol, kafein, merokok dapat menyebabkan
kekakuan dari pembuluh darah sehingga kemampuan elastisitas pada
saat mengalami tekanan yang tinggi menjadi hilang.6
2.2 Patofisiologi Hipertensi
Baik TDS (Tekanan Darah Sistol) maupun TDD (Tekanan Darah
Diastol) meningkat sesuai dengan meningkatnya umur. TDS meningkat
secara progresifsampai umur 70-80 tahun, sedangkan TTD meningkat
sampai umur 50-60 tahun dan kemudian cenderung menetap atau sedikit
menurun, kombinasi perubahan ini sangat mungkin mencerminkan
adanya

kekakuan

pembuluh

darah

dan

penurunan

kelenturan

(compliance) arteri dan ini mengakibatkan peningkatan tekanan nadi


sesuai dengan umur. Seperti diakui tekanan nadi merupakan prediktor
terbaik dari adanya perubahan struktural dalam arteri. Mekanisme pasti
hipertensi pada lanjut usia belum sepenuhnya jelas. Efek utama dari
ketuaan normal terhadap sistem kardiovaskuler meliputi perubahan aorta
dan pembuluh darah sistemik. Penebalan dinding aorta dan pembuluh
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

darah besar meningkat dan elastisitas pembuluh darah menurun sesuai


umur. Perubahan ini menyebabkan penurunan compliance aorta dan
pembuluh darah besar dan mengakibatkan peningkatan TDS. Penurunan
elastisitas pembuluh darah menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler
perifer. Sensitivitas baroreseptor juga berubah seiring dengan umur.
Perubahan mekanisme refleks baroreseptor mungkin dapat menerangkan
adanya variabilitas tekanan darah yang terlihat pada pemantauan terus
menerus.

Penurunan

sensitivitas

baroreseptor

juga

menyebabkan

kegagalan refleks postural, yang mengakibatkan hipertensi pada usia


lanjut sering terjadi hipotensi ortostatik. Perubahan keseimbangan antara
vasodilatasi
menyebabkan

adrenergik-

dan

kecenderungan

vasokonstriksi
vasokonstriksi

adrenergik-
dan

akan

selanjutnya

mengakibatkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan


tekanan darah. Resistensi natrium akibat peningkatan asupan dan
penurunan sekresi juga berperan dalam terjadinya hipertensi. Walaupun
ditemukan penurunan renin plasma dan respon renin terhadap asupan
garam, sistem renin-angiotensin tidak mempunyai peranan utama pada
hipertensi pada lanjut usia. Perubahan-perubahan di atas bertanggung
jawab terhadapa penurunan curah jantung (cardiac output), penurunan
denyut jantung, penurunan kontraktilitas miokard, hipertrofi ventrikel kiri
dan disfungsi diastolik. Ini menyebabkan penurunan fungsi ginjal dengan
penurunan perfusi ginjal dan laju filtrasi glomerulus. 5
2.3 Klasifikasi Hipertensi
Pada tabel di bawah ini menyajikan klasifikasi tekanan darah untuk
orang dewasa dari umur 18 atau lebih. Yang dimana klasifikasi dibuat
berdasarkan rata-rata dua atau lebih pengukuran, dan pembacaan
tekanan darah berdasarkan dua atau lebih kunjungan pasien.7

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

Prehipertensi

tidak

termasuk

dalam

suatu

kategori

penyakit.

Sebaliknya, itu adalah sebutan yang dipilih untuk mengidentifikasi


individu yang memiliki resiko tinggi untuk berkembang menjadi hipertensi,
sehingga baik pasien dan dokter yang dihadapkan pada resiko ini
diharapkan untuk ikut campur tangan dalam mencegah dan menunda
penyakit itu berkembang. Pada orang-orang yang masuk dalam klasifikasi
prehipertensi
hipertensi

tidak

disarankan

berdasarkan

tingkat

untuk
tekanan

mendapatkan
darahanya,

terapi-terapi
namun

harus

ditegaskan untuk berlatih gaya hidup dan memodifikasinya dalam rangka


untuk mengurangi resikonya di masa depan untuk menjadi hipertensi.
Selain itu individu dengan prehipertensi, yang dimana juga memiliki
diabetes atau penyakit ginjal, harus dipertimbangkan untuk mendapatkan
terapi obat yang tepat jika perubahan pola gaya hidup gagal untuk
mengurangi tekanan darah mereka menjadi 130/80 mmHg atau kurang.7
Menurut JNC 7 untuk individu dengan hipertensi dan tidak memiliki
kondisi yang mendesak lainnya (hipertensi murni), target tekanan darah
yang harus dicapai setelah pengobatan adalah < 140/90 mmHg.
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

Sedangkan target untuk individu dengan prehipertensi dan tanpa indikasi


yang mendesak untuk menurunkan tekanan darah ke level normal, dapat
dengan memodifikasi lifestyle guna untuk mencegah kenaikan tekanan
darah yang progresif.7
2.4 Penatalaksanaan Hipertensi
A.Metode Pengukuran Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah dilakukan sesuai dengan standar WHO
dengan alat standar manometer air raksa. Untuk menegakkan diagnosis
hipertensi perlu dilakukan pengukuran tekanan darah minimal 2 kali
dengan jarak 1 minggu bila tekanan darah <160/100 mmHg.1
B.Tingkat kontrol tekanan darah
Hipertensi adalah diagnosis utama yang paling umum di Amerika.
Tingkat kontrol tekanan darah saat ini adalah TDS < 140 mmHg dan
TDD < 90 mmHg, yang dimana pada sebagian pasien-pasien hipertensi
untuk mengurangi TDS jauh lebih sulit dibanding menurunkan TDD.
Didalam mencapai TDS kontrol

pada kebanyakan pasien hipertensi

sebagaian besar di perlukan dua atau lebih obat hupertensi. Kegagalan


untuk memodifikasi gaya hidup, penggunaan obat antihipertensi yang
inadekuat dan kombinasi obat antihipertensi yang kurang tepat dapat
menghasilkan pengontrolan tekanan darah yang inadekuat juga.1,7

C.Tujuan terapi
Tujuan utama dari pemberian obat antihipertensi adalah untuk
mengurangi morbiditas dan mortalitas dari penyakit kardiovaskuler dan
penyakit ginjal. Pada sebagian besar orang-orang dengan hipertensi,
terutama mereka yang berusia > 50 tahun, akan mencapai target TDD
yang diinginkan saat target TDS terpenuhi, sehingga yang menjadi
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

fokus

utama

dalam

pemberian

terapi

hipertensi

adalah

TDS.

Menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi sampai ke tekanan


darah sasaran (140/90 mmHg), berarti kita juga menurunkan resiko
pasien tersebut untuk mendapatkan komplikasi-komplikasi CVD. Pada
pasien hipertensi dengan diabetes dan penyakit ginjal target tekanan
darahnya adalah 130/80 mmHg.
D.

Modifikasi gaya hidup


Adopsi gaya hidup sehat untuk semua orang adalah penting untuk

mencegah tekanan darah tinggi dan merupakan bagian yang sangat


diperlukan dalam pengelolaan hipertensi. Penurunan berat badan
sedikit (4,5 kg) dapat mengurangi tekanan darah dan/ atau mencegah
hipertensi dalam proporsi yang besar terutama pada orang-orang
memiliki kelebihan berat badan (overweight). Diet sodium harus
dikurangi untuk tidak lebih dari 100 mmol perhari (2,4 gr natrium).
Setiap orang yang mampu harus terlibat dalam akitfitas fisik aerobik
secara teratur seperti jalan cepat (berjalan minimal 30 menit per hari). 7
Asupan alkohol harus dibatasi tidak boleh lebih dari 1 ons (30 ml)
etanol. Modifikasi pola hidup dapat mengurangi tekanan darah,
mencegah atau menunda timbulnya hipertensi, meningkatkan efikasi
obat antihipertensi, dan mengurangi resiko kardiovaskuler. Kombinasi
dua atau lebih modifikasi gaya hidup dapat mencapai hasil yang lebih
baik. Untuk mengurangi resiko kardiovaskuler secara keseluruhan,
pasien harus sangat dianjurkan untuk berhenti merokok.7

E. Terapi farmakologik
Sejumlah besar obat yang tersedia saat ini diperuntukan untuk
mengurangi tekanan darah. Lebih dari dua pertiga dari individu dengan
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011

Referat
Manajemen
Hipertensi

hipertensi yang tidak dapat dikontrol dengan satu macam obat dan
akan membutuhkandua atau lebih antihipertensi agen yang dimana di
pilih obat dari kelas yang berbeda.7
Sejak tahun 1998, dilakukan banyak percobaan untuk menemukan
agent baru CCB, ACEI, Alpha-1 reseptor bloker, ARB, diuretic, dan BB
dimana banyak dari penelitian ini menemukan bahwa suatu kelas baru
bekerja lebih baik dibandingkan yang lain tergantung pada kondisi
pasien. Losartan (ARB) menurunkan

resiko CVD sebanyak 13%

dibandingkan Atenolol (BB). Untuk sekarang belum banyak hasil


penelitian yang membandingkan kerja ARB dengan Diuretik. Dari
keseluruhan percobaan obat-obat tersebut mempunyai efek yang
hampir sama untuk perlindungan terhadap kardiovaskular dalam
menurunkan tekanan darah walaupun sebenarnya hasil akhirnya
mungkin berbeda untuk masing-masing kelas. Tidak ditemukan adanya
perbedaan hasil antara dihidropyridine dengan nondihidropyridine
dalam penelitian morbiditas hipertensi. Dalam data yang lain CCB kerja
singkat tidak dianjurkan untuk penatalaksanaan hipertensi.7

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
10

Referat
Manajemen
Hipertensi

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
11

Referat
Manajemen
Hipertensi

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
12

Referat
Manajemen
Hipertensi

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
13

Referat
Manajemen
Hipertensi

F. Follow-up dan monitoring


Setiap pasien yang mendapatkan terapi obat antihipertensi tahap
awal harus kembali dengan interval satu bulan untuk pemantauan hasil
terapi apakah target penurunan tekanan darah telah tercapai atau
tidak. Kunjungan lebih sering lagi apabila pasien termasuk dalam
hipertensi grade II atau disertai faktor resiko atau komorbid. Kadar
kalium dan creatinine juga dimonitor minimal satu sampai dua kali
dalam satu tahun. Setelah tekanan darah terkontrol dengan stabil
kunjungan dengan interval 3 sampai 6 bulan. actor komorbid seperti HF
berhubungan

dengan

diabetes,

dan

membutuhkan

pemeriksaan

laboratorium setiap kunjungan. Adanya faktor resik penyakit KV lain


harus juga dimonitor dan terapi sesuai jenisnya oleh karena sasarannya
berbeda-beda. Rokok harus dihentikan. Aspirin dosis rendah boleh
diberikan bila tekanan darah sudah terkontrol, oleh karena akan
meningkatkan resiko stroke hemoragik bila tekanan darah belum
terkontrol.7
2.5 Hambatan dalam manajemen hipertensi
A.Akurasi dalam pengukuran tekanan darah
Masalah masalah yang mempengaruhi keakuratan pengukuran
tekanan

darah

pengamat,

dan

lingkungannya,
dihindari

berhubungan
teknik
maka

tanpa

dengan

pengukuran.

penggunaan

ada

pengganti

ketepatan
Karena

alat,

kesalahan

dampak

terhadap

sphygmomanometers
yang

sama

merkuri

akuratnya.

Sphygmomanometers Elektronik dan aneroid membutuhkan validasi


yang teratur, dan jika tidak akurat harus diperbaiki serta dikalibrasi.
Alat

ini

hanya

dapat divalidasikan

dengan

sphygmomanometers

merkuri menggunakan konektor Y.8


Ketika berbicara saat pengukuran, dapat menaikan tekanan darah
10 hingga 15 mmHg ketika pengukuran sehingga mengakibatkan
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
14

Referat
Manajemen
Hipertensi

bacaan yang tidak tepat. Penggunaan ukuran manset yang salah dapat
juga mempengaruhi akurasi pengukuran, manset yang terlalu kecil
menyebabkan peningkatan palsu sedangkan terlalu

besar dapat

menurunkan bacaan tekanan darah.8


Adanya the White Coat Effect and reverse coat effect, dapat juga
mempengaruhi ketepatan pembacaan tekanan darah kliniknya. Untuk
mendiagnosa dan menilainya, diperlukan pembacaan tekanan darah di
luar pengaturan klinik. Ini dapat dilakukan dengan memonitor tekanan
darah pasien dengan menggunakan monitor tekanan darah yang valid
dan atau dengan rawat jalan dimana adanya batasan normal yang
berbeda.8
B.Hipertensi sekunder
Pasien yang tampaknya tidak bereaksi dengan terapi, mungkin
memiliki

penyebab

sekunder

yang

mendasari

mereka

memiliki

hipertensi. Tidak semua pasien dengan feokromositoma menampilkan


gejala

klasik

berupa

takikardia

serta

episode

dari

pucat

dan

berkeringat.
Demikian pula, kejadian hiperaldosteronisme (sindrom Conn) jauh
lebih tinggi dari biasanya, 1% dari 10% pasien memiliki hipertensi.
Lebih dari 95% pasien dengan hiperaldosteronisme yang normokalemic,
meniadakan

pengukuran

skriningnya.

Rasio

ini

konsentrasi
dapat

plasma

dipengaruhi

kalium
oleh

sebagai

berbagai

tes
agen

antihipertensi, yang dapat mengubah kadar renin atau aldosteron. Obat


lain yang dapat mempengaruhi renin dan / atau tingkat aldosteron,
antara lain angiotensin converting enzyme termasuk (ACE) inhibitor,
angiotensin receptor blocker (ARB), diuretik dan pil kontrasepsi oral.8
C. Penggunaan prohipertensi

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
15

Referat
Manajemen
Hipertensi

Agen seperti NSAIDs, termasuk COX-2 inhibitor, menyebabkan


resistensi terapi pada pasien hipertensi. Selain itu, efektivitas inhibitor
ACE dan ARB dapat membaik atau seluruhnya hilang karena asupan
diet tinggi garam. Sehingga Pengukuran ekskresi natrium urin 24 jam
dapat memaparkan apakah ini penyebabnya.8
D.

Kepatuhan pasien
Kepatuhan pengobatan hipertensi merupakan bagian yang penting

dan berkontribusi terhadap kegagalan pencapaian target tekanan


darah. Efek samping dari pengobatan juga mengambil peran dalam
meningkatkan maupun menurunkan tekanan darah, hal ini harus
diinformasikan kepada dokter, terutama pada pasien usia tua yang
kebanyakan

mendapatkan

pengobatan

yang

multiple,

termasuk

penyakit-penyakit seperti diabetes, hiperlipidemia sehingga dokter


dapat memilih jenis obat yang dapat digunakan secara efektif dan
efisien (sehingga obat yang diberikan tidak terlalu banyak dan dapat
meningkatkan kepatuhan pasien dalam berobat)8
2.6 Compelling Indication
Indication
Diabetes Mellitus

Drug Class
ACEI/ ARB/ B Bloker/ Diuretik/ AA

Diabetes dengan Proteinuri ACEI/ ARB/ Verapamil/ Diltiazem


CHF
Renal Insufisiensi
Cerebrovaskular Disease
Post Miokard Infark
Angina
Atrial Fibrilasi
Essential
Tremor/

ACEI/ ARB/ B Bloker/ Diuretik


ACEI/ ARB
Tiazid/ ACEI/ ARB/ Amlodipin
B Bloker/ ACEI/ AA
B Bloker/ CCB
B Bloker/ verapamil/ diltiazem
B Bloker

hipertiroidisme
Isolated Sistolik Hipertensi
Disfungsi Sistolik
Migrain

ACEI/ Nitrat, tiazid, Dihidropiridine


B Bloker/ verapamil/ diltiazem/ ACEI
B Bloker/ verapamil/ diltiazem

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
16

Referat
Manajemen
Hipertensi

Osteoporosis
Kehamilan
BPH
Disfungsi ereksi
Obstruktif sleep apnue

Tiazid
Metil dopa, Hidralazon
Alpha 1 bloker
ARB, ACEI, CCB
CPAP (continous positive

Dislipidemia

pressure), AA, tiazid, CCB


Alpha 1 bloker, ACEI

airway

2.7 Hipertensi dengan kondisi khusus


A.Hipertensi dengan penyakit ginjal
Pasien hipertensi banyak ditemukan di masyarakat dan sekalipun
telah diterapi masih banyak yang tekanan darahnya tidak terkontrol.
Hal ini disebabkan karena kombinasi obat yang tidak sesuai dan banyak
obat-obatan yang mempunyai efek samping dan kontra indikasi.
Sehingga diperlukan obat anti hipertensi yang dapat digunakan oleh
pasien hipertensi yang dapat di toleransi dengan baik dan mempunyai
efek samping yang minimal sehingga ketaatan pemakaiannya juga
lebih

baik.

Penyakit

ginjal

dapat

menyebabkan

hipertensi

dan

sebaliknya hipertensi juga dapat menggangu fungsi ginjal.2


Bila ada gangguan fungsi ginjal, maka haruslah dipastikan dahulu
apakah hipertensi menimbulkan gangguan fungsi ginjal (hipertensi
lama, hipertensi primer) ataupun gangguan/ penyakit ginjalnya yang
menimbulkan hipertensi. Masalah ini lebih bersifat diagnostic, karena
penanggulangan

hipertensi

pada

umumnya

sama,

kecuali

pada

hipertensi sekunder (renovaskular, hiperaldosteron primer) dimana


penanggulangan hipertensi banyak dipengaruhi etiologi penyakit. 1
1) Hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal
Pada keadaan ini oenting diketahui derajat gangguan fungsi ginjal
(CCT, Kreatinin) dan derajat proteinuri
Pada

CCT

<25

mL/

menit

diuretic

metozolon) tidak efektif


Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
17

golongan

Tiazid

(kecuali

Referat
Manajemen
Hipertensi

Pada pemakaian golongan ACEI/ ARB perlu diperhatikan penurunan


fungsi ginjal dan kadar kalium
Pemakaian golongan BB dan CCB relative aman
2) Hipertensi dengan gangguan ginjal/ adrenal
Hipertensi pada penyakit ginjal dapat terjadi pada penyakit ginjal
akut maupun penyakit ginjal kronik baik pada kelainan glomerulus
maupun kelainan vascular. Hipertensi pada penyakit ginjal dapat
dikelompokan dalam:2
Pada penyakit glomerulus akut

GN Pasca Streptokokus

GN Nefropati
GN membranosa
Hipertensi terjadi karena retensi natrium yang menyebabkan
hipervolemia.

Retensi

natrium

terjadi

karena

meningkatnya

reabsorbsi Na di duktus koligentes. Peningkatan ini mungkin karena


adanya

resistensi

terhadap

hormone

Natriuretik

Peptide

dan

peningkatan aktifitas pompa Na-K-ATPase di duktus koligentes.


Pengobatan hipertensi pada kelompok penyakit glomerulus akut,
diberikan diuretic sekaligus mengurangi edema yang terjadi pada
kelompok

ini.

Pengurangan

cairan

dengan

dialysis

dapat

menurunkan tekanan darah. Pemberian ACEI atau ARB juga


dimungkinkan,

stimulasi

terhadap

system

renin-angiotensin

aldosteron jaringan (tissue ACE) dapat terjadi bila ada lesi pada
ginjal.
Pada penyakit vaskular

: Vaskulitis
Skleroderma

Pada keadaan ini terjadi iskemi yang kemudian merangsang


system rennin angiotensin aldosteron. Pemberian ACEI atau ARB
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
18

Referat
Manajemen
Hipertensi

sebagai pilihan terapi pada pasien dengan kelainan vascular ginjal


karena iskemi yang terjadi akan merangsang system RAA.
Pada penyakit ginjal kronik :

CKD stage III IV

Hipertensi terjadi karena retensi Natrium, peningkatan Renin


Angiotensin Aldosteron akibat iskemi relative karena kerusakan
regional, aktivitas saraf simpatis meningkat akibat kerusakan ginjal,
hiperparatiroid sekunder, pemerian eritropoetin.
Pemberian diuretic atau ACEI/ ARB atau CCB atau B-Bloker
dimungkinkan untuk pengoatan hipertensi secara sendiri-sendiri
atau kombinasi. Perhatikan komplikasi yang mungkin terjadi ada
pemberian ACEI atau B-Bloker yaitu hiperkalemia, dan penurunan
fungsi ginjal > 30 % pada pemberian ACEI maka obat tersebut harus
dihentikan
Penyakit glomerolus kronik:
Terjadi

gangguan

Tekanan darah normal tinggi

pada

system

RAA

yang

menyebabkan

gangguan hormonal enzimatik yang bersifat multikompleks dan


berperan dalam terjadnya peningkatan tekanan darah.
Pengobatan diperlakukan seperti pada hipertensi
penyakit

glomerulus

akut.

Pada

pasien

ini

dapat

dengan

ditemukan

pembesaran ventrikel kiri walaupun tekanan darah masih dalam


rentang normal sehingga pemerian ACEI atau ARB dapat dipakai.
Pada gagal ginjal terjadi penumpukan garam yang membutuhkan
penurunan asupan garam/ diuretic golongan furosemid/ dialysis.
Penyakit ginjal renovaskuler baik stenosis arteri renalis maupun
aterosklerosis

renal

dapat

ditanggulangi

secara

intervensi

(stenting/operasi) ataupn medical (pemakaian ACEI dan ARB) tidak


dianjurkan bila diperlukan terapi obat.

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
19

Referat
Manajemen
Hipertensi

Aldosteronisme primer (baik karena adenoma maupun hyperplasia


kelenjar adrenal) dapat ditanggulangi secara medical (dengan obat
antialdosteron)

ataupun

intervensi.

Disamping

hipertensi,

derajat

proteinuri ikut menentukan progresi gangguan fungsi ginjal, sehingga


proteinuri perlu ditanggulangi secara maksimal dengan pemberian
ACEI/ ARB dan CCB golongan non dihidropiridin.
Pedoman pengobatan hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal
1. Tekanan

darah

diturunkan

sampai

<

130/80

mmHg

(untuk

mencegah progresi gangguan fungsi ginjal)


2. Bila ada proteinuria dipakai ACEI / ARB (sepanjang tidak ada kontra
indikasi)
3. Bila proteinuria > 1 gr/24 jam tekana darah diusahakan lebih rendah
( 125/75 mmHg)
4. Perlu perhatian untuk perubahan fungsi ginjal pada pemakaian ACEI/
ARB

(Creatinin

tidak

bole

naik

>

20%

dan

kadar

kalium

(hiperkalemia)).
B.Hipertensi dengan diabetes melitus
Pengobatan hipertensi telah terbukti efektif dalam menurunkan
morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular dan serebrovaskuler.
Hipertensi

merupakan

faktor

resiko

utama

terjadinya

kerusakan

pembuluh darah dan organ-organ target. Pada hipertensi dengan


penyakit

penyerta

memerlukan

pengobatan

yang

lebih

efisien

mengingat kelompok ini merupakan kelompok beresiko tinggi. 1


Pengobatan hipertensi dilakukan bila tekanan darah sistolik 130
mmHg dan/ atau tekanan diastolic 80 mmHg. Sasaran target
penurunan tekanan darah adalah < 130/80 mmHg. Bila disertai
proteinuria 1 gram/24 jam maka target tekanan darah menjadi <
125/75 mmHg. Harus diingat bahwa pencapaian target ini tidaklah
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
20

Referat
Manajemen
Hipertensi

mudah. Sering harus memakai kombinasi obat dengan berbagai efek


samping dan harga obat yang kadang sulit dijangkau oleh pasien. Hal
terpenting yang perlu diperhatikan adalah tercapainya tekanan darah
yang ditargetkan apapun jenis obat yang dipakai. Tetapi karena ACEI
dan ARB dikenal mempunyai efek antiproteinutik maupun renoproteksi
yang baik, maka obat-obatan ini sebagai awal pengobatan hipertensi
pada pasien DM.2
Pengelolaannya :
Non Farmakologis yaitu berupa perubahan gaya hidup, antara lain :
menurunkan berat badan, meningkatkan aktifitas fisik, menghentikan
merokok dan alcohol, serta mengurangi konsumsi garam.
Farmakologis. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat
anti-hipertensi :
o Pengaruh terhadap profil lipid
o Pengaruh terhadap metabolisme glukosa
o Pengaruh terhadap resistensi insulin
o Pengaruh terhadap hipoglikemia terselubung
Obat anti hipertensi yang dapat dipergunakan :
ACEI
ARB
Beta Blocker
Diuretik dosis rendah
Alfa blocker
CCB golongan dihidropiridin
Pada penderita diabetes dengan tekanan darah sistolik antara 130139

mmHg

atau

tekanan

darah

diastolic

antara

80-89

mmHg

diharuskan melakukan perubahan gaya hidup sampai 3 bulan. Bila


gagal mencapai target dapat ditambahkan terapi farmakologis.
Penderita dengan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau
tekanan darah diastolic 90 mmHg, disamping perubahan gaya hidup
dapat diberikan terapi farmakologis secara langsung. Diberikan terapi
kombinasi

apabila

target

terapi

monoterapi.2
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
21

tidak

dapat

dicapai

dengan

Referat
Manajemen
Hipertensi

Dalam
hipertensi

sebuah
dengan

penelitian

yang

menggunakan

membandingkan

Diuretika

dosis

pengobatan

rendah

yaitu

Chloratadine (12,5 mg/ hari) dan Beta Blocker yaitu Atenolon (25
mg/hari) dengan placebo secara acak dan berganda samar pada
penderita hipertensi. Dalam follow up selama 5 tahun di dapati
penggurangan kejadian kardiovaskular pada seluruh penderita sebesar
34% dibandingkan dengan placebo. Kejadian kumulatif kardiovaskuler
per 100 penderita selama 5 tahun sebesar 21,4 % pada terapi aktif dan
31,5 % pada placebo pada penderita-penderita dengan DM tipe II.
Pengobatan Ca antagonis (Felodipin) dikombinasikan dengan ACEI
atau

Beta

bloker

didapatkan

pengurangan

kejadian

kumulatif

kardiovaskular per 1000 penderita yang lebih besar dijumpai pada


diabetic dibandingkan non diabetic sesuai dengan penurunan TD
diastolic.
ACEI selain efek antihipertensinya juga bermanfaat menurunkan
eksresi albumin urine pada hipertensi diabetic. Seperti diketahui
mikroalbuminuria

merupakan

petanda

terhadap

kerusakan

kardiovaskular dan organ target. Dalam sebuah penelitian yang meneliti


efek Lisinopril (10-20 mg/hari) dan Nifedipin R (40-80 mg/hari) pada
penderita DM dengan mikro albuminuria dijumpai bahwa kedua jenis
obat dapat menurunkan tekanan darah sama baiknya akan tetapi
penurunan eksresi albumin urine lebih bermakna pada kelompok yang
menggunakan Lisinopril.
Jadi

dari

hasil

penelitian

diatas

dapat

disimpulkan

bahwa

pengobatan farmakologik tahap I pada hipertensif diabetic adalah ACEI


atau Diuretik/ beta blocker. Bila TD belum terkontrol dapat ditambahkan
Ca antagonis.3
Berbagai penelitian klinik jangka panjang (5-7 tahun) dengan
melibatkan ribuan pasien telah menunjukan bahwa pengendalian kadar
gula darah secara intensif akan mencegah progresivitas dan mencegah
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
22

Referat
Manajemen
Hipertensi

timbulnya penyakit kardiovaskular, baik pada pasien DM Tipe I maupun


DM Tipe II. Oleh karena itu perlu sekali diupayakan agar terapi ini
dilaksanakan sesegera mungkin. Yang dimaksud dengan pengendalian
secara intensif adalah pencapaian kadar HbA1c < 7 %, kadar gula
darah preprandial 90 - 130 mg/dL, post prandial < 180 mg/dL. 1
C.Hipertensi pada usia lanjut
Hipertensi pada usia lanjut mempunyai prevalensi yang tinggi,
pada usia diatas 65 tahun di dapatkan antara 60-80%. Selain itu
prevalensi gagal jantung dan stroke juga tinggi, keduanya merupakan
komplikasi hipertensi. Oleh karena itu, penanggulangan hipertensi amat
penting dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas kardiovaskular
pada usia lanjut.
Sekitar 60 % hipertensi pada lanjut usia adalah hipertensi sistolik
terisolasi dimana terdapat kenaikan tekanan darah sistolik disertai
penurunan tekanan darah diastolic. Selisih dari tekanan darah sistolik
dan tekanan darah diastolic yang disebut sebagai tekanan nadi (pulse
pressure), terbukti sebagai predictor morbiditas dan mortalitas yang
buruk. Peningkatan tekanan darah sistolik disebabkan terutama oleh
kekakuan arteri atau berkurangnya elastisitas aorta.1
Penanggulangan hipertensi pada lanjut usia amat bermanfaat dan
telah terbukti dapat mengurangi kejadian komplikasi kardiovaskular.
Pengobatan dimulai bila :
TD Sistolik 160 mmHg bila kondisi dan harapan hidup baik

TD Sistolik 140 bila disertai DM atau merokok atau


disertai faktor resiko lainnya.
Oleh karena pasien usia lanjut mengalami penurunan fungsi organ,
kekakuan arteri, penurunan fungsi baroreseptor dan respon simpatik,
serta autoregulasi serebral, pengobatan harus secara bertahap dan

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
23

Referat
Manajemen
Hipertensi

hati-hati

mulai

dari

dosis

rendah

dinaikan

perlahan.

Hindarkan

pemakainan obat yang dapat menimbulkan hipotensi ortostatik.


Seperti halnya pada usia muda penanggulangan hipertensi pada
usia lanjut dimulai dengan perubahan gaya hidup. Diet rendah garam
termasuk menghindari makanan yang diawetkan dan penurunan berat
badan pada obesitas, terbukti dapat mengendalikan tekanan darah.
Pemberian obat dilakukan apabila penurunan tidak mencapai target.
Kejadian

komplikasi

diperlukan

hipotensi

anamnesis

dan

ortostatik

pemeriksaan

sering

terjadi

mengenai

sehingga

kemungkinan

adanya hal ini sebelum pemberian obat.


Obat

yang

dipergunakan

dipakai

pada

usia

pada

usia

yang

lebih

lanjut

sama

muda.

seperti

Untuk

yang

menghindari

komplikasi pengobatan maka dosis awal dianjurkan separuhnya dari


dosis biasa, kemudian dapat dinaikan secara bertahap sesuai dengan
respon pengobatan dengan mempertimbangkan kemungkinan efek
samping obat. Obat-obat yang biasa dipake meliputi diuretic (HCT) 12,5
mg,

terbukti

mencegah

komplikasi

terjadinya

penyakit

jantung

kongestif. Keuntungan murah dan dapat mencegah kehilangan kalsium


tulang. Obat ini seperti golongan ACEI, ARB kerja panjang dan obat-obat
lainnya dapat digunakan. Kombinasi dua atau lebih obat dapat
dianjurkan untuk memperoleh efek pengobatan optimal.
Target

pengobatan

harus

mempertimbangkan

efek

samping

terutama kejadian hipotensi ortostatik. Umumnya tekanan darah sistolik


diturunkan sampai < 140 mmHg. Target untuk tekanan darah diastolik
diturunkan sekitar 85-90 mmHg. Pada hipertensi sistolik penurunan
sampai

tekanan

darah

diastolic

65

mmHg

atau

kurang

dapat

mengakibatkan peningkatan kejadian stroke. Oleh karena itu sebaiknya


penurunan tekanan darah tidak sampai 65 mmHg.2,1
D. Krisis hipertensi
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
24

Referat
Manajemen
Hipertensi

Terjadinya peningkatan tekanan darah yang mendadak dimana


systole 180 mHg dan diastole 120 mmHg pada penderita hipertensi
yang

membutuhkan

penanggulangan

segera.

Keadaan

ini

dapat

menyebabkan kerusakan target organ yang pada akhirnya akan


meningkatkan angka kematian akibat hipertensi. Untuk mencegah
kerusakan target organ akibat hipertensi perlu dilakukan upaya
pengenalan dini dan penatalaksanaan krisis hipertensi.
Hipertensi krisis dilasifikasikan jadi dua yaitu4 :
Hipertensi Emergensi
Kenaikan tekanan darah mendadak yang disertai kerusakan target
organ yang progresif disebut hipertensi emergensi. Pada keadaan ini
diperlukan tindakan penurunan tekanan darah yang segera dalam
kurun waktu menit/ jam.
Hipertensi Urgensi
Kenaikan tekanan darah mendadak yang tidak disertai kerusakan
organ target disebut hipertensi urgensi. Penurunan tekanan darah
pada keadaan ini harus dilaksanakan dalam kurun waktu 24- 48 jam.
Kedua jenis krisis hipertensi ini perlu dibedakan dengan cara
anamnesis dan pemeriksaan fisik, karena baik faktor resiko dan
penanggulangannya berbeda. Manifestasi klinis krisis hipertensi dapat
berupa

keluhan

sakit

kepala,

penglihatan

kabur,

kejang,

deficit

neurologis fokal, gangguan kesadaran (somnolens, spoor, coma),


perdarahan retina, eksudat retina, edema papil yang dapat dilihat
dengan funduskopi, nyeri dada, edema paru, azotemia, proteinuria,
oliguria, dan sebagainya.
Faktor resiko terjadinya krisis hipertensi yaitu, penderita hipertensi
yang tidak meminum obat atau minum obat anti hipertensi tidak
teratur, kehamilan, penggunaan NAPZA, penderita dengan rangsangan
simpatis yang tinggi seperti luka bakar berat, phaeochromocytoma,
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
25

Referat
Manajemen
Hipertensi

penyakit

kolagen,

penyakit

vascular,

trauma

kepala,

penderita

hipertensi dengan penyakit parenkim ginjal.


Pendekatan awal pada krisis hipertensi harus dilakukan dengan
cepat mulai dari anamnesa (riwayat hipertensi, gangguan organ),
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratoium (Hb, Ht, Ureum, creatinin,
GDS, Elektrolit, urinalisa) dan penunjang (EKG, Ekokardiogram, Foto
Thorax, USG, CT Scan kepala).
Tatalaksana Hipertensi Emergensi1,2,4:
Penanggulangan hipertensi emergensi harus dilakukan di rumah sakit
dengan fasilitas pemantauan yang memadai.
Pengobatan parenteral diberikan secara bolus atau infuse sesegera
mungkin.
Tekanan darah harus diturunkan dalam hitungan menit sampai jam

dengan langkah sebagai berikut:


- 5 menit sampai dengan 120 menit pertama tekanan darah rata
rata (mean arterial blood pressure) diturunkan 20 - 25 %.
- 2 sampai dengan 6 jam kemudian tekanan darah diturunkan
sampai160/100 mmHg
- 6 sampai dengan 24 jam berikutnya diturunkan sampai < 140/90
mmHg bila tidak ada gejala iskemia organ
Obat-obatan yang digunakan pada hipertensi emergensi2,4 :
o Clonidin (Catapres) IV 150 mcg/ ampul
Clonidin 900 mcg dimasukan kedalam cairan infuse glukosa 5 % 500
cc dan diberikan dengan mikrodrip 12 tetes/ menit, setiap 15 menit
dapat dinaikan 4 tetes sampai tekanan darah yang diharapkan
tercapai. Bila tekanan target darah tercapai pasien diobservasi
selama 4 jam kemudian diganti dengan tablet klonidin oral sesuai
kebutuhan.

Klonidin

tidak

boleh

dihentikan

mendadak

tetapi

diturunkan perlahan-lahan oleh karena bahaya rebound phenomen


dimana tekanan darah naik secara cepat bila obat dihentikan.
o Diltiazem (Herbesser) IV 10 mg dan 50 mg/ ampul

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
26

Referat
Manajemen
Hipertensi

Diltiazem 10 mg IV diberikan dalam 1-3 menit kemudian diteruskan


dengan infuse 50 mg/ jam selama 20 menit. Bila tekanan darah telah
turun > 20 % dari awal, dosis diberikan 30 mg/ menit sampai target
tercapai. Diteruskan dengan dosis maintenance 5-10 mg/ jam dengan
observasi 4 jam kemudian diganti dengan tablet oral.
o Nicardipin (Perdipin) IV 2 mg dan 10 mg/ ampul
Nicardipin diberikan 10-30 mcg/kgBB bolus. Bila tekanan darah tetap
stabil diteruskan dengan 0,5-6 mcg/kBB/menit sampai target tekanan
darah tercapai.
o Labetalol (Normodyne) IV
Labetalol diberkan 20-80 mg IV bolus setiap 10 menit atau dapat
diberikan dalam cairan infuse dengan dosis 2 mg/ menit.
o Nitroprusside (Nitropress, Nipride) IV
Nitroprusside diberikan dalam cairan infuse dengan dosis 0,25-10
mcg/ kgBB/ menit.
Tabel 3.1 Obat Hipertensi Parenteral yang dipakai di Indonesia 2
Obat

Dosis

Efek

Lama

Perhatian Khusus

Klonidin IV
150 mcg

6 ampul/ 250

30-60

Kerja
24 jam

Ensefalopati

cc
Glukosa 5%

menit

Nitrogliserin

10-50 mcg

2-5 menit

IV

100mcg/cc/500

Nikardipin IV

cc
0,5-6

1-5 menit

Diltiazem IV

mcg/kg/menit
5-15

Sama

dengan gangguan
koroner
5-10
menit
15-30
menit

mcg/kg/menit
1-5
mcg/kg/menit
Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
27

Referat
Manajemen
Hipertensi

Nitroprusside

0,25

IV

mcg/kg/menit

Langsung

2-3

Selang infuse lapis

menit

perak

Tabel 3.2 Obat hipertensi oral yang dipakai di indonesia 2


Obat

Dosis

Efek

Lama

Perhatian Khusus

Kerja
4-6 jam

Gangguan

Nifedipin 5-10

Diulang 15

5-15

mcg
Kaptopril 12,5-25

menit
Diulang/

menit
15-30

6-8 jam

koroner
Stenosis a. renalis

mg
Klonidin 75-150

jam
Diulang/ jam

menit
30-60

8-16 jam

Mulut kering,

mcg
Propanolol 10-40

Diulang/

menit
15-30

3-6 jam

mg

jam

menit

ngantuk
Brokokonstriksi
Blok jantung

Tabel 3.3 Penilaian dan tindakan

Kelompok
Tekanan

Biasa
> 180/ 110

Mendesak
> 190/ 110

Darurat
> 220/ 140

Darah
Gejala

Tidak ada

Sakit kepala

Sesak nafas, nyeri

kadang-kadang

hebat, sesak

dada, kacau

sakit kepala

nafas

gangguan

gelisah
Organ target

Gangguan organ

kesadaran
Ensefalopati, edema

target

paru, gangguan

Pemeriksaa
n Fisik

fungsi ginjal, cva,


Pengobatan

Awasi 1-3 jam

Awasi 3-6 jam,

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
28

iskemia jantung
Pasang jalur

Referat
Manajemen
Hipertensi

mulai/ teruskan

obat oral berjanka

intravena, periksa

obat oral, naikan

kerja pendek

laboratorium

Rencana

dosis

standar, terapi obat

Periksa ulang

Periksa ulang

intravena
Rawat ruangan/ ICU

dalam 3 hari

dalam 24 jam

BAB III
KESIMPULAN

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia,


dan berkaitan dengan pola perilaku hidup masyarakat itu sendiri.
Hipertensi sendiri tidak menunjukan gejala maka sering baru disadari bila
telah menyebabkan gangguan organ misalnya gangguan fungsi jantung
atau gangguan koroner, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi kognitif
atau stroke. Penanggulangan hipertensi dimulai dengan meningkatkan
kesadaran masyarakat dan perubahan pola hidup kearah yang lebih
sehat. Tujuan utama dari pemberian obat antihipertensi adalah untuk
mengurangi morbiditas dan mortalitas dari penyakit kardiovaskuler dan
penyakit ginjal.
Penyakit hipertensi pada seorang pasien sering kali disertai oleh
penyakit lain. Jenis terapi yang dipilih disesuaikan dengan kondisi yang
menyertai

untuk

mendapatkan

hasil

terapi

yang

terbaik

bagi

penatalaksanaan hipertensi maupun penyakit penyerta. Selain itu juga


dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan.

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
29

Referat
Manajemen
Hipertensi

Kepanitraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara
RSUD Kudus
Periode 19 September 26 November 2011
30