Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS BERCAK DARAH

A. PENDAHULUAN
Tingginya tingkat kriminalitas saat ini menyebabkan tingginya permintaan
visum. Hal ini menjadi perhatian kita sebagai dokter umum karena walaupun
permintaan visum biasanya diajukan kepada rumah sakit besar baik umum maupun
swasta, tidak menutup kemungkinan permintaan visum diajukan kepada kita
sebagai dokter umum pada saat kita melakukan tugas PTT di suatu daerah. Untuk
itu sebagai dokter umum kita wajib dapat melakukan visum dan membuat
laporannya melalui Visum et Repertum. Hal ini sesuai dengan lembaran negara
tahun 1973 No. 350 pasal 1 dan pasal 2 serta KUHP pasal 186 dan pasal 187 butir
c. (l,2,3,4)
Dalam melakukan visum, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk
memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu kasus. Karena sebenarnya, pada
setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang bukti yang tertinggal di tempat
kejadian perkara (TKP). Barang bukti tersebut bisa berupa :

(1,2,3,5)

1. Benda atau tubuh manusia yang telah mengalami kekerasan.


2. Senjata atau alat yang dipakai untuk melakukan kejahatan.
3. Jejak atau bekas yang ditinggalkan oleh si penjahat pada tempat kejadian.
4. Benda-benda yang terbawa oleh si penjahat baik yang berasal dari benda atau
tubuh manusia yang mengalami kekerasan maupun yang berasal dari tempat
kejadian.
5. Benda-benda yang tertinggal pada benda atau tubuh manusia yang mengalami
kekerasan atau ditempat kejadian yang berasal dari alat atau senjata yang dipakai
ataupun berasal dari si penjahat sendiri.

Pemeriksaan darah merupakan pemeriksaan penting dari pemeriksaan yang


dilakukan pada kasus forensik. Kadang kala sampel merupakan sampel segar
ataupun dengan tambahan pengawet terutama pada kasus kriminal. Lebih sering
lagi sampel di kirim ke laboratorium berupa darah kering atau bercak kecolatan
yang terdapat pada senjata, pakaian atau objek lainnya.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk membedakan:

(1,2,3,4,9)

1. Apakah bercak tersebut darah?


2. Jika darah, apakah darah tersebut merupakan darah hewan atau manusia?
3. Jika darah manusia, apakah golongan darah manusia tersebut?

Darah, seperti halnya cairan, dapat memberitahukan sedikit banyaknya


mengenai kejahatan yang terjadi dan mengenai darah yang tertinggal di TKP.
Seringkali, petugas akan menemukan tidak hanya darah korban, tetapi juga milik
pelaku. Luminol yang bersinar terang bila bercampur darah, digunakan untuk
mendeteksi sejumlah kecil darah yang tidak terlihat dengan mata telanjang. (6,7,8,9,10)
Bila terdapat genangan atau bercak-bercak darah, dilakukan pemeriksaan
dan dibuat penafsirannya, antara lain:

(5,6,7,9,11

1. Perkiraan jarak antara sumber perdarahan dengan lantai, demikian pula arah

gerakan korban.
2.

Perkiraan posisi korban sewaktu mendapat luka, dalam posisi berdiri, tidur
atau miring, ini diketahui dari sifat distribusi serta mengalirnya darahnya.

3.

Perkiraan cara kematian, darah tergenang di sekitar korban atau darah


berceceran dimana-mana.

4.

Sumber perdarahan, dari pembuluh nadi atau pembuluh vena; dari saluran
pernapasan (paru-paru), atau dari saluran pencernaan (lambung).

5. Perkiraan apakah bercak darah tersebut: "sangat baru" (beberapa hari),

"baru", "tua", dan "sangat tua" (beberapa tahun).

BAB 1

A. PENT1NGNYA PEMERIKSAAN DARAH


Pemeriksaan darah sangat penting untuk menetukan bercak tersebut benarbenar bercak darah, apakah darah itu dari manusia atau hewan, dan untuk
menentukan golongan darah dari bercak darah itu jika darah tersebut benar dari
manusia.

(3,4,6,7)

Karena darah mudah sekali tercecer pada hampir semua bentuk tindakan
kekerasan, penyelidikan terhadap bercak darah ini sangat berguna untuk
mengungkapkan suatu tindakan kriminal. Pemeriksaan darah pada forensik
sebenarnya bertujuan untuk membantu identifikasi pemilik darah tersebut. (10)
Selain itu, pemeriksaan bercak darah pada TKP juga berguna untuk
menentukan jenis dari senjata yang digunakan untuk melukai korban, berapa kali
korban dipukul, estimasi dari posisi korban dan pelaku saat memukul, dan
menentukan darah yang ditemukan pada korban itu cocok dengan darahnya
atautidak. (2,3,4,6,7,10)
B. ANALISA BERCAK DARAH
Kandungan pada suatu sel darah merah terutama terdiri dari hemoglobin
yang mengandung enzim peroksidase. Jika terpapar pada udara maka hemoglobin
akan berubah menjadi hematin. Hematin bertindak seperti pseudo-peroksidase
yang aktifitasnya lebih lemah dibandingkan yang ada pada hemoglobin. (13)
Kelihatannya memang mudah melakukan pemeriksaan pada bercak darah,
tetapi pada pelaksanaanya di lapangan akan ditemukan kesulitan yaitu jika bercak
darah sangat kecil dan gambaran fisiknya sudah berubah dan bercak darah terdapat
pada bahan dasar yang berwarna gelap. (13)

Bercak darah bisa berwarna merah, merah kecoklatan atau hitam,


tergantung dari lamanya/ usia bercak darah tersebut. (13)
- Bercak darah yang masih segar

: Merah terang

- 24 jam

: Merah kecoklatan

- Lebih dari 24 jam

: Kehitaman

- Sumber darah bisa berasal dari :


Darah yang dimuntahkan : Berwarna coklat
Dari paru-paru

: Darah berbusa

Bisul

: Pada bercak tersebut mungkin ditemukan selsel nanah dan bakteri

Darah menstruasi

:Berwarna hitam dan mengandung sel-sel


endometrium dan sel epitel vagina

Hidung

: Mengandung mukosa hidung dan bulu hidung

Darah ante-mortem bisa dibedakan dari darah post-mortem berdasarkan beberapa


hal dibawah ini (13)
Darah ante-mortem

Darah Post-mortem

1. Perdarahan

Lebih banyak

Sedikit

2.Penyebaran

Ada

Tidak ada

3.Bekuan darah

Ada.Bentuknya kaku dan

Biasanya tidak ada.

elastis.Warnanya

Kalaupun

mudah

berubah

dibilas

tidak
jika

sedikit

ada,
dan

hanya
rapuh.

Warnanya mudah pudar


jika dibilas

Pada banyak kasus, bentuk noda darah menunjukkan ketinggian tempat


darah tersebut keluar. Hidrodinamik noda darah dan percikan darah membantu
rekonstruksi kejadian. Selain ketinggian, permukaan tempat dimana darah itu jatuh
mempengaruhi bentuk noda darah tersebut.

Permukaan

dimana

darah

itu

jatuh

harus

dipertimbangkan

ketika

menganalisis bercak darah. Jika darah menetes di permukaan halus seperti kaca
maka tidak akan nampak bercak bercak kecil disekitar induk noda yang disebut
sebagai satelit, sedangkan pada permukaan yang kasar maka akan ditemui bercak
kecil tersebut. Gambar dibawah ini menunjukan bahwa dengan ketinggian yang
sama yakni 12 inci akan tetapi dengan dasar yang berbeda akan memberikan
gambaran bercak darah yang berbeda

(14)

Gambar 1. Bercak darah pada permukaan a. Kaca b. Lantai c. Koran d.


kain jins
Pada permukaan yang halus dan darah jatuh dari tempat yang rendah (6-12
inci, 1 inci = 2,45 cm), noda darah berbentuk bundar seperi cakram. Jika dari
ketinggian 12-60 inci, tepi noda darah bergerigi. Tepi gerigi akan bertambah seiring
dengan pertambahan ketinggian tempat darah tersebut jatuh. Semakin tinggi tempat
tersebut, makin bergerigi tepi noda darah yang dihasilkan. Jika darah jatuh dari
ketinggian 2 atau 3 kaki (1 kaki = 90 cm), noda dapat berupa percikan dan membentuk
banyak noda-noda darah kecil. Noda-noda kecil ini biasanya terdapat di sekeliling noda
darah yang besar, jadi nampak seperti matahari (sunburst appearance).(5,6,7,15)

Gambar 2. Bentuk bercak darah yang menunjukan ketinggian tempat darah tersebut jatuh.

Dokter forensik dapat pula mengetahui sumber perdarahan dari bercak darah yang
diperiksanya. Darah yang berasal dari pembuluh balik, bercaknya akan berwarna merah
gelap; sedangkan yang berasal dari pembuluh nadi, bercak akan berwarna merah terang.
Darah yang berasal dari saluran pernapasan atau paru-paru, selain bercaknya berwarna
merah terang, juga berbuih; dan bila telah mengering, bercak tersebut akan memberi bentuk
seperti sarang tawon. Dalam kasus pembunuhan dan korban terpotong pembuluh nadinya
cukup besar akan terdapat bercak kecil-kecil, menyemprot pada daerah yang jauh
dari sumber perdarahan. (16)
Akan halnya yang berasal dari pembuluh balik, darah biasanya membentuk
genangan-genangan. Dalam kasus bunuh diri, darah dan bercak darah biasanya
terdapat hanya di sekitar korban. Bila ditemukan bercak dan genangan darah tidak
beraturan, sering tampak tanda-tanda bahwa korban berusaha menghindar atau
korban diseret. (16)
Gambar dibawah ini menunjukan pola berbagai noda yang dihasilkan dari
dampak sudut yang terbentuk dari arah pukulan target. Ekor yang terlihat pada
bercak darah menunjukan arah perjalanannya dengan menentukan elips yang benar
dan di ukur lebar (sumbu pendek) dan panjang (sumbu panjang) kita dapat
menentukan perkiraan dampak sudut yang terbentuk. Pada sudut selain sudut 90
maka bercak darah akan terlihat lebih lonjong. hal ini dapat menjelaskan posisi
korban apakah berbaring,duduk atau berdiri.dengan menentukan dampak sudut
yang terbentuk, konvergensi dan daerah asal.informasi ini dapat dikolaborasikan
ata menyangkal pernyataan dari saksi atau tersangka. (l4)

Gambar 3. Bercak darah yang terbentuk dari berbagai derajat.

C. CORAK BERCAK DARAH DI TKP


Terdapat beberapa metode menentukan corak dari bercak darah. Satu
diantaranya adalah berdasarkan dari mekanisme yang menghasilkan bercak darah
tersebut. Ada tiga kelompok bercak darah yaitu pasif, projected, dan kontak
(transfer). (3, I7)
a. Bercak darah pasif
Bercak darah yang pasif adalah hasil dari daya tarikan gravitasi pada darah
itu. Ini dapat di bahagi dalam 4 kelompok yaitu:
TIPE BERCAK
DARAH
Passive Drops
Drip Pattern

Flow Pattern

(1,2,3,6,7,17)

KARAKTERISTIK BERCAK DARAH


bercak darah yang menetes di TKP dibentuk oleh daya
tarikan gravitasi semata-mata
corak bercak darah hasil dari darah yang menetes
diatas darah lain
perubahan bentuk dan arah dari bercak darah kesan
dari pengaruh gravitasi atau pergerakan objek tertentu

Pool Pattern

corak bercak darah terbentuk apabila ada satu sumber


darah yang menetap untuk satu masa yang lama.

b. Bercak darah projected


Bercak darah akan terproyeksi jika ada energi yang dialihkan dari sumber
darah. (l,2,3,6,7,17)
TIPE PROYEKSI

KARAKTERISTIK BERCAK DARAH

DARAH
Dari kecepatan

Pola bercak yang dihasilkan dari kecepatan yang rendah

rendah

dari sumber darah.

Dari kecepatan

Pola bercak yang dihasilkan dari kecepatan yang menengah

sedang

dari sumber darah. Trauma tumpul biasanya menimbulkan


jenis bercak ini.

Dari kecepatan

Pola bercak yang dihasilkan dari kecepatan yang tinggi dari

tinggi

sumber darah. Biasanya dihasilkan oleh luka tembak atau


luka akibat mesin

Cast-off pattern

Pola darah yang berasal dari benda yang terdapat darah dan
bergerak sehingga menyebabkan darah terlepas dari benda tersebut.

Cipratan arteri

Pola bercak yang berasal dari pembuluh darah arteri.

Back spatter

Pola percikan darah yang terpantul kembali ke sumber darah.

Darah Expirasi

darah yang terhembus keluar melalui hidung, mulut atau luka akibat
tekanan udara

c. Bercak darah kontak/transfer


Bercak darah kontak/transfer dihasilkan apabila suatu obyek dengan darah mengenai
pada permukaan obyek yang tidak ada darah pada awalnya. Apabila ini terjadi maka bercak
TIPE BERCAK DARAH

KARAKTERISTIK BERCAK DARAH

KONTAK
Bercak yang terbentuk apabila obyek itu bergerak

Wipe Pattern

sepanjang bercak sehingga mengubah penampilan dari


darah itu. Contohnya darah yang dioleskan ke dinding.

Swipe Pattern

Transfer

darah

dari

obyek

yang

bergerak

pada

permukaan yang tidak berdarah. Contohnya transfer


darah pada tapak sepatu.
darah yang awalnya pasif akan mengikut bentuk atau acuan dari obyek yang mengenainya.
(1,2,3,5,6,7,15)

Gambar 6. A. wipe pattern b. swipe pattern

d. Bercak darah dipengaruhi kecepatan


Istilah dampak bercak dari kecepatan rendah, menengah, dan tinggi tidak
menggambarkan kecepatan percikan darah pada saat di udara Istilah kecepatan dapat
diartikan sebagai jumlah energi yang dialihkan dari sumber darah untuk membentuk bercak
darah. Kecepatan (m/s) merupakan besaran vektor. (2,3,5,6,7,15)

Bercak dari kecepatan rendah

Gambar 7. Bercak dari kecepatan rendah


Bercak yang berasal dari kecepatan rendah terbentuk jika kecepatan darah kurang dari
1.5m/s. Ukuran bercak yang terbentuk biasanya 3 mm atau lebih.

Bercak dari kecepatan sedang

Gambar 8. Bercak dari kecepatan sedang

Bercak yang berasal dari kecepatan menengah terbentuk kecepatan diantara 1.5 m/s
sampai 7.5 m/s. Ukuran bercak yang terbentuk diantara 1 mm sampai 3 mm. Mekanisme
perlukaan yang dapat memembentuk pola ini adalah trauma tumpul yang keras atau
penusukan.(3,4,6,7,15)

Bercak dari kecepatan tinggi

Gambar 9. Bercak dari kecepatan tinggi

Bercak yang berasal dari kecepatan tinggi terbentuk jika kecepatan lebih dari 30
m/s. Ukuran bercak yang terbentuk biasanya kurang dari 1 mm. Bercak seperti ini
memberikan gambaran seperti titik. Mekanisme perlukaan yang dapat memembentuk pola
ini adalah luka tembak atau ledakan, dan dapat juga ditimbulkan oleh peralatan pabrik, batuk
atau bersin. (2,3,4,6,7,15)
D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM FORENSIK
1. Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopis untuk melihat morfologi sel-sel darah merah. Cara ini tidak
dapat dilakukan bila telah terjadi kerusakan pada sel-sel darah tersebut: (10)
1. Darah yang masih basah atau baru mengering ditaruh pada kaca obyek
2. Tambahkan 1 tetes larutan garam faal
3. Tutup dengan kaca penutup

Gambar 10. Darah manusia

Gambar 11. Darah Hewan(Avian)

Gambar 12. Darah Hewan(Amfibian)

Cara lain adalah membuat sediaan apus dengan pewarnaan Wright atau Giemsa. (10)
Sel darah merah kelas mamalia berbentuk cakram dan tidak berinti,
sedangkan kelas-kelas lainnya berbentuk oval/elips dan berinti. Kelas mamalia
genus Camelidae (golongan unta) merupakan perkecualian dengan sel darah merah
berbentuk oval/elips tetapi tidak berinti. (10)
Dengan sediaan apus dapat terlihat sel-sel leukosit berinti banyak. Pada sel
leukosit

ini,

perhatikan

adanya

drum stick yaitu

suatu

benda

berbentuk

bulat/lonjong, kadang bertangkai di luar inti. Hitung berapa sel dari antara 50 atau
100 sel leukosit yang menunjukkan adanya benda tersebut. Bila terlihat drum stick
dalam jumlah lebih dari 0,05%, dapatlah dipastikan bahwa darah tersebut berasal
dari seorang wanita. (10)

Gambar 13. Gambar pe meriksaan Wright and Gie msa

2. Pemeriksaan Penyaringan (presumptive test)


Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah
bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya positif
saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

(7)

Prinsip pemeriksaan penyaringan:


H202---------> H20 + On
Reagen > perubahan warna (teroksidasi)
Pemeriksaan penyaringan yang biasa dilakukan adalah dengan reaksi
benzidine dan reaksi fenoftalin. Reagen dalam reaksi benzidine adalah larutan
jenuh Kristal Benzidin dalam asetat glacial, sedangkan pada reaksi fenoftalin
digunakan reagen yang dibuat dari Fenolftalein 2g + 100 ml NaOH 20% dan
dipanaskan dengan biji - biji zinc sehingga terbentuk fenolftalein yang tidak
berwarna. Hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga
perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sedangkan hasil negatif pada kedua
reaksi tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah.

Reaksi Benzidine (Test Adler)


Tes Benzidine atau Test Adler lebih sering digunakan pada identifikasi darah.
Pemeriksaan ini sederhana, sangat sensitif dan cukup bermakna. Jika ternyata
hasilnya negatif maka dianggap tidak perlu untuk melakukan pemeriksaan lainnya.
Cara pemeriksaan reaksi Benzidin: (8,17)

Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian


diteteskan 1 tetes H2O2 20% dan 1 tetes reagen Benzidin, hasil positif pada reaksi
Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas saring.

Gambar 14. Benzidin tes pada kaca objek dan kertas penyaring

Reaksi Phenolphtalein (Kastle- Meyer Test)


Prosedur test

identifikasi yang sekarang ini,

banyak menggunakan

Phenolphtalein. Zat ini menghasilkan warna merah jambu terang saat digunakan
pada test identifikasi darah.
Cara Pemeriksaan reaksi Fenolftalein: (9,17)
Sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung
diteteskan reagen fenolftalein, hasil positif pada reaksi Fenoftalin adalah bila
timbul warna merah muda pada kertas saring.

Gambar 15. Tes Fenolftalein Positif(menghasilkan warna pink)

3. Pemeriksaan Meyakinkan/Test Konfirmasi Pada Darah

Setelah didapatkan hasil bahwa suatu bercak merah tersebut adalah darah
maka dapat dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan meyakinkan
darah

berdasarkan

terdapatnya

pigmen

atau

kristal

hematin

(hemin)

dan

hemokhromogen. Terdapat beberapa jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk


memastikan bercak darah tersebut benar berasal dari manusia, yaitu

(9,17)

1. Cara kimiawi
Terdapat dua macam tes yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa
yang diperiksa itu bercak darah, atas dasar pembentukan kristal-kristal hemoglobin
yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau dengan mikroskopik. Tes tersebut
antara lain tes Teichmann dan tes Takayama.
Test Teichman (Tes kristal haemin)
Tes diawali dengan memanaskan darah yang kering dengan asam asetat
glacial dan chloride untuk membentuk derivate hematin. Kristal yang terbentuk
kemudian diamati di bawah mikroskop, biasanya Kristal muncul dalam bentuk
belah-belah ketupat dan berwarna coklat. (9,17)
Cara pemeriksaan: (10)
Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek tambahkan 1 butir
kristal NaCL dan 1 tetes asam asetat glacial, tutup dengan kaca penutup dan
dipanaskan. Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya Kristal hemin HCL yang
berbentuk batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik. Kesulitannya
adalah dalam proses mengontrol panas dari sampel karena pemanasan yang terlalu
panas atau terlalu dingin dapat menyebabkan kerusakan pada sampel.

Gambar 16. Batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskopik

Test Takayama (Tes kristal B Heinokromogen)


Heme sudah dipanaskan dengan seksama dengan menggunakan pyridine
dibawah kondisi basa dengan tambahan sedikit gula seperti glukosa, Kristal
pyridine ferroprotoporphyrin atau hemokromogen akan terbentuk Cara kerja: (9,I7)
Tempatkan sejumlah kecil sampel yang berasal dari bercak pada gelas objek
dan biarkan reagen takayama mengalir dan bercampur dengan sampel. Setelah fase
dipanaskan, lihat di bawah mikroskop. Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya
kristal halus berwarna merah jambu yang terlihat dengan mikroskopik.
Kelebihan:
Test dapat dilakukan dan efektif dilakukan pada sampel atau bercak yang
sudah lama dan juga dapat memunculkan noda darah yang menempel pada baju.
Selain itu test ini juga memunculkan hasil positif pada sampel yang mempunyai
hasil negatif pada tes Teichmann.

Gambar 17. Tampak kristal halus berwarna merah jambu.

Pemeriksaan Wagenaar

Cara pemeriksaan: Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca


obyek, letakkan juga sebutir pasir, lalu tutup dengan kaca penutup sehingga antara
kaca obyek dan kaca penutup terdapat celah untuk penguapan zat. Kemudian pada
satu sisi diteteskan aseton dan pada sisi lain di tetes kan HCL encer, kemudian
dipanaskan. Hasil positif bila terlihat Kristal aseton hemin berbentuk batang
berwarna coklat. Hasil negatif selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan
bercak darah, juga dapat dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang
struktur kimiawinya telah rusak, misalnya bercak darah yang sudah lama sekali,
terbakar dan sebagainya. (9,10,17)

2. Cara serologik
Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan golongan
darah. Untuk itu dibutuhkan antiserum terhadap protein manusia (anti human
globulin) serta terhadap protein hewan dan juga antiserum terhadap golongan darah
tertentu. Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah)
dengan antibodi (antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi
aglutinasi.

(9,10,17)

Test Presipitin Cincin


Test Presipitin Cincin menggunakan metode pemusingan sederhana antara
dua cairan didalam tube. Dua cairan tersebut adalah antiserum dan ekstrak dari
bercak darah yang diminta untuk diperiksa. Cara pemeriksaan : Antiserum
ditempatkan pada tabung kecil dan sebagian kecil ekstrak bercak darah
ditempatkan secara hati-hati pada bagian tepi antiserum. Biarkan pada temperatur
ruang kurang lebih 1,5 jam. Pemisahan antara antigen dan antibodi akan mulai
berdifusi ke lapisan lain pada perbatasan kedua cairan. Hasil positif akan terdapat
lapisan tipis endapan atau precipitat pada bagian antara dua larutan. Pada kasus
bercak darah yang bukan dari manusia maka tidak akan muncul reaksi apapun. (9,17)

Gambar18. Tampak lapisan tipis endapan pada bagian antara dua larutan

Reaksi presipitasi dalam agar


Cara pemeriksaan : Gelas obyek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas
lemak, dilapisi dengan selapis tipis agar buffer. Setelah agak mengeras, dibuat
lubang pada agar dengan diameter kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi oleh
lubang-lubang sejenis. Masukkan serum anti-globulin manusia ke lubang di tengah
dan ekstrak darah dengan berbagai derajat pengenceran di lubang-lubang
sekitarnya. Letakkan gelas obyek ini dalam ruang lembab (moist chamber) pada
suhu ruang selama satu malam. Hasil positif memberikan presipitum jernih pada
perbatasan lubang tengah dan lubang tepi. (9 ' 17)

Pembuatan aga r buffer :


1 gram agar; 50 ml larutan buffer Veronal pH 8.6; 50 ml aquadest; 100 mg.
Sodium Azide. Kesemuanya dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer, tempatkan
dalam penangas air mendidih sampai terbentuk agar cair. Larutan ini disimpan
dalam lemari es, yang bila akan digunakan dapat dicairkan kembali dengan
menempatkan labu di dalam air mendidih. Untuk melapisi gelas obyek, diperlukan
kurang lebih 3 ml agar cair yang dituangkan ke atasnya dengan menggunakan
pipet. (9,17)

Gambar 19. Hasil positif memberikan presipitum jernih

Hukum mendel untuk golongan darah:


Untuk dapat mengetahui dan melakukan penafsiran dengan baik, seharusnya
dipahami beberapa masalah pokok yang berkaitan dengan darah, misalnya hukum
mendel serta pemeriksaan laboratorium yang sederhana dan sistem golongan darah.
(4)

Prinsip hukum mendel untuk golongan darah


1.

Agglutinogen (antigen),tidak mungkin timbul pada anak jika antigen tersebut


tidak ada pada salah satu atau kedua orang tua anak tersebut.

2.

Orang tua yang homozygous harus menurunkan gen untuk antigen tersebut
kepada anaknya.

3.

Anak yang homozygous harus mendapatkan gen untuk antigen tersebut dari
masing-masing orang tuanya.

4.

Hukum mendel bila diterapkan pada sistem ABO,menjadi: (4)

Bila didapatkan sel darah merah dalam keadaan utuh. Penentuan golongan
darah dapat dilakukan secara langsung seperti pada penentuan golongan darah
orang hidup, yaitu dengan meneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes daiah dan
dilihat terjadinya aglutinasi. Aglutinasi yang terjadi pada suatu antiserum
merupakan golongan darah bercak yang diperiksa, contoh bila terjadi aglutinasi
pada antiserum A maka golongan darah bercak darah tersebut adalah A

(ll)

Gambar 10. Gambar makroskopik pada golongan darah.


Bila sel darah merah sudah rusak penentuan golongan darah dapat
dilakukan

dengan

cara

menentukan

jenis

aglutinin

dan

antigen. Antigen

mempunyai sifat yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan aglutinin. Di antara

sistem-sistem golongan darah, yang paling lama bertahan adalah antigen dari
sistem golongan darah ABO. (10

PENUTUP

Pemeriksaan darah di TKP kasus kriminal dapat memberikan informasi


yang berguna bagi proses penyidik Dalam melakukan visum, perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang untuk memperjelas dan membuktikan kebenaran suatu
kasus. Karena sebenarnya, pada setiap kejadian kejahatan hampir selalu ada barang
bukti yang tertinggal di tempat kejadian perkara (TKP).
Pemeriksaan darah sangat penting untuk menetukan bercak tersebut benarbenar bercak darah, apakah darah itu dari manusia atau hewan, dan untuk
menentukan golongan darah dari bercak darah itu jika darah tersebut benar dari
manusia.
Pemeriksaan laboratorium forensik bercak darah merupakan pemeriksaan
yang tanpa disadari dibutuhkan keberadaannya untuk membantu memperjelas suatu
kejadian dalam melakukan visum. Pemeriksaan laboratorium forensik sederhana
yaitu pemeriksaan laboratorium yang dalam pengerjaannya mudah, dengan alat dan
reagen yang murah dan mudah didapat namun memberikan nilai manfaat yang
besar.
Terdapat beberapa metode menentukan corak dari bercak darah. Satu
diantaranya adalah berdasarkan dari mekanisme yang menghasilkan bercak darah
tersebut. Ada tiga kelompok bercak darah yaitu pasif, projected, dan kontak
(transfer).
Bercak darah yang pasif adalah hasil dari daya tarikan gravitasi pada darah
itu, bercak darah akan terproyeksi jika ada energi yang dialihkan dari sumber
darah. Sedangkan bercak darah kontak/transfer dihasilkan apabila suatu obyek
dengan darah mengenai pada permukaan obyek yang tidak ada darah pada awalnya.

DAFTAR PUSAKA
1. Knight B. Blood Stains, Groups, DNA and Identification. In: Simpson's Forensic
Medicine, 11th edition. London: Oxford University Press. 2001 p. 38-43.
2. James SH, Edel CF. Bloodstain Pattern Interpretation. In: Introduction to Forensic
Sceiences, 2nd edition. US: CRC Press. 1996. p. 176-239
3. Jimmy, W. Bloodstain Pattern Analysis, Available from:
http://en.wikipedia.org/wiki/Bloodstain_pattern analysis
4. Idries, A.M. Pedoman Ilmu Kedikteran Forensik. Jakarta : Binarupa Aksara. 1997. Hal
5, 273-4
5. Modern methods of collection and preservation of biological evidence for human
identification by DNA analysis, Available from: http://www.oglethorpe.eda/facultv/~k
aufderheide/Forensic_Science/Web_D ocuments/Catalin Andrei Mitrasca.pdf
6. Akin LL. Blood Pattern Analysis at Crime Scene. Available from : http://www
akininc.com/PDFs/BSA%20Wikipedia.pdf
7. Akin

LL.

Blood

Interpretation

at

Crime

Scenes.

Available

from

http://wAvw.akininc.com/PDFs/ACFE%20bloodspatter.pdf
8. Alexader. Project : Blok 4.2 Post X : Peranan Dokter Dalam Bencana ; Tindakan Di
TKP. 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Gajah mada. Available From :
http:UalexamJerkomala.worJpress.com/.../proiect-blok-4-2-

ix)st-x-peranan -

dokter-dalam-bencana-tin(Jakan-iii-tkp 9. Widiatmaka,

W.

Pemeriksaan

Laboratorium

Forensik.

Available

from:

www.scribd.com/doc/49031155/17lab-for-WW

10. Budiyanto, A. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Jakarta : Bagian Kedokteran
Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1997. Hal 179-185
11. Idris, A.M. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses Penyelidikan.
Edisi Revisi. Jakarta : CV Sagung Seto. 2008. Hal 18-35
12. Jimmy, W. Darah. Available From :http .Hid.wikipedia.org/wiki/Darah
13. Cadha vijay. Bercak darah. Dalam: Ilmu forensik dan toksikologi. Jakarta: Widya
medika. 1995. Hal 197-201

14. Dickerson, M.E. Studies In Bloodstain Pattern Analysis. Available From:


https://www.mfrc.ameslab.gov/files/index.php?folder=Qmxvb2RsZXROaW5n IE
11 Y2hhbmlzbSB Wa WRlb3 M =
15. J. Slemko Forensic Consulting, Blood Pattern Analysis Tutorial, Available from:
http://www.bloodspatter.com/BPATutorial.htmb
16. Idris, A.M. Bercak Darah Dalam Kasus Udin. Dokter Ahli Forensik Universitas
Indonesia.

Available

From:

www. tempointercictive. com/anp/min/O l/38/kolom2. htm 17. Putu Sudjana L Hoediyanto, Pengumpulan dan pengiriman bahan pemeriksaan
darah,

Available

from:http://www.i'k.uwks.ac.id/elib/Arsip/Depaitemen/Forensik/PENGUMPULA
N

%20

%20CARA%20PENGIRIMAN%20BAHAN%20PEMERIKSAAN%20

ANALlSA%20DNA.pdf