Anda di halaman 1dari 28

PRINSIP KESANTUNAN DALAM TUTURAN SISWA KELAS XI TEKNIK

KOMPUTER JARINGAN SMKN TAKERAN KABUPATEN MAGETAN


TAHUN PELAJARAN 2012/2013 (KAJIAN PRAGMATIK)
Rumini
Agung Pramono
Dwi Rohman Soleh
Program Pascasarjana
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
IKIP PGRI Madiun
Abstrak
Secara umum penelitian ini mempunyai tujuan untuk memperoleh gambaran
kesantunan berbahasa dalam interaksi antar siswa SMK Negeri Takeran,
Kabupaten Magetan. Secara rinci rumusan tujuan penelitian ini adalah
mendeskripsikan dan mengkaji: (1) Bentuk pemakaian kesantunan tuturan dalam
interaksi antar siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran,
Kabupaten Magetan; (2) Strategi kesantunan tuturan antar siswa kelas XI Teknik
Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan; dan (3) Pelanggaran
maksim prinsip kesantunan tuturan yang digunakan dalam interaksi antar siswa
kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan. Fokus
dalam penelitian ini adalah mengkaji pragmatik tuturan siswa kelas XI TKJ 1 dan
2 SMK Negeri Takeran, Kabupaten Magetan berdasarkan prinsip kesantunan
dalam tuturan. Adapun yang dimaksud tuturan dalam penelitian ini adalah
bentuk-bentuk percakapan atau komunikasi lisan yang dilakukan siswa dengan
temannya atau siswa dengan guru pembimbingnya. Analisis dilakukan terhadap
pelanggaran prinsip-prinsip kesantunan dalam tuturan siswa, baik yang bersifat
representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif yang merupakan bentuk
pelanggaran-pelanggaran terhadap maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim
relevansi, maksim pelaksanaan, maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan,
maksim kesederhanaan, maksim penghargaan, maksim kemurahan hati, maksim
kecocokan, dan maksim kesimpatian.
Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan, mulai bulan Oktober 2012
sampai dengan Januari 2013 di SMKN Takeran, Kabupaten Magetan.
Berdasarkan permasalahan penelitian yang telah ditetapkan, rancangan
penelitian yang dipergunakan adalah rancangan penelitian kualitatif dengan
metode deskriptif untuk memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai
individu, keadaan bahasa, gejala atau kelompok tertentu. Dalam penelitian ini
dipergunakan sampel sebanyak 84 siswa. Pengambilan data dari sampel dibatasi
pada tuturan-tuturan yang disampaikan siswa terhadap teman dan siswa
terhadap guru yang terjadi di lingkungan sekolah selama waktu penelitian, yaitu
antara bulan Januari hingga Maret tahun pelajaran 2012/2013. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas (1) observasi, (2) wawancara,
dan (3) studi dokumentasi. Data penelitian ini dianalisis menggunakan Model
Alir sebagaimana yang disampaikan oleh Miles dan Huberman.

2
Hasil temuan penelitian yang berkaitan dnegan fokus dan permasalahan
penelitian adalah sebagai berikut: (1) Dari segi wujud prinsip kesantunan
tuturan saran, permintaan dan perintah siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan
SMKN Takeran, Kabupaten Magetan menunjukkan telah menerapkan prinsip
kesantunan, prinsip penghindaran kata tabu, prinsip penggunaan eufemisme, dan
prinsip penggunaan pilihan kata honorifik. Dari segi strategi penggunaan prinsip
kesantunan tuturan siswa dalam tuturan saran, permintaan dan perintah
meliputi: (1) strategi tidak santun dilakukan dalam kegiatan bertutur kepada
teman akrab (antarsiswa, antar guru, antar karyawan sekolah), (2) strategi agak
santun dilakukan dalam kegiatan bertutur pada teman belum akrab (guru kepada
guru, siswa kepada siswa, karyawan sekolah kepada karyawan sekolah), (3)
strategi santun dilakukan dalam kegiatan bertutur kepada: teman yang belum
dikenal (siswa baru kepada siswa, siswa baru kepada guru, siswa baru kepada
karyawan sekolah, maupun sebaliknya), (4) strategi paling santun dilakukan
dalam kegiatan bertutur terhadap orang yang berstatus sosial lebih tinggi (siswa
kepada guru, siswa kepada karyawan sekolah). Dari segi pelanggaran maksim
prinsip kesantunan tuturan siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN
Takeran, Kabupaten Magetan baik tuturan saran, permintaan maupun perintah
hampir tidak ditemukan pelanggaran. Walaupun ada, sedikit pelanggaran maksim
prinsip kesantunan dalam tuturan, karena SMKN Takeran, Kabupaten Magetan
menerapkan prinsip kesantunan dalam kegiatan bertutur sehingga menjadi
kebiasaan dalam pertuturan di lingkungan sekolah atau siswa. Kondisi demikian
perlu menjadi pengetahuan dan menjadi contoh bagi kalangan siswa di sekolahsekolah umum.
Kata Kunci : prinsip kesantunan, tuturan, kajian pragmatik
Abstract
In general, this study has the objective to obtain politeness description in
interaction between students of SMK Negeri Takeran, Magetan. Detailed
formulation of the purpose of this study is to describe and assess: (1) the use of
politeness forms of utterances in the interaction between eleventh student of SMK
Engineering Computer Networking Takeran, Magetan, (2) speech politeness
strategies among students of eleventh student Computer Network Engineering of
SMKN Takeran, Magetan, and (3) Violation of the principle of the maxim of
politeness utterances are used in the interaction between eleventh student of SMK
Engineering Computer Networking Takeran, Magetan. The focus of this research
is to examine the pragmatics of speech in eleventh student of TKJ 1 and TKJ 2 of
SMK Negeri Takeran, Magetan based on the principles of civility in speech. As
for the meaning of utterances in this study are the kinds of conversations or oral
communications made by his students or students with a mentor teacher. Analysis
carried out on violations of the principles of politeness in the speech of students,
whether they are representative, directive, expressive, commissive, and that is a
form of declarative violations of the maxim of quantity, maxim of quality, maxim

3
of relevance, implementation maxims, maxims of wisdom, generosity maxim,
simplicity maxims, maxims appreciation, generosity maxims, maxims suitability,
and sympathies maxims.
The research was carried out for 4 months, from October 2012 to January
2013 at SMK Takeran, Magetan. Based on pre-defined research problem,
research design used was a qualitative research design with a descriptive method
to illustrate that as carefully as possible about the individual, the state language,
or a particular group of symptoms. In the present study used a sample of 84
students. Retrieval of data from the sample is limited to speech-speech that was
delivered to the students and friends of students to teachers in the school
environment that occurred during the study period, ie between January and
March of the school year 2012/2013. Data collection techniques in this study
consisted of (1) observation, (2) interviews, and (3) study the documentation. The
data were analyzed using Flow Model as presented by Miles and Huberman.
Research findings related circuitry and research focus are as follows: (1) In
terms of politeness principle form of speech suggestions, requests and commands
class XI student of Computer Engineering Takeran SMKN Network, has
implemented Magetan show politeness principle, the principle of avoidance of
taboo words, the principle of the use of euphemisms, and the principle of the use
of honorifics choice. In terms of strategies students use the principles of
politeness in the speech utterances suggestions, requests and commands include:
(1) the strategy is not polite to speak of activities performed in the intimate friend
(between students, between teachers, between school employees), (2) somewhat
mannered strategy is conducted in the told the friend not familiar (teacher to
teacher, student to student, school employee to a school employee), (3) strategies
politely told the activities carried out in: an unknown friend (new students to
students, students new to the teachers, students new to the school employees, and
vice versa), (4) the strategy is conducted in the most polite people who speak
against the higher social status (student to teacher, student to school employees).
In terms of violations of the principle of politeness maxims speech class XI
student of Computer Engineering Network SMKN Takeran, Magetan good speech
suggestions, requests or commands found almost no offense. While there, a little
offense maxims of politeness principle in the speech, because SMKN Takeran,
Magetan apply the principles of civility in activities so that it becomes a habit to
speak of substitutions in the school or students. These conditions need to be
knowledge and be an example to the students in public schools.
Keywords: politeness principle, speech, pragmatics studies
A. PENDAHULUAN
Bahasa merupakan cermin kerpibadian seseorang. Ketika seseorang sedang
berkomunikasi dengan bahasanya mampu menggali potensi bahasanya dan
mampu menggunakannya secara baik, benar, dan santun merupakan cermin dari

4
sifat dan kepribadian pemakainya. Penggunaan bahasa yang sopan, santun,
sistematis, teratur, jelas, dan lugas mencerminkan pribadi penuturnya yang
berbudi. Sebaliknya, melalui penggunaan bahasa yang sarkasme, menghujat,
memaki,

memfitnah,

mendiskreditkan,

memprovokasi,

mengejek,

atau

melecehkan, akan mencitrakan pribadi yang tak berbudi.


Lingkungan masyarakat perlu diupayakan untuk bertutur kata santun. Hal ini
sangat penting dilakukan karena masyarakat yang sekarang ini tengah bergerak ke
arah yang semakin maju dan modern. Demikian pula dampaknya pada nilai-nilai
budaya temasuk tata cara dan kesantunan berbahasa di kalangan generasi muda
termasuk pelajar. Kondisi pendidikan Indonesia menunjukan bahwa sekolah
dituntut untuk memiliki kemampuan mendidik dan mengembangkan etika
berbahasa santun agar siswa dapat berkomunikasi lebih baik.
Pranowo (2009:4) mengemukakan bahwa di dalam suatu struktur bahasa
(yang terlihat melalui ragam dan tata bahasa) terdapat struktur kesantunan.
Struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh
penutur/penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca.
Faktor penentu kesantunan yang dapat diidentifikasi dari bahasa verbal tulis,
seperti pilihan kata yang berkaitan dengan nilai rasa, panjang pendeknya struktur
kalimat, ungkapan, gaya bahasa, dan sebagainya. Pertentangan akan terjadi jika
pembicara tidak menerapkan strategi kesantunan dengan tepat. Itulah yang
membuat pembicara melanggar aturan-aturan kesantunan, dan mungkin itu yang
disebut dengan sesuatu yang tidak santun. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
pengguna bahasa harus memilih strategi yang tepat.
Penulis tertarik untuk mengkaji pragmatik tuturan siswa SMK Negeri
Takeran, Kabupaten Magetan terkait dengan prinsip kesantunan berbahasa dalam
kehidupan sehari-hari, baik antar siswa itu sendiri maupun siswa terhadap guru
dan karyawan sekolah. Penelitian ini dianggap penting karena dapat
mendeskripsikan tindak tutur siswa SMK Negeri Takeran, Kabupaten Magetan
dalam penerapan yang sesuai dengan prinsip kesantunan ataupun yang melanggar
maksim-maksim kesantunan. Penulis berpendapat bahwa penelitian terhadap
prinsip kesantunan dalam tuturan siswa SMA/SMK merupakan hal yang penting

5
dan sangat bermanfaat bila dikaji secara mendalam.
Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana
bentuk-bentuk pemakaian prinsip kesantunan tuturan dalam interaksi antar siswa
kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan? (2)
Bagaimana strategi dalam penggunaan prinsip kesantunan tuturan dalam interaksi
antar siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan?, (3) Bagaimanakah bentuk-bentuk pelanggaran maksim prinsip
kesantunan tuturan yang digunakan dalam interaksi antar siswa kelas XI Teknik
Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan? Secara rinci rumusan
tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan mengkaji: (1) Bentuk pemakaian
kesantunan tuturan dalam interaksi antar siswa kelas XI Teknik Komputer
Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan, (2) Strategi kesantunan tuturan
antar siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan, dan (3) Pelanggaran maksim prinsip kesantunan tuturan yang digunakan
dalam interaksi antar siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran,
Kabupaten Magetan.
B. KAJIAN PUSTAKA
1. Prinsip-Prinsip Kesantunan
Prinsip kesantunan (politenesse principles) itu berkenaan dengan aturan
tentang hal-hal yang bersifat sosial, estetis, dan moral di dalam bertindak tutur.
Alasan dicetuskannya prinsip kesantunan adalah bahwa di dalam tuturan penutur
tidak cukup hanya dengan mematuhi prinsip kerja sama. Prinsip kesantunan
diperlukan untuk melengkapi prinsip kerja sama dan mengatasi kesulitan yang
timbul akibat penerapan prinsip kerja sama (Rustono, 2002:61).
Leech (dalam Pranowo, 2009:36) mengatakan bahwa suatu tuturan
dikatakan santun bila dapat meminimkan pengungkapan pendapat yang tidak
santun. Grice merumuskan kembali anggapan tersebut menjadi pilihlah
ungkapan yang tidak meremehkan status mitra tutur. Artinya, dalam bertutur,
demi kesantunan perlu memilih ungkapan yang paling kecil kemungkinannya
menyebabkan mitra tutur kehilangan muka.

6
Poedjosoedarmo (dalam Pranowo, 2009:37) mengemukakan bahwa santun
tidaknya pemakaian bahasa dapat diukur melalui 7 (tujuh) prinsip sebagai berikut:
(1) kemampuan mengendalikan emosi agar tidak lepas kontrol dalam berbicara,
(2) kemampuan memperlihatkan sikap bersahabat kepada mitra tutur, (3) gunakan
kode bahasa yang mudah dipahami oleh mitra tutur, (4) kemampuan memilih
topik yang disukai oleh mitra tutur dan cocok dengan situasi, (5) mengemukakan
tujuan pembicaraan dengan jelas, (6) penutur memilih bentuk kalimat yang baik,
dan (7) memperhatikan norma tutur lain, seperti gerakan tubuh (gestur).
2. Kaidah-Kaidah Prinsip Kesantunan
Prinsip kesantunan Leech (dalam Rustono, 2002: 70) secara lengkap
mengemukakan prinsip kesantunan yang meliputi enam bidal beserta subbidalnya,
sebagai berikut.
a. Bidal ketimbangrasaan (tact maxim)
1) Meminimalkan biaya kepada pihak lain
2) Memaksimalkan keuntungan kepada pihak lain
b. Bidal kemurahhatian (generosity maxim)
1) Meminimalkan keuntungan kepada diri sendiri
2) Memaksimalkan keuntungan kepada pihak lain
c. Bidal keperkenanan (appobation maxim)
1) Minimalkan penjelekan kepada pihak lain
2) Maksimalkan pujian kepada pihak lain
d. Bidal kerendahhatian (modesty maxim)
1) Minimalkan pujian kepada diri sendiri
2) Maksimalkan penjelekan kepada diri sendiri
e. Bidal kesetujuan (agreement maxim)
1) Minimalkan ketidaksetujuan antara diri sendiri dan pihak lain
2) Maksimalkan kesetujuan antara diri sendiri dan pihak lain
f. Bidal kesimpatian (symphaty maxim)
1) Minimalkan antipati antara diri sendiri dan pihak lain
2) Maksimalkan simpati antara diri sendiri dan pihak lain
Menurut Gunawan (dalam Rustono, 2002:71) prinsip kesantunan Leech itu
didasarkan pada nosi-nosi: (1) biaya (cost) dan keuntungan (benefit), (2) celaan
atau penjelekan (dispraise) dan pujian (praise), (3) kesetujuan (agreement), serta
(4) kesimpatian dan keantipatian (sympathy/antipathy). Adapun lebih lengkapnya
dijelaskan di bawah ini.

7
a. Bidal Ketimbangrasaan (Tact Maxim)
Bidal ketimbangrasaan di dalam prinsip kesantunan memberikan petunjuk
bahwa pihak lain di dalam tuturan hendaknya dibebani biaya seringan-ringannya
tetapi dengan keuntungan sebesar-besarnya. Leech (dalam Rustono, 2002:71)
mengatakan bahwa bidal ketimbangrasaan ini lazim diungkapkan dengan tuturan
impositif dan tuturan komisif. Berikut ini adalah contoh tuturan yang
mengungkapkan tingkat kesopanan yang berbeda-beda.
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

Datang ke pertemuan ilmiah itu!


Datanglah ke pertemuan ilmiah itu!
Silahkan datang ke pertemuan ilmiah itu!
Sudilah kiranya datang ke pertemuan ilmiah itu!
Jika tidak keberatan, sudilah datang ke pertemuan ilmiah itu!

Tingkat kesantunan terentang dari nomor yang rendah ke yang tinggi pada
contoh tuturan (1) dan (5) tersebut. Tuturan yang bernomor kecil mengungkapkan
tingkat kesantunan yang lebih rendah dibandingkan dengan tuturan dengan nomor
yang lebih besar. Semakin besar nomor tuturan pada contoh itu semakin tinggi
tingkat kesantunannya, demikian sebaliknya. Hal itu demikian karena karena
tuturan dengan nomor besar, nomor (5) misalnya, membutuhkan biaya yang besar
bagi diri sendiri ditandai dengan besarnya jumlah kata yang diekspresikan dan hal
itu berarti memaksimalkan kerugian kepada diri sendiri dan meminimalkan biaya
kepada pihak lain sebagai mitra tutur dengan keuntungan yang sebesar-besarnya
bagi pihak lain sebagai mitra tuturnya.
Tuturan (6) dan (7) berikut ini berbeda di dalam hal pematuhan prinsip
kesantunan Leech.
(6) A: Mari saya masukkan surat Anda ke kotak pos.
B: Jangan, tidak usah!
(7) A: Mari saya masukkan surat Anda ke kotak pos.
B: Ni, itu baru namanya teman.
Di dalam tingkat kesantunan tuturan (6) B berbeda dari tuturan (7) B. Hal itu
demikian karena tuturan (6) B meminimalkan biaya dan memaksimalkan
keuntungan kepada mitra tutur. Sementara itu, tuturan (7) B sebaliknya, yaitu
memaksimalkan keuntungan pada diri sendiri dan memaksimalkan kerugian
kepada mitra tutur. Fenomena yang ada di dalam tuturan (6) B dan (7) B lazim

8
dinamakan paradoks pragmatik, yaitu suatu paradoks yang mengacu pada sikap
bertentangan kedua pemeran serat di dalam percakapan (Leech, 1993:111). Di
antara dua tuturan itu, tuturan (6) B mematuhi paradoks pragmatik, sebaliknya
tuturan (7) B melanggarnya.
b. Bidal Kemurahhatian (Generosity Maxim)
Pepatah yang dikemukakan di dalam bidal kemurahhatian adalah bahwa
pihak lain di dalam tuturan hendaknya diupayakan mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya sementara itu diri sendiri atau penutur hendaknya berupaya
mendapatkan keuntungan yang sekecil-kecilnya.
Leech (dalam Rustono, 2002:72) mengatakan bahwa tuturan yang biasanya
mengungkapkan bidal kemurahhatian ini adalah tuturan ekspresif dan tuturan
asertif. Tuturan berikut ini merupakan contoh tuturan yang berkenaan dengan
bidal kemurahhatian ini.
(8) A: Pukulanmu sangat keras.
B: Saya kira biasa saja, Pak.
(9) A: Pukulanmu sangat keras.
B: Siapa dulu?
Tuturan (8) B mematuhi bidal kemurahhatian, sedangkan tuturan (9) B
melanggarnya. Hal itu demikian karena tuturan (8) B itu memaksimalkan
keuntungan kepada pihak lain dan meminimalkan keuntungan kepada diri sendiri.
Sementara itu, tuturan (9) B sebaliknya; memaksimalkan keuntungan kepada diri
sendiri dan meminimalkan keuntungan kepada pihak lain. Tuturan (9) B juga
melanggar paradoks pragmatik, sedangkan tuturan tuturan (8) B mematuhinya.
Dengan demikian, atas dasar prinsip kesantunan tuturan (8) B lebih santun jika
dibandingkan dengan tuturan (9) B.
c. Bidal Keperkenanan (Approbation Maxim)
Bidal keperkenanan adalah petunjuk untuk meminimalkan penjelekan
terhadap pihak lain dan memaksimalkan pujian kepada pihak lain. Leech (dalam
Rustono, 2002:73) berpendapat bahwa sebagaimana halnya dengan tuturan
kemurahhatian, tuturan yang lazim digunakan selaras dengan bidal keperkenanan
ini adalah tuturan ekspresif dan asertif.

9
Tuturan (10) B berikut ini mematuhi bidal keperkenanan, sebaliknya tuturan
(11) B melanggarnya.
(10) A: Mari Pak, seadanya!
B: Terlalu banyak, sampai-sampai saya susah memilihnya.
(11) A: Mari Pak seadanya!
B: Ya, segini saja nanti kan habis semua.
Tuturan (10) B mematuhi bidal keperkenanan karena penutur meminimalkan
penjelekan terhadap pihak lain dan memaksimalkan pujian terhadap pihak lain itu.
Sementara itu, tuturan (11) B melanggar bidal ini karena meminimalkan
penjelekan kepada diri sendiri dan memaksimalkan pujian kepada diri sendiri.
Dengan penjelasan itu, tingkat kesantunan tuturan (10) B lebih tinggi jika
dibandingkan dengan tuturan (11) B.
d. Bidal Kerendahhatian (Modesty Maxim)
Dalam bidal kerendahhatian ini hendaknya penutur meminimalkan pujian
kepada diri sendiri dan memaksimalkan penjelekan kepada diri sendiri merupakan
isi bidal kerendahhatian. Bidal ini dimaksudkan sebagai upaya rendah hati bukan
rendah diri agar penutur tidak terkesan sombong.
Leech (dalam Rustono, 2002:74) berpendapat bahwa tuturan yang lazim
digunakan untuk mengungkapkan bidal ini juga tuturan ekspresif dan tuturan
asertif. Tuturan (12), (13), dan (14) merupakan tuturan yang mematuhi prinsip
kesantunan bidal kerendahhatian ini.
(12) Saya ini anak kemarin, Pak.
(13) Maaf, saya ini orang kampung.
(14) Sulit bagi saya untuk dapat meniru kehebatan Bapak.
Hal itu demikian karena tuturan-tuturan itu memaksimalkan penjelekan kepada
diri sendiri dan meminimalkan pujian kepada diri sendiri. Karena sesuai dengan
bidal kerendahhatian ini, tuturan (12), (13), dan (14) merupakan tuturan yang
santun.
Di pihak lain, tuturan (15), (16), dan (17) merupakan tuturan yang
melanggar prinsip kesantunan bidal kerendahhatian.
(15) Saya ini sudah makan garam.
(16) Saya bisa lebih dari kehebatan Bapak.
(17) Hanya saya yang bisa seperti itu.

10
Tuturan (15), (16), dan (17) melanggar prinsip kesantunan karena tidak sejalan
dengan bidal kerendahhatian. Tuturan-tuturan itu memaksimalkan pujian kepada
diri sendiri. Oleh karena itu, tuturan-tuturan itu merupakan tuturan yang tidak
santun.
e. Bidal Kesetujuan (Agreement Maxim)
Bidal kesetujuan adalah bidal di dalam prinsip kesantunan yang memberikan
petunjuk untuk meminimalkan ketidaksetujuan antara diri sendiri dan pihak lain
dan memaksimalkan kesetujuan antara diri sendiri dan pihak lain.
Contoh:
(18) A: Bagaimana kalau lemari ini kita pindah?
B: Boleh
(19) A: Bagaimana kalau lemari ini kita pindah?
B: Saya setuju sekali.
Tuturan 18 (B) dan (19) B merupakan tuturan yang meminimalkan
ketidaksetujuan dan memaksimalkan kesetujuan antara diri sendiri sebagai
penutur dengan pihak lain sebagai mitra tutur. Dibandingkan dengan tuturan 18
(B), tuturan 19 (B) lebih memaksimalkan kesetujuan. Karena itu derajat
kesantunannya lebih tinggi tuturan 19 (B) dari pada tuturan 18 (B).
Karena tidak meminimalkan ketidaksetujuan dan tidak memaksimalkan
kesetujuan antara diri sendiri sebagai penutur dan pihak lain sebagai mitra tutur,
tuturan 20 (B) dan 21(B) berikut ini tidaklah merupakan tuturan yang mematuhi
prinsip kesantunan.
(20) A: Bagaimana kalau lemari ini kita pindah?
B: Saya tidak setuju.
(21) A: Bagaimana kalau lemari ini kita pindah?
B: Jangan, sama sekali saya tidak setuju.
Kedua tuturan B itu justru memaksimalkan ketidaksetujuan dan meminimalkan
kesetujuan antara diri sendiri dengan pihak lain. Jika dibandingkan dengan tuturan
20 (B), tingkat pelanggaran terhadap prinsip kesantunan tuturan 21 (B) lebih
tinggi.

11
f. Bidal Kesimpatian (Sympathy Maxim)
Bidal ini menyarankan kepada penutur hendaknya meminimalkan antipati
antara diri sendiri dan pihak lain dan memaksimalkan simpati antara diri sendiri
dan pihak lain merupakan petunjuk bidal kesimpatian. Jika penutur menghasilkan
tuturan yang meminimalkan antipati dan memaksimalkan simpati antara dirinya
sendiri dengan pihak lain sebagai mitra tuturnya, penutur tersebut mematuhi
prinsip kesantunan bidal kesimpatian. Jika sebaliknya, penutur itu melanggar
prinsip kesantunan.
Leech (dalam Rustono, 2002:76) berpendapat bahwa jenis tuturan yang
lazim mengungkapkan kesimpatian adalah tuturan asertif. Berikut ini merupakan
tuturan yang sejalan dengan bidal kesimpatian.
(22) Saya ikut berduka cita atas meninggalnya Ibunda.
(23) Saya benar-benar ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas
meninggalnya Ibunda tercinta.
Dikatakan sejalan karena karena tuturan (22) dan (23) tersebut meminimalkan
antipati dan memaksimalkan antipati antara penutur dan mitra tuturnya. Dengan
demikian, tuturan (22) dan (23) tersebut merupakan tuturan yang mematuhi
prinsip kesantunan bidal kesimpatian. Derajat pematuhan terhadap bidal
kesimpatian oleh tuturan (23) lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang
diperankan oleh tuturan (22).
Sebaliknya, tuturan 24 (B) dan 25 (B) berikut ini merupakan tuturan yang
melanggar prinsip kesantunan bidal kesimpatian.
(24) A: Pak, Ibu saya meninggal
B: Semua orang akan meninggal
(25) A: Pak, Ibu saya meninggal
B: Tumben
Tuturan 24 (B) dan 25 (B) melanggar bidal kesimpatian karena tidak
meminimalkan antipati dan tidak memaksimalkan simpati antara diri sendiri dan
pihak lain, bahkan justru sebaliknya. Dengan demikian, kedua tuturan itu
merupakan tuturan yang tidak atau kurang sopan, karena antipati yang berlebihan
pada tuturan 25 (B) jika dibandingkan dengan tuturan 24 (B), derajat pelanggaran
bidal kesimpatian tuturan 25 (B) lebih tinggi dari pada tuturan 24 (B).

12
Tidak semua teori atau prinsip kesantunan diterapkan di dalam penelitian
pragmatik. Prinsip kesantunan Leech dipilih untuk digunakan dalam pembahasan
masalah kesantunan dalam penelitian ini karena prinsip kesantunan yang berisi
bidal-bidal dan dijabarkan ke dalam sub-subbidal itu mudah diterapkan untuk
mengidentifikasikan

kesantunan

atau

kekurangsantunan

suatu

tuturan.

Pelanggaran bidal prinsip kesantunan Leech menjadi indikator kekurangsantunan


suatu tuturan. Sebaliknya, pematuhan bidal-bidal itu merupakan indikator
kesantunan suatu tuturan.
3. Kajian Pragmatik
Istilah pragmatik, sebenarnya, sudah dikenal sejak masa hidupnya seorang
filsuf terkenal bernama Charles Morris. Dalam memunculkan istilah pragmatika,
Morris mendasarkan pemikirannya pada gagasan filsuf-filsuf pendahulunya,
seperti Charles Sanders Pierce dan John Locke yang banyak menggeluti ilmu
tanda dan ilmu lambang semasa hidupnya. Ilmu tanda dan ilmu lambang yang
mereka pelajari itu dinamakan semiotika (semiotics). Dengan mendasarkan pada
gagasan Charles Sanders Pierce dan John Locke, Charles Morris (dalam Rahardi,
2009: 47) membagi ilmu tanda dan ilmu lambang itu ke dalam tiga cabang ilmu,
yakni (1) sintaktika (syntactics) studi relasi formal tanda-tanda, (2) semantika
(semantics) studi relasi tanda-tanda dengan objeknya, dan (3) pragmatika
(pragmatics) studi relasi antara tanda-tanda dengan penafsirnya.
Pragmatik menurut Leech (1993: 8) adalah ilmu tentang maksud dalam
hubungannya dengan situasi-situasi tuturan (speech situation). Proses tindak tutur
ditentukan oleh konteks yang menyertai sebuah tuturan tersebut. Dalam hal ini
Leech menyebutnya dengan aspek-aspek situasi tutur, antara lain: pertama, yang
menyapa (penyapa) dan yang disapa (pesapa); kedua, konteks sebuah tuturan;
ketiga, tujuan sebuah tuturan; keempat, tuturan sebagai bentuk tindakan atau
kegiatan tindak tutur (speech act); dan kelima, tuturan sebagai ha sil

tindak

verbal (Leech, 1993: 19-20). George Yule (2006) mengemukakan bahwa


Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur, yang berarti pragmatik
mempelajari tentang makna yang dimaksudkan penutur yang berbeda dengan
makna kata atau makna kalimat. Batasan ini mengemukakan bahwa makna yang

13
dimaksudkan oleh penutur merupakan tuturan yang telah dipengaruhi oleh
berbagai situasi tuturan, hal ini berbeda dengan makna kata atau kalimat, karena
makna kata atau kalimat merupakan makna yang sesuai dengan makna yang
berdasarkan arti yang tertulis saja. Pengertian pragmatik dapat diintisarikan
sebagai ilmu yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yang ditentukan
oleh konteks dan situasi yang melatarbelakangi pemakaian bahasa dalam
komunikasi yang merupakan dasar penentuan pemahaman maksud penggunaan
tuturan oleh penutur dan mitra tutur.
4. Tindak Tutur (Speech Act)
Teori tindak tutur dikemukakan oleh dua orang ahli filsafat bahasa yang
bernama John Austin dan John Searle pada tahun 1960-an. Menurut teori tersebut,
setiap kali pembicara mengucapkan suatu kalimat, Ia sedang berupaya
mengerjakan sesuatu dengan kata-kata (dalam kalimat) itu. Menurut istilah Austin
(1995: 94), By saying something we do something. Seorang hakim yang
mengatakan dengan ini saya menghukum kamu dengan hukuman penjara selama
lima tahun sedang melakukan tindakan menghukum terdakwa. Kata-kata yang
diucapkan oleh hakim tersebut menandai dihukumnya terdakwa. Terdakwa tidak
akan masuk penjara tanpa adanya kata-kata dari hakim.
Menurut Searle (dalam Kunjana Rahardi, 2010: 35) dalam komunikasi
bahasa terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bahasa bukan
sekedar lambang, kata atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk
atau hasil dari lambang, kata, atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur.
Lebih tegasnya, tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam
kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari komunikasi bahasa.
Sebagaimana komunikasi bahasa yang dapat berwujud pernyataan, pertanyaan,
dan perintah, tindak tutur dapat pula berwujud pernyataan, pertanyaan dan
perintah.
C. METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif. Pendekatan penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan dan

14
menjelaskan wujud praktik prinsip kesantunan, strategi prinsip kesantunan, dan
pelanggaran maksim dalam tuturan para siswa. Kedua kegiatan tersebut dilakukan
untuk mengetahui dan menafsirkan realita penggunaan bahasa terkait dengan
prinsip kesantunan dalam tuturan, baik dalam kegiatan formal maupun kegiatan
non formal. Meskipun produk prinsip kesantunan dalam tuturan lisan yang
dianalisis bukan berarti kesantunan perbuatan tidak mendapat perhatian. Ketiga
hal, yaitu wujud praktik prinsip kesantunan, strategi prinsip kesantunan, dan
pelanggaran maksim dalam tuturan para siswa dianalisis dalam konteks prinsip
kesantunan lisan. Subjek penelitian dapat menggambarkan pelanggaranpelanggaran maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, maksim
pelaksanaan,

maksim

kebijaksanaan,

maksim

kedermawanan,

maksim

kesederhanaan, maksim penghargaan, maksim kemurahan hati, maksim


kecocokan, dan maksim kesimpatian.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang menjelaskan data atau objek
secara natural, objektif, dan faktual (apa adanya) (Arikunto, 2006: 310). Metode
deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan apa adanya hasil dari
pengumpulan data yang telah dilakukan oleh penulis. Metode deskriptif dipilih
oleh penulis karena metode ini dapat memberikan gambaran yang secermat
mungkin mengenai individu, keadaan bahasa, gejala atau kelompok tertentu.
Fokus Penelitian
Peneliti perlu menentukan fokus dari penelitian untuk membatasi hal-hal
yang akan diteliti. Berdasarkan hal tersebut, maka fokus dalam penelitian ini
adalah mengkaji pragmatik tuturan siswa kelas XI TKJ 1 dan 2 SMK Negeri
Takeran, Kabupaten Magetan berdasarkan prinsip kesantunan dalam tuturan.
Adapun yang dimaksud tuturan dalam penelitian ini adalah bentuk-bentuk
percakapan atau komunikasi lisan yang dilakukan siswa dengan temannya atau
siswa dengan guru pembimbingnya. Analisis dilakukan terhadap pelanggaran
prinsip-prinsip kesantunan dalam tuturan siswa, baik yang bersifat representatif,
direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif yang merupakan bentuk pelanggaranpelanggaran terhadap maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi,

15
maksim pelaksanaan, maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim
kesederhanaan, maksim penghargaan, maksim kemurahan hati, maksim
kecocokan, dan maksim kesimpatian.
Sampel Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan terhadap siswa kelas XI TKJ SMK N Takeran
tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa sebanyak 84 orang. Mengacu
pada pendapat Arikunto (2006: 134), apabila subyek yang diteliti kurang dari 100,
lebih baik diambil semua sebagai sampel, sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini jumlah sampel yang
digunakan adalah sebanyak 84 siswa. Dari jumlah siswa tersebut, dilakukan
analisis pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kesantunan dalam
tuturan. Adapun pengambilan data dari sampel dibatasi pada tuturan-tuturan yang
disampaikan siswa terhadap teman dan siswa terhadap guru yang terjadi di
lingkungan sekolah selama waktu penelitian, yaitu antara bulan Januari hingga
Maret tahun pelajaran 2012/2013.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tuturan lisan direktif siswa
kelas XI TKJ SMK N Takeran, kabupaten Magetan, seperti saran, permintaan, dan
perintah. Sumber datanya diambil dari percakapan siswa yang di dalamnya
terkandung prinsip kesantunan dalam tuturan lisan beserta dengan wujud
tanggapannya. Tanggapan tersebut dapat bersifat verbal maupun nonverbal.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas (1) observasi, (2)
wawancara, dan (3) studi dokumentasi. Alat yang digunakan untuk pengumpulan
data berupa pedoman wawancara dan tape recorder.
Teknik Analisis Data
Data penelitian ini dianalisis dari satu sumber data ke sumber data
berikutnya secara terus-menerus sampai diperoleh simpulan yang memadai. Untuk
itu, penelitian ini menggunakan Model Alir sebagaimana yang disampaikan oleh
Miles dan Huberman (dalam Sastromiharjo, 2007: 25).

16

Bagan 1. Teknik dan Prosedur Analisis Data


D. Analisis Data Pelanggaran Maksim Prinsip Kesantunan Tuturan dalam
Interaksi Antar Siswa Kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN
Takeran, Kabupaten Magetan
Beberapa pelanggaran penerapan maksim prinsip kesantunan tuturan (saran,
permintaan, dan perintah) dalam interaksi antarsiswa kelas XI Teknik Komputer
Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Pelanggaran Maksim Kebijaksanaan
Pelanggaran maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa
para peserta pertuturan tidak berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi
keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam
kegiatan bertutur. Dalam tuturan siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan
SMKN Takeran, Kabupaten Magetan, pelanggaran maksim kebijaksanaan sering
terjadi pada tuturan perintah. Pada tuturan saran dan permintaan tidak terdapat
pelanggaran yang berarti.

17
2. Pelanggaran Maksim Kedermawanan
Pelanggaran maksim kedermawanan dalam prinsip kesantunan adalah
bahwa para penutur tidak dapat menghormati orang lain atau tidak dapat
mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan
bagi pihak lain. Dalam tuturan siswa Kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN
Takeran, Kabupaten Magetan, pelanggaran maksim kedermawanan kadangkadang terjadi pada tuturan perintah, yaitu berupa perintah langsung yang
melarang atau mencegah petutur untuk melakukan sesuatu. Pada tuturan saran dan
permintaan tidak terdapat pelanggaran yang berarti.
3. Pelanggaran Maksim Penghargaan
Pelanggaran

maksim

penghargaan

berarti

penutur

tidak

berusaha

memberikan penghargaan kepada pihak lain. Penutur mengejek, mencaci, atau


merendahkan pihak yang lain atau petutur. Peserta tutur yang sering mengejek
peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai orang yang
tidak sopan. Dikatakan demikian, karena tindakan mengejek merupakan tindakan
tidak menghargai orang lain. Karena merupakan perbuatan tidak baik, perbuatan
itu harus dihindari dalam pergaulan sesungguhnya. Dalam tuturan siswa kelas XI
Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan, pelanggaran
maksim penghargaan tidak peneliti temui. Semua tuturan para siswa yang berhasil
dikumpulkan tidak ada yang menunjukkan pelanggaran maksim penghargaan
tersebut.
4. Pelanggaran Maksim Kesederhanaan
Pelanggaran maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati berarti
penutur tidak bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap
dirinya sendiri. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati apabila di dalam
kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri. Dalam
masyarakat bahasa dan budaya Indonesia, kesederhanaan dan kerendahan hati
banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang. Dalam
tuturan siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan, pelanggaran maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati tidak
peneliti temui. Semua tuturan para siswa yang berhasil dikumpulkan tidak ada

18
yang menunjukkan pelanggaran maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan
hati tersebut.
5. Pelanggaran Maksim Permufakatan
Maksim permufakatan seringkali disebut dengan maksim kecocokan
(Wijana, 1996:59). Di dalam maksim ini, ditekankan agar para peserta tuturan
dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur.
Apabila terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dam mitra tutur
dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan
bersikap santun. Di dalam masyarakat tutur Jawa, orang tidak diperbolehkan
memenggal atau bahkan membantah secara langsung apa yang dituturkan oleh
pihak lain. Hal demikian tampak sangat jelas, terutama apabila umur, jabatan dan
status sosial penutur berbeda dengan si mitra tutur. ruang kelas. Dalam tuturan
siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan,
pelanggaran Maksim pemufakatan atau kecocokan tidak peneliti temui. Semua
tuturan para siswa yang berhasil dikumpulkan tidak ada yang menunjukkan
pelanggaran maksim pemufakatan atau kecocokan.
6. Pelanggaran Maksim Kesimpatian
Pelanggaran

maksim

kesimpatian

berarti

penutur

tidak

dapat

memaksimalkan sikap simpati terhadap petutur. Sikap antipati terhadap salah


seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak santun. Masyarakat
tutur Indonesia, sangat menjunjung tinggi rasa kesimpatian terhadap orang lain ini
di dalam komunikasi kesehariannya. Orang yang bersikap antipati terhadap orang
lain, apalagi sampai bersikap sinis terhadap pihak lain, akan dianggap sebagai
orang yang tidak tahu sopan santun di dalam masyarakat. Kesimpatian terhadap
pihak lain sering ditunjukkan dengan senyuman, anggukan, gandengan tangan dan
sebagainya. Dalam tuturan siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN
Takeran, Kabupaten Magetan, pelanggaran maksim kesimpatian tidak peneliti
temui. Semua tuturan (saran, permintaan, dan perintah) para siswa yang berhasil
dikumpulkan tidak ada yang menunjukkan pelanggaran maksim kesimpatian.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa
pelanggaran maksim prinsip kesantunan tuturan yang digunakan dalam interaksi

19
antarsiswa hanya terdapat pada maksim kebijaksanaan, yaitu pada tuturan
perintah. Sedangkan pada maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim
kesederhanaan, maksim permufakatan, maksim kesimpatian tidak ditemukan
pelanggaran. Dengan demikian, prinsip kesantunan tuturan dalam interaksi
antarsiswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan sudah baik karena dari enam maksim yang ada hanya ditemukan satu
pelanggaran, yaitu pada maksim kebijaksanaan saja.
Tingkat Kesantunan Tuturan Siswa Kelas XI Teknik Komputer Jaringan
SMKN Takeran, Kabupaten Magetan
Interaksi antar siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran,
Kabupaten Magetan menghasilkan tuturan yang melibatkan antara penutur dengan
petutur. Adapun yang dimaksud penutur dalam interaksi tersebut adalah siswa
kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan,
sedangkan petutur dapat meliputi siswa lain atau teman siswa kelas XI Teknik
Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan, guru-guru serta
karyawan sekolah di SMKN Takeran, Kabupaten Magetan. Berdasarkan hasil
analisis terhadap rekaman tuturan yang dilakukan siswa, secara keseluruhan
merupakan tuturan direktif. Hal ini disebabkan karena tuturan direktif merupakan
tuturan yang produktif dilakukan dalam kegiatan sehari-hari dan berfungsi untuk
membuat penutur melakukan sesuatu, seperti saran, permintaan, dan perintah.
Sedangkan jenis tindak tutur yang lain selain jenis tuturan direktif, yaitu jenis
tuturan representatif, ekspresif, dan komisif, deklaratif tidak ditemukan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa fungsi dari jenis tuturan direktif yang
dilakukan siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan meliputi fungsi-fungsi saran, permintaan, dan perintah. Kesantunan
berbagai jenis tindak tutur yang ditemukan juga bervariasi, ada yang termasuk
dalam kriteria santun, cukup canton, dan kurang santun. Berikut ini disampaikan
beberapa jenis tuturan yang ditemukan dalam interaksi antar siswa kelas XI
Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan serta tingkat
kesantunan pada masing-masing tuturan. Adapun data yang digunakan adalah 30
(tiga puluh) data tuturan yang berhasil dikumpulkan dengan teknik rekam.

20
Tabel 1. Jenis Tuturan dan Tingkat Kesantunan Tuturan dalam Interaksi Siswa
Kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan
Jumlah Tuturan
Persentase Tingkat
Berdasarkan Tingkat
Kesantunan
Fungsi
Kesantunan
No.
Tuturan
Cukup
Kurang
Cukup Kurang
Santun
Santun
Santun
Santun
Santun Santun
1.
Saran
10
100%
0%
0%
2.
Permintaan
10
100%
0%
0%
3.
Perintah
4
4
2
40%
40%
20%
Jumlah
24
4
2
Persentase
80%
13,33%
6,67%
Sumber: hasil pengumpulan data dengan teknik rekam, diolah
Berdasarkan Tabel 1. tentang rekapitulasi jumlah dan persentase tingkat
kesantunan data tuturan dalam interaksi antar siswa kelas XI Teknik Komputer
Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan tersebut dianalisis berdasarkan
fungsi tuturan dan tingkat kesantunan tuturan.
1. Berdasarkan fungsi tuturan
Ditinjau dari fungsinya maka tuturan siswa kelas XI Teknik Komputer
Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan dapat dikelompokkan menjadi tiga
fungsi, yaitu yang berfungsi sebagai saran, permintaan, dan perintah. Pada
masing-masing jenis tuturan terdapat 10 data tuturan yang berhasil direkam.
Adapun deskripsi tingkat kesantunan masing-masing jenis tuturan adalah sebagai
berikut.
a. Tuturan

yang berfungsi sebagai saran adalah santun. Dari 10 data yang

terkumpul, semuanya atau 100% adalah santun.


b. Tuturan yang berfungsi sebagai permintaan juga dalam kategori santun. Dari
10 data yang terkumpul semuanya (100%) termasuk dalam kriteria santun.
c. Pada tuturan yang berfungsi sebagai perintah, diketahui bahwa yang tingkat
kesantunan pada masing-masing kriteria bervariasi. Jenis tuturan dengan
kriteria santun adalah sebanyak 4 tuturan (40%), kriteria cukup santun
sebanyak 4 tuturan (40%), dan tuturan dengan kriteria kurang santun sebanyak
2 tuturan (20%).

21
2. Berdasarkan tingkat kesantunan tuturan
Secara keseluruhan, yaitu dari 30 data tuturan yang berhasil dikumpulkan
dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis berdasarkan tingkat kesantunan
masing-masing tuturan. Adapun hasil analisis data yang dilakukan adalah sebagai
berikut.
a. Tuturan dengan kategori santun adalah sebanyak 24 tuturan (80%).
b. Tuturan dengan kategori cukup santun adalah sebanyak 4 tuturan (13,33%).
c. Tuturan dengan kategori kurang santun adalah sebanyak 2 tuturan (6,67%).
Selanjutnya, hasil analisis persentase data tuturan siswa kelas XI Teknik
Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan tersebut di atas dapat
digambarkan ke dalam diagram sebagai berikut.

Gambar 1. Diagram Tingkat Kesantunan Siswa Kelas XI Teknik Komputer


Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan Berdasarkan Jenis
Tuturan
Selain dari jenis tuturan, juga dapat dideskripsikan tingkat kesantunan siswa
kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan sebagai
berikut.

22

Gambar 2. Diagram Tingkat Kesantunan Siswa Kelas XI Teknik Komputer


Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan
Berdasarkan uraian tentang kesantunan tuturan siswa kelas XI Teknik
Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan tahun pelajaran
2012/2013, dapat dinyatakan bahwa dari jenis tuturan yang ada, tuturan yang
berupa saran dan permintaan adalah santun, sedangkan tuturan yang berupa
perintah adalah cukup santun, yang meliputi kriteria santun dan cukup santun
hanya sebesar 40%, sedangkan sisanya kurang santun (20%). Secara keseluruhan,
kesantunan tuturan dalam interaksi antar siswa kelas XI Teknik Komputer
Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan tahun pelajaran 2012/2013
termasuk dalam kriteria santun.
Prinsip Kesantunan dalam Tuturan Siswa Kelas XI Teknik Komputer
Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2012/2013
Hasil analisis dan triangulasi data menyimpulkan bahwa pemakaian prinsip
kesantunan tuturan dalam interaksi antarsiswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan
SMKN Takeran, Kabupaten Magetan dapat dinilai baik. Dalam interaksi
menggunakan tuturan para siswa menunjukkan pemakaian prinsip (1) Maksim
kebijaksanaan yaitu berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan
dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan
bertutur; (2) prinsip kedermawanan atau maksim kemurahan hati, yaitu selalu
berusaha menghormati orang lain dalam bertutur; (3) Maksim penghargaan yaitu
selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain; (4) Maksim

23
kesederhanaan atau Maksim kerendahan hati, yakni bersikap rendah hati dengan
cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri; (5) Maksim permufakatan, yaitu
saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur; dan (6)
Maksim kesimpatian, yakni dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak
yang satu dengan pihak lainnya.
Berdasarkan simpulan hasil analisis dan triangulasi data wujud pemakaian
prinsip kesantunan tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa para siswa kelas XI
Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan telah
menunjukkan pemakaian prinsip kesantunan dalam tuturan dengan baik dalam
interaksi kehidupan sehari-hari. Kondisi demikian tentu patut menjadi contoh bagi
para siswa di sekolah-sekolah umum yang cenderung fenomenanya kurang
memperhatikan prinsip pemakaian prinsip kesantunan. Dengan demikian, temuan
hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi yang akan memberikan
konstribusi

bagi

pendidikan

keterampilan

berbahasa

di

sekolah

yang

memperhatikan prinsip-prinsip kesantunan.


Sementara itu, strategi penggunaan prinsip kesantunan tuturan dalam
interaksi antarsiswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran,
Kabupaten Magetan meliputi strategi tidak santun dan santun; dan dalam
perspektif Leech strategi penggunaan prinsip kesantunan tuturan dalam interaksi
antarsiswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan meliputi penerapan Maksim kebijakan, Maksim penerimaan, Maksim
kemurahan, Maksim kerendahan hati, Maksim kecocokan, Maksim kesimpatian,
menghindari kata-kata tabu, menggunakan kata-kata halus secara tepat, dan
menggunakan ungkapan hormat untuk berbicara dan menyapa orang lain.
Atas dasar hasil analisis data tersebut dapat dikemukakan bahwa strategi
penggunaan prinsip kesantunan tuturan Maksim direktif dalam interaksi
antarsiswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan adalah strategi santun dengan penerapan Maksim kebijakan, Maksim
penerimaan, Maksim kemurahan, Maksim kerendahan hati, Maksim kecocokan,
Maksim kesimpatian, menghindari kata-kata tabu, menggunakan kata-kata halus
secara tepat, dan menggunakan ungkapan hormat untuk berbicara dan menyapa

24
orang lain. Strategi tersebut digunakan oleh parasiswa bukan hanya kepada orang
yang lebih tua yang dihormati seperti guru dan karyawan sekolah, melainkan juga
kepada teman sebaya.
Pelanggaran maksim prinsip kesantunan tuturan yang digunakan dalam
interaksi antarsiswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran,
Kabupaten Magetan jarang sekali ditemukan.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada umumnya para siswa kelas XI
Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan telah
menerapkan prinsip kesantunan dan hal itu sudah menjadi kebiasaan sekaligus
menjadi ciri khas pertuturan di lingkungan pesantren atau pada kalangan siswa.
Pelanggaran maksim prinsip kesantunan tuturan yang digunakan dalam interaksi
antarsiswa Kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan hampir tidak ditemukan. Kondisi demikian tentu menjadi pengetahuan
baru yang perlu menjadi contoh bagi kalangan para siswa di sekolah-sekolah
umum.
E. PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan

temuan

hasil

penelitian,

dapat

disimpulkan

bahwa

penerapan/pelaksanaan prinsip kesantunan tuturan direktif dalam interaksi


antarsiswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan. Baik berupa saran, permintaan maupun perintah adalah sudah santun.
Dari 30 (tiga puluh) buah tuturan yang berhasil diidentifikasi peneliti, yang
termasuk dalam kategori santun adalah sebanyak 24 buah tuturan (80%), kategori
cukup santun sebanyak 4 (empat) tuturan (13,33%), dan yang termasuk kategori
kurang santun adalah sebanyak 2 (dua) tuturan (6,67%). Dengan demikian,
persentase terbesar adalah tuturan dalam kategori santun.
Kesantunan tuturan dalam interaksi antarsiswa kelas XI Teknik Komputer
Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan juga dapat diidentifikasi dari wujud
pemakaian prinsip kesantunan, strategi dalam pemakaian prinsip kesantunan, dan
pelanggaran-pelanggaran maksim.

25
1. Dari segi wujud prinsip kesantunan tuturan saran, permintaan dan perintah
siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten
Magetan menunjukkan telah menerapkan
a. Prinsip Kesantunan yaitu (1) Maksim Kebijaksanaan, (2) Maksim Penerimaan
(3) Maksim Kemurahan (4) Maksim Kerendahan Hati (5) maksim kecocokan,
(6) maksim kesimpatian yang kesemuanya menyatakan keuntungan bagi
petutur.
b. Prinsip penghindaran kata tabu. Tuturan saran permintaan dan perintah siswa
kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan
halus dan sopan dalam kegiatan bertutur sehari-hari tidak merujuk kepada kata
kotor dan kasar.
c. Prinsip penggunaan Eufemisme yaitu ungkapan penghalus. Tuturan saran,
permintaan dan perintah siswa kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN
Takeran, Kabupaten Magetan menerapkan kata-kata yang santun untuk
menghindari kesan negatif.
d. Prinsip penggunaan pilihan kata Honorifik yaitu ungkapan hormat untuk
berbicara dan menyapa orang lain. Tuturan saran, permitaan dan printah siswa
kelas XI Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan
dalam berbahasa Jawa ternyata tidak menggunakan sapaan hormat untuk
berbicara dan menyapa orang lain karena tanpa menggunakan sapaan hormat
telah menunjukan kesantunan, justru apabila sapaan hormat itu digunakan
tuturan akan terasa tidak santun.
2. Dari segi strategi penggunaan prinsip kesantunan tuturan siswa kelas XI
Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan dalam
tuturan saran, permintaan dan perintah meliputi:
a. Strategi tidak santun dilakukan dalam kegiatan bertutur kepada teman akrab
(antarsiswa, antar guru, antar karyawan sekolah).
b. Strategi agak santun dilakukan dalam kegiatan bertutur pada teman belum
akrab (guru kepada guru, siswa kepada siswa, karyawan sekolah kepada
karyawan sekolah)

26
c. Strategi santun dilakukan dalam kegiatan bertutur kepada: teman yang belum
dikenal (siswa baru kepada siswa, siswa baru kepada guru, siswa baru kepada
karyawan sekolah, maupun sebaliknya)
d. Strategi paling santun dilakukan dalam kegiatan bertutur terhadap orang yang
berstatus sosial lebih tinggi (siswa kepada guru, siswa kepada karyawan
sekolah).
3. Dari segi pelanggaran maksim prinsip kesantunan tuturan siswa kelas XI
Teknik Komputer Jaringan SMKN Takeran, Kabupaten Magetan baik tuturan
saran, permintaan maupun perintah hampir tidak ditemukan pelanggaran.
Walaupun ada, sedikit pelanggaran maksim prinsip kesantunan dalam tuturan,
karena SMKN Takeran, Kabupaten Magetan menerapkan prinsip kesantunan
dalam kegiatan bertutur sehingga menjadi kebiasaan dalam pertuturan di
lingkungan sekolah atau siswa. Kondisi demikian perlu menjadi pengetahuan
dan menjadi contoh bagi kalangan siswa di sekolah-sekolah umum.
Saran
Berdasarkan simpulan yang diuraikan di atas, dapat disampaikan beberapa
saran kapada pihak-pihak sebagai berikut.
1. Siswa
Siswa sebaiknya menggunakan strategi santun dengan menerapkan maksim
kebijakan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, maksim kerendahan hati,
maksim

kecocokan,

maksim

kesimpatian,

menghindari

kata-kata

tabu,

menggunakan kata-kata halus secara tepat, dan menggunakan ungkapan hormat


untuk berbicara dan menyapa orang lain.
2. Guru
Guru sebaiknya dapat membina lebih baik lagi pemakaian prinsip
kesantunan tuturan dalam interaksi antarsiswa melalui keteladanan, pemeliharaan,
pendidikan, dan pengembangan penerapan prinsip kesantunan yang ditandai
dengan memaksimalkan kebijakan/kearifan, keuntungan, rasa salut atau rasa
hormat, pujian, kecocokan, dan kesimpatian kepada orang lain dan meminimalkan
hal-hal tersebut pada diri sendiri; penghindaran pemakaian kata tabu dan kata
tidak pantas; penggunaan eufemisme atau ungkapan penghalus dan penggunaan

27
pilihan kata honorifik atau ungkapan hormat untuk berbicara dan menyapa orang
lain.
3. Sekolah
Perlu adanya pemikiran untuk membina penerapan prinsip kesantunan
dalam bertutur pada kalangan siswa sekolah-sekolah umum yang pada umumnya
kurang sekali memperhatikan prinsip kesantunan tersebut. Kerjasama edukatif
dilakukan dalam pembinaan akhlak bersikap, berbuat, dan bertutur antara sekolah
kejuruan dan sekolah-sekolah umum yang satu level perlu dirintis sehingga peran
sekolah umum dalam membangun karakter peserta didik berdaya dan berhasil
guna.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Asim Gunarwan. 2002. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah
Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Singaraja: IKIP
Singaraja.
Austin, J.L. 1995 How to do Things with Word. Oxfort: Oxford Univercity Press.
Bambang Kaswanti Purwo. 2000. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
_______. 2004. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Kanisius.
Brown, Gillian dan Yule, George. 2006. Analisis Wacana. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Dipa Nugraha. Pragmatik dan Lingkupnya. http://dipanugraha.blog.com/2011/04/11/pragmatik-dan-lingkupnya/. Diakses Oktober 2012.
Fatimah Djajasudarma. 2001. Metode Linguistik Ancangan Model Penelitian dan
Kajian. Bandung: PT. Eresco.
Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende: Nusa Indah.
Halliday, M.A.K and Ruqaiya Hasan. 1994. Cohension In English. London:
Longman.
Harimurti Kridalaksana. 2010. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Hasan Alwi, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono.
2008. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta: Balai
Pustaka.
Henry Guntur Tarigan. 2006. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa
I. Dewa Putu Wijana. 2006. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.

28
I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi. 2010. Analisis Wacana
Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Joko Nurkamto. 2000. Pragmatik. Surakarta: FKIP UNS.
Karsono. 2010. Sejarah Perkembangan Pragmatik. http://karsonojawul.blog.uns.ac.id/2010/23/sejarah-perkembangan-pragmatik/Sejarah_Perkembangan_Pragmatik. Diakses Oktober 2012.
Kunjana Rahardi. 2009. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
Leech, Geoffrey. 1993. Principle of Pragmatik. Terjemahan M. D. D. Oka. 1993.
Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: UI Press.
Levinson, Stephent C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge Univercity
Press.
Mujiyono Wiryotinoyo. 2006. Analisis Pragmatik dalam Penelitian Penggunaan
Bahasa. Bahasa dan Seni. Tahun 34. Nomor 2. Agustus.
Nur Mukminatien dan Andhina Wisnu Patriana. 2005. Respon Pujian dalam
Bahasa Indonesia oleh Dwibahasawan Indonesia-Inggris. Jurnal Bahasa
dan Seni.Tahun 33. Nomor 2, Agustus 2005.
Pranowo. 2009. Berbahasa secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Richard, Jack C,; Platt, John; dan Platt, Heidi. 1993. Longman Dictionary of
Language Teaching and Applied Linguistics. England: Longman.
Rustono. 2002. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: IKIP Semarang Press.
Sastromiharjo, A. 2007. Kreativitas Siswa Sekolah Menengah Pertama dalam
Berbahasa Indonesia. Disertasi tidak dipublikasikan. Malang: Program
Pascasarjana Universitas Negeri Malang.
Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Verhaar, J. W. M. 2010. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Yeni Mulyani Supriatin. 2007. Kesantunan Berbahasa dalam Mengungkapkan
Perintah. Jurnal Linguistik Indonesia. Vol. 25. No. 1. Februari 2007. hal.
53-62.
Yule, George. 2006. Pragmatik. Penerjemah: Rombe Mustajab. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Yuniarti. 2010. Kompetensi Tindak Tutur Direktif Anak Usia Prasekolah (Kajian
Pada Kelompok Bermain Anak Cerdas P2PNFI Regional II Semarang).
Tesis. Semarang: Pragram Pascasarjana Universitas Diponegoro.