Anda di halaman 1dari 6

Apa makna kejang tidak ada dan batuk pilek tidak ada ?

Jawab:
Makna tidak ada kejang adalah demam tidak melebihi 38oC karena umumnya
pada orang apalagi bayi yang menderita demam melebihi 40 oC akan mengalami
kejang kejang. Tidak ada batuk dan pilek bermakna tidak ada gangguan
saluran pernapasan atas.
(Sumber: Panduan imunisasi anak indonesia,2008)

Apa makna demam, bengkak, kemerahan pada paha kanan?


Jawab:
Pada kasus ini Ronald mengalami demam, bengkak, dan kemerahan pada paha
kanan disebabkan oleh kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI)
(Sumber: Ini pemikiran aku al wkwk, tolong ngarang be sumbernyo)
Apa yang dimaksud KIPI dan bagaimana klasifikasinya?
Jawab: Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi atau Adverse Events Following Immunization,
menurut Depkes RI (2014) adalah kejadian medis yang terjadi setelah pemberian
imunisasi dapat berupa reaksi vaksin, reaksi suntikan, kesalahan prosedur, ataupun
koinsidens sampai ditentukan adanya hubungan kausal.
Klasifikasi KIPI berdasarkan berat-ringan kasus KIPI antara lain sebagai
berikut:
1. KIPI ringan (non serius), antara lain terjadi demam, bengkak di
lokasi suntikan, merah di lokasi suntikan muntah
2. KIPI serius, antara lain tidak mau menetek/minum, kejang,
pucat/biru, sesak nafas, muntah berlebihan, demam tinggi (> 39)
lebih 1 hr, menangis terus-menerus > 3 jam, kesadaran menurun,
anafilaktik, dan abses
(Sumber: http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/149/jtptunimus-gdljuriyahg0e-7438-3-babii.pdf/)

Bagaimana cara penyimpanan vaksin yang baik ?


Jawab:
1.

Semua vaksin disimpan pada suhu


20C sampai dengan 80C.

2.

Bagian bawah lemari es diletakkan


cool pack sebagai penahan dingin
dan kestabilan suhu.

3.

Peletakan dus vaksin mempunyai


jarak antara minimal 1-2 cm atau
satu jari tangan.

4.

Vaksin BCG, Campak, Polio


diletakkan dekat dengan evaporator.

5.

Vaksin DPT, TT, DT, Hepatitis B,


DPT diletakkan jauh dengan

6.

evaporator.
Vaksin dalam lemari es harus

diletakkan dalam kotak vaksin.


(Depkes, 2005)
(Sumber: Depkes R.I. 2005. Modul 1 Pelatihan Safe Injection, Pengenalan Penyakit dan
Vaksin Program Imunisasi. Diperbanyak oleh Dinkes Jateng.)

Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik?

Keadaan umum
Vital sign

Hasil Pemeriksaan
Compos mentis
Nadi : 110x/menit
RR

: 28x/menit

Temp : 38oC
Kepala

Konjungtiva pucat (-/-),

Interpretasi
Normal
Bradikardi
Batas normal : 130x/menit
Normal
Batas normal : 14-44x/menit
Demam
Batas normal : 36,5oC 37,5oC
Normal

rinorea (-), faring


tenang, Tonsil: T1-T1

Thoraks

Paru-paru tidak ada

Normal

kelainan
Jantung : bunyi jantung
I dan II normal, bising
tidak ada
Abdomen

Hepar dan lien tidak

Normal (tidak ada pembesaran)

Ekstremitas
Status lokalis

teraba
Dalam batas normal
Regio femoralis dekstra:

Normal
Abnormal

eritema, bengkak (+)


(FK UNSOED, 2011)
FK UNSOED. 2011. Pemeriksaan Vital Sign. UNSOED : FK UNSOED. Tersedia:
kedokteran.unsoed.ac.id/Files/20%pemeriksaan%20tanda%20vital.pdf (Diakses pada
tanggal 24 Juni 2015)

Bagaimana respon imun terhadap pemberian vaksin?


Jawab: Imunisasi DPT dengan pemberian vaksin DPT disebut juga sebagai antigen.
Vaksin DPT masuk sebagai antigen antigen berasosiasi dengan MHC yang berperan
sebagai mempresentasikan sel ke sel T helper melewati reseptor CD4 dengan bantuan

IL-1 Sel T helper diaktivasi menjadi :


Sel T Helper 1 (intraseluler) mengeluarkan sitokin dengan bantuan IL-2 kemudian
sel berpoliferasi menjadi Sel T memori melalui reseptor CD8

Sel T H elper 2 (ekstraseluler) diaktivasi membentuk Sel B yang mengandung Ig


berdiferensiasi menjadi sel plasma menghasilkan antibodi dan terbentuk
kompleks imun, selanjutnya sel B berpoliferasi membentuk sel B memori.
Sel yang telah berpoliferasi membentuk sel memori inilah yang otomatis akan
mengenal antigen apabila virus campak masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh
berespon secara cepat untuk melawan virus tersebut. (Hadinegoro, 2000)
(Sumber: Hadinegoro, Sri Rezeki. 2000. Kejadian Ikutan Pasca
Imunisasi Jurnal Sari Pediatri, Vol. 2, Jakarta.)
Sintesis:

Pemberian vaksin sama dengan pemberian antigen pada tubuh. Jika terpajan oleh antigen,
baik secara alamiah maupun melalui pemberian vaksin, tubuh akan bereaksiuntuk
menghilangkan antigen tersebut melalui sistem imun. Secara umum, sistem imun dibagi
menjadi 2, yaitu sistem imun non-spesifik dan sistem imun spesifik. Sistem imun nonspesofok merupakan mekanisme pertahanan alamiah yang dibawa sejaklahir (innate) dan
dapat ditujukan untuk berbagai macam agen infeksi atau antigen.1,2,3Sistem imun nonspesifik meliputi kulit, membran mukosa, sel-sel fagosit, komplemen, lisozim dan interferon.
Sistem imun ini merupakan garis pertahanan pertamayang harus dihadapi oleh agen infeksi
yang masuk kedalam tubuh. jika sistem imun non-spesifik tidak berhasil menghilangkan
antigen, barulah sistem imun spesifik berperan.1,2Sistem imun spesifik merupakan
mekanisme pertahanan adaptif yang didapatkan selama kehidupan dan ditujukan khusus
untuk satu jenis antigen. Sistem imun spesifik diperankan oleh sel T dan sel B. Pertahanan
oleh sel T dikenal sebagai imunitas selular, sedangkan pertahanan oleh sel B dikenal sebagai
imunitas humoral. Imunitas selular berperan melawan antigen di dalam sel (intasel),
sedangkan imunitas humoral berperan melawan antigen di luar sel (ekstrasel). dalam
pemberian vaksin, sistem imun spesifik inilah yang berperan untuk memberikan kekebalan
terhadap satu jenis agen infeksi, melalui mekanisme memori.1,3Di dalam kelenjar getah
bening terdapat sel T naif, yaitu sel T yang belum pernah terpajan oleh antigen. Jika terpajan
antigen, sel naif T akan berdiferensiasimenjadi sel efektor dan sel memori. Sel efektor akan
bermigrasi ke tempat-tempat infeksi dan mengeliminasi antigen, sedangkan sel memori akan
berada di organ limfoid untuk kemudian berperan jika terjadi pajanan antigen yang sama.1Sel
B jika terpajan oleh antigen, akan mengalami transformasi, proliferasi dan diferensiasi
menjadi sel plasma yang akan memproduksi antibodi. Antibodi akan menetralkan antigen

sehingga kemampuan menginfeksinya hilang. Proliferasi dan diferensiasi sel B tidak hanya
menjadi sel plasma tetapi juga sebagian akan menjadi sel B memori. Sel B memori
akan berada dalam sirkulasi. Bila sel B memori terpajan pada antigen serupa, akan terjadi
proliferasi dan diferensiasi seperti smeuladan akan menghasilkan antibodi yang lebih
banyak.1Adanya sel memori akan memudahkan pengenalan antigen pada pajanan yang
kedua. Artinya, jika seseorang yang sudah divaksinasi (artinya sudah pernah terpajan
oleh antigen) terinfeksi atau terpajan oleh antigen yang sama, akan lebih mudah bagi sistem
imun untuk mengenali antigen tersebut. Selain itu, respon imun pada pajanan yang kedua
(respon imun sekunder) lebih baik daripada respon imun pada pajanan antigen yang pertama
(respon imun primer). Sel T dan sel B yang terlibat lebih banyak, pembentukan antibodi lebih
cepat dan bertahan lebih lama, titer antibodi lebih banyak (terutama IgG) dan afinitasnya
lebih tinggi.2,3Dengan demikian, diharapkan seseorang yang sudah pernah divaksinasi tidak
akan mengalami penyakit akibat pajanan antigen yang sama karena sistem imunnya memiliki
kemampuan yang lebih dibanding mereka yang tidak divaksinasi.
DaftarPustaka:1.Matondang CS, Siregar SP. Aspek
imunologi imunisasi. Dalam: Ranuh IGN, Suyitno H, Hadinegoro SRS,
Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko, editor. Pedoman
imunisasi di Indonesia. Ed 3. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter
Anak Indonesia; 2008. h. 10-22.2.Wahab S, Julia M. Sistem imun,
imunisasi, dan penyakit imun. Jakarta: Widya Medika; 2002. h. 137.3.Baratawidjaja KG. Imunologi dasar. Edisi 10. Jakarta:
Balai penerbit FKUI; 2012. h. 15-6, 61.

Pandangan islam
Dari pada Amr bin Maimun r.a mengatakan bahwa rasulullah SAW
bersabda pada seorang laki-laki yang dinasehatinya: rebutlah lima
perkara sebelum lima perkara muda sebelum tua, sehat sebelum sakit,
kaya sebelum miskin, senang sebelum sibuk dan hidup sebelum mati.

Hadist ini mengingatkan bahwa kita harus mempersiapkan hal yang


mungkin terjadi dimasa depan, sehat sebelum sakit imunisasi termasuk
kedalam usaha pencegahan agar tubuh kita tidak mudah terinfeksi
suatu penyakit. Barang siapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi
hari, Ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun (HR Bukhari dan
Muslim).
Berdasarkan hadist diatas, imunisasi diperbolehkan dalam Islam karena
termasuk perbuatan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya hal yang
buruk.