Anda di halaman 1dari 55

BAB 11

SAMPLING AUDIT DALAM PENGUJIAN SUBSTANTIF


TUJUAN PENGAJARAN
Setelah selesai mempelari bab ini, Anda diharapkan mampu untuk :
1. Menjelaskan penerapan sampling audit pada pengujian sustantif
2. Mengenali dan merumuskan komponen-komponen risiko audit yang berkaitan
dengan sampling audit pada pengujian suubstantif.
3. Menentukan pendekatan sampling mana yang paling tepat untuk berbagai
keadaan
4. Menjelaskan dan menerapkan langkah-langkah penting dalam perancangan,
penerapan dan penilaian rencana sampling PPU.
5. Menyebutkan dan menerapkan langkah-langkah penting untuk ketiga tehnik
dalam rencana sampling variabel klasik.
6. Menjelaskan perbedaan antara rencana sampling nonstatistik dan sampling
untuk pengujian substantive.
Pada bab yang lalu telah dijelaskan tentang konsep-konsep dasar sampling
audit dan penerapan sampling dalam pengujian pengendalian. Bab ini akanmembahas
tentang penggunaan sampling audit dalam pengujian substantive yang terbagi tas
empat bagian, yaitu (1) konsep dasar (2) sampling probabilitas-proposional-dengan
ukuran (3) sampling variabel klasik dan (4) sampling nonstatistik dalam pengujian
substantive.
KONSEP-KONSEP DASAR
SIFAT DAN TUJUAN
Seperti telah disinggung pada Bab.10, sampling audit adalah penerapan
prosedur pengauditan atas unsur-unsur dalam suatu populasi kurang dari 100%,
seperti saldo rekening atau kelompok transaksi; dengan tujuan untuk mengevaluasi
sejumlah karakteristik populasi. Sampling atribut yang telah dibahas pada Bab 10,
digunakan untuk mendapatkan informasi tentang tingkat kejadian deviasi dan
pengendalian yang telah ditetapkan. Audit sampling yang akan diterangkan dalam bab
ini digunakan untuk mendapatkan informasi tentang jumlah-jumlah rupiah. Jadi
sampel ini digunakan dalam rangka pengujian substantif, yaitu mengumpulkan bukti
tentang kewajaran asersi-asersi manajemen dalam laporan keuangan.

Rencana sampling dalam pengujian substantif dirancang untuk (I)


mendapatkan bukti bahwa suatu saldo rekening tidak salah saji secara material
(sebagai contoh, misalnya nilai buku rekening piutang dagang) atau (2) membuat
suatu estimasi independen tentang suatu jumlah (sebagai contoh, misalkan nilai
persediaan yang tidak ada catatan nilai bukunya). Pembahasan pada bab ini lebih
ditekankan pada tujuan pertama.
KETIDAKPASTIAN, RISIKO SAMPLING, DAN RISIKO AUDIT
Auditor dimungkinkan untuk menerima sejumlah ketidakpastian dalam
pengujian substantif, apabila waktu dan biaya untuk memeriksa unsur-unsur dalam
populasi menurut pertimbangannya akan lebih besar daripada akibat kemungkinan
menyatakan pendapat yang keliru dari hasil pemeriksaan hanya pada data sampel.
Sampling audit dalam pengujian substantive dipengaruhi baik oleh risiko
sampling maupun risiko nonsampling. Seperti telah dijelaskan pada Bab 10, risiko
sampling yang berkaitan dengan pengujian substantif adalah:

Risiko keliru menerima (biasa disebut risiko beta) - yaitu risiko mengambil
kesimpulan. berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening tidak berisi salah
saji material, padahal kenyataannva saldo rekening telah salah saji secara

material.
Risiko keliru menolak (biasa disebut risiko alpha) -yaitu risiko mengambil
kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo rekening berisi salah saji
secara material, padahal kenyataannya saldo rekening tidak berisi salah saji
secara material.
Perlu diingat bahwa risiko keliru menerima berhuhungan dengan efektivitas

audit, sedangkan risiko keliru menolak berhubungan dengan efisiensi audit (pelajari
kembali Gambar 10-1)
Risiko keliru menerima dalam sampling audit menyangkut risiko deteksi yang
berkaitan dengan pengujian substantif atas detil tertentu yang diterapkan pada : unsur
sampel yang dipilih. Oleh karena itu, risiko ini tidak berkaitan dengan kemungkinan
bahwa semua pengujian substantif yang mungkin diterankan pada tekening yang
diperiksa akan gagal untuk mendeteksi salah saji material.
PENDEKATAN SAMPLING STATISTIK

Ada dua pendekatan sampling statistik yang bisa digunakan oleh auditor
dalam pengujian. substantif, yaitu (1) sampling probabilitas -proposional - dengan ukuran (PPU), dan (2) sampling variabel klasik.
Perbedaan pokok antara kedua pendekatan di atas ialah bahwa sampling PPU
didasarkan pada teori sampling atribut, sedangkan sampling variabel klasik
didasarkan pada teori distribusi normal. Masing-masing pendekatan dapat memberi
sumbangan dalam upaya mendapatkan bukti yang cukup sebagaimana diminta oleh
standar pekerjaan lapangan yang ketiga. Namun demikian, dalam keadaan tertentu
(seperti yang akan dijelaskan pada bab ini) pendekatan yang satu bisa lebih praktis
dan lebih tepat dalam memenuhi tujuan auditor daripada pendekatan lainnya.
Hal-hal penting yang berpengaruh pada pemilihan kedua pendekatan tersebut
dapat dilihat padaGambar 11-1. Dan gambar tersebut antara lain dapat disimpulkan
bahwa sampling PPU bisa lebih tepat apabila (1) jumlah unit yang ada dalam populasi
dan variabilitasnya tidak diketahui, (2) populasi hanya berisi saldo debet, dan (3)
dalam populasi diperkirakan tidak ada salah saji atau hanya sedikit salah saji.
Gambar 11-1
Keadaan-keadaan Yang Berpengaruh
Pada Pemilihan Pendekatan Sampling Untuk Pengujian Substantif

Pendekatan Sampling
Yang Tepat
Keadaan-keadaan yang berpengaruh
Terhadap penerapan sampling
KETERSEDIAAN INFORMASI
Nilai buku unit sampling tidak tersedia
Jumlah unit dalam populasi tidak diketahui pada saat
sampling dimulai
Variabilitas populasi tidak diketahui
KARAKTERISTIK TENTANG SALAH SAJI
Adanya saldo nol atau saldo kredit
EKSPEKTASI TENTANG SALAH SAJI
Diperkirakan tidak salah saji atau hanya sedikit salah
saji terlalu tinggi (overstatement)
Diperkirakan banyak salah saji, baik terlalu rendah
maupun terlalu tinggi
SAMPLING PROBABILITAS PROPORSIONAL
DENGAN UKURAN

PPU

Variabel
Klasik
X

X
X
X
X
x

Sampling PPU adalah sutu pendekatan yang menggunakan teori sampling


atribut untuk menyatakan kesimpulan dalam jumlah rupiah, bukan sebagai tingkat
deviasi. Jenis sampling ini bisa digunakan dalam pengujian substantif terhadap
transaksi dan saldo-saldo.
Pendekatan sampling PPU (dalam bahasa Inggris disebut probabilityproportional-to-size-sampling, disingkat menjadi PPS) didasarkan pada PPS
Sampling Model sebagaimana dijelaskan dalam Audit Sampling Guide yang
diterbitkan oleh AICPA. Model ini terutama diterapkan dalam pengujian transaksi dan
saldo yang salah saji terlalu tinggi (Overstatement) dan terutama akan berguna dalam
pengujian:

Piutang apabila pengkreditan yang tidak dikerjakan terhadap rekening debitur

tidak signifikan.
Investasi dalam surat berharga.
Pengujian harga persediaan apabila diperkirakan hanya terdapat sedikit selisih
Tambahan pada aktiva tetap.
Penerapan sampling PPU untuk piutang dan persediaan, apabila kondisi-

kondisi di atas tidak terpenuhi, biasanya tidak murah. Pendekaan ini juga tidak sesuai
untuk digunakan, apabila tujuan utama sampling adalah untuk melakukan estimasi
secara independen atas kelompok transaksi atau saldo-saldo.
RENCANA SAMPLING
Tahapan-tahapan dalam suatu rencana sampling PPU serupa tapi tidak persis
sama dengan tahapan yang digunakan dalam sampling atribut. Tahapan-tahapan
tersebut adalah:

Menerapkan tujuan rencana.


Merumuskan populasi dan unit sampling.
Menentukan ukuran sampel
Menentukan metoda pemilihan sampel
Melaksanakan rencana sampling.
Mengevaluasi hasil sampel
Pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan dalam melaksanakan

tahapan- tahapan tersebut akan dijelaskan dalam uraian berikut. Setiap tahapan harus
didokumentasikan oleh auditor dalam kertas kerja.
MENETAPKAN TUJUAN RENCANA SAMPLING

Tujuan sampling PPU yang paling umum adalah untuk mendapatkan bukti
bahwa saldo rekening menurut catatan tidak salah saji secara material. Asersi-asersi
laporan keuangan yang dibuktikan sampel bergantung kepada prosedur yang
diterapkan untuk unsur sampel yang bersangkutan. Sebagai contoh, misalkan tujuan
auditor adalah untuk mendapatkan bukti tentang penerapan konfirmasi atas piutang
dagang PT ABC. Pengujian substantif detil ini merupakan sumber bukti tentang
berbagai asersi, termasuk asersi hak dan kewajiban. Dalam hal ini auditor perlu
melakukan pengujian lain atas sampel atau unsur lain dalam populasi, sebelum
menyimpulkan bahwa semua asersi yang berhubungan dengan rekening tersebut
bebas dan salah saji material. Dengan demikian bukti yang diperoleh dari sampel
akan menggambarkan hanya satu dan berbagai sumber pendukung yang diinginkan
auditor sebelum sampai pada kesimpulan bahwa jumlah yang dilaporkan tidak salah
saji secara material.
MERUMUSKAN POPULASI DAN UNIT SAMPLING
Populasi terdiri dari kelompok transaksi atau saldo rekening yang akan diuji.
Untuk setiap populasi, auditor harus memutuskan apakah semua unsur akan
dimasukkan. Sehagai contoh ada empat kemungkinan populasi apahila populasi
didasarkan pada saldo rekening dalam buku pembantu piutang dagang, yaitu semua
saldo, saldo debet saja, saldo kredit saja, dan saldo nol.
Unit sampling dalam sampling PPU adalah rupiah individual, dan populasi
adalah suatu angka rupiah yang sama dengan total jumlah rupiah dan populasi. Setiap
rupiah dalam populasi mempunvai kemungkinan yang sama untuk dipilih sebagai
sampel. Meskipun rupiah-rupiah individual adalah dasar untuk pemilihan sampel,
auditor sesungguhnya tidak melakukan pemeriksaan atas rupiah-rupiah individual
dalam populasi, melainkan terhadap rekenng, transaksi, dokumen, atau unsur tertentu
yang berkaitan dengan rupiah yang dipilih. Rupiah-rupiah individual yang terpilih
sebagai sampel kadang-kadang membawa keseuruhan unsur yang lain dari populasi
yang sama. Unsur-unsur yang terbawa (rekening, dokumen, dsb) disebut sebagai unit
sampling logis (logical sampling unit).
Dalam sampling PPU, sesuai dengan namanva, semakin besar rupiah
berkaitan dengan suatu unit logis, semakin besar kemungkinan untuk terbawa. Ini

berarti bahwa kemungkinan untuk terpilih adalah proporsional dengan ukurannya.


Namuri sampling PPU memiliki dua keterbatasan. Dalam pengujian aktiva, saldo dan
saldo negatif harus dikeluarkan dari populasi karena saldo-saldo semacam itu tidak
memiliki kemungkinan untuk terpilih sebagai sampel. Selain itu, sampling PPU juga
tidak cocok digunakan dalam pengujian terhadap kewajiban terutama tentang
pelaporan kewajiban yang lebih rendah dan sesungguhnya, karena semakin besar
suatu unsur dilaporkan terlalu rendah, semakin kecil kemungkinannya untuk terpilih
sebagai sampel.
Auditor memiih unit sampling logis sesuai dengan sifat prosedur pengauditan
yang dilakukan. Oleh karena itu, apabila auditor bermaksud untuk melakukan
konfirmasi atas saldo-saldo rekening para pelanggan, maka ia biasanya memilih
rekening pelanggan sehagai unit logis. Alternatif lain, auditor bisa juga memilih untuk
melakukan konfirmasi atas transaksi tertentu dengan pelanggan. Dalam hal demikian,
auditor memilih faktur penjualan sebagai unit logis. Selanjutnya auditor bisa memilih
unsur-unsur sampel dari perujudan fisik populasi, seperti misalnva print-out
komputer yang berisi daftar saldo piutang kepada para pelanggan. Sebelum memilih
sampel. auditor harus memastikan bahwa perujudan fisik pupulasi telah lengkap. Hal
ini bisa dilakukan misalnya dengan merekonsiliasi print-out tersebut secara manual
dengan saido dalam rekening kontrol yang bersangkutan.
Untuk PT ABC yang kita jadikan sebagai contoh di muka, (1) populasi adalah
rekening-rekening pelanggan yang memiliki saldo debet, (2) nilai buku total
rekening-rekening tersebut adalah Rp 60.000.000,00., (3) unit sampling logisnya
adalah rekening piutang kepada pelangan dan (4) print-out komputer yang menjadi
dasar untuk memilih sampel telah direkonsililiasi dengan saldo rekening kontrol
piutang dangan sebesar RP. 60.000.000,00 tersebut di atas.

MENENTUKAN UKURAN SAMPEL


Rumus untuk menentukan ukuran sampel dalam sampling PPU adalah:
NB x FK
n = SD (AS x FK)

Keterangan:
NB = nilai buku populasi yang diuji
FK

= faktor keandalan (reliability factor) untuk risiko keliru menerima


yang ditetapkan.

SD

= salah saji ditoleransi

AS

= antisipasi salah saji

FE

= faktor ekspansi untuk antisipasi salah saji

NiIai Buku Populasi yang Diuji


Nilai buku yang digunakan dalam menentukan ukuran sampel harus sesuai
dengan rumusan populasi yang telah dibicarakan di atas. Besarnya jumlah nilai buku
mempunvai pengaruh langsung terhadap ukuran sampel, yakni semakin besar nilai
buku yang akan diuji, semakin besar pula ukuran sampelnya.
Faktor Keandalan untuk Risiko Salah Menerima yang Telah Ditetapkan
Dalam menetapkan tingkat risiko salah menerima yang dapat diterima, auditor
harus mempertimbangkan (1) tingkat risiko audit yang ditetapkan auditor bahwa
suatu salah saji material tidak akan terdeteksi, (2) tingkat risiko pengendalian yang
ditetapkan. dan (3) hasil pengujian detil dan prosedur analitis. Sebagai contoh,
apabila auditor memutuskan bahwa risiko pengendalian rendah, dan apabila prosedur
pengauditan lain memberi jaminan bahwa nilai buku yang diuji tidak salah saji
material, maka auditor mungkin akan menetapkan risiko keliru menerima untuk
sampel PPL yang lebih tinggi, mungkin sampai 30%. Apabila risiko pengendalian
tinggi, dan apabila prosedur substantif lain hanva memberi sedikit jaminan tentang
rekening yang diuji, maka auditor membutuhkan jaminan yang lebih besar yang harus
diperoleh dari pengujian dan auditor akan menetapkan risiko yang rendah untuk
keliru menerima, mungkin sekitar 5%. Dalam menentukan hal-hal tersebut,
pengalaman auditor dan pertimbangan professional sangat diperlukan. Risiko keliru
menerima mempunvai pengaruh terbalik terhadap ukuran sampel, yakni rendah risiko
yang diterapkan, semakin besar ukuran sampel.
Gambar 11-2
Faktor Keandalan Untuk Menentukan Ukuran Sampel PPU
FAKTOR KEANDALAN UNTUK NOL SALAH SAJI TERLALU TINGGI

Faktor Keandalan

Risiko Untuk keliru menerima


1% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 37% 50%
4,61 3,00 2,31 1,90 1,61 1,39 1,21 1,00 0,70

Faktor Keandalan (FK) untuk risiko ini diperoleh dari gambar 11-2. Factor
ini didasarkan pada risiko keliru menerima yang ditetapkan auditor dan angka nol
untuk salah saji tanpa memandang jumlah salah saji yang diantisipasi. Dalam kasus
PT ABC, auditor menetapkan risiko keliru menerima sebesar 5%. Dengan demikian
faktor keandalannya adalah 3,0.
Salah Saji Bisa Ditoleransi
Salah saji bisa ditoleransi (SD) adalah maksimum salah saji yang diterima
untuk berada dalam suatu rekening sebelum hal itu dipandang sebagai salah saji
secara material, Sebagian auditor menggunakan istlilah materialitas (atau jumlah
material) sebagai alternatif dari SD. Dalam merumuskan faktor ini, auditor harus
menyadari bahwa salah saji dalam rekening-rekening individual, apabila digabungkan
dengan salah saji dalam rekening yang lain, bisa menyebabkan laporan keuangan
sebagai keseluruhan menjadi salah saji material.
SD memiliki pengaruh terbalik terhadap ukuran sampel, yakni semakin kecil
SD akan semakin besar ukuran sampelnya. Untuk kasus PT ABC, auditor menetapkan
SD sebesar 596 dari nilai buku atau sama dengan Rp3.000.000,00.
Antisipasi Salah Saji dan Faktor Ekspansi
Dalam sampling PPL auditor tidak mengkuantifikasi risiko keliru menolak.
Namun demikian. hal tersebut dikendalikan secara tidak langsung dengan
menetapkan antisipasi salah saji (AS) yang berhubungan terbalik dengan risiko
keliru menolak dan berhubungan langsung dengan ukuran sampel.
Auditor mengunakan pengalaman di masa lalu dan pengetahuannya tentang
klien serta pertimangan profesional dalam menentukan jumlah AS. Auditor harus
menyadari bahwa juinlah yang terlalu besar akan menaikkan ukuran sampel tanpa
perlu, tetapi jika terlalu rendah dalam membuat taksiran akan menyebabkan risiko
yang tinggi untuk keliru mutlak. Untuk PT ABC, auditor menetapkan AS sebesar Rp.
600.000.00.

Faktor Ekspansi (FE) diperlukan hanva apabila salah saji diantisipasi. Hal
ini bisa diperoleh dari Gambar 11-3, dengan menggunakan risiko keliru menerima
yang telah ditetapkan auditor. Semakin kecil risiko keliru menerima, semakin besar
FE. Seperti halnya antisipasi salah saji, FE memiliki hubungan langsung terhadap
ukuran sampel. Dalam kasus PT ABC, FE untuk antisipasi salah saji adalah 1,6.
Pengaruh gabungan dari antisipasi salah saji dan FE selanjutnya dikurangkan dari
salah saji ditoleransi dalam penentuan ukuran sampel.
Gambar 11-3
Faktor Ekspansi Untuk Sampling PPU
FAKTOR KEANDALAN UNTUK NOL SALAH SAJI TERLALU TINGGI
Risiko Untuk keliru menerima
1% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 37% 50%
Faktor Keandalan
1,9 1,6 1,5 1,4 1,3 1,25 1,2 1,15 1,10
Perhitungan Ukuran Sampel
Faktor-faktor untuk perhitungan sampel pada PT ABC adalah: NB Rp.
60.000.000,00; FK = 3,0; AS = Rp. 600.000,00; dan FE 1,6. Dengan demikian ukuran
sampelnya adalah 88, yakni hasil perhitungan sebagai berikut:
n=

Rp . 60.000.000,00 x 3,0
Rp 3.000 .000,00(Rp 600.000,00 x 1,6)

=88

Pengaruh perubahan dalam nilai suatu faktor terhadap ukuran sampel, apabila
faktor-faktor lainnva konstan, dapat diringkas sebagai berikut:
Faktor
Nilai buku
Risiko keliru menerima
Salah saji ditoleransi
Antisipasi salah saji
Faktor ekspansi untuk antisipasi salah saji

Hubungan terhadap
Ukuran Sampel
Langsung
Terbalik
Terbalik
Langsung
Langsung

Perlu dicatat bahwa penentuan risiko keliru menerima yang rendah akan
menyebabkan ukuran sampel menjadi lebih besar melalui dua cara benikut: (1)
dengan menaikkan nilai penyebut dalam rumus yaitu pada faktor FK, dan (2) dengan
menurunkan nilai pembilang dalam rumus yaitu pada faktor FE. Begitu pula apabila

hubungan antara AS dan n adalah Iangsung, maka hubungan antara risiko keliru
menolak (yang dikendalikan melalui faktor AS) dan n adalah terbalik.
MENENTUKAN METODA PEMILIHAN SAMPEL
Metoda pemilihan yang paling banyak digunakan dalam sampling PPU adalah
pemilihan sistematik. Metoda ini membagi total rupiah populasi menjadi intervalinterval rupiah yang sama. Selanjutnya unit logis dipilih secara sistematis dari setiap
interval. Dengan demikian interval sampling dapat dihitung dengan cara sebagai
berikut:
13 =

NB
n

Dalam kasus PT ABC, interval samplingnya adalah Rp. 681.800,00


(Rp60.000.000,00 : 88).
Langkah awal dalam proses seleksi adalah menetapkan nomor awal secara
random antara 1 dan 681.800. Sampel selanjutnya akan menyertakan setiap unit logis
yang berisi setiap rupiah ke 681.800 berikutnya dalam populasi. Dalam proses seleksi
ini perlu ditentukan saldo kumulatif nilai buku dan unit logis untuk menentukan unit
logis yang terbawa oleh unit rupiah individual yang terpilih. Proses ini dapat
digambarkan dengan kasus PT ABC pada Gambar 11-4 dengan catatan bahwa (1)
nomor rekening pelanggan digunakan untuk mengidentifikasi unit logis, dan (2)
nomor awal yang ditetapkan secara random adalah 500.000. Perhatikan bahwa
jumlah-jumlah dalam kolom unit rupiah yang dipilih adalah setiap rupiah ke 681.800
setelah 500.000. Unit rupiah yang dipiih menyebabkan nilai buku keseluruhan dari
unit sampling logis yang bersangkutan dimasukkan ke dalam sampel. Perlu dicatat
bahwa proses seleksi akan mengakibatkan terpilihnya semua unit logis dengan nilai
buku yang sama dengan atau lebih besar daripada interval sampling. Penggunaan
program komputer akan sangat membantu dalam proses pemilihan. Namun demikian.
pemilihan unit sampling logis bisa juga dilakukan dengan bantuan mesin hitung atau
kalkulator.

MELAKSANAKAN RENCANA SAMPLING


Pada tahap rencana ini, auditor menerapkan prosedur pengauditan yang sesuai
untuk menentukan suatu nilai menurut audit untuk setiap unit logis yang
diikutsertakan dalam sampel. Dalam kasus PT ABC, hal ini meliputi pengiriman
konfirmasi untuk sebanyak mungkin unit sampel dan menerapkan prosedur alternatif
jika tidak diperoleh jawaban atas konfirmasi yang diminta.
Jika terjadi perbedaan, maka auditor harus mencatat nilai buku dan nilai
menurut audit dalam kertas kerja. Informasi ini selanjutnya akan digunakan untuk
melakukan proyeksi atas total salah saji dalam populasi seperti yang akan diterangkan
pada bagian berikut.

MENGEVALUASI HASIL SAMPEL


Dalam melakukan evaluasi atas hasil sampel, auditor menghitung batas atas
salah saji (BAS) dari data sampel dan membandingkannya dengan salah saji yang
ditoleransi sebagaimana ditetapkan dalam rancangan sampel. Apabila BAS lebih kecil
dan atau sama dengan salah saji ditoleransi. maka hasil sampel mendukung
kesimpulan bahwa nilai buku populasi tidak salah saji melebihi BAS pada tingkat
risiko keliru menenima yang ditetapkan.
Batas atas salah saji dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:
BAS = PS + CRS
keterangan
PS

= Total proyeksi salah saji dalam populasi

CRS

= Cadangan risiko salah saji

BAS, PS, dan CRS masing-masing analog dengan batas atas deviasi, tingkat
deviasi sampel, dan cadangan untuk risiko sampling dalam evaIuasi atas hasil rencana
sampling atribut seperti telah dibahas pada Bab 10. Namun demikian, dalam sampling
PPU setiap faktor dinyatakan dalam jumlah rupiah, bukan dalam persentase. Evaluasi
dalam sampling PPU akan bebeda-beda tergantung pada ada tidaknya salah saji yang
dijumpai dalam sampel.
Tidak Ditemukan Salah Saji

Hasil sampel digunakan untuk memperkirakan total proyeksi salah saji (PS)
dalam populasi. Apabila tidak ditemukan salah saji dalam sampel, maka factor (PS)
dalam rumus di atas adalah nol rupiah.
Dalam hal tidak terdapat salah saji, maka faktor cadangan risiko sampling
(CRS) terdiri dari satu komponen yang disebut presisi dasar (PD). Jumlahnya
diperoleh dengan mengalikan faktor keandaian (FK) untuk salah saji nol pada risiko
keliru menerima yang ditetapkan dengan interval sampling (IS). Dalam perhitungan
ini, auditor biasanya menggunakan risiko keliru menerima yang sama dengan risiko
yang ditetapkan dalam penentuan ukuran sampel. Dalam kasus PT ABC, presisi
dasarnya adalah Rp 2.045.400,00 yang dihitung dengan cara sebagai berikut:

PD

= FK x IS
= 3,0 x Rp. 681.800,00
= Rp. 2.045.400,00

Oleh karena PS sama dengan nol, maka BAS sama dengan CRS atau Rp.
2.045.400,00. Jumlah ini Iebih kecil dari salah saji bisa ditoleransi (SD) sebesar Rp.
3.000.000,00 yang ditetapkan dalam rancangan sampel. Apabila tidak ditemukan
salah saji dalam sampel dan antisipasi salah saji ditetapkan sebesar nol, maka
cadangan risiko sampling dan batas atas salah saji akan selalu sama dengan salah saji
bisa ditoleransi. Apabila antisipasi salah saji lebih besar dari nol (seperti dalam kasus
PT ABC), cadangan risiko sampling dari batas atas salah saji akan lebih kecil dan
salah saji bisa ditoleransi. Dengan demikian apabila tidak ditemukan salah saji tetapi
beberapa diperkirakan mengandung salah saji, auditor bisa menyimpulkan, tanpa
membuat perhitungan tambahan, bahwa nilai populasi per buku tidak salah saji lebih
tinggi melebihi salah saji bisa ditoleransi (SD). Apabila auditor memilih untuk
membuat perhitungan di atas, dia harus membuat kesimpulan yang lebih spesifik
bahwa nilai buku populasi tidak salah saji teralalu tinggi melebihi Rp. 2.045.400,00
pada tingkat risiko keliru menerima 5%.
Ditemukan Beberapa Salah Saji

Apabila ditemukan beberapa salah saji dalam sampel. auditor harus


menghitung baik proyeksi total salah saji dalam populasi maupun cadangan risiko
sampling untuk menentukan batas atas salah saji untuk salah saji terlalu tinggi.
Selanjutnya BAS dibandingkan dengan SD.
Proyeksi Salah Saji Populasi. Jumlah proyeksi salah saji dihitung untuk
setiap unit logis yang berisi suatu salah saji. Jumlah-jumlah tersebut kemudian ditotal
untuk mencapai proyeksi salah saji (PS) bagi keseluruhan populasi. Proyeksi salah
saji ini dihitung secara berbeda untuk (1) unit logis yang memiliki nilai buku kurang
dan interval sampling, dan (2) unit logis dengan nilai buku sama dengan atau lebih
besar dari interval sampling.
Untuk setiap unit logis dengan nilai buku kurang dari interval sampling yang
berisi suatu salah saji perlu dihitung persentase perbedaan (PP) (training
percentage) dan proyeksi salah saji populasi sebagai berikut :
Persentase perbedaan = (nilai per buku nilai per audit) : nilai per buku
Proyeksi salah saji

= persentase perbedaan x interval sampling

Perhitungan di atas menyiratkan bahwa setiap unit logis yang dimasukkan


dalam suatu sampel menggambarkan satu interval sampling dan rupiah-rupiah dalam
nilai buku populasi. Oleh karena itu tingkat perbedaan akibat salah saji atas suatu
unit logis diproyeksikan pada semua rupiah dalam interval sampling yang
diwakilinya.
Untuk setiap unit logis yang nilai bukunya sama dengan atau lebih besar dari
interval sampling, proyeksi salah sajinya adalah jumlah salah saji yang ditemukan
dalam unit (nilai per buku - nilai per audit). Oleh karena unit logis itu sendiri sama
atau lebih besar daripada interval sampling, maka persentase perbedaan untuk
memproyeksi salah saji atas interval tidak diperlukan. Dalam hal ini jumlah
sesungguhnya salah saji tersebut digunakan untuk menentukan proyeksi salah saji
populasi sebagai keseluruhan.
Sebagai ilustrasi, misalkan sampel PPU untuk piutang dagang pada PT ABC
menunjukkan salah saji berikut:

Perhatikan bahwa unit logis pertama, kedua, dan keempat berisi salah saji
yang memiliki nilai buku kurang dari interval sampling. Oleh karena itu persentase
perbedaannya harus dihitung dan digunakan untuk menentukan proyeksi salah saji.
Unit ketiga dan kelima memiliki nilai buku lebih besar dan interval sampling. Oleh
karena itu, proyeksi salah saji untuk masing-masing unit tersebut adalah selisih antara
nilai buku dengan nilai audit. Total salah saji dalam sampel adalah Rp. l.037.500,00
(Rp2.440.000 - Rp. 1.402.500,00), sedangkan total proyeksi salah saji dalam populasi
(SD) adalah Rpl.319.700,00.
Cadangan Risiko Sampling. CRS untuk sample yang berisi salah saji
memiliki dua komponen seperti dinyatakan dalam formula berikut :
CRS = PD+KC
Keterangan:
PD = presisi dasar
KC = kenaikan cadangan yang disebabkan oleh salah saji.
Perhitungan presisi dasar tidak berbeda, baik jika ditemukan salah saji dalam
sampel maupun tidak ditemukan salah saji. Oleh karena itu. untuk kasus PT ABC
komponen ini akan berjumlah Rp. 2.045.400.00 yaitu hasil perkalian antara FK
sebesar 3,0 (untuk kekeliruan nol dan risiko keliru menerima 5%) dengan IS sebesar
Rp. 681.800,00.
Untuk menghitung kenaikan cadangan untuk risiko sampling (KC). auditor
harus memisahkan antara unit logis yang bernilai buku kurang dan interval sampling
dengan logis unit yang bernilai buku sama dengan atau lebih besar dari interval
sampling. Oleh karena semua unit Logis yang sama dengan atau lebih besar dari
sampling interval seyognya telah diperiksa, maka tidak ada risiko sampling untuk

unit-unti semacam itu. Oleh karena itu KC hanya menyangkut silah saji yang
berkaitan dengan nilai buku kurang dari interval sampling.
Perhitungan KC dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :

Menentukan perubahan kenaikan yang sesuai atas factor keandalan.


Mengurutkan proyeksi salah saji untuk unit-unit logis yang kurang dari

interval sampling dan yang tertinggi ke terendah.


Mengalikan proveksi salah saji yang telah diurutkan dengan faktor yang
sesuai dan menjumlahkan hasilnva.
Berikut adalah contoh tabulasi untuk langkah pertama:
Data dalam dua kolom pertama di atas diambil dari Gambar 11-5 sesuai

dengan tingkat risiko keliru menerima yang ditetapkan (dalam hal ini 5%). Kolom
tiga merupakan hasil perhitungan faktor keandalan pada baris yang bersangkutan
dikurangi faktor keandalan baris sebelumnya. Kolom empat diperoleh dengan
mengurangkan angka pada kolom tiga dengan angka pada kolom satu.
Perhatikan bahwa (1) hanya proyeksi salah saji dan tabulasi pada halaman 457
untuk unit logis dengan nilai buku lebih kedil dan interval sampling yang diurutkan,
dan (2) faktor keandalan yang sesuai diperoleh dari kolom 4 dari tabulasi pada
halaman 458. Cadangan kenaikan untuk proyeksi salah saji kemudian dijumlahkan
untuk menentukan total cadangan kenaikan yaitu sebesar Rp. 308.900,00. Dengan
demikian, total cadangan untuk risiko sampling pada PT ABC adalah Rp.
2.354.300,00 yang dihitung dengan cara sebagai berikut:
PD

= Rp. 2.045.400,00

CK

CRS

= Rp. 2.354.300.00

308.900.00

Batas Atas Salah Saji Terlalu Tinggi. Batas atas salah saji (BAS) sama
dengan jumlah proyeksi salah saji (PS) dan cadangan risiko sampling (CRS). Untuk
kasus PT ABC, BAS adalah:
PS

= Rp. l.319.700,00

CRS

BAS

= Rp. 3.674.000,00

2.354.300,00

Dengan demikian auditor bisa menyimpulkan bahwa nilai buku tidak salah
saji terlalu tinggi melebihi Rp. 3.674.000,00 pada risiko keliru menerima sebesar 5%.
Dalam sampel PT ABC, BAS melebihi salah saji ditoleransi (SD) sebesar Rp.
3.000.000,00 sebagaimana ditetapkan dalam rancangan sampel. Apabila hal ini
terjadi, maka auditor harus mempertimbangkan beberapa kemungkinan alasan dan
alternatif tindakan yang akan diambil. Namun apabila BAS lebih kecil dari, sama
dengan, atau lebih besar dari SD, maka sejumlah pertimbangan kualitatif perlu
dilakukan sebelum diambil kesimpulan menyeluruh.
Pertimbangan Kualitatif . Seperti halnya dalam sampling atribut, auditor
harus mempertimbangkan aspek kualitatif dan salah saji dalam jumlah rupiah. Salah
saji bisa disebabkan oleh (1) perbedaan dalam prinsip atau penerapannya, dan (2)
kekeliruan atau ketidakberesan. Pertimbangan juga perlu dilakukan terhadap
hubungan antara salah saji dengan tahapan audit lainnya. Sebagai contoh, apabila
salah saji ditemukan dalam pengujian substantifdalam jumlah atau frekuensi yang
lebih besar daripada apa yang dihasilkan oleh penetapan tingkat risiko pengendalian
yang digunakan untuk menentukan risiko keliru menenma untuk sampel, maka
auditor perlu mempertimbangkan apakab penentuan tersebut masih sesuai untuk
digunakan. Bila tidak sesual lagi, maka auditor hams merancang ulang rencana
sampling.
Merumuskan Kesimpulan Menyeluruh. Auditor harus menggunakan
pertimbangan profesional dalam menggabungkan bukti yang diperoleh dari berbagai
sumber untuk mencapai kesimpulan menyeluruh tentang apakah suatu saldo rekening
bebas dari salah saji material. Apabila (1) hasil sampel PPU menunjukkan bahwa
BAS lebih kecil dan atau sama dengan SD. (2) hasil pengujian substantif lain tidak
bertentangan dengan temuan tersebut. dan (3) analisis tentang pertimbangan kualitatif
membuktikan

tidak

terdapat

ketidakberesan,

maka

auditor

biasanya

akan

menyimpulkan bahwa populasi tidak mengandung salah saji material. Apabila ada
satu atau lebih kondisi di atas yang tidak terpenuhi, maka auditor perlu melakukan
evaluasi lebih lanjut tentang kondisi tersebut.
Sebagai contoh, apabila BAS lebih besar daripada SD, maka auditor perlu
mempertimbangkan kemungkinan penyebab dan tindakan yang diperlukan berikut;

Sampel tidak mewakili populasi. Auditor bisa menduga seperti itu apabila
semua bukti lain yang berkaitan menunjukkan bahwa populasi tidak salah saji
material. Dalam hal ini auditor harus memeriksa unit sampel tambahan atau
melaksanakan prosedur alternatif lain, untuk menentukan apakah populasi

salah saji.
Jumlah antisipasi salah saji yang ditetapkan dalam rancangan sampel tidak
cukup besar apabila dihubungkan dengan salah saji ditoleransi untuk cukup
membatasi cadangan risiko sampling. Ini berarti bahwa populasi mungkin
tidak salah saji lebih besar dari SD, tetapi karena jumlah salah saji dalam
populasi lebih besar daripada yang diantisipasi, maka diperlukan informasi
yang lebih teliti atas sampel. Dalam situasi demikian, auditor perlu memeriksa
tambahan unit sampel dan mengevaluasi ulang atau melaksanakan prosedur
pengauditan alternatif untuk menentukan apakah populasi salah saji melebihi

SD.
Populasi mungkin salah saji melebihi SD. Auditor harus minta agar klien
menyelidiki salah saji, dan apabila perlu melakukan penyesuaian (koreksi)
atas nilai buku.
Sebagai akibat dari salah satu tindakan di atas, maka nilai buku menurut klien

perlu disesuaikan atau dikoreksi. Apabila BAS setelah disesuaikan lebih kecil dari
SD, maka hasil sampel mendukung kesimpulan bahwa populasi (setelah disesuaikan)
tidak salah saji melebihi SD pada tingkat risiko keliru menerima yang ditetapkan.
Sebagai contoh, dalam kasus PT ABC, sebuah piutang dagang dengan nilai buku Rp.
800.000,00 setelah diaudit ternyata memiliki nilai menurut audit sebesar nol rupiah.
Apabila rekening tersebut dihapus, maka PS untuk populasi akan berkurang dengan
Rp. 800.000,00 sehingga menjadi Rp. 519.700,00. Cadangan untuk risiko sampling
akan tetap sebesar Rp. 2.354.300,00, dan BAS akan menjadi Rp. 2.874.000,00 (Rp.
3.674.000,00 Rp. 800.000,00), yang lebih kecil dari Rp. 3.000.000,00 yaitu SD
yang ditetapkan dalam rancangan sampel.
Gambar

11-6

melukiskan

bagaimana

mendokumentasikan

penerapan

sampling PPU dalam audit atas piutang dagang pada PT ABC. Rancangan sampel dan
hasil evaluasi nampak dalam kertas kerja tersebut.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMAKAIAN SAMPLING PPU


Audit Sampling Guide yang disusun oleh AICPA (halaman 68-69)
menyebutkan keuntungan dan kerugian pemakaian sampling PPU. Keuntungan
sampling PPU adalah :

Lebih mudah digunakan dibandingkan dengan sampling variabel klasik


karena auditor dapat menghitung ukuran sampel dan mengevaluasi hasil

sampul dengan tangan atau dengan bantuan tabel.


Besarnya ukuran sampel PPU tidak didasarkan atas berbagai taksiran nilai

audit.
Sampling PPU secara otomatis menghasilkan sampel berstrata karena unsur-

unsurnya diseleksi proporsional dengan nilai rupiahnya.


Pemilihan sampel sistematik PPU, secara otomatis mengidentifikasi setiap
unsur yang secara individual signifikan apabila nilainya melebihi batas atas

rupiah tertentu.
Apabila auditor menduga terjadi salah saji, sampling PPU biasanya akan
menghasilkan ukuran sampel yang lebih kecil daripada sampel yang

dihasilkan oleh sampling variabel klasik.


Sampel PPU dapat dirancang lebih mudah dan pemilihan sampel bisa dimulai
sebelum tersedia populasi yang lengkap.
Kerugian pemakaian sampling PPU adalah sebagai berikut:

Sampling PPU didasarkan pada asumsi bahwa nilai audit dari suatu unit,
sampling tidak akan lebih kecil dari nol atau lebih besar dari niai buku.
Apabila diperkirakan terjadi salah saji terlalu rendah atau nilai audit lebih

kecil dan nol, maka diperlukan perancangan yang khusus.


Apabila ditemukan salah saji terlalu rendah dalam sampel, maka evaluasi atas

sampel memerlukan pertimbangan khusus.


Pemilihan saldo nol memerlukan pertimbangan khusus.
Evaluasi PPU bisa melebihi CRS apabila salah saji ditemukan dalam sampel
Akibatnya auditor kemungkinan besar akan menolak nilai buku populasi yang
sesungguhnya bisa diterima.

Apabila jumlah salah saji meningkat, maka ukuran sampel yang sesuai juga
akan meningkat. Oleh karena itu akan terjadi pengambilan sampel yang besar
dibandingkan dengan sampel pada sampling variable klasik.
Auditor perlu melakukan pertimbangan profesional dalam memutuskan

pendekatan mana yang paling sesuai dengan keadaan yang dihadapinya


SAMPLING VARIABEL KLASIK
Seperti telah disebutkan di muka, dalam melaksanakan pengujian substantif,
auditor bisa menggunakan pendekatan sampling variabel klasik. Dalam pendekatan
ini teori distribusi normal digunakan untuk mengevaluasi karakteristik populasi
berdasarkan hasil sampel yang ditarik dan populasi.
Sampling variabel klasik akan berguna bagi auditor apabila tujuan audit
berkaitan dengan kemungkinan terjadinya salah saji terlalu tinggi atau terlalu rendah
pada suatu saldo rekening dan hal-hal lainnva, jika sampling PP tidak tepat untuk
digunakan atau bila biaya penyelenggaraannva dipandang terlalu mahal.
JENIS-JENIS TEHNIK SAMPLING VARIABEL KLASIK
Tiga tehnik (atau metoda) yang bisa digunakan dalam sampling variabel
klasik adalah: (1) mean-per-unit (MPU), (2) selisih, dan (3) rasio. Ketiga tehnik
tersebut mengharuskan ditentukannya jumlah total unit dalam populasi dan nilai audit
bagi semua unsur dalam sampel. Audit Sampling Guide (halaman 90-91) menunjukan
kendala-kendala yang harus dipertimbangkan di bawah ini dalam memilih tehnik
yang paling tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi:

Kemampuan untuk merancang suatu strata sampel. Stratifikasi bisa


mengurangi ukuran sampel secara signifikan pada metoda MPU, tetapi tidak
mempengaruhi ukuran sampel secara material pada tehnik selisih dan tehnik

rasio.
Ekspektasi jumlah perbedaan antara nilai audit dengan nilai buku. Jumlah
perbedaan yang minimal hams ada diantara kedua nilai ini dalam sampel

untuk menguraikan baik tehnik selisih maupun tehnik rasio.


Tersedianya informasi. Nilai buku harus tersedia untuk setiap unit sampling
dalam estimasi rasio dan selisih. Nilai buku tidak harus ada pada tehnik MPU.

Jika semua kendala di atas dapat diatasi oleh matoda yang bersangkutan,
auditor biasanya akan lebih suka memilih estimasi selisih atau estimasi rasio, karena
kedua metoda tersebut memerlukan ukuran sampel yang lebih kecil dibandingkan
dengan metode MPU, sehingga biayanya akan lebih murah dalam memenuhi tujuan
auditor.
Rencana sampling dalam setiap metoda di atas memiliki tahapan-tahapan
yang sama seperti dalam sampling PPU. Namun, seperti akan dijelaskan di bawah ini,
dalam ketiga metoda tersebut terdapat sejumlah perbedaan dalam penerapannya.
ESTIMASI MEAN-PER-UNIT (MPU)
Sampling estimasi MPU meliputi penentuan nilai audit untuk setiap unsur
dalam sampel. Rerata dari nilai-nilai audit tersebut kemudian dihitung dan dikalikan
dengan jumlah unit dalam populasi sehingga bisa diperoleh taksiran total nilai PPU
populasi. Cadangan risiko sampling yang berkaitan denngan estimasi ini juga
dihitung untuk digunakan dalam mengevaluasi hasil sampling.
Menentukan Tujuan Rencana
Tujuan suatu rencana sampling MPU bisa untuk (1) mendapatkan bukti bahwa
saldo rekening menurut catatan adalah tidak salah saji secara material, atau (2)
mengembangkan suatu estimasi independen tentang suatu jumlah, apabila tidak
tersedia nilai buku berdasarkan catatan. Sebagai contoh, misalkan auditor ingin
mencapai tujuan yang pertama untuk nilai buku piutang pinjaman di PT XYZ. Seperti
halnya dalam sampling PPU, bukti yang berkaitan untuk asersi-asersi spesifik akan
tergantung pada prosedur pengauditan yang diterapkan pada unsure-unsur sampel.
Merumuskan Populasi dan Unit Sampling
Dalam merumuskan populasi, auditor mempertimbangkan sifat dari unsurunsur yang membentuk populasi dan apakah semua unsur memenuhi syarat untuk
dimasukkan dalam sampel. Namun demikian, auditor tidak perlu memeriksa nilai
buku masing-masing unsur yang membentuk total nilai buku populasi berdasar
catatan karena nilai buku individual bukanlah variabel dalam perhitungan MPU.
Sampling unit harus sejalan dengan tujuan audit dan prosedur audit yang.
akan dilakukan. Sebagai contoh, jika tujuan audit adalah menentukan bahwa saldo per
buku piutang dagang tidak salah saji secara material, dan bukti akan dicari melalui

konfirmasi tentang saldo rekening dan para debitur (pelanggan), maka rekening
pelanggan akan menjadi unit sampling. Contoh lain, apabila tujuan audit adalah untuk
menentukan bahwa saldo rekening penjualan tidak salah saji secara material, dan
untuk itu bukti akan dikumpulkan melalui pemeriksaan atas dokumen-dokumen
pendukung transaksi penjualan yang dicatat, maka unit sampling yang tepat adalah
baris-baris dalam ayat jurnal penjualan. Wujud fisik dari semua unit yang membentuk
populasi, seperti misalnya daftar saldo rekening pada semua pelanggan, akan
membantu dalam proses pemilihan unit sampel.
Untuk PT XYZ dimisalkan (1) populasi terdiri dari 3.000 piutang pinjaman
yang bersaldo kecil, (2) nilai buku menurut catatan piutang tersebut adalah Rp.
l.340.000.000,00, (3) piutang pinjaman individual ditetapkan sebagai unit sampel,
dan (4) wujud fisik yang akan menjadi dasar pemilihan unsur sampel adalah printout
komputer yang berisi daftar semua piutang pinjaman.
Menentukan Ukuran Sampel
Faktor-faktor berikut menentukan ukuran sampel dalam suatu estimasi sampel
MPU :

Ukuran populasi (jumlah unit).


Estimasi standar deviasi populasi.
Salah saji toleransi
Risiko keliru menolak.
Risiko keliru menerima.
Rencana cadangan risiko sampling.
Ukuran Populasi. Pengetahuan yang tepat tentang jumlah unit dalam populasi

merupakan hal yang sangat penting, karena faktor ini akan menyangkut ukuran
sampel dan hasil sampel. Ukuran populasi berhubungan langsung dengan ukuran
sampel, yaitu semakin besar populasi semakin besar pula ukuran sampel. Seperti telah
disebutkan di atas, populasi pada PT XYZ terdiri dari 3.000 piutang pinjaman.
Estimasi Standar Deviasi Populasi. Dalam estimasi MPU, ukuran sampel
yang diperlukan untuk mencapai tujuan statistik tertentu berhubungan langsung
dengan variabilitas nilai-nilai dan unsur-unsur populasi. Ukuran variabiitas yang
digunakan adalah standar deviasi. Oleh karena nilai audit tidak diperoleh untuk
setiap unsur populasi, maka standar deviasi nilai audit untuk unsur-unsur dalam

sampel digunakan sebagai estimasi standar deviasi populasi. Akan tetapi karena
standar deviasi sampel belum bisa diketahui sampai sampel diseleksi, maka standar
deviasi tersebut harus diestimasi.
Ada tiga cara untuk mengestimasi faktor ini Pertama, dalam penugasan
ulangan, standar deviasi yang ditemukan dalam audit tahun lalu bisa digunakan untuk
mengestimasi standar deviasi untuk tahun ini. Kedua, standar deviasi dapat diestimasi
berdasarkan nilai buku yang tersedia. Ketiga, auditor dapat mengambil suatu sampel
pendahuluan kecil, berkisar antara 30 sampai 50 unsur dan nilai audit yang diperoleh
dari unsur sampel tersebut kemudian digunakan sebagai dasar untuk menaksir standar
deviasi populasi tahun ini. Apabila hal ini dilakukan, sampel pendahuluan bisa dibuat
menjadi sampel akhir.
Rumus untuk menghitung standar deviasi adalah sebagai berikut:

SX

j
n1

j=1

Keterangan:
n

j=1

= Jumlah nilai sampel

X j = Nilai audit unsur-unsur sampel individual


x = Nilai rata-rata (mean) nilai audit unsur-unsur sampel
n = Jumlah unsur yang diaudit
Masalah yang dihadapi auditor dalam sampling MPU adalah menentukan
apakah populasi harus distratifikasi atau tidak. Stratifikasi sampling menyangkut
pembagian populasi menjadi beberapa grup atau kelompok yang relatif homogin.
Dalam koriteks ini yang dimaksud dengan grup yang homogin adalah kelompok yang
nilai dari unsur-unsur yang membentuk kelompok atau stratum tersebut kecil

variabilitasnya. Sampling ditetapkan secara terpisah untuk setiap stratum, dan hasil
sampel dari setiap stratum selanjutnya digabungkan untuk mengevaluasi total sampel.
Stratifikasi bisa bermanfaat karena ukuran sampel gabungan sering kali bisa
jauh lebih kacil dari ukuran sampel yang didasarkan pada populasi yang tidak
distratifikasi. Hal ini mudah dipahami karena ukuran sampel akan berkurang sejalan
dengan berkurangnya variabilitas dalam populasi. Perlu diketahui bahwa suatu
perubahan dalam variabilitas suatu populasi mempengaruhi ukuran sampel sebesar
kwadrat dari perubahan relatif. Oleh karena itu, apabila variasi dalam populasi
berubah dari 200 menjadi 100 (atau berkurang menjadi setengahnya), maka ukuran
sampel untuk memenuhi tujuan statistik yang sama akan, berkurang dengan faktor 4
(setengah dikuadratkan sama dengan seperempat).
Jumlah optimal strata tergantung pada pola variasi dalam nilai populasi dan
tambahan biaya yang berkaitan dengan perancangan, pelaksanaan, dan penilaian
setiap sampel berstrata. Mengingat kompleksnya prosedur, maka stratifikasi biasanya
digunakan hanya apabila tersedia program komputer yang sesuai. Oleh karena itu
untuk menyederhanakan ilustrasi dalam bab ini, akan digunakan sampel yang tidak
distratifikasi. Dalam praktik, apabila nilai populasi sangat bervariasi dan stratifikasi
sulit dilakukan, audior biasanya menggunakan estimasi selisih atau estimasi rasio
agar terjadi pengurangan sampel dibandingkan dengan ukuran sampel yang
diperlukan dalam estimasi MPU.
PT XYZ memberi batas maksimum pinjaman kepada para pelanggannya
sebesar Rp. 500.000,00. Dengan demikian variabilitasnya rendah, dan auditor
memutuskan untuk tidak perlu melakukan stratifikasi atas populasi. Berdasarkan
audit tahun lalu, auditor menaksir standar deviasi sebesar Rp. 100.000,00.
Salah Saji Bisa Ditoleransi. Pertimbangan-pertimbangan untuk menetapkan
salah saji bisa ditoleransi (SD) dalam sampling MPU sama dengan pertimbangan
yang dilakukan dalam sampling PPU. SD mempunyai hubungan terbalik terhadap
ukuran sampel. Untuk PT XYZ, auditor menetapkan SD sebesar Rp. 60.000.000.00.
Risiko

Keliru

Menolak.

Faktor

ini

memungkinkan

auditor

untuk

mengendalikan risiko apabila risiko sampel mendukung kesimpulan bahwa saldo


rekening menurut pembukuan telah salah saji secara material, padahal sesungguhnva

tidak demikian. Konsekuensi pokok dan risiko ini adalah terjadinya tambahan biaya
potensial sebagai akibat diperluasnya prosedur audit menyusul terjadinya penolakan
yang pertama. Namun demikian, tambahan prosedur audit pada akhirnya bisa
melahirkan kesimpulan hahwa saldo tidak salah saji secara material.
Berbeda dengan sampling PPS, dalam sampling MPU auditor harus
mengkuantifikasi risiko keliru menolak maupun risiko keliru menerima. Risiko keliru
menolak mempunyai hubungan terbalik terhadap ukuran sampel. Apabila auditor
menetapkan risiko keliru menolak yang sangat rendah, mika ukuran dan biaya untuk
melaksanakan sampel awal akan lebih besar. Oleh karena itu, pengalaman dan
pengetahuan auditor tentang klien harus digunakan untuk menetapkan risiko keliru
menolak yang tepat untuk menyeimbangkan antara biaya dengan sampel awal dan
biaya potensial untuk perluasan sampel berikutnya.
Dalam sejumlah program komputer, auditor menginput risiko keliru menolak
langsung sebagai angka prosentase. Program lain, mengharuskan auditor untuk
menginput tingkat keyakinan (confidence level) atau tingkat keandalan (reliability
level) yang merupakan komplemen dari risiko keliru menolak. Selanjutnya komputer
akan mengubah persentase menjadi standar deviasi normal yang sesuai atau faktor
UR untuk digunakan dalam menghitung ukuran sampel. Apabila ukuran sampel akan
dihitung secara manual, maka faktor UR untuk risiko keliru menolak tertentu bisa,
diperoleh dari tabel sebagaimana nampak dalam Gambar 11-7 berikut.

Risiko Keliru Menerima. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalm


menetapkan risiko, sama dengan yang berlaku pada sampling PPU. Risiko keliru
menerima suatu saldo salah sajip material biasanya ditetapkan dalam rentang dari 5%
sampai 30%, tergantung pada tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan auditor dan
hasil dari pengujian substantif yang lain. Risiko keliru menerima memiliki hubungan
terbalik terhadap ukuran sampel, yakni semakin rendah risiko yang ditetapkan, akan

semakin besar ukuran sampelnva. Dalam kasus PT XYZ, auditor menetapkan risiko
keliru sebesar 20%.
Rencana Cadangan untuk Risiko Sampel. Rencana cadangan untuk risiko
sampel (kadang-kadang disebut juga presisi yang diinginkan ) diperoleh dari rumus
berikut:
CRS

= R x SD

Keterangan:
CRS

= cadangan untuk risiko sampling direncanakan atau dikehendaki

= rasio antara cadangan risiko sampling diinginkan dengan salah saji


ditoleransi

SD

= salah saji bisa ditoleransi

Rasio untuk faktor R didasarkan pada risiko keliru menerima dan keliru
menolak yang ditetapkan. Besarnya rasio diperoleh dari tabel sebagaimana nampak
pada Gambar 11-8.
Sebagai contoh, apabila risiko ditetapkan masing-masing sebesar 20% dan
10%, maka faktor R adalah 0,661. Dalam kasus PT XYZ, risiko ditetapkan sebesar
20% dan 5%. Dengan demikian faktor R-nya adalah 0,70. Faktor ini kemudian
dikalikan dengan SD yaitu Rp. 60.000.000,00 sehingga menghasilkan cadangan
untuk risiko sampling sebesar Rp. 42.000.000,00.
Rumus Ukuran Sampel. Rumus berikut ini digunakanuntuk menentukan
ukuran sampel untuk estimasi sampel MPU :
n=

N UR S X
A

Keterangan:
N

= ukuran populasi

UR

= standar deviasi normal untuk risiko keliru menolak yang diinginkan.

Sx

= estimasi standar deviasi populasi

= cadangan untuk risiko sampling airencanakan atau diinginkan

Dalam kasus PT XYZ, keempat faktor tersebut masing-niasing adalah 3.000;


1,96; Rp. 100.000,00, dan Rp. 42.000.000,00. Dengan demikian ukuran sampelnya
adalah 196 yang hasil dari pehitungan berikut:
n=

3.000 x 1.96 x Rp100.000 .,00


Rp.42 .000 .000,00

= 196

Rumus ini berasumsi sampling dengan penggantian (artinya, suatu unsur


yang terpilih dikembalikan ke populasi dan bisa terpilih kembali). Apabila sampling
tanpa pergantian, maka diperlukan faktor koreksi terbatas (finite correction factor)
apabila perbandingan antara n (ukuran sampel) dan N (ukuran populasi) lebih besar
dari 0,05. Ukuran sampel disesuaikan (n) ditentukan dengan cara sebagai berikut:
Oleh karena dalam kasus PT XYZ , n/N lebih besar dari 0,05 (196:3.000 =
0,065), maka ukuran sampel disesuaikan menjadi:

Pengaruh perubahan dalam nilai suatu faktor terhdap ukuran sampel, dengan
asumsi bahwa faktro-faktor lainnya konstan dapat diringkas sebagai berikut :

Meskipun dua faktor terakhir dalam daftar di atas tidak nampak dalam rumus
ukuran sampel, namun keduanya mempunyai dampak terhadap ukuran sampel
melalui pengaruhnya atas perhitungan rencana cadangan untuk risiko sampling.
Menentukan Metoda Pemilihan Sampel
Metoda pemiihan nomor acak sederhana dan metoda pemiihan sistematik
seperti telah dijelaskan pada Bab 10 bisa digunakan dalam pemilihan sampel pada
tehnik MPU . Dalam kasus PT XYZ, auditor memutuskan untuk menggunakan nomor
acak menurut komputer untuk mengidentifikasi 184 piutang pinjaman yang akan
diperiksa.
Melaksanakan Rencana Sampling

Tahap pelaksanaan pada rencana sampling estimasi MPU meliputi tahapantahapan berikut:

Melakukan prosedur pengauditan yang tepat untuk menentukan nilai audit

untuk setiap unsur sampel.


Menghitung hal-hal berikut berdasarkan atas data sampel:
rerata nilai audit sampel ( x )
standar deviasi dan nilai audit sampel (S

xj

).

Statistik rerata dan standar deviasi untuk sampel bisa dihitung secara manual
atau dengan menggunakan komputer.
Untuk sampel PT XYZ, jumlah nilai audit diasumsikan sebesar Rp.
81.328.000,00 sehingga menghasilkan nilai audit rata-rata sebesar Rp. 442 .000,00
(Rp. 81.328.000,00:184).

Standar deviasi nilai audit diasumsikan sebesar

Rp.90.000,00.
Mengevaluasi Hasil Sampel
Pada tahap akhir rencana sampling ini. auditor melakukan penilaian
kuantitatif dan kualitatif atas hasil sampel dan selanjutnva menarik kesimpulan
keseluruhan
Penilaian Kuantitatif Dalam melakukan penilaian pada rencana sampling
MPU ini, auditor menghitung:

Estimasi nilai total populasi.


Cadangan risiko sampling yang dicapai, kadang-kadang disebut juga presisi

yang dicapai.
Suatu rentang untuk taksiran total nilai populasi, kadang-kadang disebut juga
interval presisi.
Taksiran nilai total populasi ( x ) dihitung dengan cara sebagai berikut:
^
X

=N. x

Dengan demikian taksiran nilai total populasi untuk 3.000 piutang pinjaman
pada PT XYZ adalah:
^
X

= 3.000 x Rp. 442.000,00 =Rp. 1.326.000.000,00

Rumus dasar untuk menghitung cadangan risiko sampling yang bisa


dicapai (A) adalah:
A = N. UR.

SX

Dalam rumus di atas,

SX

adalah standar deviasi untuk nilai audit sampel.

Harap diperhatikan bahwa nilai

SX

bukanlah nilai untuk

SX

yang digunakan

dalam menentukan ukuran sampel.


Apabila faktor koreksi terbatas telah digunakan dalam menentukan ukuran
sampel, maka rumus harus dimodifikasi sebagai berikut:
A = N. UR.

S X 1
j

n1
N

n1

Oleh karena itu cadangan risiko sampling yang dicapai untuk PT XYZ adalah:
A = 3.000 x 1,96 x.

Rp .90 .000 1
184

184
3.000

= Rp. 37.798.000

Rentang untuk taksiran nilai total populasi diambil dari taksiran nilai total
populasi dan cadangan nisiko sampling yang bisa dicapai. Rentang adalah:
^
X

+ A

Untuk PT XYZ, perhitungannya adalah sebagai berikut:


^
X

+ A

= Rp 1.326.000.000 Rp 37.798.000

= Rp 1.288.202.000 sampai Rp l.363.798.000


Apabila nilai buku berada di antara batas rentang ini, maka hasil sampel
mendukung kesimpulan bahwa nilai buku tidak salah saji secara material. Untuk
kasus PT XYZ kesimpulan ini valid karena nilai buku sebesar Rp l.340.000.000,00
berada dalam batas rentang tersebut.

Perlu dipahami bahwa hasil sampel bisa mendukung kesimpula bahwa nilai
buku tidak salah saji secara material, tetapi tidak pada tingkat risiko keliru menerima
yang ditetapkan auditor. Agar berada dalam tingkat risiko yang diinginkan, maka
cadangan risiko sampling dicapai (A) harus sama dengan atau kurang dari cadangan
untuk risiko sampling direncanakan (A). A akan lebih besar daripada A apabila
standar deviasi dari nilai audit iebih besar dari taksiran standar deviasi populasi yang
digunakan dalam menentukan ukuran sampel. Sebagaii contoh, apabila standar
deviasi dan nilai audit pada PT XYZ adalah Rp 110.000,00, maka A akan menjadi Rp
46. 197.000,00 yang ternyata lebih besae dari A yang ditetapkan yaitu sebesar Rp
42.000.000,00. Dalam situasi demikian, auditor menghitung cadangan risiko
sampling dicapai setelah disesuaikan dengan rumus dibawah ini (SD adalah salah
saji bisa ditoleransi yang ditetapkan dalam rencana sampling):
A'
A = A + SD(1 A )
A adalah Rp 40. 197.000,00 yang merupakan hasil dari perhitungan sebagai
berikut:
A

= Rp46.197.000,00 + Rp60.000.000,00 (1

Rp 46.197 .000,00
Rp 42.000 .000,00 )

= Rp40.197.000,00
Perhatikan bahwa A, Rp40.197.000,00, adalah lebih kecil daripada A,
Rp42.000.000,00. Oleh karena itu A menjadi pengganti A dalam rumus yang
digunakan untuk menghitung rentang taksiran nilai populasi. Dengan menggunakan
A, maka taksiran rentang populasi adalah Rp 1.366.000.000,00 +/- Rp. 40.19.000,00
atau Rp l.2.803.000,00 sampai Rp 1.366.197.000,00. Oleh karena nilai buku sebesar
Rp 1.340.000.000,00 jatuh pada rentang di atas, maka hasil sampel menunjukkan
bahwa nilai buku pada tingkat risiko keliru menerima yang direncanakan tidak salah
saji secara material.
Nilai buku bisa berada di luar rentang karena cadangan risiko sampling yang
dicapai jauh lebih kecil dari cadangan yang direncanakan. Apabila hal ini terjadi,
maka auditor (1) menghitung selisih antara nilai buku dengan rentang terjauh, dan (2)
membandingkan selisih dengan SD. Apabila selisih sama dengan atau kurang dari

SD, maka hasil sampel menunjukkan bahwa nilai buku tidak salah saji secara
material. Sebagai contoh, apabila cadangan yang dicapai pada kasus PT XYZ adalah
Rp12.000.000,00, rentang menjadi, Rpl.314.000.000,00 sampai Rp1.338.000.000,00
dan nilai buku (Rpl.340.000.000,00) berada di luar interval presisi. Selisih antara nilai
buku dengan rentang terjauh adalah Rp26.000.000.00 (Rpl. .340.000.000,00
Rp1.314.000.000,00).

Oleh

karena

angka

ini

lebih

kecil

daripada

SD

(Rp60.000.00000) maka nilai buku didukung.


Penilaian Kualitatif. Sebelum sampai pada kesimpulan menyeluruh, auditor.
harus melakukan penilaian atas aspek kualitatif dari hasil sampel. Penilaian ini sama
seperti yang dilakukan dalam sampling PPU.
Pengambilan Kesimpulan Secara Keseluruhan. Apabila penilaian auditor
atas hasil sampel, baik secara kuantitatif maupun kualitatif mendukung kesimpulan
bahwa populasi salah saji secara material, maka pertimbangan profesional harus
digunakan untuk memutuskan tindakan yang tepat. Kemungkinan penyebab dari
tindakan yang diambil adalah sebagai berikut:
Tindakan
1. Sampel tidak mencerminkan populasi Perluas sampel dan evaluasi kembali
hasilnya
2. Cadangan untuk risiko sampling yang Sama seperti atas
dicapai mungkin lebih besar daripada
cadangan yang diinginkan karena
ukuran sampel terlalu kecil
3. Nilai buku populasi mungkin salah Klien diminta untuk melakukan
saji dalam jumlah melebihi salah saji penyelidikan dan bila perlu melakukan
bisa ditoleransi
penyesuaian atas nilai buku dan
mengevaluasi kembali hasil sampel
Gambar 11-9 meringkas tahapan-tahapan yang dilakukan dalam perancangan,
pelaksanaan, dan evaluasi rencana sampling MPU untuk menguji piutang pinjaman
pada PT XYY, dan memberi ilustrasi bagaimana langkah-langkah tersebut
didokumentasi dalam kertas kerja.
ESTIMASI SELISIH
Dalam sampling estimasi selisih, selisih antara nilai audit dan nilai buku
dihitung untuk setiap unsur sampel. Selanjutnya rata-rata selisih digunakan untuk

menaksir nilai total populasi, dan variabilitas selisih digunakan dalam penentuan
cadangan risiko sampling yang dicapai. Berikut adalah tiga kondisi yang harus
dipenuhi dalam penggunaan tehnik ini:

Nilal buku setiap unsur populasi harus diketahui.


Total nilai buku populasi harus diketahui dan sama dengan hasil penjumlahan

nilai-nilai buku dari unsur-unsur individual.


Selisih nilai buku dan nilai audit diperkirakan tidak sedikit.
Seperti telah dijelaskan di atas, perhitungan cadangan untuk risiko sampling

dalam estimasi selisih didasarkan pada variabilitas selisih dalam sampel. Tanpa
adanya selisih dalam jumlah yang cukup, ukuran variabilitas menjadi tidak bisa
dipercaya. Dalam ilmu statistik, minimum jumlah selisih yang diperlukan untuk
menjamin keandalan berkisar antara 20 sampai 50.
Tahapan-tahapan dalam melaksanakan estimasi selisih akan dijelaskan dalam
uraian di bawah ini. Dalam uraian tersebut, kasus PT XYZ akan digunakan lagi agar
dapat dilihat kesamaan dan perbedaan antara tehnik MPU dengan tehnik estimasi
selisih.
Meneneukan Tujuan dan Merumuskan Popuasi dan Unit Sampel
Di atas telah dijelaskan bahwa dalam metoda estimasi selisih, nilai buku harus
diketahui. Oleh karena itu metoda ini hanya dapat digunakan untuk mendapatkan
bukti bahwa saldo menurut pembukuan tidak salah saji secara material. Hal-hal lain
yang relevan untuk tahap ini, sama dengan sampling MPU. Oleh karena itu, asumsiasumsi berikut yang digunakan dalam ilustrasi sampling MPU untuk PT XYZ akan
dilanjutkan: (1) populasi 3.000 piutang pinjaman, (2) nilai buku populasi
Rpl.340.000.000,00, dan (3) unit sampling = piutang-piutang pinjaman individual.
Menentukan Ukuran Sampel
Faktor-faktor yang sama yang diperlukan dalam penentuan ukuran sampel
untuk MPU juga berlaku pada estimasi selisih, dengan satu perkecualian yaitu bahwa
dalam estimasi selisih tidak hanya digunakan estimasi standar deviasi nilai audit saja.
tetapi juga estimasi standar deviasi mengenai selisih antara nilai audit dengan nilai
buku. Auditor bisa mendasarkan estimasinya pada hasil sampel tahun lalu atau pada
selisih yang ditemukan pada sampel awal dalam audit tahun ini. Seperti telah

disebutkan di atas, estimasi bisa tidak dapat dipercaya apabila didasarkan pada selisih
yang terlalu sedikit.
Rumus yang digunakan untuk menghitung standar deviasi dan ukuran sampel
dalam metoda MPU perlu diubah. Rumus standar deviasi (di halaman...) perlu diubah
simbolnya menjadi sebagai berikut:

SdJ (estimasi standar deviasi selisih populasi) sebagai pengganti.


dj (selisih antara nilai audit dan nilai buku untuk unsur-unsur sampel

individual) sebagai pengganti xj.


d (mean dari selisih antara nilai audit dan nilai buku untuk unsur-unsur
sampel) sebagai pengganti

x .

Dalam rumus ukuran sampel (halaman 470), Sxj diganti dengan Sdj.
Untuk PT XYZ, auditor menaksir bahwa SdJ adalah Rp70.000,00. Asumsi
lain sama dengan asumsi yang digunakan dalam MPU, yaitu N = 3.000, SD =
Rp60.000.000,00, risiko keliru menolak = 0,05 (UR = 1,96), risiko keliru menerima =
0,20, dan A = Rp42.000.000,00. Oleh karena itu, ukuran sampel adalah 96 unsur yang
dihitung dengan cara sebagaI berikut:
( N.UR. Sdj N2 (3.000x1,96xRp70.0002
n=i I = 1 =96
A Rp42.000.000
Perhatikan bahwa bila dibandingkan dengan MPU yang ukuran sampelnya
196, ukuran sampel di atas jauh lebih kedil. Hal mi disebabkan karena estimasi
standar deviasi untuk selisih antara nilai audit dengan nilai buku (Rp70.000,00)
adalah lebih kecil daripada estimasi standar deviasi untuk nilal audit yang digunakan
dalarn contoh MPU (RplOO.000,00). Dalam contoh mi, penyesuaian ukuran sampel
dengan suatu faktor koreksi terbatas tidak diperlukan karena n/N lebih kecil dan
0.05 (96: 3.000 = 0,032).
Menentukan Metoda Pemilihan Sampel
Pelaksanaan tahap ml persis sarna dengan apa yang dilakukan pada estimasi
MPU.

Melaksanakan Rencana Sampling


Langkah pertama dalam melaksanakan rencana sampling adalah menentukan
nilai audit untuk setiap unsur sampel. Hal mi sama dengan apa yang dilakukan pada
sampling MPU. akan tetapi perlu dilakukan langkah-Iangkah berikut:
n=

N . U R . Sd
A

3.000 x 1,96 x Rp70.000


Rp 42.000.000

=96

Perhatikan bahwa bila dibandingkan dengan MPU yang ukuran sampelnya


196, ukuran sampel di atas jauh lebih kedil. Hal ini disebabkan karena estimasi
standar deviasi untuk selisih antara nilai audit dengan nilai buku (Rp70.000,00)
adalah lebih kecil daripada estimasi standar deviasi untuk nilai audit yang digunakan
dalam contoh MPU (Rpl00.000,00). Dalam contoh ini, penyesuaian ukuran sampel
dengan suatu faktor koreksi terbatas tidak diperlukan karena n/N lebih kecil dari 0.05
(96: 3.000 = 0,032).
Menentukan Metoda Pemilihan Sampel
Pelaksanaan tahap ini persis sama dengan apa yang dilakukan pada estimasi
MPU.
Melaksanakan Rencana Sampling
Langkah pertama dalam melaksanakan rencana sampling adalah menentukan
nilai audit untuk setiap unsur sampel. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan pada
sampling MPU. akan tetapi perlu dilakukan langkah-langkah berikut:

Hitung selisih untuk setiap unsur sampel yaitu nilai audit dikurangi dengan
nilai buku Selisih ini bisa positif (nilai audit lebih besar dari nilai buku)
negatif (nilai audit lebih kecil dari nilai buku) atau nol nilai audit sama dengan
nilai buku) Selisih positif berarti bahwa nilai buku salah saji terlalu rendah,

dan selisih negatif berarti nilai buku salah saji terlalu tinggi.
Jumlahkan semua selisih unsur sampel individual ( dj )

Bagilah jumlah selisih dengan jumlah unsur di dalam sampel sehingga dapat

diketahui rerata (mean) dan selisih ( d ).

Hitung standar deviasi dan selisih sampel ().


Dalam kasus PT XYZ, hasil sampelnya adalah sebagai berikut:

dj

= Rp-480.000

= Rp-5.000

Sdj

= Rp68.000

Seperti halnya dalam sampling MPU, untuk memperoleh kesimpulan


menyeluruh mengenai hasil sampel, perlu dilakukan penilaian kuantitatif maupun
kualitatif.
Dalam melakukan penilaian kuantitatif pada metoda ini, pertama-tama
^
ditentukan estimasi total proyeksi selisih ( D ) dalam populasi sebagai berikut:
^
D =N x d
Dalam kasus PT XYZ, adalah:
^
D

= 3.000 x (-Rp5.000,00) = - Rp15.000.000,00

Tanda negatif menunjukkan bahwa proyeksi kekeliruan adalah salah saji


terlalu tinggi (nilai audit lebih kecil daripada nilai buku).
Selanjutnya estimasi total nilai populasi ditentukan dengan cara sebagai
berikut:
^
X

^
= NB + D

Dengan demikian estimasi total nilai populasi adalah:


^
X

= Rpl.340.000.000,00 + (-Rp15.000.000,00)
= Rpl.325.000.000,00

Langkah kedua dalam melakukan penilaian kuantitatif adalah menghitung


cadangan risiko sampling dicapai. Dalam melakukan perh tungan ini, standar deviasi
nilai audit (Sxj) harus diganti dengan standar deviasi untuk selisih sampel (Sdj). Oleh
karena faktor koreksi terbatas tidak digunakan dalam menentukan ukuran sampel
pada studi kasus ini, maka rumusnva meniadi;
Dengan demikian cadangan dicapai adalah:
Oleh karena A (Rp40.808.000,00) lebih kecil daripada A (Rp42.000.000,00),
maka A tidak perlu dihitung.

Langkah terakhir dalam penilaian kuantitatif adalah menghitung rentang


untuk taksiran nilal total populasi dan menentukan apakah nilai buku jatuh pada
rentang tersebut. Seperti halnya dalam sampling MPU, rentang adalah sama - dengan
^
X
A, sehingga rentang berada antara Rp1.284.192.000,00 sampai Rp
l.365.808.000,00. Oleh karena nilai buku jatuh pada rentang tersebut, maka penilaian
kuaititatif mendukung kesimpulan bahwa nilai buku tidak salah saji secara material.
Kesimpulan yang sama didukung oleh tehnik MPU.
Selanjutnya auditor melakukan penilaian kualitatif seperti dilakukan pada
tehnik MPU, sebelum ia mengambil kesimpulan secara keseluruhan. Gambar 11- 10
adalah contoh kertas kerja untuk rencana sampling dengan menggunakan estimasi
selisih.
ESTIMASI RASIO
Dalam sampling estimasi rasio, auditor menentukan nilai audit untuk setiap
unsur dalam sampel. Selanjutnya ia menghitung rasio dengan cara membagi jumlah
nilai-nilai audit dengan jumlah nilai buku unsur-unsur sampel. Rasio tersebut
kemudian dikalikan dengan total nilai buku sehingga dapat diperoleh taksiran nilai
total populasi. Setelah itu dihitung pula cadangan untuk risiko sampling berdasarkan
variabilitas antara nilai audit dengan nilai buku untuk unsur-unsur sampel individual.
Kondisi yang harus dipenuhi untuk menggunakan estimasi rasio sama dengan
kondisi untuk estimasi selisih yang diuraikan di atas. Pemilihan antara estimasi rasio
dengan estimasi selisih, terutama tergantung pada apakah terdapat korelasi antara
jumlah selisih-selisih individual dengan nilai bukunva. Apabila selisih proporsional
dengan nilai buku (artinva selisih bertambah besar jika nilai bukunya juga bertarnbah
besar), maka estimasi rasio akan membutuhkan sampel yang lebih kecil sehingga
akan lebih efisien. Untuk rnelaksanakan metoda estimasi rasio dan estimasi selisih,
auditor hisa menggunakan program komputer. Dengan menginput nilal buku dan nilai
audit untuk suatu sampel awal, auditor bisa menentukan ukuran sampel dengan cepat.
Selanjutnya auditor tinggal memilih metoda mana yang dipandang lebih efisien
sesuai dengan keadaan yang dihadapi.

Langkah-langkah dalarn estimasi rasio sama dengan langkah-langkah pada


estimasi selisih kecuali dalam beberapa hal yang akan diterangkan di bawah ini.
Melaksanakan Rencana sampel
Setelah auditor menentukan nilai audit untuk setiap unsur sampel, maka dalam
estimasi rasio perlu dilakukan hal-hal berikut:

Hitung rasio antara jumlah nilai audit dengan jurnlah nilai buku untuk unsur-

unsur sampel (R).


Hitung rasio antara nilai audit dengan nilai buku untuk setiap unsur.
Hitung standar deviasi untuk rasio individual dan unsur-unsur sampel (Srj).

Mengevaluasi Hasil Sampel


Dalam estimasi rasio, estimasi nilai total populasi ditentukan dengan rumus
berikut:
X =NB x R
Dalam kasus PT XYZ, apabila jumlah nilal audit dan jumlah nilai buku
masing-masing adalah Rp196.000.000,00 dan Rp200.000.000,00, maka factor R
adalah 98%, dan dengan demikian estimasi nilai populasi adalah Rpl..313.200.000,00
(Rpl.340.000,000,00 x 98%).
Rumus untuk menentukan cadangan untuk risiko sampling dicapai sama
dengan rumus pada estimasi selisih, kecuali standar deviasi selisih diganti dengan
standar deviasi untuk rasio individual dalam sampel. Perhitungan standar deviasi
rasio-rasio adalah perhitungan yang sangat rumit, sehingga dalam praktik hal ini
jarang dilakukan tanpa bantuan komputer. Oleh karena itu pula perhitungan secara
manual faktor ini tidak digambarkan di sini.
Setelah dihitung estimasi nilai total populasi dan cadangan untuk risiko
sampling yang dicapai, selanjutnva ditentukan rentang untuk estimasi nilai total
populasi. Tahap terakhir adalah melakukan penilaian kuantitatif dan penilaian
kualitatif terhadap hasil sampel sebagaimana dilakukan dalqm estmasi MPU dan
estimasi selisih.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMAKAIAN
SAMPLING VARIABLE

Audit Sampling Guide (him. 87) menunjukkan beberapa keuntungan dan


kerugian pemakaian sampling variabel.
Keuntungan yang pokok adalah:

Jika diperlukan, sampel mudah diperluas, bila dibandingan dengan sampling

PPU.
Saldo nol dan saldo tak biasa tidak memerlukan rancangan khusus.
Apabila terdapat perbedaan besar antara nilai audit dengan nilai buku, tujuan
auditor akan dapat terpenuhi dengan ukuran sampel yang kecil dibandingkan
dengan sampling PPU.
Kerugian yang utama adalah:

Sampling variabel klasik lebih kompleks daripada sampling PPU. Pada


umumnya auditor membutuhkan bantuan komputer untuk merancang sampel

yang efisien dan mengevaluasi hasil sampel.


Untuk menentukan ukuran sampel, auditor harus memiliki estimasi atas
standar deviasi dan berbagai karaktenistik dalam populasi.
Auditor

harus

melakukan

pertimbangan

profesional

pendekatan yang paling tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi.

dalam

memilih

SAMPLING NONSTATISTIK DALAM PENGUJIAN SUBSTANTIF


Seperti telah dijelaskan di atas, apabila dikehendaki auditor bisa memilih
untuk menggunakan sampling nonstatistik untuk pengujian substantif tertentu.
Perbedaan besar antara sampling statistik dan sampling nonstatistik adalah dalam
tahapan-tahapan penentuan ukuran sampel dan evaluasi atas hasil sampel. Tahapantahapan tersebut dalam sampling statistik umumnva lebih obyektif, sedangkan dalam
sampling nonstatistik lebih subyektif. Namun demikian dalam sampling statistik
masih tetap diperlukan pertimbangan subyektif, dan hubungan-hubungan tertentu
yang dipandang ekplisit di dalam sampling statistik bisa membantu dalam percangan
dan evaluasi sampling nonstatistik.
MENENTUKAN UKURAN SAMPEL
Pertimbangan yang cermat sangat diperlukan dalam perancangan sampel agar
dicapai sampel yang efisien dan efektif. Dalam sampling statistik hal ini dicapai
melalui penentuan faktor-faktor kunci secara eksplisit dan menghubungkan faktorfaktor tersebut dengan model matematis. Pertimbangan tentang faktor-faktor yang
sama dilakukan dalam sampling nonstatistik untuk mendapatkan sampel yang efisien
dan efektif, bahkan jika faktor-faktor tersebut tidak secara eksplisit dikuantifikasi.
Sebagai contoh, auditor harus mempertimbangkan hubungan-hubungan berikut:
Faktor
Ukuran popu1asi
Variasi dalam populasi
Salah saji ditoleransi
Salah saji diharapkan
Risiko keliru menerima
Risiko keliru menolak

Pengaruh atas Ukuran Sampel


Langsung
Langsung
Terbalik
Iangsung
Terbalik
Terbalik

Analisa subyektif yang cermat atas faktor-faktor tersebut dalam keadaan


tertentu yang dihadapi, ditambah dengan pengalaman dan pertimbangan auditor, akan
menghasilkan ukuran sampel yang lebih tepat dibandingkan dengan ukuran sampel
yang ditentukan secara sembarang. Agar dapat dilakukan evaluasi secara tepat atas
sampel yang ukurannya ditetapkan melalui pertimbangan subyektif, auditor bisa
menggunakan tabel statistik, walaupun hal itu tidak merupakan keharusan.
EVALUAS HASIL SAMPEL

Seperti halnva dalam sampling statistik. dalam sampling nonstatistik auditor


harus (1) memproyeksi salah saji yang dijumpai dalam sampel ke populasi, dan (2)
mempertimbangkan risiko sampling dalam mengevaluasi hasil sampel.
Ada dua metoda yang lazim digunakan untuk memproyeksi salah saji dalam
sampling nonstatistik. yaitu:

Membagi jumlah total rupiah salah saji dalam sampel dengan bagian dan total

rupiah dalam populasi yang termasuk dalam sampel.


Mengalikan rata-rata selisih antara nilai audit dengan nilai buku dan unsurunsur sampel dengan jumlah unit dalam populasi.
Sebagai contoh, misalkan data benikut iniu dijumpai dalam audit atas PT

Mutiara:
Jumlah unsur dalam populasi
Total nilai buku populasi
Jumlah unsur dalam sampel
Total nilai buku unsur-unsur sampel
Total nilai audit unsur-unsur sampel

250
Rp.800.000,00
100
Rp.32.000,00
Rp.33.600,00

Pada metoda pertama yang disebutkan di atas, proyeksi salah sail dihitung
sebagai berikut:
Dengan demikian kedua metoda di atas menghasilkan total proyeksi salah saji
sebesar Rp40.000,00. Oleh karena total nilai audit dan unsur-unsur sampel lebih besar
dri total nilai buku, maka proyeksi salah saji mencerminkan suatu salah saji terlalu
rendah dibandingkan dengan nilai populasi yang sesungguhnya.
Dalam sampling nonstatistik, auditor tidak dapat menghitung cadangan untuk
risiko sampling untuk tingkat risiko keliru menerima dan risiko keliru menolak
tertentu. Namun selisih antara proyeksi salah saji dan salah saji ditoleransi dapat
dipandang sebagai cadangan untuk risiko sampling. Apabila salah saji ditoleransi jauh
lebih besar daripada proyeksi salah saji, maka auditor bisa berkesimpulan bahwa
dengan risiko sampling rendah yang dapat diterima, salah saji sesungguhnva lebih
besar daripada salah saji ditoleransi. Sebagai contoh, apabila salah saji ditoleransi
pada PT Mutiara adalah Rp80.000,00, sedangkan proyeksi salah saji berdasarkan
sampel adalah Rp 40.000.00, maka terdapat kelonggaran Rp 40.000.00 bagi salah saji
sesungguhnva dalam populasi sebelum melebihi salah saji ditoleransi. Akan tetapi

jika salah saji ditoleransinya adalah Rp 42.000,00, maka antara salah saji ditoleransi
dan proveksi salah saji hanya terdapat selisih sebesar Rp 2.000.00. Dalam situasi
demikian, auditor akan berkesimpulan bahwa terdapat risiko sampling yang tinggi
bahwa salah saji sesungguhnva melebihi salah saji ditoleransi.
Perbandingan antara jumlah dan besarnya salah saji dalam sampel dengan
salah saji diharapkan juga berguna dalam menetapkan risiko sampling. Apabila
sampel telah dirancang dengan cermat dan jumlah serta besarnya salah saji yang
ditemukan tidak melampaui ekspektasi auditor, maka biasanya ia akan berkesimpulan
bahwa risiko salah saji sesungguhnya melebihi salah saji ditoleransi adalah rendah.
Apabila hasil sampel nonstatistik tidak menunjukkan tanda mendukung nilai
buku, maka auditor bisa(1) memeriksa tambahan unit sampel dan melakukan
evaluasi ulang, (2) menerapkan prosedur pengauditan alternatif dan melakukan
evaluasi ulang, atau (3) minta agar kilen melakukan investigasi dan bila diperlukan
melakukan penyesuaian. Seperti halnya dalam sampling statistik, sebelum sampai
pada pengambilan kesimpulan keseluruhan, auditor harus melakukan penilaian
kualitatif mengenai karakteristik salah saji.
RINGKASAN
Sampling audit sangat sering digunakan oleh auditor dalam pengujian
substantif. Baik sampling audit secara statistik maupun nonstatistik dapat memberi
kontribusi dalam upaya auditor mendapatkan bukti yang diperlukan sebagai dasar
yang layak untuk memberi pendapat. Pada tahun-tahun terakhir ini, penggunaan
sampling statistik, terutama model PPU, semakin banyak digunakan dalam praktik,
dan diperkirakan akan semakin banyak digunakan di masa datang.

PERTANYAAN REVIEW
11-1

a. Kapankah auditor dapat menerima adanya sejumlah ketidakpastian dalam


melaksanakan pengujian sustantif?
b. Seorang auditor berpendapat bahwa sampling audit dalam pengujian
substantif mengandung baik risiko sampling maupun risiko nonsampling.

11-2

Benarkah pendapat auditor tersebut Jelaskan?


a. Seorang akuntan yunior berkeyakinan bahwa risiko sampling untuk
pengujian substantif sama dengan risiko sampling untuk pengujian
pengendalian. Benarkah pendapat akuntan tersebut? Jelaskan.
b. Bagaimanakah hubungan antara komponen-komponen risiko sampling

11-3

dalam pengujian substantif dengan risiko deteksi?


a. Sebutkan dua pendekatan statistik yang bisa digunakan dalam pengujian
substantif.
b. Apakah perbedaan pokok antara kedua pendekatan tersebut?
c. Apakah kedua pendekatan tersebut bisa mernenuhi standar pekerjaan

11-4

lapangan ketiga?
a. Untuk masing-masing hal berikut, sebutkan pengaruhnya terhadap
pemilihan pendekatan sampling yang paling tepat: (1) unsur-unsur nilai
buku populasi, (2) jumlah unit dalam populasi, dan (3) variabilitas unsur
unsur populasi.
b. Apakah pengaruh ekspektasi auditor atas salah saji yang terdapat dalam

11-5
11-6

pemilihan suatu pendekatan sampling?


a. Sebutkan langkah-langkah dalam suatu sampling PPU?
b. Apakah tujuan rencana sampling PPU yang paling umum?
a. Bedakan antara unit sampling dengan unit sampling logis dalam suatu
sampling PPU.
b. Mengapa saldo nol dan saldo kredit dalam suatu rencana sampling PPU

11-7

membutuhkan pertimbangan khusus?


a. Bagaimanakah rumus untuk menghitung ukuran sampel dalam sampling
PPL?
b. Jelaskan setiap elemen dalam rumus tersebut dan bagaimana suatu
perubahan dalam elemen akan berpengaruh terhadap ukuran sampel,

11-8

dengan asumsi hal-hal lainnva tetap.


Apakah peran yang dimainkan oieh spesifikasi antisipasi salah saji dalam

11-9

merancang suatu sampel PPU?


Sebutkan tiga faktor yang dipertirnbangkan dalam mengevaluasi suatu sampel

PPU.
11-10 Sebutkan dua komponen dari cadangan untuk risiko sampling dalam sampel
PPU.
11-11 Jelaskan pengertian persentase pencemaran dan proyeksi salah saji dalam
kaitannya dengan unsur-unsur individual dalam suatu sampel PPU.
11-12 Sebutkan tiga tehnik sampling klasik yang digunakan dalam pengujian
substantif.
11-14 a. Sebutkan rumus unruk menentukan ukuran sampel dalam sutu rencana
sampling MPU.
b. Jelaskan tiap-tiap elemen dalam rumus tersebut.
c. Apakah perbedaan rumus untuk (1) estimasi selisih (2) estimasi rasio.
11-15 a. Bagaimana mengendalikan risiko keliru menerima dalam suatu rencana
sampling variabel kiasik?
b. Jelaskan tiga cara untuk mengestimasi standar deviasi untuk suatu rencana
sampling MPU.
11-16 Jelaskan peran hal-hal berikut dalam suatu rencana sampling variabel kiasik:
a. Cadangan risiko sampling direncanakan.
b. Cadangan risiko sampling dicapai.
c. Cadangan risiko sampling dicapai disesuaikan.
11-17 Alternati fapakah yang tersedia, apabila hasil sampel tidak mendukung nilai
buku?
11-18 a. Mengapa tehnik estimasi selisih dan estimasi rasio biasanya menghasilkan
sampel yang lebih efisien daripada estimasi MPU?
b. Jelaskan tehnik untuk menentukan estimasi total nilai populasi dengan (1)
sampling MPU, (2) estimasi selisih, dan (3) estimasi rasio.
11-19 Bagaimanakah perbedaan proses penentuan ukuran sampel dalam rencana
sampling statistik dengan rencana sampling nonstatistik untuk pengujian
substantif?
11-20 Jelaskan dua metoda yang biasa digunakan untuk memproyeksi salah saji yang
ditemukan dalam sampel nonstatistik?
PERTANYAAN PILIHAN GANDA
11-21 Auditor yang lebih menyukai untuk menggunakan sampling tatistik
dibandingkan dengan sampling non-statistik umumnya berpendapat bahwa
sampling statistik akan membantu auditor dalam:
A. Mengukur kecukupan bukti yang diperoleh.
B. Meniadakan subyektivitas dalam penilaian hasil sampel.

C. Mengurangi tingkat salah saji bisa ditoleransi ke jumlah yang relatif


rendah.
D. Meminimumkan kesalahan dalam mendeteksi salah saji material yang
disebabkan risiko nonsampling.
11-22 Risiko keliru menerima dan penentuan risiko pengendalian terlalu rendah
berkaitan dengan;
A. Estimasi awal tingkat materialitas.
B. Cadangan risiko salah saji bisa ditoleransi.
C. Efisiensi audit.
D. . Efektivitas audit.
11-23 Dalam mengaudit saldo rekening piutang dagang kliennya, Budi telah
memutuskan untuk menggunakan sampling probabilitas-proporsionaldengan
ukuran (PPU). Budi merencanakan untuk menggunakan tabel sampling PPU
berikut:
0
4.61
1
6.64
2
8.41
3
10.05
4
11.61
Informasi Tambahan

3.000
4.75
6.30
7.76
9.16

2.31
3.89
5.33
6.69
8.00

1.90
3.38
4.72
6.02
7.27

1.61
3.00
4.28
5.52
6.73

Salah saji bisa ditolrensi


(Bersih dari pengaruh salah saji diharapkan).

Rp. 24.000.0000.00

Risiko keliru menerima..................................................

5%

Jumlah piutang dagang menurut catatan........................ Rp. 240.000.000,00


Jumlah rekening.............................................................

360

Berapakah ukuran sampel yang harus digunakan Budi?


A. 120
B. 108
C. 60
D. 30
11-24 Sejumlah faktor mempengaruhi ukuran sampel untuk pengujian substantif detil
atas saldo rekening. Seandainya faktor-faktor lainnva sama, manakah dari halhal berikut yang akan mengakibatkan ukuran sampel yang lebih besar?
A. Risiko deteksi yang lebih besar.
B. Pengandalan yang lebih besar pada prosedur analitis.

C. Frekuensi salah saji diharapkan yang lebih kecil.


D. Ukuran salah saji ditoleransi yang lebih kecil
11-25 Manakah dari pernyataan-pernyataan tentang penggunaan sampling statistik
oleh auditor berikut yang benar?
A. Untuk menggunakan sampling variabel klasik, auditor perlu menaksir
jumlah rupiah standar deviasi dan populasi.
B. Salah satu asumsi dan sampling PPU adalah bahwa populasi berdisthbusi
normal.
C. Sampel vaniabel klasik perlu dirancang dengan pertimbangan khusus untuk
mengikut sertakan saldo-saldo negatif dalam sampel.
D. Pemilihan saldo-saldo nol biasanya memerlukan pemakaian sampling PPU.
11-26 Sampling audit dalam pengujian substantif bisa digunakan untuk masingmasing tujuan berikut, KECUALI untuk:
A.
B.
C.
D.

Mendapatkan informasi tentang kebenaran jumlah rupiah.


Menguji apakah saldo sebuah rekening telah disajikan secara wajar.
Membuat estimasi secara independen mengenai jumlah-jumlah.
Mengestimasi tingkat deviasi dari suatu prosedur pengendalian yang telah

ditetapkan.
11-27 Pendekatan sampling yang paling baik digunakan untuk menaksir jumlah
rupiah salah saji dalam suatu populasi apabila diperkirakan hanya terdapat
sedikit salah saji terlalu tinggi adalah :
A. Sampling atribut.
B. Sampling PPU.
C. Sampling MPU (Mean-per-unit)
D. Sampling estimas selisih.
11-28 Sampling PPU paling baik digunakan untuk menguji kewajaran saldo per buku
untuk:
A. Piutang dagang apabila pengkreditan yang tidak dikerjakan tidaklah
signifikan.
B. Pengujian harga persediaan apabila auditor mengantisipasi banyak selisih.
C. Utang dagang, tidak termasuk rekening-rekening yang bersaldo nol.
D. Aktiva tetap apabila saldo per buku tidak menunjukkan tambahan selama
tahun buku yang bersangkutan.
11-28 Faktor-faktor yang relevan dalam memilih antara sampling MPU. Estimasi
selisih, atau sampling rasio meliputi hal-hal di bawah ini KECUALI:
A. Kemampuan untuk merancang sampel berstrarifikasi.
B. Jumlah selisih diharapkan antara nilai audit dengan nili buku.

C. Tersedianya suatu estimasi mengenai standar deviasi yang tepat.


D. Kemampuan untuk mendapatkan nilai buku untuk setiap unsur sampel.
11-30 Dalam sampling variabel kiasik, penentuan cadangan risiko sampling
direncanakan meliputi semua faktor di bawah ini, KECUALI:
A. Risiko keliru menolak yang ditetapkan.
B. Risiko keliru menerima yang ditetapkan.
C. Salah saji ditoleransi.
D. Estimasi standar deviasi populasi.
11-31 Dalam menentukan risiko keliru menolak pada suatu rencana sampling MPU,
auditor harus ingat bahwa:
A. Penetapan risiko yang rendah akan mengakibatkan ukuran sampel awal
yang lebih kecil.
B. Tingkat risiko yang ditetapkan harus seimbang dengan biaya yang
berkaitan dengan sampel awal serta biaya potensial yang muncul jika
terjadi perluasan sampel.
C. Risiko bisa ditetapkan serendah mungkin karena prosedur audit pada
akhirnya akan berkesimpulan bahwa saldo tidak salah saji secara material
D. Ini merupakan risiko yang paling penting bagi auditor untuk pengendalian.
11-32 Risiko keliru menerirna dalam suatu rencana sampling variabel klasik adalah:
A.
B.
C.
D.

Langsung berhubungan dengan ukuran sampel.


Biasanya ditetapkan dalam rentang dari 5% sampai 30%.
Tidak berhubungan dengan risiko pengendalian yang ditetapkan auditor.
Berhubungan terbalik dengan risiko bahwa hasil sampel akan mendukung
kesimpulan bahwa nilai per buku tidak salah Saji secara material padahal

sesungguhnya telah salah saji secara material.


11-33 Dalam sampling variabel klasik, manakah dari hal-hal berikut ini yang harus
diketahui dalam penentuan ukuran sampel yang tepat agar memenuhi
kebutuhan auditor dalam situasi tertentu?
A. Jumlah total populasi.
B. Standar deviasi yang diinginkan.
C. Risiko keliru menerima yang diinginkan.
D. Estimasi tingkat deviasi populasi.
11-34 Risiko bahwa bukti statistik dari suatu sampel akan gagal dalam mendukung
kesimpulan bahwa suatu saldo rekening salah saji secara material padahal

rekening telah disajikan secara wajar disebut:


A. Risiko keliru menerima.
B. Risiko keliru menolak.
C. Risiko akhir.
D. Risiko sampling.
Pertanyaan 11-35 sampai 11-37 didasarkan pada informasi berikut:
Seorang partner pada suatu kantor akuntan publik sedang merancang suatu
program pelatihan di kantornya agar para staf di kantor tersebut mengenal
model keputusan statistik untuk diterapkan pada audit atas nilai rupiah saldosaldo. Partner tersebut ingin mendemonstrasikan hubungan antara ukuran
sampel dengan ukuran populasi dan variabilitas serta penetapan risiko
sampling yang dibuat auditor. Partner tersebut telah membuat tabel berikut
yang menunjukkan karakteristik populasi komparatif dan spesifikasi audit dari
dua populasi.
Hubungan karakteristik
populasi 1 dengan populasi

Kasus 1
Kasus 2
Kasus 3

Ukuran

Variabilitas

Sama
Sama
Lebih besar

Sama
Lebih Besar
Sama

Spesifikasi audit pada


sampel dari populasi 3
dibandingkan dengan
populasi 2
Risiko keliru
menolak
ditetapkan
Sama
Lebih Rendah
Lebih Besar
Sama
Lebih Kecil Lebih Tinggi

Dalam setiap unsur pada pertanyaan 11-35 sampai 11-37, berdasarkan tabel di
atas. Saudara diminta menyebutkan ukuran sampel yang diperlukan untuk
setiap kasus di atas dari populasi 1 dalam hubungannya dengan sampel dari
populasi 2.
Jawaban Saudara harus dipilih dari alternatif berikut:
A. Lebih besar dari yang diminta ukuran sampel dari populasi 2.
B. Sama dengan ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
C. Lebih kecil dari ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
D. Tidak ditentukan oleh ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.

11-35 Dalam kasus 1, ukuran sampel yang diminta dari populasi 1 adalah:
A. Lebih besar dari yang diminta ukuran sampel dari populasi 2.
B. Sama dengan ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
C. Lebih kecil dari ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
D. Tidak ditentukan oleh ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
11-36 Dalam kasus 2, ukuran sampel yang diminta dari populasi 1 adalah:
A. Lebih besar dari yang diminta ukuran sampel dari populasi 2.
B. Sama dengan ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
C. Lebih kecil dari ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
D. Tidak ditentukan oleh ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
11-37 Dalam kasus 3, ukuran sampel yang diminta dari populasi 1 adalah:
A. Lebih besar dari yang diminta ukuran sampel dari populasi 2.
B. Sama dengan ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
C. Lebih kecil dari ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
D. Tidak ditentukan oleh ukuran sampel yang diminta dari populasi 2.
11-38 Dalarn estimasi selisih, hasil sampel mendukung kesimpulan bahwa buku
tidak salah saji secara material apabila nilai buku jatuh pada rentang estimasi
nilai total populasi ditambah dan dikurangi:
A. Selisih total estimasi.
B. Salah saji ditoleransi.
C. Cadangan risiko sampling direncanakan.
D. Cadangan risiko sampling dicapai.
11-39 Pemakaian tehnik sampling estimasi rasio untuk menaksir jumlah rupiah tidak
tepat apabila:
A. Total nilai buku diketahui dan sesuai dengan penjumlahan dari seluruh
nilai buku individual.
B. Nilai buku untuk setiap unsur sampel tidak diketahui.
C. Terdapat selisih antara nilai audit dengan nilai buku.
D. Selisih antara nilai audit dengan nilai buku unsur-unsur sampel hampir
proporsienal dengan nilai buku.
11-40 Pada saat mengevaluasi hasil sampel nonstatistik, auditor bisa melakukan
semua hal di bawah ini KECUALI:
A. Memproyeksi salah saji yang ditemukan dalam sampel ke populasi.
B. Mempertimbangkan jumlah dan ukuran salah saji yang ditemukan dalam

hubungannya dengan salah saji diharapkan.


C. Mengkuantifikasi risiko sampling sesuai dengan hasil sampling.
D. Memandang selisih antara proyeksi salah saji dan salah saji ditoleransi
sebagai suatu cadangan risiko sampling.
PERTANYAAN KOMPREHENSIF
11-41 (Sampling PPU) Edi bermaksud untuk menggunakan sampling probabilitasproporsional-dengan-ukuran (PPU), dalam audit atas saldo piutang dagang
kliennya. Kalaupun ada, diperkirakan hanya terdapat sedikit kekeiruan salah
saji terlalu tinggi.
Edi merencanakan untuk menggunakan tabel sampling PPU berikut:
Faktor Keandalan untuk Salah Saji Terlalu Tinggi 5%
Jumlah Salah Saji
Terlalu Tinggi
0
2
2
3
4
Diminta:

1%
4.61
6.64
8.41
10.05
11.61

Risiko Keliru Menerima


5%
10%
15%
3.00
2.31
1.90
4.75
3.89
3.38
6.30
5.00
4.72
7.76
6.69
6.02
9.16
8.00
7.27

20%
1.61
3.00
4.28
5.52
6.73

a. Sebutkan keuntungan pemakaian sampling PPU dibandingkan dengan


pemakaian sampling variabel kiasik. =
b. Hitungiah interval sampling dari ukuran sampel yang harus digunakan Edi
berdasarkan infiormasi berikut:
Salah saji
ditoleransi ....................................................................

Rp15.000.000,00

Risiko keliru menerima ...............................................

5%

Jumlah salah saji diijinkan ...........................................

Jumlah piutang dagang menurut buku .........................

Rp300.000.000,00

c. Hitunglah total proyeksi salah saji apabila tiga salah saji berikut ditemukan
dalam suatu sampel PPU:

Jumlah Per
Buku

Jumlah Per
Audit

Interval
Sampling

Salah saji #1
Rp. 400.000
Rp. 320.000
Rp. 1.000.000
Salah saji #2
500.000
0
1.000.000
Salah saji #3
3.000.000
2.500.000
1.000.000
11-42 (Sampling PPU) Dalam mengaudit laporan keuangan PT Larantuka untuk
tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2001, auditor menggunakan
sampling PPU untuk menguji penilaian atas persediaan fisik. Nilai buku
persediaan adalah Rp500.000.000,00 yang merupakan kumpulan dari 2.000
voucher. Maksimum salah saji bisa ditoleransi (atau tingkat materialitas)
ditetapkan sebesar Rp25.000.000,00 dan auditor memutuskan risiko keliru
menerima sebesar 10%. Dengan hal-hal tersebut, auditor siap untuk
merancang spesifikasi sampel.
Pengujian menemukan adanva sebuah voucher yang dalam pembukuan
tercatat dengan jumlah Rp500.000,00, tetapi hasil audit menunjukkan jumlah
Rp.100.000,00. Tidak ditemukan salah saji lainya.
Diminta:
a. Berapakah ukuran sampel dan interval sampling yang digunakan oleh
auditor?
b. b.Dengan asumsi bahwa auditor menarik kesimpulan berdasarkan data
yang disajikan di atas, bagaimanakah kesimpulan yang dinyatakannva?
c. Berilah kritik atas rencana sampling yang dilakukan auditor, dan jelaskan
tindakan apa yang harus dilakukan auditor berdasarkan hasil sampel.
d. Apakah keuntungan penggunaan sampling MPU sebagai suatu alat dalam
audit?
11-43 (Sampling PPU) Anda telah selesai melakukan pengujian harga persediaan
pada perusahaan komputer Andika per 31 Desember 2001 dengan
menggunakan tencana sampling PPU. Rancangan sampel dalam pengujian
yang Anda lakukan atas persediaan yang bernilai buku Rp4.000.000.000,00
adalah risiko keliru menerima sebesar 15% dan salah saji ditoleransi sebesar
Rp300.000.000,00. Menurut perkiraan Anda, salah saji dalam persediaan tidak
akan melebihi Rp40.000.000,00 karena pengendalian intern dalam perusahaan
tersebut sangat baik.
Diminta:
a. Berapakah ukuran sampel yang seharusnya telah Anda periksa?

b. Berapakah sampling intervalnya?


c. Apabila Anda berasumsi tidak ada salah saji yang ditemukan dalam
sampel, apakah kesimpulan Anda (nyatakan setepat mungkin)?
d. Apabila Anda berasumsi bahwa sampel rnenghasilkan salah saji diproyeksi
sebesar Rp39.800.000,00 dan cadangan kenaikan risiko sampling sebesar
Rp19.500.000,00, apakah kesimpulan yang bisa Anda tarik dari sampel?
11-44 (Evaluasi atas suatu sampel PPU) Misalkan salah saji berikut ini ditemukan
dalam suatu sampel PPU:
Unsur Sampel
1
2
3
4
5
Diminta:

Nilai Buku
Rp. 650.000
540.000
1.900.000
2.200.000
2.800.000

Nilai Audit
Rp. 585.000
0
0
1.650.000
2.660.000

a. Hitunglah proyeksi salah saji fengan asumsi:


1. Interval sampling adalah Rp 1 .00.000,00
2. Interval sampling ada;ah Rp 2 .000.000,00
b. Apabila risiko keliru menerima dalam rancangan sampel ditetapkan 15%,
interval sampling Rp2.000.000,00, dari lima salah saji ditemukan seperti
nampak dalam tabel di atas, hitunglah:
1. Presisi dasar.
2. Kenaikan cadangan risiko sampling:
3. Batas atas salah saji.
c. Apabila salah saji ditoleransi adalab Rp50.000.000,00 dan antisipasi salalh
saji adalah Rp l0.000.000,00, apakah kesimpulan yang akan Anda buat
berdasarkan hasil (b) di atas?
11-45 (Sampling PPU) Anda telah memutuskan untuk menggunakan sampling
statistik guna menguji kewajaran nilai buku piutang dagang pada PT
Parangtritis. Oleh karena pengendalian intern atas piutang dagang pada
perusahaan tersebut sangat baik dan Anda berkeyakinan hanya akan
menemukan sedikit salah saji, maka Anda memutuskan untuk menggunakan
sampling PPU. Perusahaan tersebut memiliki 4.000 rekening piutang
pelanggan dengan total nilai buku sebesar Rp3.000.000.000,00. Anda
menutuskan maksimurn salah saji bisa ditoleransi sebesar Rp150.900.000,00

dan mengantisipasi kemungkinan salah saji dalam populasi sebesar


Rp30.000.000,00. Anda bermaksud untuk membatasi risiko keliru menerima
sebesar 10%. Anda juga bermaksud untuk memasukkan konfirmasi positif
dalam sampel Anda dan menerapkan prosedur alternatif atas rekeningrekening yang tidak memberi jawaban atas konfirmasi.
Diminta:
a. Hitunglah ukuran sampel.
b. Hitunglah interval sampel.
c. Dengan asumsi ditemukan salah saji berikut dalam sampel:
Unsur Sampel
1
2
3
4
Hitunglah:

Nilai Buku
Rp. 800.000
1.500.000
13.000.000
15.000.000

Nilai Audit
Rp.
0
1.350.000
0
14.250.000

1. Proyeksi salah saji.


2. Cadangan risiko sampling.
3. Batas atas salah saji.
d. Bagaimanakah kesimpulan Anda berdasarkan hasil di atas?
11-46 (Sampling MPU) Seorang kontraktor memiliki 1.520 buah rumah yang
dibangunnva di berbagai provinsi. Dari sampel awal yang ditarik secara acak
pada 50 buah rumah, Anda menetapkan estimasi standar deviasi populasi
sebesar Rp2.000.000,00. Atas dasar risiko audit dan faktor-faktor lainnya,
Anda

menetapkan

cadangan

risiko

sampling

diinginkan

sebesar

Rp250.000.000,00 dan risiko keliru menolak diinginkan sebesar 10%.


Diminta:
a. Tentukan ukuran sampel, dengan asumsi sampling MPU dengan
penggantian.
b. Akan menjadi berapakah ukuran sampel, apabila standar deviasi dinaikkan
menjadi Rp2.500.000,00.
c. Dengan asumsi auditor memilih untuk membatasi ukuran sampel menjadi
325 untuk menghemat biaya, berapakah risiko keliru menolak yang bisa
dicapai

apabila

cadangan

risiko

sampling

diinginkan

tetap

Rp250.000.000,00 dan standar deviasi tetap Rp2.000.000,00


d. Berapakah cadangan risiko sampling, apabila risiko keliru menolak

ditetapkan 10% dan ukuran sampelnya 325.


e. Sama dengan permintaan dalam (a) di atas, tetapi sampling dilakukan
tanpa penggantian.
11-47 (Risiko sampling dalam rencana sampling klasik) Pertanyaan-pertanyaan
berikut dirancang untuk menguji pemahaman Anda tentang risiko sampling
dalam rencana sampling variabel klasik.
Diminta:
a. Apakah ukuran sampel akan menjadi lebih besar atau menjadi lebih keci
apabila risiko pengendalian diubah dan 10% menjadi 50 sedangkan faktorfaktbr lainnva tetap tidak berubah.
b. Apakah ukuran sampel akan menjadi lebih besar atau menjadi lebih kecil
apabila Anda mengubah risiko keliru menerima dan 20% menjadi 15.
c. Apabila Anda menghendaki risiko keliru menolak sebesar 10% dan risiko
keliru menenima sebesar 20%, berapakah besarnya cadangan risiko
sampling direncanakan apahila salah Saji (litoleransi (htetapkafl
d. Rp I 0O.000.000,()O.
e. d. Apabihi ca1angan riik( ) sanp1ing dRq)ai 1hih besar dauipada adangan
direncanakan maka risiko keliru menerima sesungguhnva (lebih hesat
Iebih kecil) clan risiko clinencanakan
f. e. Dengan asumsi salab saji ditoleransi Rp200.000.000,00, risiko keliru
menolak 10% dan risiko keliru menerima 20%, dan cadangan risiko
sampling dicapai Rp160.000.000,00, hitunglah cadangan risiko sampling
dicapai yang telah disesualkan.
11-48 (Sampling MPU) Data yang berhubungan dengan audit atas piutang dagang
dua klien Anda per 31. Desember 2001 disajikan dalam tabel berikut:
Nilai buku menurut klien
Ukuran populasi
Risiko keliru menerima diinginkan
Risiko keliru menolak diinginkan
Salah saji dotoleransi
Estimasi standar deviasi
Diminta:

Persuhaan X
Rp. 90.000.000
1.000
20%
10%
Rp. 9.000.000
Rp.50.000

Peruhsaan Y
Rp. 200.000.000
2.000
30%
5%
Rp.10.000.000
Rp.25.000

a. Tentukan ukuran sampel untuk setiap perusahaan dengan menggunakan


metoda sampling MPU.
b. Dengan asumsi total

nilai

audit

untuk

perusahaan

adalah

Rp13.600.000,00 dan standar deviasi Rp52.000,00, lakukan pennaian atas


hasil sampel.
c. Dengan asumsi nilai audit sampel rata-rata dalam sampel perusahaan Y
adalah Rp90.000,00 dan standar deviasi Rp30.000,00, lakukan penilaian
atas hasil sampel.
11-49 (Sampling estimasi selisih) Data berikut berkaitan dengan rencana sampling
estimasi selisih untuk PT KIA:
1. Tujuannva untuk menentukan apakah nilai buku telah disajikan secara
vajar.
2. Populasi terdiri dari 1.000 rekening pelanggan.
3. Nilai buku piutang dagang per 31 Desember

2001

adalah

Rp2.750.000.000,00
4. Estimasi standar deviasi awal selisih yang digunakan untuk menentukan
ukuran sampel adalah Rp150.000.00.
5. Salah saji ditoleransi adalah Rp 150.000.000,00.
6. Risiko audit keseluruhan adalah 5%.
7. Risiko keliru menolak 5%.
8. Risiko keliru menerima 25%.
9. Ukuran sampel adalah 112.
10. Nilai audit dad unsur-unsur sampel adalah Rp76.440.000,00 dan nilai
bukunya Rp77.000.000,00.
11. Standar deviasi selisih sampel adalah Rp160.000,00.
Diminta:
a. Periksalah ukuran sampel sebagaimana disebutkan dalam butir 9 di atas.
b. Hitunglah cadangan risiko sampling dicapai. Apakah ini konsisten dengan
risiko keliru menerima direncanakan? Mengapa? Jika tidak, hitunglah
cadangan disesuaikan.
c. Apakah nilai buku telah disajikan secara wajar? Jelaskan.
11-50 (Sampling variabel kiasik) PT Hardolin memiliki 2.500 rekening piutang
pinjaman dengan total nilal buku sebesar Rp975.000.000,00. Sebagai auditor
pada perusahaan tersebut, Marjono memilih sampel sebesar 250 rekening
untuk dicocokkan dengan dokumen pendukungnya. Rekening-rekening
tersebut memiliki nilai buku sebesar Rp97.500.000,00 sedangkan nilai
auditnya Rp95.000.000,00.
Diminta:
Hitunglah total estimasi nilai piutang pinjaman dengan menggunakan (a)

estimasi MPU, (b) estimasi selisih, dan (c) estimasi rasio.


11-51 (Sampling nonstatistik) Kantor Akuntan Drs. Warjono dan Rekan sedang
memeriksa persediaan pada PT Karimun, sebuah perusahaan spare parts
elektronik. Mereka telah melaksanakan prosedur-prosedur yang cukup
memuaskan mereka bahwa (1) printout komputer yang berisi daftar persediaan
pada tanggal akhir tahun disajikan secara unit menurut nomor stock dan nomor
lot-nva lengkap, (2) kuantitas yang dicantumkan adalah jumlah yang benar, (3)
hasil perkalian antara kuantitas dengan harga telah dilakukan dengan tepat. (4)
daftar tersebut telah ditotal (footed) dengan benar. dan (5) Jumlah total tersebut
cocok dengan saldo rekening persediaan di buku besar.
Padatahap berikutnva, auditor memutuskan untuk menggunakan sampel
nonstatistik untuk menguji harga persediaan. Mereka merencanakan untuk
melakukan pengujian dengan mengecek harga ke (1) faktur dari penjualan dan
(2) daftar harga terakhir yang diperoleh dari para pemasok. Persediaan akhir
terdiri dari 3.000 jenis barang dengan total nilai buku Rp 1 .900.000.000,00.
Untuk setiap jenis barang diselenggarakan catatan persediaan perpetual. Selain
itu, setiap jenis persediaan dilengkapi dengan label (inventory tag) yang
rnenunjukkan kuantitas yang ada pada akhir tahun.
Auditor berkeyakinan bahwa suatu salah saji sebesar Rp85.000.000,00 atau
lebih dalam saldo persediaan, apabila digabungkan dengan saiah saji dalam
rekening lain akan berakibat salah saji material dalam laporan Keuangan.
Diminta:
a. Berkaitan dengan komponen risiko audit manakah pengujian harga
persediaan?
b. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penentuan ukuran sampel dalam
kasus di atas.
c. Apakah yang bisa menjadi unit sampel dan bagaimanakah pemilihan unsur
sampelnva?
d. Misalkan suatu sampel tentang harga yang terdiri dari 100 unsur
persediaan telah diperiksa. Total nilai buku unsur-unsur tersebut adalah
Rp75.000.000,00. Delapan unsur dalam sampel salah harganya sehingga
unsur tersebut menjadi salah saji terlalu tinggi Rp4.800.000,00. Bagaimana

auditor akan menyimpulkan hasil sampel tersebut?