Anda di halaman 1dari 10

TRAUMA KANDUNG KEMIH DAN TRAUMA URETRA

I.

PENDAHULUAN
Trauma adalah

cedera

atau

rudapaksa

atau

kerugian

psikologis

atau

emosional (Dorland, 2002). Trauma dapat terjadi di seluruh bagian tubuh manusia, salah
satunya di saluran kemih. Saluran kemih dimulai dari sistem pelviko-kalises ginjal
ureter kandung kemih (buli-buli) hingga uretra yang akhirnya bermuara di meatus
II.

uretra eksterna (Moore,2009). Trauma dapat terjadi di uretra serta kandung kemih.
ETIOLOGI
Trauma Tumpul
Cedera yang terjadi dapat menghasilkan baik trauma kandung kemih (pecah) dan
patah tulang panggul (yang dapat menyebabkan perforasi kandung kemih). Dengan
demikian, sekitar 10% pasien dengan fraktur panggul juga memiliki cedera kandung
kemih yang signifikan. Sekitar 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur
pelvis (Purnomo,2011). Kecenderungan dari kandung kemih untuk mempertahankan
cedera berhubungan erat dengan derajat distensi pada saat trauma. Pukulan tumpul
pada perut, seperti dengan pukulan atau tendangan, dapat menyebabkan rupturnya
kandung kemih (Purnomo,2011).
Trauma tumpul pada uretra posterior terkait dengan peristiwa deselerasi besar seperti
jatuh dari beberapa jarak atau tabrakan kendaraan. Pasien-pasien ini paling sering
mengalami patah tulang panggul yang melibatkan panggul anterior. Trauma tumpul
pada uretra anterior sering disebabkan oleh pukulan ke segmen bulbar seperti terjadi
serangan langsung maupun tendangan ke perineum (Andrich et al,2007).
Trauma Penetratif
Terkena tembakan dan tusukan adalah contoh dari trauma penetratif. Seringkali,
pasien ini menimbulkan cedera bersamaan ke perut lainnya dan / atau organ panggul.
enembus trauma paling sering terjadi pada uretra penis. Etiologi termasuk tembakan
dan menusuk luka. Cedera iatrogenik ke uretra terjadi ketika kateterisasi uretra
menyebabkan mukosa cedera dengan jaringan parut dan pembentukan striktur.
Prosedur transurethral seperti reseksi tumor dan ureteroscopy juga dapat
menyebabkan trauma uretra (Andrich et al,2007).
Trauma Obstetrik dan Ginekologik

Selama persalinan lama atau persalinan forceps yang sulit, tekanan terus-menerus dari
kepala janin terhadap pubis ibu dapat menyebabkan kandung kemih nekrosis.
Laserasi langsung dari kandung kemih dilaporkan dalam 0,3% dari perempuan yang
menjalani sesar. Cedera kandung kemih mungkin terjadi selama histerektomi vaginal
atau abdominal.(Bultitude,2012)
Trauma Urologik
Perforasi kandung kemih selama biopsi kandung kemih, cystolitholapaxy, reseksi
transurethral dari prostat (TURP), atau reseksi transurethral dari tumor kandung
kemih (TURBT) yang tidak biasa. Insiden perforasi kandung kemih dengan kandung
kemih biopsi dilaporkan setinggi 36%.
Trauma Idiopatik
Pasien yang didiagnosis dengan alkoholisme dan individu yang sering menyerap
sejumlah besar cairan yang rentan terhadap cedera kandung kemih idiopatik. Adanya
daerah jaringan parut melemah dan rentan terhadap pecah. Dalam kasus yang
dilaporkan, semua pecah kandung kemih yang intraperitoneal. Jenis cedera dapat
terjadi dari kombinasi overdistensi kandung kemih dan trauma eksternal kecil.
(Bultitude,2012)
III.

EPIDEMIOLOGI
Frekuensi rupture kandung kemih bervariasi sesuai dengan mekanisme cedera,
sebagai berikut: trauma eksternal (82%), iatrogenik (14%), intoksikasi (2,9%),
spontan (<1%). Sekitar 60% -85% dari ruptur kandung kemih disebabkan oleh trauma
tumpul, sementara 15% -40% berasal dari penetrasi cedera. (Cass et al,1987)
Mekanisme yang paling umum dari trauma tumpul yakni tabrakan kendaraan
bermotor (87%), jatuh (7%), dan penyerangan (6%). Dalam trauma penetratif,
penyebab paling sering adalah luka tembak (85%), diikuti oleh menusuk (15%).
Sekitar 10% -25% dari pasien dengan fraktur panggul juga memiliki trauma uretra.
(Brown et al,1998) Sebaliknya, 10% -29% dari pasien dengan gangguan posterior
uretra mengalami ruptur kandung kemih.
Ruptur uretra posterior sering disebabkan oleh fraktur panggul, dengan kejadian 5%
-10%. Dengan tingkat tahunan sebesar 20 patah tulang panggul per 100.000
penduduk.(Kommu et al,2007).
2

IV.

MANIFESTASI KLINIS
Setelah mengalami cedera pada abdomen sebelah bawah, pasien mengeluh nyeri di
daerah suprasimfisis, miksi bercampur, darah atau mungkin pasien tidak dapat miksi.
Gambaran klinis yang lain tergantung pada etiologi trauma, bagian buli-buli yang
mengalami cedera yaitu intra/ekstraperitoneal, adanya organ lain yang mengalami
cedera, serta penyulit yang terjadi akibat trauma.(Purnomo,2011) Dalam hal ini
mungkin didapatkan tanda fraktur pelvis, syok, hematoma perivesika, atau tampak tanda
sepsis dari suatu peritonitis atau abses perivesika. Tanda dan gejala yang ditunjukkan
adalah sebagai berikut :
a. Fraktur tulang pelvis disertai pendarahan hebat
b. Abdomen bagian tempat jejas / hemato
c. Tidak bisa buang air kecil, kadang keluar darah dari uretra
d. Nyeri suprapubik
e. Ketegangan otot dinding perut bawah
f. Trauma tulang panggul
Cedera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle
injury (cedera selangkangan) yaitu uretra tercepit diantara tulang pelvis dan benda
tumpul. Jenis kerusakan uretra yang terjadi berupa: kontusio dinding uretra, ruptur
parsial, atau ruptur total dinding uretra. Uretra anterior terbungkus di dalam korpus
spongiosum penis. Korpus spongiosum bersama dengan korpora kavernosa penis
dibungkus oleh fasia Buck dan fasia Colles.(Purnomo,2011) Jika terjadi ruptur uretra
beserta korpus spongiosum, darah dan urine keluar dari uretra tetapi masih terbatas pada
fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada penis. Namun jika
fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urine dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles
sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Oleh karena itu
robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly
hematoma atau hematoma kupu-kupu.(Purnomo,2011)

Pada kontusio uretra, pasien

mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria. Jika terdapat robekan pada

korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis atau hematoma kupu-kupu.
Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.(Purnomo,2011)

Gambar 1. Cedera selangkangan menyebabkan ruptura uretra pars bulbosa. B. Lapisan yang
membungkus uretra mulai dari korpus spongiosum (k.s), fasia Buck (fB), dan fasia Colles (fC). C
dan D. Robekan uretra dengan fasia Buck masih utuh menyebabkan hematom terbatas pada penis
(h.p)

E dan F

Robekan fasia Buck menyebabkan hematom meluas sampai ke skrotum sebagai

hematom kupu-kupu (h.k).

V.

PEMERIKSAAN FISIK
Ruptura uretra posterior seringkali memberikan gambaran yang khas berupa: (1)
perdarahan per-uretram, (2) retensi urine, dan (3) pada pemeriksaan colok dubur
4

didapatkan adanya floating prostate (prostat melayang) di dalam suatu hematom.


(Purnomo,2011) Pemeriksaan fisik abdomen bisa ditemukan distensi abdomen, rebound
tenderness. Tidak adanya bising usus dan tanda tanda iritasi peritoneal mengindikasikan
kemungkinan terjadinya ruptur buli buli intraperitoneal. Pemeriksaan rektal toucher
perlu dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan terjadinya cedera rektum, dan pada
pria perlu dilakukan untuk mengevaluasi posisi prostat. Apabila prostat mengalami
high riding atau sedikit elevasi, kecurigaan mengarah pada cedera urethra proksimal
yang disertai disrupsi buli buli.(Kim et al,2008)
VI.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan pencitraan berupa sistografi yaitu dengan memasukkan kontras ke
dalam buli-buli sebanyak 300-400 ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter
per-uretram. Kemudian dibuat beberapa foto, yaitu (1) foto pada saat buli-buli terisi
kontras dalam posisi anterior-posterior (AP), (2) pada posisi oblik, dan (3) wash out
film yaitu foto setelah kontras dikeluarkan dari buli-buli. (Purnomo,2011) Jika
didapatkan robekan pada buli-buli, terlihat ekstravasasi kontras di dalam rongga
perivesikal yang merupakan tanda adanya robekan ekstraperitoneal. Jika terdapat
kontras yang berada di sela-sela usus berarti ada robekan buli-buli intraperitoneal. Pada
perforasi yang kecil seringkali tidak tampak adanya ekstravasasi (negatif palsu)
terutama jika kontras yang dimasukkan kurang dari 250 ml. (Purnomo,2011) Sebelum
melakukan pemasangan kateter uretra, harus diyakinkan dahulu bahwa tidak ada
perdarahan yang keluar dari muara uretra. Keluarnya darah ari muara uretra merupakan
tanda dari cedera uretra. Jika diduga terdapat cedera pada saluran kemih bagian atas di
samping cedera pada buli-buli, sistografi dapat diperoleh melalui foto PIV.
(Purnomo,2011) Di daerah yang jauh dari pusat rujukan dan tidak ada sarana untuk
melakukan sistografi dapat dicoba uji pembilasan buli-buli, yaitu

dengan

memasukkan cairan garam fisiologis steril ke dalam buli-buli sebanyak 300 ml


kemudian cairan dikeluarkan lagi. Jika cairan tidak keluar atau keluar tetapi kurang dari
volume yang dimasukkan, kemungkinan besar ada robekan pada buli-buli. Cara ini
sekarang tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan infeksi atau menyebabkan
robekan yang lebih luas. (Purnomo,2011)
5

VII.

PENATALAKSANAAN
Pada kontusio buli-buli, cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk
memberikan istirahat pada buli-buli. Dengan cara ini diharapkan buli-buli sembuh
setelah 7-10 hari. Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparotomi
untuk mencari robekan pada bui-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. Jika
tidak dioperasi ekstravasasi urine ke rongga intraperitoneum dapat menyebabkan
peritonitis. Rongga intraperitoneum dicuci, robekan pada buli-buli dijahit 2 lapis,
kemudian dipasang kateter sistostomi yang dilewatkan di luar sayatan laparotomi.(Kim
et al,2008)
Pada cedera ekstraperitoneal, robekan yang sederhana (ekstravasasi minimal)
dianjurkan untuk memasang kateter selama 7 10 hari, tetapi sebagian ahli lain
menganjurkan untuk melakukan penjahitan buli-buli dengan pemasangan kateter
sistostomi. Namun tanpa tindakan pembedahan kejadian kegagalan penyembuhan
luka 15%, dan kemungkinan untuk terjadinya infeksi pada rongga perivesika
sebesar 12%. (Purnomo,2011) Oleh karena itu jika bersamaan dengan ruptur buli-buli
terdapat cedera organ lain yang membutuhkan operasi, sebaiknya dilakukan penjahitan
buli-buli dan pemasangan kateter sistostomi. Apalagi jika ahli ortopedi memasang plat
untuk memperbaiki fraktur pelvis, mutlak harus dialkukan penjahitan buli-buli guna
menghindari tejadinya pengaliran urine ke fragmen tulang yang telah dioperasi.
(Purnomo,2011)
Untuk memastikan bahwa buli-buli telah sembuh, sebelum melepas kateter uretra
atau kateter sistostomi, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan sistografi guna
melihat kemungkinan masih adanya ekstravasasi urine. Sistografi dibuat pada hari ke10-14 pasca trauma. Jika masih ada ekstravasasi kateter sistostomi dipertahankan
sampai 3 minggu. Ruptur uretra posterior biasanya diikuti oleh trauma mayor pada
organ lain (abdomen dan fraktur pelvis) dengan disertai ancaman jiwa berupa
perdarahan. Oleh karena itu sebaiknya di bidang urologi tidak perlu melakukan tindakan
yang invasif pada uretra. Tindakan yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya
perdarahan yang lebih banyak pada kavum pelvis dan prostat serta menambah
kerusakan pada uretra dan struktur neurovaskuler di sekitarnya. Kerusakan
6

neurovaskuler menambah kemungkinan terjadinya disfungsi ereksi dan inkontinensia.


(Morey A et al,2014)
Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistostomi untuk
diversi urine. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi melakukan primary
endoscopic realigment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint
melalui tuntunan uretroskopi. Dengan cara ini diharapkan kedua ujung uretra yang
terpisah dapat saling didekatkan. Tindakan ini dilakukan sebelum 1 minggu pasca
ruptura dan kateter uretra dipertahankan selama 14 hari. Sebagian ahli lain mengerjakan
reparasi uretra (uretroplasti) setelah 3 bulan pasca trauma dengan asumsi bahwa
jaringan parut pada uretra telah stabil dan matang sehingga tindakan rekonstruksi
membuahkan hasil yang lebih baik. (Morey A et al,2014)
Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat
menimbulkan penyulit striktura uretra di kemudian hari, maka setelah 4 - 6 bulan perlu
dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Pada ruptur uretra parsial dengan
ekstravasasi ringan, cukup dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urine. Kateter
sistostomi dipertahankan

sampai

minggu,

dan

dilepas

setelah

diyakinkan

melalui pemeriksaan uretrografi bahwa sudah tidak ada ekstravasasi kontras atau
tidak timbul striktura uretra. Namun jika timbul striktura uretra, dilakukan reparasi
uretra atau sachse. Tidak jarang ruptur uretra anterior disertai dengan ekstravasasi urine
dan hematom yang luas sehingga diperlukan debridement dan insisi hematoma untuk
mencegah infeksi. Reparasi uretra dilakukan setelah luka menjadi lebih baik. (Morey A
et al,2014)
VIII.

PROGNOSIS
Trauma kandung kemih, yang fatal, kini berhasil dikelola dengan atau tanpa operasi,
tergantung pada jenis cedera. Sulit untuk mengukur tingkat keberhasilan perbaikan
kandung kemih karena berbagai trauma sering hadir bersamaan pada pasien ini. Terlepas
dari itu, yang terpenting untuk keberhasilan pengelolaan trauma kandung kemih adalah
evaluasi tepat waktu, diagnosis yang akurat, dan manajemen yang tepat berdasarkan

lokasi dan keparahan trauma kandung kemih. Pada ruptur uretra bila dikelola dengan baik
maka akan memiliki prognosis yang baik.(Purnomo,2011)
ANALISIS JURNAL
Judul : Rupture of urinary bladder : a case report and review of literature
Ruptur spontan dari kandung kemih adalah jarang dan kehidupan kejadian yang
mengancam.

Seringkali,

ada

ketidakjelasan

dalam

membangun

tepat

diagnosis sebelum operasi mengarah ke tingkat kematian yang sangat tinggi. Secara
klinis kebanyakan pasien menunjukkan gejala seperti nyeri inguinal dengan gejala yang
berhubungan disuria,anuria dan hematuria. Dalam sebagian besar kasus, gejala infeksi
saluran kemih (ISK) adalah awal keluhan dan ini kemudian disertai dengan peritonisme.
Pasien dengan ruptur kandung kemih biasanya memiliki gejala dan tanda-tanda
peritonitis. Riwayat gejala saluran kemih yang tidak jelas sebelum episode akut tidak
jarang terjadi padasebagian besar pasien ini. Indeks suspek yang tinggi sangat penting
bila terdapat gejala saluran kemih dan tanda sugestif peritonitis pada pasien dengan
kanker kandung kemih. Ruptur kandung kemih harus dimasukkan dalam diagnosis
diferensial abdomen akut. Ini adalah kondisi yang jarang namun berpotensi menjadi fatal
dengan angka kematian lebih dari 80%.

DAFTAR PUSTAKA
8

Al-Aghbari S, Al-Harthy A, Ahmed M, Al-Reesi A, Al-Wahaibi K, Al-Qadhi H. Laparoscopic


repair of traumatic intraperitoneal bladder rupture. Sultan Qaboos Univ Med J. Nov
2011;11(4):515-8.
Andrich DE, Day AC, Mundy AR. Proposed mechanisms of lower urinary tract injury in
fractures of the pelvic ring. BJU Int. Sept. 2007;100:567-73.
Brown SL, Persky L, Resnick MI. Intraperitoneal and Extraperitoneal. Atlas of Urol Clin of N
Amer. 1998;6:59-70.
Bultitude, M. F. (2012), Campbell-Walsh Urology Tenth Edition. BJU International, 109: E10.
doi: 10.1111/j.1464-410X.2011.10907.x
Cass AS, Luxenberg M. Features of 164 bladder ruptures. J Urol. Oct 1987;138(4):743-5.
Corriere JN. Extraperitoneal bladder rupture. In: McAninch JW, ed. Traumatic and
Reconstructive Urology. 1996:269-73.
Dorland, Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland.Edisi 29, Jakarta:EGC
J. Ahmed, I. H. Mallick, and S. M. Ahmad, Rupture of urinary bladder: a case report and
review of literature,Cases Journal,vol.2,no.5,p.7004,2009
Kim FJ. Laparoscopic management of intraperitoneal bladder rupture secondary to blunt
abdominal trauma using intracorporeal single layer suturing technique. Int Braz J Urol.
September-October 2008;34(5):650.
Kommu SS, Illahi I, Mumtaz F. Patterns of urethral injury and immediate management. Curr
Opin Urol. Nov 2007;17(6):383-9.
Purnomo,Basuki. 2011. Dasar-Dasar Urologi. Malang : Sagung Seto.

Moore,Keith L, Agur, Anne MR. 2009. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Hipokrates
9

Morey A, Brandes S, Dugi D, et al. Urotrauma: American Urological Association Guideline.


American

Urological

Association.

Available

at

https://www.auanet.org/education/guidelines/urotrauma.cfm. Accessed 07/24/2014.

10