Anda di halaman 1dari 81

SISTEM KULIT

Beserta apendiks kulit

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

CUTIS (KULIT)
PENAMPILAN
WARNA
RELIEF KULIT

FUNGSI
ASAL-USUL
MIKROSKOPIS
APENDIX KULIT
RAMBUT
KELENJAR
KUKU

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

PENAMPILAN LUAR KULIT


WARNA:
BERANEKA MACAM: SANGAT DIPENGARUHI OLEH
KUALITAS DAN KUANTITAS PIGMEN

RELIEF
PORI KULIT SEBAGAI MUARA KELENJAR KERINGAT
BERAMBUT :
LIPATAN-LIPATAN HALUS

TIDAK BERAMBUT
DERMATOGLYPH
GARIS-GARIS KULIT (CRISTA CUTIS DAN SULCUS
CUTIS)

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

PENAMPILAN LUAR KULIT

SULCUS
CUTIS

CRISTA
CUTIS

KULIT TIDAK BERAMBUT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

KULIT BERAMBUT

FUNGSI KULIT
ORGAN TERBESAR
BERAT: 16% BERAT BADAN
LUAS PERMUKAAN ORANG DEWASA: 1.2 - 2.3
m2

PERLINDUNGAN TERHADAP
PENGUAPAN AIR/PERESAPAN AIR
RANGSANG MEKANIS
SINAR UVIOL
PENGATURAN SUHU
LINGKUNGAN (SISTEM IMUN)

PENGHASIL
VITAMIN D3 DENGAN BANTUAN SINAR UVIOL

TEMPAT ORGAN Modul


SENSORIK
1 Blok 10. Subowo

23 Februari 2009

STRUKTUR KULIT
LAPISAN :
EPIDERMIS
EPITEL GEPENG BERLAPIS DENGAN KERATINISASI
BERASAL DARI EKTODERM

CORIUM (DERMIS)
JARINGAN PENGIKAT
BERASAL DARI MESODERM

HUBUNGAN DENGAN SEKITARNYA:


EPIDERMIS : PERMUKAAN BEBAS
CORIUM: TELA SUBCUTANEA (JARINGAN PENGIKAT)

KETEBALAN : 1,5 mm - 4 mm
KULIT TIPIS: EPIDERMIS: 75 m - 150 m
KULIT TEBAL: EPIDERMIS: 400 m - 600 m

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

STRUKTUR KULIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

HUBUNGAN EPIDERMIS DAN DERMIS


LEKUKAN-LEKUKAN DI
EPIDERMIS UNTUK PAPILLA

DUCTUS EXCRETORIUS
GLANDULA SUDORIFERA
EPIDERMIS

PAPILLA
CORII

23 Februari 2009

DERMIS =
CORIUM

Modul 1 Blok 10. Subowo

EPIDERMIS
LAPISAN:
STRATUM GERMINATIVUM
STRATUM SPINOSUM
STRATUM GRANULOSUM
STRATUM LUCIDUM
STRATUM CORNEUM

PERBATASAN DENGAN CORIUM


TIDAK RATA: PENONJOLAN KE ATAS UNTUK PAPILLA CORII

KOMPONEN SEL
KERATINOSIT (PALING BANYAK)
MELANOSIT
SEL LANGERHANS
SEL MERKEL
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

LAPISAN EPIDERMIS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

10

STRATUM BASALE
BERTUMPU PADA MEMBRANA BASALIS
SELAPIS SEL-SEL KUBOID
AKTIVITAS MITOSIS UNTUK PENGGANTIAN SEL
HASIL MITOSIS DIDORONG KE ATAS

HUBUNGAN DENGAN SEKITARNYA:


ANTAR SEL-SEL : DESMOSOM
DENGAN MEMBRANA BASALAIS: HEMIDESMOSOM

MENGANDUNG SITOSKELETON: FILAMEN


SITOKERATIN
DIAMETER : 10 nm

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

11

STRATUM SPINOSUM
BEBERAPA LAPIS SEL:
BENTUK: DARI BAWAH KE ATAS BERTURUT-TURUT:
KUBOID, POLIGONAL MAKIN GEPENG

MASIH MEMPUNYAI KEMAMPUAN MITOSIS


STRATUM MALPIGHI = STRATUM BASALE + STRATUM
SPINOSUM

HUBUNGAN DENGAN SEKITARNYA:


DESMOSOM, DIPERKUAT DENGAN BERKAS TONOFILAMEN SEHINGGA MEMADAT
PADA PROSES PEMBUATAN SEDIAAN, SEL MENGKERUT,
KECUALI PADA DAERAH DESMOSOM
MEMBERIKAN PENAMPILAN SEL BERDURI (SPINA)

KETEBALAN LAPISAN:
BERTAMBAH JIKA KULIT BANYAK MENERIMA TEKANAN
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

12

STRATUM SPINOSUM

DESMOSOM

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

13

STRATUM SPINOSUM

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

14

STRATUM GRANULOSUM
3 - 5 LAPISAN SEL
BENTUK SEL:
POLIGONAL

KANDUNGAN SEL:
BUTIR-BUTIR KERATOHIALIN YANG BASOFIL (PROTEIN
KAYA HISTIDIN DENGAN FOSFORILASI + PROTEIN KAYA
SISTIN
BUTIR-BUTIR BERLAPIS, BERBENTUK BATANG LONJONG
(0,1 - 0,3 m). DENGAN M.E. : LAPIS-LAPIS LIPID YANG
MENYATU DENGAN MEMBRAN SEL

FUNGSI BUTIR BERLAPIS:


SEBAGAI SAWAR MASUKNYA BAHAN DI ANTARA SEL-SEL

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

15

STRATUM LUCIDUM
SELAPIS SEL GEPENG YANG TELAH MATI
BERSIFAT:
EOSINOFILIK
JERNIH

DESMOSOM:
TAMPAK MENGHUBUNGKAN ANTAR SEL
BERDEKATAN

SITOPLASMA:
TERUTAMA BERISI FILAMEN BERHIMPITAN PADAT
TIDAK MENGANDUNG ORGANELA DAN INTI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

16

STRATUM CORNEUM
15 - 20 LAPIS SEL GEPENG BERKERATIN
SEL TANPA INTI
ORGANELA:
MENGHILANG KARENA ENZIM HIDROLITIK

SITOPLASMA:
DIPENUHI FILAMEN SKLEROPROTEIN: KERATIN

KERATINISASI:
PERUBAHAN TONOFILAMEN DAN KERATOHIALIN
MENJADI: PROTEIN AMORF DAN FIBRILER

BAGIAN PERMUKAAN:
STRATUM DISJUNCTUM DILEPASKAN SECARA
PERIODIK
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

17

STRATUM CORNEUM
STRATUM DISJUNCTUM

PERBEDAAN KETEBALAN STRATUM CORNEUM

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

18

STRATUM GRANULOSUM DAN STRATUM LUCIDUM

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

19

KERATINOSIT
POPULASI:

MERUPAKAN POPULASI SEL UTAMA DALAM


KOMPONEN SELULER EPIDERMIS
MEMBENTUK STRATUM DALAM EPIDERMIS

KEMAMPUAN MITOSIS:

KOMPARTEMEN I: MAMPU MITOSIS


KOMPARTEMEN II: TIDAK MAMPU MITOSIS
KOMPARTEMEN III: SUDAH MATI, KERATIN

MORFOLOGI:

LIHAT KETERANGAN PADA EPIDERMIS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

20

KERATINOSIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

21

MELANOSIT
BENTUK
BADAN SEL BULAT DENGAN TONJOLANTONJOLAN SITOPLASMA PANJANG
BERCABANG-CABANG DI DAERAH BASAL
EPIDERMIS, DI ANTARA KERATINOSIT

POPULASI:
TERGANTUNG: ETNIS
TERGANTUNG PADA LOKASI KULIT PADA
DAERAH TUBUH
DAERAH PAHA:
KAUKASOID: 1 000 70 /mm2
MONGOLOID: 1290 45 /mm2
NEGROID: 1415 255 /mm2
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

22

MELANOSIT

FUNGSI:
MEMBENTUK PIGMEN MELANIN
MENYEBARKAN MELANIN UNTUK
DISIMPAN DALAM KERATINOSIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

23

HUBUNGAN MELANOSIT DAN KERATINOSIT

MELANOSIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

24

SINTESIS MELANIN (1)


SINTESIS TIROSINASE
ENZIM YANG BERPERAN PENTING DALAM
SINTESIS MELANIN
PROSES SINTESIS TIROSINASE = PROSES
SINTESIS PROTEIN

FUNGSI TIROSINASE:
ENZIM UTAMA DALAM SINTESIS MELANIN
MENGUBAH TIROSIN MENJADI : 3,4DIHIDROKSIFENIL-ALANIN (DOPA)
DOPA DIUBAH MENJADI: DOPAQUINON
BEBERAPA KALI TRANSFORMASI AKHIRNYA
MENJADI MELANIN
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

25

SINTESIS MELANIN (2)


PEMBENTUKAN GRANULA MELANIN
(MELANOSOM):
DIKUMPULKAN DALAM KOMPLEX GOLGI

PERKEMBANGAN GRANULA MATANG


(MELANOSOM):
TAHAP I : AWAL KEGIATAN TIROSINASE, BUTIRBUTIR HALUS
TAHAP II : TERBENTUK MELANOSOM LONJONG
( + PROTEIN)
TAHAP III : MASIH ADA KEGIATAN TIROSINASE
TAHAP IV : TIROSINASE TIDAK BERFUNGSI +
MELANIN ( 1 x 0,4 m)
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

26

SINTESIS MELANIN DALAM MELANOSIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

27

PENGARUH CAHAYA ATAS PIGMENTASI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

28

SEL LANGERHANS
BENTUK:
SEBAGAI BINTANG DENGAN TONJOLAN SITOPLASMA

LETAK:
DAERAH STRATUM SPINOSUM

POPULASI:
2 - 8 % DARI JUMLAH SEL EPIDERMIS

FUNGSI:
KOMPONEN SISTEM IMUN DALAM KULIT
MENYAJIKAN ANTIGEN KEPADA LIMFOSIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

29

SEL LANGERHANS

PEWARNAAN KHUSUS UNTUK SEL LANGERHANS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

30

SEL MERKEL
BENTUK:
MIRIP KERATINOSIT
MEMILIKI GRANULA (BELUM DIKETAHUI
KOMPOSISI-NYA)
PADA BAGIAN BAWAH SEL TERDAPAT
PERLUASAN AKHIRAN SARAF

LETAK:
KULIT TEBAL

FUNGSI:
MEKANORESEPTOR

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

31

SEL MERKEL

SERABUY SARAF

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

32

CORIUM/DERMIS (1)
STRUKTUR:
KAYA AKAN ANYAMAN PEMBULUH DARAH: 4,5
% VOL. DARAH
TERDAPAT ALAT TAMBAHAN KULIT, ORGAN
SENSORIS
STRATUM PAPILLARE
JARINGAN PENGIKAT LONGGAR TIPIS, LEBIH BANYAK
KOMPONEN SELULER, SERABUT KOLAGEN & ELASTIS
TIPIS MEMPERKUAT IKATAN PADA MEMBRANA BASALIS
MEMBENTUK TONJOLAN KE ARAH EPIDERMIS
SEBAGAI PAPILLA CORII

STRATUM RETICULARE
JARINGAN PENGIKAT PADAT TEBAL, LEBIH BANYAK
KOMPONEN SERABUT, SER. KOLAGEN TIPE I,
ANYAMAN SERABUT ELASTIS
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

33

CORIUM/DERMIS (2)

FUNGSI:
MENGHUBUNGKAN ANTARA JARINGAN
SUB-KUTAN DAN EPIDERMIS
PEMBULUH DARAH: MENGATUR SUHU
DAN TEKANAN DARAH

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

34

CORIUM/DERMIS
ARTERIOLA

SARAF

R = STRATUM RETICULARE
P = STRATUM PAPILLARE

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

35

STRATUM RETICULARE DERMIS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

36

SERABUT ELASTIS DALAM DERMIS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

37

BERBAGAI JENIS SERABUT DALAM DERMIS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

38

PERUBAHAN PENAMPILAN
KULIT

Dehidrasi
Oedem
Berkurangnya elastisitas
Perubahan warna

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

39

TELA SUBCUTANEA
STRUKTUR:
JARINGAN PENGIKAT LONGGAR
KADANG-KADANG MENGANDUNG
JARINGAN LEMAK, PANICULUS
ADIPOSUS

FUNGSI:
MEMISAHKAN ANTARA KULIT DENGAN
ORGAN LAIN
LEMAK SEBAGAI PENYANGGA
KULIT MUDAH BERGESER
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

40

JENIS KULIT (1)


KULIT TEBAL
TIDAK BERAMBUT
EPIDERMIS TEBAL: 400 m - 600 m
LAPISAN SEL-SEL EPIDERMIS
JELAS
STRATUM CORNEUM TEBAL
TELAPAK KAKI DAN TELAPAK
TANGAN

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

41

JENIS KULIT (2)


KULIT TIPIS
BERAMBUT
EPIDERMIS TIPIS: 75 m - 150 m
LAPISAN SEL-SEL EPIDERMIS TIDAK
JELAS
STRATUM CORNEUM TIPIS
PERMUKAAN TUBUH DI LUAR
TELAPAK KAKI DAN TANGAN

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

42

JENIS KULIT

KULIT TEBAL

23 Februari 2009

KULIT TIPIS

Modul 1 Blok 10. Subowo

43

KULIT TIPIS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

44

PILUS (RAMBUT), 1
MORFOLOGI:
SILINDRIS (GEPENG/BULAT) PANJANG
PENGGAL:
AKAR DAN BATANG

UKURAN, WARNA, PENYEBARAN:


TERGANTUNG ETNIS DAN KANDUNGAN
PIGMEN

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

45

PILUS (RAMBUT), 2
PENYEBARAN:
SELURUH TUBUH, KECUALI TELAPAK
TANGAN DAN KAKI

ASAL-USUL:
INVAGINASI EPIDERMIS/EKTODERM

KEDUDUKAN PADA KULIT:


TERTANAM DALAM KANTONG =
FOLLICULUS PILI = FOLIKEL RAMBUT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

46

PILUS (RAMBUT)

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

47

FOLIKEL RAMBUT (1)

BAGIAN-BAGIAN
SELUBUNG AKAR LUAR
SELUBUNG AKAR DALAM
DASAR FOLIKEL TERDAPAT BULBUS PILI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

48

MIKROSKOPIS FOLIKEL RAMBUT(2)


MEMBRAN KACA MEMISAHKAN FOLIKEL RAMBUT
DENGAN CORIUM
SELUBUNG AKAR LUAR SEBAGAI LANJUTAN
LANGSUNG DARI EPIDERMIS, SEHINGGA DEKAT
PERMUKAAN MASIH MEMPUNYAI LAPISAN EPIDERMIS.
MAKIN KE ARAH BULBUS PILI, LAPISAN SESUAI
DENGAN STRATUM GERMINATIVUM MAKIN MENIPIS
MULAI DARI BULBUS PILI TERBENTUK SARUNG AKAR
DALAM, YANG TERSUSUN OLEH BEBERAPA LAPISAN
SEL
SEMAKIN KE ATAS SEL-SEL SELUBUNG AKAR DALAM
MATI
LAPISAN SEL SEBELAH DALAM BULBUS PILI
BERPROLIFERASI MENGHASILKAN AKAR DAN BATANG
RAMBUT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

49

PEMBENTUKAN FOLIKEL RAMBUT

BULBUS PILI

PAPILLA PILI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

50

PERTUMBUHAN RAMBUT
DIMULAI DARI BULBUS PILI
EPITEL BULBUS PILI YANG BERBATASAN
DENGAN PAPILLA PILI BERPROLIFERASI
SEL-SEL DI DAERAH PUNCAK PAPILLA
MENGHASILKAN SEL-SEL BESAR,
BERVAKUOLA, DAN CUKUP BERKERATIN,
MEMBENTUK MEDULA
LAPISAN SEL-SEL DI SEKITARNYA:
MEMBENTUK KORTEKS
LAPISAN SEBELAH LUAR: MEMBENTUK
KUTIKULA

HASIL MITOSIS DIDORONG KE ATAS,


HINGGA TERBENTUK AKAR RAMBUT DAN
BATANG RAMBUT SAMPAI MENYEMBUL
KE PERMUKAAN
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

51

JARINGAN DERMIS SEKITAR FOLIKEL


RAMBUT (1)
SARUNG JARINGAN PENGIKAT
DIBENTUK OLEH JARINGAN PENGIKAT
DERMIS YANG LEBIH PADAT
MERUPAKAN TEMPAT UJUNG BERKAS
OTOT POLOS:
M. ARRECTOR PILI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

52

JARINGAN DERMIS SEKITAR FOLIKEL


RAMBUT (2)
PAPILLA PILI:
JARINGAN PENGIKAT DERMIS YANG
MENONJOL KE ATAS PADA BAGIAN
BULBUS PILI
PAPILLA PILI MENGANDUNG ANYAMAN
PEMBULUH DARAH
FUNGSI PAPILLA PILI: MENOPANG
PERTUMBUHAN RAMBUT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

53

AKAR DAN BATANG RAMBUT (1)


RADIX =AKAR RAMBUT
BAGIAN RAMBUT YANG BERADA DI BAWAH
PERMUKAAN KULIT

SCAPUS = BATANG RAMBUT


BAGIAN RAMBUT YANG BERADA DI ATAS
PERMUKAAN KULIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

54

AKAR DAN BATANG RAMBUT (2)


LAPISAN KONSENTRIS JARINGAN RAMBUT
DARI LUAR:
CUTICULA
TERDIRI ATAS SELAPIS SEL TANPA INTI, KERATINISASI,
TERSUSUN SEBAGAI SISIK

SUBSTANTIA CORTICALIS (KORTEX)


TERSUSUN OLEH SEL-SEL EPITEL GEPENG, FUSIFORM,
MENGANDUNG PIGMEN, BERKERATIN
MAKIN KE ARAH BULBUS PILI BERBENTUK MEMBULAT

SUBSTANTIA MEDULLARIS (MEDULA ) DI PUSAT


1/3 - 1/5 DARI DIAMETER RAMBUT
TERSUSUN SEL BULAT/POLIHEDRIS, BERKERATIN,
DIPISAHKAN OLEH UDARA
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

55

AKAR DAN BATANG RAMBUT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

56

AKAR DAN BATANG RAMBUT


BATANG
RAMBUT

AKAR
RAMBUT

SELUBUNG
AKAR
RAMBUT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

57

AKAR RAMBUT DAN SELUBUNG AKAR RAMBUT

SELUBUNG AKAR
LUAR

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

CORTEX LAPISAN
KUTIKULA

58

UNGUIS (KUKU)-1
BENTUK:
SEPERTI LEMPENG KERATIN YANG
MENUTUPI BAGIAN DORSAL UJUNG
JARI

PEMBENTUKAN:
SEPERTI PEMBENTUKAN RAMBUT
DARI EPIDERMIS

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

59

UNGUIS (KUKU)-2
RADIX UNGUIS (AKAR KUKU)
LEMBEK, TERLETAK TERSEMBUNYI,
TERTUTUP KULIT: STRATUM CORNEUM
=EPONICHIUM

CORPUS UNGUIS (LEMPENG KUKU)


TERLETAK DI ATAS EPIDERMIS =
DASAR KUKU
EPIDERMIS HANYA STRATUM BASALE
DAN STRATUM SPINOSUM
PANGKAL PROKSIMAL DASAR KUKU =
MATRIKS KUKU

APEX UNGUIS (UJUNG BEBAS)


23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

60

UNGUIS (KUKU)

PERIOSTEUM TULANG JARI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

61

PERTUMBUHAN KUKU
DIMULAI DARI MATRIKS KUKU PADA PANGKAL
DASAR KUKU (MATRIKS KUKU)
SEL-SEL MATRIKS :
MITOSIS
ANAK SELNYA DIDORONG KE DISTAL

SEL-SEL HASIL MITOSIS


MENGALAMI KERATINISASI
SEL-SEL YANG MENGALAMI KERATINISASI
DIDORONG KE DISTAL MEMBENTUK LEMPENG KUKU

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

62

PERTUMBUHAN KUKU

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

63

GLANDULA SUDORIFERA (1)


JENIS KELENJAR
MEROKRIN, TUBULER SIMPLEKS
BERGELUNG

PENYEBARAN:
HAMPIR DI SELURUH DAERAH KULIT (3 4 x 106)

KEDUDUKAN:
PARS SECRETORIUS: TERBENAM DALAM
DERMIS
PARS EXCRETORIUS: DERMIS,
DILANJUTKAN DALAM EPIDERMIS
TANPA DINDING, BERJALAN SPIRAL
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

64

GLANDULA SUDORIFERA (2)


MUARA:
PERMUKAAN EPIDERMIS

SEKRESI:
KERINGAT SEBANYAK 10 LITER
SEHARI

MODIFIKASI MENJADI KELENJAR


APOKRIN
GLANDULA
GLANDULA
GLANDULA
GLANDULA

23 Februari 2009

AXILLARIS
MAMMAE
CERUMINOSA
MOLLI

Modul 1 Blok 10. Subowo

65

GLANDULA SUDORIFERA
MEROKRIN

PARS SECRETORIA

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

66

GLANDULA AXILLARIS

KELENJAR APOKRIN

23 Februari 2009

DUCTUS EXCRETORIUS

Modul 1 Blok 10. Subowo

67

PENAMPILAN LUAR KULIT

SULCUS
CUTIS

CRISTA
CUTIS

KULIT TIDAK BERAMBUT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

KULIT BERAMBUT

68

PERKEMBANGAN GLANDULA SUDORIFERA

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

69

GLANDULA SEBACEA
JENIS KELENJAR:
ASINER, HOLOKRIN

SEKRIT:
SEBUM

MUARA:
FOLIKEL RAMBUT
LANGSUNG PERMUKAAN EPIDERMIS

PENYEBARAN:
DAERAH KULIT BERAMBUT

MODIFIKASI:
GLANDULA TARSALIS MEIBOMI
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

70

GLANDULA SEBACEA

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

71

GLANDULA SEBACEA

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

72

HUBUNGAN KULIT DENGAN BERBAGAI STRUKTUR

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

73

VASKULARISASI KULIT (1)


BERASAL:
DARI PEMBULUH DARAH DALAM TELA
SUBCUTANEA

PERCABANGAN
MEMBENTUK ANYAMAN DI
PERBATASAN DENGAN DERMIS
SEJAJAR DENGAN PERMUKAAN

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

74

VASKULARISASI KULIT (2)


ANYAMAN PERCABANGAN
PEMBULUH DARAH
LAMINA RETICULARIS CORII
LAMINA PAPILLARIS CORII

EPIDERMIS:
TIDAK ADA VASKULARISASI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

75

VASKULARISASI KULIT

VENA
ARTERI
VENA

23 Februari 2009

ARTERI

Modul 1 Blok 10. Subowo

76

VASKULARISASI KULIT

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

77

REGENERASI KULIT (1)


PENYEBAB KERUSAKAN KULIT:
LUKA
KEBAKARAN
AIR PANAS
BAHAN KIMIA

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

78

REGENERASI KULIT (2)


PROSES REGENERASI:
KULIT HARUS DITUTUPI OLEH EPIDERMIS

UNTUK MENUTUP CELAH:


EPIDERMIS PADA TEPI KERUSAKAN AKAN
PROLIFERASI
JIKA CELAH LUKA TERLALU LEBAR: EPITEL
FOLIKEL RAMBUT ATAU KELENJAR MAMPU
MEMBENTUK EPIDERMIS
JIKA TERLALU DALAM: EPITELISASI DIBANTU
DENGAN TRANSPLANTASI

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

79

APLIKASI MEDIK (1)


PSORIASIS
Penyakit kulit yang dsebabkan oleh peningkatan
proliferasi sel-sel stratum basale dan stratum
spinosum, dan percepatan siklus pembelahan sel.
Epidermis menebal

GANGGUAN PIGMENTASI
Albino
Hiperpigmentasi pada Penyakit Addison (disfungsi
gland, adrenalis)

23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

80

APLIKASI MEDIK
PSORIASIS
Penyakit kulit yang dsebabkan oleh peningkatan proliferasi sel-sel
stratum basale dan stratum spinosum, dan percepatan siklus
pembelahan sel. Epidermis menebal

GANGGUAN PIGMENTASI
Albino
Hiperpigmentasi pada Penyakit Addison (disfungsi gland, adrenalis)

GANGGUAN HUBUNGAN DERMIS-EPIDERMIS


Pemphigoid bulosa
Pemphigus

SEKRESI GLANDULA SEBACEA


Acne

KEGANASAN KULIT
Melanoma : berasal dari melanosit
Basal cell Carcinoma
23 Februari 2009

Modul 1 Blok 10. Subowo

81