Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ekstraksi Protein


2.1.1 Protein
Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah
senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomermonomerasam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein
mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein
merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida,
yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. . Kebanyakan protein merupakan enzim atau
subunit enzim. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali
dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi
hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi
organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut
Protein akan mengalami kekeruhan terbesar pada saat mencapai ph isoelektrik yaitu ph
dimana protein memiliki muatan positif dan negatif yang sama, pada saat inilah protein
mengalami denaturasi yang ditandai kekeruhan meningkat dan timbulnya gumpalan. Asam dan
basa dapat mengacaukan jembatan garam dengan adanya muatan ionik. Sebuah tipe reaksi
penggantian dobel terjadi sewaktu ion positif dan negatif di dalam garam berganti pasangan
dengan ion positif dan negatif yang berasal dari asam atau basa yang ditambahkan.
Ada tiga bentuk struktrur protein,yaitu :
a.

Struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang

b.

dihubungkan melalui ikatan peptida (amida).


Struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian
asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen.

c.

Struktur tersier yang merupakan gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder.
Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat
berinteraksi secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil.

2.1.2 Ekstraksi
Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran
berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Faktorfaktor yang mempengaruhi laju ekstraksi menurut Arsyad (2001) adalah sebagai berikut:
1.
Tipe persiapan sampel
2.
Waktu ekstraksi
3.
Kuantitas pelarut
4.
Suhu pelarut
5.
Tipe pelarut
2.3.1 Pemisahan Protein (Ekstraksi Protein)
Pemisahan protein sering dilakukan dengan menggunakan berbagai pelarut, elektrolit
atau keduanya, untuk mengeluarkan fraksi protein yang berbeda menurut karakteristiknya.
Pemisahan protein dari berbagai campuran yang terdiri dari berbagai macam sifat asam-basa,
ukuran dan bentuk protein dapat dilakukan dengan cara elektrofesa, kromatografi, pengendapan,
dan perbedaan kelarutan.
Prinsip dari masing-masing metode pemisahan fraksi protein adalah sebagai berikut:
1. Elektroforesa
Elektroforesa merupakan teknik pemisahan senyawa yang tergantung dari pergerakan
molekul bermuatan. Jika suatu larutan campuran protein diletakkan di antara kedua elektroda,
molekul yang bermuatan akan berpindah ke salah satu elektrode dengan kecepatan tergantung
pada muatan bersihnya, dan tergantung pada medium penyangga yang digunakan. Kecepatan
2.

gerak albumin dalam elektroforesa adalah 6,0 dalam buffer berkekuatan ion 0,1 pH 8,6.
Kromatografi
Kromatografi meliputi cara pemisahan bahan terlarut dengan memanfaatkan perbedaan
kecepatan geraknya melalui medium berpori. Metode ini didasarkan pada perbedaan kelarutan
dan sifat asam basa pada masing-masing fraksi protein. Ada tiga teknik kromatografi yang
biasanya dipergunakan untuk pemisahan protein yaitu kromatografi partisi dan kromatografi

penukar ion, dan kromatografi lapis tipis.


3. Pengendapan protein sebagai garam
Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam
tertentu, seperti asam triklorasetat dan asam perklorat. Penambahan ini menyebabkan

terbentuknya garam protein yang tidak larut. Zat pengendap lainnya adalah asam tungstat,
fosfotungstat, dan metafosfat. Protein jugha dapat diendapkan dengan kation tertentu seperti Zn
4.

dan Pb.
Pengendapan protein dengan penambahan garam
Pengendapan protein dengan cara penambahan garam didasarkan pada pengaruh yang
berbeda daripada penambahan garam tersebut pada kelarutan protein globuler. Pada umunya
dengan meningkatnya kekuatan ion, kelarutan protein semakin besar, tetapi setelah mencapai
titik tertentu kekuatannya justru akan semakin menurun. Pada kekuatan ion rendah gugus protein
yang terionisasi dikelilingi oleh ion lawan sehingga terjadinya interaksi antar protein, dan
akibatnya kelarutan protein akan menurun. Jenis garam netal yang biasa digunakan untuk
pengendapan protein adalah magnesium klorida, magnesium sulfat, natrium sulfat, dan

5.

ammonium sulfat.
Pengendapan pada titik isoelektik
Titik isoelektrik adalah pH pada saat protein memiliki kelarutan terendah dan mudah
membentuk agregat dan mudah diendapkan. Berbagai protein globular mempunyai daya
kelarutan yang berbeda di dalam air. Variable yang mempengaruhi kelarutan ini dalah pH,
kekuatan ion, sifat dielektrik pelarut dan temperature. Setiap protein mempunyai pH isoelektrik,
dimana pada pH isoelekrik tersebut molekul protein mempunyai daya kelarutan yang minimum..
Perubahan pH akan mengubah ionisasi gugus fungsional protein, yang berarti pula mengubah
muatan protein. Protein akan mengendap pada titik isoelektiknya, yaitu titik yang menunjukkan

6.

muatan total protein sama dengan nol (0), sehingga interaksi antar protein menjadi maksimum.
Pengedapan protein dengan pemanasan
Temperatur dalam batas-batas tertentu dapat menaikkan kelarutan protein. Pada umunya
kelarutan protein naik pada suhu lebih tinggi (0-40C). pada suhu di atas 40C kebanyakan
protein mulai tidak mantap dan mulai terjadi denaturasi. Denaturasi dapat didefinisikan sebagai
perubahan struktur sekunder, tersier, dan kuartener dari molekul protein tanpa terjadinya
pemecahan

ikatan

peptide.

Peristiwa

denaturasi

biasanya

diikuti

dengan

koagulasi

(penggumpalan). Rentang suhu denaturasi dan koagulasi sebagian besar protein sekitas 55C
sampai 75C.

2.2. Fotosintesis
Fotosintesis merupakan peristiwa penyusunan zat organik (gula) dari zat anorganik (CO2
dan H2O) dengan pertolongan energi cahaya. Karena bahan baku yang digunakan adalah CO2
(zat karbon) maka fotosintesis dapat pula disebut asimiliasi karbon. Proses pembuatan makanan
pada tumbuhan hijau dapat terjadi dengan bantuan sinar matahari.Fotosintesis terjadi di dalam
kloroplas. Kloroplas merupakan organel plastida yang mengandung pigmen hijau daun (klorofil).

Sel yang mengandung kloroplas terdapat pada mesofil daun tanaman yang disebut palisade atau
jaringan tiang dan sel-sel jaringan bunga karang yang disebut spons.

6CO2 + 12H2O + energy cahaya klorofil C6H12O6 + 6O2 + 6H2O

2.2.1 Fungsi Fotosintesis


Proses fotosintesis merupakan bagian penting bagi kehidupan, karena:

Sebagai sumber energi bagi semua mahluk hidup.

Pertumbuhan dan hasil tumbuh dipengaruhi oleh kecepatan fotosintesis.

Diperlukan untuk sintesis berbagai senyawa organic yang diperlukan.

Menyediakan oksigen bagi kehidupan.

2.2.2. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Fotosintesis


a. Intensitas cahaya
Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya.
b. Konsentrasi karbon dioksida
Semakin banyak karbon dioksida di udara, makin banyak jumlah bahan yang dapt
digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis.
c. Suhu

Enzim-enzim yang bekerja dalam proses fotosintesis hanya dapat bekerja pada suhu
optimalnya. Umumnya laju fotosintensis meningkat seiring dengan meningkatnya suhu hingga
batas toleransi enzim.
d. Kadar air
Kekurangan air atau kekeringan menyebabkan stomata menutup, menghambat
penyerapan karbon dioksida sehingga mengurangi laju fotosintesis.
e. Kadar fotosintat (hasil fotosintesis)
Jika kadar fotosintat seperti karbohidrat berkurang, laju fotosintesis akan naik. Bila kadar
fotosintat bertambah atau bahkan sampai jenuh, laju fotosintesis akan berkurang.
f. Tahap pertumbuhan
Penelitian menunjukkan bahwa laju fotosintesis jauh lebih tinggi pada tumbuhan yang
sedang berkecambah ketimbang tumbuhan dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan tumbuhan
berkecambah memerlukan lebih banyak energi dan makanan untuk tumbuh.

2.2.3.

Reaksi terang Fotosintesis


Reaksi terang berlangsung di dalam membran tilakoid di grana. Grana adalah struktur

bentukan membran tilakoid yang terbentuk dalam stroma, yaitu salah satu ruangan dalam
kloroplas. Di dalam grana terdapat klorofil, yaitu pigmen yang berperan dalam fotosintesis.
Reaksi terang di sebut juga fotolisis karena proses penyerapan energi cahaya dan penguraian
molekul air menjadi oksigen dan hidrogen.
Reaksi terang adalah proses untuk menghasilkan ATP dan reduksi NADPH2. Reaksi ini
memerlukan molekul air dan cahaya Matahari. Proses diawali dengan penangkapan foton
oleh pigmen sebagai antena.

Reaksi terang melibatkan dua fotosistem yang saling bekerja sama, yaitu fotosistem I dan II.
Fotosistem I (PS I) berisi pusat reaksi P700, yang berarti bahwa fotosistem ini optimal menyerap
cahaya pada panjang gelombang 700 nm, sedangkan fotosistem II (PS II) berisi pusat reaksi
P680 dan optimal menyerap cahaya pada panjang gelombang 680 nm. Mekanisme reaksi terang
diawali dengan tahap dimana fotosistem II menyerap cahaya Matahari sehingga elektron klorofil
pada PS II tereksitasi dan menyebabkan muatan menjadi tidak stabil. Untuk menstabilkan
kembali, PS II akan mengambil elektron dari molekul H2O yang ada disekitarnya. Molekul air
akan dipecahkan oleh ion mangan (Mn) yang bertindak sebagai enzim. Hal ini akan
mengakibatkan pelepasan H+ di lumen tilakoid.Dengan menggunakan elektron dari air,
selanjutnya PS II akan mereduksi plastokuinon (PQ) membentuk PQH2. Plastokuinon
merupakan molekul kuinon yang terdapat pada membran lipid bilayer tilakoid. Plastokuinon ini
akan mengirimkan elektron dari PS II ke suatu pompa H+ yang disebut sitokrom b6-f kompleks.
Reaksi keseluruhan yang terjadi di PS II adalah:
2H2O + 4 foton + 2PQ + 4H- 4H+ + O2 + 2PQH2
Sitokrom b6-f kompleks berfungsi untuk membawa elektron dari PS II ke PS I dengan
mengoksidasi PQH2 dan mereduksi protein kecil yang sangat mudah bergerak dan mengandung
tembaga, yang dinamakan plastosianin (PC). Kejadian ini juga menyebabkan terjadinya pompa
H+ dari stroma ke membran tilakoid. Reaksi yang terjadi pada sitokrom b6-f kompleks adalah:
2PQH2 + 4PC(Cu2+) 2PQ + 4PC(Cu+) + 4 H+ (lumen)
Elektron dari sitokrom b6-f kompleks akan diterima oleh fotosistem I. Fotosistem ini
menyerap energi cahaya terpisah dari PS II, tapi mengandung kompleks inti terpisahkan, yang
menerima elektron yang berasal dari H2O melalui kompleks inti PS II lebih dahulu. Sebagai

sistem yang bergantung pada cahaya, PS I berfungsi mengoksidasi plastosianin tereduksi dan
memindahkan elektron ke protein Fe-S larut yang disebut feredoksin. Reaksi keseluruhan pada
PS I adalah:
Cahaya + 4PC(Cu+) + 4Fd(Fe3+) 4PC(Cu2+) + 4Fd(Fe2+)
Selanjutnya elektron dari feredoksin digunakan dalam tahap akhir pengangkutan elektron
untuk mereduksi NADP+ dan membentuk NADPH. Reaksi ini dikatalisis dalam stroma oleh
enzim feredoksin-NADP+ reduktase. Reaksinya adalah
4Fd (Fe2+) + 2NADP+ + 2H+ 4Fd (Fe3+) + 2NADPH
Ion H+ yang telah dipompa ke dalam membran tilakoid akan masuk ke dalam ATP
sintase. ATP sintase akan menggandengkan pembentukan ATP dengan pengangkutan elektron
dan H+ melintasi membran tilakoid. Masuknya H+ pada ATP sintase akan membuat ATP sintase
bekerja mengubah ADP dan fosfat anorganik (Pi) menjadi ATP. Reaksi keseluruhan yang
terjadi pada reaksi terang adalah sebagai berikut:
Sinar + ADP + Pi + NADP+ + 2H2O ATP + NADPH + 3H+ + O2
2.2.4. Reaksi Gelap Fotosintesis
Berlangsung di dalam stroma. Reaksi yang membentuk gula dari bahan dasar CO2 yang
diperoleh dari udara dan energi yang diperoleh dari reaksi terang. Tidak membutuhkan cahaya
matahari, tetapi tidak dapat berlangsung jika belum terjadi siklus terang karena energi yang
dipakai berasal dari reaksi terang.
Ada dua macam siklus Fotosintesis siklus Calvin-Benson dan siklus hatch-Slack :

Pada siklus Calvin-Benson, tumbuhan menghasilkan senyawa dengan jumlah atom


karbon tiga, yaitu senyawa 3-fosfogliserat. Siklus ini dibantu oleh enzim rubisco.

Pada siklus hatch-Slack, tumbuhan menghasilkan senyawa dengan jumlah atom karbon
empat. Enzim yang berperan adalah phosphoenolpyruvate carboxylase. produk akhir siklus
gelap diperoleh glukosa yang dipakai tumbuhan untuk aktivitasnya atau disimpan sebagai
cadangan energi.

2.3. Vitamin

2.3.1. Pengertian Vitamin


Vitamin adalah sekelompok senyawa organik berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi
vital dalam metabolisme organisme. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim),
vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Istilah vitamin
sebenarnya sudah tidak tepat untuk dipakai dalam pengertian biokimia karena tidak memiliki
kesamaan struktur tetapi akhirnya dipertahankan dalam konteks ilmu kesehatan dan gizi. Nama
ini berasal dari gabungan kata bahasa Latin vita yang artinya hidup dan amina (amine) yang
mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya
vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin sama sekali tidak memiliki
atom N.
Pada umumnya vitamin tidak dapat dibuat sendiri oleh hewan (atau manusia) karena
mereka tidak memiliki enzim untuk membentuknya, sehingga harus dipasok dari makanan. Akan
tetapi, ada beberapa vitamin yang dapat dibuat dari zat-zat tertentu (disebut provitamin) di dalam
tubuh. Contoh vitamin yang mempunyai provitamin adalah vitamin D. Provitamin D banyak
terdapat di jaringan bawah kulit. Vitamin lain yang disintetis di dalam tubuh adalah vitamin K
dan vitamin B12. Kedua macam vitamin tersebut disintetis di dalam usus oleh bakteri.
2.3.2. Macam-Macam Vitamin
Vitamin A
Vitmain A ditemukan pada tahun 1913 oleh Mc. Collum dan Davis. Vitamin A adalah
vitamin antioksidan yang larut dalam minyak dan penting bagi penglihatan dan
pertumbuhan tulang. Secara luas vitamin A merupakan nama generic yang
menyatakan semua retinoid dan precursor/ provitamin A/ karotenid yang mempunyai
aktivitas biologic sebagai retinol. Retinol diserap dalam bentuk prekursor.
Vitamin A adalah kristal alkohol yang dalam bentuk aslinya berwarna putih dan larut
dalam lemak atau pelarut lemak. Dalam makanan vitamin A biasanya terdapat dalam
bentuk ester retenil, yaitu terikat pada asam lemak rantai panjang. Rumus Kimia dari
Vitamin A adalah C20H30O dan mempunyai berat molekul 286.456 g/mol .
1.
Jenis
Menurut sifatnya vitain A dikenal menjadi 4 bentuk, yaitu :
1.
2.
3.

Retinol Vitamin A (Vtamin A Alkohol)


Retinyl ester Vitamin A (Vtamin A ester)
Retinaldehid Vitamin A (Vtamin A aldehid)

4.

Retinoic acid (Vitamin Acid/asam)

1.

Vitamin D
Vitamin ini permtama kali ditemukan padatahun 1924 oleh Steenbook dan hess, yang
menyatakan bahwa makanan yang terkena sinar ultraviolet mempunyai daya anti
rakitis. Dan selanjutnya pada tahun 1930 ditemukanlah vitamin D dalam bentuk kristal.
Vitamin D dapat dibentuk dalam tubuh dengan bantuan sinar marahari. Bila tubuh
mendapatkan ckup sinar matahari, maka konsumsi vitamin D melalui makanan dapat
berkurang, karena kebutuhan vitamin D dalam tubuh dapat disintesis oleh rubuh.
Vitamin D adalah nama generik dari dua molekul, yaitu ergokalsiderol (Vitamin D 2) dan
Kolekalsiferol (Vitamin D3). Prekursor vitamin D hadir dalam fraksi sterol dalam jaringan
hewan (diw\bawah kulit) dan tumbuh-tumbuhanberturut-turut dalam bentuk 7dehidrokolesterol dan ergosterol. Keduanya membutuhkan radiasai sinar ultraviolet
untik mengubahnya ke dalam bentuk provitamin D 2 (ergokalsiderol) dan
D3 (Kolekalsiferol). Adapun rumus kimia dari vitamin D ini adalah C 22H44O.
Vitamin E
Vitamin ini ditemukan oleh Evans dan Bishop pada tahun 1920. Asal kata vitamin E
atau tokopherol adalah bahasa Griek :
Tokos yang artinya kelahiran
Pherein yang artinya mengandung atau membawa
Menggunakan akhiran ol karena vitamin ini membawa suatu senyawa sterol.
Jadi vitamin E atau tokopherol adalah vitamin yang penting artinya bagi proses
reproduksi atau kelangsungan keturunan. Vitmain ini sering disebut juga dengan anti
sterilitas. Vitamin E tidak berbau dan tidak berwarna, sedangkan vitamin E sintetik yang
dijual secara komersial biasanya berwarna kuning muda hingga kecoklatan. Vitamin E
larut dalam lemak dan dalam sebagian besar pelarut organik, teptai tidak larut dalam
air. Adapun rumus kimia dari vitamin E (tokoferol=antisterilitas) adalah C29H50O2.

1.

Vitamin K

Vitamin ini ditemukan oleh De. Dam dari kopenham pada tahun 1935. Vitmain ini
dikenal sebagai coagulation vitamin, karen iti penting artinya mencegah pendarahan
yang berakibat fatal.
1.

Susunan Kimia
vitamin K adalah vitamin yang cukup tahan terhadap panas, vitmain ini juga tidak
mudah rusak oleh rcara memasak bisa, termasuk cara memasak menggunakan air.
vitmainK tidak tahan terhadap alkali dan cahaya. Adapun rumus kimia ndari vitamin K
adalah C31H46O2.