Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan bertambahnya kepadatan penduduk dan kemajuan teknologi saat
ini, dunia mengalami semakin banyak perubahan. Salah satunya adalah keadaan
lingkungan yang memburuk karena pernuatan manusia maupun faktor iklim.
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup RP
no 82 Tahun 2001 yang dimaksud dengan polusi atau pencemaran adalah masuk atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain kedalam air/ udara
dan berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses
alam, sehingga kualitas air dan udara turun sampai ketingkat tertentu yang
menyebabkan air dan udara menjadi tidak dapat berfungsi lagi dengan
peruntukkannya. Oleh karena itu, apabila perkembangan sektor industri dan jenis
aktivitas manusia semakin meningkat maka tingkat pencemaran pada alam ini juga
semakin meningkat.
Salah satu contoh pencemaran lingkungan tersebut adalah DO (Dissolved
Oksigen), yang terjadi dalam suatu badan air. Oksigen terlarut dalam air merupakan
parameter kualitas air yang sangat penting bagi kehidupan organisme perairan.
Konsentrasi oksigen terlarut cenderung berubah ubah sesuai dengan keadaan di muka
bumi ini. Penurunan kadar oksigen terlarut mempunyai dampak nyata terhadap
makhluk hidup perairan.
Sumber oksigen terlarut dalam air adalah difusi dari udara, namun kecepatan
difusi oksigen dari udara ke air berlangsung sangat lambat, oleh sebab itu sumber
utama penyediaan oksigen terlarut dalam perairan adalah fitoplankton dan melalui
hasil fotosintesis organisme yang mempunyai klorofil yang hidup diperairan
(Moriber, 1997 dalam Suswanto, 1989).
Proses fotosintesis tersebut juga tidak mengakibatkan peningkatan konsentrasi
DO yang tinggi karena penggunaan oksigen terjadi terus menerus oleh bakteri dan
alga. Pada badan air yang mengalami eutrofikasi, alga sebagai tumbuhan air
berukuran mikro memungkinkan untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat akibat

ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai sehingga
berakibat terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming. Setelah alga mati dan
tenggelam ke bagian bawah badan air, terjadi pembusukan oleh dekomposer yang
akhirnya terbentuk detritus yang berlebihan. Detritus yang dibusukkan menggunakan
konsentrasi DO sehingga menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut. Dengan
demikian konsentrasi DO di dalam badan air akan menurun karena polutan organik
maupun proses eutrofikasi sehingga mempengaruhi spesies air seperti ikan dan hewan
air lain yang membutuhkan oksigen.
Adapun berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air dapat juga disebabkan
oleh tingginya temperatur dan salinitas, proses respirasi organisme perairan dan
proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Pernafasan yang meningkat,
yang disebabkan meningkatnya jumlah karbon organik di dalam air, mengakibatkan
berubahnya jalur dan sumber oksigen (Connel et al, 1995).
Makalah ini membahas kandungan oksigen terlarut dalam perairan Danau UNJA
Mendalo, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan maka rumusan masalah yang akan
dipaparkan dalam makalah ini adalah:
1. Berapa kadar DO (Dissolved Oksigen) dalam kolam Universitas Jambi, limbah
domestik dan air selokan FST?
2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi DO (Dissolved Oksigen)?
3. Bagaimana keterkaitan DO (Dissolved Oksigen) dengan parameter yang lain?
1.3 Tujuan Penulisan
Dari latar belakang yang telah dijelaskan, maka tujuan yang diharapkan dalam
pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui kadar DO (Dissolved Oksigen) dalam kolam Universitas Jambi,
limbah domestik dan air selokan FST
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi DO (Dissolved Oksigen)
3. Mengetahui keterkaitan DO (Dissolved Oksigen) dengan parameter yang lain
1.4 Manfaat Penulisan
Dari tujuan tersebut maka manfaat yang ingin dicapai adalah:
a. Untuk penulis

Memenuhi tugas mata kuliah Kimia Analisis Terapan dan menambah wawasan
serta pengetahuan tentang DO (Dissolved Oksigen
b. Untuk pembaca
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang materi Kimia Analisis Terapan
terutama DO (Dissolved Oksigen

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pencemaran Danau
Danau merupakan tempat penampung alami dalam pengumpulan unsur nutrisi,
bahan padat tersuspensi dan bahan kimia toksik

yang akhirnya mengendap di

dasarnya. Penampungan bahan-bahan tersebut berlangsung bertahun-tahun bahkan


ratusan tahun pada danau alami, sehingga proses pendangkalan tidak dapat
dihindarkan. Proses eutrofikasi merupakan proses alamiah pada beberapa danau.
Tetapi bila terjadi kontaminasi fosfat dan nitrat karena aktivitas manusia yang
berlangsung secara terus menerus maka proses eutrofikasi tersebut terus meningkat
secara drastic. Danau akan mulai mendangkaldan di penuhi unsur nutrisi tanaman

sehingga ganggang dan tanaman air lainnya seperti eceng gondok akan tumbuh subur
(Darmono, 2011).
Pencemaran badan air yang di sebabkan oleh unsure hara yang berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya eutrofikasi. Biomassa dari vegetasi ini setelah mati akan
mengalami proses pembusukan/ dekomposisi yang di lakukan oleh bakteri dan
berlangsung secara aerob, artinya proses tersebut membutuhkan oksigen terlarut. Hal
ini mengakibatkan ketersediaan oksigen terlarut semakin sedikit, bahkan apabila
proses tersebut terus berlangsung dapat menimbulkan kondisi anaerob. Karena
kandungan oksigen terlarut telah habis maka proses penguraian akan berjalan secara
anaerob yang menghasilkan berbagai senyawa yang bersifat toksik dan menimbulkan
bau yang busuk ( Soemarwoto,2004).
2.2 Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup
untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga
dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik.
Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari
udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut
(Salmin, 2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor,
seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus,
gelombang dan pasang surut.
Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air laut akan bertambah
dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas.
Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi
antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya
kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis
semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan
dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap
oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan

oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan
dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat
menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap
perairan yang kekurangan oksigen terlarut (WARDOYO, 1978).
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal
dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut
minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (SWINGLE, 1968).
Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama
waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (HUET, 1970).
KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan
wisata bahari dan biota laut. Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator
kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi
bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan khan biologis
yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik,
peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan
hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan
perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi
senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas.
Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat
penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami
maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air buangan
industri dan rumah tangga. Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai
pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih
sederhana dan tidak beracun. Disamping itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh
mikroorganisme untuk pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme,
sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain
yang Iebih sederhana dan tidak beracun. Karena peranannya yang penting ini, air
buangan industri dan limbah sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu
diperkaya kadar oksigennya.

Oksigen dapat larut dalam air. Molekul-molekul oksigen menempati ruang di


antara molekul air. Kandungan oksigen di dalam air dipengaruhi berbagai faktor
seperti suhu, tekanan dan jumlah zat yang terlarut di dalam air.

Semakin rendah suhu air, kandungan oksigen yang terkandung semakin besar.

Itulah sebabnya kita merasa lebih segar jika minum air dingin.
Tekanan yang besar dapat memaksa lebih banyak molekul oksigen masuk ke

dalam ruang di antara molekul air.


Kemurnian air juga mempengaruhi kelarutan oksigen. Air yang murni
memungkinkan oksigen terlarut lebih banyak.

Umumnya air mengandung 4-6 ppm oksigen, air pegunungan dapat mengandung
sampai 8 ppm oksigen. Dengan kemajuan teknologi Jerman sekarang ini
memungkinkan untuk meningkatkan kandungan oksigen di air sampai dengan 80
ppm. Air oxigen, air oxygen mempunyai kadar oksigen yang lebih tinggi.
Pada kondisi normal, oksigen yang kita hirup dari udara diserap oleh alveoli paruparu. Namun pada keadaan hipoksia (kekurangan oksigen), tubuh manusia
berkemampuan menangkap oksigen dari pencernaan secara difusi. Hal ini
dikemukakan oleh Prof. Dr. Pakdaman M.D. yang mengadakan penelitian untuk
mengetahui pengaruh mengkonsumsi air beroksigen tinggi di dalam darah (Nontji,
2002: 92).
Sumber oksigen dilautan antara lain dapat diperoleh secara langsung dari
atmosfer melalui proses difusi dan melalui biota berklorofil yang

mampu

berfotosintesis. Disamping itu juga terdapat faktor yang menyebabkan berkurangnya


oksigen dalam air laut yaitu karena respirasi biota, dekomposisi bahan organik dan
pelepasan oksigen ke udara. Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan,
dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia yang sering digunakan
yaitu DO (Dissolved Oxygen), BOD (Biochemical Oxygen Demand), dan COD
(Chemical Oxygen Demad) (Nontji, 2009 : 24).
DO air laut merupakan gas terlarut yang penting, khususnya dalam proses
metabolisme. Faktor yang menentukan konsentrasi DO di laut adalah proses

fotosintesis dan respirasi, pertukaran udara dengan

dipermukaan laut. Hal ini

dilakukan secara difusi. DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen terlarut juga dapat
dijadiakn salah satu indikator apakah di perairan tersebut tercemar atau tidak.
Distribusi DO secara vertikal dipengaruhi oleh gerakan air, proses kehidupan di laut,
dan secara kimia oksigen dipakai untuk respirasi, yaitu proses penguraian zat-zat
organik yang membutuhkan oksigen (Supangat, 2000: 57).
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan
kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam
analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini
menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar
nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus.
Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar.
Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung
biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk
membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oleh
sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping paramter lain yang
sering digunakan seperti BOD dan COD dalam suatu perairan (Hutabarat dan Evans,
2006: 67).
Oksigen terlarut dalam air merupakan parameter kualitas air yang paling kritis
pada budidaya ikan. Konsentrasi oksigen terlarut dalam kolam selalu mengalami
perubahan dalam sehari semalam oleh karena itu, pengelola kolam ikan harus selalu
mengetahui atau memantau perubahan konsentrasi oksigen terlarut di dalam
kolamnya. Sumber utama oksigen, terlarut dalam air adalah difusi dari udara dan
hasil fotosintesis biota yang berklorofil yang hidup di dalam perairan, Kecepatan
difusi oksigen ke dalam air sangat lambat Oleh karena itu, Fitoplankton merupakan
sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan (Supangat, 2007:
78)
Semakin dalam kolam, makan tingkat saturasi udara akan semakin kecil, untuk itu
untuk kolam ikan dengan kedalam lebih dari 1 meter harus memiliki mesin aerator
yang bagus dan kuat. Untuk mengurangi temperatur, dapat dilakukan dengan

menutup sebagian permukaan kolam memakai paranet atau sejenisnya. Populasi ikan
berlebih juga akan menjadi salah satu penyebab rendahnya kadar DO lama air.
Untuk itu sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan reguler atas DO air
kolam dan temperatur dengan mempergunakan alat yang memiliki akurasi tinggi
seperti DO meter. Kebanyakan DO meter juga dapat berfungsi untuk mengukur
temperatur air. DO yang ideal adalah di atas 6 mg/L dengan kisaran temperatur sektra
24-27 derajat C (Salmin, 2005).
2.3 Analisis Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2 macam cara, yaitu :
1. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
Metoda titrasi dengan cara WINKLER secara umum banyak digunakan untuk
menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi
iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2
den NaOH KI, sehingga akan terjadi endapan MnO 2. Dengan menambahkan H2SO4
atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan
molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan
ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na 2S2O3) dan
menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat
dirumuskan sebagai berikut :
MnCl2 + NaOH Mn(OH)2 + 2 NaCI
2 Mn(OH)2 + O2MnO2 + 2 H2O
MnO2 + 2 KI + 2 H2O Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH
I2 + 2 Na2S2O3Na2S4O6 + 2 NaI
2. Metoda elektrokimia
Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara
langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya
adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang

direndam

dalarn

larutan

elektrolit.

Pada

alat

DO

meter,

probe

ini

biasanyamenggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara keseluruhan,
elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap
oksigen. Reaksi kimia yang berlangsung :

Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari aliran oksigen pada katoda.
Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi
oksigen terlarut. Penentuan oksigen terlarut (DO) dengan cara titrasi berdasarkan
metoda WINKLER lebih analitis apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter.
Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir
titrasinya, standarisasi larutan tiosulfat dan pembuatan larutan standar kalium
bikromat yang tepat. Dengan mengikuti prosedur penimbangan kaliumbikromat dan
standarisasi tiosulfat secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut
yang lebih akurat. Sedangkan penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter,
harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan
salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO
meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnyaalat yang digital, peranan kalibrasi alat
sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan pengalaman di
lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat
penentuannya hanya bersifat kisaran (Alearts. 1997).
2.4.

Spesifikasi dan Fitur Alat Pengukur Oksigen Terlarut dalam Air DO 900
Untuk penentuan oksigen terlarut yang dipilih adalah dengan metode elektrokimia

menggunakan alat DO meter. DO meter dipilih karena prinsip kerjanya yang


sederhana dan kadar DO dapat langsung terbaca, sehingga pengukuran lebih efisien.
Pada type DO meter portable yaitu type DO900 merupakan alat alat ukur yang
presisi terlarut oksigen digunakan untuk mengukur jumlah gas oksigen terlarut dalam
cairan yang mempunyai nilai akurasi : 0.10% F.S.
9

Range: 0-40,00 mg / L (ppm)


Akurasi: 0.10% F.S.
ATC: 0-45C
Otomatis Kompensasi Salinitas: 0-45ppt
Panduan Tekanan Air Kompensasi: 66-200kPa
IP57 tahan air

Jenis Polarogram DO elektroda dengan set elektroda kalibrasi khusus, elektroda


polarisasi hanya 3-5 menit, DO elektroda secara bersamaan dapat mengukur DO,
Conductivity dan Suhu untuk mewujudkan salinitas kompensasi otomatis untuk
pengukuran DO.
Kelarutan oksigen dalam air pada berbagai suhu berpengaruh terhadap kelarutan
gas-gas dalam air. Dengan kenaikan suhu air, terjadi penurunan kelarutan oksigen
(O2) yang diikuti dengan naiknya kecepatan pernapasan organisme perairan, sehingga
sering menyebabkan adanya suatu keadaan naiknya kebutuhan oksigen diikuti oleh
turunnya kelarutan gas tersebut dalam air (Metclaf, 2003).

10

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Pengukuran DO di lakukan di kolamUNJA,PadahariSelasa 31 maret 2015
pukul 08.33 WIB
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat

DO meter
botolsampel
botolsemprot
tissue
elenmeyer plastic

3.2.2 Bahan

Air kolam UNJA, Air limbahdomestik, Air sekolan FST


Aquades

3.3 ProsedurKerja

11

Sambungkan DO meter dengan kabel pengukur selanjutnya alat DO meter


dikalibrasi terlebih dahulu menggunakan aquades, tekan tombol power seteleh alat
hidup masukkan alat pengukur kedalam aquades lalu tekan tombol warna biru untuk
kalibrasi hinggamuncul pada layar angka 100%. Untuk air kolam UNJA dilakukan
tiga kali pengukuran yaitu permukaan,tengah dan dasar dimana alat langsung
kolam,dimana ke dalaman kolam diperkirakan sekitar 1.5 m. Pengukuran kedua untuk
air limbah domestic dan air selokan FST yang pengambilan sampelnya dilakukan
secara acak (random).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHSAN
3.1 Pengertian DO ( Disolved Oxygen)
Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasa di hidup
untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga
dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik.
Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari
udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut
(Salmin, 2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor,
seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus,
gelombang dan pasang surut (Odum.1971). Pengukuran DO juga bertujuan melihat
sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan
mikroorganisme. Selain itu kemampuan air untuk membersihka npencemaran juga

12

ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini
sangat dianjurkan disamping parameter lain seperti COD dan BOD.
3.2 Hasil pengukuran DO kolam UNJA, air limbah domestik dan air selokan
FST.
NO
1.

2.

Kolam UNJA

LimbahDomestik

Air Selokan FST

DO Permukaan

DO Air sampel

UNJA
DO air sampel

6,00 ppm dan suhu

5.52 ppm dan suhu

4.78 ppm dan suhu

29.8 C
DO Tengah

28.2C

28.7C

5,99 ppm dan suhu


29.7C
3.

DO Dasar
5.92 ppmdansuhu
29.7C
Dari hasil tabel diatas diperoleh nilai DO untuk kolam UNJA dari permukaan

kedasar semakin rendah. Menurut (Odum.1971) menyatakan bahwa kadar oksigen


dalam air akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan
semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kada roksigen akan lebih tinggi,
karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses
fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen
terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada
banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan
anorganik. Suhu pada kolam UNJA juga mengalami penurunan dari permukaan
kedasar hal ini dikarenakan daerah pada saat pengukuran tidak terdapat tumbuhan
atau pohon yang menutupi permukaan air. Sehingga permukaan air langsung terkena
sinar matahari.

13

Pada limbah domestic diperoleh nilai DO sebesar 5.52 ppm hasil ini lebih
rendah dibandingkan dengan DO kolam UNJA. Oksigen terlarut akan menurun
apabila banyak limbah yang masuk keperairan. Hal ini digunakan oksigen terlarut
tersebut digunakan oleh bakteri-bakteri aerobik dalam proses pemecahan bahanbahan organik yang bersal dari limbah yang mencemari perairan tersebut. Begitu juga
halnya dengan selokan FST UNJA yang memiliki nilai DO rendah yaitu 4,78 ppm.
Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya pencemaran lingkungan oleh zat-zat
kimia yang sering di gunakan di Laboratorium.
4.3 Standar Baku Mutu DO
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal
dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut
minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968).
Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8
jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (Huet, 1970). Jumlah
oksigen yang dibutuhkan oleh organisme akuatik tergantung spesies, ukuran, jumlah
pakan yang dimakan, aktivitas, suhu, dan lain-lain. Konsentrasi oksigen yang rendah
dapat menimbulkan anorexia, stress, dan kematian pada ikan. Bila dalam suatu kolam
kandungan oksigen terlarut sama dengan atau lebih besar dari 5 mg/l, maka proses
reproduksi dan pertumbuhan ikan akan berjalan dengan baik. Pada perairan yang
mengandung deterjen, suplai oksigen dari udara akan sangat lambat sehingga oksigen
dalam air sangat sedikit.
Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi bakteri yang
kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang. Apabila
sungai menjadi tempat pembuangan limbah yang mengandung bahan organik,
sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk mengoksidasi karbon
dan nitrogen dalam bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Sehingga kadar
oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat dan akibatnya hewan-hewan seperti
ikan, udang dan kerang akan mati (Hutabaratdan Evans, 2006).

14

Keperluan organisme terhadap oksigen relative bervariasi tergantung pada jenis,


stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relative
lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah.
Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki
daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut (Wardoyo,
1978).
4.4 Hubungan Antara Oksigen Terlarut (DO) Terhadap Parameter Lainya.
Menurut Fujaya( 2000), tingkat kelarutan oksigen dalam perairan kadarnya
bertolak belakang dengan beberapa parameter kualitas air lainnya. Kadar oksigen
akan meningkat pada suhu yang rendah dan akan berkurang seiring dengan naiknya
suhu. Kelarutan oksigen juga akan menurun bila terjadi kenaikan salinitas, pH, dan
kadar CO2.
Kadar oksigen (O 2) dalam perairan tawar akan bertambah dengan semakin
rendahnya suhu dan berkurangnya kadar alkalinitas. Pada lapisan permukaan, kadar
oksigen akan lebih tinggi karena adanya proses difusiantara air dengan udara bebas.
Dengan bertambahnya kedalaman akan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar
oksigen terlarut dalam perairan (Salmin, 2000).
Kehadiran karbon dioksida (CO 2) sangat erat kaitanya dengan kuantitas atau
jumlah keberadaan kadar oksigen dalam air, dimana kenaikan kadar karbon dioksida
akan selalu diikuti oleh penurunan kadar oksigen sehingga ini akan mempengaruhi
kelangsungan hidup suatu organisme yang hidup dalam lingkup perairan (Susanto,
1991).

15

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan , maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. DO (Dissolved Oxygen) adalah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh semua jasa
hidup untuk pernapasan, proses metabolism atau pertukaran zat yang kemudian
menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan.
2. Nilai DO untuk kolam UNJA berkisar 5,97 ppm, air limbah domestic sebesar
5.52 ppm dan air selokan FST sebesar4.78 ppm.
3. Standar DO suatu perairan berkisar antara 2-3 ppm, sedangkan pada kolam
UNJA memiliki nilai DO yang tinggi sehingga masih dikatakan aman untuk
pertumbuhan ikan.

16

17