Anda di halaman 1dari 24

1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN


HIRSPRUNG

DISUSUN OLEH :
MIRA RIZKY YULIANTY

P17320312040

NI WAYAN TROPI ANTARI

P17320312048

PRASETYA EKA PUTRA

P17320312055

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BOGOR

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat
limpahan rahmat, karunia-Nya dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Hirsprung. Selain bertujuan untuk memenuhi
tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Anak. Makalah ini juga disusun dengan
maksud agar teman-teman mahasiswa dapat memperluas ilmu dan pengetahuan tentang
Hirsprung.
Pembahasan makalah ini dilakukan secara lugas dan sederhana sehingga akan
mudah dipahami, dalam pembuatannya kami mendapatkan informasi dari berbagai
literature, yang berhubungan dan sesuai dengan apa yang sudah disarankan demi untuk
memperoleh hasil yang optimal walaupun masih banyak ada kekurangan.
Semoga makalah mengenai bermanfaat bagi semua pihak khususnya temanteman mahasiswa, Terimakasih.

Bogor, Maret 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
A. Latar belakang........................................................................................................1
B. Rumusan masalah..................................................................................................1
C. Tujuan penulisan....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN TEORI.............................................................................................3
A. Pengertian...............................................................................................................3
B. Etiologi...................................................................................................................3
C. Patofisiologi...........................................................................................................4
D. Manifestasi klinik...................................................................................................4
E. Pemeriksaan penunjang..........................................................................................5
F.

Penatalaksanaan.....................................................................................................6

G. Prognosis................................................................................................................7
H. Komplikasi.............................................................................................................8
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN..............................................................................9
A. Pengkajian..............................................................................................................9
B. Diagnosa keperawatan..........................................................................................11
C. Intervensi..............................................................................................................11
D. Implementasi........................................................................................................21
E. Evaluasi................................................................................................................21
BAB IV PENUTUP........................................................................................................22
A. Kesimpulan..........................................................................................................22
B. Saran.....................................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penyakit hisprung merupakan suatu kelainan bawaan yang menyebabkan
gangguan pergerakan usus yang dimulai dari spingter ani internal ke arah proksimal

dengan panjang yang bervariasi dan termasuk anus sampai rektum. Penyakit hisprung
adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang dapat muncul pada semua usia akan
tetapi yang paling sering pada neonatus.
Penyakit hisprung juga dikatakan sebagai suatu kelainan kongenital dimana tidak
terdapatnya sel ganglion parasimpatis dari pleksus auerbach di kolon, keadaan
abnormal tersebutlah yang dapat menimbulkan tidak adanya peristaltik dan evakuasi
usus secara spontan, spingter rektum tidak dapat berelaksasi, tidak mampu mencegah
keluarnya feses secara spontan, kemudian dapat menyebabkan isi usus terdorong ke
bagian segmen yang tidak adalion dan akhirnya feses dapat terkumpul pada bagian
tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal.
Pasien dengan penyakit hisprung pertama kali dilaporkan oleh Frederick Ruysch
pada tahun 1691, tetapi yang baru mempublikasikan adalah Harald Hirschsprung yang
mendeskripsikan megakolon kongenital pada tahun 1863. Namun patofisiologi
terjadinya penyakit ini tidak diketahui secara jelas. Hingga tahun 1938, dimana
Robertson dan Kernohan menyatakan bahwa megakolon yang dijumpai pada kelainan
ini disebabkan oleh gangguan peristaltik dibagian distal usus defisiensi ganglion.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian dari hirsprung?
2. Apakah etiologi dari Hirsprung?
3. Apa factor resika atau factor pencetus dari hirsprung?
4. Bagaimana patofisiologi dari hirsprung ?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari hirsprung?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari hirsprung?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari hirsprung?
8. Bagaimana prognosis dari hirsprung?
9. Bagaimana Komplikasi dari hirsprung?
10. Bagiamana asuhan keperawatan pada anak dengan hirsprung?
C. Tujuan penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menerapkan dan mengembangkan pola fikir secara ilmiah
kedalam proses asuhan keperawatan nyata serta mendapatkan pengalaman dalam
memecahkan masalah pada gangguan Hisprung.
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan pengertian hirsprung
b. Mendeskripsikan etiologi hirsprung
c. Mendeskripsikan Faktor resiko atau factor pencetus
d. Mendeskripsikan patofisiologi hirsprung
e. Mendeskripsikn manifestasi klinis hirsprung
f. Mendeskripsikan pemeriksaan penunjang hirsprung

g.
h.
i.
j.

Mendeskripsikan penatalaksanaan hirsprung


Mendeskripsikan prognosis hirsprung
Mendeskripsikan komplikasi hirsprung
Mendeskripsikan asuhan keperawatan pada anak dengan hirsprung

BAB II
TINJAUAN TEORI
A Pengertian
Hisprung atau mega kolon adalah penyakit yang tidak adanya sel sel ganglion dalam
rectum atau bagian rectosigmoid colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan abnormal
atau tidak adanya evakuasi usus spontan (Betz, Cecily &Sowden : 2000)
D. Etiologi
Mungkin karena adanya kegagalan sel-sel Neural Crest ambrional yang
berimigrasi ke dalam dinding usus atau kegagalan pleksus mencenterikus dan
submukoisa untuk berkembang ke arah kranio kaudal di dalam dinding usus.
Disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion para simpatis dari pleksus Auerbach di
kolon.
Adapun yang menjadi penyebab Hirschsprung atau Mega Colon itu sendiri adalah
diduga terjadi karena faktor genetik dan lingkungan sering terjadi pada anak dengan
Down syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal
eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus
(Nelson,Richard & Victor)
E. Patofisiologi
Penyakit HIrschsprung, atau megakolon konginetal, adalah tidak adanya sel-sel
ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid kolon. Ketidak adaan ini
menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristalsis serta tidak adanya evakuasi
usus spontan. Selain itu, sfingter rectum tidak dapat berelaksasi, mencegah keluarnya
feses secara normal. Isi usus terdorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul
didaerah tersebut, menyebabkan dilatasinya bagian usus yang proximal terhadap daerah
itu. Penyakit Hirschsprung diduga terjadi karena factor-faktor genetic dan factor
lingkungan, nmaun etiologi sebenarnya tidak diketahui. Penyakit hirschsprung dapat
muncul pada sembarang usia, walaupun paling sering terjadi pada neonatus. (Buku
Saku, Keperawatan Pediatri, Cecily L. Betz dan Linda A. Sowden, EGC : 2002)

F. Manifestasi klinik
Menurut (Buku Saku, Keperawatan Pediatri, Cecily L. Betz dan Linda A. Sowden,

EGC : 2002) :
Masa Neonatal
1. Gagal mengeluarkan mekonium dalam 48 jam setelah lahir
2. Muntah berisi empedu
3. Enggan minum
4. Distensi abdomen
Masa Bayi dan Kanak-Kanak
1. Konstipasi
2. Diare berulang
3. Tinja seperti pita, berbau busuk
4. Distensi Abdomen
5. Gagal tumbuh.

G. Pemeriksaan penunjang
1. Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat penghisap
and mencari sel ganglion pada daerah submukosa.
2. Biopsy otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum, dilakukan dibawah
narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatic.
3. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin dari hasil biopsy asap. Pada penyakit
ini klhas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetikolin enterase.
4. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus.
(Ngatsiyah, 1997 : 139)
1. Foto abdomen (telentang,tegak,telungkup,dekubitus lateral)diagnostik; untuk
mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
2. Enema barium (diagnostic) ; untuk mengetahui adanya penyumbatan pada
kolon.
3. Biopsi rectal ; untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion.
4. Manometri anorektal ; untuk mencatat respons refluks sfingter interna dan
eksterna.
(Betz, 2002 : 197).
H. Penatalaksanaan

1. Medis
Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki portion aganglionik di usus
besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan motilitas usus besar
sehingga normal dan juga fungsi spinkter ani internal.
Ada dua tahap pembedahan pertama dengan kolostomi loop atau double barrel
dimana diharapkan tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan hipertropi dapat
kembali menjadi normal dalam waktu 3-4 bulan . Terdapat prosedur dalam
pembedahan diantaranya:
a) Prosedur duhanel biasanya dilakukan terhadap bayi kurang dari 1 tahun
dengan

cara

penarikan

kolon

normal

kearah

bawah

dan

menganastomosiskannya dibelakang usus aganglionik, membuat dinding


ganda yaitu selubung aganglionik dan bagian posterior kolon normal yang
telah ditarik.
b) Prosedur
Swenson

membuang

bagian

aganglionik

kemudian

menganastomosiskan end to end pada kolon yang berganglion dengan


saluran anal yang dilatasi dan pemotongan sfingter dilakukan pada bagian
posterior.
c) Prosedur soave dilakukan pada anak-anak yang lebih besar dengan cara

membiarkan dinding otot dari segmen rectum tetap utuh kemudian kolon
yang bersaraf normal ditarik sampai ke anus tempat dilakukannya
anastomosis antara kolon normal dan jaringan otot rektosigmoid yang
tersisa.
2. Keperawatan
Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya bila
ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal, perhatikan utama antara lain
:
a. Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital pada
anak secara dini
b. Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak
c. Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis ( pembedahan )
d. Mendampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana pulang.
Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak anak
dengan malnutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai status fisiknya
meningkat. Hal ini sering kali melibatkan pengobatan simptomatik seperti enema.

Diperlukan juga adanya diet rendah serat, tinggi kalori dan tinggi protein serta
situasi dapat digunakan nutrisi parenteral total ( NPT )
Perencanaan pulang dan perawatan dirumah :
1) Ajarkan pada orang tua untuk memantau adanya tanda dan gejala
komplikasi jangka panjan berikut ini.
a) Stenosis dan kontriksi
b) Inkontinensia
c) Pengosongan usus yang tidak adekkuat
2) Ajarkan tentang perawatan kolostomi pada orang tua dan anak.
a) Persiapan kulit
b) Penggunaan alat kolostomi
c) Komplikasi stoma (perdarahan, gagal defekasi, diare meningkat ,
prolaps, feses seperti pita )
d) Perawatan dan pembersihan alat kolostomi
e) Irigasi kolostomi
3) Beri dan kuatkan informasi-informasi tentang penatalaksanaan diet.
a) Makanan rendah sisa
b) Masukan cairan tanpa batas
c) Tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolot dan dehidrasi.
4) Dorong orang tua dan anak untuk mengekspresikan perasaannya
tentang kolostomi.
a) Tampilan
b) Bau
c) Ketidaksesuaian antara anak mereka dengan anak ideal
5) Rujuk ke prosedur institusi spesifik untuk informasi yang dapat
diberikan pada orang tua tentang perawatan dirumah.
3. Kolaboratif
Untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyumbatan usus, segera
dilakukan kolostomi sementara. Kolostomi adalah pembuatan lubang pada dinding
perut yang disambungkan dengan ujung usus besar. Pengangkatan bagian usus
yang terkena dan penyambungan kembali usus besar biasanya dilakukan pada saat
anak berusia 6 bulan atau lebih. Jika terjadi perforasi (perlubangan usus) atau
enterokolitis, diberikan antibiotik.
I. Prognosis

Secara umum prognosisnya baik, 90% pasien dengan penyakit hirschprung yang
mendapat tindakan pembedahan mengalami penyembuhan dan hanya sekitar 10%
pasien yang masih mempunyai masalah dengan saluran cernanya sehingga harus
dilakukan kolostomi permanen. Angka kematian akibat komplikasi dari tindakan
pembedahan pada bayi sekitar 20%.
J. Komplikasi
1. Gawat pernapasan (akut)
2. Enterokolitis (akut)
3. Striktura ani (pascabedah)
4. Inkotinensia (jangka panjang)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A Pengkajian
Informasi identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama,
alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi. Antara lain :
1 Anamnesis
Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS,
nomor register, dan diagnosis medis.Masalah yang dirasakan klien yang sangat
mengganggu pada saat dilakukan pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya,
sulit BAB, distensi abdomen, kembung, muntah.
a. Keluhan utama Klien
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat dilakukan
pengkajian, pada klien Hirschsprung misalnya, sulit BAB, distensi abdomen,
kembung, muntah.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam setelah
lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal.
Tanyakan sudah berapa lama gejala dirasakan pasien dan tanyakan
bagaimana upaya klien mengatasi masalah tersebut.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Apakah sebelumnya klien pernah melakukan operasi, riwayat kehamilan,
persalinan dan kelahiran, riwayat alergi, imunisasi.

d. Riwayat Nutrisi
Meliputi : masukan diet anak dan pola makan anak
e. Riwayat psikologis
Bagaimana perasaan klien terhadap kelainan yang diderita apakah ada
perasaan rendah diri atau bagaimana cara klien mengekspresikannya.
f. Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga yang lain yang
menderita Hirschsprung.
g. Riwayat social
Apakah ada pendakan secara verbal atau tidak adekuatnya dalam
mempertahankan hubungan dengan orang lain.
h. Riwayat tumbuh kembang
Tanyakan sejak kapan, berapa lama klien merasakan sudah BAB.
i. Riwayat kebiasaan sehari-hari
Meliputi kebutuhan nutrisi, istirahat dan aktifitas.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem integument
Kebersihan kulit mulai dari kepala maupun tubuh, pada palpasi dapat dilihat
capilary refil, warna kulit, edema kulit.
b. Sistem respirasi
Kaji apakah ada kesulitan bernapas, frekuensi pernapasan
c. Sistem kardiovaskuler
Kaji adanya kelainan bunyi jantung (mur-mur, gallop), irama denyut nadi
apikal, frekuensi denyut nadi / apikal.
d. Sistem penglihatan
Kaji adanya konjungtivitis, rinitis pada mata
e. Sistem Gastrointestinal
Kaji pada bagian abdomen palpasi adanya nyeri, auskultasi bising usus,
adanya kembung pada abdomen, adanya distensi abdomen, muntah
(frekuensi dan karakteristik muntah) adanya keram, tendernes.
Pre Operasi
1) Kaji status klinik anak (tanda-tanda vital, asupan dan keluaran)

10

2) Kaji adanya tanda-tanda perforasi usus.


3) Kaji adanya tanda-tanda enterokolitis
4) Kaji kemampuan anak dan keluarga untuk melakukan koping terhadap
pembedahan yang akan datang
5) Kaji tingkat nyeri yang dialami anak
Post Operasi
1) Kaji status pascabedah anak (tanda-tanda vital, bising usus, distensi
abdomen)
2) Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan
3) Kaji adanya komplikasi
4) Kaji adanya tanda-tanda infeksi
5) Kaji tingkat nyeri yang dialami anak
6) Kaji kemampuan anak dan keluarga untuk melakukan koping terhadap
pengalamannya di rumah sakit dan pembedahan.
7) Kaji kemampuan orang tua dalam menatalaksanakan pengobatan dan
perawatan yang berkelanjutan.
K. Diagnosa keperawatan
Pre operasi
1. Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak
adanya daya dorong.
2. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
inadekuat.
3. Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen.
Post operasi
1. Gangguan integritas kulit b/d kolostomi dan perbaikan pembedahan
2. Nyeri b/d insisi pembedahan
3. Kurangnya pengetahuan b/d kebutuhan irigasi, pembedahan dan perawatan
kolostomi.
L. Intervensi
Pre operasi
No

Dx

Tujuan

Intervensi

11

1.

Konstipasi
berhubungan dengan
mekanik : megakollon

BAB lancar, dengan

1. Bowel management

kriteria :

Catat BAB terakhir

Faeses lunak

Monitor tanda konstipasi

Anak tidak kesakitan saat - Anjurkan keluarga untuk


mencatat warna, jumlah,
BAB.
frekuensi BAB.

- Tindakan operasi
colostomi

- Berikan supositoria jika


perlu.

2. Bowel irrigation
- Jelaskan tujuan dari
irigasi rektum.
-

Check order terapi.

- Jelaskan prosedur pada


orangtua pasien.
- Berikan posisi yang
sesuai.
- Cek suhu cairan sesuai
suhu tubuh.
- Berikan jelly sebelum
rektal dimasukkan.
- Monitor effect dari
irigasi.

3. Persiapan preoperatif
- Jelaskan persiapan yang
harus dilakukan.
- lakukan pemeriksaan
laboratorium: darah rutin,
elektrolit, AGD.
- transfusi darah bila
perlu.

12

2.

Cemas berhubungan
dengan perubahan
dalam status kesehatan
anak

Cemas keluarga pasien


tertangani dengan kriteria:
-

Ibu terlihat lebih tenang

- Ibu dapat bertoleransi


dengan keadaan anak.

1. Anxiety reduction
- jelaskan semua prosedur
yang akan dilakukan.
- kaji pemahaman orangtua
terhadap kondisi anak,
tindakan yang akan
dilakukan pada anak.
- anjurkan orang tua untuk
berada dekat dengan anak.
- bantu pasien
mengungkapkan ketegangan
dan kecemasan.

3.

Defisit pengetahuan
berhubungan dengan
tidak mengenal dengan
sumber informasi

Orang tua tahu mengenai


perawatan anak dengan
kriteria:
- Mampu menjelaskan
penyakit, prosedur operasi
- mampu menyebutkan
tindakan keperawatan yang
harus dilakukan.
- Mampu menyebutkan
cara perawatan.

1. teaching: proses penyakit


- Kaji pengetahuan pasien
tentang penyakit.
- Jelaskan tentang
penyakit, prosedur tindakan
dan cara perawatan bersama
dengan dokter.
- Informasikan jadwal
rencana operasi: waktu,
tanggal, dan tempat operasi,
lama operasi.
- Jelaskan kegiatan
praoperasi : anestesi, diet,
pemeriksaan lab,
pemasangan infus, tempat
tunggu keluarga.
- Jelaskan medikasi yang
diberikan sebelum operasi:
tujuan, efek samping.

2. health education:
- jelaskan tindakan
keperawatan yang akan

13

dilakukan.
- Jelaskan mengenai
penyakit,prosedur
tindakandancara perawatan
dengan dokter.
- Lakukan diskusi dengan
keluarga pasien dengan
penyakit yang sama.
- Jelaskan cara perawatan
post operatif.
4.

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
penurunan absorbsi
usus.

Status nutrisi baik, dengan


kriteria:
- Diet seimbang, intake
adekuat.
-

BB normal.

- Nilai lab darah normal:


HB, Albumin, GDR.

- Kaji nafsu makan,


lakukanpemeriksaan
abdomen,adanya distensi,
hipoperistaltik.
- Ukur intake dan output,
berikan per oral / cairan
intravenasesuai program
(hidrasi adalah masalah
yang paling penting selama
masa anak-anak).
- Sajikan makanan favorit
anak, dan berikan sedikit
tapi sering.
- Atur anak pada posisi
yang nyaman (fowler)
- Timbang BB tiap hari
pada skala yang sama.

5.

Gangguan koping
keluarga berhubungan
dengan krisis
situasional, ancaman
fungsi peran,
perubahan lingkungan.

Meknisme koping keluarga


efektif, dengan kriteria:
- Keluarga menunjukkan
bisa menyesuaikan dengan
lingkungan rumah sakit.
- Anggota keluarga aktif
bertanya.

- Kenalkan keluarga untuk


mengenal staf/perawat yang
merawat
- Gambarkan kegiatan
rutin di RS yang
mempengaruhi anak.
- Anjurkan keluarga untuk
menyesuaikan dengan
lingkungan yang baru dan

14

asing.
- Informasikan tentang
area di luar unit yang
mungkinmereka perlukan.
- Ciptakan kondisi yang
mendukunguntuk bertanya,
mengungkapkan
kekecewaan dan
perasaannya.
- Hadirkan keluarga
terdekat dengan pasien.
- Jaga privasi, awasi tandatanda ketegangan keluarga.
6.

Kekurangan volume
cairan b.d kehilangan
volume caian secara
aktif

Status hidrasi:

1. manajemen cairan

Kriteria:

timbang berat badan tiap


hari

- menunjukkan urine
output normal
- menunjukkan TD, nadi
dan suhu dbn
- turgor kulit, kelembaban
mukosa dbn.
- Mampu menjelaskan
yang dapat dilakukan untuk
mengatasi kehilangan cairan

kelola catatan intake dan


output
monitor status hidrasi
(membran mukosa, nadi
adekuat, ortostatik TD)
monitor hasil
laboratorium yang
menunjukkan retensi
cairan
monitor keadaan
hemodinamik
monitor vital sign
monitor tanda-tanda
kelebihan atau kekurangan
volume cairan
administrasi terapi Intra
vena

15

monitor status nutrisi


berikan cairan dan
intake oral.

2. monitor cairan
- kaji jumlah dan jenis
intake cairan dan kebiasaan
eliminasi
- kaji faktor resiko
terjadinya
ketidakseimbangan cairan
- monitor intake dan
output
- monitor serum, dan
elektrolit
- jaga keakurtan
pencatatan intake dan
output
- administrasi pemberian
cairan
3. managemen hipovolemi
- monitor status cairan
termasuk intake dan output
- jaga kepatenan terpi
intra vena
- monitor kehilangan
cairan
- monitor hasil
laboratorium
-

hitung kebutuhan cairan

- administrasi pemberian
cairan hipotonik/isotonik
- observasi indikasi

16

dehidrasi
- kelola pemberian intake
oral
- monitor tanda dan gejala
over hidration

Post Operasi
No

Dx

Tujuan dan Kriteria hasil

Intervesi

1.

Nyeri akut
berhubungan dengan
agen injuri fisik

Level nyeri berkurang


dengan kriteria :

1. Management nyeri

anak tidak rewel

- ekspresi wajah dan sikap


tubuh rileks
-

tanda vital dbn

- Kaji nyeri meliputi


karakteristik, lokasi, durasi,
frekuensi, kualitas, dan
faktor presipitasi.
- Observasi
ketidaknyamanan non
verbal
- Berikan posisi yang
nyaman
- Anjurkan ortu untuk
memberikan pelukan agar
anak merasa nyaman dan
tenang.
-

Tingkatkan istirahat

2 Teaching
- Jelaskan pada ortu
tentang proses terjadinya
nyeri
- Pertahankan imobilisasi
bagian yang sakit
- Evaluasi keluhan nyeri
atau ketidaknyamanan
-

Perhatikan lokasi nyeri.

17

3. Administrasi analgetik
- Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat.
- Cek program medis
tentang jenis obat, dosis dan
frekuensi pemberian
- Ikuti 5 benar sebelum
memberikan obat
-

Cek riwayat alergi

- Monitor tanda vital


sebelum dan sesudah
pemberian obat
- Dokumentasikan
pemberian obat

2.

Resiko infeksi
berhubungan dengan
prosedur invasif

Resiko infeksi terkontrol


dengan kriteria :
- bebas dari tanda-tanda
infeksi
- tanda vital dalam batas
normal
-

hasil lab dbn

1. Infektion control
- Terapkan kewaspadaan
universal cuci tangan
sebelum dan sesudah
melakukan tindakan
keperawatan.
- Gunakan sarung tangan
setiap melakukan tindakan.
- Berikan personal
hygiene yang baik.
2. Proteksi infeksi
- monitor tanda-tanda
infeksi lokal maupun
sistemik.
- Monitor hasil lab: wbc,
granulosit dan hasi lab yang
lain.

18

Batasi pengunjung

- Inspeksi kondisi luka


insisi operasi.
3. Ostomy care
- bantu dan ajarkan
keluarga pasien untuk
melakukan perawatan
kolostomi
-

Monitor insisi stoma.

- Pantau dan dampinggi


keluarga saat merawat
kolostomi
- Irigasi stoma sesuai
indikasi.
- Monitor produk stoma
- Ganti kantong kolostomi
setiap kotor.
4. Medikasi terapi
- Beri antibiotik sesuai
program
-

Tingkatkan nutrisi

- Monitor keefektifan
terapi.
5. Health education
o Ajarkan pada orang tua
tentang tanda-tanda infeksi.
o Ajarkan cara mencegah
infeksi.
o Ajarkan cara perawatan
colostomi
3.

Kekurangan volume
cairan b.d kehilangan
volume caian secara

Status hidrasi:
Kriteria:

manajemen cairan
timbang berat badan tiap

19

aktif

- menunjukkan urine
output normal
- menunjukkan TD, nadi
dan suhu dbn
- turgor kulit, kelembaban
mukosa dbn.
- Mampu menjelaskan
yang dapat dilakukan untuk
mengatasi kehilangan cairan

hari
kelola catatan intake dan
output
monitor status hidrasi
(membran mukosa, nadi
adekuat, ortostatik TD)
monitor hasil
laboratorium yang
menunjukkan retensi cairan
monitor keadaan
hemodinamik
monitor vital sign
monitor tanda-tanda
kelebihan atau kekurangan
volume cairan
administrasi terapi Intra
vena
monitor status nutrisi
berikan cairan dan
intake oral.

5. monitor cairan
- kaji jumlah dan jenis
intake cairan dan kebiasaan
eliminasi
- kaji faktor resiko
terjadinya
ketidakseimbangan cairan
- monitor intake dan
output
- monitor serum, dan
elektrolit

20

- jaga keakurtan
pencatatan intake dan
output
- administrasi pemberian
cairan
6. managemen hipovolemi
- monitor status cairan
termasuk intake dan output
- jaga kepatenan terpi
intra vena
- monitor kehilangan
cairan
- monitor hasil
laboratorium
-

hitung kebutuhan cairan

- administrasi pemberian
cairan hipotonik/isotonik
- observasi indikasi
dehidrasi
- kelola pemberian intake
oral
- monitor tanda dan gejala
over hidration

M. Implementasi
Merupakan tahap keempat dari proses keperawatan dimana rencana keperawatan
dilaksanakan : melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan, pada tahap ini
perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang telah dicatat dalam
rencana perawatan pasien.
Pelaksanaan keperawatan/implementasi harus sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan dengan masalah yang terjadi.
Dalam pelaksanaan keperawatan ada 4 tindakan yang dilakukan yaitu :
a. Tindakan mandiri
b. Tindakan observasi
c. Tindakan health education
d. Tindakan kolaborasi
N. Evaluasi

21

Pre operasi Hirschsprung


1. Pola eliminasi berfungsi normal
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
3. Kebutuhan cairan dapat terpenuhi
4. Nyeri pada abdomen teratasi
Post operasi Hirschsprung
1. Integritas kulit lebih baik
2. Nyeri berkurang atau hilang
3. Pengetahuan meningkat tentang perawatan pembedahan terutama pembedahan
kolon
A. BAB IV
PENUTUP
A Kesimpulan
Penyakit hisprung merupakan penyakit yang sering menimbulkan masalah.
Baik masalah fisik, psikologis maupun psikososial. Masalah pertumbuhan dan
perkembangan anak dengan penyakit hisprung yaitu terletak pada kebiasaan buang
air besar. Orang tua yang mengusahakan agar anaknya bisa buang air besar dengan
cara yang awam akan menimbulkan masalah baru bagi bayi/anak. Penatalaksanaan
yang benar mengenai penyakit hisprung harus difahami dengan benar oleh seluruh
pihak. Baik tenaga medis maupun keluarga. Untuk tecapainya tujuan yang
diharapkan perlu terjalin hubungan kerja sama yang baik antara pasien, keluarga,
dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya dalam mengantisipasi kemungkinan
yang terjadi.
O. Saran
Kami berharap setiap mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tentang
penyakit hsaprung. Walaupun dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan
jauh dari kesempurnaan.
B. DAFTAR PUSTAKA

Betz, Sowden, 2002, Keperawatan Pediatric Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Carpenito, 1998, Diagnosis Keperawatan, Editor Yasmin Asih, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.

22

Betz, Cecily, L. Dan Linda A. Sowden 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi
ke-3. Jakarta : EGC.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
Kartono, Darmawan. 2004. Penyakit Hirschsprung. Jakarta : Sagung Seto.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik.Sri Kurnianingsih (Fd),
Monica Ester (Alih bahasa) edisi 4 Jakarta : EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa : Brahm U Pendit.
Jakarta : EGC.
Carpenito , Lynda juall. 1997 . Buku saku Diagnosa Keperawatan.Edisi ke -^. Jakarta :
EGC
Staf Pengajar Ilmu kesehatan Anak . 1991. Ilmu Kesehatan Anak . Edisi Ke-2 . Jakarta :
FKUI .
Mansjoer , Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran .Edisi Ke-3 . Jakarta : Media
Aesulapius FKUI